Senyuman Kekasih Tersayang Chapter 25

0
469

4 hari yang lalu…

Ruangan pribadi mewah bergaya klasik sangat terasa kental. Furniture terbuat dan barang-barang mewah kwalitas nomor satu bernuansa putih dan gold sangat memanjakan mata.

Terdapat seorang nyonya rumah yang duduk di atas sofa empuk. Pakaian yang sang nyonya kenakan rancangan dari seorang designer terkenal dari Paris. Perhiasan yang di pakai pun tak kalah mewah. Segala sesuatu yang ada di ruangan ini harganya sungguh sangat fantastis nilainya.

Mansion termewah bagai istana para raja. Adalah kediaman penguasa Vandals yang sengaja dibangun hanya untuk sang istri tercinta. Tempat tinggal Vabio d’Anuncio Buck.

Sang nyonya mengambil figura yang ia simpan di dalam brangkas di dalam lemari kerja. Ia menutup kembali brangkas dan berjalan ke arah sofa serta duduk disana.

Jemari lentiknya memegang foto usang masa lalu. Tak terasa air matanya menetes hingga membasahi kaca bingkai penyekat gambar.

Pikirannya melayang tak tentu arah. Ia menatap kosong, menunduk dan terisak. Wajahnya sangat kuyu. Hatinya masih belum iklas! Ia teringat kembali masa kecilnya bersama dengan kakak angkatnya.

Orang yang telah berjasa mengangkat derajatnya. Mengajarkan begitu banyak pengalaman hidup keras di jalanan. Kakaknya angkatnya juga yang melatihnya saat mengikuti pertandingan kejuaraan Bidadari Muay Thai yang dulu di adakan di Bangkok Thailand. Hingga ia memenangkannya dan mendapat gelar “Muay Thai Angels Champion”.

Bahkan kakak angkatnya yang membantunya menemukan kembali identitas aslinya sebelum bertemu dengan suaminya, Vabio.

Vabio? Ya. Nyonya itu ialah Marta.

Marta sangat berhutang budi pada kakak angkatnya. Kenangan bahagia itu terbayang dalam benaknya, kakak angkatnya memberitahu Marta kabar gembira perihal kedatangannya ke Indonesia. Percakapan lewat sambungan telepon yang telah menjadi ucapan perpisahan terakhir.

Marta termenung, tatapan matanya kosong. Ia tidak menyadari di depan pintu suaminya berdiri, meratapi penyesalan.

Mata Vabio berkaca-kaca. Orang yang dicintainya memang berada dekat dengannya, namun seolah-olah sangat jauh terasa.

Marta memejamkan maniknya dan membukanya kembali seraya memperjelas penglihatannya. Isakan tangisnya semakin menyayat hati Vabio.

Ia sesenggukan. Kian memburu seiring cepat tarikan napasnya. Vabio mendekatinya dan memberikan sapu tangan di hadapan Marta, namun Marta melemparnya kasar.

“Pergilah! Aku tidak mau melihatmu saat ini.” usir Marta dengan suara keras.

Giginya gemeletuk. Menahan luapan kemarahan yang telah lama tersimpan.

“Maafkan aku, signora.” lirih Vabio mengiba.

“Tidak ada kata maaf dalam Vandal! Kau tahu itu dengan jelas, tua keparat.” bentak Marta.

Matanya seperti elang. Menatap tajam Vabio. Aura kebencian terpatri dimaniknya.

“Itu sudah lama berlalu.” bibir Vabio kelu.

Vabio menggemgam jemari Marta lembut. “Maafkan aku.” Vabio meneteskan air mata. Pipinya memerah, seumur hidup tidak pernah sekalipun ia mengucapkan kata maaf. Namun pada istri tercintanya ia mengucapkannya setiap hari.

“Lepasss.. PEMBUNUH!!” pekik Marta menghempaskan tangan Vabio. Ia bangkit berdiri dari duduknya menjauhi Vabio. Helaan napasnya sangat cepat, tak beratur. Air matanya semakin deras.

“Kau dan iblis tua itu telah membunuh orang-orang yang sangat kusayangi. Tidak akan kubiarkan kau mengadu domba kedua anakku juga.” ia mengambil foto dirinya dan Vabio serta membantingnya di hadapan suaminya.

Prangg..

Kaki Vabio bergetar lemas, matanya sembab melihat hancurnya gambar kebersamaan mereka. “Tidak akan! Aku menyayangi kedua anakku.” jawab Vabio, sendu. Rasanya percuma saja apa yang ia katakan, istrinya tidak akan mau mendengarkan penjelasannya.

“Omong kosong!! Aku tidak perduli dengan tradisi kolot keluargamu. Kedua anakku harus bahagia. Jika sekali lagi kau menyentuh salah satu putraku, aku sendiri yang akan membunuhmu.” ancam Marta menggebu-gebu.

Vabio berjongkok mengambil figura yang jatuh dan membersihkan serpihan kaca di sekitar kaki Marta.

