Senyuman Kekasih Tersayang Chapter 1

0
1237

Namaku Siren Kana. Gadis aktif, ceria, kadang gesrek, kadang jutek, kadang jahil, kadang polos, kadang gak tahu malu dan yang paling penting aku agresip. Tapi gak murahan yah!

Sekolah kelas 12 di SMA swasta terkemuka. Nilai pelajaran sih biasa saja, tapi masih dapet peringkat.

Aku anak kedua, putri satu-satunya dari pasangan Jebba Kana dan Zulkriani Pernanda. Dari nama, kalian pasti tahu kan kalau ayah masih keturunan India. Sedang ibu asli Indonesia.

Kakak kandungku Deni Pernanda biasa aku panggil kak Denden. Berusia 27 Tahun, menikah dengan seorang anak pengusaha kaya raya asal Jakarta namanya Rissa Wijaya 23 Tahun.

Ayah kasih nama Siren Kana. Karena hidungku mancung mirip orang India. Jadi indo gitu. Sedang nama belakang kak Deni ialah Pernanda, yakni nama kakek dari ibuku. Wajahnya Indonesia banget persis ibu.

Sahabat terdekatku di sekolah hanya dua yaitu Andra dan Vita.

Kuperkenalkan pangeran pujaanku.

Revan Apriliano anak tunggal dari Yo Min Buck dan Marta Ngon. Ayah kak Revan berdarah campuran Itali-Korea, sedang Ibunya Marta Ngon berdarah Indo-Thailand.

Kebayang kan gimana gantengnya!

Blasteran 27 Tahun, berkulit putih mulus, hidung mancung, alis mata hitam tebal.

Sifatnya kalem, sopan santun, sabar, pengertian, dan murah senyum.

Profesi kak Revan ialah psikolog. Sikapnya sangat dewasa, baik, dan berwibawa. Karakter dan kepribadiannya selalu memesona diriku.

Setiap sore hari, aku mampir kerumahnya hanya berkeluh kesah, bercerita tentang sekolah, mencurahkan isi hati bahkan hanya untuk mengucapkan kata-kata rayuan/gombalan.

Perkataannya selalu menenangkan hatiku, perlakuannya selalu membuatku tersanjung.

Sejak awal perkenalan kami dua tahun yang lalu hingga saat ini, hatiku tak pernah berhenti bergetar saat melihatnya.

Flashback dua tahun yang lalu…

Berdiam diri dikamar seusai pulang sekolah adalah rutinitas harianku. Bukan karena malas atau tak ada teman tapi memang pekerjaan sampinganku yang mengharuskan aku duduk di depan monitor.

Aku tinggal dengan kakakku Deni dan istrinya Rissa, di suatu kompleks perumahan. Sedang ortu berada di kampung halaman ibu.

Di rumah hanya kami bertiga. Pagi hari aku berangkat sekolah, kak Deni berangkat bekerja ke toko bersama istrinya kak Rissa.

Pada suatu sore saat aku asik menyirami tanaman hias kakak iparku di halaman samping. Aku melihat secercah cahaya kemilau dari balik gorden lantai dua tetangga seberang rumahku.

Kilauan cahaya itu menusuk ke sela-sela mataku yang tidak sepenuhnya terbuka. “Cahaya apa itu?” gumamku pelan.

Karena rasa penasaran yang membuncah di hati, aku berjalan mendekati pagar itu dan masuk ke dalamnya terlihat rumah dua lantai yang sangat artistik.

Aku mengendap-endap memasuki rumah tersebut seperti seorang pengintai melihat kanan dan kiri.

Pemandangan di depanku sungguh menakjubkan, ada banyak sekali lukisan kuno, frame penghargaan dan piala-piala tersusun rapih di rak kaca.

Sesaat aku dibuat terpana dengan keadaan ruangan di mana aku berdiri. Warna yang diberikan pada ruangan ini pun sangat menghidupkan suasana sehingga membuat ruangan di dalam bangunan ini terasa agung dan juga unik.

“Bagus banget rumahnya.” Ucapku pelan mengagumi isi di dalam rumah tersebut.

“Hemm… ehemm…” Suara seorang pria mengagetkanku dari arah belakang.

“Waahhh….” Aku berteriak berbalik hendak melarikan diri. Tetapi aku sangat terkejut sampai-sampai langkah kakiku terhenti, mulutku terbuka lebar tatkala melihat sang pangeran berkuda putih, eh ralat pemuda tampan memegang camera. Aku malah melongo ke arahnya dan pasti wajahku terlihat sangat bodoh.

“Hai…” Satu kata pertama yang ia ucapkan membuat hatiku berdebar. Senyum seindah itu tak akan mudah hilang dalam benakku.

“Nichkhun (salah satu personil boyband 2PM asal Korea Selatan).” Gumamku pelan.

“Kamu sedang apa?” Katanya dengan seulas senyum yang membuatku mabuk kepayang.

“Hah…” Aku belum sadar juga dari keterkejutan dan kekagumanku.

“Kamu sedang apa di rumahku?”

Tanyanya lagi dengan menaikan alisnya dan segurat senyuman tipis.

