Status Berkelas Part 21

0
911

Status Berkelas Part 21

Badai Kemarin, Scene 2

Rapi Design sedang sibuk-sibuknya. Beberapa order secara kebetulan datang bersamaan membuat tim kreatif cukup kuwalahan. 10 orang karyawan yang keseluruhan adalah pria nampak hilir mudik mengerjakan ini-itu tiada kenal lelah. Beruntung duo Nada & Hajar sudah sempat menambah pasukan setelah sebelumnya hanya terdiri dari 4 orang. Kantor berbentuk Ruko dua lantai di bilangan Veteran Surabaya sedikit terlihat ‘penuh’ oleh karyawan dan juga barang-barang order yang belum dikirim kepada pemesan.

Nada dan Hajar tak luput dari kesibukan yang ada. Nada duduk manis di belakang meja dengan menatap layar laptop tiada henti. Ia ingin memastikan bahwa design awal yang disetujui telah sesuai dengan design final yang sedianya akan masuk dapur produksi. Bukan hanya satu design, namun belasan design tampak antri untuk diteliti.

Hajar tak kalah sibuknya. Ia menemani quality control untuk memastikan barang yang sudah siap kirim tak mengalami cacat produksi sedikitpun. Diluar itu, control Hajar kepada semua karyawan sangat dibutuhkan yang mana kegalakan Hajar dalam mengambil sikap cukup disegani para karyawan yang ada.

“Beuuh Jummm.. sampe bokong e ga ketok (sampai pantatnya ga kelihatan) rek, madep laptop teruss”, Hajar mencolek pinggang Nada dan reflek membuat sang empunya pinggang tersentak kaget.

“Asemm.. ngagetin aja. Sektalah (sebentar)..”, bentak Nada dengan matanya tak lepas dari pandangan ke arah laptop.

“Yopo kabare Khusna mu, Yem”, Nada iseng bertanya sembari tetap menatap layar laptop.

“Masih tetep lengket dooong hihi.. lagi banyak order manggung dia sekarang. Tapi tetep aja masih rukun. Eh lha cak Dono yopo?”, Hajar yang sejenak melepas lelah di ruangan terlihat santai berselonjor kaki menjawab pertanyaan Nada.

“Syukurlah.. Dono entahlah.. yang jelas masih tetep dengan gorengannya. Tapi aku yo serba salah sakjane, waktu itu jawaban ku masih ngambang gara-gara perlakuan mantan ortu yang kelewatan. Aku juga berharap dia segera nembak aku. Tapi kok sudah setahun tapi masih diem aja dia. Sesekali tetep sih dia whatsapp atau kadang telepon, tapi belum ada titit terang.. eh titik terang”, akhirnya berlanjut juga pada curhat Nada.

“Wahh.. ya kamu yang lebih agresif dong Jeng !. Tempel ketattt.. yang baju merah jangan sampe lepas hahahaha”, seloroh Hajar namun tetap dengan upaya mengarahkan Nada agar segera berjuang kembali meraih cintanya.

“Mauku juga gitu, tapi masih pusing ngurusin mantan ortu nih say..”, tak terkecuali Dana, bahkan pekerjaanpun menjadikan Nada kurang fokus. Imbas dari terbetotnya pikiran pada masalah internal keluarga.

“Wooo yo ojok ngunu (jangan begitu).. ada atau ga ada kendala pribadi, cinta harus tetep di utamakan. Jangan dilewatkan kesempatan yang dikasih Tuhan Nad !”, justru Hajar yang kini nampak berapi-api demi cinta sahabatnya.

“Iyaa iya ndoro..”, jawab Nada mengiyakan.

“Wes ayo mari mole kerjo (setelah pulang kerja) nanti kita sempatkan mampir lapaknya cak Don.. demi kebaikanmu sendiri sayang..!!”, tukas Hajar dan dijawab oleh Nada dengan sebuah anggukan tanda setuju.

Tokk tokk💥
Toookk..💢

“Permisi bu, ada tamu yang hendak bertemu”, Pak Rebo sekuriti muncul di ambang pintu dengan sopan.

“Siapa pak?”, kening Nada berkerut. Seingat dia, hari ini tak ada janji denga siapapun.

“Dukoo Bu (Tidak tahu Bu). Baru sekali kesini”, lanjut Pak Rebo.

“Yaudah suruh ke ruangan ini aja saya tunggu.. makasih ya Pak Bo”, Nada menjawab ramah pada sekuriti yang kemudian pamit.