“Aku mengerti, apapun yang keluar dari bibirmu akan kulakukan.” yakin Vabio. “Nyawaku sendiri yang menjadi taruhannya! Akan kulindungi Vale dari tangan ayahku.” tegasnya lagi.

Hati Marta mencelos!

Entah mengapa hatinya turut sakit, melihat kepedihan di mata Vabio. Ia meremas dadanya sesak.

Namun tekadnya sudah bulat. Sebelum ia berhenti bernapas, tidak ada satu orang pun yang dapat menyentuh kedua putranya.

Tradisi kolot dalam keluarga Vandals sangat kejam. Kakek buyut Valerio melarang bagi siapapun keturunannya mempunyai anak lebih dari satu. Jika anak pertama laki-laki, anak kedua dan seterusnya harus dibunuh. Sebelum kutukan keluarga mereka menjadi malapetaka bagi keluarganya.

Sesungguhnya itu hanya sebagai batasan yang dibuat dari kakek buyut Valerio agar menghindari perang saudara memperebutkan tahta kebangsawanan d’Anuncio Buck.

Setelah Van tahu kalau anak yang dilahirkan Marta kembar identik. Suasana kediaman Vandals menegang. Tidak ada yang berani menyuarakan isi pikirannya. Mereka menunggu keputusan iblis Van, hingga waktunya tiba.

Sejak kecil Volte dan Valerio diajarkan cara membunuh dengan berbagai macam penggunaan alat tajam dan senapan. Kembar itu telah dilatih disiplin hingga berumur 10 Tahun.

Penyiksaan besar-besaran di pulau Sisilia. Para klan kecil pemberontak yang bersatu ingin mengalih alih pulau, dibantai masal.

Si kembar melalui berbagai tahap cara-cara menyiksa, membunuh dan memotong korban sejak usia dini.

Hanya Volte saja yang bisa melewati tantangan tersebut dengan tenang tanpa ekspresi. Sedang Valerio trauma hingga mengidap kelainan kejiwaan kepribadian ganda.

Valerio menghilang dan ditemukan tidak bernapas di pesisir pantai. Marta dan Phaitoon berhasil menemukannya dan membawa mereka ke balai kesehatan terdekat. Ia bersyukur Valerio masih dapat diselamatkan.

Marta sangat shock setelah mendengar salah seorang pengikut setianya yang ia tugaskan di kediaman iblis Van. Iblis tua itu sengaja membunuh salah satu dari anaknya agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.

Kakek mana yang tega membunuh cucunya sendiri?

Sekuat tenaga Marta melindungi Valerio. Vabio dilema, memilih antara ayah atau istrinya. Vabio belum pernah membantah apapun perintah ayahnya. Hingga ia terpaksa mengasingkan Marta dan Valerio ke Thailand, hanya demi melindungi istri dan anaknya.

Vabio mengatakan pada Marta jika Valerio menderita tekanan batin hingga mempunyai kepribadian ganda.

Marta sangat terpuruk! Ia merawat Valerio dengan sabar dan telaten di Thailand dibantu oleh ajudan setianya Phaitoon.

Namun tidak sampai situ saja Van membuat ulah. Ia dengan tega mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh menantu dan cucunya sendiri di Thailand. Serta orang-orang yang berada di sekitar Marta.

Tragedi pembunuhan berantai yang terjadi di tempat pelatihan Muay Thai yang didirikan Marta menjadi titik ketegangan dan awal mula pemberontakan kepada Vandals.

Impian hidup tenang bersama Valerio di Thailand terusik.

Para bidadari asuhan Marta hilang satu persatu secara misterius dan ditemukan hanya beberapa potongan-potongan kecil tubuhnya di tempat yang berbeda.

Markas perkumpulan yang di dirikan Marta hancur luluh berantakan atas ulah tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

Marta bergidig ngeri. Ia baru tersadar kejamnya iblis yang baru saja ia hadapi!

Semua yang dilakukan oleh iblis Van ialah sebagai bentuk peringatan kepada sang menantu karena telah berani melawan Vandals.

Marta tidak menyerah sampai disitu. Ia kembali mendirikan perkumpulan untuk memperbesar kekuatan dan pertahannya di Thailand. Namun usahanya sia-sia, selalu bisa digagalkan ayah mertuanya sendiri.

Hingga pada akhirnya ia berhasil mendirikan Camp Muay Thai terbesar di negara gajah putih dengan bantuan kakak angkatnya asal Tiongkok. Asosiasi yang kini di ketuai oleh Phaitoon.

Ya. Phaitoon sebelumnya ialah tangan kanan kakak angkatnya Marta. Yang dipercayakan menjaga Marta sedari kecil.

Campur tangan kakak angkatnya Marta memberi pengaruh kuat. Iblis Van tak berani sembarangan mengusik. Jika itu terjadi, dua kekuatan mafia terbesar berbeda negara akan berperang. Dan itu berarti salah satu dari mereka akan hancur!

Van berubah haluan. Ia menjerat kedua cucu laki-lakinya menggunakan taktik licik. Perintahnya adalah; Valerio yang menyamar dan memancing musuh, sedang Volte yang memenangkan pertarungan. Ia berbohong pada Valerio kalau ia sudah benar-benar mengakui Valerio sebagai Vandals sejati.

