Senyuman Kekasih Tersayang Chapter 13

0
295

2 hari kemudian…

“Arrrghhh…. Shitt….”

Bugh Bugh..

Kupukul terus-menerus Volte dengan kuat mengenai wajahnya. Kuremas kerah baju Volte dan kupukul lagi rahangnya. Hingga ia muntah darah.

Batas kesabaranku telah habis. Volte selalu saja mengganggu. Ia tak henti-hentinya berbuat ulah.

Aku tahu dengan sangat jelas bahwa ia adalah pewaris sah Vandals. Tapi bukan berarti ia dapat seenaknya saja melakukan semua ini.

Volte boleh saja menggangu gengster terkuat manapun, hingga aku yang menjadi korbannya. Tapi kali ini ia sungguh tak termaafkan.

Ia mengganggu milikku!

Kakak brengsekku itu harus sadar, ia sedang berhubungan dengan siapa? Aku juga Vandals sejati sama sepertinya.

Brengsek!! Volte banyak menggunakan namanya merayu gadis-gadis lain. Wanita siapapun boleh saja terpikat pada ketampanannya. Dengan bebas ia meniduri siapapun. Namun tidak akan kubiarkan gadisku diperdaya.

Dengan nyawa sekalipun akan kukorbankan. Jika itu menyangkut tentang gadisku.

Damn you.. Kau tak akan ku ampuni Volte. Tingkahmu sudah di luar batas.” makiku.

Napasku memburu. Bara api telah terbakar di dalam tubuhku. Aku sudah benar-benar lupa jika ia adalah kakak kembarku.

Kakak kembarku selama ini telah mengambil tempatku. Aku rela hanya dijadikan bayangannya saja. Tapi ia selalu merebut milikku.

Kutatap tajam wajah Volte yang lemas terkulai di lantai. Volte memang pengecut, bahkan ia tak membalas sekalipun pukulanku.

Aku melangkah mendekatinya. Kuarahkan tinjuanku untuk memukulnya kembali. Namun hati ini berontak, mengacau.

Amarahku tak terbendung. Ingin sekali kulesatkan senjata pada jantungnya.

Kutarik napas dalam-dalam.

Kuremas rambutku kuat. Kepalaku berdenyut, Revan ingin mengambil alih.

“Berhenti kau brengsek!!” makiku pada jiwaku yang lain.

Revan sangat lemah. Aku harus mencoba agar ia tak menguasaiku lagi. Akulah pemilik tubuh ini bukan dia.

Perang batin ini terjadi kembali. Kepalaku terasa ingin pecah.

“Arrghht….” pekikku.

“Kau tidak apa-apa adikku?” tanya Volte khawatir.

Ia berdiri melangkah menghampiriku. Kupegang kembali bajunya kuat. Ingin melancarkan serangan kembali. Napasku kian memburu. Kuarahkan tinjuanku pada wajahnya.

“Kau…” geramku.

Tanganku terhenti sebelum mengenai wajah Volte. Ada seorang yang menahanku. Kuhempaskan remasan tangan kiriku pada baju Volte kesal. Kulirik kesal orang yang berada di belakangku.

“Che cosa succede?? (Apa yang terjadi??)” tanya ayahku dingin.

Kuturunkan tanganku. Kuatur napas untuk memulihkan keadaanku. Tangan ayahku terlepas. Ia memperhatikan keadaan kami berdua.

Aku dan Volte terdiam. Tak berani menjawab si tua keparat Vandals.

Gigiku masih saja gemeletuk menahan emosi. Aku menatap bengis pada kakak kembarku. Sedang Volte hanya menunduk tanpa semangat.

” É la donna? (Cewek?)” tanya ayah datar.

“Se non rispondete, ucciderò la donna! (Jika tak ada yang menjawab, akan kubunuh wanita itu!)” kecamnya dingin.

Kutatap bola mata ayahku dingin. Ia menatapku tak kalah dingin. Tapi bibirku tak mampu bicara. Volte pun menatap ayah tak suka. Aku menjadi curiga pada Volte.

“State combattendo perchè una donna? Stupido!!! Avete ricordato ch’è successo quando avevi dieci anni? Quando combattevate per itigare il vostro giocattolo, che cosa lo facevo? (Apa karena satu wanita kalian berkelahi? Bodooh!!! Kau tahu apa yang terjadi saat kalian berusia sepuluh tahun. Ketika kalian berebut mainan yang sama, apa yang kulakukan pada mainan tersebut?)”