Begitulah Nada yang selalu berusaha ramah dan care kepada karyawannya tanpa pandang bulu. Ramah dan suka bercanda dengan karyawan bukan berarti karyawan bisa seenaknya tanpa menghargai pimpinan. Sosok Nada yang yang santai namun tetap disegani karyawan layak diacungi jempol.

Tok took..💥
Ckrekk💨

“Nada..”, seorang pria muncul menyapa Nada. Wajah yang sangat asing bagi Nada maupun Hajar.

“Perkenalkan.. Aku Pras.. orang yang dijodohkan Pak Kusno denganmu !!”, perkataan lanjutan yang bagai petir menyambar jantung Nada. Hajar pun ikut kaget melihatnya.

“Ooh.. ada perlu apa?. Sori itu versi Pak Kusno, bukan urusan saya!”, jawab Nada sinis.

“Wahahaha.. cantik-cantik galak. Seloww baby.. selow. Perusahaan plastik bapakmu itu dalam jaminan untuk membayar hutangnya kepadaku. Dan jaminan itu sudah ditangguhkan dengan kamu sebagai gantinya !!!”, mata Pras melotot tajam. Ada keseriusan dari ucapannya.

“Maaf.. itu urusan dia. Bukan urusan saya. Saya tegaskan bahwa saya bukan anaknya !!! Paham ??!”, Nada berdiri menyeringai.

“Uupss.. bisa diatur itu nona. Saya ambil kembali pabriknya sih tidak masalah. Sangat gampang hahahaha. Tapi masalahnya, saya terlanjur tertarik lihat kecantikanmu.. dan juga… seksi.. hahahaha”, Pras tertawa pongah. Tak ada sopan santun dari semua kalimatnya.

“Keluar kamu !!!. Atau perlu diseret sekuriti??!!”, Nada menghardik keras. Emosinya meninggi.

“Siaaapp nona cantik.. nona seksi semlohee. Saya akan pergi. Tapi ingat !!, aku tak akan melepaskanmu !!. Persetan dengan Kusno dan pabriknya. Saya lebih fokus pada tubuhmu, ada atau tidak ada Kusno.. kamu harus jadi milikku !!”, Pras menyalak garang kemudian melangkah pergi menyisakan kekalutan tak terbendung di wajah Nada dan Hajar. Ini bukan urusan sepele.

“Kamu harus segera cerita ke kak Angga Nad.. bahaya iki!”, ucap Hajar lirih. Nada hanya bisa diam, menangis, merasakan pedihnya hidup yang tiada berkesudahan. Badai kemarin belum juga sirna.

Melihat gentingnya permasalahan, mereka menunda untuk pergi ke lapak Dana. Hajar lebih memilih menemani Nada menemui kakaknya dan mengutarakan semua. Tak bisa ditunda lagi !!.

———–

[POV Dana]

Aku tak habis pikir. Perlu menunggu hingga satu tahun untuk kembali bisa mendekati Nada. Tak sampai hati rasanya mengganggu urusan internalnya sebelum beres. Aku merasa tidak enak terhadap mas Angga dan mbak Dira, khawatir mereka menganggapku kurang peka keadaan.

Kulirik jam tanganku, ehhmm sudah jam 4 sore. Tumben kok yang beli gorengan masih jarang. Ini Indro dan Kasino juga tumben ga nongol sama sekali. Hmm..

Ctuing.. ctuing🎵🎶

Sebuah pesan whatsapp muncul di handphoneku. Segera ku buka.. muncul nama mbak Dona disana.

Dona (O) : Dan.. sibuk?

Dana (D) : Biasa jaga gorengan

O : Dan kamu kenapa sih, sudah berulang kali aku chat ga kamu balas?

D : Mbak tahu sendiri lah kenapa

O : Kok sinis gitu 😢

D : Gpp

O : Kok gitu sih koen Dan..

D : Mbak itu yang aneh. Sudahlah ga usah hubungi aku lagi. Setahun aku sudah mencoba lupakan. Tapi kenapa masih ganggu aja sih?

O : Melupakan apa Dan?

D : Gausah gaya nggobloki lah mbak. Aku ngerti lek sampean ngasih aku obat perangsang kan waktu itu !!??. Tega-teganya sih mbak??

