MY BLACK BANANA​

0
1332

MY BLACK BANANA​
Pov Nina…

“Aaauuhhhh….aaaaahhhhhhh….”

Ini adalah orgasme kelima yang aku dapatkan malam ini. Malam yang indah, malam yang penuh dengan kepuasan.

“Cuupp…”

Sebuah kecupan mendarat di keningku. Aku dapat merasakan sebuah ketulusan didalamnya. Sebuah tanda rasa syukur atas apa yang telah aku lakukan selama ini.

“Terima kasih, telah mewujudkan fantasiku selama ini,”

Aku hanya tersenyum kemudian melumat bibirnya yang tebal.

“Ssrrlluuuuppp…ssrrllluuupp…ssrrllluuupppp…”

“Eemmmm….ssshhhhh…aaahhhh….” desahku lirih.

Dan sejak saat ini duniaku berubah….

****​

Semua ini dimulai beberapa bulan yang lalu, ekonomi keluargaku menurun drastis akibat pandemi ini. Harus berdiri dengan kaki satu yang menopang keuangan keluarga, mengharuskan aku memutar otak mencari solusi. Setelah aku yang terkena dampak pandemi ini, dengan terpaksa dirumahkan oleh perusahaan, kini kantor tempat suamiku bekerja mulai oleng.

Untuk menutupi semua itu, sementara aku memanfaatkan hobiku memasak untuk membantu memenuhi kebutuhan. Sedikit demi sedikit keuntungan aku kumpulkan meskipun masih jauh dari kata cukup. Capek badan dan capek pikiran tak aku hiraukan lagi, aku harus bersabar.

Hingga suatu hari aku bertemu dengan Davi, anak tetanggaku yang lumayan deket. Davi berumur beberapa tahun dibawahku. Badannya yang sedikit subur juga kulitnya yang berwarna gelap berbanding terbalik dengan kedalaman hatinya. Dia sungguh baik hati pada keluargaku terutama pada ketiga anak-anakku. Tidak jarang dia memberi uang jajan, dan tidak jarang juga membelikan oleh-oleh ketika dia keluar kota.

Davi Mahendra, begitu nama lengkap yang diberikan kedua orang tuanya. Kedekatan keluarga kami bisa dikata sudah lebih dari keluarga. Dengan rumah orang tua kami yang berdampingan merupakan awal kedekatan kami. Aku masih inget ketika keluarga kami pertama kali pindah, keluarga Davi dengan tangan terbuka menyambut. Mereka memperlakukan keluarga kami layaknya keluara sendiri. Jadi tidak salah jika rumahku sudah seperti rumah Davi sebaliknya juga aku sudah tidak asing dengan setiap sudut rumah Davi.

“Baru pulang Dav ?,” tanyaku sambil duduk disebelahnya.

Sore itu aku mampir ke rumah orang tuaku melihat dia sedang menikmati secangkir kopi. Kehadiranku cukup mengagetkannya, maklum saja seluruh perhatiannya terfokus pada layar hapenya.

“Eeh…iya mbak,” jawabnya sambil tersenyum.

“Dari mana mbak ?”

“Lalu anak-anak mana kok gak diajak,” belum juga aku menjawab sudah diberondong dengan pertanyaan seputar anak-anakku.

“Lalu kabar mbak gimana, sehat kan,”

“Mas Yudi juga gimana, sehat juga kan. Kok gak ikut kesini mbak,”

“Terus kok tumben sore-sore maen kesini mbak, ada apa nih ?”

Aku hanya tersenyum dan menatapnya lekat,” kamu itu ya, belum juga dijawab udah di berondong dengan pertanyaanmu “.

“Hehe…”

“Habis mbak Nin dah lama gak maen kesini,”

“Kagak kebalik apa, justru situ yang hobi keluar kota, setiap mbak kesini aja gak keliatan,” kataku sambil meninju pelan lengan tangannya.

Davi mendesah pelan,” maklum mbak tuntutan kerjaan.”

Terlihat jelas guratan kelelahan di wajahnya. Pekerjaan dia sebagai travel agent memang mengharuskan dirinya siap setiap saat.

“Capek ya Dav,” godaku.

“Nggak sih, ketemu cewek cantik terus,” jawabnya yang menyambut godaanku.

Hadeh ini anak tau aja mau digodain.

“Kamu itu ya dari dulu tau aja kalo mau digodain,” ucapku.

“Hehe, ya iya lah. Salah siapa dulu suka nenenin aku pas kecil,” ledek Davi kemudian.