Aku kembali terbayang saat usia sepuluh tahun. Nenek memberikan kami masing-masing mainan senjata api terbuat dari kayu, dengan ukiran mini senjata api laras panjang dari pengrajin terkenal di Italy. Salah satu mainan kami hilang. Aku dan Volte berebut main yang hanya tinggal satu saja.

Ayah membakar mainan senjata api itu bersama mainan kami yang lain. Hingga kami menangis tak hentinya.

Sejak saat itu aku menatap Volte tak suka. Mainan itu milikku, tertera dengan tulisan ‘Vale’ dibagian ujung mainan senjataku.

“Il giocattolo era il mio. Anche questa ragazza è la mia, papa. (Mainan itu milikku. Gadis ini pun milikku, Dad).” sahutku tegas.

Ayah tertawa menyeringai.

“Se la ragazza è il tua, la prende qui.(Bawa gadis itu kesini, jika ia memang milikmu).” tantang ayah.

“Tua keparat Vandals telah menyelidiki gadisku.” ucapku kesal dalam hati.

Aku membeku.

“Basta, papa. Ho sbagliato di aver disturbato la sua amante (Dad, sudahlah. Aku mengaku salah karena telah mempermainkan kekasihnya).” Volte mengaku.

Ayah semakin menyeringai.

“Anche la ami, Volte? Perché non competate equamente? Voglio conoscerla. Chi è quella ragazza! (Kau juga mencintainya, Volte? Mengapa kalian tidak bersaing secara adil? Aku ingin sekali mengenalnya. Siapa gadis itu!)” tawar ayahku.

“No!! Lei è solo la mia. Non mi interferite! (Tidak!! Gadis itu satu-satunya milikku. Jangan kalian mencampuri urusanku).” sahutku mengebu-gebu.

Ayah tak menanggapinya. Ia menatap jendela luar kamar apartemen. Berjalan gagah melihat dunia luar.

“Sei sicuro di poter proteggere ciò che i tuoi? (Kau yakin bisa menjaga milikmu?)” sindir tajam si tua Vandals. Tanpa berbalik menatapku.

Aku terdiam, sedang Volte melirik ke arahku.

“Lo farò tutte le cose. (Akan kulakukan apa saja untuk melakukan itu.)” tegasku.

Ayah tertawa dingin.

“Davvero? Cosa stai aspettando? (Benarkah? Apa yang kautunggu?)” tantangnya.

Aku tak bisa bicara lagi.

Aku memikirkan tantangan ayahku. Aku tak akan bisa memaksa gadisku saat ini. Gadisku sudah menjauh dariku, atas ulah si Revan sialan itu.

“Se domani non ci puoi portarla. La preparerò a diventare la signora dei Vandali. (Jika esok kau tidak mampu membawanya kesini. Aku akan persiapkan ia untuk menjadi Nyonya Vandals.)” sarkasnya.

“No.. (TIDAKK..)” pekikku.
“Papa.. (Dad..)” sahut Volte lemah.

Jawab kami hampir bersamaan.

Brengsek!! Volte mudah sekali mengambil hati ayahku. Kutatap bengis mata Volte yang sedang melirik ke arahku dengan ekor matanya.

Napasku semakin memburu. Wajahku merah padam. Namun pada si tua keparat itu aku tak kuasa melawan. Wibawa dan aura kekejaman masih tampak diwajahnya meskipun ia bilang sudah tak ingin lagi mencampuri bisnis Vandals.

“Unisciti a Gorou Takahashi sull’isola di Kyushu, in Giappone. Conquistate del clan Chaiden dalla mano di tua zia Elena. Vi do il tempo una settimana. Quella donna sarà la tua. E tu Volte non la infastidisca di più. (Bergabunglah dengan Gorou Takahashi di pulau Kyushu, Japan. Serta tahlukan kembali klan Chaiden dari tangan bibimu Elena. Kesempatanmu hanya satu minggu. Wanita itu akan menjadi milikmu. Dan kau Volte jangan mengganggunya lagi.)” cetus ayahku.

“Non è possibile, papa. (Itu mustahil Dad.)” sahut Volte kencang.
“Lo farò! (Akan kulakukan!)” sahutku yakin.

