RONAKEHIDUPAN

0
857

kehidupan yang kualami, sebelumnya aku akan memberikan sedikit gambarantentang diriku. Alya namaku, aku seorang wanita yang telah 26 tahun berada di dunia ini, aku terlahir dari buah cinta seorang keturunan Pakistan dan Jerman, jadi tak heran kalau aku mewarisi kecantikan ras bangsa aria dengan tinggi hampir 170 cm dan berat badan yang ideal. Aku sendirisangat bersyukur karena Tuhan memberikan anugerah kecantikan dan kemolekan tubuh seperti ini, wajar saja semasa kuliah dulu aku sering menjadi rebutan temanpria di kampusku. Sekarang aku telah menjadi Ibu rumah tangga dan aku pun sangat mencintai kekasih yang kini menjadi suamiku. Mungkin karena berada di tempat yang baru dengan suasana baru pula yang membuat aku dan suamiku begitu bergairah malam ini. Memang tadi siang kami baru berjalan-jalan di sekitar kotauntuk hanya sekedar mengenal tempat yang untuk beberapa waktu kedepan akan menjadi tempat tinggalku yang baru. Mas Rohan suamiku memang baru mendapat promosi untuk memimpin cabang perusahaandimana suamiku bekerja, danaku memang terpaksa ikut dengan suamiku pindah kekota baru ini karena aku tidak mau berpisah dengan Mas Rohan suamiku. Sudah hampir setahun pernikahan kami, tetapi rasanya baru kemarin kami berhadapan dengan penghuludi hadapan sanak keluarga. Aku sangat mencintai Mas Rohan suamiku dan begitu juga sebaliknya sehingga rasanya kami menikmati bulanmadu terus setiap hari walaupun sudah hampir setahun usia rumah tangga kami. Seperti malam ini walaupun seharian kami keliling kota Bandung, tapi rasanya kami tidak merasa lelah untuk sekedar menumpahkan rasa cinta kamiyang begitu menggebu. “Ayo dong Mas, katanya Mas mau bawa aku terbang malamini..” Mas Rohan memang tidak pernah menolak kalau aku sudah mulai merajuk seperti itu. “Iya, sebentar Mas mau ambilair minum dulu ya, sayang..”, ujarnya sambil beranjak dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar untuk mengambil segelas air. Mas Rohan memang biasa menyiapkan air minum sebelum kami melakukan
hubungan suami istri, katanya biar tambah tenaga kalau nanti mau ronde kedua.
Sepeninggal Mas Rohan aku segera menanggalkan pakaianku sehingga aku kini telanjang bulat dan segera masuk kebalik selimut. Ketika Mas Rohan kembali aku berpura-pura memejamkan kedua mataku. “Lho, katanya mau terbang ko malah bobo sih”. Aku diam saja, Mas Rohan duduk ditepi tempat tidur danmenarik selimutku. Mas Rohansedikit terkejut ketika mendapati tubuhku yang sudah telanjang bulat ketika dia menarik dan mencampakkan selimut tersebut ke lantai. photomemek.com Tentu saja bila melihatku sudah seperti ini Mas Rohan akan segera menanggalkan pakaiannya dan langsung menerkam tubuh molekku yang tengah menanti kedatangannya. “Hhh.. Ssshh..”. Mulutku mulai mengeluarkan suara, tangan Mas Rohan mulai menelusuri tubuhku, agak tergesa ia menyentuh dua bukit kembar yang membubung di dadaku. Aku semakin memuncak, kali ini usapan lidah Mas Rohan yangbermain di dadaku. Lama ia mengulum, menjilat dan terkadang menggigit kecil puting susu yang telah tegakberdiri dengan kokohnya di kedua belah payudara indahku. “Hhh.. Alya sayang.. ayo kita terbang sayang..”. Aku diam dan menjawab erangan Mas Rohan dengan perlawanan cumbuan yang semakin panas. Perlahan mulut Mas Rohan turun menjalar mendekati perutku dan terus melewatinya dan akhirnya.., sentuhan lidah yang basah kembali kurasakan menyapu organ tubuhku yang paling sensitif, mulutku mulai meracau entah kemana dan kujepit erat kepala Mas Rohan dengan kedua paha putihku. Hampir setiap kami melakukan hubungan badan tiap saat itupula Mas Rohan memainkan liang kewanitaanku dengan jilatan dan sapuan-sapuan lidah yang basah, tapi aku seakan tidak pernah bosan terus saja ingin kembali mendapat sensasi yang menyenangkan itu. “Ohh.. Mas.. ayo.. Mas aku sudah siap.. ak.. aku.. sudah basah..”. Aku mulai membuka lebar kedua kakiku menanti tindakan Mas Rohan selanjutnya. Perlahan Mas Rohan mulai merayap naik mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku. “Sebentar ya sayang.. aku
pake ini dul u”. Mas Rohan bergerak mengambil bungkusan kecil berisi kondom yang memang selalu tersedia di laci tempat tidur kami. “Sudahlah Mas.. nggak usah pake itu sekarang.. aku udahnggak kuat nih” “Iya.. sebentar yaang..!” Dengan sigap Mas Rohan memakai kondom dengan tangan kanannya sedangkan tangan kiri tetap tak lepas dari puting susuku seakan takut lepas dari genggamannya. Memang kami selalu melakukan safe sex untuk mengatur kelahiran anak kami, Mas Rohan belum berkeinginan untuk punya momongan saat ini, katanya ia belum siap dan ingin menyiapkan segalanya dulu untuk anak-anak kami. Kalau tidak dengan sistem kalenderya dengan memakai kondom pada saat masa subur memang sangat membantu menunda kehamilanku. Aku sendiri kurang senang dengan keadaan seperti ini, disamping aku memang sudahingin punya momongan juga karena rasanya ada sesuatuyang kurang bila saat bersetubuh ada yang menghalangi penyatuan kami walaupun itu hanya sebuah karet tipis. Walaupun itu tidak mengurangi kenikmatan hubungan sex tapi terkadangaku selalu ingin lebih dari apa yang diberikan Mas Rohan. Aku memang tergolongwanita dengan hasrat sex yang begitu tinggi, terkadangaku baru benar-benar terpuaskan bila sudah mencapai orgasme lebih dari satu atau dua kali. Aku sudah benar-benar basah, kali ini Mas Rohanpun telah siap memasuki diriku. Perlahan ia mengarahkan senjatanya ke selangkanganku dan sedikit dibantu dengan goyangan dari pantatku, amblaslah senjata kebanggaan milik Mas Rohan di vaginaku, walau tidak terlalu besar tapipenis ini telah benar-benar membuatku mabuk kepayang akan nikmatnya bercinta. “Ohh..” mataku terpejam, detik berikutnya kami berpacu saling mengisi satu sama lain dalam hasrat birahi, goyangan dan genjotan diiringi ciuman dan gigitan kecil meng hiasi kamartidur kami, dan akhirnya.. “Aaa.. All.. Alyaa..!” sedikit terpekik Mas Rohan mengejang untuk beberapa saat dan akhirnya terkulai lemas diatas tubuhku. Mungkin karena terlalu capeksehabis seharian jalan-jalan