“Dasar bocah gemblung,”

“HAHAHAHA…”

“HAHAHAHAHA…”

Tawa kami berbarengan.

“Ngomong-ngomong bapak ibu kemana dek,” tanyaku.

Tidak biasanya rumah Davi sepi, terlebih saat sore hari seperti ini. Biasanya pakde, begitu aku memanggil ayah Davi saat sore selalu menyirami taman depan. Dan ibunya selalu menemani sambil menikmati teh di bangku itu. Sambil sesekali berceloteh tentang tanaman yang dirawat pakde. Jadi saat sore seperti ini pastilah mereka terlihat di sini, tempatku dan Davi sekarang. Tapi saat ini terlihat sepi pasti ada sesuatu.

“Simbah sakit mbak, jadi bapak dan ibu kemaren sore kesana. Kalo ndak bagaimana mungkin sore gini aku dah dirumah,” Davi berkata sambil nyengir.

“Sakit apa Dav ?”

“Biasa sih mbak, tensinya kumat. Tahu sendiri gimana simbah, kalo gak pake santen kagak makan,” Davi pun mendengus.

“Ngomong-ngomong itu apaan mbak, kelihatannya enak” tanya Davi saat melihat tas bawaanku.

Kemudian aku menceritakan semua pada Davi. Tentang bagaimana usahaku membantu suamiku dalam mengatasi keuangan keluarga di tengah pandemi ini. Dimana aku harus rela berkeliling mengirim semua pesanan.

“Makanya bantu mbak ya Dav, borong semua dagangan mbak,” ucapku merangkai asa.

Hari ini cukup melelahkan, setelah seharian berkeliling namun masih sisa separuh lebih.

“Buset dah, segini banyak suruh beli,”

“Mau ya…mau ya…mau yaa…”

****

​Pov Davi

“Butuh refresing nih,” gumamku sambil bersandar sekaligus memejamkan mata sebentar.Hari ini kerjaan dikantor bisa dikatakan kena tsunami, melimpah ruah sampai aku tak kelihatan. Banyak sekali yang harus di selesaikan dalam dus hari ini kemudian di mintakan tanda tangan big bos.

Capek dan lelah itu yang aku rasakan hari ini, hanya duduk seharian memeriksa semua tumpukan berkas ini membuatku stress sendiri. Tidak membutuhkan waktu yang lama, aku tah terlelap dalam tidur.

“….Ringtone smartphone…”

Setengah jam berlalu aku terlelap tidur, mendadak bangun karena mendengar sebuah smartphone yang tergeletak di atas meja berbunyi. Dengan malas aku pun menjawab panggilan tersebut.

“Ya…halo…”

“……..”

“Hmm, ya mbak ada apa nih,” tanyaku basa basi.

Dalam hati aku berteriak gembira, saat mengetahui siapa yang tengah menelponku kini. Pada akhirnya ada kesempatan untuk aku mewujudkan fantasiku selama ini.

“Mbak dateng aja ke alamat yang aku beri kemaren,” kataku pada mbak Nina.

“……”

“Sabtu juga boleh, tapi siang ya mbak setelah makan siang,”

“……”

“Waalaikum salam…”

Setelah mematikan panggilan itu, senyumku terkembang lebar. Ada semacam tangan yang kini telah memencet tombol “ON” di dalam otakku. Saat itu juga puluhan bahkan ratusan ide menyeruak, berkembang memenuhi semua ruang fantasi.

….beberapa hari yang lalu….

Aku hanya memandang nanar sosok wanita yang kini duduk di sebelahku. Sesosok wanita yang tangguh menurutku, bagaimana tidak dia rela berkeliling, berjualan demi sekeping rupiah.photomemekcom ma ini mungkin tidak ada dalam impiannya. Yang aku tahu keluarga mbak Nina selama ini bisa dikatakan sudah mapan, namun takdir berkata lain dia kini baru memasuki fase jatuh di bawah.

“Mbak nggak seharusnya kayak gini,” ucapku trenyuh melihat kondisinya.

Tubuh dan wajahnya tak lagi terawat, beda jauh dari kesehariannya dulu. Sungguh tak tega melihatnya saat ini.

“Ya bagaimana lagi Dav, kondisi yang mengharuskan begini saat ini,” desah mbak Nina lesu.

“Makanya Dav, borong dagangan mbak yaa…” ucap mbak Nina lagi dengan penuh semangat.

“Hmmm, gimana ya,” balasku dengan ekspresi lesu.

