Wanita Idaman Part 8

0
1387

Wanita Idaman Part 8

PERTEMUAN

Di sebuah kafe yang tak jauh dari hotel, kami sudah duduk di salah satu sudut ruangan. Ada dua botol bir ukuran sedang, beberapa makanan, dan suara musik yang cukup keras. Aku menikmati suasananya. Home band dari kafe tersebut memainkan deretan lagu rock dari 80an sampai 90an. Aku dan Tiwi masih fokus pada makanan masing-masing. Kami sama-sama lapar sepertinya.

“Makanannya lumayan ya Mas,” Tiwi membuka pembicaraan dengan basa-basi yang cukup basi.

“Lebih enak sih dari makanan di kantin kantor,” kutimpali dengan bercanda tentunya

“Ya iya lah. Tak cubit lo kamu,” Ia mulai melancarkan serangan.

“Eits. Jangan disitu dong nyubitnya,” rasa-rasanya aku makin lihai dalan dunia per-sepikan.

“Trus?” Ia menantang

“Nih!” kutunjuk hidungku, aku belum berani bermain lebih jauh

Tanpa diduga, Ia memencet lalu mencubit hidungku. Ternyata serius juga Tiwi dengan adegan percubitan ini. Lumayan terasa, sedikit cenut-cenut.

“Wadaw, nanti kalau tambah mancung gimana nih,” sambil meringis, jurus tetap harus dilancarkan.

“Ya harus terima kasih ke aku dong!” Wajahnya sungguh menggemaskan.

Kujukurkan lidah. Sambil memasang tampang menyebalkan. Kami tertawa. Makanan sudah tandas.

Kami menikmati musik yang sedari tadi tak berhenti memainkan lagu-lagu yang cukup familiar di telinga. Bir di botol kami sudah tinggal separuh. Aku tak menyangka, kedekatanku dengan Tiwi sampai pada tahap minum bir bersama. Sebelumnya, kami hanya saling sapa dan menggoda jika bertemu. Tak ada pembicaraan intens, tak ada pertemuan empat mata. Dan setelah berbincang dari hotel sampai sekarang, Ia lumayan juga. Pembicaraan kami luas, dari mulai pekerjaan di kantor hingga kehidupannya di Bali dan di Kota ini ketika menempuh pendidikan. Benar, Tiwi memang kuliah di Kota J, maka tak heran Ia tahu tempat-tempat seperti ini.

“Berarti kamu sering kesini?” aku bertanya di tengah-tengah percakapan kami.

“Kalau sering sih nggak, Mas. Ya beberapa kali sih. Favoritku bukan disini, tapi karena ini yang paling dekat sama hotel ya sudah,” Ia mulai menjelaskan alasan memilihku ke tempat ini.

“Terus tempat favoritnya dimana?” kupancing, siapa tahu besok Ia mengajakku lagi.

“Ada di daerah selatan, besok deh kita kesana. Gimana?” pancinganku berhasil.

“Boleh-boleh. Lama juga aku nggak gini, Wi,” aku mulai membuka cerita.

“Hayoo dulu sering mabuk ya?” Tiwi mulai menggodaku.

“Kalau punya uang atau ada yang bayarin sih,” kami tertawa bersamaan.

Perbincangan berikutnya lebih cair dan akrab. Kami mulai saling cerita. Tetap diselingi candaan dan godaan seperti biasa. Kami memesan masing-masing 1 botol lagi bir ukuran sedang. Cuaca Kota J yang cukup dingin malam ini membuat bir terasa lebih enak dari biasanya.

Tiwi nampaknya santai saja menghabiskan dua botol bir berukuran sedang. Sepertinya dia sudah biasa. Tak ada tanda-tanda mabuk juga. Aku memang tak pernah bisa mabuk saat minum bir, paling jelek ya kembung. Aku menemukan partner yang cocok untuk sekadar minum-minum asik ini.

“Mau balik jam berapa?” kutawarkan pulang karena selain sudah jam 11 malam, aku juga mulai ngantuk.

“Sekarang aja yuk. Kembung ini lama-lama,” ia memegangi perutnya.

