Senyuman Kekasih Tersayang Chapter 11

0
584

Lima bulan yang lalu…

Darah merembes di sekitar punggung Valerio. Wajahnya berkeringat dingin dan tampak pucat. Dengan sisa tenaganya ia telah mampu membunuh musuhnya satu persatu, walaupun tubuhnya tanpa bersembunyi dan tanpa dilapisi rompi anti peluru. Desingan tembakan menggema di lorong bunker.

John pengawal pribadinya setia mengekor di balik punggungnya. Menghabisi lawan yang berani melukai tuannya.

Langkah kakinya sangat pasti. Cepat dan gesit terus menuju ke arah luar bunker.

Valerio berhenti di depan pintu nomor 1 ruang monitor. Ia membuka pintu tersebut tanpa memeriksa terlebih dahulu. Sedangkan John berbalik ke belakang menembaki lawannya.

Dor..

Amarah yang membakar telah menjadikan Valerio lengah. Peluru bius bersarang di dadanya.

“Tuan..” teriak John saat berbalik melihat Valerio jatuh tergeletak di lantai.

Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor..

John menembaki musuh yang telah mencelakai tuannya bertubi-tubi sampai lawannya mati bersimbah darah, jatuh terkulai di lantai. John sangat murka melihat Valerio tak sadarkan diri.

John memang telah terlatih. Di usianya yang sangat muda ia bahkan telah mengikuti latihan militer di Kolombia.

Dengan cepat John menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia menggendong Valerio dan meletakkannya di atas kursi.

Tukk..

Benda terjatuh dari tangan kiri Valerio. Sebuah benda berbentuk persegi empat seperti remote mini dengan dua tombol hijau dan merah.

John memungutnya dan memperhatikan sesaat benda tersebut. Remote dengan ukuran kecil yang sangat aneh, karena mempunyai antena ada sudut kiri atas serta lampu laser berkedip di atasnya.

“Tuan Volte, anda baik-baik saja?” tanya John khawatir.

Namun Valerio tak bergeming. John sangat panik ketika melihat pada layar monitor, beberapa orang anak buah klan Romanov bersiap hendak meledakan bunker.

Pikirannya kalut, ia sedang menimang-nimang melihat benda kecil di tangannya itu. Jika memang benda itu tidak ada manfaatnya, mengapa tuannya sampai menggenggam benda itu?

Dan jika memang benda itu membawa petaka baginya dan tuannya untuk mati di bunker ini, toh sama saja ia akan mati juga karena ledakan bom dari Romanov. Tapi jika ia salah menekan tombol bisa saja ruang monitor saja yang akan meledak.

Layar monitor menunjukkan para pasukan Romanov telah memasang peledak pada semua pintu ruangan dengan tujuan agar pewaris Vandals tidak selamat. Nampak indikator waktu yang terpasang pada setiap bom menyala dan mulai menghitung mundur. Hanya kurang dari satu menit, bom-bom itu siap meledakan bunker, menghancurkan Volte beserta para korban yang mati di dalam bunker penyiksaan.

John sangat panik dan melihat ke arah Valerio. Tubuh Valerio merosot dari sandaran kursi, kepalanya merunduk hampir terkantuk meja besi yang mengakibatkan John berlari merengkuh tubuh tuannya.

Klik..

Tombol merah tak sengaja tertekan oleh tangan John yang sedang menyentuh kepala Valerio agar tak terbentur pada meja besi ruang monitor. Pintu besi turun dari atas melapisi pintu ruang monitor. Kamera CCTV mati seketika bersamaan dengan semua penerangan dalam bunker.

Srekk..

John terkejut melihat terbukanya pintu ruangan tersembunyi. Tanpa membuang waktu, John lekas mengangkat tubuh Valerio dan masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut. Pintu pun segera tertutup kembali secara otomatis.

Duarrrr….

Ledakan besar terjadi menggema di seluruh ruangan bunker.