“No, mio fratello. È pericoloso, Takahashi non è lì. Non succederà. (Jangan adikku. Itu berbahaya, Takahashi tidak ada. Itu tak akan terjadi.)” cegah Volte.

“Stai sottovalutando Volte? Non fallirò. (Kau meremehkanku Volte? Aku tidak akan gagal.)” cetusku.

Kulirik tajam kakak kembarku.

“Qualcuno ha cercato di essere ostile di me. (Ada yang mencoba bermusuhan denganku lagi rupanya.)” sela ibuku. Masuk ke kamar kami.

Langkah kaki ibuku sungguh anggun laksana wanita hight class.

“Signora Vandals, sei a casa? (Nyonya Vandals. Kau sudah pulang?)” jawab tua keparat Vandals tersenyum manis dan mengecup tangan ibuku.

“Stai giocando con miei figlii, vecchio Vandals. (Kau bermain dengan anak-anakku, tua Vandals.) tanya ibuku menggoda ayahku.

“No, Signora (tidak Nyonya)” sahut ayahku lembut.

Menjijikan melihat tingkah ayahku yang sangat mencari muka di depan ibuku.

“Tu sai la punizione per i bugiardi? (Kau tahu hukumannya bagi pembohong?)” tanya ibuku kembali, datar.

Ibuku mengikir kuku jarinya lembut. Duduk di atas sofa sandaran, dan berpangku kaki.

Wajah ayahku memerah seperti menahan malu. Tapi ia tak berani melawan nyonya Vandals.

“Vale, prende la mia borsa. (Vale, ambilkan tasku.)” perintah ibuku padaku.

Aku keluar mengambil tas ibuku dari Paithoon (Ajudan setia ibuku dari Thailand) dan masuk kembali ke kamar memberikan tas ibuku.

“Vecchio stronzo di Vandals. Ti avverto, se tu tocchi la mia figlia Siren, conoscerai le conseguenze. (Keparat tua Vandals. Kuperingatkan kau, jika berani menyentuh anakku Siren. Kau akan tahu akibatnya.)” kecam ibuku dengan gaya anggun.

“Come desideri, signora. (Sesuai keinginanmu, Nyonya.)” jawab ayahku tersenyum.

“Phaitoon..” teriak ibuku memanggil ajudannya.

Phaitoon masuk ke dalam dan menunduk hormat.

“Si, Signora (Ya, Nyonya).” sapa Phaitoon.

“Tu accompagni miei figlii in Giappone. Proteggilo con la tua vita. Capisci? (Temani anakku ke Jepang. Lindungi dia dengan nyawamu. Kau mengerti?)” perintah ibuku pada ajudannya.

“Ma, signora… (Tapi, Nyonya…)” ayahku tak berani mengucapkan keberatannya tatapan dingin ibuku.

Phaitoon mengangguk dan memberi hormat pada ibuku, tanda mengerti.

Volte dan aku hanya menunduk saja tak berani menjawab. Aku bisa merasakan raut kecewa dan kesedihan dari Volte, karena ibuku lebih menyayangiku.

Sejak kepulangan ibu ke pangkuan ayahku, kini perintah ibuku adalah mutlak tak terbantahkan. Bahkan si tua keparat itu pun tak berani bicara.

Phaitoon yang berarti mata kucing ialah pengawal setia ibu yang menemani ibuku dari kecil. Usianya sudah hampir 55 Tahun. Kini aku mempunyai dua pengawal setia disampingku.

Namun masalah ini belum selesai.

Aku akan memulai rencanaku. Bergabung dengan Gorou, gerenasi kelima klan Takahashi di pulau kyushu, Jepang.

Klan Takahashi adalah klan tertutup di Jepang. Aku heran pada ayahku mengapa ia tidak memintaku bergabung dengan Yakuza terbesar saja. “Pasti si tua keparat itu punya rencana lain.” pikirku.

Klan Takahashi sangat sulit ditemui karena markas mereka tidak tetap dan para anggotanya menyamar sebagai rakyat biasa.

Ini benar-benar tantangan bagiku. Waktu yang ayahku berikan hanya satu minggu saja. Aku lekas menelpon John untuk segera membereskan peralatanku untuk segera berangkat ke Jepang.