“Gila, gantengnya pake banget.” batinku.

Aku benar-benar gagal fokus.

“Hah… Sedang apa di rumahku?” Dengan bodohnya aku mengulangi pertanyaannya.

Pria ini seperti mempunyai ilmu sihir yang membuat hatiku tersihir seketika. Ketampanannya memang tak terbantahkan, pesonanya sungguh luar biasa, bahkan mungkin dirinya tidak bisa menghindar dari jerat kesempurnaan itu.

Tiba-tiba aku tersadar dari ketololanku. Mukaku memanas. Aku tidak bisa berkata-kata cuma tersenyum malu padanya. Lalu, aku tertunduk, menyembunyikan rasa maluku.

Sungguh memalukan, saat sedang memata-matai malah ketahuan si pemilik rumah.

“Hahahaha….” Tawanya renyah. Ia berjalan dan duduk di sofa.

“Kakak lupa mempersilahkan tamu untuk duduk, sini…!”

Kembali ia berkata sambil menepuk sofa di sampingnya dan menaruh cameranya di atas meja.

Namun aku tetap berdiri di tempatku sembari berusaha menetralkan perasaanku.

“Hei… Kok melamun? Silahkan duduk.” Katanya lagi dengan suara yang sangat bersahabat sambil memandangku lekat.

“Eh… Iy… iya Kak.” Jawabku gugup, jantungku berdebar-debar sambil melangkah dan duduk di sofa tepat di hadapannya.

“Nama kamu siapa?” tanyanya dengan senyum ramah yang menawan.

“Siren, Kak.” Jawabku pelan.

“Kamu baru pindah ke sini?” Tanyanya lagi.

“Hah?” Jawabku masih dengan kebingungan. Kulihat dia tersenyum melihat tingkahku yang konyol ini.

“Eh.. Ada tamu rupanya. Cantik… Siapa namanya sayang?” Suara seorang wanita anggun dari arah dalam rumah mendekatiku dan duduk di sebelahku.

“Kenalin nama Tante Marta, Maminya Revan.” Ucap tante Marta menjabat dan menggenggam tanganku. Senyum keibuan yang terpancar dari wajah tante Marta membuatku nyaman.

“Aku Siren, Tante… Adiknya Kak Deni yang tinggal di seberang rumah. Em…em… Maaf aku masuk rumah Tante gak permisi dulu.” Kataku dengan wajah memerah dan menundukan kepala.

“Iya, gak apa-apa kok. Tante malah seneng kamu ke sini jadi Tante ada teman ngobrol. Oiya Tante bikin minum dulu yah. Van (Revan) kamu temenin Nak Siren ngobrol, Mami ke belakang sebentar.”

“Iya, Mi.” Jawab kak Revan dengan senyum menawan yang tak pernah lepas dari wajahnya.

“Eh.. Maaf Tante. Gak usah, aku pulang aja yah. Udah sore takut Kak Deni nyariin hehehe…” Sergahku karena masih merasa malu dengan mereka.

“Loh kok buru-buru?” Tanya tante Marta.

“Aku ada tugas sekolah Tante, hehe… Aku permisi dulu yah Tante, Kak.” Ucapku mengakhiri percakapan kami dan lekas keluar dari rumah kak Revan.

Langkahku panjang dan kencang agar aku bisa secepatnya meninggalkan rumah tersebut.

Hari hampir gelap saat itu, aku masuk ke pekarangan samping dan mencuci tanganku di wastafel yang berada di sudut dinding.

Aku bercermin sejenak pada kaca di atas wastafel. Baru aku menyadari setalah berkaca. Pakaian yang aku kenakan, sangat kotor dan lusuh karena terkena tanah lembab.

“Duh ngemaluin banget sih hiks… hiks… Ketemu cogan (cowok ganteng) pake baju beginian. Muka gue juga kotor mirip upik abu hiks… hiks…” batinku merana.

Sampai sekarang aku masih gak habis pikir kenapa tante Marta bilang aku cantik.

Sungguh sesuatu!

Setiap hari aku berkunjung ke rumah kak Revan dan semakin akrab saja dengan Tante Marta yang telah menganggapku seperti anak sendiri.

Sifat ‘pecicilan’ yang aku punyai gak pernah hilang.

Sifat serba ingin tahu membuatku terkadang bertingkah aneh-aneh.

Tetapi mereka tetap baik dan perhatian terhadapku.

Kantor kak Revan berada di samping rumahnya. Terdapat satu ruangan terpisah dengan rumah induk.

***

Setiap malam mimpiin kak Revan, suaranya terdengar dimana-mana.

Aku lagi kasmaran. Sehari saja gak ketemu pikiran gak tenang.

Satu kalimat yang cocok untuk saat ini ialah Love at first sight.

Aku search ‘1001 cara menahlukan pria’.

Hal pertama yang harus kulakukan adalah menjadi pribadi yang menyenangkan. Gak sulit buatku melakukan hal itu. Aku gadis yang ceria.

Kugunakan taktik tersebut untuk membuat kak Revan senang bila ada di dekatku.