Volte selalu dihasut agar membenci ibu dan adiknya. Sampai-sampai Volte mengalihkan kecemburuannya dengan mempermainkan hati banyak wanita.

Apakah itu adil?

Van selalu menugasi Valerio agar terus berada dalam lingkaran bahaya. Jadi apabila Valerio terbunuh, ia tidak perlu repot lagi mengotori tangannya.

Sungguh Licik!

Segalanya telah diatur dengan baik oleh Van. Hanya memancing sedikit saja kemarahan Valerio, cucu keduanya itu tidak akan menjalankan tugasnya dengan baik.

Apakah peledakan bunker di kota Vittoria, pulau Sisilia juga merupakan rencana iblis Van?

Masih menjadi misteri!

Valerio seperti mempunyai banyak nyawa. Ia selalu lepas dari jerat malaikat maut.

Kendati rencana Van tidak berhasil, Volte tetap memenangkan pertarungan dan menyelamatkan adik kembarnya.

Van tidak kehabisan akal. Daya upayanya sangat gigih, ia mengedepankan egonya demi mencapai kepuasan batin. Van telah terobsesi membunuh cucunya sendiri!

Yang Marta dan iblis Van tidak tahu. Ialah Vabio selalu menggagalkan aksi ayahnya sendiri. Mengirim beberapa orang ahli untuk melindungi Marta dan Valerio, selain orang suruhan kakak angkatnya tentunya.

Akhirnya Marta dan Valerio pindah ke Indonesia. Menjauhi semua penderitaan dan memulai hidup yang baru di Jakarta.

Vabio sengaja terus berada disamping iblis Van hanya demi melindungi istri dan anaknya tercinta. Ia bisa lebih leluasa mengawasi gerak-gerik ayahnya yang mencurigakan.

Kim Yo Eun saat itu sedang sakit. Ia sama sekali tidak mengetahui perlakuan kekejaman suaminya.

Baru saja Marta merasakan bahagia. Kakak angkatnya akan menemuinya di Indonesia. Tapi pesawat yang ia tumpangi mengalami kecelakaan, karena disabotase seseorang.

Yang hingga kini black box belum juga ditemukan. Ada sekelompok ahli yang memang sengaja merencanakan kecelakaan pesawat tersebut. Dan tim SAR menyatakan korban di dalam pesawat meninggal, setelah sekian lama. Walaupun bangkai pesawat dan korban menghilang tanpa jejak.

Marta curiga jika ini semua adalah perbuatan iblis Vandals. Kebenciannya pada iblis Van merasuk ke dalam hingga ke sel-sel tulang dan darahnya.

Nasibnya seolah selalu berputar dekat dengan keluarga Vandals.

Berkali-kali Vabio menghubungi Marta dan mengajaknya pindah kembali ke Roma, Italia. Namun Marta menolak tegas.

Iblis Van mengalami penyakit tua. Ia sengaja mengasingkan diri bersama istrinya di pulau Jeju. Tapi masih terus mengawasi keturunannya.

Marta tahu itu, hingga pada akhirnya Marta menyetujui untuk kembali ke pangkuan Vabio asalkan segala ucapannya harus terpenuhi. Vabio sangat senang dan menyutujui persyaratan Marta, apapun itu. Ia sangat mencintai istrinya.

Khayalan, impian kebahagiaan Vabio berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia terima. Istrinya memang kembali ke sisinya namun tidak mengembalikan ikatan tali cinta yang dulu pernah mereka rajut.

Saat Vabio sakit pun Marta merawatnya ogah-ogahan. Semua yang dilakukan hanya formalitas di depan orang lain.

Istrinya masih amat membencinya. Bahkan menatap Vabio pun tidak dengan tatapan cinta seperti dulu. Yang ada hanyalah tatapan kebencian, tajam dan dingin.

Semua ini Marta lakukan agar Vabio tidak mengusik Valerio dan Siren. Ia tidak mengira kalau Volte akan berprasangka lain.

“Aku akan ke pulau Jeju esok. Lakukanlah apapun yang kau suka.” Vabio berpamitan. Ia bangkit dan berlalu keluar ruangan, membawa foto dan serpihan kaca di tangannya.

Hati Marta tergetar. Debaran di dadanya masih terasa. Ia masih mencintai suaminya. Namun Marta memagari kelemahan itu agar tidak terpengaruh lagi akan yang namanya cinta.

Ia meremas dadanya erat. Bulir air mata terjatuh kembali membasahi pipinya. Ia melangkahkan kakinya dan berjongkok. Marta mengambil sapu tangan Vabio yang tertinggal di lantai.

Punggung Marta bergetar, ia mencium aroma sapu tangan suaminya. Rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan harum khas dari Vabio.

Sudut bibir Vabio tertarik mengintip di balik pintu. Air matanya terjatuh kembali. Antara senang dan kepiluan meronta di dalam relung sanubarinya. Ia tidak mau orang yang dicintainya selalu menderita. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Nanti kau akan tahu jika aku selalu mencintai dan melindungi kalian bertiga. Il mio tesoro (Harta karunku).” lirih Vabio dalam hati.

