Senyuman Kekasih Tersayang Chapter 27

0
516

Sepuluh menit berlalu, pintu itu terbuka. Deni dan Rissa tampak terkejut melihat tamu di depan pintu.

Mereka tahu Marta ialah tetangga seberang rumahnya. Tetapi mereka hampir tidak pernah berbincang sebagaimana tetangga semestinya.

“Ibu Marta, silahkan masuk Bu.” sapa Rissa ramah. Raut wajah Rissa masih bertanya-tanya masalah apa terjadi hingga tetangganya berkunjung ke rumahnya.

Marta tersenyum basa-basi. Ia memperhatikan tampilan Deni yang acak-acakan, hanya Rissa saja yang rambutnya tersisir rapih. Kepala Marta menggeleng sekilas, sedang Vabio menatap jengah. Mereka semua memasuki ruang tamu.

“Auww…” pekik Marta terpeleset.

“Kau tak apa?” Vabio menangkap tubuh Marta sebelum terjatuh.

“Ya.. Ada air lengket di lantai.”

Mata Rissa melotot, pipinya bersemu merah sepertinya ia tahu cairan apa itu? Ia menoleh pada Deni yang lagi nyengir.

Marta menunduk dan memeriksa sepatunya, ada lendir yang menempel. Marta menutup mulutnya mual, ia tampak jijik.

Vabio mendengus kasar. Ia kesal pada pasangan muda-mudi tidak senonoh tersebut. Aura dingin terpancar dari Vabio, Marta melihatnya dan mengalihkan amarah Vabio. Marta tidak ingin lamarannya menjadi berantakan.

“Vab, bantu aku berjalan.” Marta tersenyum manis merangkul lengan Vabio manja.

Vabio membalasnya dengan penuh kasih sayang merangkul istrinya mesra. “Si, signora (Ya, nyonya).” lalu mengedipkan matanya.

Marta gelagapan. Ia telah memancing anak iblis bangkit dari persemayamannya. Pipi Marta bersemu merah.

Kaki Marta menggesek pelan di lantai yang kering. Lalu kembali melangkah.

“Si..silahkan duduk, Tante eh.. Maaf, Ibu Marta.” gugup Rissa. “Maafkan kami tidak sopan menyambut tamu.”

“Tidak apa-apa Rissa. Saya yang datang terlalu dini dan mengganggu olahraga pagi kalian.” sindir Marta halus tapi tajam.

Marta dan Vabio duduk di sofa dekat jendela luar. Sedang Deni dan Rissa tampak kikuk duduk berhadapan dengan mereka.

Marta menutup dan mengusap hidungnya. Penciumannya yang tajam dapat menangkap aroma bekas persetubuhan. Matanya menoleh pada Vabio yang sedari tadi hanya menatap Marta dengan cinta.

Tangan Marta menyenggol lengan Vabio. Ia tidak ingin Vabio salah fokus.

“Hem..hem… Perkenalkan ini suamiku Vabio, ayahnya Revan. Kami datang kesini untuk melamar Siren untuk menjadi istri dari putraku.” ucap Marta sopan. Tanpa basa-basi.

Deni dan Rissa melongo, terkejut saling menoleh bingung. “Maaf Bu. Tapi adik kami masih sangat muda. Ia baru saja lulus SMA.” tolak Rissa halus.

“Kami sudah menyiapkan segala sesuatunya, nak Rissa. Kita tidak bisa menunda pesta pernikahan mereka.” tekan Marta halus. Tangannya mengipas tidak berhenti.

“Tapi Siren akan kuliah dan cita-citanya mau jadi dokter kayak Susan, Bu. Mungkin 8 Tahun lagi Siren siap menikah.” sela Deni ngasal.

Emosi Vabio terpancing. “Adikmu harus cepat menaikah dengan putraku. Aku tidak ingin cucuku lahir di luar nikah.” balas Vabio cepat, logat Italiano masih terasa kental hingga pengucapan bahasa Indonesianya terasa lucu.

