Pengalaman Mengubah Hidup Part 36

0
1983

Pengalaman Mengubah Hidup Part 36

tamu yg datang pada pernikahan kak Novita moyoritas adalah tamu dari bapakku, seperti biasa dimana pernikahan diselenggarakan, pasti tamunya kebanyakan dari orangtua. justru kalau kebanyakan tamu anaknya malah dipertanyakan oleh besannya. tapi secara keseluruhan, acara itu sangat sukses, kakakku terkihat sangat anggun dan cantik, begitupula dengan suaminya yg terlihat sangat gagah dan berwibawa, ya jelas dia seorang pilot pasti gagah. turut hadir pula beberapa pramugari yg sangat cantik dan tinggi, aku jadi membayangkan saat ditengah menginap tugas apa mungkin quickie dengan sesama crew terjadi. semoga tidak, kasihan kakakku jika suaminya ternyata doyan selingkuh, tapi kasian suaminya juga jika aku ternyata yg mengauli kakakku saat dia tugas.

setelah acara digedung selesai dan dirumah juga, aku ingin segera kembali ke ibukota untuk menyelesaikan tahap akhir sebelum dinyatakan benar-benar lulus, yaitu wisuda. wisuda terdekat ada di akhir bulan ini, yg penutupan pendaftarannya berakhir di minggu ini.
“bu, setelah beres semua aku segera balik ke Jakarta ya”, ujarku pada ibu yg sedang kecapekan di ruang tengah setelah banyak menerima tamu di gedung dan kondisi dirumah sedang bersih-bersih.
“yo Rend, lha mau kapan?”, ujar ibuku.
“besok ya bu, udah kelar semua kan? ibu dan bapak ke Jakarta to pas aku wisuda?”, tanyaku.
“iya dong, yauda ibu mau istirahat dulu”, jawab ibuku yg terus bangkit dan masuk ke kamar untuk istirahat. suasana dirumah masih rame dengan pembantu yg bersih-beraih, kakakku tidak berada dirumah karena mendapat gratis menginap hotel berbintang untuk 2 malam, dan langsung dia manfaatkan. Rahma pun tak terlihat, mungkin dia juga tidur, dan bapakku masih sibuk ngawasi yg bersih-bersih.
aku memutuskan untuk melihat situasi dimanakah yg perlu dibantu, namun nampaknya sudah terurus dan bapak ternyata tidur di sofa, yauda aku tidur saja dikamarku.

keesokan harinya, semua sudah beres, bapak sudah memberi signal untuk aku kembali ke Jakarta, saat itu juga aku langsung cari tiket untuk perjalanan malam dan tiba besok pagi dan bisa segera ngurus semuanya dikampus. beberapa hari disini kenapa aku jadi kangen di kota ya, kangen dengan orang yg selalu membuatku bimbang. saat aku jomblo akut, tak ada yg mendekat, tp sekalinya ada, kok ya ada 2 cewek, siapa yg gak bingung. memang seharusnya aku milih satu dan fokus pada satu itu apapun yg terjadi, tapi lagi, siapa yg serius. tapi aku yakin, lambat laun pasti akan terungkap siapa yg aku inginkan.
“udah dapet tiket, ntar malem jam 20.20 naik kereta eksekutif”, ujarku diruang tengah persis seperti memberi pengumuman kelas.
“kak, langsung balik?”, ujar Rahma.
“iyaa, nape, mau ikut?”, tanyaku.
“ntar aja pas kakak wisuda, kamu ikut ya”, terang bapak pada Rahma.
namanya masih anak SMA ya kalau diajak main pasti senenglah, apalagi kalau hingga luar kota. maka kita sering melihat anak SMA pada pacaran hingga luar kota, lantas berdalih istirahat dan ngamar, ya si cewek kadang mau aja karena dia udah seneng duluan diajak jalan dan akhirnya kehormatan yg seharusnya dijaga malah terlepas hanya karena piknik jauh dengan pacar.

selama dirumah tidak ada hal menarik untuk diceritakan selain obrolan ringan antara aku, bapak, ibu dan Rahma. kak Novita belum jelas akan stay dimana. tak terasa waktu terlewati sungguh cepat, hingga aku harus segera ke stasiun untuk perjalanan pukul 20.20. malam ini aku diantar oleh bapak. ibu dan Rahma berada dirumah karena dia harus kembali ke sekolah esok hari. di dalam kereta seperti biasa di dominasi oleh bapak-bapak. tak ada yg menarik atau yg memikat mataku untuk kupandang, lampu kereta diubah menjadi remang sehingga para penumpangnya bisa istirahat.