Vabio berbalik dan pergi keluar rumah. Sedang Marta tidak berhenti menangis dengan memeluk sapu tangan Vabio.

10 hari sebelumnya…

Marta berjalan melangkahkan kakinya ke kamar pribadinya. Tempatnya dan Vabio dulu beradu kasih. Ia menyentuh dan mengelus lembut bantal bulu angsa milik suaminya.

Belasan tahun lepas, ia sudah tidak memperdulikan suaminya. Seluruh pikirannya hanya tercurah untuk kedua putranya.

Putra pertamanya sedang bertempur melawan musuh. Putra keduanya baru merasakan kebahagiaan. Suaminya menemui raja iblis. Ia merasa kesepian.

Marta sengaja menugasi ajudan setianya untuk menjaga keselamatan putra kedua dan calon menantunya. Ia masih belum bisa mempercayakannya pada Channarong putra Phaitoon.

Marta bahkan harus bisa berkata dusta pada keluarga iblis agar putra keduanya bisa tetap hidup. Namun bagaimana dengan putra pertamanya?

Luka mengoyak jiwa dan raganya!

Ia lanjutkan langkahnya kembali menaiki undakan anak tangga berlapis karpet merah, yang berada dekat di luar kamarnya menuju kubah persegi teratas.

Matanya nyalang memandang luas rumahnya yang bergaya arsitektur Cheteau.

Kedua tangannya memegang pagar pembatas kuat. Kepala ia tegakan angkuh, ia adalah Queen Consort (permaisuri raja) dari kerajaan Vandals. Tidak mudah berada di titik tempatnya berdiri saat ini.

Berbagai halangan telah ia singkirkan. Termasuk juga para wanita kalangan bangsawan yang tergila-gila kepada suaminya. Mereka bahkan berebut mendapatkan tahta yang niscaya akan memberikan kemakmuran.

Siapa bilang menjadi penguasa kerajaan Vandals akan bahagia seumur hidup?

Marta tertawa keras-keras di atas kesengsaraan jiwanya yang bagai terkungkung di neraka Tartaros.

Seongsan, Pulau Jeju, Korea Selatan…

5 Hari yang lalu..

Perjalanan dari Italia ke pulau Jeju dirasakan lama sekali bagi Marta. Ia sendirian. Tangannya masih bergetar tidak mau berhenti.

Sudah lama ia tidak berjumpa dengan mertuanya, iblis Van. Dan kini akhirnya ia sendiri menemui iblis Van. Hanya demi melindungi anaknya.

Pengorbanannya sungguh sangat luar biasa dari seorang ibu untuk kedua putranya. Hatinya berdebar sangat kencang, ia harus bisa menguatkan dirinya sendiri agar tidak tersingkir dan terpengaruh oleh mertua iblisnya.

Mobil yang ditumpangi Marta berhenti tepat di depan pintu, kediaman Kim Yo Eun.

Marta menarik napas dalam. Seorang penjaga rumah membukakan pintu mobil untuknya.

Kaki kanannya menginjak lantai marmer terlebih dahulu. Disusul kirinya dan tubuhnya yang keluar dari dalam mobil.

Ia berdiri tegak di depan pintu masuk lalu melangkah masuk ke dalam setelah pelayan membukakan pintu. Marta mengganti hight heels-nya dengan sandal rumah.

Baru satu langkah ia mematung kembali. Mertua iblisnya dan suaminya berjalan ke arah luar.

“Apa kabar Ayah mertua?” sapa Marta menunduk hormat dan tersenyum manis. Ia mendekat dengan langkah sensual.

Mata Van menajam. Memperhatikan menantunya yang lama tidak bertemu.

“Selamat datang.” Vabio tersenyum senang melihat istrinya. Walaupun di hatinya sangat gelisah.

Marta mendekat dan mengecup sedut bibir Vabio sekilas serta menggandengnya mesra.

Vabio menegang. Selama ini istrinya tidak mau disentuh olehnya, jika tidak ada putranya.

“Tidak perlu kau tunjukan kemesraan palsumu di depanku.” cibir iblis Van.

“Papa..” sergah Vabio cepat. Ia tidak mau ada perdebatan lagi antara ayah dan istrinya.

“Semoga Tuhan selalu memberimu umur panjang, Ayah mertua.” sahut Marta lembut. “Vabio, aku merindukan Omma.” Marta bergelatut manja pada suaminya.

“Mari kuantar.” hati Vabio bahagia. Ia tidak menyangka dapat melihat siratan cinta kembali di manik Marta. Ia juga merangkuh pinggang Marta posessif.

Iblis Van berdeham. “Kita akan pergi ke suatu tempat Vab.”

Wajah iblis Vandals memerah karena amarah, merasa dirinya tidak dihargai anak dan menantunya.

Vabio berbalik dan menatap ayahnya tak suka. “Aku akan menemani istriku, Papa.”