O : Plis Dan jangan marah.. ini semua aku lakukan karena…

D : Karena apa?? Hahh!!. Karena ingin kontol cowok ??, karena kesuwen ga pernah kelon ta???

O : Dan kok kasar gitu ngomongnya.. aku sedih nih

D : Percuma ngomong alus sama orang yang ga bisa diajak baik. Perbuatan mbak itu sudah merusak persahabatan kita. Paham??

O : Dan.. aku..melakukan ini karena… karena aku sayang sama kamu Dan. Aku cinta kamu !!!

D : Preketek

O : Terserah. Aku sudah berusaha jujur

D : Jujur??, jujur setelah aku sampean nikmati??. Picik sekali kamu mbak

O : Apa kamu ga tertarik sama aku Dan?

D : Mbak.. kita hanya teman… aku akrab karena mbak pelanggan setia daganganku. Tolong jangan diartikan berlebihan.

O : Ooh jadi begitu

D : emang

O : Tapi aku ga mau Dan

D : mksdnya?

O : Aku ga mau nglepasin kamu. Kamu harus jadi milikku

D : kok maksa

Dona mengirim beberapa foto. Aku tercengang. Itu foto saat kami bersetubuh.

D : Apa ini?

O : Kamu lihat foto itu

O : Aku akan sebar foto ini jika kamu ga mau sama aku !!

D : Ngancam nih

O : Karena aku sayang

D : Sayang bukan begitu caranya

O : Ini caraku. Terserah kalo emang mau disebar fotonya

D : Hahhhh !!!

Aku syok. Ini sangat tidak adil bagiku. Duuh Gusti.. salah apa aku sampai mengalami hal pahit seperti ini. PR ku masih banyak, menyekolahkan adikku, menghidupi orang tuaku, mengejar cinta Nada, memperbaiki pekerjaanku agar lebih mapan, masih banyaak. Dan aku tak mau semua kacau gara-gara Dona sialan itu. Hadoooh cek goblike (bodonya) aku kenapa sampai hanyut bujuk rayu Dona saat itu.. Cukkk !!

———-

“Ndro..Kas.. aku mumet”, Dana dengan kalut mengajak kedua sahabatnya mojok di warkop bawah jembatan gubeng.

“Lapoo.. Nada meteng ta?”, celetuk Indra.

“Wes ojok golek perkoro (sudah ga usah cari masalah), aku lagi pusing Ndro.. ojok nggarai (menyebabkan) aku makin spaneng”, mata Dana melotot sadis ke arah Indra.

“Weiss.. seloww brooh”, Indra mencoba merendah, mengurangi tensi darah Dana yang kian menanjak.

“Kenopo seh koen Don. Cerita aja biar tenang”, Khusna turut pula meredakan.

Dono alias Dana akhirnya menceritakan panjang lebar kejadian dengan Dona hingga berujung ancaman Dona yang tak main-main.

“Cukk.. kurang ajar. Wani-wanine (berani-beraninya) ngancam koen Don. Ojok wedi (jangan takut), tak bantu sekuat tenaga apapun keadaannya Don. Wooo.. njaluk di tungkak iku kimpet e wedokan (minta di tendang tuh memek cewek)”, begitulah Indra.. meskipun terkesan paling cuek dan tengil, tapi justru dialah yang nomer satu dalam hal solidaritas. Sosok easy going yang baik hati.

“Iyo bener omongan e Indro. Kami selalu ada buat bantu kamu broh. Jangan menyerah”, imbuh Khusna memperkuat pembelaan Indra atas kendala yang dihadapi Dana.

“Trus rencanamu yopo Dan (terus rencanamu gimana Dan)?”, lanjut Khusna prihatin.

“Aku pengen menyelidiki arek iku. akan ku cari celah kelemahan dia, atau mungkin kesalahan dia yang bisa aku gunakan sebagai senjata untuk menyerang balik. Aku curiga, koyoke (sepertinya) ada yang tidak beres dengan Dona tersebut. Ada sesuatu yang dia sembunyikan”, strategi bertahan dan menyerang dipikirkan Dana untik mengatasi makhluk seksi bernama Dona. Terlalu sadis sepertinya, tapi setara dengan kesadisan yang ia lakukan terhadap Dana.

“Masook iku (mantap itu) Don. Ajak kami untuk membantu. We are one”, Indra antusias mendukung, diikuti anggukan Khusna mengamini.