Deni dan Rissa melotot, shock. Tak mampu bersuara. Bagai ada petir di atas kepalanya.

“Hem..” Marta berdehem. “Nak Deni dan nak Rissa kita harus segera melaksanakan pesta pernikahan mereka. Anakku dan adikmu saling mencintai. Lagipula…” Marta berackting menangis. Wajahnya sendu, air matanya menetes. Marta menghapus dengan jari telunjuknya dengan anggun.

“Lagipula?” sahut Rissa. “Apa yang dimaksud suami Ibu tadi?”

“Kami datang dengan maksud baik. Kami berharap keluarga kalian juga mengerti dan menyambutnya dengan tangan terbuka.”

Ambigu!

Rissa cemas atas perkataan Marta. Sedang Deni melongo tidak percaya.

“Maksud Ibu? Saya tidak mengerti arah pembicaraan Ibu.” Rissa bersuara.

“Kami tidak ingin cucu kami lahir di luar pernikahan. Makanya kami datang untuk melamar adikmu.” terang Marta.

Rissa munutup mulutnya. Kepalanya pusing dan jatuh pingsan. Deni terkejut dan panik, tangannya menyanggah istri tercintanya dan menyandarkan pada bahunya. Kini Deni dapat mengerti arah pembicaraan pasangan suami istri di depannya.

“Yang bangun, Yang.. Duh masa kalah sama Siren, kita harus lebih giat lagi mainnya.” ceplos Deni ngasal.

Marta dan Vabio menggelengkan kepalanya bersamaan. Mereka tidak mengira keluarga calon besannya unettitude.

Rissa belum juga sadar. Deni semakin kelabakan. “Ibu tetangga seberang. Emang bener adik saya melendung sama anak ibu?” tanya Deni tidak sopan.

“Kamu tidak mengetahui hubungan adikmu dengan putraku?” Marta bertanya balik.

“Gimana mau tahu, adik saya saja gak cerita.” Deni mengacak kembali rambutnya. Ia menyandarkan istrinya ke sandaran sofa.

Deni gusar. Ia bangkit lalu berlari ke kamar mencari minyak kayu putih dan kembali ke ruang tamu serta mengolesi sedikit di hidung Rissa.

Rissa mengerjap perlahan, tersadar dari pingsannya. Deni membantu istrinya bangun dan duduk dengan tegap.

“Udah mendingan, Yang?” tanya Deni.

Rissa mengangguk lemah. Ia menatap pasangan suami istri di depannya.

“Apa benar adik kami hamil oleh putra Ibu?” lirih Rissa, matanya berkaca-kaca.

Marta menghela napas dalam. “Benar nak Rissa. Oleh sebab itu, kami kesini ingin melamar adik kalian. Tolong diterima niat baik dari kami.” Marta melembutkan suaranya.

Rissa menangis kencang sekali di pelukan Deni. Jika Siren menikah dan di bawa pergi suaminya, itu berarti ia akan kehilangan adik kesayangannya.

“Udah dong, Yang. Kamu jangan iri gitu. Tar malem kita usaha lagi yah!” Deni menghibur Rissa.

Rissa tertegun mendengar perkataan Deni. Suami bodohnya sudah salah tangkap. Rissa kembali menangis, kali ini karena ulah suaminya. “Den kita harus cepat telepon Siren kita harus tahu masalah sebenarnya.”

“Tapi, Yang. Siren pinter juga milih calon yah! Kayaknya mereka bukan orang sembarangan.” bisik Deni pada Rissa.

Rissa mengangguk cepat. “Iya bener. Gak kayak aku yah.” cibir Rissa halus.

“Kok kamu gitu sih, Yang.” Deni menggerutu kesal.

“Josse… Bawa masuk barang-barang ke dalam.” perintah Marta pada ajudan Vabio. (bicara bahasa Italiano).

Seorang pria bule membawa banyak sekali handbag dan bingkisan yang sangat besar. Dibungkus dengan rapi disertai pita merah. Ia meletakan semuanya di atas meja hampir tidak muat. Separuh lagi di letakan di atas sofa yang kosong.