John menarik napas lega. Di dalam pintu ruangan tersembunyi John meletakkan Valerio di lantai. Melihat di sekeliling lorong besi penuh dengan dinding penuh lubang di kanan dan kirinya. Ia curiga mungkin saja terdapat senjata rahasia.

Kali ini John berpikir mencari-cari akal bagaimana caranya agar dapat keluar dengan selamat bersama dengan tuannya. Sedangkan Valerio masih belum siuman.

Ia menimang-nimang alat kecil itu. Ada semacam laser berkedip pada bagian atas remote. John mengarahkannya pada setiap sudut dinding berlubang. Ternyata benar ada laser tersembunyi berwarna hijau pada tiap lubang, ada pula bagian yang tidak berlaser.

Laser jenis ini mirip sekali dengan LaWS (Laser Weapons System) yang bisa menembak dengan akurasi tinggi tanpa bisa dilihat dengan mata telanjang.

John mengangkat Valerio dan berjalan menunduk. Dengan berhati-hati ia menunduk, berjingkat serta tiarap guna menghindar sapuan sinar laser yang tertangkap dari sinar laser pada remotenya.

Tiba di ujung jalan terdapat dua lorong bercabang ke kiri dan kanan. Kali ini John sangat waspada karena bisa saja salah satu lorong banyak dipasang perangkap.

Dengan laser dari alat mungil itu pula ia mengarahkan ke lorong sebelah kiri, sangat gelap. Ia arahkan lagi sinar laser ke lorong sebelah kanan, ia seperti melihat jejak kaki.

John melangkah ke lorong sebelah kanan, matanya siaga menatap jika-jika ada bahaya. Ia berhenti pada sebuah koridor besi berkode dan meletakan Valerio di lantai bersandar pada dinding.

John heran setelah mengarahkan laser pada kode pintu itu, sama sekali tidak ada sidik jari.

Ia mulai mencari-cari pembuka pintu besi tersebut. Hanya ada obor yang padam tidak terpakai. Matanya menyorot lebih tajam pada bagian ujung obor. Ada putaran seperti volume radio.

Putaran pertama tidak bereaksi, diputaran kedua pintu terbuka. Tapi masih saja ada pintu yang menutup rapat. John kehilangan kesabaran, tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi ia menekan tombol hijau pada alat kecil itu.

Klik..

Srekk..

Pintu besi terbuka.

John sangat terkejut ketika melihat sosok yang dikenal di dalam ruangan itu. Sosok yang sama persis dengan tuannya.

Tuannya ada dua orang!

Lalu siapa orang yang ia letakan di lantai.

“Dimana adikku?” bentak Volte pada John.

“Adik!! Apa anda?”

Ucapan John terhenti. Tatapan matanya mengarah pada lantai tempat Valerio tergeletak.

Volte melihat arah tatapan John. Ia begitu terkejut melihat Valerio tak sadarkan diri.

“Vale..” teriak Volte.

Volte yang sangat panik melihat keadaan adiknya segera menghampiri dan mengangkat Vale. Membawanya masuk ke dalam bunker rahasia. John mengekor di belakang dengan raut wajah kebingungan.

Volte meletakkan Valerio di atas sofa yang tersedia dalam bunker. Di sana terdapat satu orang dokter keluarga Vandals yang telah menunggu.

“Periksa adikku, cepat! Jika ia tak selamat kau dan keluargamu juga tak akan selamat.” kecam Volte murka.

Wajahnya sangat dingin. Aura dalam ruangan menjadi mencekam. Volte menatap John murka, ia menghampiri John dan memukul John tanpa jeda.

Wajah John tampak sangat lebam. Sudut bibirnya berdarah. Ia sama sekali tak melawan Volte.

Volte berhenti, mencoba menarik napas dalam.

“Brengsek.. Kau tidak berguna! Menjaga satu orang saja kau tidak mampu. Apa yang kukatakan padamu? Jangan pernah jauh! Jaga dan ikuti terus pewaris Vandals di mana pun ia berada. Apa saja pekerjaanmu?” murka Volte berapi-api.

John terkulai bersimbah darah pada bagian wajah, tubuhnya tampak lemah terkena setelah Volte memukulnya berulang-ulang.