Kedua mata ayah dan anak saling menatap bengis. Suasana mencekam dirasakan oleh Marta.

“Siapa disana?” suara renta datang mendekat.

Tuk Tuk..

Suara tongkat yang di pakai Yo Eun.

“Istriku, kau harus banyak beristirahat.” iblis Van mendekat ke arah Yo Eun.

Mata Yo Eun melihat intens pada Marta.

“Marta kau kah itu?” sahut Yo Eun senang menghampiri Marta dan meninggalkan suaminya si iblis Van.

Marta melepaskan Vabio. Mendekat pada Yo Eun dan memeluknya. “Omma aku sangat merindukanmu.”

Marta meneteskan air mata. Keadaan telah berubah. Ibu mertuanya sudah sangat menua.

“Akhirnya aku bisa melihatmu sebelum kematianku.” Yo Eun pun berkaca-kaca.

Keadaan sangat haru. Vabio tersenyum lemah menyaksikan pertemuan kembali ibu dan istrinya. Sedang iblis Van, datar tanpa ekspresi.

“Tidak Omma. Aku selalu berdoa untuk kesehatanmu.” Marta terisak sedih karena terharu mertuanya sangat menyanginya.

Iblis Van berhedem. “Kalian bicaralah di ruang keluarga. Aku akan pergi dengan Vab.”

“Papa.” sela Vabio tak suka.

Marta menoleh cemas. Ia tidak ingin suaminya bertindak salah jika selalu berdekatan dengan ayahnya.

“Ayah mertua, aku baru saja sampai ingin bertemu denganmu. Bagaimana bila kita bicara sebentar.” ajak Marta sopan.

“Iblis tua, ikutlah denganku. Ada kabar gembira yang akan disampaikan anakku, Marta.” tegas Yo Eun penuh penekanan.

Iblis Van tak berkutik. Baginya, perkataan dari belahan jiwanya ialah perintah.

Marta menarik sudutnya sesaat. Ia menuntun Yo Eun ke ruang keluarga. Suami dan ayah mertuanya mengekor di belakang dengan raut wajah berbeda dari keduanya.

Marta duduk berhadapan dengan Yo Eun, Vabio duduk di sebelah Marta, berhadapan dengan ayahnya.

“Iblis tua, perintahkan pelayan untuk masak makanan istimewah. Dan suguhkan minuman hangat untuk anakku.” perintah Yo Eun.

Wajah iblis Van merah padam. Sedang Marta melirik senang.

“Omma, tidak perlu repot. Biar aku saja yang menyiapkan.” sela Marta lembut dan bangkit berdiri.

“Tidak, anakku. Kau lelah setelah penerbanganmu. Biarkan si tua iblis yang menyiapkannya.” cegah Yo Eun.

Iblis Van merengrut kesal. Ia bangkit setelah mendapatkan tatapan tajam dari istrinya.

Vabio hanya tersenyum-senyum melihat bidadari di sebelahnya. Ia menyangka bahwa istrinya datang ke Korea karena merindukannya. Jiwanya kembali bergelora!

Marta menoleh pada suaminya sesaat dan tersenyum manis. Ia bahkan menggemgam erat tangan Vabio. Hati Vabio terbang ke angkasa.

Sekilas memang biasa saja. Padahal debaran jantung Vabio dan Marta berdentum hebat. Seperti kaum muda-muda baru jatuh cinta.

“Hemm… Senyumanmu sangat tampan putraku.” sindir Yo Eun.

Vabio tersadar dari lamunannya. Ia menegang sesaat. Ibunya sangat tahu perasaan dirinya. Ia menunduk, pipinya bersemu merah.

Yo Eun tergelak kencang melihat tingkah lucu putranya.

“Omma aku membawa kabar baik untukmu. Aku harap Omma akan turut senang mendengar kabar ini.” Marta mengalihkan perhatian Yo Eun.

“Katakanlah, Marta. Aku memang menunggu kabar baikmu itu.” Yo Eun penasaran.

Jemari Marta menggemgam tangan Vabio lebih erat, matanya menatap penuh cinta pada Vabio.

“Vale akan menikah. Dan sebentar lagi aku akan menggendong cucu.” ucap Marta semangat.

Prangg Pringg..

Suara jatuh barang pecah belah terdengar. Cawan dan cangkir hancur berantakan, iblis Van menatap Marta tak suka.

“Iblis tua kau tidak apa-apa?” ucap Yo Eun khawatir.

“Aku baik-baik saja. Hanya masalah kecil aku akan minta pelayan membersihkannya dan menggantinya dengan yang baru.” iblis Van tersenyum terpaksa.

Marta menarik sudut bibirnya sekilas melihat wajah masam ayah mertuanya.

“Pelayan.. Cepat bereskan. Ganti dengan minuman hangat yang baru.” perintah iblis Van pada pelayannya yang baru saja datang.

Pelayan menunduk hormat dan segera melakukan tugasnya. Iblis Van melangkahkan pelan dan duduk di sebelah istrinya.