*
skip di kampus keesokan harinya.

aku tiba dikampus pukul 11.00, suasana sudah ramai, aku langsung menuju ke pelayanan pendidikan untuk mendaftarkan diri wisuda pada akhir bulan. nampaknya aku juga yg wisuda perdana untuk angkatanku, aku merasa sangat bangga. akan tambah bangga jika nanti pas wisuda ada yg mendampingi. aku tak melihat banyak temanku ditempat ini, mungkin nanti pas ke kantin aku bisa bertemu dengan beberapa temanku. setelah memberikan semua dokumen yg dibutuhkan, aku kelar dengan urusan wisuda dan aku officially mendapat 1 spot di wisuda yg diselenggarakan oleh kampus. maka setelah itu aku segera ke kantin.
“Rend, ngapain ngampus?”, ujar temanku cowok yg bernama Jhonny sedang makan soto.
“ngurus wisuda, Jhon”, balasku sambil duduk.
“wiihh anjir udah siap gak ketemu kita-kita”, tanya teman yg lain bernama Roni.
“haha kan masih bisa nongkrong”, balasku.
aku melihat-lihat siapa tau ada siapa gitu, dan benar saja, di tempat duduk paling ujung dibawah pohon ada gengnya Sandra lengkap, termasuk Callisa. entah kenapa aku jadi deg-deg.an, tak tau jantungku berdebar karena Callisa atau Sandra. aku tak mendatanginya, dan aku kembali fokus pada ikutan ngbrol bersama teman cowokku ini. aku juga turut memesan makan siang, daripada nanti sampe kost harus cari makan lagi. kondisi kantin yg panas dan terik terus menerus aku memesan es teh. aku yg tak pandai membuat lelucon hanya mendengarkan mereka yg ngobrol, kadang aku yg dijadikan bahan guyonan, namun tak apa.

“udah jam setengah 3, aku pulang duluan weh capek”, ujar salah satu teman yg terus dia beranjak berdiri.
“aku yo sekalian”, ucap yg lain juga
“semua aja balik”, lanjut juga yg lain, akhirnya kami semua berdiri dan akan pulang. aku melihat dimana para cewek tadi duduk, namun sebagian sudah tak ada, hanya ada Andita dan Amanda. entah kemana Callisa, Sandra dan Helga.
aku berjalan menyusuri fakultasku menuju mobil yg terparkir di gedung paling belakang, banyak mahasiswa yg sedang lalu lalang akan masuk ke kelas, dalam kondisi panas dan terik seperti ini aku berani pastikan tingkat konsentrasinya pasti menurun. saat aku memasuki mobil, sambil menunggu mobil aku panasin, aku membuka HP.
[14.46] Sandra: Rend, kabari kalau sudah sampai kost, aku mau mampir.
[14.52] Rendy: oke, aku lagi otw.
wih kenapa nih Sandra tau-tau akan mampir ke kostku, tidak biasa dia minta seperti ini, apa dia akan minta maaf karena tak mau aku ajak balik, atau mungkin mau memperbaiki hubungan yg renggang ini, atau mungkin mau menceritakan masalahnya dulu itu yg belum sempat diceritakan. rasanya deg-deg.an dan excited. aku segera mundur dan memacu kendaraanku untuk segera pulang ke kost.