“Maafkan saya, Tuan.” hanya itu yang John ucapkan sambil menunduk.

Tapi wajah John sangat datar tanpa takut, tanpa ekspresi.

“Aarrgghhhh… Aku akan menghancurkanmu Stone. Tidak akan kubiarkan seorang pun bermain-main dengan Vandals.” geramnya.

Napasnya memburu. Hatinya sangat murka melihat adiknya yang sedang menyamar menggantikan dirinya tertembak serta tak sadarkan diri.

Satu jam sudah ia menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Valerio.

“Tuan Volte.” panggil dokter dengan menunduk hormat.

“Bagaimana keadaan adikku?” tanya Volte khawatir.

“Peluru yang bersarang di punggung sudah saya keluarkan, tuan muda masih belum sadar akibat senjata bius Rusia.” jelas dokter.

“Berapa lama efek bius itu?”

“Kira-kira 4 sampai 5 jam lagi, Tuan. Senjata bius total dari Rusia yang sering digunakan untuk harimau. Tapi tidak akan berbahaya, karena tuan muda tidak menkonsumsi alkohol.” papar dokter.

“Baiklah. Kau boleh pergi.” sahut Volte lega.

Satu bulan kemudian..

Valerio dan Volte terbang ke Roma kembali dan tinggal di mansion mereka sehari setelah Valerio siuman.

Valerio dirawat intensif dengan dokter pribadi keluarga Vandals yaitu dokter Alessandro, asli orang Roma, Italy.

Untung saja saat tragedi di pulau Sisilia itu Volte merasakan firasat bahwa akan terjadi sesuatu kepada adiknya. Rencana untuk menghancurkan Las Vegas Mini Stone di kota Azov, Rusia, ia tangguhkan.

Memang jika anak terlahir kembar akan merasakan sesuatu saat saudara kembarnya terkena bahaya. Seperti sudah saling memiliki ikatan batin sedari lahir.

Volte menjadi sangat bengis. Ia pergi ke kota Azov, Rusia untuk membunuh Stone. Dalang penyebab semua ini terjadi. Ia membunuh banyak sekali pengawal Romanov, menghancurkan kasino serta membunuh Stone dengan sadis.

Bahkan ia juga menghabisi mata-mata dan pemberontak dari klan PCC (Primeiro Comando Da Capital) asal Brazil yang terlibat dalam perpecahan klan Vandals dengan sekutunya Pablito Mendelin, Collumbia. Dan yang telah membocorkan transaksi besarnya dengan klan Blogest di Bolania.

Pertukaran senjata api terbaru penemuannya ingin ditukar dengan timah bermutu tinggi.

“Kau baik-baik saja adikku?” tanya Volte yang baru saja memasuki ruang pribadi Valerio.

“Apa yang ingin kamu katakan Volte?” Valerio bertanya balik dengan suara lemah. Valerio sedang duduk di depan layar monitor.

“Kau?”

Ucapan Volte terhenti memandang intens Valerio.

“Ya.. Ini aku Revan.” sahut Revan pelan.

“Haii.. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bicara adikku.” sapa Volte ramah tersenyum.

“Aku baik-baik saja. Apa yang terjadi selama aku dirawat?”

“Oh sudahlah ini urusanku. Kau pulihkan saja tenagamu kembali. Em.. Di mana Vale? Apa dia bisa mendengarku!” telisik Volte.

Volte berkata sangat pelan takut adiknya tersinggung.

“Katakan saja apa yang ingin kamu katakan Volte. Ia pasti mendengarnya.” Revan menjawab lemah.

“Mengapa? Apa kau merindukan gadismu.. itu?” Volte menatap Revan tajam. Bertanya hati-hati.

Meneliti perubahan sikap adiknya, serta raut wajah muram adiknya.

“Jangan ganggu Siren, Volte. Biarkanlah ia hidup tenang. Biarkan dia bahagia pada dunianya sendiri.” jawab Revan lesu.