Mas Rohan mencapai klimaks terlebih dulu meninggalkan aku yang tengah berpacu mengejarnya. Rasanya seperti digantung ditempat yang jauh, aku berusaha mengejar dengan terus menggoyangkan pantatku dan memeluk erat tubuh Mas Rohan yang terkulai lemas. Walaupun akhirnya masa klimaks itu datang juga tetapiaku tetap saja seperti belum benar-benar melayang seperti masa-masa pertama kami melakukan hubungan sex, ya aku selalu ingin lebihtapi aku hanya diam memeluk tubuh Mas Rohan yang masih menindihku. “Terima kasih Alyaku Sayang..”, Mas Rohan mengecup telingaku sambil berbisik dan kemudian tertidur disampingku. Pagi ini sengaja Mas Rohan mengajakku untuk bersama kekantornya dan akupun ingin melihat kantor baru MasRohan sekaligus berkenalan dengan para karyawan disana. Sesampainya di kantor kami mulai berkenalandengan para karyawan. “Rekan-rekan sekalian inilah pimpinan kita yang baru silakan anda semua berkenalan dengan beliau”. Pak Yonas mulai memperkenalkan kami kepadapara karyawan. satu persatukami mulai bersalaman dan saling memperkenalkan diri masing-masing mulai dari stafmanager sampai karyawan level dibawahnya. setelah selesai acara perkenalan akhirnya Pak Yonas menunjukan reuangan kantorsuamiku, sedikit tentang Pak Yonas ini adalah wakil pimpinan sementara sebelum suamiku mengambil alih tugasmemimpin perusahaan ini. Ia berumur sekitar 32 tahun dengan porsi tubuh begitu proporsional menurutku dan suamiku pun telah mengenal sedikit tentang Pak Yonas karena ia pernah di tempatkan di kantor pusat bersama suamiku. “Mari silakan Pak, Bu.., ini kantor Bapak yang baru disini ” “Oh.. iya terima kasih Pak Yonas, nah ini Ma, kantor baru Papa” “Wah bagus juga ya Pa, saya rasa tak kalah bagus dengan suasana yang di kantor pusat” “Silahkan Pak, sebentar sayatinggal dulu” “Iya.. iya silakan” Setelah Pak Yonas pergi kemudian kami masuk ke ruangan kantor yang cukup lebar dengan segala sesuatuyang tertata rapi. Karena nggak kikuk aku sengaja melepas blazer warna cerah
yang kukenakan, pagi itu akumemekai pakaian agak sedikitformal dengan rok selutut dan blo use warna putih tanpalengan yang lumayan tipis lalu di di tutup dengan blazer, wah anggun sekali aku kelihatannya pagi ini. Tok.. tok.. tok.. tiba-tiba pintukantor terdengar diketuk dari luar. “Masuk!” Mas Rohan mempersilakan untuk segera masuk. “Maaf Pak, saya hanya mau ngasih berkas laporan terakhir cabang di sini Pak”. Ternyata Pak Yonas yang masuk dan membawa berkas untuk di berikan kepada suamiku. Pak Yonas agak sedikit terkejut ketika matanya tertuju ke arahku yang telah membuka blazer tadi sehingga lengan muluskuterlihat jelas dan garis BH kuterpampang karena tipisnya blous yang kukenakan. Lama ia menatapku dengan tatapanmata yang tajam membuat aku agak risih dan tentu sajadadaku berdegup kencang. “Oh iya makasih Pak Yonas” “Baik Pak saya permisi dulu” “Silahkan!”, setelah Pak Yonas pergi Mas Rohan mendekatiku dan duduk di sofa yang tertata di kantor itu. “Gimana Al, Baguskan suasana disini?” “Ya.. lumayan ramah juga orang-orangnya, tapi Pak Yonas itu agak aneh ya Mas”
“Ah, enggak mungkin karena dia baru melihat kamuaja sehingga dia kaya gitu, sebenarnya di baik dan ramah kan?” “Iya juga sih Mas..”. Lama aku di kantor Mas Rohan hingga saat makan siang dan kamipun makan bersama beberapa staf manager. Mas Rohan banyak bercerita terutama tentang aku, semua kebaikanku dan kemanjaan seakan menjadi kebanggaan bagi Mas Rohan. filmbokepjepang.com Kemudian mereka pun berbagi cerita ringan sekitar maslah keluarga dan setelah acara makan siang selesai aku diantar pulang oleh Mas Rohan kerumah setelah itu ia kembali ke kantor. Tidak terasa sudah hampir sebulan kami tinggal di Bandung ini dan akupun semakin betah saja tinggal disini. Hampir setiap akhir pekan sengaja suamiku mengajak beberapa karyawannya untuk sekedar rekreasi bersama bersama keluarga masing-masing sehingga semakin mengenal satu sama lain. Hanya Pak Yonas yang selalu hadir tanpa didamping keluarga nya karena memang ia belum
beristri apalagi punya anak, katanya ia belum siap ia untuk memulai keluarga. Ternyata memamg Pak Yonasini orangnya baik dan sangant menghormati Mas Rohan dan aku sebagai sesama rekan sekaligus atasannya. Terkadang ia datang kerumah hanya sekedar untuk mengobrol dengan kami berdua dan meminta pengalaman berumahtangga katanya. Pagi itu setelah Mas Rohan berangkat kekantor, seperti biasa aku mulai beres-beres merapikan rumah karena akumemamg sengaja tidak mau ketika Mas Rohan menyuruhku untuk cari pembantu. Alasannku karena aku juga ingin punya kesibukan dan mengurus suami dengan baik, setelah membereskan rumah dan memasak untuk makan siang aku lalu bergegas mandi untuk membersihkan tubuhku.Segar sekali rasanya guyuran air menyiram tubuhku, lama aku berendam dengan air hangat sambil membayangkan perlakuan Mas Rohan ketika kami memadu cinta walaupun akhir-akhir ini memang Mas Rohan sering kecapean dan terpaksa meninggalkanku untuk tidur lebih dulu. Setelah mengeringkan badan,kutatap tubuhku didepan cermin kamar mandi, dan akupun tersenyum sendiri melihat kemolekan tubuhku. Sepasang gumpalan gading yang membusung dengan porsi tak kurang dari 36b, perut yang ramping dan kaki yang jenjang semua itu selalu kurawat dengan baik untuk aku persembahkan kepada suamiku tercinta. Akumulai mengelus bulu-bulu hitam yang tumbuh di antara kedua paha mulusku, segera kuambil gunting kecil untuk memangkas bulu-bulu itu yang sudah mulai panjang. Aku memang selalu mencukurnya bila demikian agar selalu kelihatan rapi, setelah kubersihkan dengan sabun sirih yang dapat membuat wangi aroma vaginaku lalu aku mulai mengenakan pakaian. Aku mengenakan bluos model ‘U can C’ dengan rok yang agakpanjang menutupi lututku. Baru saja kunyalakan TV diruang tengah untuk melihat telenovela kesayanganku, tiba-tiba terdengar suara belberbunyi tanda ada seseorang datang bertamu. “Sebentaar..!” Bergegas aku menuju pintu depan untuk membuka pintu, kupikir tumben Mas Rohan pulang secepat ini untuk makan siang.
