Pengalaman Mengubah Hidup Part 40

0
2227

Pengalaman Mengubah Hidup Part 40

Tamat


Callisa Calistya

“ehhmm aku akan dipindah tugaskan di New Zealand tahun depan”, ujarku datar dan penuh penghayatan sambil memandangi pacarku dengan penuh kasih sayang.
“ohh wooow, ya bagus dong sayang, hehe semangat”, balasan dia sangat awkward, yg beberapa saat kemudian air mata dari ujung kedua matanya keluar dan dia sudah tak sanggup untuk menutupinya, lantas dia bersender di pundakku dan lenganku dia peluknya dengan erat, “aku gak tau harus jawab apa yang aku ehmm aku belum siap jika harus LDR jauh banget……………..”, lanjutnya jawaban yg lesu dan sedih. lagi-lagi pohon mangga depan rumah menjadi saksi perubahan situasi ini.
aku pun justru tertawa melihat Callisa yg sedang dirundung kegalauan, bukan tujuanku untuk membuatnya bersedih.
“sayangg, kamu nangis kenapa? emang kita mau LDR ya, aku kesini mau menyampaikan pesan dari bapakku untuk bapakmu”, ujarku pada Callisa dengan berbisik yg membuat dia semakin bingung.
“emang apaan?”, sambil dia berusaha menahan tangis.
“bapakku ingin bertemu bapakmu untuk membahas pernikahan kita sebelum ke New Zealand, agar kamu bisa aku bawa”, balasku dengan tenang.
“YANGGGGG!!!!!”, teriak dia sambil menjiwit lenganku, “awwww kamu sukanya bikin jantungku dag dig duer”, lanjut dia yg sekarang sudah tidak menangis namun sedikit tertawa, “kamu serius kn ini, gak bohong kan?”, lanjut dia terus meyakinkan, dia memelukku sangat erat.
“iya serius lah sayang”, ujarku sambil mencium kepalanya dibawah saksi bisu sang mangga, “sini mumpung bapak masih di depan TV aku mau ngomong bentar”, lanjutku sambil melengok ke dalam rumah.
“yang, aku deg-deg.an”, ucap Callisa dengan memelas.
“aku juga, makanya pengin buruan ketemu bapak”, balasku dengan tawa awkward.
lantas Callisa masuk sebentar untuk berbicara dengan bapaknya, aku hanya terdiam duduk ruang tamu sambil menghapal apa yg harus aku katakan agar pesan dari bapakku tersampaikan, namun sebelumnya aku harus menyampaikan kondisiku di pekerjaan.

beberapa saat kemudian, bapak dan ibu Callisa menemuiku diruang tamu, jantungku semakin berdegup kencang dan bintik-bintik keringat muncul dipunggungku yg membuat gatal. Callisa memposisikan diri duduk disebelahku.
“egghmm bapak ibu, maaf kalau saya ganggu malam-malam, saya mau sedikit cerita terkait penugasan yg diberikan dari kantor ke saya, jadi mulai tahun depan saya mulai ditempatkan di New Zealand”, terangku, dan aku melihat mimick mereka antara senang dan terkejut, “nah dengan penugasan yg jauh, saya sudah berdiskusi dengan bapak saya untuk turut memboyong Callisa ikut bersama saya, dan saya ingin menyampaikan pesan dari bapak untuk ingin bertemu bapak untuk membahas pernikahan, jika diperkenankan”, lanjutku dengan tenang dan jelas, mereka seperti senang dengan penjelasanku.
“wahh hahaha gimana bu, kapan?”, bapak Callisa sangat semangat dengan ini, Callisa hanya menunduk senang dan malu.
“aku manut bapak saja”, ujar ibu Callisa.
“silahkan mas, kapan saja silahkan, yg penting dikabari dulu beberapa hari sebelumnya, bapak posisi di jawa tengah ya?”, ucap bapak Callisa.
“benar pak, baik nanti saya diskusikan dengan bapak saya”, balasku yg tersenyum dengan jawaban dan respon dari bapak ibu Callisa.
lanjutnya kami berempat ngobrol santai terkait nanti jika tinggal disana, dan bapak ibu sangat mendukung kami untuk segera mensahkan hubungan ini dan segera membangun keluarga sendiri diluar negeri. beliau juga menegaskan bahwa jauh dari orangtua memang akan susah tapi akan menguji kesabaran masing-masing. aku berpamitan setelah menjalankan misiku dengan mulus, bapak ibu Callisa pun masuk kembali ke dalam.