“Oh.. Anakku.. Aku ucapkan selamat padamu. Laksanakan segera, rayakan dengan meriah pesta pernikahan cucuku.” Yo Eun bangkit mengambil tongkatnya dan menghampiri Marta.

Namun Marta dengan gesit lebih dulu sampai mendekati ibu mertuanya. Mereka saling berpelukan rasa bahagia dan terharu antara kedua wanita itu tidak dirasakan oleh kedua pria yang duduk dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Iblis Van dan Vabio saling menatap resah. Jika Valerio mempunyai anak laki-laki, Volte akan diasingkan dan dibunuh sesuai tradisi kuno klan Vandals.

Apa iblis Van sanggup membunuh cucu kesayangannya dengan tangannya sendiri?

Otak kedua monster itu berpikir, mencari jalan lain agar tidak terjadi malapetaka kutukan keluarga Vandals.

Tangan renta iblis Van bergetar. Ia sangat menyayangi Volte, selama ini hanya cucu pertamanya saja yang di elu-elukan. Ia meremas kedua lututnya sangat erat.

Sedangkan Vabio mengawasi gerak-gerik ayahnya. Ia tidak mau ayahnya menghancurkan kebahagiaan Valerio dan calon istrinya.

Kedua wanita itu duduk bersampingan. Yo Eun menoleh pada suaminya yang membeku.

“Aku tahu isi pikiranmu iblis tua. Semua yang kau percayai itu hanya mitos. Buktinya keluarga kita masih hidup sampai hari ini.” ungkap Yo Eun. Ia menghampiri suaminya dituntun oleh Marta dan duduk di sebelah suaminya.

Ia menghela napas dalam.

“Dengarlah baik-baik iblis tua. Permintaan terakhir sebelum aku mati, ialah aku ingin kau membebaskan Volte dan Valerio. Mereka sudah dewasa dan bisa menentukan pilihannya masing-masing.” mata Yo Eun berkaca-kaca, menatap sendu suaminya. “Berjanjilah padaku, suamiku.” pinta Yo Eun lembut.

“Jangan berkata seperti itu, aku akan memenuhi apapun permintaanmu. Kau akan hidup selamanya.” iblis Van tersenyum dan menggemgam tangan Yo Eun.

“Kali ini tuluskan permintaanku, iblis tua. Aku diam bukan setuju akan tindakanmu. Hidupku di sisimu untuk kebahagian seluruh keluarga kita.” Yo Eun terisak pilu.

Yo Eun tahu semua tindak tanduk suaminya. Bahkan ia sendiri yang membocorkan segala rencana iblis tua yang ingin membunuh menantu dan cucunya. Dibalik kelemah lembutan Yo Eun, ia juga menjadi mata-matanya Vabio.

Yo Eun terlahir di Korea Utara. Ayahnya ialah pejuang Korut penganut paham komunis. Dan ibunya merawat anak-anaknya dengan bersusah payah.

Ayahnya terbunuh oleh tentara sekutu Korea Selatan. Yo Eun, ibu dan adiknya tertangkap dan dibuang ke pulau Jeju.

Peristiwa paling kelam dalam sejarah rakyat Jeju adalah insiden berdarah pada periode pembentukan Republik Korea pada tahun 1948 sampai periode Perang Korea (1950-1953) di mana banyak warganya dibantai karena dianggap sebagai sarang pemberontak atau pengikut komunis.

Karena mengalami kehidupan yang keras oleh tekanan penguasa, warga Jeju dikenal sebagai orang-orang yang tabah dan mampu bertahan dalam situasi yang sulit. Rakyat Jeju menyatakan tentang kehidupan mereka dengan ungkapan :

“Kebahagiaan itu kecil seperti butir pasir, sementara kesedihan itu sebesar batu karang.”​

Saat remaja Yo Eun hidup berpindah-pindah. Ia bersembunyi dan menghindar dari para serdadu dan sekutu Korsel.

Ibu dan adiknya telah berpisah selama pembantaian berlangsung. Ia mengira keluarganya sudah tiada.

Pertemuan pertama mereka, iblis Van terluka akibat perang melawan Korea Utara dan menetap sementara di pulau Jeju. Van muda yang sedang menyamar sebagai tentara utusan di bawah bendera PBB, membantu Korea Selatan.

Yo Eun muda yang kebetulan lewat dari pelariannya tidak tega melihat Van muda terluka di pinggir laut. Yo Eun mengobati luka iblis Van dengan daun-daunan dan memberinya makan abalon. Yo Eun muda sendiri yang menyelam mencari abalon untuk Van muda.

Hati iblis Van terbuka. Cinta pada pandangan pertama melihat kepolosan dan kebaikan Yo Eun muda pada saat itu.

Yo Eun diboyong oleh iblis Van ke Italia dengan kekuasaan dan koneksi yang ia miliki hingga menjadi imigran gelap disana selama beberapa tahun.

Yo Eun polos menghapadi serangkaian perjuangan hidup yang tak kalah kejam daripada Marta. Dengan cinta dan dukungan iblis Van ia bisa melewati tantangan dan menjadi Empress Consort (permaisuri kaisar) dari kerajaan Vandals di pulau Sisilia.

