Senyuman Kekasih Tersayang Chapter 17

0
387

Plakkk!!

“Ahh…” pekik Siren terkejut.

Siren memegangi pipi kirinya yang tampak memerah bekas tangan Jenni. Ia bahkan tak sadar akan kedatangan Jenni yang tiba-tiba langsung menamparnya.

“Apa-apaan lo Jen?” Siren menahan emosinya. Kepalanya masih terasa nyeri.

Siren memegangi kepalanya yang berdenyut kencang akibat benturan keras pada pinggir trotoar. Baru saja suster mengobati dan memerban luka di dahinya. Siku tangannya lecet tergores, terkena aspal. Keadaannya sangat lemah. Harusnya ia masih dalam masa perawatan, namun ia nekad ingin menunggu Andra yang belum keluar dari ruangan ICU.

“Semua ini gara-gara lo, cewek PHO (Perusak Hubungan Orang)!! Perempuan murahan, GAK TAU DIRIIII…..” murka Jenni, dengan mata menajam.

Siren mengusap-usap pipi kirinya yang masih terasa sakit dan memegang bagian dadanya mencoba bersabar menahan amarah. Tubuhnya bergetar lemah, berulang kali ia menarik napas dalam.

“Apa salah gue ke lo?” tanya Siren menahan amarah, tangannya terkepal erat.

Siren menatap tajam Jenni, raut wajahnya masih kebingungan. Jika Siren dalam keadaan sehat, pasti Jenni yang akan terkena kepalan tangannya.

“Gue udah bersabar ladenin lo, tapi lo selalu cari gara-gara. Tanpa sebab, lo tampar gue! Marah-marah gak jelas, sakit lo?” sarkasnya.

“Banyak omong lo, lo itu perusak. Hubungan gue hancur lo rusak. Andra tuh pacar gue!! Gue suka sama Andra dari kelas satu. Satu tahun gue jalanin hubungan dengan Andra. Karena lo, semuanya hancur… Semuanya berantakan…” marah Jenni berapi-api.

Siren sungguh sangat terkejut. Kepalanya berdenyut semakin keras. Matanya memejam sesaat, kakinya hampir tak mampu menunjang bobot tubuhnya.

“Apa bener Andra boongin gue?” batin Siren, menahan tangisan merasa dibohongi sahabatnya sendiri.

Terasa sesak sekali dada Siren mendengar Jenni mengatakan ia merusak hubungannya dengan Andra.

Padahal selama ini Andra yang selalu mendekatinya dan Siren memang benar-benar tidak mengetahui kalau Jenni berpacaran dengan Andra.

Bagaimana cara Siren menjelaskan perihal yang sebenarnya terjadi?

Pun pula percuma menjelaskan sesuatu atau bertanya kepada Jenni di kala hatinya sedang di liputi amarah.

“Bukan gue, tapi Andra yang selalu deketin gue. Gue cuma menganggap Andra sebagai sahabat gak lebih. Gue gak ada rasa sama Andra.” Siren membela diri.

“Bullshits!!! Lo itu pagar makan tanaman. Gue benci sama lo. Semua ini gara-gara lo! Karena lo juga Andra kecelakaan. Harusnya lo yang ada disana, HARUSNYA LO….!!!” teriak Jenni hingga menggema di lorong rumah sakit yang sepi.

Jenni seperti baru mengakui kalau ia berada di tekape saat ia dan Andra kecelakaan!

Tapi kemana Jenni? saat Siren menangis, menjerit dan memohon meminta pertolongan pada orang-orang untuk segera membawa Andra ke rumah sakit?

Saat itu Siren bahkan tak menghiraukan goresan di dahinya yang terbentur bahu jalan, juga darah yang mengalir keluar membasahi mata dan pipinya.

Siren bergidig ngeri mengingat kembali kecelakaan yang baru saja ia alami. Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi tepat berada di belakangnya. Untung saja ada sebuah mobil pribadi menyalip truk tersebut, hingga mobil terseret ke sebelah kanan. Jika tidak, dirinya dan Andra hanya tinggal nama saja. Walaupun saat itu Andra terpental akibat tersenggol bagian depan mobil.