Selain itu juga aku juga harus menaklukan klan Chaiden di Inggris. Yaitu klan kecil yang dipimpim oleh bibiku Elena.

Chaiden dulunya ialah cabang kecil dari keluarga Buck yang berada di Inggris. Masih ada hubungannya dengan masa lalu dari kakek buyutku yang dulu pernah singgah di Britania Raya.

Saat ini Volte memang pemimpin Vandals. Tapi itu semua atas campur tangan ayahku. Belum lagi si kakek iblis Vandals, yang turut membantu secara diam-diam bisnis gelap Volte. Otaknya masih saja picik seperti waktu ia masih muda.

Setelah hancurnya Las Vegas mini milik Romanov kemarin. Kakek iblis Vandals melantiknya sebagai pemimpin sah Vandals. Untuk mempermudah jalan Volte menguasai pasar gelap diberbagai negara. Dan untuk membasmi Romanov.

Seperti biasa mereka melupakan bahwa aku masih hidup dan bernapas. Revan dengan bodohnya mendukung itu semua, sejak aku tertidur karena luka dalam merindukan gadisku.

Romanov sangat kuat. Rusia merupakan negara adidaya terluas kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Mereka juga bersekutu dengan Chao Yun Jin pemilik kasino terbesar di Macau, China. Serta didukung penuh mafia asal Inggris, yang merupakan ayah kandung Stone.

Fukuoka, Kyushu, Japan..

Satu hari kemudian…

Waktu yang diberikan ayahku sisa 6 hari saja. Persiapanku begitu lambat. Si tua keparat Vandals tak mengijinkanku membawa pengawal Vandals. Aku hanya ditemani oleh Phaitoon ajudan dari ibuku. Sedangkan John kupisahkan agar salah satu di antara kami aman. Aku tak ingin gegabah.

Berulang kali aku membuat kebodohan karena amarahku yang meluap-luap. Kali ini aku akan mencoba sekuat tenaga menahan emosiku. Aku mencoba menyatukan diri dengan Revan. Jiwaku yang lain. Ia juga sangat cerdas dan teliti, aku yakin kami bisa memenuhi tantangan ayahku.

Tua keparat Vandals hanya memberikan alat pelacak temuanku. Bahkan ia tak memberikan senjata apapun padaku. Kali ini aku harus lebih waspada.

Jejak klan Takahashi benar-benar tidak terlacak. Ada sekitar 1.425.000 orang yang menggunakan nama ini di pulau Kyushu.

Langkah awalku melacak klan Takahashi di Kastil Tachibana, provinsi Chikuzen di utara Kyushu Jepang. Di puncak gunung Tachibana. Banyak sekali warga lokal yang memakai marga Takahashi, semuanya hanya penduduk biasa. Tidak ada yang mencurigakan.

Bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Aku kembali melacak di daerah sekitar Stasiun Hakata gedung perkantoran modern dan area pertokoan di jalan sempit peninggalan zaman dahulu. Namun belum membuahkan hasil.

Drett Drett..

Suara getaran panggilan dari ponselku. Salah satu informanku menelpon.

“Ya..”

“Baik.”

Percakapan singkat kuakhiri. Informanku hanya menyebutkan Shoji. Kulacak nama klan itu dengan alat pelacakku. Ternyata Shoji ikut telibat transaksi dengan klan Takahashi.

Shoji ialah gengster kecil yang menguasai Tenji, salah satu area pusat perbelanjaan. Mereka ialah sindikat perdagangan senjata tajam. Serta mengedarkan obat-obatan terlarang di sekitar Nakusa.

Klan kecil seperti Shoji bukanlah lawanku. Tugas ini akan mudah bagiku.

John aku suruh untuk segera melakukan penawaran kepada Shoji. Aku yakin John bisa melakukannya. Ia adalah tentara terlatih dari kolombia.

Kupersiapkan peralatanku yang selalu kubawa, yang telah kusembunyikan pada bagian pegangan koper besiku. Stiletto Siciliano berupa pisau lipat kuno untuk menyerang membunuh musuh tanpa dicurigai atau melukai musuh, kemudian mencakup seluruh Italia sebagai pisau tempur untuk konfrontasi pertempuran jarak dekat. Sangat terkenal pada jamannya.

Tak lupa juga kubawa senjata rahasia lain dan laser ciptanku untuk berjaga-jaga.