Deni dan Rissa terperangah melihat berbagai macam barang-barang mahal merek branded internasional. Rissa tahu pasti isinya, satu handbag tersebut nilaniya berkisar puluhan atau ratusan juta rupiah.

Deni menelan air liur, matanya tidak berkedip. Tangannya terulur ingin menyentuh kotak perhiasan yang besar sekali, ia berpikir isinya berlian atau batu jamrud triliunan rupiah.

Plakk..

“Auu… Sakit, Yang.”

Rissa memukul tangan Deni.

“Maaf Bu, kami tidak bisa menerima hadiah sebanyak ini. Kami harus bicara pribadi pada Siren terlebih dahulu. Bukan maksud kami menghina atau merendahkan keluarga Anda. Bersedia atau tidak, kami serahkan keputusan pada adik kami.” ucap Rissa sopan.

“Kok gitu, Yang?” Deni tak setuju. Rissa memelototi Deni tajam.

Marta tersenyum bangga, ia tahu keluarga besannya bukan orang yang mata duitan. Sedang Vabio mendengus dingin.

“Saya tahu itu nak Rissa. Siren saat ini sedang honeymoon bersama putraku. Siren akan sangat bahagia jika kalian menerima semua hadiah ini.”

“Maksud Ibu?” Rissa terkejut. Adiknya telah berbohong.

“Kami tidak bisa menerima lamaran Ibu.” marah Deni spontan. Hatinya geram, marah dan kecewa karena Siren sudah berani membohonginya.

“Den, adik kita harus menikah. Anaknya akan lahir tanpa ayah kalau kita menolak lamaran mereka. Kita harus tanyakan dulu baik-baik pada Siren.” bentak Rissa galak.

“Tapi, Yang_” bantah Deni.

“Sudah kamu diam dulu. Jangan memperkeruh suasana.” geram Rissa.

Hati Deni menciut melihat kemarahan istrinya. Ia memanyunkan bibirnya.

Marta tertawa kecil melihat perkelahian muda-mudi tersebut. “Kami pulang dulu, maaf mengganggu aktifitas kalian. Hadiah ini berikanlah pada calon menantu kami. Kami berharap ada kabar baik dari kalian nanti.” pamit Marta sopan.

“Baiklah, kami akan bicarakan dahulu masalah ini dengan keluarga besar kami.” jawab Rissa sopan.

“Permisi..”

Marta bangkit bersama Vabio dan pulang ke rumahnya.

Rissa merosot lemas dan jatuh bersandar ke sofa. Deni menggaruk kepalanya kesal. Ia tidak pernah tahu permasalahan yang dihadapi adiknya.

Deni mengutuk dirinya. Ia merasa tidak becus menjadi kakak. Hatinya gelisah, “Apa bener Siren hamil?” pikirnya tidak tenang.

Jika benar, kenapa jerih payahnya sekian lama juga belum membuahkan hasil bersama istri yang ia nikahi hampir 4 Tahun!

Siangnya Marta dan Vabio bersiap akan pergi. Mereka tidak mau menunda lagi melamar Siren untuk Valerio. Apalagi ia sering frustasi sendiri. Akhir-akhir minggu ini mimpinya sangat menyeramkan

Mereka berangkat dengan mobil pribadi dan menyewa sopir sebagai penunjuk jalan. Josse ajudan setia Vabio, duduk di depan sebelah sang sopir.

Dua mobil di belakang semua pengawal Vandals yang ikut membuntuti mobil tuannya di depan.

Hiruk pikuk kota Jakarta sangat kentara. Pagi-pagi saja sudah macet. Kedua tangan Marta menggemgam erat.

Vabio menggemgam erat kedua tangan Marta. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan istrinya.

Marta menoleh tersenyum manis. Dada Vabio bergetar tiap kali melihat senyuman istrinya. Vabio berharap lebih, ia memepet tubuh Marta dan merangkul.