Tuhan masih menyelamatkan nyawanya!

Semua masih teka-teki. Korban dalam mobil pribadi yang menyelamatkannya dirinya dan Andra menghilang tanpa jejak. Entah ada dimana orang tersebut?

Jenni sangat picik memanfaatkan keadaan, ia melihat kondisi Siren melemah. Tangan Jenni terangkat seperti ingin memukul Siren kembali.

Mata Siren terpejam, kedua tangannya masih bergetar menutup wajahnya. Bukan karena takut atau ingin mengalah, tapi saat ini kondisinya tidak memungkinkan.

Untuk beberapa detik terasa sepi. Siren menarik napas dalam.

“Apa yang Anda lakukan? Saya bisa menuntut Anda di pengadilan dengan pasal penganiayaan jika Anda berani memukul kekasih saya.” suara bass seorang pria terdengar jelas di telinga Siren.

Degh.

Suara itu…

Siren menurunkan tangannya perlahan dan membuka mata.

Benar itu dia!

Siren melihat dengan jelas Revan baru saja melepaskan tangannya dari tangan Jenni yang tadi ingin memukulnya.

“Kak Revan udah menolongin gue? Kak Revan juga ngakuin gue sebagai kekasih!” batin Siren, masih tak percaya.

Jadi pembuat luka atau pengobat luka Revan ini?

Dadanya kembali sesak.

“Kenapa kak Revan bisa sampe sini?” batin Siren. Matanya berkaca-kaca.

Sepertinya Siren sedang bermimpi. Ia berharap semua ini tidak nyata. Ia tak ingin bertemu dengan Revan sekarang, apalagi dengan keadaannya yang bancuh.

Mata Siren menatap ke dalam mata Revan, getaran jantungnya semakin menghebat. Bulir air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga.

“Kekasih?” tanya Jenni kepada Revan. “Jangan ngawur, gak mungkin cewek murahan ini adalah kekasihmu.” sengit Jenni menunjuk kepada Siren.

“Siren ialah kekasih saya, dan Dia bukan perempuan murahan! Apa masih kurang jelas perkataan saya?” tegas Revan. “Saya tidak ingin masalah seperti ini terulang kembali. Atau anda akan berurusan dengan saya!” suara Revan sangat berwibawa dan penuh penekanan.

Sedangkan Jenni hanya diam saja. Memandang tak percaya.

Tangan Revan terulur merengkuh bahu Siren dan dan menuntunnya keluar dari rumah sakit.

Siren hanya mengikuti Revan, menuju ke mobilnya. Revan membukakan pintu depan mobil di bagian penumpang sebelah kiri untuknya. Dan berjalan memutar menaiki sisi mobil sebelah kanan, duduk dibalik kemudi.

“Minum dulu.” Revan memberikan air dalam botol plastik.

“Makasih, Kak.”

Siren meminumnya pelan. Revan meneliti keadaan kondisi Siren yang terluka, hati Revan meringis pedih.

Siren membeku, bibirnya terkunci tidak tahu harus berkata apa. Ia menoleh ke arah kiri melihat bahu jalan. Tak mau bertatap muka lebih lama dengan Revan.

Perjalanan itu terasa sangat lambat. Tangannya gemetar, suasana menjadi sangat canggung. Sehingga Revan pun diam tak bicara sedikitpun.

Kemarin Siren tekankan jangan temui ia dulu sebelum Revan mengatakan apa yang ia sembunyikan. Hari ini Revan muncul tiba-tiba! Semua yang terjadi masih membingungkan bagi Siren.

Tanpa diketahui Siren, wajah Revan memerah menahan amarah gadisnya telah disakiti orang lain.

“Sampai.”

“Eh..” Siren terkejut.

Siren menoleh ke kiri dan kanan. Ini bukan di rumahnya melainkan garasi rumah Revan.

Revan turun dari mobil, menutup dan mengunci rolling door garasi dengan cepat. Kemudian ia berjalan membukakan pintu untuk Siren serta menuntun Siren yang masih dalam keadaan lemah.

“Aku mau pulang, Kak.” ucap Siren lemah. Siren hendak membalikan tubuhnya berjalan keluar dari garasi.