Aku memakai rambut dan janggut palsu yang kurekatkan dengan erat. Mereka tidak akan menduga jika benda di dalam selipan rambutku sangat berbahaya.

Aku memasuki kawasan Nakusa. Phaitoon selalu mengekorku tanpa bicara dan tanpa bertanya. Aku kembali berkeliling untuk menemukan kedai tempat Shoji transaksi.

Alat lacak kuaktifkan. Kusambungan ke ponsel agar aku bisa melihat posisi Shoji berada. Aku berteduh di suatu kedai tepat di seberang kedai Shoji berada, sambil memantau keadaan Shoji keluar dari kedai. Kedai ini sangat ramai pengunjung, aku tak mungkin bertransaksi dengan Shoji disini.

Aku harus bisa membawanya keluar Nakusa, atau mungkin ke tempat sepi. Aku telah menyiapkan jebakan untuk Shoji.

Sebentar lagi Shoji pasti akan menghubungiku.

Satu jam berlalu…

Shoji memasuki kedai tempat aku dan Phaitoon berteduh. Ia membawa kami keluar, ke jalan sempit di sekitaran pinggiran Nakusa. Anak buah Shoji memeriksa kami. Tidak ada senjata tajam di tubuh aku dan Phaitoon.

John berhasil membuat penawaran. Aku memerintahkan John untuk pergi cukup mengawasi kami dari jauh.

Shoji dikawal oleh 8 orang pengawalnya saja. Posisi kami sangat dekat, berada pada sudut gang sempit mempermudahkanku untuk menukiknya nanti.

“Mana barangnya?” tanya Shoji.

“Akan kuberikan. Setelah kau menjawab satu pertanyaanku.” tegasku.

“Kau menipuku? Kalian tidak akan bisa pergi dari sini.” ancam Shoji.

“Benarkah?” aku menyeringai dingin.

“Hati-hati, tuan muda.” ucap Phaitoon memperingatkan.

Tangan Shoji terulur ke belakang baju, ia akan mengambil senjata di belakang punggungnya.

Kuambil Stiletto Siciliano kecil dari dalam rambut palsuku sebelum ia sempat mengambil senjatanya.

Jlebb..

Benda itu menancap pada punggung tangan kanannya hingga tembus. Bau anyir darah yang kusuka, menambah adrenalinku untuk berpacu. Shoji merintih kesakitan dan mundur berlindung di balik anak buahnya. Aku semakin menajamkan mataku.

Phaitoon men-jab wajah salah seorang anak buah Shiji terdekat. Dan menyanderanya untuk melindungi tubuhnya serta tubuhku yang repat berada di belakang Phaitoon kini.

Dorr Dor..

“Arrghh…” pekik anak buah Shoji yang disandera oleh Phaitoon. Meregang nyawa terkena tembakan kawannya sendiri.

Anak buah Shoji terus menembaki kami. Aku memakai tehnik quarto tagliata dengan memaku ke kiri menghindari lesatan tembakan itu, berlindung di balakang Phaitoon.

Aku dan Phaitoon maju dengan perisai anak buah Shoji yang terbunuh. Ternyata Phaitoon sangat kuat dan pemberani. Pantas saja ibuku mempekerjakannya sejak lama.

Dorr Dorr..

Mereka masih menembak mayat kawannya.

Kukeluarkan Wicked Lasers mini yaitu laser biru tapi super panas bisa membakar kulit, ciptaanku sendiri. Bisa melukai serta memotong tangan dan kaki lawan.

Class.. Class..

“Aarrggh….” pekik dua orang anak buah Shoji yang berhasil kulumpuhkan.

Tangannya yang memegang senjata putus. Suara merdua teriakan sangat indah ditelingaku. Mereka semakin mundur berlari menjauh.

Dorr Dor Dorr Dor..

Class.. Class..

Tembakan laserku terkena kaki anak buah Shoji yang semakin dekat dengan kami. Mereka jatuh menjerit dan terkejut. Senjata mereka telah terjatuh.

Kugunakan kesempatan ini untuk mengambilnya. Kugulingkan tubuhku dengan cepat mengambil senjata milik kawan. Hampir saja aku terkena lesatan peluru, jika gerakanku tidak cepat. Bersembunyi di balik dinding berseberangan dengan Phaitoon. Desingan semakin bising.