“Kau mencintainya? Mengapa tidak kau katakan saja bahwa kau menginginkannya.” Volte tersenyum manis.

Sejak tadi Volte sengaja tidak menggoda Revan karena ia ingin tahu perasaan Revan. Tanpa Valerio bangkit mendominasi.

“Sudahlah Volte. Aku tidak ingin ia terluka jika masih berhubungan dengan keluarga kita.” wajah Revan penuh dengan kesedihan.

Volte melihat ucapan adiknya yang pesimis.

“Jika kau mencintainya. Kau tidak boleh melepaskannya, Re.” tekan Volte.

“Tidak. Aku tidak ingin ia selalu berada dalam bahaya jika masuk keluarga Vandals.” tegas Revan.

Revan tidak ingin melihat Siren nanti akan menjadi incaran dari musuh Vandals.

Volte mendengus. Ia tak setuju akan pemikiran Valerio dan Revan.

“Aku sungguh tak mengerti apa yang ada pada pikiran kalian berdua. Kau bahkan meminta Mom untuk tidak menghubungi gadismu. Mom tampak sedih, kau tahu? Mom sangat sayang padanya. Jangan memikirkan masa lalu, hal itu tidak akan terjadi kepada Siren. Aku percaya kau mampu melindunginya.” papar Volte melembut. Tak tega melihat kesedihan Revan.

“Arggh…” pekik Revan.

Revan mencoba untuk bangun dari kursi empuknya. Bahunya masih terasa ngilu jika ia menggerakan lengannya.

“Kubantu!! Tenang saja dalam beberapa minggu ke depan luka ini akan mengering dan menghilang tanpa bekas. Kau sudah menggunakan obat yang kuberikan?” tanya Volte lembut.

Revan hanya mengangguk lemah.

Volte membantu memapah Revan. Namun ditolak halus oleh Revan dengan menggunakan kode dari tangan kanannya.

Sebenarnya Volte sangat menyayangi adiknya. Apalagi jika jiwa Revan yang muncul. Akan tetapi selama pengobatannya di Thailand, jiwa Revan tidak pernah keluar. Selalu Valerio yang mengambil alih tubuhnya.

Saat ini Volte sangat senang karena hanya dengan Revan, ia akan merasa menjadi seorang kakak. Tidak seperti jiwa Valerio yang pemarah.

Waktu Volte tahu ada seorang gadis yang bisa membangunkan jiwa Revan secara terus-menerus. Di situlah Volte menjadi tertarik dan memata-matai Siren.

Volte ingin membuat adiknya bahagia. Ia tidak ingin pertengkaran seperti saat ia berusia 10 tahun terulang kembali. Valerio selalu menatap benci pada Volte karena merasa dibuang dan diasingkan oleh ayah dan kakeknya sendiri. Hanya perhatian dari nenek dan ibunyalah yang menguatkan Valerio bahwa di dunia ini masih ada orang yang peduli padanya.

Jiwa Valerio dan Revan pada saat itu benar-benar terluka. Ia menjadi sangat pemarah dan sering gegabah dalam mengambil sikap.

Di Thailand, beberapa kali ia merusuh di rumah tetangga dan di sekolah. Hingga ibunya membawanya pulang ke Indonesia agar keadaan psikisnya lebih membaik.

Ibunya selalu bertengkar dengan ayahnya ketika memutuskan untuk mengasingkan Valerio jauh dari Italy. Hingga ibunya, Marta, membawa Valerio dan merawatnya seorang diri di sana selama beberapa tahun.

Volte yang pada saat itu cemburu karena melihat perhatian nenek dan ibunya yang hampir 100% membela Valerio. Ia pun bersedih dan mengambil jalan pintas dengan membantai beberapa gengster di berbagai negara dan memperebutkan wilayah pasar gelap perdagangan senjata api. Serta bergabung dengan tentara bayaran Kolombia untuk mengedarkan obat-obatan terlarang di usianya yang masih sangat muda, yaitu 14 Tahun.

Kakek dan ayahnya mendukung penuh Volte untuk menjadi pewaris tunggal sah Vandals.

