Ngilu Saat Di Memek ku di sodok

0
2658

Perkenalkan namaku Winie dan kali ini umurku masih sekitar 26 tahun, saat aku menikah di umur 21 tahun dan kini aku sudah memiliki 2 orang anak yang kini kami sekoalhkan di luar negeri hingga di rumah merasa sangat sepi, sisa aku dan suami ku serta kedua pembantu ku yang bekerja untuk membersihkan perabot rumah serta kebun, sementara menjelang senja mereka pulang. Suamiku sebagai seorang usahawan memiliki beberapa usaha di dalam dan luar negri. Kesibukannya membuat suamiku selalu jarang berada di rumah.

Bila suamiku berada di rumah hanya untuk istirahat dan tidur sedang pagi-pagi sekali dia sudah kembali leyap dalam pandangan mataku. Hari-hariku sebelum anakku yang bungsu mengikuti kakaknya yang sudah lebih dulu menuntut ilmu di luar negeri terasa menyenangkan karena ada saja yang dapat kukerjakan, entah itu untuk mengantarkannya ke sekolah ataupun membantunya dalam pelajaran.

Namun semenjak tiga bulan setelah anakku berada di luar negeri hari-hariku terasa sepi dan membosankan. Lebih dari itu bila suamiku sedang pergi dengan urusan bisnisnya yang berada di luar negeri, bisa pergi ke luar dari 2 hari ini. Aku tidak pernah ikut campur dalam urusan bisnisnya sehingga hari-hariku kuisi dengan jalan-jalan ke mall ataupun pergi ke salon dan melakukan senam. Sampai suatu hari kesepianku berubah total karena supirku. Suatu hari setibanya di rumah dari tempatku senam supirku tanpa kuduga memperkosaku. Seperti biasanya tiba di dalam rumah, aku langsung membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam rumah dan melangkahkan kakiku menaiki tangga yang begitu menuju lantai dua kamar utama. Begitu kubuka pintu kamar,

Saat aku berjalan hendak memasuki ruang kamar mandi aku melewati tempat cermin milikku. Saat aku melihat ke cermin dan melihat diriku sendiri, terlihat seperti itu seperti perut padi, lalu mataku mulai beralih melihat pinggul besar seperti bentuk gitar dengan pinggang kecil kemudian aku menyampingkan tubuh hingga pantatku masih terlihat dengan jelas. Kemudian kuperhatikan bagian atas tubuhku, buah dadaku yang masih diselimuti BH terlihat jelas di bagian tengah, terlihat cukup padat berisi serta, “Ouh.. ngapain kamu di sini!” Ketika asyik-asyiknya memandangi kemolekan diriku sendiri tiba-tiba saja sedikit terkejut dari aku cermin sedang pengendaraku yang berdiri di bibir kamarku yang tadi lupa kututup. “Jangan ngeliatin.. sana cepet keluar!”bentakku dengan marah sambil menutupi bagian tubuhku yang terbuka.

Tetapi saya selalu mematuhi perintahku malah melangkah maju satu demi satu masuk ke kamar tidurku. “Aris.. Saya sudah bilang cepat keluar!” bentakku lagi dengan mata melotot. “silakan ibu teriaknya, hujan di luar akan melenyapkan suara ibu!” dia dengan mengungkapkannya. Sepin kamartas pohon celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan sedang turun dengan lebat, memang rapat jendela-jendelanya cukup rapat jendela-jendelanya hingga hujan turun pun tidak akan terlihat hanya di luar sana hujan datang dan mengomel bergoyang tertiup angin di sana. Detik demi detik semakin dekat dan terus mendekatiku. Terasa jantungku kencang dan kencangkan penggeraknya.