Kedua insan sudah berumur seperti merasakan jatuh cinta kembali. Marta merasa suasana di dalam mobil sangat panas. Mungkin saja AC-nya rusak.

Marta mengambil kipas dari dalam tasnya. Vabio meneguk saliva, melihat belahan payudara istrinya dari belakang. Tangan Vabio merangkul pinggang Marta, posesif.

Kedua orang di depan kemudi berwajah datar hanya diam saja tanpa tahu hal yang terjadi di belakangnya. Sedang kedua insan di jok belakang bergerak-gerak gelisah.

Vabio seperti mendapat angin segar. Bukan dari kipasan tangan Marta tetapi istrinya diam saja diremas-remas bagian pinggulnya. Perbuatan nakal Vabio membuat Marta menahan desahan di ujung bibirnya.

Mobil memasuki jalan pedesaan yang tidak terdapat jalan aspal. Mendapatkan alamat kampung halaman Siren bukan masalah sulit bagi Marta.

3 kendaraan mewah berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pelataran yang luas dan rindang.

Vabio mengangkat tangannya yang tadi merangkul istrinya. Sedang istrinya diam saja dengan raut wajah kesal, seolah tak rela tangan Vabio lepas dari pinggulnya.

Josse membukan pintu untuk Vabio. Tuan dan nyonyanya segara turun dan melangkahkan kakinya ke teras depan.

Seorang wanita setengah baya memakai baju terusan sederhana keluar dari dalam rumah. Wanita itu mengerutkan dahi, menatap bingung pada sepasang tamu yang baru saja tiba.

“Cari siapa Bu?” ucap wanita itu ramah dan tersenyum.

“Apa Ibu yang bernama Ani?” Marta berbalik tanya sambari menelisik wajah wanita itu.

Marta mengamati wajah wanita paruh baya. Kulitnya putih mulus tanpa cela, walaupun guratan tipis kentara di bawah sudut matanya. Sangat cantik sebagaimana wanita pedesaan lainnya. Tampak ayu dan memesona.

Marta tersenyum, sedih. Ia kembali teringat sesuatu. Hatinya tersayat jika teringat akan hal menyedihkan tersebut. Ia memaksa senyum menyambut keramahan wanita di depannya.

Ruang tamu dengan 3 orang berperangai berbeda duduk berhadapan. Marta berbasa-basi, ia mencoba bersikap ramah. Biar bagaimanapun juga di hadapannya ialah calon besan.

Pembicaraan yang awalnya canggung bagi kedua wanita sebaya tersebut menjadi menegangkan. Wanita bernama Ani, yakni ibundanya Siren tercengang mendengar penuturan Marta.

Sedangkan wajah datar dan dingin khas Vabio biasa saja mendengarnya. Menurut Vabio, wanita selalu bereaksi berlebihan jika mendengar hal yang tidak enak didengar.

Ani memejamkan matanya sesaat. Tangannya bergetar, ia tak percaya akan penjelasan yang Marta katakan. Ani berpikir ia harus menanyakan sendiri pada putri semata wayangnya. Suaminya Kana belum juga kembali dari restoran. Di rumah hanya ia sendiri. Ani kebingungan.

Ani menolak keras hadiah yang diberikan Marta. Ia tak mau begitu saja menerima lamaran dari orang yang tidak ia kenal.

“Vab, bisa tinggalkan kami berdua saja. Kami akan berbicara antara sesama wanita.” ucap Marta lembut pada suaminya.

Vabio tersenyum memikat. Ia mengedipkan matanya sebelum pergi keluar menuruti istrinya. Marta berdehem, dadanya berdebar-debar gairah.

Marta berpindah duduk ke sebelah Ani. Tangannya menangkup kedua tangan Ani. Wajahnya condong ke dekat telinga Ani. Ia berbisik sesuatu yang membuat Ani membulatkan matanya.

Ani tambah bergetar. Tubuhnya melemas seolah semua tulangnya diangkat dari tubuhnya. Matanya berair dan terus saja menetes. Ani shock berat, ia bimbang dan hampir tumbang.