Valerio tidak hanya diam saja. Ambisi dan sikap perfeksionisnya juga membantu Volte secara diam-diam, tanpa diketahui ibu dan neneknya, dengan mengecoh lawan. Hal itu ia lakukan untuk mendapatkan pengakuan dari kakek dan ayahnya.

Pada usia 18 tahun, Valerio mampu melawan mafioso pemberontak klan Vandals di pulau Sisilia dan membuat penemuam-penemuan alat pelacak, alat penyiksaan, serta senjata api rakitan. Hingga menjadikan Vandals sebagai mafia nomor satu di laut Mediterania. Ia memang mendapatkan pengakuan dari kakeknya dan ayahnya sebagai Vandals sejati, walaupun menjadi bayang-bayang Volte. Ia sudah cukup senang.

“Aku tidak apa-apa. Bagaimana rencanamu, sudah kamu bereskan?” tanya Revan tanpa berbalik melangkah ke depan balkon kamarnya.

“Ya.. Mereka yang berani bermain-main dengan Vandals akan mati.” tegas Volte.

“Bagaimana dengan Faddei Lyonechka? Ia akan mencoba membalas dendam atas kematian adiknya Stone.” tanya Revan datar.

“Jika kau ingin tahu yang sebenarnya, mengapa klan mereka menyerupai negara kita, aku akan menjawabnya.” sahut Volte mengekor di belakang Revan.

“Aku sudah tahu, aku sudah melacak dan menyelidikinya. Ia juga berdarah Vandals. Tapi tidak sekuat darah kita. Bibi Elena lah yang menyembunyikan fakta tersebut.”

“Kalau kau sudah tahu itu semua, mengapa kau masih saja gegabah adikku?”

Revan menarik napas panjang. Memandang langit cerah. Tapi kesunyian masih bersemayam dibenaknya.

“Entahlah Volte.. Aku tak kuasa mengendalikannya. Vale terlalu kuat dan ceroboh.”

Volte terlihat gamblang melihat tingkah adiknya. Di satu sisi ia menyukai keberanian yang dimiliki oleh Valerio, di siai lain ia menyukai sikap lembut dan bijaksana dari Revan.

Volte menarik napas dan memejamkan matanya. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Valerio. Akan tetapi ia tak sanggup melihat kesedihan Revan.

“Kau.. Istirahatlah. Aku pergi dulu.” pamit Volte.

Volte berbalik melangkah keluar dan meninggalkan Revan yang merenung di balkon kamar.

Revan sangat merindukan Siren. Ia dengan sengaja menaruh alat pelacak pada jam tangan Siren. Menyembunyikan camera CCTV di bagian gerbang rumahnya. Agar ia tahu Siren pulang dengan selamat sampai di rumah.

Valerio yang memiliki ide ini. Pada malam ulang tahun Siren ia meletakan camera tersembunyi di bagian gerbang depan rumahnya menghadap ke rumah Siren. Serta terpasang pula di bagian kebun tempat Siren menghabiskan waktu sore hari.

Pikirannya benar-benar kalut. Meninggalkan orang yang dicintainya seorang diri berada di Indonesia.

4 bulan kemudian..

Valerio baru saja melihat kamera CCTV yang beberapa bulan lalu ia hack. Kamera pengintai yang berada di sekolah Siren.

Ia mengetahui segalanya tentang Siren hanya dengan kamera pengintai itu. Ia bahkan tahu dengan jelas bahwa gadisnya tampak murung dan tidak bersemangat di setiap harinya.

Di sekokah Siren selalu bertengkar dengan temannya geng lain. Di kebun Siren selalu termenung sambil menyiram bunga di pot hingga banjir. Di depan gerbang rumahnya, Siren selalu berdiri memandang rumah yang tampak terbengkalai tak terawat.

Siren berdiri memegang jeruji besi gerbang, bahkan ia tahu Siren melompati gerbang rumahnya hanya ingin merawat tanaman ibunya dan membersihkan teras depan agar tampak rapih.