“sayang, aku gak nyangka banget kalau bakal seperti ini, aku seneng banget yaaanggg”, ujar Callisa yang sangat girang.
“aku juga gak nyangka, anak ingusan culun dan pemalu ini bisa dapet cewek sepertimu yg cantik dan flawless, kelihatannya aku manusia paling beruntung deh”, ujarku sambil membelai rambutnya yg indah. Callisa langsung nempel dibadanku minta peluk, walau masih dirumah tapi halaman yg gelap dan tak terlihat dari dalam maka kami berani untuk berpelukan. aku pun iseng dengan meremas pantatnya menggunakan tangan kananku.
“hmmm udah mulai nakal”, bentak lembut Callisa padaku.
“hehe nakalnya setelah fix akan menikah”, jawabku dengan canda.
“lha dulu itu apa, malah belum jadi pacar huuuu”, rengek Callisa dengan bercanda.
aku pun membalasnya dengan tertawa, dan akupun pamit dan masuk ke dalam mobilku, tidak lupa untuk mengucapkan ‘i love you’ padanya.

setibanya di kost, aku langsung menghubungi bapakku untuk membahas kemungkinan datang kesini menemui orangtua Callisa. bapakku pun turut semangat mendengar ceritaku, salah satu alasannya ialah sangat pasti bahwa anak cowoknya gak akan kesepian saat nanti berada di negeri orang. saking semangatnya bahwa saat aku telpon bapak sambil browsing tiket pesawat untuk ibu dan Rahma yg pasti turut serta. sangat kupastikan bahwa nanti malam aku tidur dengan kondisi tersenyum, wanita yg selama ini selalu menghiasi hariku akan menjadi istriku dan pastinya akan selalu berwarna. ada hal yg berbeda dengan pria lain pada umumnya saat memiliki pacar, berpacaran dengan Callisa seolah-olah nafsuku benar-benar bisa aku kontrol, aku merasa sangat bersalah jika mencintai Callisa dengan tulus namun berhubungan badan, alhasil aku kembali saat seperti dulu waktu masih jadi pecundang, yaitu membayangkan sambil coli.

*

setelah secara terus menerus menentukan waktu yg tepat untuk kapan hari yg tepat, akhirnya keluargaku dan keluarga Callisa menyepakati hari ini pukul 10.00 untuk datang. bapak ibuku mengenakan batik dengan warna sepadan, begitu pula dengan aku dan Rahma. suasana rumah Callisa disulap menjadi sangat bersih dan rapi dengan banyak makanan berjajar di meja tengah, adik perempuan Callisa yg sedang kuliah di Bandung pun ikut hadir, maka hanya anggota dari keluargaku yg absen, yaitu kak Novita dan suaminya. Callisa sangat cantik menggunakan kebaya yg dia gunakan saat menghadiri wisudaku dahulu.

obrolan para tetua pun dimulai, diantaranya membahas anak masing-masing sebegai kebanggaan keluarga, keluargaku juga menceritakan tentang anak mantunya yg menjadi pilot dan tinggal di Bali, sebentar lagi anak cowoknya bakal tinggal diluar negeri. aku dengan Callisapun duduk berjauhan, dengan terkadang curi-curi pandang dan malu-malu. keinginan bapakku adalah segera dinikahkan agar memiliki waktu untuk mengurus berkas yg katanya bisa memakan sebulan dan terkadang lebih, sedangkan keluarga Callisa menginginkan yg sederhana dan tak usah menggunakan pesta yg begitu besar mengingat waktu sudah semakin mepet. selain itu, sewa gedung di Jakarta bisa sangat mahal dan butuh booking beberapa waktu sebelumnya.
oh iya belum aku ceritakan bahwa keluarga Callisa ini dari kalangan menengah, namun hanya penampilan Callisa yg modis membuatnya nampak seperti kelas atas. syukurlah sejak dia bersamaku, dia berpenampilan menyesuaikan dengan keadaanya, dia berdalih bahwa dia ingin terlihat modis agar telihat dan bisa di dekati pria, namun karena sekarang sudah punya pasangan, maka dia melupakan penampilannya itu.

