Nirwana Part 71

0
829

Nirwana Part 71

Rol Film Terakhir

Indira nampak seperti bidadari dalam balutan pakaian adat Bali, bersanding mesra dengan Sang Mempelai Pria, diberkati dengan air suci dan dentingan lonceng oleh Sang Pendeta. Hari itu doa mengalun tanpa putus-putus, mengiringi sepasang pengantin yang memulai hidup baru.

Aku kira
beginilah jadinya:
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sementara aku mengelana serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satupun juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Cepat-cepat Ava mengibas bayangan itu dari dalam benaknya. Kembali dipandanginya api unggun yang menyala redup, sebelum tiba-tiba Sheena menyiramkan minyak tanah hingga api membesar dan menyala tepat di wajahnya.

“Kampret,” Ava mengumpat.

“Sorry.” Sheena nyengir, kembali duduk di sebelah pemuda itu, menyodorkan sebungkus kacang rebus dan sukun kukus yang mengepul hangat.

“Dinner course ala Pantai Jimbaran.” Ava terkekeh, menyuap sukun kukus ke dalam mulutnya.

“Kanggoang[SUP](1)[/SUP] dah, ya. Kalau sama Indira, pasti kamu dinnernya di sana.” Sheena melirik leretan warung ikan bakar di pantai di kejauhan.

(1) Kanggoang: Nggak apa-apa ya segini aja.

 

Fragmen 70
Rol Film Terakhir

Hening, angin malam berhembus malu-malu. Ombak berdebur ragu-ragu. Api unggun itu dinyalakan begitu rupa, dionggokkan begitu saja di tepi pantai agak jauh dari Reggae Bar milik Bob. Bulan purnama beberapa hari yang lalu, kini hanya tersisa bulan setengah yang tersangkut di antara awan hitam, selebihnya hanya kegelapan yang membungkus.

Sudah selepas mahgrib tadi dua orang itu duduk di situ, memandangi amplop kecil yang tergeletak di atas pasir.

“Jadi kapan dibuka? Darahku keburu habis digigit nyamuk, nih.” Ava memberengut, sibuk menepuk nyamuk-nyamuk jahanam yang hinggap di lengan dan kakinya.

Sheena menggeleng. “Nggak tahu… duh… aku kok tiba-tiba grogi gini, ya.” Cewek tomboy itu menggaruk-garuk rambut pendeknya. “Puluhan tahun rol film itu kusimpan, dan sekarang tahu-tahu aja…”

“Halah, sok kontemplatif.” Ava mengeluarkan foto-foto itu tanpa diminta.

“Ava!” Sheena melotot, protes keras ketika Ava menepuk-nepuk setumpukan foto di tangannya.

“Rol film memang seharusnya dicuci cetak, kan? Makanya nggak semua orang jadi fotografer, atau model, harus ada yang jadi…” Ava terdiam lama, cukup lama hingga Sheena merasa ada sesuatu yang tak wajar.

“Jadi apa?”

“Eng-enggak. Nggak kenapa-kenapa.” Ava cepat tersenyum, kembali melihat foto di tangannya, dan… “ASTAGA!” Ava berteriak.

“Kenapa lagi?!”

Ava nyengir bego, menunjukkan sebuah foto yang berwarna hitam. “Lensanya belum dibuka.”

“Anjriiiiiit! Sense of humor lu emang bocor gitu, yah?!” Sheena terbahak sambil menonjok Ava yang kini asyik melihat-lihat fotonya.

Ada cukup banyak foto, kebanyakan Sheena waktu remaja, sebelum berganti dengan panorama gedung-gedung tua, langit, awan mendung, rintik hujan, pemandangan kompleks perumahan dengan model tahun 60-an, semuanya terbingkai indah dalam rangkaian foto yang diambil Awan.

“Padahal dulunya cantik, tapi sekarang tato-an sangar gini.”