Kami memesan taksi online. Menuju hotel dengan hening di dalam mobil. Aku sesekali melirik Tiwi yang lebih banyak melihat lalu-lalang mobil di luar. Tubuh Tiwi biasa saja sebenarnya. Putih memang, juga tinggi, mungkin 2 atau 3cm diatasku. Payudaranya cenderung mungil, aku tak tahu berapa ukurannya, bukan ahli juga. Ditengah curi-curi pandang, Tiwi berbalik menatapku. Kikuk juga ketahuan mencuri pandang tubuhnya. Ia menyadari dan berusaha mencairkan suasana.

“Kenapa aku seksi ya Mas?” sambil tersenyum genit, ia menggodaku dan membuatku salah tingkah. Aku yakin supir mobil ini menahan tawa mendengar perkataan Tiwi.

“Kurang sih. Kurang menantang pakaiannya,” kunaikkan saja intensitas godaanku, kepalang basah ini.

“Wooh kamu kebanyakan lihat cewek-cewek di cafe tadi pikirannya mesum,” kami tertawa bersama, kulirik pak sopir juga tersenyum meringis.

Kami makin akrab. Godaan dan candaan rasanya sudah tak ada batas. Terkadang godaan kami cenderung vulgar, sejak dari cafe tadi. Aku tak berharap apapun, karena dengan tingkat kusepulannya, bisa saja Ia begini ke semua laki-laki yang diakrabinya. Kumainkan saja terus untuk tahu sampai tahap mana Ia ingin menjalin keakraban. Kalau lebih dari ini kan ya berarti bonus.

Sampai di hotel, kami menuju kamar masing-masing. Di depan kamarku, Ia ikut berhenti.

“Besok minta tolong bangunin kalau aku kesiangan ya Mas. Acaraku jam 8,” ternyata hanya diminta tolong menjadi alarm.

“Siap nona Tiwi yang cantik dan seksi,” kulanjutkan godaanku

“Ih mesum!” Ia menjulurkan lidah dan memukul bokongnya. Kalau tak jaga image sudah kusergap wanita ini.

Kami berpisah. Tenggelam di kamar masing-masing. Aku masih berpikir bahwa sebenarnya Tiwi memberi kode-kode tipis. Tapi entahlah, mungkin pengaruh alkohol atau kebiasannya memang begitu. Berhubung aku lumayan ngantuk, kutinggal tidur saja. Kalau rezeki, esok diusahakan lagi.

Hari kamis berlalu tanpa ada sesuatu yang berarti. Baik aku maupun Tiwi juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang harus diselesaikan hari itu juga demi nihil tanggungan dan bersenang-senang di akhir pekan. Apalagi aku juga sudah izin untuk tidak masuk besok jumat. Menjelang sore, masuk pesan di hapeku. Sepertinya dari Tiwi.

“Mas nanti kayaknya aku mau makan dulu sama teman-teman setelah acara selesai. Nggak usah ditungguin ya,”

“Oke siap. Selamat makan-makan,” kubalas cukup singkat.

“Aku masih ada utang ngajak kamu ke cafe di daerah selatan. Nanti agak malam aja ya,” ini yang namanya rezeki tak kemana

“Oke boss. Siap berangkat kalau itu mah,”

Aku bergegas menuju hotel. Menyiapkan diri siapa tahu ada rezeki nanti malam.

Ada suara ketukan yang membangunkan tidurku. Sebenarnya tak ada rencana tidur ketika sampai hotel tadi, tapi apa daya kasur dan bantal lebih hebat daya tariknya. Dengan wajah masih kusut, aku membuka pintu. Aku pun hanya pakai kaos dan boxer.

“Tidur mulu nih orang!” kesadaran belum pulih benar sudah dapat ocehan dari gadis cantik.

“Lagi nyimpan tenaga nih,l aku berkelit.

“Ya sudah aku mandi dulu, kita berangkat jam 8,” Tiwi berkata sambil berlalu menuju kamarnya.