setibanya aku di kost, dia langsung aku kabari kalau aku sudah sampai, dan dia membalas kurang lebih 15 menit sampai. aku jadi berpikir, mungkin Amanda dan Andita tadi memataiku kapan aku pulang dari kantin, secara setelah aku balik, ada sms langsung masuk dari Sandra. ah aku tak peduli, yg penting setelah ini kita bisa ngobrol ada apa dengan kita, aku juga udah lulus, sangat aneh rasanya jika lulus tanpa menggandeng calon. aku duduk dikasur dengan cemas dan menunggu.
“knock knock knock”, suara ketukan dari luar.
“yaa”, balasku dan aku langsung membukakan pintu. disitu berdirilah seorang Sandra yg cantik dan anggun hanya diam sambil memberikan sedikit senyuman malu-malu padaku.
“hiii”, ujarnya sangat singkat.
“eh ayo masuk Sandra”, ajakku.
“ehhhmm disini aja Rend, cepet aja kok”, ujar dia sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya yg membuat jantungku berdegup kencang dan penasaran, lantas dia mengeluarkan seperti surat dari kertas tebal, yg aku tak tau isinya.
“aku hanya mau ngasih ini”, ujar dia terbata-bata.
“apa ini?”, balasku bingung, dan aku membaca covernya. terpampang jelas ‘UNDANGAN’. “undangan siapa ini?”, tanyaku kembali, sambil aku membaca dengan rasa gemetar, dan tertulis jelas nama Sandra dan Radja.
“udah ya, aku balik dulu, dateng ya Rend”, ujar Sandra dengan kalem dan sedikit bergetar. aku hanya terdiam mematung, dan Sandra putar badan dan siap untuk berjalan.
“San…Sandraa..”, ujarku.
“ehmm yaaa?”, balas dia sambil sedikit memutar badan.
“maaf..iyaa aku pasti datang..hmm boleh aku memelukmu terakhir kalinya”, balasku dengan sangat berat.
tanpa diulang, Sandra langsung memeluk dan menempel di dadaku, sambil mengeluarkan air mata, dia memelukku sangat erat dan kepalanya terbenam di dadaku, aku menciumi kepalanya, air mataku juga ingin menetes tapi aku tahan agar tak terlihat lemah.
“se-se-moga kamu bahagia ya….”, ucapku dengan penuh getaran.
“selama ini aku berusaha melupakanmu dengan berbagai cara, aku juga maaf telah menolakmu, tapi ternyata hati tidak bisa dibohongi”, lantas dia menangis dengan deras, kaosku sudah penuh dengan air matanya, “aku…aku terlalu gegabah, hatiku terlanjur tertutup emosi, saat melihatmu dengan Callisa, tapi kamu jangan pernah menyalahkan Callisa, cintailah dia seperti kamu mencintai orang yg paling kamu cintai, bahagiakan dia ya Rend, jika memang kamu……”, lantas dia melepaskan pelukannya, “maaf Rend, aku pamit dulu ya”, lanjut dia sambil mengusap air matanya.
“Sandra, maaf juga tak bisa tegas…..”, aku tak mampu berkata lagi.
“udah Rend, lupakan yg lalu”, balas dia sambil berjalan kearah luar, aku hanya melihatnya dia semakin jauh-jauh dan menjauh. rasanya hatiku hancur dan remuk, setelah dia tak terlihat lagi, aku menutup pintu kamarku, dan aku duduk dilantai bersandarkan kasur. tak terasa air mataku keluar begitu saja, aku gak bisa mikir, hatiku rasanya seperti teriris dan diberi cairan air jeruk. perih.

aku tak tau harus berkata apalagi, hati ini sungguh sakit menyadari jika aku kurang berjuang untuk mendapatkannya, aku sudah menaruh curiga mengapa dia rela aku digunakan oleh teman-temannya, karena dia ingin melupakanku. tapi nasi sudah menjadi kotoran yg berada di wc. aku harus move on. walau berat. aku tak boleh kehilangan semuanya, aku harus bisa bahagia, aku yakin ini hanya jalan Tuhan untuk aku mendapatkan kebahagiaan. namun, terkadang teringat bagaimana tawa dan senyum dia saat memperhatikanku, aku tak akan melihat pemandangan itu lagi. apakah aku menyesal dengan perkenalan yg terlalu dekat dengan Callisa? seandaianya kejadian di perpustakaan itu tak terjadi, pasti cerita ini akan berakhir berbeda, aku tak mungkin duduk bersedih disini. tapi bisa juga dia tetap di jodohkan dengan orangtuanya dan aku malah tak dapat apa-apa. memang, aku yakin ini pasti kehendak semesta dengan kejadian ini. aku kembali membaca undangan itu, ada foto dia saat prewed, dia terlihat tersenyum bahagia dengan calon suaminya, dan dia mengenakan gaun warna emas yg semakin membuatnya terlihat glamor.