Ada perubahan mimik wajah mbak Nina saat melihatku, dia hanya mendesah pelan. Melihatnya seperti itu aku pun jadi tidak tega. Bagaimana pun keadaannya kini, dia tetaplah mbak Nina yang telah memberi cerita dalam masa laluku.

“Iya deh…iya deh…”

“Apa sih yang nggak buat mbakku yang manis ini,” akhirnya aku penuhi harapan mbak Nina dengan memborong semua dagangannya itu. Hatiku pun mencelos melihat ekspresi bahagianya, aku secara semu melihat wajah bahagia Salwa anaknya yang paling kecil.

“Makasih Davi,” kata mbak Nina sambil spontan memeluk diriku ini.

Terasa hangat dan empuk. Walaupun sudah mengeluarkan tiga buah anak, namun bentuk tubuh mbak Nina masih sangat proporsional. Dengan seratus tujuh puluh centimeter tinggi badannya, mbak Nina tergolong tinggi di kebanyakan wanita pada umumnya. Untuk ukuran tubuh menurut aku sih masih terlihat pas meski berat badanya aku taksir sekitar tujuh puluh kilogram. Hal itu karena ditunjang oleh sepasang buah dadanya yang cukup besar. Apalagi dengan balutan gamis berwarna ungu muda, menambah kesan seksi. Jadi sangat wajar jika pelukannya itu membuat dedek dibawah terbangun.

Setelah menerima pembayaran dariku, mbak Nina pamit untuk masuk kedalam rumah orang tuanya. Meninggalkan diriku sendiri yang tersiksa dalam balutan nafsu.

“Mbak bentar,” kataku menahan langkah mbak Nina.

Mbak Nina berhenti dan memandangku penuh keheranan. Sebelum dia sempat bertanya, aku menghampiri dan memberikan secarik kertas,” kalo mbak butuh kerjaan, temui aku ditempat ini.”

Aku hanya tersenyum melihat mbak Nina masih terpaku.

“Cuppp…”
Kemudian aku kecup pipinya dan bergegas lari.

“KABOOOOOORRRRR….”

…..hari ini hari sabtu….

Hari ini adalah hari dimana mbak Nina akan datang ke tempat ini. Terdapat dua buah kamar di tempat ini yang saling berdampingan, di depannya terdapat ruang tamu yang terdapat sebuah sofa panjang dan meja dihadapannya. Tepat disisi kana sofa ada sebuah meja berukuran sedang berkonsep bar. Dan meja bar itu sebagai penghubung sekaligus pembatas antara sofa dan dapur. Semua ini adalah hasil jerih payahku selama ini dan belum ada yang tahu tempat ini sekalipun bapak dan ibu.

Dan mbak Nina saja yang tahu keberadaan unit apartemen ini, karena hanya dia yg akan kemari sebentar lagi.

“Lebih baik aku mandi dulu,” kataku dalam hati.

Namun sebelum beranjak mandi aku sudah mengabari mbak Nina lewat aplikasi wassap, untuk langsung masuk saja.

Aktifitas mandiku tak beda dengan yang lain, mencuci kaki dan membasuh muka dimulai dari itu. Kemudian gosok gigi dan dilanjut membasuh seluruh badan dengan air dan sabun. Tapi tidak pake acara memanjakan batang kemaluan dengan licinnya sabun. Di akhir acara tak lupa juga memangkas bulu kemaluan yang mulai panjang dan tidak teratur. Sekarang aku sudah siap menemui wanita yang selama ini ada di dalam fantasiku.

Selepas mandi, aku keluar kamar hanya memakai boxer dan kaos singlet, meski tempat ini difasilitasi dengan pendingin ruangan, namun aku jarang memakinya. Aku lebih suka membuka semua jendela sehingga sirkulasi didalam lancar.

Keluar kamar aku langsung menuju dapur, tanpa menyadari ada sesosok wanita dengan balutan gamis berwarna coklat dengan kerudung berwarna gelap tampak begitu kontras, ditambah sebuah bros bunga yang cukup besar menghiasi ujung bahu sebelah kiri.

“Eheeem…”

“Ehh sudah datang mbak, udah lama kah,” ucapku kemudian setelah merasa sedikit kaget dibuatnya.

Lalu aku pun berjalan ke arahnya sambil membawa dua buah cangkir berisi air teh.

“Mau minum apa mbak,” ucapku basa-basi namun menaruh secangkor teh hangat didepannya.

“Kopi aja deh, tapi kok udah ada teh ya udah ini aja gakpapa,” jawabnya datar membalas candaanku.

“Hahahaaaa…..”

