Status Berkelas Part 35

0
857

Status Berkelas Part 35

Resuffle, Scene 2

Di ruang tamu rumah Hajar…

Duduk berkumpul Pak Ali, Nada, Hajar, Dana, Khusna, Dodo, dan juga Yosa. Mereka bertemu untuk membahas sesuatu yang penting.

“Wah seru yo bisa ngumpul bareng gini.. apalagi ada bintang tamu Dodo dan Yosa hahaha”, Pak Ali sumringah. Wajahnya cerah penuh senyum. Berbanding terbalik dengan keadaannya dulu saat di rumah manukan. Memang putaran roda kehidupan mampu membuktikan segalanya. Kadang manusia bahagia bisa diatas roda. Kadang manusia bisa menangis saat di bawah roda. Itulah dinamika yang harus terus disyukuri apapun keadaannya.

“Iya Pak.. awalnya nyasar makan bakso malah bisa jadi sodara semua kayak gini.. saya terharu pak. Dulu saya punya sahabat banyak, tapi ternyata tidak ada yang tulus. Ya cuma dul gemuk Dodo ini yang bener-bener tulus. Eh sekarang malah banyak dapet sahabat tulus disini..”, Yosa yang pertama menanggapi ucapan Pak Ali.

“Dul gemuk dul gemuk ndasmu !!. Koen iku seng dul gondes!!”, mata Dodo seperti biasa, membelalak marah. Tapi tak serius.. hanya marah kamuflase sebagai tik-tak dari candaan Yosa. Begitulah dialek Surabaya. Terkesan kasar, ceplas ceplos, jorok, dan sangat tidak sopan. Tapi itu tergantung dari sudut pandang mana menilainya. Justru bagi orang Surabaya sendiri, kosakata tak senonoh itu menjadi bentuk keakraban tersendiri diantara mereka. Sebuah idealis yang mewarnai keberagaman nusantara.

“Hehe aku seneng lek nontok (lihat) Yosa ama Dodo ini.. kompak e pol njeduk tembok. Ga tertandingi hahaha”, pujian Dana tak membuat pipi Dodo menyemu merah. Sorii.. eyke bukan susi nya suhu boski.. mungkin demikian pembelaan Dodo jika ditanya tentang mengapa pipinya tidak memerah.

“Halahhh bro.. arek DKI yo kompak e cetus membahanus ngunu kok”, Gantian Dodo membalas pujian Dana.

Obrolan mengalir santai. Cemilan yang disuguhkan Hajar di meja sudah mulai habis bin ludes.

“Ehh… aku ingin menyampaikan sesuatu”, Nada mengambil alih obrolan. Semua mata tertuju padanya.

“Hal ini adalah hasil rembukan berdua dengan Hajar. Sudah kami konsultasikan juga ke mas Angga, mbak Dira, dan Najar. Pak Ali juga sempat kami minta pendapatnya”, Nada berhenti sejenak, mengambil minumnya diatas meja, meminumnya perlahan sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya.

“Begini.. berbicara tentang Rapi Design yang kami rintis. Syukurlah makin lama makin menunjukkan kemajuannya yang sangat pesat. Badan Hukum yang semula hanya CV butuh untuk segera dirombak menjadi PT. Ini adalah tuntutan kerja yang harus kami lakukan demi kemajuan Rapi Design menjadi semakin bersinar”, tarikan nafas Nada memberi waktu sejenak baginya untuk menyusun kata-kata berikutnya.

“Oleh karena itu, akan dilakukan perombakan besar pada perusahaan kami. Istilah keren e resuffle. Rapi Design akan naik menjadi PT dengan nama baru Rapi Design Group (RDG). Aku sedang negosiasi untuk membeli rumah di kawasan Kertajaya Indah yang akan menjadi kantor baru sekaligus tempat tinggalku dan mbak Dira”, Nada melanjutkan kalimatnya.

