Ngajakin ML Pacar Yang Alim Dan Lugu

0
1412

Kenalkan nama saya Andrew. Umur 24 tahun dan sekarang lagi kuliah di sebuah PTS di Kediri. Aku termasuk cowok yang populer di kampus (sekeren namaku). Tapi aku punya kelemahan, saat ini aku udah nggak perjaka lagi (emang sekarang udah nggak jamannya keperjakaan diutamakan). Nah, hilangnya perjakaku ini yang pengin aku ceritakan.

Aku punya banyak cewek. Diantaranya banyak cewek itu yang paling aku sukai adalah Kiki. Tapi dalam kisah ini bukan Kiki tokoh utamanya. sebab hilangnya perjakaku nggak ada sangkut pautnya sama Kiki. Malah waktu itu aku lagi marahan sama doski.

Waktu itu aku nganggap Kiki nggak bener-bener sayang sama aku. Aku lagi jutek banget sama dia. Habisnya udah lima bulan pacaran, masak Kiki hanya ngasih sun pipi doang. Ceritanya pas aku ngapel ke tempat kostnya, aku ngajakin dia ML. Habis aku pengin banget sih. (keseringan mantengin VCD parto kali yee…). Tapi si Kiki menolak mentah-mentah. Malahan aku diceramahin, busyet dah!

Makanya malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi.

Sebab sejak tadi sore ibu kost dan bapak pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Angel sudah dijemput pacarnya sejam yang lalu. Sedang Lili, adiknya Angel entah nglayap kemana. Yang ada tinggal Reina, si bungsu dan Yenti, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya.

Terdengar irama lagu India dari dalam rumah induk, pasti mereka lagi asyik menonton Gala Bollywood. Nggak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Reina datang menghampiriku.

“Lagi nggak ngapel nih, Mas Andrew?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Reina memang orangnya ramah banget)
“Ngapel sama siapa, Rei?” jawabku sambil terus memainkan Sialannya Cokelat.
“Ah… Mas Andrew ini pura-pura lupa sama pacarnya.”

Gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Reina cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku cuman tersenyum kecut.

“Udah putus aku sama dia.” jawabku kemudian.

Nggak tahu deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Reina. Gadis itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Yah, kacian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya bete banget lagunya.”

Aku menghentikan petikan gitarku.

“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Reina deh ketimbang sama dia.”

Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya. aku segera berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Reina ada mau sama aku.

“Rei, kok diam aja? Malu yah…”

Reina melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua SMA tapi kok perawakannya udah kayak anak kuliah aja. Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya.

Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Reina yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu. Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, ereksiku naik waktu melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada nganggur gimana kalo Mas Andrew bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”
“Yah Reina, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Andrew, iya nggak?” pancingku.
“Ah, Mas Andrew ini bisa aja godain Reina..”

Reina mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok bangun yah?

“Mau nggak Mas, tolongin Reina?”
“Ada upahnya nggak?”
“Iiih, dimintai tolong kok minta upah sih…”

Cubitan kecil Reina kembali memburu di pahaku. Siiiir… kok malah tambah merinding begini ya?

“Kalau diupah sun sih Mas Andrew mau loh.” pancingku sekali lagi.
“Aah… Mas Andrew nakal deh…”

Sekali lagi Reina mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Reina biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, Reina ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Andrew aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku. Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Yenti kalo kamu kemari?”
“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Andrew.”
“Trus si Yenti gimana? Nggak marah?”
“Ya enggak, ngapain marah.”
“Sendirian dong dia?”
“Mas Andrew kok nanyain Yenti mulu sih? Sukanya sama Yenti ya?” ujar Reina merajuk.
“Yee… Reina marah. Cemburu ya?”

Reina merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

“Reina udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.
“Belum tuh.”
“Pacaran juga belum pernah?”
“Katanya Mas Andrew mau ngajarin Reina pacaran.” balas Reina.
“Reina bener mau?” Gayung bersambut nih, pikirku.
“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Reina tertunduk malu.
“Reina suka sama mas Andrew?”

Reina memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Reina.

“Reina suka sama Mas Andrew?” ulangku.
“Iya.” gumamnya lirih.

Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…

“Mas Andrew mau ngesun Reina, Reina nurut aja yah…” bisikku ke telinga Reina

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Reina menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.

Mmm..muah… kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Reina mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya.

Kuperas-peras payudara Reina penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku. Bibirku merayap menyapu leher jenjang Reina. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Reina.

“Engh.. Masss… jangan… aku uuuh…”

Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Reina.

“Rei… kaosnya dilepas ya sayang…”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Reina satu persatu dengan tangan kananku. Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Reina bergantian dari balik kaos.

Tak tega rasanya membiarkan Reina kehilangan kenikmatannya. Jemari Reina menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Reina ciptakan.

Kaos pink Reina terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Reina dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow… payudara Reina (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Reina. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Reina memicingkan mata.

“Rei… adekmu udah gede banget Rei…”
“Udah waktunya dipetik ya mass…”
“Ehem, biar aku yang metik ya Rei…”

Aku berada di atas Reina. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Reina. Putar… putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.

“Auh…Mass.. Aku nggak tahan Mass… kayak kebelet pipis mas..” rintih Reina.

Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Reina dengan mulutku.

“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.
“Mass… sakiit…” rintih Reina sambil memegangi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Reina sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta. Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Reina menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Reina telah basah.

“Reina kencing di celana ya Mas?”
“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”

Reina tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Reina.

Merah merona, vagina yang masih perawan. Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.

“Tahan ya sayang…engh..”
“Aduh… sakiiit mass…”
“Egh… rileks aja….”
“Mas… aah!!!” Reina menjambak rambutku dengan liar.

Slup… batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Reina yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.

“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih Reina.

Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.

“Jruub…”

Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Reina. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.

“Sakit sayang…” kataku.
“Enakkk…eungh…” Reina menyukainya.

Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Reina berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Reina melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahhh..” desis Reina ketika tanganku mulai meremas-remasnya.
“Mass aku mau pipis…”
“Pipis aja Rei… nggak papa kok.”
“Aaach…!!!”
“Hegh…engh…”
“Suuur… crot.. crot.. “

Lendir kawin Reina keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah…” lega.

Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Reina menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Reina pun terlelap kecapaian.