“Kakak ingin bicara sama kamu.”

“Tapi_”

“Hanya sebentar.”

Revan memotong ucapan Siren. Ia merengkuh bahu Siren menuntunnya masuk ke dalam pintu dapur yang terhubung dengan garasi.

Debaran dada Siren tak beraturan. Ekor matanya selalu melirik ke kiri memperhatikan seksama wajah Revan. Mereka menaiki undakan tangga menuju lantai dua ke ruangan pribadi Revan.

Ruang kerja yang menyimpan banyak rahasia, bersebelahan dengan kamar tidur Revan. Revan mengunci pintu dengan cepat seakan takut Siren melarikan diri.

Klekk..

Siren terperanjat kecil. Debaran itu semakin dasyat, wajahnya menegang. Tiba-tiba saja Revan memeluknya dari arah belakang dan meletakkan kepalanya pada bahu kiri Siren.

“Kakak rindu sekali sama kamu.” lirih Revan.

“Rindu?” tanya batin Siren bingung.

“Jangan menghindar lagi. Kakak minta maaf sudah membuatmu kecewa.”

Setetes air mata kerinduan terjatuh membasahi bahu depan Siren. Mata Revan terpejam, ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Siren.

Siren hanya membeku tanpa suara. Hatinya tak tega melihat Revan bersedih, namun ia harus mengetahui sesuatu yang Revan sembunyikan.

“Kakak udah siapin jawaban dari pertanyaanku?”

“Pertanyaan?”

“Siapa Kakak sebenarnya?”

Revan terdiam menelaah pertanyaan Siren.

“Kamu akan tahu nanti.”

Siren memejamkan matanya memendam kekecewaan. “Harus pake cara lain biar kak Revan ngomong jujur, tapi gimana?” Siren berpikir keras.

“Gak bisa jawab sekarang? Aku pergi.”

Siren melepaskan tangan Revan dari pinggangnya. Ia berbalik dan ingin membuka kunci pintu. Namun Revan mencegahnya, ia menghalangi langkah Siren

Wajah Revan memerah, matanya memejam, napasnya bergemuruh. Revan memegangi sebelah kepalanya. Kemudian matanya menajam melihat tapak tangan di pipi kiri Siren.

“Apa ini sakit?”

Revan mengusap lembut pipi Siren dengan ibu jarinya.

“Jawab pertanyaanku, Kak. Apa yang Kakak sembunyiin dariku?” lirih Siren.

“Akan kubuat perhitungan bagi siapa saja yang melukai gadisku.”

Siren menganga tak percaya, dalam sekejap Revan berubah drastis. Suasana ruangan menjadi mencekam, aura dingin sangat menakutkan di wajah Revan terlihat jelas oleh Siren.

Kepala Siren berdenyut semakin kencang. Kesadarannya menipis, ia jatuh tak sadarkan diri dan ditangkap oleh tangan Revan sebelum menyentuh lantai.

***

Siren mengerjap pelan. Ia berusaha menggerakan tangannya menyentuh kepalanya yang nyeri. Kesadarannya kembali, ia menghembuskan napas dan memejamkan mata sesaat serta membukanya kembali. Matanya melihat sekeliling ruangan, seperti ia tahu sedang berada dimana sekarang.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Revan khawatir.

Siren bangun dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Dibantu Revan yang menyanggah punggung Siren dengan bantal. Sedang Revan duduk di tepi ranjang berhadapan dengannya.

“Aku baik-baik aja, Kak.”

“Apa yang kamu rasakan sekarang? Dokter telah memeriksa kondisimu. Harusnya kamu di rawat di rumah sakit.”

“Kakak khawatir sama aku?”

“Kakak sangat menyayangimu.”

Hati Siren tersentuh. Namun rasa penasaran telah menjadi bukit, ia harus menemukan jawabannya.

Siren meremas tepi kaus yang ia pakai. Ia tersadar telah berganti pakaian.

“Siapa yang gantiin baju aku, Kak?”

“Baju kamu kotor terkena noda darah. Kakak yang menggantinya.” Revan tersenyum geli melihat raut wajah Siren yang menggemaskan.