“Selamat siang Bu..” “Eh.. Pak Yonas, ada apa Pak?” ternyata tamu itu adalah Pak Yonas asisten suamiku. “Anu Bu, Bapak ada meeting dengan klien dari jepang siang ini dan Bapak membutuhkan berkas yang ketinggalan di rumah, jadi.. saya diminta Bapak untuk mengambilnya kesini”, dengan sopan Pak Yonas menyampaikan maksud kedatangannya. “Oh.., hmm tapi saya nggak tahu mana berkas yang Bapak butuhkan, soalnya banyak file yang menumpuk di meja Bapak, nanti saya ambil dulu ya Pak.. mari silakan duduk dulu!” “Oh.. iya Bu, tapi maaf Bu.. kalau boleh saya minta segelas air, kalau enggak merepotkan?” “Ah enggak kok, sebentar saya ambilkan, silakan dudukdulu!”, kemudian aku menuju dapur dan kembali membawa dua gelas es sirop ke ruang tamu. “Silakan diminum Pak, saya ambil berkasnya dulu ya” “Iya Bu, Terima kasih”. Lalu aku menuju ruang kerja Mas Rohan untuk mengambil berkas yang dimaksud, tapi karena aku tidak tahu mana berkas yang di maksud akhirnya kubawa semua map yang berisi berkas-berkas yang ada di meja kerja suamiku. “Ini Pak, tapi saya nggak tau berkas yang mana”, kemudian saya duduk setelahmenyerahkan berkas-berkastersebut. “Iya Bu, biar saya cari sendiri” “Lho kok airnya belum diminum, ayo Pak minum dulu”
“Oh iya Bu makasih”.
Pak Yonas mengambil gelas sirop yang ada di hadapannya dan akupun mengambil gelas yang ada di depanku untuk sekedar menemaninya minum. Lama Pak Yonas memilih berkas yang kuberikan sambil kuperhatikan didepannya, dengan teliti Pak Yonas mengamati berkas-berkas tersebut. Rupanya mungkin karena matahari yang mulai meninggi sehingga aku merasa agak gerah menyerang tubuhku, padahal aku baru saja mandi sebelumPak Yonas datang. Entah apayang terjadi, yang jelas kurasakan ada sesuatu menyerang diriku, rasa gerah itu meninggi sehingga menimbulkan gairah dalam dadaku. Aku semakin kelihatan gelisah dan rasanya sensitifitas tubuhku kian bertambah saja karena sedikit saja pantatku bergerak untuk bergeser dari tempat dudukku, rasanya gesekan itu semakin
nikmat menekan belahan vaginaku dari luar. Untung saja Pak Yonas terfokus pada berkas-berkas tersebut sehingga tidak menyadari kalau aku semakintampak gelisah. Kutatap Pak Yonas yang lagi asyik dengan berkas-berkas dihadapanku, semakin tambah saja gairah birahi didadaku. Sosok tubuh Pak Yonas mengingatkan aku akan belaian tubuh Mas Rohan suamiku, Oh.. Tuhan mungkin aku mulai gila karena tiba-tiba saja aku membayangkan tubuhku dicumbu oleh Pak Yonas. Detik berikutnya aku merasa pusing menyerang kepalaku dan rasa kantuk menyerang kedua mataku. “Maaf Pak, saya tinggal dulu kepala saya agak pusing” tanpa menunggu jawaban PakYonas aku berdiri hendak menuju kamar tidurku, tapi kalau saja Pak Yonas tidak menangkapku pasti aku akanterjatuh kelantai. “Bu Alya.. Ibu kenapa?” “Entahlah Pak.. Kepala saya pusing” “Kalau begitu mari saya antarke kamar” Akhirnya aku dituntun Pak Yonas menuju kamar tidurku sambil sebelah tanganku memeluk tubuh Pak Yonas. Lalu aku di baringkan diatas tempat tidurku dan Pak Yonas bergegas keluar kamar. Selang berapa lama Pak Yonas kembali kedalam kamar sambil tangan nya membawa sesuatu yang entah apa karena aku mataku benar-benar tersa berat. Antara sadar dan tidakkudengar Pak Yonas menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam, lalu ia meletakan sesuatu diatas meja rias kamar tidurku. “Lho Pak, kok pintunya dikunci” Hanya itu yang keluar dari mulutku, Pak Yonas diam tak menjawab tapi ia beranjak mendekati aku yang tergolek lemas ditempat tidurku. Diambang kesadaran kurasakan sesuatu yang basah merayap menelusuri kakiku dan terus beranjak naik menuju pahaku, tanganku berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang menelusuri kaki dan pahaku. “Oh.. Pak Yonas.. apa yang Bapak lakukan..” aku tersentak kaget ketika kudapati ternyata lidah Pak Yonas menempel di belahan pahaku. “Tenanglah Bu.. nikmati saja..”, aku berontak, aku tak bisa membiarkan kekurang ajaran orang ini, aku harus bisa melepaskan diri dari bajingan ini, tapi tak berdaya aku melakukan
semua itu, tubuhku lemas danyang lebih celaka lagi dorongan hasrat yang menggebu itu bertambah menjalari seluruh tubuhku. “Bajingan kau.. lepaskan!, aku ini istri atasanmu..” tapi Pak Yonas menjawab teriakanku dengan tangannya yan g berusaha menarik rok yang aku kenakan dan mencampakannya ke lantai dan selanjutnya kedua tangannya pula yang menarikcelana dalamku sehingga terlepas dari tempatnya, maka terpampanglah bagian tubuhku yang paling rahasia yang selama ini hanya aku dan suamiku yang tahu keberadaannya. “Kurang ajar.. Bajingan.. lepaskan..!” kembali aku berteriak sambil berusaha menendang, tapi lagi-lagi akubegitu lemah dan tiba-tiba saja lidah Pak Yonas yang basah menyeruak menyapu organ tubuhku yang paling sensitif. “Akhh..” Oh.. Tuhan nikmat sekali rasanya lidah orang ini, tubuhku mengejang, lama lidah Pak Yonas bermain dengan Vaginaku dan sesekali ia menyentuh dan menggigit clitorisku yang mulai mengembang dan mengeras. Cairan vaginaku mulai keluar meleleh berbaur dengan air liur Pak Yonas yang masih saja menusukan lidahnya ke vaginaku. Tiba-tiba tubuhku kembali menegang, dan kurasakan sesuatu menjalar diseluruh tubuhku dan seakan berkumpul dirahimku lalu.. “Ohh.. hh.. Akh..” erangan panjang dari mulutku mengiringi semptotan cairan hangat yang keluar dari dalam liang vaginaku dan membasahi mulut Pak Yonas. Pelacur.. aku orgasme dengan orang selain suamikudan hendak memperkosaku dengan biadab, tapi rasanya nikmat sekali orgasmeku yang pertama dari Pak Yonasini dan aku selalu menginginkan lebih dari itu. Kini tubuhku benar-benar lemas sambil kedua pahaku tetap menghimpit kepala Pak Yonas dengan nafas yang terengah-engah. Perlahan Pak Yonas melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan merayap keatas tubuhku yang masih belum bisa membuka mataku. “Gimana sayang.. kita lanjukan permainan ini?” Pak Yonas berbisik ditelingaku. “Ja.. hh.. jangan Pak sudah..” sebentar Pak Yonas menghentikan aksinya mungkin untuk memberiku kesempatan mengumpulkan tenaga kembali.