Ternyata mereka masih memakai magazen kuno dengan 20 peluru. Pantas saja tidak dapat menembus mayat.

Dorr Dorr Dorr..

Binggo!

Tepat di jantung. Tiga orang pengawal Shoji tumbang terkena magazen yang dipegang olehku. Shoji terjatuh karna terkejut, ia masih memegang tangan kanannya yang tertembus Siletto Siciliano-ku.

Mimik wajahnya nampak bergetar ketakutan. Aku berdecih melihatnya. Sedang Phaitoon membuang mayat anak buah Shoji yang disandera olehnya tadi.

Krekk..

Phaitoon menginjak leher Shoji yang tak berdaya di lantai.

Aku berjongkok mendekatkan wajahku pada tubuh Shoji.

“Katakan padaku dimana markas klan Takahashi? Jika kau masih menyayangi nyawamu.” kutampakan senyuman khas Vandals yang keji dan bengis.

“Si…siapa kalian?”

Krekk..

“Arrghhh….” teriakan panjang Shoji.

Kali ini injakan Phaitoon menekan jari tangannya hingga retak.

“Gu..Gunma.”

Aku tersenyum senang.

Maebashi, Gunma, Jepang..

Keesokan harinya…

Hampir dua jam perjalananku menuju kota Maebashi, prefektur Gunma dari pulau Kyushu.

Hari hampir siang. John seperti biasa aku pisahkan untuk menjadi mata-mata dan bertransaksi dengan anak buah Takahashi.

Kulacak dengan alat pelacakku. Namun tak ada hasil apapun. Informan luar yang kusewa pun belum memberikan kabar apapun.

Aku ke penginapan kecil bersama Phaitoon. Aku masih menyamar sebagai turis asing berwisata dengan janggut dan rambut palsu. Aku juga memakai paspor dan visa palsu. Tidak sulit untuk ayah keparatku melakukan itu.

Sisa waktu yang diberikan ayahku hanya 5 hari. Aku menyiapkan peralatan tempurku. Senjata rahasia rakitan, Siletto Siciliano serta hadiah yang akan kuberikan untuk Gorou Katahashi.

Drtt.. Drtt..

Suara getar dari ponselku. Informanku kembali menelponku.

“Ya..”

……….

“Baik.”

Klik..

Kumatikan sambungan telepon dan kunyalahkan kembali alat pelacakku.

Tokugawa. Klan ini adalah klan besar sangat berpengaruh di Jepang selain Yakuza.

“Apa hubungannya klan Takahashi dengan klan Tokugawa?” tanyaku dalam hati.

Sejarah tentang klan mereka sangat rumit. Salah satu negara dengan sistem monarki. Beberapa klan di negara ini dulunya didirikan oleh para Kaisar atau para Shogun yang terkenal pada jamannya.

Seiring pergantian para Shogun ini menimbulkan dampak terhadap pengikut setianya, mereka memilih menjadi seorang Ronin yaitu para samurai tanpa pemimpin. Seiring waktu dan pengaruh dari para shogun berikutnya para Ronin ini beralih menjadi kelompok preman yang teroganisir dan lebih dikenal dengan nama Yakuza.

Menurut kabar yang beredar klan Takahashi dan klan Tokugawa sudah tidak ada lagi sejak era restorasi Meiji. Keturunannya telah menjadi warga di pemukiman setempat adapula yang mendirikan berbagai bisnis di bidang otomotif. Transaksi mereka pun sangat legal, hanya melakukan transaksi biasa bukan transaksi ilegal pada umumnya.

Drrt..Drrt..

“Stasiun Matsudo.”

Pesan singkat dari salah satu informanku. Kuajak Phaitoon untuk segera kesana.

Kuhubungi John agar segera ke Statiun Matsudo saat ini juga. Agar ia bisa segera mengorek informasi disana.

Aku dan Phaitoon segera melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat. Aku tak ingin terlambat. Aku menaiki taxi di sekitar penginapan tempatku berada.

Dua jam perjalanan hingga sore hari. Aku berteduh di salah satu kedai yang berada di sekitaran stasiun Matsudo. Waktu masih panjang, kugunakan untuk beristirahat. Kuaktifkan alat pelacak yang tersambung dengan ponselku.