Aku tak sempat menjawab. Kesadaranku baru pulih benar setelah melihat langkah Tiwi menuju kamarnya. Ternyata dia tadi hanya pakai tank top dan celana yang pendek sekali. Duh, aku melewatkan keindahan. Kuputuskan segera mandi agar kesadaran cepat pulih dan siap menerima rezeki.

Usai mandi dan bersantai di kamar, suara pintu terdengar diketuk lagi. Pasti Tiwi. Kubuka pintu, kusaksikan di depan mataku sesosok wanita yang sungguh menggugah gairah. Ia memakai baju terusan panjang belang-belang kombinasi hitam dan putih. Aku tak menyangka juga Ia bisa berpakaian seberani ini. Bajunya hanya sampai atas lutut dan cukup membentuk tubuh. Bayangkan saja sendiri bagaimana.

“Ayo jadi nggak?” suara Tiwi membuyarkan lamunanku.

“Oh ya jelas dong. Ayo berangkat!” aku tak mau membuang kesempatan ini.

Sampai di lokasi, tidak terlalu ramai karena ini baru malam jumat. Masih tengah pekan. Kami duduk sekenanya. Memesan kudapan dan dua botol bir ukuran sedang. Kami larut dalam obrolan dan alunan musik yang cenderung pelan. Tidak seperti tadi malam.

“Kami jadi balik kapan Mas?” tanya Tiwi di tengah suasana kami yang sedang menikmati musik.

“Hotelnya sih sampai besok, tapi gampang sih mau balik kapan. Kamu gimana?” kutanya balik saja.

“Sama. Hotelku juga sampai besok. Pengen balik Sabtu aja sih sebenarnya,”

“Tinggal extend kan. Apa mau tak temeni?” kupancing saja, siapa tau umpanku dimakan.

“Boleh. Dari pada sendirian lumayan lah. Temenku lagi pada sibuk semua,” ia sedikit menggerutu, lalu melanjutkan bicara,” Mas mau seru-seruan nggak?” aku mulai curiga dia akan menawarkan sesuatu yang aneh.

“Apa dulu nih?” aku memasang wajah curiga.

“Kita main games suit. Yang kalah harus nurutin kemauan yang menang,” sudah kuduga Ia mengusulkan hal yang aneh, tapi ini tantangan yang cukup menarik. Kuiyakan saja. Kita lihat siapa yang beruntung.

Suit pertama, Tiwi menang. Sial.

“Arah jam 9 ada cewek bertiga. Kamu harus kenalan sama mereka dan minimal dapat nomor hape salah satu dari mereka. DanKami nggak boleh bilang kalau kita lagi main games” Tiwi mengatakan itu dengan senyum iblis. Sialan. Aku habis.

Kulakukan saja permintaannya. Tak mungkin ketemu mereka lagi juga kan. Kuhampiri 3 gadis itu. Cantik-cantik, dan pakaiannya cukup menantang. Mari kita uji hasil belajar dengan Dokter Ara.

“Halo. Sori kenalin aku Anang. Kalian udah lama?” sengaja kupakai nama samaran agar tak malu-malu amat.

Responnya cukup baik. Mereka memperkenalkan diri masing-masing. Theresa, Anggun, dan Marisa. Aku jelas paling tertarik dengan Marisa. Tubuhnya kecil tapi payudaranya cukup menantang.

Entah bagaimana caranya. Aku berhasil berbincang dengan mereka selama hampir 10 menit. Dan secara mengejutkan, aku mendapatkan nomor telepon Marisa. Ah. Asyik juga permainan ini. Kuhampiri Tiwi, ia terbahak-bahak. Sial. Benar-benar habis aku dikerjai. Untung saja berhasil.

“Kamu keren banget, Mas!” ia menyambutku dengan tepuk tangan.

Kami suit lagi. Dan. Yes. Kali ini aku yang menang.

“Shit. Kok bisa kalah sih,” Tiwi menggerutu. Angin berpihak padaku.

“Gini. Kamu harus bisa dapat minum gratis, apapun itu, yang penting jangan es teh sama es jeruk deh, dari salah satu pria yang ada disini. Siapapun boleh,” kini aku yang tertawa.