“uuhhhhh rasanya hampa……..”, pikirku dalam hati.

pikiranku kosong, aku tak tau harus menulis apalagi………

*
menjelang wisuda

setelah kehilangan Sandra, keadaanku semakin tak jelas, rasanya yg dulu selalu membuatku semangat, sekarang jadi hilang. dan sempat Callisa mewarnai hari-hari ku, namun ini juga tak ada kejelasan dengan dia. memang aku cowok yg gak bisa make a move. walau sudah berhubungan lama dengan Callisa namun ya hanya gitu-gitu aja, aku khawatir jika dia juga ikut menghilang, tapi tentunya aku gak ingin dia hadir hanya jadi pelampiasanku karena tak mendapatkan Sandra.
hari ini aku berada di kampus untuk mengambil toga wisuda dan gladi bersih wisuda yg akan berlangsung beberapa hari kedepan.
“hii Callisa”, sapaku yg kebetulan dia berjalan tepat didepan ruang pelayanan mahasiswa saat aku selesai dengan urusanku di dalam, dan kenapa aku deg-deg.an ngobrol dengannya.
“eh hii Rendy, kemana aja?”, balas dia dengan sapa dan senyum khasnya.
“gak dari mana-mana kok, kamu itu yg ngilang”, balasku.
“haha enggak ya, itu apaan?”, tanya dia menanyakan plastik besar yg aku bawa.
“ehhmm toga buat wisuda, kamu dateng gak? hehe”, tanyaku.
“lha mau aku dateng gak? hmmm ogah ah, malu nanti ketemu orangtuamu hehe”, ujar dia sambil sok genit, tapi justru terlihat semakin cantik.
“yaahh yauda kalau gak mau”, ujarku dengan kecewa.
“iya iyaa aku dateng”, balas dia sambil senyum.
“kamu mau kemana?”, tanyaku pada Callisa.
“aku mau ke kantin itu ada temen-temen disana, kamu mau kemana?”, tanya dia kembali.
“gak tau pulang aja aku”, jawabku.
“ayook kalau mau ke kantin bareng sama aku”, ajak dia, tapi nampaknya aku ogah karena kemungkinam ada Sandra karena aku melihat mobil dia parkir di dekat kantin.
“gak usah, aku balik aja deh, terimakasih Callisa”, balasku menolak.
“baiklah, hati-hati ya Rendy”, jawab dia.
“oke, nanti aku sms ya”, ujarku.
“iya sms aja, pasti aku balas”, jawab dia sambil memberikan senyuman dan tatapan bahagia.
obrolan singkat dengan Callisa setidaknya bisa kembali menyalakan gairah untuk melanjutkan hidup, dia sungguh terlihat positif dan riang, apakah juga karena dia bertemu denganku. oh iya, aku jadi teringat, berarti kalau Callisa datang, berarti dia akan bertemu dengan bapak ibu, berarti aku harus memperkenalkan mereka, dan aku harus memperkenalkannya bagaimana.

*
“Rendy Surya, dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, lulus dengan Cumlaude 3,66”, ujar MC itu membacakan namaku dengan suara seperti membacakan teks proklamasi. aku melangkahkan maju kedepan untuk menerima ijazah dan bersalaman dengan Rektor.
“selamat ya nak, jangan lupa dengan almamatermu”, ujar pak Rektor.
“terimakasih bapak”, balasku dengan memberi senyum, lantas berjalan kesamping. rasa adrenalin memuncak saat namaku dipanggil dan dibacakan nilainya juga. wisuda hari ini yg berasal dari angkatanku ada 3 orang yg kemarin ujian skripsi bersama denganku, Wawan dan Laila. aku tak tau seberapa banyak orang angkatanku yg akan datang, akupun juga tak tau apakah Callisa jadi datang. aku merasa sangat deg-deg.an.