“Kamu tuh ya dari dulu selalu suka bercanda,” ucap mbak Nina sambil tersenyum.

“Udah lama mbak,” tanyaku.

“Sejam lah kalo ndak salah, sampai berjamur aku nunggu orang mandi,” jawabnya jutek.

“Masa sih sejam mbak, ngaco nih lama-lama,”

“Hmm…”

“Lagian kayak sama siapa aja sih mbak pake malu segala, biasanya aja amoe gak tahu malu,” ledekku.

Suasana pun menjadi lebih hangat, tidak seperti tadi mbak Nina terlihat canggung.

“Ini punya mu Dav. Hebat ya masih muda tapi udah sukses,” kata mbak Nina memuji.

“Ahh mbak bisa aja deh,” ucapku sambil meragakan kaum bertulang lunak.

“Coba aku tebak, semua ini pasti pakde ama budhe belum tahu kan ?” Tembak mbak Nina tepat sasaran.

“Hehehe…tahu aja mbakku yang cantik ini,” dan mbak Nina pun tersipu mendengar aku memujinya.

“Waktunya belum tepat mbak untuk bilang bapak atau ibu, tapi entah lah,” kataku mengambang.

Mbak Nina paham dan tidak melanjutkan interogasinya, karena dia paham bagaimana kondisi keluarga ku. Mbak Nina tahu setelah kedua adikku menikah dan ikut suaminya, hanya aku yang jadi harapan bapak ibu untuk tinggal bareng. Jadi keberadaan unit apartemen ini justru akan membuatnya sedih.

“Jadi bagaimana Dav,” mbak Nina pun mulai berkata serius.

“Huufft…” aku menghela nafas cukup panjang.

Mempersiapkan diri dengan segala macam resiko di kemudian hari setelah hari ini. Ditambah aku harus bisa merangkai kata agar tidak melukai hati wanita dihadapanku ini. Karena semua ini berhubungan erat dengan nafsu terpendamku salama ini.

“Mbak sebelumnya aku mau minta mbak untuk tidak memotong apa yang aku katakan,” kataku hati-hati.

Mbak Nin pun mengangguk pelan.

“Yang kedua aku mau minta maaf dulu jika apa yang nanti aku katakan menyinggung perasaan dan hati mbak, dan aku sangat berharap apapun itu semoga tidak mempengaruhi hubungan kita saat ini,” sambil menatap kedua mata mbak Nina aku berucap.

Mbak Nina terlihat tenang, namun bahasa tubuhnya tidak seperti itu. Helaan nafasnya tampak begitu berat seakan tahu arah pembicaraannya ini.

“Mbak Nin….”

Sempat aku memberi jeda beberapa saat, namun setelah melihat mbak Nina begitu tenang, aku pun meneguhkan hati untuk melanjutkan.

“Mbak, apa mbak masih inget beberapa tahun silam ketika aku kepergok masuk kamarmu malam-malam,”

Kening mbak Nin berkerut mengingat kejadian itu. Kejadian yang sempat membuat kaku hubungan kedua keluarg kami. Dan hal tersebut membuat bapak memberikan hukuman beserta ultimatumnya padaku.

“Maaf jika membuka luka lama. Tapi disini aku cuma mau meluruskan apa yang menjadi dasar kelakuanku dulu. Karena selama ini masih mengganjal didalam hati ini. Aku ingin mbak tahu mengapa aku sampai berbuat seperti itu, melakukan hal yang memalukan.”

“Aku mencintaimu mbak…”

“Aku sayang mbak Nin…”

Aku memejamkan mata sesaat melihat ekspresi kaget dari mbak Nin. Terlihat jelas bagaimana kagetny mbak Nin mendengar pengakuanku ini, matanya terlihat berkaca-kaca dan kedua tangannya menutup mulut yang sedikit terbuka.

“Mungkin mbak terkejut akan hal ini, tetapi itulah yang aku rasakan bahkan sampai detik ini. Maaf mungkin dulu apa yang aku lakukan salah, namun tidak seperti apa yang mbak pikirkan. Semua yang aku lakukan dulu hanya sebuah cara aku dalam mengekspresikan rasa sayangku padamu,mbak. Besarnya rasa sayangku dulu berubah menjadi sebuah obsesi, mulai dari mencuri pakaian dalammu bahkan mengintip mbak mandi dan berganti pakaian.”

Sekarang aku melihat ada semacam rasa benci atau bahkan tidak percaya dalam raut muka mbak Nina.