Hatinya turut sakit melihat keadaan gadisnya tampak pucat dan lesu. Siren hanya memandang jam tangan di tangan kanannya sambil menangis pilu.

Berbulan-bulan sudah mereka tak bertemu. Malarindu tak bisa terobati lagi. Mereka sama-sama memendam luka dalam.

Hatinya terenyuh melihat itu semua. Ia hanya memandang dari jauh tanpa berani menghubunginya. Benar-benar bagai seorang pengecut.

Revan dan Valerio hanya tidak ingin gadis yang dicintainya disakiti orang lain. Seperti kejadian kekasih pertamanya yang mengisi hatinya dulu, Issable.

Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Issable tidur dengan pria lain. Tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.

Amarah membutakan matanya hingga ia meluapkan kebenciannya dengan membunuh pria tersebut dengan kejam dan memotong-motong bagian tubuh pria itu dan dikirim kepada Issable hingga ia histeris.

Empat bulan yang lalu mendengar pengakuan dari Volte jika semua itu ulah dari Stone. Stone adik dari Faddei, ketua klan Romanov yang ditolak oleh Issable karena lebih mencintai Valerio (yang saat itu sedang menyamar sebagai Volte).

Pria yang dimutilasi oleh Valerio hanya dijebak oleh Stone agar kekasih Issable meninggalkan Issable.

Valerio menyesal tidak menyelidikinya terlebih dahulu. Ia memang gegabah. Tapi cintanya pada Issable ternyata telah hilang, berganti cintanya pada Siren yang semakin menggebu-gebu.

Volte selalu melarang Valerio untuk meminta maaf kepada Issable. Karena Volte tahu Issable kini telah berubah menjadi wanita yang haus akan uang, tidak seperti dulu lagi. Semua itu karena Stone selalu memanjakannya.

Dengan memberikan sedikit hadiah saja, Volte bisa meniduri Issable dengan mudah.

Berbeda dengan Siren. Selama ini Volte juga selalu memantau Siren dengan menyuruh anak buahnya untuk selalu menjaga Siren. Siren selalu setia pada adiknya.

Volte bangga akan sikap Siren yang selalu tegas mengambil kesimpulan. Siren pula rajin merawat rumah Revan jadi indah penuh dengan bunga. Volte memperhatikan itu semua. Siren bagai magnet tanpa poros tapi selalu menarik maniknya untuk selalu berfokus memandangnya.

Valerio menarik napas gusar.

Hati Valerio sungguh diliputi kekhawatiran. Valerio tidak ingin kejadian serupa dialami oleh Siren. Mereka, Valerio dan Revan benar-benar telah takluk pada pesona Siren.

Ia mengakui kekalahannya. Jatuh hati pada gadis muda itu.

Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya. Berharap gadisnya akan baik-baik saja.

Kring.. Kring..

Ponsel Valerio berdering.

“Ya..” jawabnya.

“Vale.. Cepatlah ke Indonesia.” cetus Volte panik.

“Kau jangan bermain-main denganku Volte.” geram Valerio.

“Aku mendapatkan kabar dari anak buahku. Anak buah Romanov sedang menyelidiki tentang Siren. Kau harus cepat, penerbangan 18 jam dari Roma menuju Jakarta. Aku telah menyiapkan segalanya di Bandara Fiumicino. Bergegaslah Vale.” jelas Volte di ujung telpon.

“Apa?? Berani sekali Faddei melakukan itu!” geram Valerio.

“Aku akan kesana lebih dulu. Posisiku sekarang dekat dengan Indonesia. Aku akan menunggu hingga kau datang Vale. Kita habisi Romanov sama-sama.” terang Volte menggebu-gebu.

“Jaga Siren untukku. Tapi ingat Volte, jangan kau tampakan wajahmu di depannya.” kecam Valerio.

“Ckck.. Tenanglah adikku. Siren hanya untukmu. Percayakan padaku, aku dan anak buahku akan melindunginya.” ucap Volte meyakinkan.

“Aku segera kesana.”

Klikk..