“para hadirin, demikian sidang senat dengan perihal pelepasan mahasiswa, para hadirin dipersilahkan meninggalkan area sidang melalui pintu timur dan barat. sedangkan para wisudawan diharapkan tetap ditempat duduk anda”, berikut kutipan singkat saat acara ini selesai. bapak dan ibuku berada di belakang dan pasti sudah berdiri dan meninggalkan lokasi sidang. aku dan teman yg lain masih duduk rapi disini.
[11.07] Bapak: bapak tunggu di depan tulisan Rektorat ya.
[11.07] Rendy: oke.
mungkin kami masih disuruh tetap disini untuk para tamu keluar dulu dan baru kami, biar gak berdesak-desakan.
“para wisudawan, dipersilahkan meninggalkan area sidang melalui pintu timur dan barat”, lantas kami semua langsung meninggalkan gedung. dengan sangat ramai dan panas membuat kepala pening mencari orangtuaku.
“aaaaaaaaaa selamat yeeeee luluuuuuus”, suara riuh para pendukung.
“Wan, selamat ya, Rend sukses yaaa, Lailaa aaaa cantik sekalii”, teriak teman-teman, aku salami mereka satu per satu mengingat perjuangan sampai sini sungguh berat. aku juga berhenti sejenak untuk sekedar ngobrol dengan mereka.
lalu, ada yg menepuk punggungku, dan itu Callisa membawa bunga yg cukup besar dan ada tulisannya ‘To Rendy, selamat atas wisudanya, sukses selalu ya (dan ada emot senyumnya), dari Callisa (dan ada emot love-nya)’. aku langsung berpikir, bunga segede ini pasti gak bisa langsung beli dan harus pesan terlebih dahulu, berarti dia benar-benar berusaha untuk ini.
“selamat ya”, ujar dia singkat sambil senyum dan malu-malu, dia menggunakan kebaya non-formal dan rok span selutut santai, dia jadi sangat cantik sekali.
“terimakasih Callisa, ngrepotin kamu nih aku”, ujarku basa basi sambil merangkulkan tanganku pada punggung dia sejenak. setelah puas dengan teman-teman, aku dan Callisa berjalan mencari orangtuaku menembus lautan manusia.
“Rend, aku malu ketemu orangtuamu”, ujar Callisa grogi.
“halah gapapa hehe”, ujarku santai.

akhirnya aku mampu menemukan orangtuaku bersama dengan Rahma, lantas aku memberi salam dan salim, dan memperkenalkan Callisa pada mereka.
“kenalin ini Callisa, pak bu”, ujarku dengan keringat yg mengalir deras karena grogi juga sebenarnya, ini pertama kali memperkenalkan cewek pada orangtuaku.
“Ibu, Bapak”, ujar Callisa sambil salim mencium tangan pada orangtuaku.
“ealah Rend, kok baru sekarang dikenalin bapak ibu”, ucap ibuku sambil mencium pipi Callisa.
seperti wisudawan lainnya, kami langsung berfoto-foto, terutama Rahma yg seneng banget dengan suasana kampusku, kulihat Callisa dan ibu selalu bersama dan ngobrol begitu juga dengan Rahma kadang nimbrung.
“yuuk, ikut makan yuk”, ujar ibuku kepada Callisa.
“hmmm terimakasih ibu, tapi saya langsungan aja”, ujar dia malu-malu.
“eeee jangan, ayo ikut dulu, Callisa diajak Rend”, ujar ibuku yg sangat semangat.
“ayo ikut Callisa gapapa hehehe”, ajakku.
“aku malu Rend”, ujar dia sambil senyum dan grogi menjadi satu.
“kan ada aku”, ajakku meyakinkan Callisa.
“yauda hihi”, ujar dia sambil mencubit perutku.
kami berlima pun berjalan menuju parkiran, disana bapak mendapat fasilitas mobil yg dipinjami oleh kantor cabang yg berada disini beserta sopirnya.