Wajah Siren memanas, bersemu merah. Ia menundukan wajahnya.

“Aku..aku mau pulang, Kak.” gugup Siren.

“Tidak!! Kakak yang akan merawatmu hari ini. Biarkan Kakak menebus semua kesalahan Kakak.” tegas Revan.

“Kakak salah apa?” Siren menegakkan dan menelengkan kepalanya, meneliti wajah Revan.

Revan membungkam. Hatinya keluh, ia tidak ingin Siren menjadi takut dengannya nanti.

“Ada yang Kakak sembunyiin. Kalo Kakak gak bicara hari ini, lebih baik kita gak usah ketemu dulu, Kak!” desak Siren.

Mata Siren menajam.

“Kakak belum bisa bicara sekarang.” jawab Revan bersedih.

Siren memperhatikan lebih dalam.

“Kakak hanya mempermainkan aku kan?”

Siren kecewa, air di pelupuk matanya membendung dan terurai menetes.

“Jangan keluarkan setetespun air mata berhargamu ini untuk orang lain, Sayang.”

Degh.

Hati Siren trenyuh. Revan kembali menghapus air mata Siren dengan ibu jarinya lembut.

“Bagaimana kalau air mata ini keluar karna Kakak?”

“Maaf, maaf..” lirih Revan.

Hati Siren berpacu dengan cepat. “Ini Kak Revanku.” pekik batin Siren.

“Kak..” panggil Siren lemah.

Siren menarik lengan Revan lantas memeluknya erat. Getaran itu masih ada! Perih batinnya melihat Revan, bukan karena sikapnya yang berubah tapi ada sesuatu yang lain.

“Tolong jawab pertanyaan-pertanyaanku Kak. Jangan buat aku penasaran. Kalo Kakak sulit mengatakan sesuatu, Kakak hanya perlu menangguk dan menggelengkan kepala aja, Kak.” pinta Siren lembut.

Revan mengangguk lemah.

“Apa Kakak mencintaiku? Jangan dijawab Kak. Kakak hanya perlu mengencangkan pelukan Kakak.” pinta Siren.

Revan memeluk Siren semakin erat, tangannya meremas pinggul Siren. Air mata kebahagiaan itu terjatuh membasahi bahu Revan.

Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

“Apa Mamih Marta merindukanku juga? Kakak cukup anggukan kepala Kakak.” ucap Siren lembut.

Revan mengangguk dua kali. Siren membelai lembut punggung kekar Revan.

“Dissociative Identity Disorder.” ucap Siren cepat.

Tubuh Revan menegang. Dekapan tangannya mengendur dari pinggang Siren, namun tubuhnya bergetar. Sedang Siren memeluk bahunya lebih erat. Air mata Siren semakin banyak terjatuh, ia sesenggukan.

Siren menahan sekuat tenaga mengeratkan dekapannya, tak ingin terlepas. Tapi Revan mengurai pelukan mereka, dan menatap ke dalam bola mata Siren.

“Jangan menangis, My girl.”

Siren menatap intens wajah pemuda di depannya.

“Siapa namamu?” tanya Siren menahan isakan.

“Vale.. Valerio d’Anuncio Buck.”

Siren menangis sejadi-jadinya. Ia memukul-mukul kecil dadanya yang terasa dihimpit benda keras.

“Hentikan itu, kumohon.” lirih Valerio tidak tega, ia menangkap pergerakan tangan Siren dan memeluk gadisnya.

Hati Valerio merana pilu melihat gadisnya terluka.

“Jangan lakukan itu lagi, kau boleh memukulku semaumu. Akulah penyebab lukamu.”

“Katakan! Siapa yang asli?” tanya Siren disertai isakan.

“Aku.”

“Kakak?_”

“Vale.. Panggil aku Vale. Akulah pemilik tubuh ini.”

Siren melemas dipelukan Valerio. Napasnya terputus-putus, tak kuasa menghadapi kenyataan. Hatinya tersayat-sayat.

“Va..vale.. Apa dia?” bibir Siren bergetar.

Valerio mengurai pelukannya memandang Siren lesu.