“Aku berjanji padamu, Abalon.” ikrar iblis Van lembut.

Abalon ialah panggilan kesayangan iblis Van untuk istri tercintanya.

Vabio menitikan air mata haru melihat orang tuanya. Ia menoleh pada Marta yang terisak pelan. Bukan karena bahagia melihat ayah mertuanya bersumpah, namun hatinya semakin waspada lambat laun iblis Van akan bergerak menghancurkan impian anaknya.

“Omma beristirahatlah. Aku akan ke kamarmu nanti setelah kau bangun.” ucap Marta pelan. “Aku telah menyiapkan beberapa gaun pengantin dan perhiasan indah. Vale bilang ia akan sangat bahagia jika kau yang memilihnya untuk calon istrinya.” lanjut Marta.

Tiga pasang mata menoleh pada Marta dengan tatapan yang berbeda-beda.

“Benarkah? Oh cucu tampanku. Aku rindu sekali dengannya.” ucap Yo Eun bahagia. “Baiklah aku akan ke kamar untuk beristirahat. Kalian disini saja, kau butuh rencana matang merencanakan pesta pernikahan cucuku.”

“Aku antar istriku.” sela iblis Van.

“Tidak perlu. Kalian bicaralah, aku akan meminum obatku dengan baik.” tolak Yo Eun halus. “Seolhyun, antar aku ke kamar.” panggil Yo Eun pada pelayannya.

Sang pelayan datang dan menunduk hormat. Ia menuntun majikannya ke kamar untuk beristirahat.

Marta kembali ke tempanya dan duduk manis di sebelah Vabio. Pelayan membawakan teh hangat dan menyuguhkannya di meja.

Marta mengambil satu cangkir kecil di hadapannya, ia meniup serta meminumnya.

“Medusa.” cemooh frontal iblis Van singkat.

“Papa..” sergah Vabio.

“Seorang Kronos pun bisa saja kalah oleh Zeus.” sindir balik Marta tajam pada ayah mertuanya.

“Kau.” geram iblis Van.

“Papa hentikan. Signora mari kuantar ke kamar, kau pasti lelah.” ajak Vabio pada istrinya.

Marta trenyuh. Ia senang karena Vabio selalu membelanya, tidak seperti dulu.

Marta tersenyum dan mengangguk. Ia bangkit bersama Vabio ke kamar pribadinya, meninggalkan iblis Van yang menahan amarahnya.

2 Hari yang lalu…

Hamparan laut bagian selatan Seongsan terlihat sangat indah. Fajar menyingsing di puncak matahari terbit.

Seongsan Ilchulbong dulunya ialah kawah gunung berapi. Terjadi letusan yang maha dasyat dan kemudian meninggalkan kawah yang lebar.

Kawah sisa letusan itu berbentuk seperti cawan, alias cekung. Puncak Seongsan Ilchulbong dikelilingi oleh batu-batu karang beragam ukuran.

Marta sengaja bangun dini hari untuk menyegarkan pikirannya. Kaki telanjangnya menyentuh butiran pasir pantai.

Baru beberapa hari saja ia berada di pulau Jeju, terasa lama seperti di neraka. Hatinya tak tenang berdekatan dengan mertua iblisnya.

Matahari pagi kian meninggi menerangi pantai. Marta mengencangkan syalnya, memeluk tangannya sendiri karena dinginnya udara pagi.

Ia tidak menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Matanya tertegun akan indahnya pesona alam.

“Apa Medusa menyukai matahari terbit? Cih..” cibir iblis Van yang baru saja datang.

Marta menoleh ke belakang dan berbalik lagi menghadap lautan.

“Ayah mertua, kau sangat bugar untuk berjalan sepagi ini.” sindir Marta pada iblis Van.

“Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan kau lihat jika tidak lekas bangun, menantu.”

“Aku senang sekali kau memanggilku dengan sebutan menantu.”

Ekspresi muka Marta kembali datar. Ia hanya melirik sebentar pada iblis Van berdiri disampingnya.

Kaki Marta melangkah ke depan, riak kecil air laut membasuh ujung kakinya.

“Kau pikir dengan akal picikmu aku akan berhenti? Tidak ada kata menyerah dalam Vandals.”

“Kau terlalu serius iblis tua. Oh aku terlalu kasar.” ejek Marta.

“Kau.. Ckck kau lebih picik dari sebelumnya!” geram iblis Van, namun balik menyindir menantunya.

“Terimakasih. Kau lah yang secara tidak langsung mendidikku sebaik ini. Bukankah iblis dilawan dengan iblis akan lebih seimbang?” ungkapan jujur Marta, ia menghela napas dan mengencangkan kembali syalnya. “Kemenakanmu sudah aku penjarakan. Ia mirip sekali denganmu.”

“Bodoh!! Kau tidak membunuhnya? Suatu saat ia akan melawanmu telak.”

Marta terdiam sebentar, ekor matanya melirik malas iblis Van. Ia seperti melihat bayangan sekilas seseorang berjarak agak jauh. Ia kembali mengingat Elena yang ia penjarakan di dalam bunker tahanan klan Vandals, di pulau Sisilia.