Marta mengelus lembut tangan Ani. Ia menjanjikan suatu hal yang dijawab anggukan kepala Ani.

Apa itu berarti Ani menerima lamarannya?

Entah.. Yang pasti Marta tersenyum senang. Pasangan suami istri itu berpamitan dan pergi meninggalkan Ani yang masih menangis

Kediaman Marta…

Marta termenung di depan kaca jendela kamarnya. Tatapan matanya kosong, padahal otaknya sedang berpikir.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Vabio, yang entah sejak kapan berada di belakang tubuhnya.

Hembusan napas panas Vabio menerpa tengkuknya. Marta meremang ia tersadar dari lamunan.

“Tidak. Aku hanya merindukan taman bungaku. Kau lihat tanaman itu Siren yang menanamnya selama aku tidak pulang ke rumah ini.” Marta mengalihkan kegugupannya.

“Kau cantik dilihat dari manapun, signora.” napas Vabio semakin berat.

Hati Marta melemah!

“Kau.. Hemm… Kau istirahatlah Vab, kau mungkin kelelahan.” Marta menjawab dengan napas tersengal-sengal.

Tidak ada sentuhan. Hanya saja bagi Marta, tubuhnya tidak terkendali tertarik begitu saja dengan aura pikat yang kuat pada Vabio.

“Kau lah yang butuh istirahat, signora.”

Vabio memajukan langkahnya. Tubuh mereka hampir berhimpitan. Mungkin satu senti lagi milik Vabio terjepit belahan bokong Marta.

“Aku akan mengambil minuman untukmu.” ucap Marta mencari alasan.

Bulunya merinding. Marta berhenti tak bergerak lagi. Ia terpaku di tempatnya berdiri bagai seonggok patung lilin yang siap meleleh. Badan Marta merapat pada jendela kaca, pipi kanannya terasa dingin, payudaranya tergenjet, kedua tangannya menempel di kedua sisi bidang kaca.

“Kau tahu, betapa lama aku mendambakan suasana seperti ini.” suara serak khas Vabio. Ia menahan gejolak. “Air dingin tidak dapat menyembuhkan gairah dalam diriku. Aku sakit. Sangat sakit.. Dimana kau menyembunyikan obatku.” lidah Vabio mencucupi telinga Marta.

“Vab, sadarlah. Ini..jendela siapa saja bisa melihat kita.” Marta mendesah lemah.

Gesekan itupun terjadi. Selangkangan Vabio mengeras maksimal merasakan empuknya bokong seksi istrinya. “Rrgghh… Apa yang kau berikan padaku. Kau tidak memberiku kebebasan mengalihkan mataku dari dirimu signora.” Vabio menggeram.

Cumbuan di tengkuk Marta meruntuhkan barier kokoh yang ia pasang untuk mencegah hatinya terbakar gairah kembali.

Bibir Marta terbuka tanpa suara. Mata sayu memantul dari kaca melihat bibir Vabio yang sedang merajalela di bahu Marta yang terbuka. Vabio sangat ahli menyentuh titik-titik kelemahan seorang wanita.

“Vab, kau gila. Orang lain akan terkejut jika memperhatikan jendela kamarku.”

Marta memekik. Keberadaan tangan Vabio mencakup payudaranya. Sedangkan tangan satunya meremas bagian lain. Entah sejak kapan seleting gaun belakangnya dibuka suaminya. Sejak tadi Vabio masih tampak sibuk beraktifitas fisik sendiri memicu semangat gairah pada istrinya.

“Ijinkan aku melakukannya signora. Hilangkan penderitaan yang selama ini menyiksaku. Berikan perintah padaku agar menuntaskan ini dengan indah.” suara berat Vabio menarik perhatian Marta menyetujui usulan penyelesaian hasrat biologisnya.

Vabio menyeringai. Bola matanya menggelap. Sekilas namun pasti ia menangkap anggukan samar istrinya. Marta tak karuan, reaksi tubuhnya bagai dikendalikan oleh pikiran Vabio. Ia masih terperangah saat kedua tangannya sendiri melolosi gaun hitam yang ia kenakan.