“Kau menginginkannya?”

Siren dilema. Ia tak tega melihat kesedihan di mata Valerio. Bagaimanapun mereka satu tubuh! Siren hanya belum terbiasa berbicara dengan Valerio, itu saja. Namun hatinya harus tegas dalam memilih. Ya!! Atau kehilangan keduanya.

Hening sesaat.

“Aku menginginkan kalian berdua.” tegas Siren yakin.

Valerio tersenyum lega. Ia mengecup Siren cepat.

Siren membulatkan matanya. Debaran kebahagiaan itu datang. Perasaannya seperti terlepas dari beban menyakitkan. Ia memang mencintai pemuda itu apa adanya.

Valerio memejamkan matanya dan melumat pelan bibir gadis itu. Dibalas dengan lumatan mesra dari Siren, ia pun turut memejamkam matanya. Menghayati setiap detiknya perang bibir tersebut.

Mereka berciuman semakin panas, semakin membara. Bahkan Siren tak sadar jika sekarang Valerio berada di atas tubuhnya.

Valerio mengecup mesra bibir Siren, mata mereka berpandangan. Senyuman mereka terukir. Valerio berpindah mengecupi setiap inci wajah Siren, ia menjilati sisa air mata gadisnya. Ia sangat mengagumi dan mencintai gadisnya. Siren ialah pusat kebahagiaan terbesarnya.

Dahi mereka menyatu. Tatapan dari keduanya begitu mendamba sesuatu. Valerio menggesek-gesekan hidungnya pada gadisnya sambil tersenyum, ia juga memberikan gigitan-gigitan kecil pada hidung, pipi dan dagu Siren membuat sang empunya tertawa renyah. Valerio turut tersenyum senang melihat keceriaan pada gadisnya.

Siren bergerak kecil kegelian, ia merinding mendapatkan sentuhan-sentuhan halus dari Valerio. Sang gadis memegang bahu kekar sang pemuda dan berguling berbalik.

Siren memegang kendali, ia berada di atas kini. Siren menatap mesra pemuda itu, matanya menyiratkan cinta. Rahang dengan bulu halus itu tersentuh lembut jemari lentiknya.

Siren mengecup mesra sang pemuda dengan sensual, ia bahkan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum nakal. Kemudian beralih mengecupi bagian rahang bawah dan menindaklanjuti dengan serangkaian patukan kecil sampai ke telinganya.

Valerio menegang! Ia seperti terpanggil untuk melakukan hal yang lebih lagi. Sang pemuda berguling membalikan keadaan, napasnya keduanya semakin berat.

Siren merintih halus merasakan cucupan halus pada daun telinganya. Pemuda itu bahkan menggigit-gigit kecil dan mengisap lembut cuping sang gadis, tangan Siren meremas sprei erat.

“Vale… Auhhh..” Siren melenguh.

Tanpa aba-aba Valerio mendaratkan kembali ciumannya kembali pada bibir Siren. Menciumnya pelan, lalu melumatnya dan sesekali menyesapnya layaknya bibir gadisnya itu adalah wine berharga jutaan dollar.

Ciuman itu basah, menggelora dan panas. Rasa sensual yang tercipta karena dari awal bibir mereka terbuka menghanyutkan Valerio hingga pria itu kalap. Mulutnya liar melumat, mengecap dan merasakan manis milik bibir Siren.

Kecupan Valerio semakin basah dan menggoda. Valerio manjakan tubuh Siren dengan penuh perasaan, menunjukan kasih sayang serta cinta yang dimiliki olehnya melalui cara dan sikap. Terang saja Siren merasa dimanjakan. Dirinya hanyut dalam cumbuan mereka, hingga melepas semua desahan tanpa beban. Wajahnya terasa panas seperti terbakar.

Baju yang mereka kenakan sudah terlepas, mereka sendiri tidak tahu kapan pakaian itu lolos dari tubuh mereka. Pandangan Siren mulai kabur ketika bibir Valerio bergerak turun menemukan sasaran yang lebih intens. Mengalirkan gelombang kenikmatan yang menyiksa dan teramat menggairahkan.

