Senyuman Kekasih Tersayang Chapter 15

0
197

Dua hari kemudian…

Bath adalah sebuah kota di county seremonial dari Somerset di selatan barat Inggris. Kota yang terkenal dengan arsitektur Georgia dan tempat pemandian air panasnya. Karena itulah kota itu dinamakan ‘bath’ yang berarti ‘pemandian’.

Di kota inilah kakek buyutku pernah menetap sementara dan mendirikan klan kecil bernama Chaiden. Klan ini dibangun untuk memperkuat pertahanannya di Inggris pada masa silam. Serta untuk melindungi dirinya sebelum perang dunia ke satu meletus. Sebelum kakek kembali ke Italia, ia menyerahkan klan Chaiden kepada istri simpanannya Ainsley yang saat itu sedang mengandung anaknya.

Aku datang ke kota ini dalam misi penaklukan klan Chaiden. Sebenarnya aku tidak tahu apa hubungannya Ginchiyo dengan klan mereka. Semua itu karena kecerdasan Revan yang mengambil alih tubuhku.

Waktu yang diberikan ayahku sisa dua hari lagi. Aku harus bertindak cepat untuk menaklukan klan tersebut. Untungnya aku mendapat dukungan dari Choro Tokugawa. Choro juga memberikanku beberapa orang pengawal terlatih untuk menjaga keselamatanku.

Klan Tokugawa telah bersekutu dan tunduk padaku. Ibuku memang pintar, ia juga yang memerintahkan Phaitoon untuk ikut bersamaku. Sampai kini aku pun tidak tahu ada hubungan apa, ibu dan klan Takahashi. Semuanya masih menjadi misteri.

Phaitoon telah kembali ke Singapore atas perintah ibu. Saat ini hanya ada John di sampingku. Juga beberapa anak buah Tokugawa yang rela mati untukku.

Hampir satu hari penerbanganku ke kota Bath, Inggris. Tidak akan ku sia-siakan lagi sisa waktu dari ayahku. Persiapanku telah matang. Beberapa pengawal Tokugawa telah sampai dekat tempat pemandian jaman Romawi yang berada di kota Bath.

Malam hari ini juga aku akan bersiap-siap melawan Chaiden di bawah kepemimpinan bibiku sendiri bernama Elena. Bibi Elena dengan terang-terangan bersekutu dengan Romanov demi kekuasaan. Memaksa putranya menikahi Volkov Lyonecka Desina, putri dari Lyon ketua klan Romanov. Serta menyembunyikan fakta kelahiran Faddei dan mengganti marganya. Wanita ular itu harus dilenyapkan.

Cukup aku beristirahat hingga malam hari melepas lelahku. Aku beranjak dari tempat tidur dan memulai penyergapan.

Berkat alat pelacakku dengan mudah aku mengetahui bibiku berada. Aku yang ditemani John dan kedua pengawal Tokugawa berhasil menemukan keberadaan bibi Elena di sebuah pub sedang bersenang-senang.

Tak lama menunggu, Bibi Elena keluar dari pub dikawal dua ajudannya. Mudah sekali mangsaku kali ini. Ia terlihat sedang mabuk ditemani pria peliharaannya. Aku berdecih. Wanita tua itu berfoya dengan harta peninggalan kakek buyutku.

Dua pengawal Tokugawa kuperingati tidak mencampuri urusanku kali ini. Mereka hanya perlu mengawasi dari jauh. Aku dan John menaiki mobil mengikuti mobil bibiku dari belakang.

Setelah melewati jalan yang berkelok-kelok sampailah kami di jalan sepi dan aku langsung menyalip mobilnya.

Nyitt..

Mobilku berhenti melintang tepat di depan mobil yang dinaiki Bibi Elena. Sesaat kemudian, aku keluar dari dalam mobil bersama John.

“Kau cari mati!!” bentak ajudan Chaiden.

Aku tak bergeming. Aku berdiri tegak di depan mobil itu, mencoba menatap ke dalamnya dengan wajah beringas. Pintu mobil bibi Elena terbuka, wanita itu keluar dari dalam mobil.

“Hai tampan. Kau sudah bosan hidup yah? Minggirlah, kuberi kau kesempatan hidup karena aku sedang senang.” ucapnya belum sadar dari tertawa cekikikan.

“Kau melupakanku, Bibi?” Kataku sambil tersenyum sinis.

“Kau.. Kau..” ia mengusap matanya dengan tangan dan mempertajam penglihatannya lalu bergumam, “Vandals…”

Bibirnya bergetar. Dari wajahnya yang pucat pasi terlihat jelas kalau wanita itu terkejut sekaligus ketakutan. Wajah yang tadinya penuh keyakinan kini diselimuti oleh keputusasaan. Sambil berjalan mundur bibi Elena akhirnya bersembunyi di belakang ajudannya.

“Tangkap dia!!” teriak bibi Elena histeris ketakutan, masuk kembali ke dalam mobil.