“Wowww..ckck..ck..ckk”, Dodo berdecak kagum, disusul jitakan Yosa di kepalanya.

“Dalam PT tersebut akan di isi oleh orang-orang baru. Komisarisnya adalah aku dan Pak Ali. Direktur dipegang oleh Dana. Wakil direktur adalah Khusna. Manager operasional kami tawarkan kepada Yosa. Manager Marketing dan Design adalah Dodo. Manager HRD pada Hajar”, semua mata kecuali Hajar dan Pak Ali terbelalak. Namun Nada belum berhenti dan melanjutkan penjelasannya.

“PT ini juga akan memiliki unit usaha lain berupa produsen dan designer pakaian, waralaba bakso cak ali manukan, serta pengelolaan rumah kos. Kesemua unit usaha ini akan dijalankan oleh Mbak Dira, Mbak Hera, Najar, dan juga Indra”, Nada mengakhiri penjelasannya dengan kembali bersandar pada tempat duduknya.

“Eh Nad.. aa.kuu.. itu kok direktur?, ga salah ta?”, Dana tergagap, merinding, salah tingkah.

“Ya.. kamu layak Dan..!!”, Pak Ali memotong.

“Setuju!!”, bergantian Hajar, Khusna, Dodo, dan Yosa mendukung.

“Kecuali kalau kamu cuma main-main sama Nada”, imbuh Pak Ali.

Dana berdiri, kemudian sujud syukur mendapati nikmat yang sungguh besar. Tak pernah ia membayangkan akan menjadi seperti ini. Terbayang wajah keluarganya yang gembira.

“Kalau aku… masih boleh nyambi nyanyi kan??”, giliran Khusna bertanya. Kali ini Hajar yang menjawab.

“Nyanyinya kan malem Khus.. bisa diaturlah. Kalau perlu, kedepan kita tambah unit usaha baru berupa kafe biar kamu bisa nyanyi di kantor sendiri hehe”, Hajar yang imut terlihat makin imut kini di mata Khusna. Airmuka bahagia terpancar di wajahnya.

“Aku manut aja mbak.. tapi mbuh iki Yosa gimana”, sekarang Dodo yang muali berkomentar sambil melirik sahabatnya.

“Aku sudah mendengar cerita tentang pekerjaanmu dari Pak Ali dan Najar. Kondisimu berangkat ke Makasar terancam batal. Di sisi lain kamu juga sedang berencana menikah dengan anak lampung. Jadi hemat kami.. jika sama-sama jadi manager, tentu bekerja di tempat saudaranya sendiri akan lebih nyaman. Sekaligus kamu juga akan lebih leluasa mempersiapkan pernikahan”, intonasi dan kalimat persuasif Nada begitu lembut menyentuh akar pemikiran Yosa.

“Ok.. aku ambil!!”, Yosa berkata yakin. Semua bersorak senang.

“Eh Yos.. kapan-kapan kenalkan aku sama orangtuamu. Ben seduluran iki makin erat”, Pak Ali berucap ramah ke arah Yosa. Tak hanya Yosa, Dodo pun ikut bersuka cita atas berita baik ini.

Semua bernafas lega. Wangi semerbak keharmonisan keluarga tercium. Beban berat ada di pundak DKI yang harus benar-benar serius menjaga hubungan dengan pasangannya hingga pelaminan. Karena keluarga besar ini seperti magnet yang akan saling tarik menarik satu sama lain. Saling membutuhkan, saling melengkapi.

Titik kesimpulan telah tercapai. Satu persatu berpamitan, kembali pulang untuk menyiapkan mental terbaik, menyongsong hari esok yang cerah.

Dodo dan Yosa segera memacu kendaraannya menuju Sidoarjo, membelah kemacetan Surabaya di sore hari yang menjengkelkan.

Dana dan Nada juga bersiap diri untuk pulang. Sepertinya mereka ada rencana berduaan setelah ini.