setelah ngobrol dengan cukup lama dan santai lantas disepakati bahwa pernikahan tidak usah digedung atau hotel, melainkan hanya dirumah menggunakan tenda dan hanya akad nikah dilanjutkan dengan resepsi kecil-kecilan, bapakku juga sangat setuju dengan ide itu. dan pernikahan akan dilakukan 2 bulan dari sekarang, yg artinya aku masih memiliki waktu 2 bulan untuk mempersiapkan berkas untuk kepindahanku ke New Zealand. aku dan Callisa sebagai anakpun hanya manut dengan keputusan para orangtua, pasti yg mereka lakukan adalah yg terbaik.

setelah kedua keluarga sepakat dengan hal besar dan kecil barulah hidangan utama baru disajikan yg dimasak sendiri oleh ibunya Callisa dibantu dengan Callisa dan adiknya, hidangan kali ini adalah nasi kare ayam dan sayur pecel sebagai makanan pendamping. aku mengambil nasi kare terlebih dahulu.
“enak gak yang?”, tanya Callisa yg turut duduk disebelahku setelah acara inti selesai.
“enak yang, kamu yg masak?”, tanyaku kembali.
“hehe iya sayang”, ujarnya yg berbisik agar tak didengar oleh anggota keluarga yg lain.
yg kuketahui Callisa sedang belajar memasak dengan ibunya setelah lulus dari kuliahnya untuk mempersiapkan rumah tangganya kelak.
“iyalah, istriku kudu bisa masak dong”, ucapku dengan tawa.
“yang, 2 bulan itu cepet, ntar bantuin milih kebaya, decor dan hal lainnya ya, kalau pas kamu off kerjaan aja”, ajak Callisa memintaku membantu dengan persiapan menjelang pernikahan.
“iya yang, oke”, balasku sambil memakan nasi kare yg ada di piring. aku berlanjut sibuk dengan mengambil makanan yg lainnya begitupula dengan bapakku yg juga sibuk mengambil makanan, aku dan bapak memang hobi makan tapi entah kenapa aku tak biss gemuk dan tetap kerempeng, tapi ujar Callisa ingin membuatku gemuk kelak.
obrolan diantara kami sudah menjadi sangat santai, bapakku sudah memberi kode pada ibuku berupa menunjuk arah jam tangannya. sopir yg mengantar bapak juga sudah di kode lantas dia bersiap untuk menghidupkan mobil dan AC nya jadi saat kami masuk mobil sudah adem. kami semua berpamitan, dan bapak berpesan jika membutuhkan apa-apa bisa kontak bapak atau aku, ibuku menciumi pipi Callisa sudah layak anaknya sendiri. setelah semua masuk ke dalam mobil, kamipun bergegas untuk segera berangkat dan kembali ke hotel.

“keluarganya sederhana ya, adem gitu lihatnya”, ujar ibu saat di mobil.
“iya, bapaknya juga orangnya santai, gak yg formal banget haha”, balas bapakku.
“nanti kalau udah jadi suami, jadi suami yg tanggungjawab dan amanah ya nak”, nasehat ibu padaku yg aku hanya mengangguk dan setuju. bapak dan ibu sibuk memberiku nasehat yg sangat membangun, memang menurutku anak sekarang harus mulai mendengarkan nasehat yg diberikan oleh bapak dan ibunya, secara anak sekarang sangat susah jika diberi nasehat, maka banyak yg kita lihat anak seperti bertindak seenaknya dan ngawur. perjalanan diarahkan oleh supir ke hotel dan besok mereka kembali ke kampung, secara besok aku masuk kerja.