Aku menyeringai kembali. Aku melangkah maju dan bertarung dengan kedua pengawal Chaiden. Satu lawan satu, bukan perihal sulit bagiku. Tidak sampai lima menit kuhabisi pengawal itu hingga tak bisa bergerak lagi.

Kuhampiri bibi Elena di dalam mobil. Pintu terkunci dari dalam. Kupasang alat peledak tanpa suara di sekitar handle. Ia tampak pucat pasi, tangannya bergetar. Kepalanya menggeleng lemah.

Kutampakan senyum keluarga Vandals di depan bibiku. Mata yang berseri-seri kebencian yang tidak sulit untuk dikenali. Ia dan pria itu menjauh dari pintu, menutup telinga.

Cress…

Trenggg…

Pintu mobil terbuka, hangus terbakar. Kaca mobil hancur berantakan.

“Kau menyukainya, Bibi?” Aku terkekeh kejam.

“Maaf, Volte. Aku..aku.. Bibimu. Kau ingat padaku kan?” gugupnya menjauh dariku.

Tiba-tiba, Bibi Elena mencoba kabur membuka pintu mobil bagian kiri dan berlari. John dengan gesit menghampiri bibi Elena dengan pria itu yang hendak kabur dari hadapanku.

Bugh.

John memukul rahang pria yang bersama bibiku, namun ia berdiri masih ingin mencoba kabur.

Dorr..

Kulesatkan tembakan pada dahi pria itu, hingga ia meregang nyawa. Bibiku memekik kencang, jatuh duduk di tepi jalan.

Aku melangkah maju menghampirinya, sedang bibiku mundur dengan bokong masih berada di bawah. Wajah tuanya semakin mengkerut menghadapi bahaya yang sedang ia hadapi. Ketakutan lah yang paling mendominasi hingga tidak dapat dihitung berapa kali ia menahan nafas guna menenangkan.

“John, bawa dia. Akan aku kuliti dan kuperas darahnya hingga habis.” Aku terkekeh kejam saat tepat di depannya.

“Volte maafkan aku, bukan aku yang memerintahkan ledakan bunkermu. Romanov lah yang memusuhimu bukan aku. Sungguh Volte.” Ucapnya memelas belas kasih. Aku berdecih. Ia masih saja membela diri.

Kubawa bibi Elena ke salah satu rumah kosong, masih di kota Bath. Menunggu pengawal Vandals untuk menjemput bibiku. Kalau saja aku tidak teringat pesan ibu agar tidak menyakitinya, mungkin sudah aku kuliti wanita ini. Bibi Elena aku ikat di kursi. Tinggal menunggu anak buah ayahku untuk menjemput dan membawanya ke Italia. Ia akan menjadi sandera di pulau Sisilia.

Aku melenguh keras mengingat tugasku kali ini. Perasaan kesal menyeruak dalam hati. Untuk tugas ini, ayah keparatku tidak memberiku pengawal dan senjata. Aku diijinkan berangkat hanya menggunakan kemampuan sendiri. Berbeda dengan kakak kembarku yang selalu memakai fasilitas nomor satu keluarga Vandals.

Beruntung aku mempunyai ibu yang sangat cerdas dan menyayangiku dengan tulus. Dengan bantuan ibu aku mendapat fasilitas dari Choro Tokugawa.

Choro memfasilitasiku dengan sangat baik. Ia juga memberikanku berbagai strategi melawan musuh. Ya, Choro Tokugawa lah yang telah menyiapkan segalanya. Dari mulai penerbangan ke London hingga rumah yang sudah tak di huni lagi.

Kini aku berada di Pulteney Bridge. Jembatan yang terletak di jantung kota Bath, jembatan ini berada di atas sungai Avon. Banyak juga kafe dan restoran unik yang bisa didatangi di sekitar jembatan ini.

Di gedung tua yang berada di sekitaran sungai Avon, aku bersama John dan kedua pengawal Tokugawa masih menunggu kabar dari anak buah Tokugawa yang sedang membantai dan menaklukan klan Chaiden.

Klan Tokugawa kini telah resmi bergabung denganku dan menjadi pengikutku. Dengan mudah aku akan menaklukan klan Chaiden.

Berdasarkan informasi yang aku dapat, Klan Tokugawa bertindak cepat. Mereka membantai satu persatu markas Chaiden di sekitaran London. Benar yang dikatakan Choro padaku tentang katazawa/pepatah jepang.

脳ある高はつめを隠す。
Nou aru taka wa tsume o kakusu.
Burung rajawali tidak akan menunjukan kukunya.​

Maksudnya ialah orang yang pandai biasanya tidak akan memamerkan kepandaiannya.

Klan Tokugawa adalah sumber kehancuran Klan Chaiden. Di gedung tua yang dijadikan gudang persenjataan ilegal, markas dan tempat persembunyian anak buah klan Chaiden, aku ‘disuguhi’ para tawanan yang berhasil ditangkap oleh pasukan klan Tokugawa dalam aksi mereka ‘membantai’ klan Chaiden. Di antara para tawanan itu terdapat Mr. Penrith yaitu ajudan setia dari bibiku Elena yang usianya sudah mencapai 50 Tahun.