Pak Ali berkemas menyusul Najar di cabang bakso untuk closing bulanan.

———-

“Walah.. podo minggat kabeh (pada pergi semua), pole sepi saiki (jadi sepi sekarang)”, Khusna sejenak merebahkan badannya di kursi sofa panjang. Terlihat Hajar sibuk mengambil piring dan gelas sisa jamuan.

“Khus.. tak tinggal adus sek yo (aku tinggal mandi dulu ya). Ongkep kabeh rasane (gerah semua rasanya)”, Hajar berteriak dari dapur. Khusna hanha menjawab dengan lirih. Kemudian tertidur.

Setengah jam setelahnya…

“Khus.. bangunn.. kamu ga mandi pisan ta?”, Hajar mengguncang badan Khusna yang sepertinya tertidur pulas.

“Ehh.. hoaaam. Iya sek bentar”, Khusna sedikit membuka mata menjawab ucapan Hajar.

Lhukk..!!

Khusna tiba-tiba langsung terbangun dan segera duduk. Dipandanginya Hajar tanpa berkedip.

“Ngimpi tah iki aku??”, Khusna mengucek matanya, tak percaya menghadapi kenyataan sulit yang ada di depan mata. Ia membayangkan bakal repot masa depannya jika terus bertahan dengan ini. Matanya tak berkedip memandang sesuatu yang tak lazim.

Betapa tidak. Hajar yang baru selesai mandi nampak begitu segar dan wangi. Lalu muncul di depan Khusna hanya dengan memakai sebuah jubah mandi yang tipis. Tanpa CD.. tanpa Bra. Ini sungguh sulit buat Khusna. Masa depannya bisa repot jika terus menerus pakai sarung di rumah. Tubuh yang tak lazim.. terlalu indah.

“Lapooo..??!!”, mata Hajar melirik sensual.

“Hmmm.. tahu gitu mending aku mandi dari tadi..!!”, ucap Khusna ke Hajar. Tepatnya ke dada Hajar, karena mata Khusna mengarahnya ke benda menul itu.

“Lahh kan masih ada aku tadi mandi..!!”, sahut Hajar imut.

“Maksudku… mandi bareng kamuu tadi ..hehehe”, lidah Khusna terjulur, bibirnya tertawa, satu matanya tertutup.

“Yeee maunyaaa..”, bibir Hajar monyong sekseh.

“Lho emang kamu ga mau sama aku??. Yowes lek ngunu tak mole (yaudah kalau begitu aku mau pulang)”, ucap Khusna sambil berdiri dan melangkah ke arah pintu. Sebenarnya itu hanya candaan Khusna. Tapi tidak bagi Hajar yang menganggap bahwa Khusna benar-benar marah kepadanya.

“Khus khus… khus.. jangan marah dong. Plisss”, Hajar mengejarnya kemudian memeluk tubuh Khusna dari belakang.

Mak jendul-jendul buah montok di dada Hajar yang tak bersangkar menekan kenyal ke punggung Khusna. Bau wangi tubuh Hajar semakin menyeruak membius bilik kelambu tipis di hidungnya, mengirim sinyal cepat ke otak dan hati, kemudian menerima balik berupa respon positif rangsang.

Sejenak Khusna terdiam. Meresapi rasa baru yang menyembul di dalam jiwanya. Rasa yang bercampur antara bahagia, nikmat, sayang, indah, dan setumpuk kosakata luapan ceria yang tak mampu terangkum dalam satu kalimat. Semua hanya terwakili satu kata, ehmm… Khusna mendesah pelan.