“Bu Alya, Ibu tahu kalau sayaudah jatuh cinta saat pertama melihat Ibu, jadi nikmati saja tanda cinta dari saya. “Tidak Pak.. jangan..” setengah menangis aku memelas agar ia mau melepaskanku dari nafsu bejatnya. “Pak Rohan sangat beruntung memiliki Ibu.., cantik dan bertubuh idaman lelaki..” sambil terus bicara rupanya Pak Yonas menaggalkan seluruh pakaiannya. Dengan lembut ia mencium keningku, hidungku, pipiku dan sambil menghembuskan nafasnya ia mencium telingaku membuat gairah dalam tubuhku kembali berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri. “Bibir Ibu indah..” itu yang terdengar sebelum ia melumatkedua belah bibir sensualku, aku berusaha menghindar tapi nikmat sekali rasanya. Perlahan aku mulai membalas dengan membuka bibirku membiarkan lidah Pak Yonas menyeruak masuk kedalam mulutku. Ia melepaskan ciumannya lalu bergerak menelusuru leherku dan berusaha menggigir puting susuku yang masih terbungkus rapi oleh blous dan BH. Kembali tangannya merayap menggerayang perutku lalu menari blouseku keatas dan melepaskannya, kini pertahanan diriku hanya BH yang menutup rapat kedua gumpalan payudaraku.
“Beautifull breast.. indah sekali sayang..” Dengan sekali tarik terlepaslah BH itu dari tubuhku sehingga kini aku telanjang bulat di hadapannya. lalu ia menyentuh bagian terakhir dari tubuhku yang belum dijamahnya, kedua payudara yang indah milik suamiku. “Padat dan kenyal.. kau memang pandai merawat tubuh sayang..” Ia mengulum dan membenamkan wajahnya di belahan dadaku. aku menggelinjang dan hasratku lebih berkobar akhirnya kudekap tubuh yang menindihdiatasku, oh.. Tuhan ia sudahtelanjang bulat, kurasakan belahan pantatnya di kedua tanganku. Lama ia menelusuridan mengeksploitasi payudaraku ketika tiba-tiba ia bergerak merenggangkan tubuhnya dari tubuhku dan beringsut naik sehingga kurasakan sesuatu yang keras menempel di wajahku, aku tersentak kaget. “Ayo sayang mainkan punyaku please..!” kudengar ia merajuk sambil menarik tanganku untuk memegang
dan memainkan benda itu. Ia mengarahkan kemulutku tapi aku tak mau, benar-benar tak mau karena aku memang tidak biasa melakukannya juga dengan Mas Rohan suamiku. “Ti.. tidak.. aku nggak mau” “Ayo sayang buka mulutmu, nanti kau akan menikmatinya..” Dengan agak terpaksa aku membuka mulutku dan mulai menciumi pen is Pak Yonas, sebenarnya ukuran penis Pak Yonas hampir sama dengan milik suamiku tetapi punya Pak Yonas sedikit lebih panjang dan agak membesar di bagian kepalanya. Akhirnya perlahanaku mulai menjilati dan mengulum penis itu. “Ohh.. Nikmat sekali sayaang,kau memang pintar” Pak Yonas mengerang sambilmeremas rambutku lalu ia mendorong dan menarik penisnya di mulutku. Aku terus mengutuk diriku yang rela memberikan sesuatu yang lebih pada orang lain daripada untuk suamiku karena selama ini aku selalu menolak kalau Mas Rohan minta untuk memasukan penisnya ke mulutku. Lama Pak Yonas menikmati sentuhan lidahku sampai akhirnya ia pun tak tahan untuk segera mengakhiri semuanya. Perlahan kembali ia merayap turun mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku sambil terus melumat wajah dan payudaraku. “Jangan.. Pak.. aku mohon jangan.. aku nggak mau menghianati suamiku.. please..!” untuk kesekian kalinya aku memelas sambil berusaha merapatkan kedua kakiku dan mendorong tubuh Pak Yonas agar menjauh dariku. Tanpa mempedulikan rintihanku Pak Yonas bergerak berusaha membukakakiku dan menempatkan tubuhnya diantara kedua kakiku. Dengan reflek kedua tanganku bergerak menutupi selangkanganku, tapi kembalitanagn Pak Yonas menarik kedua tangan ku dan membawanya keatas kepalaku. Langsung saja ia menyapu kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu dengan lidahnya, kembali akupun merasakan sensasi kenikmatan sebagai akibat sapuan lidahnya yang basah itu. “Ohh..” tubuhku bergetar sesuatu yang keras berusaha menyeruak masuk lubang kenikmatanku, dan perlahan benda itu mulai tenggelam dalam selangkanganku. Aku mendongak, mataku terpejammerasakan sensasi kenikmatan yang tiada taranya dan diakhiri dengan
satu sodokan kuat akhirnya amblaslah seluruh penis Pak Yonas kedalam liang vaginaku. Tubuhku terasa penuh seakan benda itu menancap tepat di rahimku, hilanglah sudah pertahanan terakhir kesucian rumah tanggaku. Tanganku mencengkram erat tubuh Pak Yonas dan menancapkan kuku-kukuku di pundaknya, perlahan tetesair mata mengalir disudut mataku yang terpejam. Lalu Pak Yonas mulai menggerakan pantatnya dan mulai mengobok-obok isi liang vaginaku. “Ohh.. Alya.. nikmat sekali.. Kau.. kau.. begitu rapat..” PakYonas terus mengocok vaginaku maju dan mundur dan akupun semakin menikmatinya, hilang rasanyarasa pedih dihatiku terobati dengan kenikmatan yang tiada taranya. Mulutku mulai meracau mengeluarkan desahan dan ocehan. “Akhh.. Pak.. Aduuh.. ohh..” lama Pak Yonas memacu birahinya dan akupun mengimbanginya dengan menggelora, sampai akhirnyakembali aku mengejang dan sambil memeluk erat tubuh Pak Yonas aku kembali menyemprotkan cairan yang meledak dalam rahimku, aku