Sambil menggerutu, Tiwi mulai menjalankan tantangannya. Ia menghampiri seorang laki-laki yang terlihat cukup berumur dan sedang duduk sendiri. Dengan sok akrab dan sedikit menggoda, 10 menit kemudian, ia kembali ke arahku dengan membawa segelas cocktail. Shit. Dia berhasil juga.

Kusambut Ia dengan tepuk tangan dan isyarat pelukan. Dan ia menyambutnya. Kami berpelukan. Kalau begini sih tinggal main cantik saja.

Suit ketiga. Keempat. Kelima. Keenam. Dan ketujuh akhirnya kami lelah dan merasa tantangan sudah habis. Tiwi menang empat kali dan aku sisanya. Ia pemenang. Tak apa, yang penting kami bahagia.

“Asyik juga kamu ternyata,” ia menatapku tajam

“Jelas lah. Kamu aja yang nggak tahu,” kusombongkan diriku.

Tiwi hanya tersenyum. Kubalas dengan senyum. Kami tertawa keras sekali. Merasa lelah, kami memutuskan kembali ke hotel. Sambil menunggu pesanan taksi online kami berdiri di depan cafe. Tiwi menggandeng tanganku. Ia menyandarkan kepalanya.

“Capek juga ternyata Mas,” ia mulai mengeluh.

“Kamu sih bikin permainan aneh-aneh?”

“Tapi seru kaaan?” ia mendekatiku, wajah kami dekat sekali.

“Lumayan dapat nomernya cewek tadi,” kupencet hidungnya.

“Tuh kan jadi kesenengan. Hubungi sana siapa tau mau diajak ngebir,” ia menampakkan wajah cemburu. Berarti lampu hijau ini.

“Ciye cemburu” aku kembali memencet hidungnya lalu tertawa.

Kami sampai di hotel sekitar jam 1 pagi. Perut kembung karena terlalu banyak minum dan badan cukup lelah juga. Tapi aku merasa ada satu yang harus dituntaskan. Mari kita coba sekali lagi.

“Besok mau jalan-jalan nggak Wi?” tanyaku saat kami keluar dari lift

“Lihat besok deh ya. Pengen balik atau nggak,” ia menjawab sambil tersenyum menggemaskan.

Kami tidak mabuk karena memang tak minum minuman dengan alkohol tinggi. Dan prinsipku aku tak akan memanfaatkan ketidaksadaran orang untuk keuntunganku. Kalaupun orang tertarik untuk bercinta atau sejenisnya, ia harus melakukan dengan sadar. Pelajaran ini juga kudapat ketika bersama Dokter Ara.

Di depan pintu kamarku, Tiwi yang berjalan di depanku berhenti.

“Mas, aku boleh nanya nggak?” ia berbalik, menatapku tajam.

“Tanya apa sih?” kutatap balik, kami diam beberapa saat.

“Menurutmu dari kemarin aku godain kamu cuma bercanda atau ada maksud lain?” wajahnya serius sekali saat ini.

Aku tahu maksudnya. Aku tahu sekali. Aku hanya memastikan bahwa Tiwi mengatakannya dengan sadar. Bukan karena pengaruh alkohol. Kutatap tajam. Aku tersenyum.

“Kamu nggak lagi mabuk kan Wi?” kupastikan lagi saja kondisinya

“Kelihatannya?” ia tersenyum, cukup manis.

Aku membuka pintu kamarku, kumasukkan kartu energinya. Aku kembali ke posisi dimana Tiwi berdiri. Kugandeng tangannya, kubimbing ia memasuki kamarku. Pintu kututup kembali. Aku menuntun Tiwi mendekati ranjang. Ia menahan langkahku, kami bertatapan. Beberapa saat, suasana hening sekali. Mata kami masih bertemu, tajam sekali. Tanpa suara, bibir kami bertemu. Pelan. Saling menenangkan.

Bersambung

Pembaca setia BanyakCerita99, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)BTW yang mau Mensupport Admin BanyakCerita  dengan Menklik Gambar Diatas dan admin akan semakin semangat dapat mengupdate cerita full langsung sampai Tamat.
Terima Kasih 🙂