Segala keresahan turut berkecamuk di dada Khusna. Ada kesadaran yang mengingatkan Khusna tentang ucapannya pada Hajar saat pertama kali bertemu. Ia berjanji akan berhubungan badan dengan Hajar nanti, saat menikah. Datang pula perasaan tak enak kepada Pak Ali yang selama ini sudah sangat baik kepada mereka semua. Ada pula perasaan bersalah pada Dana dan Indra yang seolah ingin mereguk nikmat sendiri tanpa memikirkan nasib kedua sahabatnya. Terbayang saya kesedihan Dana bingung akan keuangannya, ada kesedihan saat Dana harus berjuang begitu panjang untuk mendapatkan Nada, ada kisah perih Indra dan Najar. Sepertinya Khusna tak rela membiarkan dirinya bersenang-senang, sementara sahabat-sahabatnya menderita.

Mwwhhh..

Hajar mencium lembut punggung atas Khusna. Sebentar kemudian Hajar menempelkan pipinya ke punggung itu dengan tenang dan lembut tanpa sedikitpun melepaskan pelukannya.

Khusna semakin tergetar. Dadanya bergemuruh, berkecamuk semua perasaan.

“Khus.. jangan pergii..”, Hajar merajuk manja. Satu hal yang tak bisa ditolak Khusna jika Hajar sudah merajuk seperti ini.

“Bukan aku ga mau sama kamu Khus.. aku hanya bercanda. Aku sangat menyayangimu”, bisik Hajar lembut penuh perasaan. Bulu halus di tubuh Khusna seketika meremang.

Dengan cepat Hajar berputar ke depan. Kemudian kembali memeluk tubuh Khusna. Kali ini seluas dada Khusna merasakan desakan kenyal buah montok Hajar yang hanya terbungkus kain jubah.

Sepanjang hubungan mereka, Khusna belum pernah melangkah sejauh ini. Percintaan mereka hanya diwarnai ciuman kering, ciuman panas, dan sesekali tangan Khusna mencuri kesempatan meremas buah dada Hajar dari luar pakaian. Itu saja, dan tak pernah lebih.

“Aku juga sayang kamu”, jawab Khusna pelan tapi dengan penekanan intonasi yang dalam dan kuat.

Hajar bahagia. Ia menengadah menatap wajah kekasihnya dengan penuh rasa sayang. Mereka saling berpandangan, cukup lama tanpa kata.

Mwuahhh..

Hajar memberanikan diri mengecup bibir Khusna. Bibir mereka saling bertemu lalu kembali terdiam bersama. Tak ada niatan dari keduanya untuk menarik kembali pertemuan bibir tersebut.

Nafas Khusna bertahap memburu. Irama napas yang semakin tak teratur. Gejolak hasrat kelaki-lakiannya terpantik oleh desakan testosteron yang kian deras.

Khusna sedikit menggerakkan bibirnya membalas kecupan lembut Hajar. Namun Hajar berpikir lebih. Perlahan ia julurkan lidahnya merabai bibir Khusna yang baru saja aktif memberikan timbal balik.

Kesadaran Khusna semakin terenggut. Tanpa pikir panjang ia sambut lidah Hajar dengan kuluman. Hajar tak diam saja, ia lepaskan sisa lidahnya untuk mempermudah Khusna mengecapi daging tak bertulang tersebut.

Ehmmmh..

Hajar mendesah manja merasakan ciuman yang semakin memanas. Tak menunggu lama dan tanpa dikomando, mereka segera saling melumat bibir dengan buas. Kecupan berubah menjadi ciuman basah yang menggelora.

Crupp

Slurupp..

Kecipak bibir dan lidah saling mengejar, menyedot, mencumbu, memantik birahi kedua insan tersebut semakin meledak.

“Khus.. aku ganti pakaian dulu..”, sejenak Hajar menarik diri untuk bergegas menuju kamarnya.

“Lhohh ojok rek.. (jangan)!!”, wajah Khusna tiba-tiba menghiba. Namun Hajar tak memperdulikannya. Ia tetap melangkah menuju kamar.

Khusna memandang buah pantat Hajar yang bergoyang melambai-lambai dalam langkahnya. Khusna segera mengejar Hajar.