*

selama dikantor, entah sudah berapa orang yg menanyaiku terkait rencana pernikahanku, tak terkecuali Rangga, yg hampir setiap hari bertemu dan kami selalu meluangkan waktu untuk ngobrol terkait apa saja, namun obrolan yg selalu muncul yaitu terkait selangkangan. seusai ngantor, aku dan Rangga berencana untuk ngopi bersama di cafe beberapa meter dari kantor.
“gimana nikahan?”, tanya Rangga padaku sambil mengudak kopinya.
“2 bulan lagi nikahan”, balasku singkat.
“sip manteb”, balasnya sambil mencicipi kopinya.
“kamu kagak nikah dulu?”, tanyaku padanya.
“haa jomblo men susah nih”, balasnya yg membuatku kaget, padahal dari segi fisik dia cukup diatas rata-rata dari kebanyakan pria, apalagi dibanding aku.
“serius?”, tanyaku meyakinkan.
“iya haha”, balas dia, “eh bro, jangan bilang siapa-siapa ya, kemarin kapan itu aku pulang jam setengah 12 malam, terus aku lewat department analysis financial masa aku denger orang mendesah, sambil panggil-panggil nama keenakan gitu, aku denger-denger seperti pak Johan sama bu Sukma”, terang dia sambil berbisik.
“suami istri jangan-jangan”, ujarku positif. dari penampilan bu Sukma sekilas memang seperti istri baik-baik dan selain itu dia juga berkerudung, namun berkerudungnya yg menantang, tetap menunjukkan lekuk tubuhnya yg seksi. sedangkan pak Johan memang playboy tua yg sekarang sedang menduda, dia dulu ditugaskan di Australia selama 10 tahun lantas kembali lagi. dari desas desus pak Johan memang sering memiliki affair dengan teman sesama kantor, katanya goyangannya dahsyat, cocok untuk menghilangkan penat saat kerja.
“yee mana boleh suami istri sekantor”, balas dia mengelak.
kami melanjutkan obrolan jorok, memang dengan beban pekerjaan yg berat sering kita menemui orang berselingkuh dilingkungan kantor hanya untuk menghilangkan penat, mungkin itu yg terjadi saat Rangga lewat. selain itu, dengan beban yg berat, istri atau suaminya dirumah tak mampu untuk menuntaskan hasrat yg terpendam, terjadilah perselingkuhan. selingkuh juga banyak yg mengartikan sebagai ‘selingan keluarga utuh’, ya bisa jadi, tapi aku sudah tak semaniak dulu terkait seks, semacam aku sudah puas dengan icip-icip wanita, saatnya hanya bercinta dengan satu wanita.

*

menjelang pernikahan, hariku semakin sibuk, Callisa juga turut sibuk dengan orangtuanya untuk menyiapkan agar nanti waktu pelaksaan tidak ada yg tertinggal. selain menyiapkan untuk pernikahan, aku dan Rangga semakin intens mengikuti pelatihan termasuk bahasa inggris, tiap akhir hariku pasti tinggal teler di kost.an. Callisa pun memahami kesibukanku yg semakin menjadi, dia juga maklum namun dia tetap memintaku untuk selalu memberi kabar.

seminggu menjelang hari besar yg mengubah jalan hidupku, aku baru dapat waktu untuk fitting, aku dan Callisa sepakat untuk mengenakan kebaya adat jawa berwarna hitam dan emas, karena memang keluarga Callisa berasal dari jawa.
“yang, kamu gagah banget hehe”, ujar dia terpesona saat aku mengenakan pakaian untuk hari besar kami di perias pernikahan ini.
“mbaknya ini badannya bagus banget, gampang milih kebayanya”, puji ibu perias yg gendut dan bertampang galak ini, namun melihat Callisa yg proporsional dan mudah, dia jadi sedikit lunak.
kami berdua berdiri di depan kaca menggunakan pakaian kebaya ini dan kami hanya tertawa mengingat sebentar lagi menjadi suami dan istri. setelah kiranya hampir sejam di rumah perias, kami sudah memutuskan apa yg akan digunakan, kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan untuk mencari perlengkapan lainnya.
“huuh, gak kerasa tinggal minggu depan ya yang”, ucapku sambil menunggu mobil untuk panas.
“iya ya, udah siap belum jadi suami?”, tanya dia.
“pertanyaannya bukan itu, kamu yakin gak, kalau itu aku jawab yakin haha”, balasku dan disambut dengan tawa dari Callisa.
“smoooocccccchhhhhhhhh”, tanpa Callisa sadari, aku langsung mendekat ke kepalanya dan mencium bibirnya dengan lembut.
“yang ih, kelihatan nanti”, protes Callisa.
“kan udah sah haha”, tawaku.
mobil aku jalankan untuk mengantar Callisa ke rumah dekor untuk melunasi pembayaran. dalam budaya jawa, jika yg pihak wanita punya hajat, pihak pria tidak ikut dalam pembayaran atau ikut campur dalam kepengurusanya, hanya sang calon suami yg ikut membantu sang calon istri.