orgasme untuk yang kedua dari Pak Yonas. Untuk beberapa saat Pak Yonas menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuhku sambil melumat bibirku. Aku benar-benar menikmati orgasme yang kedua ini, mataku terpejam sambil kulingkarkan kedua kakiku ke pinggang Pak Yonas. Tak berapa lama kemudian Pak Yonas mencabut penisnya yang masih mengacung kokoh dari dalam rahimku. “Oh..” ada sesuatu yang hilang rasanya dari tubuhku. Perlahan ia bergerak menyamping dan membalikan tubuhku, kali ini aku pasrah dan lemah tak berdaya hanyamenurut saja. Kembali ia menaiki tubuhku, kali ini dari belakang dan mulai menusuk-nusukan penisnya ke pantatku. Akupun menyambut sodokan benda tumpul itu dengan sedikit membuka kakiku dan mengangkat pantat kenyalku, cairan yangkeluar dari rahimku mempermudah masuknya senjata Pak Yonas melalui jalan belakang dan kembali menancap di vaginaku. ia bergerak sambil kedua tangannya meremas payudaraku dari belakang dan menggenjotkan pantatnya menghantam liang vaginaku Gesekan demi gesekan
kurasakan semakin nikmat menyentuh kulit halus liang vaginaku, tanganku mencengkram erat seprei tempat tidurku yang acak-acakan. “Ohh.. Alya.. sayang.. bawa aku ke puncak.. Ohh..” Pak Yonas benar-benar hebat, ia bisa bertahan lama menggauliku dengan berbagaiposisi, sedangkan akupun semakin gila saja meladeni nafsu setan Pak Yonas. Untuk ketiga kalinya aku mencapai klimaks sedangkan Pak Yonas m esih saja berpacu diatas tubuhku. Sekarang pasisi tubuhku duduk dipangkuan laki-laki ini sambil mendekap dengan kepala mendongak kebelakang, leluasa ia mencumbu leherku yang mulaisudah basah dengan keringat yang keluar dari seluruh pori-pori tubuhku. Seakan tak pernah puas terus saja ia mengulum dan menjilati kedua payudaraku, kurasakan penis Pak Yonas menghujam telak keliang senggamaku yang mendudukinya. Kocokan demi kocokan yang semakin gaencar kurasakan menggesek kulir vaginaku sebelah dalam, erangan dan cengkraman menghiasi gerakannya. Kali ini aku benar-benar melepaskan seluruh hasratku yang selama ini terpendam, aku tak mempedulikan lagi siapa laki-laki yang menyetubuhiku, yang jelas aku ingin terpuaskan. Lama posisi duduk itu berlangsung sampai akhirnyatubuh Pak Yonas semakin gencar menyodok vaginaku, gerakannya semakin cepat. Pak Yonas menghempaskan tubuhku kembali terlentang ditempat tidur, tubuhnya mengejang dan memeluk rapat tubuhku sampai aku hampir tak bisa bernafas. Lalu kurasakan semburan hangat dengan kencang membentur dinding rahimku. “Akhh..” Pak Yonas mengerang panjang sambil menekan pantatnya kebawah dengan keras, kucengkram dan kembali kulingkarkan kakiku kepinggangnya dan akupun melepaskan sisa orgasme yang masih tersisa ditubuhku. Untuk orgasme yang terakhir ini kami berlangsung hampir bersamaan, akhirnya denganterkulai lemah tubuh Pak Yonas roboh menindih tubuhku yang lemas pula. Lama kami terdiam merasakansisa kenikmatan itu dan akhirnya Pak Yonas mulai beringsut menjauh dari tubuhku. “Terima kasih Alya sayang..” setengah sadar dan tidak
kudengar Pak Yonas membisikan kata-kata itu sambil mengecup keningku. Lalu ia berdiri mengambil sesuatu dari meja riasku danberdiri mematung di samping tempat tidur. Aku tidak tahu kapan ia pergi karena setelah itu aku tertidur karena lelah dan kantuk yang menyerangku tanpa mempedulikan keadaan kamartidurku yang acak-acakan. Jam lima sore aku baru terbangun dari tidurku, tubuhku serasa hancur dan capek bukan kepalang, aku tersentak kaget begitu kulihat jam di dinding kamarku menunjukan pukul lima sore. Oh.. sebentar lagi suamiku Mas Rohan pulang bagaimana kalau ia mendapatikeadaan diriku yang seperti ini dengan sisa sperma yang mulai lengket membanjir di selangkanganku. kulihat banyak sekali cairan sperma Pak Yonas keluar meleleh dari dalam vaginaku bercampur dengan cairan rahimku dan membasahi seprei tempet tidur. Setengahmerangkak aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dari bekas keringat dan dosa, guyuran air hangat membuat tubuhku sedikit lebih segar walaupun rasa capek itu masih tersa ditubuhku. Kulihat vaginaku memerah dan bekas cupangan nampak di payudaraku, lama aku berada di kamar mandi menunggu cairan sperma PakYonas keluar semua meninggalkan liang rahimku. selesai mandi cepat-cepat kubereskan tempat tidurku dang mengganti seprei serta sarung bantil guling dengan yang masih baru, aku tak ingin Mas Rohan curiga. Aku masih termenung memikirkan kejadian siang tadi, aku mengutuk diriku sendiri dan sangat menyesal dengan hal itu. Bajingan benar Pak Yonas itu, ia telahmenodai kesucian rumah tanggaku yang selama ini kujaga dengan baik. Yang lebih kusesalkan lagi akupun menikmati permainannya yangsangat nikmat. Belum pernah aku merasakan senggama sepanjang itu dengan Mas Rohan, aku bisa mencapai klimax sampai empat kali, kuakui hebat sekali permainan Pak Yonas. Jam delapan malam suamiku baru sampai dirumah. “Maaf ya Sayang, aku nggak sempat pulang makan siang, soalnya ada klien dari Jepang yang mengajakku makan siang” “Nggak apa-apa kok Mas..”