Valerio bergegas menyiapkan sedikit barang keperluannya. Menggunakan koper kecil, ia langsung menuju bandara Fiumicino.

Di dalam pesawat, hatinya sungguh tidak tenang. Ia amat mengkhawatirkan gadisnya. Delapan belas jam perjalanan, termasuk transit 3 jam di Dubai, ditempuh hingga ia sampai ke Jakarta.

Setibanya di bandara Soekarno-Hatta Tangerang sudah malam hari, ia menaiki mobil jemputan yang sudah menunggunya dan menuju arah Jakarta. Cuaca Jakarta begitu dingin, hujan turun tanpa menunggu musim penghujan.

Valerio mengenakan sweater tebalnya. Mobil baru saja keluar tol. Hatinya gelisah sepanjang perjalanan.

Di dalam mobil ia melacak keberadaan Siren dengan alat pelacak. Ia sangat kaget melihat lokasi yang terlihat di sana.

Siren berada di hotel bintang lima daerah Jakarta selatan. Wajahnya memerah menahan gejolak amarah kepada klan Romanov. Yang telah berani menculik gadisnya.

Valerio menelpon Volte.

“Dimana kau? Aku sudah menemukan lokasi Siren. Cepat kesini.” tanya Valerio pada Volte.

“Ya.. Aku akan menghubungimu.” jawab Volte langsung mematikan telpon.

Valerio memberikan kopernya kepada pengawal Vandals yang menjaganya. Ia berlari memasuki hotel tersebut namun dijaga oleh security hotel.

Ia sangat marah dan meletakkan dompet, kartu identias atas nama Revan kepada security hotel serta bergegas menaiki lift langsung menuju lantai 15. Security itu ingin menghadang Valerio kembali tapi di cegah oleh dua orang pengawal Vandals.

Valerio tahu dengan jelas posisi keberadaan Siren lewat alat pelacaknya yang canggih.

Kring.. Kring..

“Ya.. Volte dimana kau?” tanya Valerio cepat.

“Ckck.. Terima saja hadiah dariku Vale. Di kamar 1551, gadismu telah menunggu. Selamat bersenang-senang adikku.”

Volte tergelak kencang di ujung telpon. Yang tidak diketahui Valerio ialah hati Volte sakit mengetahui jika ia juga telah jatuh pada pesona gadis yang dicintai adiknya.

Valerio membuka kamar nomor 1551. Betapa terkejutnya ia melihat gadisnya tanpa busana dan menjadi liar menggodanya.

Jiwa Revan mendominasi!

Hatinya teriris sedih melihat orang yang ia cintai menderita akibat obat perangsang.

“Volte benar-benar keterlaluan kali ini.” geramnya dalam hati.

Wajahnya memerah menahan api amarah. Jiwanya ingin berontak tapi tertahan oleh jiwa Revan.

“Sa.. yang..” bibirnya bergetar tak mampu mengendalikan diri.

Konflik batin ini kembali terjadi. Dua jiwa sama-sama ingin mendobrak keluar dari persembunyiannya.

Matanya lekat memandang tubuh polos gadis yang disayanginya. Manik Revan tampak berkaca-kaca perih, tak tahan menahan pergulatan batin dengan jiwanya yang lain.

Perdebatan semakin pelik. Ia hanya terpaku dengan napas memburu. Revan menguasai tubuh kembali.

Namun Valerio sukses merangsek keluar karena murka mendapatkan serangan bantal di kepala.

Valerio menguasai!

Hingga peristiwa itu pun tak bisa terelakan lagi.

Jiwa Revan terkungkung menangis pilu di dalam sana. Berusaha sekuat tenaga menahan hasrat yang ia terima melalui jiwa Valerio.

Gadisnya tertidur pulas di atas kasur setelah perang dunia kesatu. Revan bisa bernapas lega karena Valerio masih menahan hasrat biologisnya agar tidak tersalurkan.

Valerio mengecup kening Siren, merebahkan dirinya ke samping dan memeluk gadisnya erat. Melepaskan kerinduan yang telah terobati.