*

hari pernikahan pun tiba, sesuai dengan jadwal, akad nikah akan dilakukan pukul 9.30 dengan lanjut acara resepsi kecil-kecilan yg penting khusuk. aku sudah tiba dirumah Callisa bersama dengan keluarga besarku pukul 8.50. suasana dirumah Callisa sangat ramai orang pada check untuk tahapan akhir. suasana sangat cerah dan langit pun sangat biru pertanda kami direstui untuk menjalankan prosesi pernikahan ini, aku sangat bersyukur dengan semua hal yg telah aku jalani, sebentar lagi aku bukan lagi seorang anak, namun aku sudah menjadi seorang suami.

penghulu sudah siap di tempat duduknya dengan berkas yg siap untuk dicocokan dengan kami, saksi dari pihakku adalah direktur dari perusahaan bapak bekerja, sedangkan yg dari pihak Callisa aku masih belum paham dia siapa. aku sudah dipersilahkan duduk oleh keluarga Callisa didepan penghulu, aku sudah berbincang ringan dengan penghulu untuk mencairkan suasana. sempat kulihat geng hedon juga turut hadir, namun satu yg tidak hadir adalah Sandra, sudah kuduga.
beberapa saat kemudian, datanglah Callisa menggunakan kebaya dan berdandan dengan sangat cantik khas wanita jawa yg lembut dan anggun, aku hanya menatapnya berpikir, apakah ini istriku, yaampun cantik sekali. Callisa disebelahku duduk dengan diam dan aku lihat ditangan kanannya memegang tissue.

“baik, semua sudah siap, bapak-bapak saksi sudah siap?”, tanya penghulu pada kami semua, “baik, pada hari ini, saya siap untuk menikahkan saudara Rendy Surya dengan ananda Callisa Calistya”, ujar bapak penghulu yg gemuk dan berjenggot ini.
bapak penghulu lantas mencocokan data diri kami, mulai dari nama dan tempat tanggal lahir, lantas prosesi sakral selanjutnya berlangsung. yg akan menikahkan kami adalah bapak Callisa sendiri.
bapak Callisa menjabat tangan saya, dan menatap dalam-dalam mata saya, disebelahku Callisa sudah tidak kuat menahan tangis, kami dikelilingi oleh juru foto yg ingin menangkap moment bersejarah bagi semua pasangan.
“saya nikahkan saudara Rendy Surya dengan anak saya, Callisa Calistya………..”, ujar bapak dengan sangat tegas dan jelas.
“saya terima nikahnya Callisa Calistya…………”, ucapku sambil bergetar, Callisa disebelahku sudah menangis tak tertahankan hingga badannya semua bergetar.
“sah ya, bagimana bapak saksi?”, ujar penghulu pada saksi.
“sah”, balas singkat para saksi.
Callisa mengusap air matanya dengan tisu yg dia bawa tadi, aku pun memegangi tangan kanannya dan menatap matanya.
“sayang….”, ujarku dengan lirih, dia hanya melirik untuk sesaat, dia tidak sanggup untuk menatapku, hingga aku lupa seharusnya aku menyalami penghulu dan para saksi yg turut hadir menyukseskan acara ini.

ucapan selamat dan dukungan agar segera memiliki momonganpun ramai dan riuh terdengar, aku dan Callisa berdiri dipelaminan mini sambil mengumbar senyum dan tawa kepada para hadirin.
“hay cantik, selamat ya, nanti malem bikin keributan sampai kasur jebol ya”, ujar Helga yg berbisik pada kami berdua, “eh Helga, itu temenku yg berdiri disana jomblo, dia temen kantorku akan ditempatkan di Australia, sana deketi kalau minat”, ujarku menunjuk pada Rangga.
“haha dikira guwe desprate apa yak haha”, balas Helga sambil ngakak dan turun pelaminan, namun yg kulihat tetep aja Helga nyamperin Rangga.
dan kami hanya ngakak melihat kekonyolan mereka. tapi sedikitpun mereka tak merasa awkward bahwa suami Callisa ini pernah meniduri mereka, mungkin mereka sudah menganggap seks sebagai aktifitas harian, mungkin.
mayoritas tamu yg hadir adalah dari kalangan keluarga dan kerabat dekat serta tetangga, sehingga yg berlangsung juga tidak lama dan langsung ke inti acara.