“Dulu aku udah pernah cerita, kan? Kenapa aku bisa jadi kaya gini…”

“Maaf… aku nggak bermaksud…” bisik Ava, mengusap lengan Sheena yang penuh tatoo, merunuti gambar naga warna-warni, dengan sisik yang terbuat dari orang-orang di panggang, dengan api yang membentuk tulisan Inferno, tulang punggung Sang Naga yang membentuk tulisan Purgatorio di atas bekas luka, dan tulisan Paradiso di punggung tangan.

Sheena merapatkan tubuhnya ke arah Ava. “Va, ini adalah mimpi yang sama yang kulihat selama 10 tahun berturut-turut,” ucap Sheena pelan.

Ava terdiam sejenak. “Asalnya dari mimpi…” ia menggumam, “sama kaya lukisanku, ya. Aku juga mimpi itu selama enam bulan berturut-turut.”

“6 bulan, berarti semenjak aku tinggal di tempat Pak De, kan?” Sheena melirik, menyandarkan kepalanya di pundak Ava.

Ava mengangguk, dan keduanya kini dirambati perasaan merinding yang asing. Angin malam berhembus pelan, ombak membelai pantai, berdesir seperti alunan kidung yang mendirikan bulu roma..

Dua orang itu memandang api unggun yang membara dan meletup-letup kecil, mencoba menyingkap misteri, satu persatu.

“Kamu ingat lukisanmu? Iblis bertopeng, Ksatria dengan dada tertusuk pedang, bidadari dengan lengan kiri berdarah…” Kemudian Sheena menyingkap lengan bajunya, ada bekas luka memanjang di lengan kirinya, tersembunyi di balik rangkaian gambar. “See my point? Lukisan pertamamu dan tatoku digambar dari jiwa yang sama.”

Ava mengangguk cepat sebelum kembali melihat-lihat foto.

“Lukisan keduamu, lukisan noir yang bisa dibolak-balik.”

“Ah, itu juga mimpi. Di malam itu, aku ketemu dengan seseorang, dia yang bilang bahwa untuk tahu kebenaran sepenuhnya kita harus melihat ke sisi koin yang satunya.”

“Hah? Kamu ketemu siapa?”

“I-ini.” Tangan Ava bergetar menunjuk sebuah foto. “Na, i-ini siapa?”

Sheena tersenyum pahit. “Awan.”

Hening, dan bulu kuduk Ava dirambati perasaan merinding. “Na, kamu jangan nakut-nakutin. Gimana kalau selama ini, arwahnya temenmu…”

“Nggak lucu.” Sheena melotot, mengeluarkan lima lembar foto terakhir. Matanya yang bulat meniti foto-foto itu satu persatu. Sebelum akhirnya ia mengernyit, melirik Ava. “A-ava…” Sheena berbisik, nyaris tak bersuara.

“A-apa….”

Tangan Sheena bergemetaran menunjukkan foto itu ke arah Ava. Satu detik saja Ava melihatnya, sebelum kilasan-kilasan imaji datang bergemuruh dari sisi koin yang satunya.

Dan yang terjadi setelahnya adalah guncang. Godam tak kasat mata bagaika menghantam kepala keduanya, menghempaskan Ava dan Sheena di atas permukaan pasir. Ombak berdebur sayup-sayup, angin berdesir samar-samar. Ava mengerjap lemah. Dunia seperti berputar dan langit seakan ikut meluruh, menelan kesadaran masing-masing. Adalah wajah Sheena yang terbaring di hadapannya yang terakhir dilihat Ava, hingga perlahan warna hitam memburamkan pandangan keduanya.

Gelap.

Perjalananmu, kata kau dulu:
adalah perjalanan yang akan mengingatkan mereka yang lupa.
Termasuk juga aku.
Keterpisahan adalah ilusi.
Dunia jasad dan dunia roh,
dunia materi dan dunia energi;
hanyalah dua sisi dari koin yang sama.

Hidup tidak pernah berakhir mati.
Hidup hanya berganti wujud.

Dan sepanjang perjalanan bernama hidup,
kau dan aku,
kita semua,

hanya berjalan menembusi satu tabir itu saja.
Membolak-balik koin yang sama.

Bersambung