“Apa kabarmu Mr. Penrith. Mereka memperlakukanmu dengan baik?” sapaku menyeringai sinis.

Mr. Penrith tampak tegang, ia berontak ingin melepaskan diri dari ikatan tali yang di pasang oleh pengawal Tokugawa.

“Kau keturunan iblis Vandals. Akan kubunuh kau..” geramnya.

Aku terkekeh sinis.

“Bibi kesayanganku Elena berada di tangan ayahku saat ini. Mungkin saja ia telah tewas sekarang di tangan ibuku. Aku turut berduka cita.” cibirku.

“Kau.. Seharusnya aku sendiri yang memastikan kau mati di dalam bunker saat itu.” murka Mr. Penrith.

Aku tegelak kencang.

“Kau mengakui sendiri jika kau terlibat dalam peledakan bunkerku. Apa kau lupa? Akibat yang akan kau terima jika bertentangan dengan Vandals?” aku tersenyum iblis. “Penyiksaan.” lanjutku.

Aku menatap dingin Mr. Penrith yang melotot dan histeris tidak menerima keadaan. Kening Mr. Penrith berkerut, sorot matanya menyiratkan kemarahan.

“Lepaskan iblis…” ia menjerit-jerit mencoba membebaskan diri.

“John.. Bawakan koperku.”

John memberikan kepadaku koper yang berisi alat penyiksaan dan meletakkan di meja.

Namun sebelum memberikan Mr. Penrith hukuman. Aku menarap para anak buah klan Chaiden yang diikat dan sandera oleh para klan Tokugawa dibawah ancaman samurai.

“Kalian dengarlah!! Akulah pewaris sah Chaiden bukan Elena. Kakek buyutku ialah pendiri Chaiden saat penandatanganan Fakta London. Mulai saat ini Chaiden berada di bawah kepemimpinan Vandals. Jika ada yang berani berkhianat, inilah hukuman yang akan kalian terima.” apodiktik-ku.

Aku tersenyum sadis. Membuka koperku yang berisi alat-alat penyiksaan penemuanku. Satu per satu aku mengeluarkan alat penyiksaan itu dari dalam koper.

Mr. Penrith tampak kaget melihat isi koperku. Mungkin baru kali ini ia melihat dan harus merasakan kekejaman Vandals.

“Kau siap Mr. Penrith?”

Para pengawal Tokugawa menatap tak berkedip alat yang kubawa, mereka yang ada di sini harus tahu alat penemuanku yang baru.

Kupasangkan alat besi pipih mengelilingi kepala seperti ban pinggang dan kurekatkan. Besi ini akan mengetat jika korban bergerak cepat. Dan ujungnya sudah kupasang pada rantai yang menghubungkan pada kedua tangan dan kakinya. Jika si korban bergerak sedikit saja benda tajam di depan matanya akan menusuk semakin dalam.

Sedangkan pada borgol di tangan Mr. Penrith telah terpasang alat dengan aliran setrum daya sengat rendah hingga bisa menghanguskan korban.

Borgol di kedua tangan dan kakinya pun sangat tajam seperti stiletto siciliano-ku. Hingga dapat mengupas kulit sedikit demi sedikit.

Kutekan remote yang bisa mengaktifkan alat penyiksaan itu dengan daya sengat rendah.

Clett Clett..

Benda itu bersuara seperti aliran listrik, tanda benda itu telah aktif. Mr. Penrith membeku dan bergetar mendelik marah ke arahku. Namun tatapannya tertutup oleh dua jarum besar dan tajam di depan bola matanya.

Kuputar alat yang ada diremotku sedikit demi sedikit. Mr. Perith menjerik kesakitan, ia bergetar mencoba menahan sengat listrik. Jeritannya semakin memekikkan, darahnya mulai merembes keluar membasahi pipinya.

Aku mangambil ponselku menelpon ayah keparatku.

“Haii.. Dad, tugasku selesai.” aku tersenyum puas.

Kumatikan ponselku dan kumasukan kembali ke dalam saku celanaku. Aku yakin ayah keparatku mendengar jeritan Mr. Penrith.

Aku tertawa senang menyaksikan detik demi detik korbanku meregang nyawa. Kurasakan mereka yang berada disini bergidik ngeri dan bergetar ketakutan.

Satu per satu para tawanan mendapatkan bagiannya. Jerit kesakitan membahana di ruangan ini. Semakin menjerit, semakin aku menikmatinya. Jiwaku semakin terpuaskan dengan rasa sakit yang mereka alami. Bersamaan dengan habisnya tawanan, aku melihat pemandangan sangat indah. Mayat-mayat bergelimpangan, darah berceceran di mana-mana, bau amis menyengat hidung.

“Saatnya kembali pada gadisku.” ucapku dalam hati.