“Yopo kabare (gimana kabarnya) hubunganmu dengan Hajar Kas?. Trus Najar yopo Ndro?”, Dana kembali memberikan rasa simpatik terhadap kondisi sahabat-sahabatnya. Sebuah timbal balik yang saling mengimbangi. Benar kata Indra, we are one.

“Aku dan Hajar apik-apik ae(baik-baik saja). Sempat berencana ke tahap serius dengan Pak Ali, tapi masih persiapan. Dongakno ae (doakan saja) aku bisa segera memperistri Hajar”, ucap Khusna menjawab pertanyaan Dana atas dirinya dan Hajar.

“Lhukk nikah koen.. wkwkwk isok sarungan terus koen Kas nang omah. Nggebleh terosss.. hiyaaa hiyaaa (wkwkwk bisa pakai sarung terus kamu Kas kalau di rumah. Intim teruss..hiyaaa hiyaaa)”, Indra berdiri memperagakan menunggang kuda sambil mulutnya ribut berkomentar.

Gubrakk…🔥💥💣

Haduuh.. Jancukk!!😠

Indra terjengkang saat ia kembali untuk duduk. Khusna telah menggeser kursinya hahaha.

“Jangkrik koen Kas”, Indra bersungut-sungut untuk kemudian berdiri dan mengambil kursi nya.

Gubrakkk..💥🔥
Dukk..! 😲

Kedua kalinya Indra terjengkang wkwkwk. Di tempat yang sama, dengan cara yang sama, namun dengan sakit yang berbeda karena kali ini punggung Indra membentur kaki meja disamping nya.

“Koen seng jangkrikk ndeng!!. Komentar ae onok wong crito hahaha”, Khusna terbahak puas melihat Indra mengelepar-gelepar kesakitan memegangi punggungnya.

“Aduuuhh tego koen su !!”, bentak Indra namun malah ditanggapi ngakak lanjutan oleh Khusna dan Dana.

“Bahhh wes (bomat)”, Khusna masih belum juga bisa menghentikan gelak tawanya.
“Satu monyet tertipu dua kali whahahaha”, lanjut Khusna.

“Wes ah mari-mari (selesai-selesai) engkok Indro nangis malah repot. Eh Ndro.. lek koen gimana hubunganmu dengan Najar?. Ati-ati lho broh.. arek iku masih berstatus istri orang yang sah”, Dono menarik Indro ke bangku di sebelahnya. perlahaaan sekali Indra menghempaskan vantat nya, khawatir terjebak ke tiga kalinya. Haha

“Hufft.. loro rek (sakit iih) boyokku. Kasino iki ancen bosokk kok pikirane (Kasino ini emang busuk kok akalnya). Ehh opo tadi Don.. Najar ta, halah mbuh. Serba salah aku. Maju juga belum ada kejelasan Dion dimana. Mundur juga kasihan Najar. Tapi iki yo Najar e lagi fokus jalankan usaha bakso dengan bapake. Wes biarlah mengalir apa adanya”, Indra mengumpat ganas, namun sepertinya ia tak serius marah. Terbukti malah ia memilih untuk menjawab pertanyaan Dana ketimbang memperpanjang urusan boyoknya.

“Walah Ndro.. gayamu. Padahal lagi pedekate mbarek mbak Dira (lagi PDKT dengan mbak Dira)”, Khusna ganti meledek Indra. Huhh dasar Kasino-Indro, selaluuu aja ada yang diributkan. Sudah seperti Tikus dan Kucing. Tapi giliran akur..hmmm tak ada yang bisa memisahkan keduanya kecuali gergaji mesin 😉.

“Eh iku ta.. anu iku hanya langganan ba..baju di mbak Dira”, Indra tergagap.. ia sangat takut jika Najar sampai dengar.

“Wooh raimu koyok tembelek kingkong ae katek macari wedokan loro ayu-ayu (Wooh wajahmu mirip pantat kingkong aja pakai acara macarin dua cewek cantik sekaligus)”, imbuh Kasino lagi. Indro hanya mampu melotot jengkel ke arah Khusna tanpa berani angkat bicara. Takut salah omong, megap-megap, malah kelihatan banget bohongnya.

——–

Bersambung

Pembaca setia BanyakCerita99, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)BTW yang mau Mensupport Admin BanyakCerita  dengan Menklik Gambar Diatas dan admin akan semakin semangat dapat mengupdate cerita full langsung sampai Tamat.
Terima Kasih 🙂

Daftar Part