*

malam pertama sebagai suami isteri, kami diberi fasilitas dari perias yaitu menginap dua malam di hotel ditengah kota Jakarta. pada sore harinya, acara sudah selesai, aku dan Callisa sudah diberi ijin oleh orangtuanya untuk meninggalkan tempat nikahan untuk menikmati hotel. selama perjalanan kesana, tangan Callisa tak bisa lepas dari tangan kiriku yg kebiasaan saat menyetir berada di tuas perseneling. dia hanya tersenyum dan bahagia sambil terkadang dia ngajak selfie, jika saat berada dilampu merah.

tiba di hotel, kami langsung check in dan memasuki kamar, aku hanya membawa tas kecil berisi beberapa pakaian dan Callisa juga membawa tas sendiri. masuk kamar, aku langsung menuju kasur dan berbaring diatasnya, begitu juga dengan Callisa, kami berpelukan dan ngobrol dengan ringan.
“aku capek banget yang, beberapa hari gak bisa tidur, mikirin ini”, ujar dia sambil membelai dadaku.
“iya sama yang”, balasku singkat sudah sangat ngantuk.
lantas obrolan kami semakin pelan dan pelan dan akhirnya kami berdua tertidur dengan pakaian yg menempel saat kami datang hotel.

terbangun dari tidur rasanya super lemas, Callisa sudah tak ada dipelukanku, namun ada suara shower yg artinya ada orang dibawahnya sedang mandi, aku lihat jam, sudah menunjukkan pukul 7 lebih, berarti aku tidur cukup lama. usai istriku selesai dengan mandinya, kini giliranku dan kami keluar untuk cari makan disekitaran hotel, kami memutuskan untuk makan nasi goreng, karena itu satu-satunya warung yg ada disekitar hotel. setelah itu kami kembali ke hotel dan istriku ke kamar mandi untuk sikat gigi, aku menunggu dia duduk dikasur.

dia keluar dari kamar mandi, aku langsung memeluknya, dia masih menggunakan jeans panjang dan kaos.
“aww sayangggg”, ujar dia manja saat aku memeluknya. dan dia duduk dipangkuanku, dia membelai pipiku.
“smooooccchhh smooocchhhh smooocchhh”, kami mulai berciuman dan aku melingkarkan lenganku pada badannya.
“ciuman pertama setelah jadi suami istri”, ujar dia dengan lembut.
aku memerintahkan Callisa untuk duduk diatasku, menghadap aku agar aku bisa menciuminya lebih intens.
“smoochh smoocchh smoochhh”
“smoochh awhhh yangg smoochh smoochhh”
“ehhmmm ahh yang awhhh”, desah dia saat aku menjilati lehernya.
“awwhhh sayanggg awhhhh”
“smoochhh smooocchh smoochhhh”
“awwhhh enak banget sayangkuuu ahhh sekarang aku udah halal kamu gauli”, ucap dia sambil mendesah.
tanganku meraba punggungnya dan masuk kedalam celana bagian belakangnya, namun bibirku terus menciumi dia.
“awwhh sayanggg awhhh yess awwhh”

lantas aku mengangkat badan isteriku dan aku jatuhkan dia ke kasur, aku terus menciumi payudaranya dan turun ke perut dan akhirnya pada kancing celana jeansnya. aku membuka dengan kedua jariku, dan aku turunkan celananya. terlihatlah celana dalam warna hitam dengan motif renda bercampur warna putih, aku langsung menarik keduanya turun hingga sepaha.
“woooww”, saat aku melihat vaginanya yg bersih dan ada jembutnya dia bentuk menggaris.
“awhh celanaku turunin aja sekalian sayang”, ujar dia dan aku langsung melakukannya.
lidahku sudah gatal ingin segera melahap memeknya yg sudah lama gak aku rasakan.
“srrupphhh srrupppp sruppp”
“srrupppphh srrupphhh seupphh”
aku buka memeknya dengan kedua jariku agar klitorisnya terlihat dan aku bisa serang di sana.
“aooohh sayangg geli sayanggg”
“awwwhhh awwhhhh sayanggg awwhhhh”
“hmmmm awhhhh awhhhh”
kedua paha Callisa menjepit kepalaku saat aku berada diselangkangannya, aku ingat aku ingin buat dia squirt.
lidahku masih sibuk membuat isteriku klejotan, diam-diam aku memasukkan jari telunjukku kedalam lubang surgawinya.
“awwh awhh sayang, apaan itu”, ujar dia sambil bangkit untuk melihat yg masuk ke dalam tubuhnya, “ahh sayang, jangan, pakai kontol aja”, mintanya, dan aku menurutinya untuk berhenti, “awhhh masa bercinta pertama aku dikasih jari sih sayang”, canda dia.