hanya itu yang keluar dari mulutku. Sebulan kejadian itu telah berlalu dan akupun menutup rapat mulutku dari siapapun walaupun itu teman baikku, aku tak ingin rumah tanggakuhancur dengan perceraian gara-gara kejadian itu. Dan selama itu pula aku aku mengabdi benar-benar kepada Mas Rohan suamiku, aku ingin membalas kelakuanku itu dengan menjadi istri yang baik dan mengabdi pada suami, tapi tetap saja perasaan bersalah itu terus menghantuiku. Kadang suamiku heran dengan perubahanku yang terkadan gmemanjakan dirinya, selama itu pula aku selalu berada dirumah, aku takut bertemu dengan bajingan itu lagi. Suatu ketika suamiku menjamu klien yang lumayan besar disebuah restoran, kami datang dengan pasangan masing-masing daninilah kali pertama aku bertemu dengan Pak Yonas yang ikut pada jamuan makantersebut. Ia datang bersama teman wanitanya yang lumayan cantik, katanya ia telah resmi bertunangan dengan wanita itu. Agak grogiaku ketika bertatapan dengan matanya. “Selamat malam Bu Alya apa kabar?, kenalkan ini Widya tunangan saya!”. Aku diam dan bersalaman dengan tunangannya, aku heran ternyata sikapnya masih sopan dan ramah padaku seakan tidak pernah terjadi sesuatu diantara kami. Klien suamiku kali ini seorang pria yang sudah berumur dengan tubuh yang agak tambun, ia didampingi teman wanitanya yang cantik dan agak nakal, aku tahu dari sikapnya ia hanya seorang perempuan panggilan yang sengaja menemaninya. Pak Wirya nama lelaki itu, yang tidak kulupakan ia mempunyai tatapan yang nakal ketika melihatku seakan menelanjangi seluruh tubuhku dan menghempaskannya ketempattidur. Dari gaya bicaranya pun ia terdengar agak kurang ajar dan membuatku sangat muak mendengarkannya. Tidak adakejadian apa-apa malam itu, aku pulang dengan suamiku dan perpisah dengan pasangan Pak Wirya dan PakYonas. Sudah menjadi kegiatan rutin Mas Rohan suamiku untuk memberikan laporan bulanan kekantor pusat di Jakarta dan hal ini kadang membuat Mas Rohan harus menginap dijakarta. Biasanya ia pulang
kerumah orangtuanya dan menginap disana, dan aku terpaksa sering ditinggal sendiri di Bandung. Seperti kali ini suamiku mesti kembali ke Jakarta dan menginap disana selama tiga hari, karena katanya akan ada meeting dengan dewan komisaris hari berikutnya. Seperti biasa sore itu baru saja aku kembali dari toko swalayan untuk membeli kebutuhan dapur, ketika sampai didepan pintu rumah kudapati sebuah bungkusan kado tergeletak disana. Dengan rasa penasaran kubuka bungkusan itu dan ternyata isinya adalah sebuah VCD kaset yang bertuliskan namaku di covernya, kuperhatikan sekeliling rumahku untuk mencari orang yang meletakan VCD tersebut tapi tidak kutemukan. Bergegas aku masuk dan kunyalakan VCD player di ruang tengah tempat kami biasa menonton TV. Mataku terbelalak kaget dan tubuhku menggigil ketika menyaksikan adegan dilayar TV, seorang wanita dan seorang lelaki tengah bergumul diatas tempat tidur yang tak asing lagi bagiku. Ya.. itu adalah adegan aku dan Pak Yonas waktu itu dengan sangat jelas tergambar adegan demi adegan. Tubuhku lemas dan kepalakumenjadi pusing, belum aku menyadari apa yang terjadi terdengar suara telepon berdering, perlahan kudekatidan kuangkat.. “Gimana Sayang..? baguskan VCDnya?” kudengar suara yang tak asing lagi di gagangtelepon. “Pak.. Pak Yonas.. kurang ajar.. bajingan kamu.., belum puas kamu memperkosaku..” “Ah sayang, bukankah kau juga menikmatinya, sengaja VCD itu kukirim buat kenang-kenangan” “Biadab aku sudah.. membuangnya..” “Nggak apa-apa aku masih punya copynya kok, kalau kamu mau aku bisa mengirimkannya lagi” “Bajingan..! serahkan copynya padaku, aku nggak mau benda itu dilihat orang lain” “Bisa saja Sayang, asal kau mau memenuhi permintaanku..” “Kau mau apa lagi dariku..” “Aku cuma ingin kau menemaniku makan malam, aku ada teman yang mengajakku makan malam dan harus membawa teman wanita” “Gila bagaimana kalau suamiku tahu..?” “Tenang saja dia kan lagi diluar kota.. pokoknya aku jemput nanti jam setengah enam” tanpa mempedulikan
jawabanku ia menutup teleponnya. Aku bingung kepalaku tambahpusing gimana kalau suamiku mengetahui hal ini, buru-burukuambil VCD itu dan kubakar sampai tak bersisa. Malam ituseperti janjinya Pak Yonas datang kerumah untuk menjemputku, tapi aku menolak aku tak mau terjebak untuk yang kedua kali oleh laki-laki ini. Tapi kemudian ia mengancam akanmenyebarkan VCD itu ke internet dan menyerahkannya ke suamiku,aku seperti makan buah simalakama. Akhirnya aku mau juga ikut dengannya, karena kupikir paling buruk ia meniduriku lagi walaupun iahanya mengatakan untuk ditemani m akan malam dengantemannya. Pak Yonas menyuruhku memakan gaun terseksi yang aku punya danakupun melakukannya, gaun tanpa lengan warna ungu dengan bawahan yang menjuntai kelantai menutupi kakiku. Aku benar-benar sexy dan anggun malam itu seakan hendak mengikuti acara formal saja, gaun sebatas dada yang terpaksa menonjolkan belahan payudaraku melekat ketat membuat puting susku tergambar dengan jelas karena gaun seperti ini memang dirancang untuk tidak mengenakan BH. Berangkatlah aku dan Pak Yonas menuju sebuah hotel didaerah lembang, hatiku semakin tak karuan ketika ternyata Pak Yonas sudah membuking sebuah kamar di hotel itu, dan kami tidak langsung menuju restoran hotel melainkan masuk kesebuah kamar karena katanya mereka janji sekitar jam sembilan dan masih tersisa waktu satu jam. “Kau benar-benar sexy malam ini sayang..” “Hentikan Pak.. jangan panggil aku sayang.. aku bukan kekasihmu” Pak Yonashanya tersenyum mendengar gerutuanku. Baru saja kami masuk kedalam kamar, tiba-tiba saja Pak Yonas memelukku dari belakang, aku berusaha berontak tapi ia menghimpitkudengan kencang dan tangannya langsung menyergap kedua payudaraku yang membusung. “Ayolah sayang aku ingin menikmatinya tanpa pengararuh obat tidur, tidak seperti waktu itu, aku ingin kau melayaniku dengan hasratmu sayang.. aku tahu kaupun menginginkannya” Akhirnya akupun pasrah menuruti keinginannya toh ia sudah mendapatkan tubuhku