Kubuat kata rayuan untuk menahlukan hati kak Revan.

Saat itu aku baru pulang dari sekolah masih menggunakan seragam. Bertemu kak Revan di depan gerbang.

Kugunakan kesempatan itu dengan baik. Kulancarkan aksi pertamaku.

“Hai.. Kak, lagi ngapain?”

“Hei.. Mau pergi ada klien. Siren udah pulang sekolah?

“Iya. Kak bunga-bunga apa yang suci?”

“Tebak-tebakan?”

Aku manggut-manggut.

“Em… Bunga melati?”

Aku geleng.

“Bunga mawar?”

Aku geleng lagi.

“Terus bunga apa?”

“Bunga-bunga cintaku yang semakin merekah, Kak.” jawabku menundukkan kepala.

Kak Revan tertawa kencang. Mengacak-acak rambutku gemas.

***

Keesokan harinya…..

Hari ini aku gak keramas!

Kerjaku di sekolah hanya senyum-senyum sendiri sambil mengengelus-elus rambutku dan menciumnya.

“Bekas di pegang Kak Revan hehe..” batinku.

Sahabatku Vita bilang ‘Aku mulai gak waras’.

Yup, betul! Aku memang tak waras sejak bertemu dengan kak Revan.

Malam tadi aku membuat puisi cinta. Ku tulis pada selembar kertas dan ku simpan di tas. Spesial buat kak Revan.

Pulang sekolah aku berlari tergesa-tega masuk ke rumah kak Revan. Rasanya gak sabar buat bacain puisi cinta.

Aku yang gak tahu malu masuk tanpa permisi ke kamar kak Revan.

Aku menemukan kak Revan duduk santai di sisi tempat tidur.

“Kalau liat beginian rasanya pengen nemplok aja.” batinku.

Kak Revan memakai kemaja biru dengan tangan digulung ke siku dan jeans. Style anak muda jaman sekarang.

“Kak Re, hehe…”

“Hei.. Baru pulang? Sini duduk temenin ngobrol.”

“Aku mau bacain puisi aku buat Kakak. Kakak dengerin yah! Ehem..ehmm..”

Kumantapkan hatiku mulai membaca puisi.

Ada apa denganku ini?
Bergetar saat melihatmu
Tersenyum saat memandangmu
Bersedih saat tak bersamamu

Puing-puing itu telah menjadi bukit
Gelas kosong itu kini telah terisi
Seperti rasa ini yang kian tumbuh setiap harinya

Jangan bicara tanpa suara
Aku tak bisa mendengarnya
Jangan menulis tanpa tinta
Aku tak bisa membacanya

Berjalanlah dengan perlahan
Telusuri jejak kakiku dipasir itu
Aku masih disana
Di sebelah timur menantikan fajar datang di pagi hari

Pukk Pukk Pukk..

Kak Revan bertepuk tangan sembari tersenyum.

“Gimana… Gimana…? Bagus gak?” tanyaku antusias.

“Bagus… Baguss… banget. Kamu buat sendiri?”

“Iya dong, siapa dulu Siren.” sombongku menaikan kerah baju seragamku.

“Ya udah, ini buat Kakak. Besok aku dateng lagi. Jangan bosen yah! Hehe… Bye..bye…”

Aku menyerahkan puisi buatanku dan segera pulang.

Ku mulai baca kembali ‘1001 cara menahlukkan pria’.

Aku gak patah semangat.

Seperti ibuku bilang. “Setiap usaha pasti ada hasil.”

***

Hari setelah kemarin…..

Sungguh indah bunga seruni
Berwarna merah dipetik sayang
Aku membuat pantun ini
Ingin memikat hati si abang

Bertengger tegak di pohon randu
Indah nian bak cendrawasih
Aku t’lah lama berkalung rindu
Berikanlah hatimu wahai kekasih

*Pantun cinta yang aku tulis buat kak Revan.

Tergesa-gesa kumasuki pekarangan rumah kak Revan. Ia baru saja menuruni tangga.

Tampak ada yg aneh!

Mataku melotot serasa ingin keluar.

Kak Revan mengenakan kaos singlet putih terbalik dan boxer yang menggembung. Rambut kak Revan khas orang baru bangun tidur.

Glek.

Aku meneguk saliva. Wajahku merona.

“Kak, hehe… Emm.. Itu Kak.” gugupku menunjuk dengan jari telunjukku.

“Kamu kenapa?”

“Kaos Kakak terbalik, sama itu emm.. La.. Laen kali pake celananya yah!”

Kak Revan melihat sesaat pakaian yang ia kenakan. Ia tergelak pelan.

“Aku buat pantun Kak, dibaca nanti yah Kak, aku balik dulu.”

Kuletakan di atas meja selembar kertas berisi pantun cinta.

“Gak mampir dulu?”

“Buru-buru Kak, banyak kerjaan. Bye..bye..”

Teriakku dengan langkah seribu keluar dari pekarangan rumahnya.

“Wow… Pemandangan yang indah tapi belum waktunya.” gumamku menggeleng-gelengkan kepala. Kedua tanganku memegang dada, menenangkan debaran jantungku.

Flashback off.