Aku pun mulai teratur selangkah demi selangkah, aku tidak tahu harus melakukan apa saat itu sampai akhirnya kakiku terpojok oleh bibir ranjang tidurku. “Mas.. jangan!” kataku dengan suara gemetar. “Hua.. ha.. ha.. ha..!” suara tawa pengemudiku saat melihatku mulai kepepet. “Jangan..!” jeritku, begitu sopirku yang sudah satu meter dariku menerjang tubuhku hingga jatuh di atas ranjang dan dalam beberapa detik kemudian tubuhku langsung jatuh ke tubuhku yang telentang. Aku terus berusaha meronta saat pengemudiku mulai menggerayangi tubuhku dalam himpitannya.

Begitu aku mendapat kesempatan untuk mundur dan mendapatkan kesempatan untuk mencoba, namun aku masih kalah cepat dengannya, pengemudiku berhasil menangkap celana dalamku sambil menariknya hingga jatuh terseret ke tepi ranjang dan celana dalam putihku tertarik hingga bongkahan pantat terbuka. Namun saya terus berusaha untuk mencari solusi di tengah-tengah untuk menciptakannya. Lagi-lagi aku kalah cepat dengan sopirku, dia menangkap tubuhku kembali namun belum sempat aku bangkit dan berusaha lagi, tiba-tiba saja pinggulku merasakan jatuh benda berat hingga tidak dapat bergerak lagi. “Aris.. Jangan.. jangan.. mas..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis. supirku sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya.Setelah yang sudah mulai kecapaian dan kehabisan tenaga lalu pengemudiku dengan sigapnya menggenggam tangan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang kemudian mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tetap berada di atas berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditarik hingga menekuk.

Lalu kurasakan telapak kaki kananku dililitnya dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran gilirankannya bersama dengan kaki kananku. “Saya ingin ingin ibu..” bisiknya dekat telingaku. “Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” dia lagi dengan suara nafas yang sudah dicari. “Tapi saya majikan kamu Ris..” kataku mencoba mengingatkan. “Memang betul bu.. tapi itu waktu jam kerja, sekarang sudah pukul 7 malam saya bebas tugas..” berarti sambil melepaskan tali BH yang kukenakan. “Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku.“Tapi malam ini Bu Winie harus mau melayani saya,” katanya terus.-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku merinding dan geli.

Aku dapat melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama kemudian pengemudiku menarik kakiku sampai pahaku menempel di perutku lalu mengikatkan tali lagi di perutku. kemudian digendongnya dan dibawanya ke pojok bagian atas ranjang lalu dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, mirip dengan anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk tubuh ayah. Tangan kirinya menahan pundakku sehingga menyandarkan pada bagian yang dan terlihat di sebelah kanannya di atas dan mengencangkankan di atas kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan bersih itu. “Aris.. jangan Ris.. jangan!” ucapku berulang-ulang dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya.Namun Aris, supirku tidak memperdulikan kutipanku sebaliknya dengan senyum penuh nafsu terus saja meraba-raba pahaku. “Ouh.. zzt.. Euh..

Apalagi telapak tangan dan jemari berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku. “Mass.. Eee” rintihku lebih panjang lagi dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya mulai mengusap-usap belahan bibir vaginaku. Tangan Mas Aris terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu mulai sedikit menekan hingga ujung telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir vaginaku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli. Tangannya yang terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir vaginaku membuat birahiku jadi naik dengan cepat, baru sudah cukup lama aku tidak akan pernah merasa dekat lagi dengan suamiku yang selalu sibuk dan sibuk.Entah siapa yang memulai duluan saat pikiranku sedang melayang kurasakan bibirku sudah beradu dengan saling berpagut mera, menjilat, mengecup, mulut yang keluar dari mulut masing-masing. “Ouh.. Winie.. wajahmu cukup membangkitkan sekali Winie..!” dia berkata dengan nafasnya yang mengejar itu.

Setelah berkata demikian setelah ditarik hingga buah dadaku yang menantang itu tepat pada mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti dengan langsung memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil-kali menarik-narik giginya. Entah mengapa keadaan saat itu seperti takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk dalam hati, namun ada perasaan nikmat yang luar biasa sekali seolah-akan seolah-olah ada sesuatu yang hilang kini kembali datang merasuki saya yang sedang dalam tidak berdaya dan pernah pasrah. “Bruk..