Tiba di sisi tempat tidur Khusna berhasil merengkuh tubuh kekasihnya. Keadaan kini berbalik, Khusna memeluk Hajar dari belakang.

“Kok mau ganti baju sih..”, bisik Khusna protes.

“Hehe.. siapa juga yang mau ganti baju.. kalau ga dipancing gitu aku khawatir kamu berubah pikiran hmm hahaha”, Hajar tersenyum penuh kemenangan. Upayanya mengajak Khusna masuk ke kamar berhasil sudah.

“Khus…”, Hajar memanggil dengan lembut.

“Opoo..”, jawab Khusna sambil mencium tengkuk Hajar, membuat Hajar menggelinjang kegelian.

“Itu apa yang ganjel keras nempel di bokongku??”, ucap Hajar menggoda centil.

“Itu hmm.. hehe.. anu”, Khusna jadi gelagapan karena ketahuan telah terangsang.

“Nontok seh (lihat dong)!!”, dengan cepat Hajar berbalik badan kemudian berjongkok tepat di depan selangkangan Khusna. Tangan Hajqr tanpa permisi membuka ikat pinggang berikut resleting celana Khusna.

“Lho ehh ehh..”, keterkejutan Khusna tak berlangsung lama ketika dengan cepat jemari lentik Hajar mencengkeram tonjolan yang masih tertutup boxer.

“Ini nih yang nakal tadi nekan-nekan bokong Hajar”, Hajar meremas gemas batang torpedo Khusna.

“Adooohhh.. ngawur koen Jar. Ojok diremes ngunu. Sakit tauu !!”, Khusna berteriak kesakitan.

“Hihi.. biarin.. nakal sihh”, Hajar terkekeh dengan wajah mesum.

Brettt..!!!

Satu tarikan Hajar berhasil membuat boxer Khusna meluncur turun. Serta merta mencuat batang besar kecoklatan menyodok hidung Hajar yang mancung.

“Hiyaaa…”, Hajar terkejut. Di hadapannya, hanya sekian centimeter dari wajahnya berdiri sebuah meriam besar dengan puncaknya yang membasah digenangi cairan skrotum.

“Khus.. yaa ampun gede banget..”, mulut Hajar menganga. Kornea matanya semakin menonjol menatap batang kekar Khusna.

Hahaha.. seperti Dana dan juga Indra. Mereka 2 tahun telah bersama mengikuti terapi kejantanan menggunakan ramuan kuno. Resep itu didapatkan Dana dari tumpukan berkas ayahnya. Ukuran kemaluan akan melonjak drastis jika rutin melakukan rangkaian terapi dan membalurkan ramuan kuno. Buruh waktu hingga 2 tahun untuk membuat trio DKI berdecak kagum pada batangnya masing-masing.

Tak hanya Dona dan Dira yang terkejut melihat penampakan tombak megah nan perkasa tersebut. Kali ini Hajar dibuat melongo menatap kenyataan yang sangat luar biasa.

Khusna tak menjawab keterkejutan Hajar. Hanya tangannya kini pelan mendorong kepala Hajar semakin mendekat ke batang besar berotot.

Hajar sedikit ragu, namun berusaha menguasai keadaan. Pelan ia julurkan lidah mencicipi ice creaam rasa daging dihadapannya. Sedikit asin dengan aroma yang khas. Aroma pria yang gentle dan aktif. Perpaduan keringat, kelembaban, dan cairan pemulas kejantanan. Aroma yang menyulut nafsu setiap kaum hawa menjadi berlipat ganda.

Dengan lebih yakin Hajar menjilat puncak batang Khusna yang berkilat basah. Aroma itu semakin kental kentara.