dan akupun tak sanggup membendung hasratku untuk mengulang kembali kenikmatan lelaki ini seperti waktu itu. Pak Yonas mendorong tubuhku sehinggaaku terhimpit ketembok, ia memegang kedua tanganku dan mengacungkan keatas menempel ke dinding sambil mulutnya terus menelusuri leherku. Perlahan tangan kanannya merayap kebawah dan menarik belahan gaunku keatas sehingga kini pantatku tersingkap, nafaskumulai terengah mendapat perlakuan seperti ini. Detik berikutnya kurasakan sebuah benda kenyal dan keras mengusuk-nusuk pantatku yang masih mengenakan celana dalam, dengan cekatan ia menarik kain tipis tersebut dari tempatnya sehingga kini menggantung dilututku, lalu iakembali menyodokkan penisnya dari arah pantatku. Secara refleks, naluri kewanitaanku menyorongkan pantatku ke belakang dan agak merenggangkan kedua kakiku sehingga kini penis lelaki itu mulai menggesek bibir vaginaku yang mulai basah. Nikmat sekali rasanyagesekan itu dan aku ingin lebih, aku membungkuk agar ia leluasa memasuki tubuhku,tapi entah kenapa ia menghentikan aksinya dan membalikan tubuhku. “Sabar sayang.. Belum saatnya” rupanya ia mempermainkan aku yang kiniduduk terengah ditempat tidur. Pak Yonas menatap tajam kearah kedua mataku sambil mulai mendekatiku kembali, iamulai membuka jas yang dikenakannya lalu mulai melepaskan kancing kemeja dan terakhir ia membuka celananya. Kuakui memang ia mempunyai tubuh yang sempurna dengan dada yang bidang dan otot-otot paha yang kokoh, ia hanya mengenakan CD dan mulai menyentuh pipiku. “Kau memang cantik sayang.. aku beruntung bisa menikmatimu” Belum sempat aku berkata-kata, mulutku sudah disumpaldengan belahan bibirnya, ia memasukan lidahnya kemulutku dan akupun menerimanya dengan balasanyang lebih menggelora, lama kami berpagutan sambil tangannya terus saja menggerayangi tubuhku. Ia menarik resluiting gaunku dan menyusupkan tangannyadari arah belakang terus menuju pinggangku dan terakhir meremas belahan pantat kenyalku. Mulutnya kini telah berada di dadaku,
seakan tak pernah puas ia terus mengulum dan menjilati kedua payudaraku secara bergantian, kini tubuhku terlentang dengan kaki menjuntai menuju lantai. Tok.. tok.. tok.. tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamar, sesaat kami saling pandang lalu Pak Yonas tersenyum dan bergegas menuju pintu kamar. “Ah.. dia sudah datang..” dengan hanya memakai CD ia berjalan menuju pintu meninggalkanku dalam keadaan setengah bugil dengan bagian atas terbuka dan gaun bawah tersingkap dengan celana dalam menggantung dilututku. Aku tersentak kaget ketika ternyata orang yang mengetuk pintu itu menyeruak masuk kedalam kamar, dengan reflex aku masuk kebal ik selimut untuk menyembunyikan tubuhku yang setengah telanjang. “Wahh.. wah.. rupanya Pak Yonas sudah memulai tanpa saya..” dari balik selimut kudengar suara yang pernahkudengar sebelumnya di telingaku. “Belum Pak.. saya hanya pemanasan dulu, sambil menunggu kedatangan Bapak..” “Kalau begitu saya juga udahnggak sabar nih.. Pak” “Silakan Pak.. untuk sementara saya jadi penonton..” hatiku berdegup kencang mendengar percakapan mereka, bagaimana kalau mereka meniduriku secara bergantian?, kudengar dari balik selimut lelaki yang baru datang ini mulai melepaskan pakaiannya dan selanjutnya ia menarik selimut yang menutupi tubuhku. “Lhoo.. kenapa sembunyi sayang.. ayo dong aku sudahnggak sabar..” Mataku terbelalak kaget ketika selimut yang menutupi tubuhku mulai bergeser meninggalkan tubuhku, aku berusaha mempertahankan diri. “Ohh.. Kau..” ternyata yang berdiri didepanku adalah PakWirya lelaki yang pernah makan malam bersama suamiku, lelaki yang sangat menjijikan kelakuannya bagiku dan kini lelaki itu berdiri di hadapannku hanya mengenakan celana dalam dan siap menerkam tubuhku yang setengah telanjang. “Jangan Pak.. hentikan..” aku berusaha menjauh. “Ayolah sayang jangan takut.. aku memang tak setampan Pak Yonas, tapi aku tidak akan menyakitimu..”
“Bajingan kau.. pergi.. aku nggak sudi..” “Sudahlah sayang.. nikmati
saja..” kudengar Pak Yonas berkata sambil menuju kearahku. Belum sempat aku berkata lagi Pak Wirya bergerak menangkap tanganku dan menarik menuju ke badannyasehingga aku tersungkur dalam pelukannya. “Hentikaan.. Apph..” mulutku tersumbat oleh bibir Pak Wirya yang di tumbuhi bulu-bulu kumis yang tebal, ia berusaha memasukan lidahnya kemulutku. Aku berusaha berontak dan menendang tapi gerakanku tertahan oleh sepasang tangan Pak Yonas yang memegang kedua kakiku dari arah belakang. Oh Tuhan.. mereka berdua memperlakukannku seperi binatang, selanjutnya tanganPak Yonas menarik gaunku yang telah merosot di tubuhku sehingga kini aku benar-benar telanjang. “Silahkan Pak.., Bu Alya udah siap.. saya ingin jadi penonton dulu..” Pak Yonas kembali menjauh dan duduk di sofa sambil terus menyaksikan adegan dimana Pak Wirya mempermainkan tubuhku. Dengan kasar Pak Wirya menjamah seluruh tubuhku, mulai dari kaki sampai ujung kepala, ia meraba, menjilat dan menggigit puting susuku. Pak Wirya seperti anak kecil yang mendapat mainan baru memperlakukan tubuhku. “Ohh.. Sayang.. indah sekali.. toketmu..” “Ahk..” jari tangan Pak Wiryabermain diselangkanganku mengobok-obok tempat suci yang selama ini kupelihara. Ia menyibakkan rambut hitam yang tumbuh rapi disana dan menyelipkan jari tangannya diantara bibir vaginaku. tubuhku mengejang, ia menusuk-nusukan jarinya dengan kasar dan mengorek-orek isi vaginaku. lalu ia memutar tubuhnya menjadi posisi 69. Pak Wirya menyapukan lidahnya di vaginaku terus menuju lubang anusku. “Ooohh..” aku mengerang, kekasarannya justru menimbulkan sensasi baru dalam tubuhku, nikmat rasanya dan kurasakan tubuhku mengejang.. aku orgasme dengan sentuhan lidah Pak Wirya, tapi mulut Pak Wirya tak beranjak dari selangkanganku ia melumat setiap cairan yang aku keluarkan dari dalam liang vaginaku. Tubuhku lemas untuk beberapa saat, tapi hal itu tidak berlangsung lama, Pak Wiraya membuka celana dalamnya tersembullah bendaberurat yang menegang dengan ukuran sangat
berbeda dari ukuran umum, benda itu begitu besar dan panjang. Aku bergidik membayangkan penis sebesar itu menyodok vaginaku dan menembus rahimku. “Ayo sayang.. mainkan..” Pak Wirya mengarahkan penisnya ke mulutku, aku takdapat menghindar, akhirnya penis itu masuk kedalam mulutku walau hanya setengahnya saja. Sesak rasanya nafarsku disumpal penis sebesar itu. Rupanya Pak Wirya sudah tak sabar lagi dengan keadaanku seperti itu, ia mulai bergerak memposisikan tubuhnya di atas tubuhku. Pak Wirya berjongkok di bawah pantatku sambil kedua tangannya memegang kedua kakiku dan membukanya lebar-lebar, lalu ia mulai menggeser pantatnya mendekati selangkanganku dan mengarahkan senjatanyamunuju liang vaginaku yang terbuka lebar. Dengan kasar ia menggesek-gesekan kepala penis yang besar itu ke bibir vaginaku yang sudah licin dan berusaha menyelipkannya ke vaginaku.