Tidak berapa lama kemudian kurasakan bagian bibir vaginaku yang dilumat dengan binatang seperti orang lain. Mendapat serangan seperti itu berulang langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta meninggikan suara menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai menggerakkan bergerak ke kanan dan ke kiri-ulang. Cukup lama mulut mencumbu dan melu bibir vaginaku terlebih-lebih pada bagian atas lubang vaginaku yang paling sensitif itu. “Aris.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. riss..” rintihku panjang dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan mulai membantah dengan membaca.

Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecilku dan mengorek-ngorek di dalamnya. “Ouh.. Ris..” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan bahkan dengan suamiku sendiri. “Sabar Win.., saya suka sekali dengan lendirmu sayang!” suara sopirku yang setengah menikmati sambil menikmati dan menikmati hisap tanpa henti selama beberapa menit lagi. Setelah puas bermain-main dan berkenalan dengan bibirku yang montok itu, lalu dekati sambil-remas buah dada yang ranum dan kenyal itu. “Bu Winie.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas yang sudah mendesah-desa.“Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa masuk belahan bibir vaginaku. “Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..” “Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang sangat sangat sampai-sampai teras duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. Akhirnya batang penisku tenggelam hingga dalam dibalut oleh lorong-lorongku dan terhimpit oleh bibir vaginaku.

Beberapa saat, pengemudiku dengan sengaja, penisnya hanya didiamkan saja tidak bergerak lalu beberapa saat lagi mulai terasa di dalam liang vaginaku penisnya ditarik perlahan-lahan dan setelah itu masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan sekali seolah-akan menikmati menikmati-menghadap dinding-dinding lorong yang rapat dan teras bergerenjal-gerenjal itu. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan semakin berguncang dengan hebatnya, “Ouhh..” Tiba-tiba suara pengemudiku dan suaraku sama-sama beradu nyaring dan panjang lengkingannya dengan diikuti yang kaku dan langsung lemas seperti tanpa tulang terasa. Begitu pula dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku. “Sialan kamu Ris!” ucapku memecah kesunyian dengan nada geram. Cerita Bokep

Setelah beberapa lama saya melepaskan dan melepaskan nafas saya mulai tenang dan teratur kembali. “Kamu gila Ris, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku lagi sambil memandang tubuhnya yang masih terkulai di sampingku. “Bagaimana kalau aku hamil nanti?” ucapku lagi dengan nada kesal. “Tenang Bu Winie.., saya masih punya pil anti hamil, Bu Winie.” dia dengan tenang. “Iya.. tapi kan udah telat!” balasku dengan sinis dan ketus. “Tenang bu.. tenang.. setiap pagi ibu kan selalu minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya selalu mencampurkan dengan obatnya jadi Bu Winie tidak perlu khawatir akan hamil bu,” dia malah lebih tenang lagi.“Ouh.. jadi kamu sudah merencanakannya, sialan kamu Ris..” ucapku dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku sudah lama merencanakannya. “Bagaimana Bu Winie..?

Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Ris..” kataku masih dengan nada kesal dan gemas. “Maksudnya, tadi waktu di Entotin enak kan?” tanyanya lagi sambil membelai rambutku. Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh pengemudiku, namun dalam hati kecilku tidak dapat kupungkiri walaupun tadi dia sudah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, namun aku sendiri turut menikmatinya bahkan aku sendiri merasakan organime dua kali. “Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi. “Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Aris!” kataku dengan menggerutu karena mata sudah pegal dan kaku. “Nanti saja yach! Sekarang kita mandi dulu!”sambil langsung membawanya ke samping dan membawa ke kamar mandi yang berada di tempat tidurku. Tubuhku yang masih lemah lunglai dengan kedua tangan dan kakiku yang masih diletakkan di atas lantai keramik berwarna krem ​​muda yang dingin tepat di bawah pancuran shower yang tergantung di dinding. Setelah itu pengemudiku menilai lampu kamar mandiku dan menyajikan kran air hingga basah oleh guyuran air dingin yang turun dari atas pancuran shower itu.