aku lalu sibuk melepas celanaku, dan terlihatlah kontol yg sudah lama gak bertemu lubang surgawi, sudah ngaceng sangat kencang, lantas isteriku meraihnya dan memberi blowjob singkat untuk membasahinya. dia juga melepas baju dan BH nya, kita berdua telanjang tanpa sehelai benangpun.
isteriku berada dibawah dan membuka kedua kakinya lebar-lebar dan aku sibuk untuk memancapkan kontolku kedalam memeknya.
“BLEEESSS”, saat kontolku masuk ke dalam memeknya.
“woohh aooohh sempit banget yangg”, ujarku merasakan perbedaan yg signifikan saat pertama kali kita bercinta.
lalu aku memompanya dengan ritme pelan sambil terus menciumi lehernya.
“eegghmmm egghhmm awhhmmm awhhh”
“awhh ya sayangg awwhhh aahhhh”
“enaakk sayangg awhhh awhhhh awhhh”
isteriku dan aku terus mendesah keenakan dengan ritme sedang ini, wajah dia menjadi sange dan merem melek keenakan.
“aoohh sayangkuu awh awh awh awh”
“ahh yess ahh awwhhh”
setelah beberapa saat aku berposisi diatas, isteriku minta untuk mengubah posisi.
“sayangg, aku mau diatas”, ujar dia sambil memegangi susunya yg terus bergetar karena goyanganku.
aku lantas mencabut dan memposisikan diri dibawah, kontolku sudah ngaceng bagaikan menara eiffel. dia meraih kontolku dan memasukkannya ke dalam tubuhnya.
“awwwwhhhhhhhhhhhhhhhhh”, desah panjang Callisa sambil kepalanya melihat langit-langit.
dia lantas bergerak seperti jongkok berdiri.
“awwh sayang awwhh awwhh awhhh awhhh”
“awhh ehhhmm awhhhmm awhhmm”
“oohhn yeassshh awwhh awhhh”, isteriku semakin merancu tak jelas.
sudah lama tidak bersetubuh membuat rasanya aku ingin cepat keluar, aku berusaha menahan selama mungkin.
“ahh yangg aku hampir deket yangg”, ujarku sambil menahan pilu.
“awwhh awhh bentar yang aku juga udah deket”, balas dia sambil memejamkan mata konsentrasi.
dia lantas memintaku aku yg menyodoknya kencang dari bawah.
PLOP PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP
“awwhh sayangg ya sayaanggg ahhhhh”, wajah istri sudah semakin sange dan mendekati klimaks. badan dia mulai mengencang dan terus memintaku untuk lebih kencang.
“AWWHHHHHH YANGGGGGGG AWWHWHHHHHHHHHHHHDUUHH AHHHHGGHH”, teriak dia dengan sangat kencang disertai dengan badannya menegang, ototnya mengencang, kakinya bergetar dan lalu badannya menjadi lemas dan jatuh diatas badanku.
“hossh hoossh hooshh hoosshhh”, nafas dia yg sangat kelelahan.