Jatuh ke bawah. Celana dalam beserta bra begitu saja lepas dari tempatnya. Marta tak fokus, terkena sihir dari manik Vabio yang selalu memandang lekat penuh gairah mengacau kewarasannya.

Otak dan pergerakan tangan Marta tak harmonis. Isi pikirannya mengatakan jangan lemah namun ia berbalik menghadap Vabio bahkan kedua tangannya membuka kancing kemeja suaminya satu persatu penuh penghayatan.

Alarm tanda bahaya berdentang kencang di kepala Marta, mengembalikan akal sempurna yang ia punya. Jemari tangan Marta berhenti sesaat di ujung seleting celana Vabio.

“Signora, aku siap mati demi apapun. Di dalam tubuhku tidak ada organ yang dapat menawarkan racun. Kau tahu kenapa? Karena isteriku membawa hatiku pergi.” suara seleting terbuka nyaring terdengar di seisi ruangan kamar.

Hati Marta memuncak senang. Disaat para wanita lain melakukan berbagai macam cara menaklukan hati putra Vandals, bahkan rela menjual diri sembari mengemis cinta satu malamnya Vabio. Namun seumur hidupnya pria itu hanya fokus memerah kedua susunya bergantian.

Kelemahan terbesar Vabio ialah jika Marta sudah membusung. Pertahanannya akan langsung luruh bagai buih sabun memecah di udara.

Marta menatap minat, tubuh shirtless suaminya sendiri. Air liurnya hampir saja menetes. Jika percintaan ini terjadi, pastinya harus menjadi pergumulan terdasyat dalam hidupnya karena jiwanya yang sekian lama menjauh menyendiri.

Desahan halus keluar. Kedua tangan Marta memeluk belakang leher, Vabio mengangkatnya dan meletakannya ke tempat tidur dengan pandangan tak pernah lepas saling mengharap.

Lengan kekar itu mengukung possesif tubuh telanjang di bawahnya. Mata Vabio berkabut napsu yang membumbung tinggi. Terbukti dari kuatnya hentakan pertama sampai Marta menjerit histeris.

“Vab, aku belum siap.” bentak Marta membelokan matanya. Meringis sakit.

“Ayolah signora. Pemanasan pada wanita hanya untuk penis pria tidak bertahan lama. Namun aku berbeda. Ukuran dan diameter penisku menakjubkan bukan? Kau telah merasakan kegilaanku dulu.” Vabio menggeram. Kini matanya seperti bara api yang siap melalap siapa saja yang berada di hadapannya. “Lagipula lubangmu sangat familiar mengenali siapa pemiliknya.” Vabio menarik sudut bibirnya melengkung ke atas.

“Kau menyakitiku tuan arogan. Oh ya ampun, aku membangkitkan putra iblis yang telah lama terkubur.” Marta menutup mulutnya. Ia melupakan nyeri pada pangkal pahanya. Tubuhnya sudah lebih rileks karena ucapan Vabio.

“Ingin bertaruh denganku?” mata mesum Vabio kembali mendikte Marta menuruti segala ucapannya. Tangan Marta kini merangkul dan meremas leher suaminya.

Desahan nama Vabio dan tarikan napas yang memburu akhir dari takluknya singa betina ke tangan raja serigala yang kelaparan. Pacuan birahi yang penuh samangat berarti sangat jelas gencatan senjata akan dilakukan.

Hingga malam hari tidak ada satu orang pun yang keluar dari kamar pribadi Marta. Pertarungan sengit terjadi dan tak bisa di elakan lagi. Hanya suara gaduh desahan napas serta jeritan nikmat keduanya yang nampak terdengar.

Sepertinya Vabio menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

RAMALAN MIMPI

BERSAMBUNG – Senyuman Kekasih Tersayang Part 27 | Senyuman Kekasih Tersayang Part 27 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 26 ) | ( Part 28 ) Selanjutnya