bapak memilih rumah makan yg bernuansa sejuk dan asri, tempat duduk lesehan dengan menu ikan bakar, selain itu ada kolam ikan kecil-kecilan yg membuat suara gemercik membuat hati semakin adem.
“dik Callisa belum wisuda kok gak barengan?”, tanya bapakku.
“baru akan maju ujian akhir bulan ini, bapak”, balas Callisa dengan sangat sopan dan lembut.
kami semua ngobrol dengan sangat santai, namun Callisa masih grogi karena baru pertama bertemu dengan orangtuaku, namun dia cukup pandai menutupi rasa grogi itu. orangtuaku sama sekali tidak menyingung perihal hubungan kami, jelas kalau ditanya, kami juga bingung jawab apa karena kami masih berteman biasa.
“mas Rendy, aku pinjem bunganya, mau buat foto-foto disana, fotoin mas”, ujar Rahma dengan semangat.
“yuuk sini, sama kakak aja”, ajak Callisa yg langsung beranjak dengan Rahma berjalan-jalan.
“cantik lho Rend, udah lama dengan Callisa?”, tanya ibuku setelah Callisa dan Rahma tak terlihat karena sibuk berfoto-foto.
“hanya temen biasa kok bu”, ujarku dengan berat, apakah ini kode dari orangtuaku jika mereka menginginkan Callisa sebagai pendampingku.
“laaahhhh”, balas kecewa ibuku.
setelah selesai dengan makan-makan, kami kembali kampus untuk mengembalikan Callisa yg datang menggunakan mobil sendiri, dan aku ikut orangtuaku ke hotel dimana mereka menginap, dan mungkin nanti malam aku juga ikut tidur disini, jika ada ruang.

saat malam tiba, setelah selesai dengan makan malam diluar, orangtuaku memintaku untuk tidur di hotel bersama mereka dalam satu kamar, bapakku menyewa hotel dengan ruang terbesar yg ditawarkan.
“tidur bareng bapak ibu aja ya, biar bisa ngobrol-ngobrol”, ujar bapak.
“lhaa emang cukup ya”, tanyaku.
“ntar aku cariin extra bed buat kamu dan Rahma”, ujar bapak.
tiba di hotel bapak langsung menemui resipsionis, dan kita diberi extrabed yg berukuran double bed, yg artinya mungkin aku dan Rahma sekasur, atau aku dan bapak.
bapak ternyata memilih tidur dengan ibu dikasur atas, dan aku dengan Rahma. lampu sudah dimatikan dan menjadi remang. lantas terbesit pikiran yg terjadi dengan tadi siang.

bunga dan kebaya non-formal, dua hal itu yg membuat aku berpikir keras, bunga dengan ukuran besar, mungkin ada sekitar 20an bunga mawar, tak mungkin bunga seukuran itu langsung dia beli tanpa memesan, berarti dia sudah memikirkan akan membawa bunga itu untuk diberikannya padaku, dan kertas kecil ucapan selamatnya. kebaya non-formal, temanku biasa pada menggunakan pakaian ala kadarnya, tapi Callisa benar-benar niat menggunakan kebaya, artinya itu juga perlu persiapan. apakah dia memang niat sejak sebelum hari-H atau tersebit sebelum berangkat, tak mungkin penampilan seniat itu dilakukannya spontan. mungkin kita telah sering mendengar pepatah, ‘terlalu sibuk mengejar bintang, namun melewatkan bulan yg bersinar terang didekatnya’, mungkin inilah yg aku alami, terlalu sibuk pada seseorang yg tak peduli denganku namun aku hampir melewatkan orang yg sangat perhatian denganku walau tempo perkenalan belum lama. apakah ini jawaban semesta dengan masalah yg terjadi padaku dengan Sandra?

ditengah-tengah keseriusanku berpikir mengenai keadaanku, terdengar bapak mendengkur. Rahma tidur disebelahku mepet-mepet kearahku karena kedinginan, aku masuk ke dalam selimut, terlihat pahanya yg putih dan jenjang, hotpantsnya yg longgar memperlihatkan celana dalamnya yg berwarna biru muda.
“tidak tidak..cukup..jangan lagi jangan”, pikirku dalam hati sambil menutupi kepalaku dengan bantal.

—BERSAMBUNG—

Pembaca setia BanyakCerita99, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)BTW yang mau Mensupport Admin BanyakCerita  dengan Menklik Gambar Diatas dan admin akan semakin semangat dapat mengupdate cerita full langsung sampai Tamat.
Terima Kasih 🙂

Daftar Part