“ayo sayang, gantian, aku belum”, ujarku sambil ngocokin kontolku sendiri agar terus ngaceng, “nungging sini sayang”, aku memerintahkan untuk berdoggy.
“awwwwwhhhhhhh yeesss”, desah istriku, yg memeknya jadi sangat sempit setelah lama gak ngentot dan anget karena setelah orgasme.
PLOP PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP PLOP
PLOP PLOP
pemandangan yg sangat indah saat istriku nungging di depanku, kontolku rasanya sangat njepit sekali.
“awwhh yeaaa awhh awwhh awhhh awhh”
“awhhh hhhaa awhhh ahhwhhhh awhhahhh”
“ehhmmmm enak banget awhhh ehhhgghhh”
aku memejamkan mata agar segera keluar, goyanganku semakin cepat dan menghayati.
“awwhhh sayaaanggg enak banget yaaangggg”
“ahh isteriku memekmu juaraa awwhhhh”
“auuuhhh rasanya aku udah deket yang, keluarin mana?”, tanyaku sambil merem melek.
“ahhh ahh didalem aja sayanggg, biar jadi dedek bayi”, balas Callisa.
aku langsung menggerakkan sedikit lebih cepat, badanku semakin menggencang dan desakan pejuh yg akan keluar semakin dekat.
“aoooohhhhh awwwhhhhh aduuuuuhhhhhhhh aahhhhhhhh”, desah panjangku, “croooot crooot croooooooot”, cairan putih itu keluar cukup banyak.
“hooshh hooshh hoosshhh”, nafasku yg terus memburu oksigen. istriku tetap nungging dan kontolku masih tertancap agar cairan spermaku tidak menetes keluar.
“ahhh anget banget dan banyak ya yang, moga bisa langsung jadi dedek bayi”, ujar isteriku dengan imut.
“iya yang semoga”, balasku sambil mencabut kontolku dari memeknya.

lantas kami saling berpelukan diatas kasur dengan sambil berciuman ringan.
“aku sayang banget sama kamu”, ujar isteriku sambil memelukku.
“aku juga sayang”, balasku.
“aku wanita yg paling bahagia”, kata isteriku sambil memelukku semakin erat.
malam itu kami ngobrolin hal yg ringan, dengan tanpa menggunakan pakaian sehelai pun, pelukan dan ciuman membuat kami semakin erat dan intim.

**
6 bulan kemudian di New Zealand.

kami sudah menempati rumah berukuran sedang yg direkomendasikan oleh kantor untuk aku gunakan, rumah dengan 3 kamar tidur dan 2 kamar mandi manjadi istana kecil bagi keluargaku. isteriku sungguh bahagia disini, hari pertama tiba dia langsung meminta untuk dibelikan kamera, mungkin tiap jengkal dari kota ini sudah dia abadikan. dia berulang kali menyatakan bersyukur aku mau menerimanya sebagai istrinya, hal yg tidak pernah dia bayangkan selama hidupnya, dia selalu berpikir kalau dia hanya layak dicintai oleh badboy, karena mana ada cowok bener yg mau dengannya.

begitu pula denganku, aku tak pernah membayangkan menikahi wanita secantik dan se-anggun Callisa. tak kupungkiri tante Dina telah menggubah hidupku, tidak hanya pelajaran seks yang dia berikan, namun juga pelajaran bagaimana memperlakukan wanita selayaknya gentlement memperlakukan wanitanya, selain itu pelajaran hidup yg aku terima dari Sandra, Helga, dan orang lainnya yg mampir dalam hidupku mengubah cara pandangku dan menjadikanku menjadi lebih dewasa. thats ‘life changing experience’.

saat ini, aku hanya fokus pada pekerjaan dan membahagiakan permaisuri tercantikku. i love you, Callisa Calistya.

~~~THE END~~~

Pesan moral:

– pendidikan selalu yg utama, jangan pernah menyepelekan kekuatan dari pendidikan, senakal-nakalnya anda maupun sekaya-kayanya anda, jangan pernah sekalipun melupakan pendidikan. jabatan dan kekayaan bisa habis, namun pendidikan akan tetap menyertai kita hingga kita mati.
– yang kelak menjadi orang penting di negeri ini, entah jadi pejabat atau pimpinan perusahaan adalah anak cupu yg survive.
– jika kamu tidak mampu menjadikan wanita yg kamu inginkan menjadi pacarmu, jadikan dia temanmu, bantu dia saat membutuhkan, ada disampingnya saat ada kesulitan, lambat laun dia akan tersadar siapa yg selama ini ada untuk dirinya (pengalaman TS).
– jangan pernah minder dengan apa yg kamu miliki, bersyukur dengan yg apa kamu lalui.

Daftar Part