“Akkh.. pelan.. pelan.. Pak.. sakit.. Awww..” mataku mendelik, tubuhku mengejangdan kepalaku mendongak saat Pak Wirya mendorong pantatnya ke arah vaginaku. “He.. he.. he.. gimana sayang..nikmat kan..?” Kurang ajar.. bajingan ini malah tertawa melihat diriku yang berkelojotan menahan senjatanya. Penis besar itu bergerak menerobos vaginaku, sakit sekali rasanya walaupun aku bukanpertama kali bersetubuh tapi ini benar-benar besar. Tanganku berusaha menahansodokan pinggang Pak Wirya, tapi ia lalu memegang kedua tanganku dan dan menghimpitnya keatas kepalaku sambil tubuhnya bergerak menindih tubuhku. Akhirnya amblaslah setengahpenis Pak Wirya diliang vaginaku, ia berusaha terus menekan untuk memasukan seluruh batang kenyal itu, tapi kapasitas liang vaginakumemang tak mungkin menampung penis sepanjang itu. Untuk beberapa saat lamanyaaku merasakan sakit yang luar biasa di selangkanganku, robek rasanya bibir vaginaku tetapiselanjutnya kurasakan kenikmatan yang mulai menyerang tubuhku. PerlahanPak Wirya mulai mmemaju mundurkan pantatnya, kenikmatan demi kenikmatan kurasakan dengan perasaan selangkangan yang selalu
penuh. Melihat keadaan Pak Wirya dan aku yang seperti itu rupanya membuat gelora Pak Yonas bangkit lagi karena dengan mata terpejam menikmati permainan Pak Wirya Kurasakan sesuatu menyeruak memasuki mulutku, ternyata Pak Yonas berdiri di dekat kepalaku sambil mengarahkan penisnya ke mulutku. Akhirnya aku melayani mereka berdua dengan gairahku yang meledak-ledakpula. Malam itu aku benar-benar menjadi mainan mereka berdua, seakan tak pernah lelah mereka bergantian memasukan memasukkan senjatanya ke lubang bibirkubaik yang atas maupun yang bawah. Akupun akhirnya melayani mereka dengan sangat menggebu menumpahkan segalanya danmengejar orgasme demi orgasme. Mungkin karena bekas Penis Pak Wirya yang terlalu besar sehingga Pak Yonas kurang menikmati cengkeraman vaginaku sehingga dengan dibantu PakWirya yang memegang dan menghimpit tubuhku diatas tubuhnya, Pak Yonas memasukan penisnya ke lubang anusku juga. Seperti adegan dalam film BF saja Pak Wirya menggenjot vaginaku dan Pak Yonas menerobos anusku dari bawah. Berbagai macam gaya mereka praktekkan kepadaku malam itu, semburan demi semburan membanjiri liang vaginaku. Kadang Pak Wirya melepaskan spermanya di vaginaku lalu sesaat kemudian Pak Yonas menambahnya dengan semburan hangat pula. Hampir menjelang pagi, baru mereka tertidur setelah mereka membuat aku mencapai orgasme yang ke lima kali. Sambil terus memeluk tubuhku, kedua lelaki ini tergeletak tak berdaya. Jam sepuluh pagi Pak Wirya bangun terlebih dahulu dan setelah mandi ia meninggalkan aku dan Pak Yonas yang masih tergeletakdi tempat tidur. Akhirnya Pak Yonas membopong tubuhku untuk mandi dan berendam bersama di bath tube kamar tidur dan kamipun makan siang dengan room service. Kupikir segalanya akan berakhir di sini, ternyata PakYonas masing mengajakku melakukan perbuatan itu lagi sampai malam selanjutnya. Kali ini kami berdua menumpahkan segalanya, keesokan harinya dengan tubuh yang sangat lunglai aku pulang diantar taksi meninggalkan Pak Yonas
yang masih tidur telanjang di tempat tidur. Aku tidak mau suamiku Mas Rohan pulang dan mendapati aku tidak ada di rumah. Sebulan kemudian kudapati diriku mulai mual-mual dan terlambat datang bulan, dan setelah kuperiksakan ke dokter ternyata aku positif hamil tiga minggu. Mas Rohan gembira sekali walaupun kaget karena selama ini kami melakukan safe sex selama melakukan hubungan badan. Aku benar-benar merasa bersalah kepada suamiku karena aku tahu pasti janin ini bukan benih Mas Rohan, entah Pak Yonas atau Pak Wirya yang berhasil menghamiliku dan sampai saat ini aku menjaga rahasia besar ini. Ketika kami merayakan selamatan tujuh bulan kehamilanku, aku mendapat bingkisan yang ternyata berisi master dari video adegan ranjangku dengan Pak Yonas. Semenjak itu aku tidak pernah melihat Pak Yonas lagi karena ia keluar dari perusahaan dan ikut PakWirya mengurus perusahaannya di kota lain. Akhirnya dari Pak Yonas, aku tahu bahwa sebenarnya ia menjual diriku ke Pak Wirya dengan imbalannya ia menjadi pimpinan di anak perusahaan Pak Wirya yang baru. E N D