Bukan cuma ahli dalam melumat bibir, Valerio juga bisa membuat tubuh Siren menggelijang ketika memagut kewanitaannya. Sering kali membuat perempuan itu mengerang hebat dan tak terkendali.

“Aaaahhhh ….!”

Siren mulai terengah-engah. Dada polosnya naik turun karena menarik dan menghembuskan nafas yang tidak beraturan. Bibirnya yang mungil terbuka, mengeluarkan deru nafas dari sana.

Valerio menggeram. Erangan Siren makin membangkitkan hasratnya, membuat ia geram bukan kepalang lantas menggantikan peran lidah menjadi jari.

Valerio meninggalkan selangkangan Siren, berpindah dari tubuh bawah menuju ke atas. Tubuh padatnya bertahan menggunakan tangan kiri, sementara sebelah tangannya yang lain sedang ‘bermain’ dengan tubuh Siren yang telah basah sempurna. Perlakuan manis Valerio menghanyutkan Siren. Rasa nikmat membuat tubuhnya serasa melayang tinggi sampai ke langit ke jutuh.

Siren merintih, tubuhnya melengkung di bawah tubuh kekar Valerio yang menindihnya. Kedua tangannya terulur dan mencengkram rambut Valerio, menarik lelaki itu, mencari sesuatu yang dapat menjawab kebutuhan yang meledak-ledak dalam dirinya.

Hingga kini saatnya Valerio mulai untuk benar-benar melakukan sebuah penyatuan tubuh. Tubuh Siren terguncang. Valerio terus mendesak pinggulnya, membenam benda keras itu ke dalam tubuh Siren. Saat berusaha membenamkan miliknya, Valerio merasakan ada sesuatu yang menghalanginya. Tetapi Valerio tidak menyerah, ia malah semakin mendorong masuk merobek sebuah selaput yang membuat Siren menjerit kesakitan.

“Aaaaaccchhhh …” Siren mengerang kesakitan ketika sesuatu milik Valerio berusaha menerobos daerah intimnya, merobek selaput daranya, dan hal itu membuat daerah tersebut mengeluarkan tetesan darah.

Valerio menciumi wajah Siren yang bersimbah air mata. Valerio berhenti dalam aksinya, berpikir akan melanjutkan atau tidak. Melihat kondisi Siren membuatnya tidak tega. Beberapa saat kemudian, Siren mulai terlihat tenang. Ia pandang wajah tampan kekasihnya penuh kasih sayang. Akhirnya, Siren menganggukan kepala pertanda agar Valerio melanjutkannya saja.

Melihat kode dari Siren, Valerio pun melanjutkan aksinya yang sempat tertunda. Biar bagaimana pun Valerio tetaplah manusia. Ketika sebuah kenikmatan tengah ia rasakan, orang mana yang akan menolak apalagi berhenti. Nafsu Valerio sudah di ubun-ubun, ia sudah tidak sabar untuk mempercepat aksinya, agar sebuah kenikmatan itu bertambah lagi dari sebelumnya.

Siren pun sudah gila akibat semua sentuhan yang Valerio berikan padanya. Membiarkan Valerio malam ini menguasainya, membawanya ke dalam kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Valerio membuat Siren mendesah penuh nikmat dan seakan-akan meminta lebih.

Mereka terus bermain pada kenikmatan yang mereka buat sendiri. Valerio tetap melakukan aktivitasnya menggauli Siren dengan bibir mereka yang seolah tak mau lepas. Kenikmatan yang mereka ciptakan membuat mereka larut dalam permainan tersebut.

Hingga tubuh keduanya terkulai lemah yang pada akhirnya mereka menyudahi semuanya. Rasa lelah membuat mereka memilih untuk mengistirahatkan diri.

Mereka sama-sama tertidur tanpa menggunakan sehelai benang pun hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Siren terlelap di dalam pelukan Valerio itupun setelah pemuda itu melakukannya berkali-kali.

Dan akhirnya terjadilah sudah, malam yang memang Valerio sangat nantikan, kini sudah ia lewati bersama Siren. Valerio merasa bahagia karena kini Siren sudah menjadi miliknya seutuhnya.