Hajar mencoba membuka mulutnya. Memasukkan batang Khusna ke rongga mulut yang seakan dahaga. Namun Hajar mengalami kesulitan. Ia tak punya pengalaman sekalipun untuk bermain oral. Susah payah ia mengatur gigi dan lidah bersamaan dengan mulut yang menganga lebar. Melihat hal itu Khusna menjadi iba. Ditariknya berdiri sang barbie imut jntuk menyudahi permainan mulutnya dibawah sana.

Crupp..

Lagi-lagi perciuman panas terjadi. Jauh lebih panas dari sebelum-sebelumnya. Kali ini Khusna lebih agresif dengan meremas dan meraba buah pantat bergantian dengan buah dada montok Hajar.

Uhhhmm

Hajar melenguh. Bibirnya bergetar halus. Tangan Hajar sibuk menelanjangi Khusna.

Badan proporsional dengan batang besar menjulang menantang terlihat jelas di mata Hajar. Wajah Hajar menggelora merah. Tekanan aliran darah menguat, mendorong ke segala arah.

Khusna terhenti. Sejenak ingat ingat dengan janjinya untik menyetubuhi Hajar saat pernikahan nanti. Namun tanduk merah diatas kepalanya seperti memaksa Khusna untuk berpikir tanpa menggunakan logika. Khusna akhirnya menyerah. Ia berpikir simple toh Hajar sebentar lagi juga akan menikah dengannya, bekerja bersama, tak ada yang perlu diragukan lagi.

Tanpa melucuti jubah seksi Hajar, Khusna mendorong tubuh kekasihnya tertelentang di atas tempat tidur. Keringat mulai bercucuran dari keduanya meski dingin udara AC memenuhi ruangan kamar.

Sedikit terburu, Khusna menyibak jubah bagian bawah Hajar. Seketika terpampang pemandangan bukit gundul surgawi dengan garis tegas ditengahnya yang mulai basah.

Khusna melebarkan kedua paha Hajar, membuat garis tegas tadi semakin terkuak menyuguhkan lipatan-lipatan indah dengan lorong memanjang ke dalam.

“Uuuhhh Khus..”, Hajar mengerang saat kecupan bibir Khusna mulai menempel di depan liang kewanitaannya.

Lidah Khusna menjulur ikut mengambil peran.

“Ya ampun.. ooohhhsst”, mata Hajar terpejam. Mulutnya membuka menutup terkatup-katup.

“Sudah Khus… ampuuunn.. sudahh ahhhh”, Hajar meraung-raung seperti sirine. Gejolak hasratnya kian membuncah.

“Sudahh sayaaang.. ehmm ah. Masukim aja anunya cepeet uhh. Aku maunya diperawanin anumu, bukan mulutmu mmmhhh”, Hajar berusaha meminta Khusna untuk melakukan penetrasi. Ia ingin segera menikmati persetubuhan yang sesungguhnya.

Khusna tergerak. Segera ia berdiri menggenggam batang kekarnya kemudian mendorong Hajar beringsut ke tengah tempat tidur.

Dengan posisi misionaris Khusna mulai menempelkan batang kejantanannya ke bibir berlendir Hajar. Hajar menggigil bkbir bawahnya menunggu saat-saat yang paling mendebarkan.

“Akan terasa sakit di awal sayang.. tahan ya. Teriak aja kalau memangga kuat menahannya”, libido Khusna telah menguasai penuh kesadarannya. Yang ia inginkan kini hanya menikmati hidangan yang telah tersaji.

“He em”, jawab Hajar masih menggigit bibir bawahnya.

Satu dua kali tusukan, kepala kemaluan Khusna meleset dari sasaran. Batangnya yang besar ditambah bibir kemaluan Hajar yang masih sempit membuat upaya persetubuhan tersebut cukup menyulitkan.

Khusna pun memegang batangnya, menggosokkan berlahan ke serambi depan liang kenikmatan Hajar. Memompa cairan pelumas Hajar untuk kian membasah.

Tiba pada suatu kesempatan, Khusna menekan batangnya.