Sebuah indikator lampu berwarna merah berkedip-kedip pada layar ponsel, lampu itu menandakan dimana posisi John saat ini berada. Yang aku ketahui sekarang John berada di Museum rumah peninggalan Shogun Tokugawa. Tiba-tiba indikator lampu itu bergerak sangat cepat menuju lokasi yang aku kirim. Tak butuh lama waktu yang di tempuh Jhon, dan Jhon telah sampai di lokasi yang aku perintahkan.

Aku menunggu informasi dari informanku. Aku ingin tahu klan mana saja yang akan bertransaksi di stasiun ini.

Drrt Drtt..

Pesan singkat dari John kuterima.

“Tuan muda, sepertinya anda sedang ditunggu di depan kediaman Shogun Tokugawa. Ada banyak sekali ajudan Tokugawa berada disini. Hati-hati Tuan.”

“Rupanya mereka sangat cepat menemukan keberadaanku.” gumamku.

Aku menyeringai. “Inilah saatnya aku beraksi. Mereka harus tunduk padaku.” pikirku.

Kurapihkan berbagai alat senjata rahasia yang berada di tubuhku. Aku berjalan bersama Phaitoon menuju kediaman Shogun Tokugawa.

Sempatku menoleh pada Phaitoon, ia terlihat sangat tenang dan datar.

Aku harus lebih waspada. Klan Tokugawa sudah terlatih menggunakan samurai. Sama sepertiku yang telah terlatih menggunakan Stiletto Siciliano sejak aku kecil.

Keadaan sangat ramai. Hari menjelang malam saat ini. Aku dan Phaitoon bersembunyi melihat pergerakan mereka. Mereka menyamar sebagai pengunjung dengan gerak-gerik sangat mencurigakan. Matanya tajam mengawasi para pewisata di sekitar mereka.

Namun Phaitoon menggagalkan rencanaku. Ia keluar dari tempat persembunyian kami dan melangkah maju mendekati anak buah Tokugawa. Sungguh aneh!

Phaitoon seorang penghianat.

Wajahku memerah, emosiku meluap-luap. Aku hampir saja kehilangan kontrol pada diriku.

Slekk..

“Ikut kami.” ancam seorang di belakangku menodongkan senjata pada pinggangku.

Seperti ada yang merencanakan ini semua, disaat itu. Semua anak buah Tokugawa langsung menoleh ke arahku.

Tapi ancaman itu tak membuatku gentar, tanpa sepengetahuannya kujatuhkan salah satu alat rahasiaku ke arah samping.

Tranggg..

Ia pun menoleh ke sumber suara. disaat lengah

Buugggg…

Kusundul hidungnya dengan bagian belakang kepalaku dengan keras, membuat dia menjadi limbung dan mengendorkan senjatanya yang berada dipinggangku.

Dengan cepat aku berbalik dan meraih tangan yang memegang senjata, lalu kupelintirkan tangan itu dengan keras hingga tangannya terangkat lalu..

Plak…

Kutepis gengaman senjata pada tangannya, hingga senjata itu jatuh terlepas.

Kupiting tangannya ke belakang dan menyanderanya untuk melindungiku. Kukeluarkan senjata api rakitan mini dari dalam sarung tanganku. Kemudian Kuseret ia ke balik dinding tempatku bersembunyi. Untuk menghindari kecurgiaan warga sekitar.

Seluruh anak buah Tokugawa mendekat ke arahku, termasuk Phaitoon. Aku terpojok ke dinding, masih menyandera seorang anak buah Tokugawa.

“Kau.. Penghianat.” geramku pada Phaitoon.

“Menyerahlah Tuan, anda sudah terdesak.” ucap Phaitoon datar.

“Kau tahu aku ini siapa? Aku Vandals. Tidak semudah itu aku menyerah.” sahutku menggebu-gebu.

“Kami tidak akan melukaimu. Ikutlah dengan kami.” kata kepala pengawal Tokugawa.

Jiwa ini kembali berontak. Wajahku merah padam. Kepalaku berdenyut, sakit sekali. Kulepaskan sanderaku tanpa sadar, kupegangi kepalaku dan kuremas rambutku erat.

Sakit sekali. “Apa yang terjadi.” pikiranku tak fokus.

Bughh..

Seseorang memukul tengkukku dengan keras. Aku sempat melihat ke arahnya.

“Phai..toon.” ucapku lemah terputus.