“Suatu saat aku pasti akan membutuhkannya. Lagi pula ia hanya seorang ibu, perjuangannya sama seperti istrimu dulu.” Marta menguras sisa kesabaran iblis Van.

Wajah Iblis Van merah padam karena murka dengan perkataan Marta. Ia tidak ingin Abalon kesayangannya disamakan dengan wanita ular seperti Elena.

Plakk..

“Auhh…” pekik Marta terkejut dan terjatuh. Ia memegangi sebelah pipinya yang perih.

Iblis Van memukul wajah Marta tanpa sadar. Emosinya saat ini meluap-luap. Ia tertegun menatap telapak tangannya.

“Papa..” teriak Vabio dari jauh.

Raut wajahnya dingin dan kejam. Ia menatap tajam pada ayahnya, karena berani melukai istrinya.

Vabio membangunkan Marta yang kedinginan terduduk di pinggir laut. Pakaian yang dikenakan Marta basah sebagian karena air laut.

Vabio memberikan mantel pada istrinya dan menatap sendu. Ia kecewa pada ayahnya, ekspresi kejam, dingin, sadis kembali terlihat. Napas Vabio memburu menatap benci ayahnya sendiri.

“Kau sudah keterlaluan menyakiti wanitaku. Kali aku tidak akan diam.” geram Vabio sembari memeluk Marta yang menangis di dadanya.

“Jangan pernah ragu melakukan apapun Vab, kau adalah keturunan Vandals pilihanku.”

“Persetan dengan Vandals!! Aku hanya ingin hidup normal bersama anak dan istriku. Apa belum cukup kau bertingkah sejauh ini?” murka Vabio.

“Vabio sudahlah. Aku tidak hati-hati saat berjalan tadi.” sela Marta, masih terisak.

Acting Marta terlalu pintar atau Vabio yang bodoh karena cinta? Bagaimana mungkin bidadari Muay Thai terjatuh hanya dengan sekali pukul!

Van berdecih kesal.

“Kau jangan membelanya. Iblis tua itu tidak akan pernah bisa menghancurkan keluarga kita.” lirih Vabio menatap sayang pada Marta.

Hati Marta trenyuh.

“Dingin sekali, Vabio.” ucap Marta dengan gigi gemeletuk.

“Kita masuk ke dalam.”

Vabio memutus kontak mata dengan iblis Van. Ia merangkul bahu Marta dan menuntunnya ke dalam Villa.

Iblis Van melihat punggung anak dan menantunya. Ia tidak mengerti, dadanya sangat sakit, melihat anak yang selama ini selalu menuruti perintahnya telah membangkang.

Kebencian Vabio pada ayahnya sudah pada level tinggi, tidak bisa ditolerir. Ia lekas mengepak barang-barangnya dan pindah ke hotel yang masih di wilayah Seongsan.

Vabio juga memerintahkan Josse ajudan setianya untuk segera menyiapkan penerbangan ke Indonesia dengan jet pribadinya.

Ibunya Yo Eun tidak tahu menahu alasan suami istri itu mempercepat kepulangannya. Marta sengaja berbohong pada ibu mertuanya, ia ingin segera melamar sebelum perut calon menantunya membesar.

Yo Eun sangat bahagia dan menunggu kabar tanggal pernikahan Valerio. Iblis Van hanya diam tak bersuara sedikitpun, ia memikirkan nasib Volte yang sedang memperbesar bisnisnya di Moskow.

Entah bagaimana nanti ia akan mengatakan pada cucu kesayangannya jika adiknya akan mewarisi kerajaan Vandals kalau anak pertama Valerio adalah laki-laki.

Sedari kecil iblis Van memang terlatih tidak pernah memakai perasaan jika berususan dengan keturunan dan bisnisnya. Tapi kini hatinya terluka menanti hari penyiksaan yang akan Volte terima dari tangannya sendiri.

Jakarta, Indonesia…

Kurang dari setengah hari perjalanan menuju Indonesia. Marta dengan ditemani suaminya tak sabar ingin melamar Siren. Pagi itu juga mereka tidak pulang ke rumahnya dan langsung ke rumah Deni.

Wajah Marta memerah malu dan menunduk, tangannya terus mengipas dengan cepat. Iklim tropis di Indonesia seakan berbeda, lebih panas dari biasanya.

Suara desah dua insan yang sedang berpacu terdengar sangat jelas. Vabio berdehem berkali-kali, pipinya bersemu merah di muka datarnya.

Telah lama mereka tidak berhubungan intim seperti pasangan yang ada di dalam rumah. Mereka teringat kembali saat terakhir bersama merajut kasih.

Akhirnya suara kepuasan terdengar. Marta yang tidak sabaran menekan bel yang ada di depan pintu masuk rumah Deni.

Ting Tong..

BERSAMBUNG – Senyuman Kekasih Tersayang Part 25 | Senyuman Kekasih Tersayang Part 25 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 24 ) | ( Part 26 ) Selanjutnya