melihat yang sudah basah dan terlihat mengkilat oleh lampu kamar mandi lalu Aris supirku berjongkok dekatku dan di sampingku hingga tubuhnya pun turut basah oleh air yang turun dari atas. Mata supirku yang memandangiku seperti terlihat lain dari biasanya, mulai mengusap rambutku yang basah ke belakang dengan penuh sayang seperti sedang menyayang seorang anak kecil. Lalu diambilnya sabun Lux cair yang ada di botol dan menumpahkan pada saat mulai menggosok-gosok tubuhku dengan telapak tangan. Pinggulku, perutku lalu naik ke atas lagi ke buah dadaku kiri dan kemudian ke buah dadaku yang kanan. Tangannya yang terasa kasar itu terus menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar seperti sedang memoles mobil dengan cairan kit.dia meremas dengan lembut buah dada dan punting susuku hingga aku merasa geli yang dibuatnya, lalu naik lagi di atas buah dadaku, pundakku, leherku lalu ke bahuku, lalu turun lagi ke lenganku. “Ah.. mas..” pekikku ketika membalik-balik kembali turun dan turun lagi hingga telapak tangan menutup bibir vaginaku.

Kurasakan telapak tangan menggosok-gosok menggosok-gosok vaginaku turun dan kemudian bibir bibir vaginaku dengan jemari tangan yang lincah dan cekatan dan kembali-gosokkannya menjadi sabun Lux cair itu semakin berbusa. Setelah memandikan tubuhku lalu membasuh tubuhnya sendiri sambil tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku lalu membawaku keluar kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang masih basah itu ke atas kasur tanpa melap terlebih dahulu. “Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapan sambil sopirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya lalu ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk aku berbicara. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pernah merasakan kehangatan yang memuncak,

Memang dalam hal keuangan aku tidak pernah kekurangan. Apapun yang aku mau pasti kudapatkan, namun untuk urusan kewajiban suami terhadap istri lama tidak kudapatkan lagi. Entah mengapa perasaan saat ini seperti ada rasa sedang, gembira atau.. entah apa namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja walaupun dalam hati kecilku juga merasa malu, benci, sebal dan kesal. Supirku cukup lama meninggalkan dirinya sendiri, namun waktu kembali seperti menyajikan masakan nasi goreng dengan telepon yang masih hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu aku disandarkan pada teralis ranjang. “Biar saya yang suapin Bu Winie yach!” katanya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya.“Kamu yang masak Ris!” ingin tahu. “Iya, lalu siapa lagi yang masak kalau bukan saya, kan di rumah cuma tinggal kita berdua, si Wati kan udah saya suruh pulang duluan sebelum hujan tadi turun!” kata supirku. “Ayo dicicipi!” katanya lagi. Mulanya aku sudah ragu untuk membuktikan nasi goreng buatannya, namun perutku yang memang terasa lapar, akhirnya kumakan sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi gorengnya cukup lumanyan juga sepertinya buatan. Tanpa terasa nasi goreng di piring dapat kuhabisi juga.

Bolehkan saya memanggil Bu Winie dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membasuh mulutku dengan tisu. “Boleh saja, memangnya kenapa?” bertanya “Engga apa-apa, biar enak aja kedengaran di kupingnya.” Kalau saya boleh manggil Mbak Winie, berarti Bu Winie eh.. salah maksudnya Mbak Winie, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta. “Terserah kamu saja” kataku. “Sudah nggak capai lagi kan Mbak Winie!” sahut supirku. “Memang kenapa!?” bertanya “Masih kuatkan?” tanyanya lagi dengan senyum binal sambil mulai meraba-raba tubuhku kembali.Aku tidak memberi jawaban lagi, hanya menunduk malu, saja aku diperkosanya malah membuatku puas ditubuhnya apalagi untuk babak kedua kataku dalam hati.