“Hhkk..”, Hajar mengejut tertahan. Kepala penis Khusna sudah berhasil menyeruak masuk.

Khusna sedikit menarik berlanjut menekan lebih banyak. Berulang kali ia lakukan gerakan itu dan menghasilkan separuh batangnyakian menyumpal di liang sempit Hajar.

“Eehh..mmh”, Hajar berusaha beradaptasi menerima benda aneh yang pertama kali bersinggah di lubang pipisnya.

Khusna kembali menekan namun seperti terhalang sebuah dinding yang lunak.

Khusna menarik napasnya dalam saat mengetahui bahwa selaput hymen Hajar masih rapi menyegel mahkotanya.

“Yaopo rasane Jar?”, Khusna berusaha mengajak Hajar beriteraksi.

“Guede pol Khus.. ganjel bange… hwahhhh”, belum selesai Hajar menjawab pertanyaan Khusna, tahu-tahu Khusna sudah menekan keras batangnya. Menerobos dinding dara. Meronjok masuk hingga tertelan habis batang Khusna di dalam sana.

Khusna tersenyum lembut. Menyecup bibir Hajar yang bergetar seperti kedinginan.

Airmuka Hajar menegang pucat seperti telah melihat hantu.

Khusna perlahan mulai menarik dan mendorong kemaluannya memperlancar jalan persenggamaan. Sekian menit Hajar mulai tenang. Wajahnya kembali terlihat bergairah dan tak lagi pucat.

Slepp slepp slep

“Ooohh”, pompaan Khusna semakin konstan. Hajar mulai dapat menikmati permainan yang terjadi. Mulutnya kembali melenguh merasakan kenikmatan yang makin lama makin terasa merebak di liang kewanitaannya.

“Oooh Khus.. ehhmm punyamu guede ne sadubilah.. iihhhh ssshh”, Hajar semakin terbuai merancau.

“Enak Khuss.. cepetin khus., ahhhh”, kini malah Hajar yang meminta.

Tempo permainan semakin cepat.

Entah berapa menit mereka saling mereguk kenikmatan yang ada.

“Oooh Khus.. mau pipisss ahhhh”, desah Hajar merasakan gelombang orgasme sedang bersiap menggulungnya.

Khusna semakin mempercepat tusukan.

Slepp slep slepp

“Ahhh ahhhh auhh khus… mhhhh”, pinggul Hajar bergoyang menyongsong setiap tusukan. Rahim Hajar seperti terdorong-dorong oleh sesiatu yang besar dan nikmat.

“Pipiss khuss.. aakhuu pipisss ahhhhhhh”, Badan Hajar mengejang. Matanya melotot, bibirnyaterbuka lebar. Desahan terpancar kuat dari mulutnya.

Khusna terus menggenjot tanpa henti. Hingga pada akhir orgasme Hajar tiba-tiba Khusna mencabut batangnya cepat. Bayang itu menyembur kuat. Cairan putih membasahi luar kewanitaan Hajar hingga perut.

Khusna menggulingkan badannya ke samping dan terkapar terengah-engah.

Sejenak ruangan sunyi. Tak lama kemjdian Hajar beringsut merebahkan kepalanya di dada Khusna.

“Makasih sayangku”, sejenak Hajar mendongak dan tersenyum mesra.

Khusna mengecup lembut kening Hajar.

———–

 

Sementara itu di tempat lainnya,

“Tapi tak bisa dibiarkan begini terus mass !!”

“Iya aku paham. Tapi kamu jangan berpikir picik seperti itu”

Adu mulut antara Angga dan Hera terjadi. Belum diketahui apa yang menjadikan mereka berselisih paham..

——–

Bersambung

Pembaca setia BanyakCerita99, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)BTW yang mau Mensupport Admin BanyakCerita  dengan Menklik Gambar Diatas dan admin akan semakin semangat dapat mengupdate cerita full langsung sampai Tamat.
Terima Kasih 🙂

Daftar Part