Disalah satu kamar lain hotel..

“Arrghh……”

Pranggg……

“Shitt…..”

Volte berteriak membanting-banting barang. Pikirannya sedang kacau. Ia tidak pernah merasa seperti seorang pengecut.

Volte meremas rambutnya kuat. Wajahnya merah padam.

Hampir saja Volte khilaf menyentuh calon adik iparnya sendiri. Ia merasa aneh sendiri. Mengapa jika berada di dekat Siren jantungnya berdetak lebih cepat, tidak bisa mempertahankan kewarasannya.

Hampir saja peristiwa itu terjadi.

Dulu ia menebarkan pesonanya kepada Issable mantan kekasih adiknya. Hanya untuk membalas dendam, karena Issable telah melukai adiknya.

Tapi kini?

Baginya sekarang Siren lebih berbahaya dari gengster manapun! Karena mampu mengobrak-abrik pikiran dan hatinya secara bersamaan.

Volte seperti berada pada persimpangan. Hatinya sakit, ia tahu mungkin saat ini Siren telah menjadi milik Valerio secara seutuhnya.

Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Valerio dan Revan harus bahagia bersama orang yang dicintainya.

Volte menatap langit gelap di heningnya malam pada dinding jendela yang besar. Lampu kelap-kelip hingar-bingar kota Jakarta tampak indah di lihat atas.

Volte tertawa hambar tak hentinya. Ia mungkin saja sedang mabuk. Baru kali ini merasakan begitu perih di dadanya, seperti ada tombak yang menusuk hingga ke jantungnya.

Di tempat lain…

“Yang, pengen deh..” pinta Deni kepada istrinya sambil ngusel-ngusel leher Rissa.

“Tadi kan udah. Masi belum cukup?” sahut Rissa kesal melihat kelakuan mesum suaminya.

“Mumpung gak ada Siren nih, Yang.” balas Deni.

Deni meniup telinga isterinya perlahan, membuat Rissa merinding.

“Ahh.. Den.. Jangan nakal deh, aku laper. Pulang kerja belum makan udah dipaksa.”

“Jadi kamu ngelakuin itu terpaksa sama aku? Yang, kamu kok kejam sih.” melas Deni mengiba.

“Bukan begitu. Aku makan dulu, kamu juga makan dulu. Emang kamu gak laper, Den?”

Deni memanyunkan bibirnya seperti anak kecil minta dibeliin permen.

“Aku gak laper, Yang!” Deni ngambek.

“Yakin? Tadinya sih setelah makan aku mau kasih jatah. Ya udah deh kalo gak mau.” goda Rissa.

“Auw…”

Rissa menjerit tatkala Deni meletakan tangan kirinya pada rudalnya yang telah membesar hanya ditutupi boxer tipis.

“Gede lagi, Den?” tanya Rissa terkejut sambil mengelus-elus dari bagian luar boxer.

“Esss…. Yang mau loli gak?” Deni mendesis.

“Loli? Siapa lagi itu?” geram Rissa sambil meremas rudal Deni.

“Au..au.. Yang ngilu. Oh…” Deni kelojotan.

“Siapa loli?” Rissa melotot garang.

“Ini loh, Yang. Kamu mau isep gak kayak permen lolipop. Duh sakit Yang, bisa remuk nih horn banana.” Deni mengkerut.

Wajah Rissa memerah malu. Karena dalam hati ia menuduh suaminya telah berselingkuh dengan teh Loli janda pemilik warung depan rukannya.

“Ohh.. Kirain kamu selingkuh Den. Maaf deh, sakit yah.. Sini keluarin dulu.”

Rissa mengeluarkan horn banana-nya milik Deni hingga mengacung keluar.

Dan malam itu, Deni dan Rissa menunaikan tugasnya sebagai suami-istri, saling meraup nikmat, bermandi peluh. Keduanya bagai lumpuh setelah saling kayuh, tenaga mereka luruh. Terhempas dalam pelukan, dan sejenak terlelap dalam senyum kepuasan dan bahagia yang mereka rasakan.