“Sebenernya tujuanku malam itu masuk kamarmu, aku pengen menciummu mbak,”

“Tapi karena diselimuti oleh hawa nafsu yang ada aku malah meremas buah dadamu itu,”

Air mata menetes di mata indahnya setelah aku membuka ruang gelap dihati mbak Nin.

“Sampai disini adakah yang mbak mau sampaikan atau lakukan…”

“PLAAAAAKKK….”

Belum sempat aku menyelesaikan omonganku, telapak tangan mbak Nin mendarat tepat di pipiku bagian kiri. Aku hanya tersenyum dan tidak merasa marah justru lega saat tahu apa yang dilakukannya padaku.

“Ayo lanjutkan lagi,” katanya dingin.

“Hhheeehhhhh…”

“Aku mencintaimu mbak,” ungkapku kembali.

“Dan rasa ini tumbuh dengan sendirinya. Denganmu aku merasakan kasih sayang seorang kakak. Denganmu pula aku merasakan hangatnya kasih sayang, engkau yang selalu ada buat aku, engkau yang selalu perhatian. Namun rasa yang tumbuh dulu salah arah karena terbuai dalam lingkaran setan hawa nafsu. Dan aku sangat menyesal saat itu.” Kemudian aku beranjak mengambil sesuatu di dalam kamar.

“Masih ingat ini mbak,” kataku sambil menunjukkan pada mbak Nina tiga buah BH yang tersimpan rapi dalam sebuah kantong plastik.

Ya, itu adalah kepunyaan mbak Nina yang aku curi dahulu. Selama ini masih aku simpan untuk sekedar melepas rinduku padanya.

“Oohh….” mbak Nina sungguh terkejut.

Dalam benaknya tidak menyangka bahwa aku masih menyimpan barang berharganya dulu. Dia segera meraih kantong plastik yang berisi BHnya itu. Rasanya seperti permen nano-nano dihatiku saat melihat tatapan mata mbak Nina seakan ingin membunuhku.

“Maaf jika aku mengungkit masa lalu, bukan karena apa tapi aku hanya ingin mbak tahu rasa yang aku pendam selama ini untukmu,” mendengar itu, mbak Nin hanya meremas isi kantong plastik itu. Remasannya begitu kuat, terlihat jelas mau merobek benda bersejarah buatku itu.

“Mbakk…” panggilku pelan.

“BUHGGG…”

Mbak Nin langsung menhujaniku dengan pelukan dan ciuman. Aku pun tersenyum bahagia dan membalas pelukan darinya.

“Hikkss…hikss..hhiikkkssss…”

Dan tangisnya pun pecah dalam pelukanku.

“Kau bodoh…kau terlalu banyak bicara,” ucap mbak Nin dalam sela-sela tangisnya.

“Mengapa baru sekarang kau ungkap semua ini…” tambahnya lagi.

Aku pun tersenyum sambil menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.

Kemudian…

“CUPP….”

Aku menciumnya, aku melumat bibirnya yang sangat menggemaskan. Aku hisap semua nafasnya, aku hembuskan semua rasa cinta dan sayangku lewat ciuman itu. Ciuman kami begitu panas dan menggelora, tidak ada diantara kami yang ingin mengakhirinya.

“Sslluuurrrppp…ssllrruupp…sslluurrrpp…”

“Ssllurrrppp…ssllluuurrrppp….”

“Aaaahhhhhh….”

Dan ciuman itu pun terhenti saat kami membutuhkan udara segar.

“Nakal ya tangannya,” ucap Mbak Nin dengan nada manja.

“Kenapa dengan tanganku mbak ?” Tanyaku tanpa menghentikan remasan tangan pada kedua payudaranya.

Dan kami pun melanjutkan kembali aktifitas ciuman yang sempat terhenti.

****​

Guratan takdir memang tidak dapat kita tolak, sebagai makhluk kita hanya diberi kekuatan untuk mengubah takdir atau malah menghadapinya. Cobaan demi cobaan selama kita masih percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa dan dilandasi rasa ikhlas niscaya akan diberi kemudahan. Namun tidak jarang sebuah perangkap setan berupa hawa nafsu sering kali memberikan jalan lain bagi takdir. Dan semua itu kembali lagi kepada individu yang menjalani guratan tersebut. Kita hanya makhluk fana tempatnya kesalahan.

Seperti halnya Davi dan Nina yang kini tengah terbuai dalam gemerlap hawa nafsu. Sejak hari sabtu itu, mereka layaknya sejoli yang tengah dimabuk asmara, meskipun mereka sadar apa yang dilakukan merupakan hal yang tabu. Nina seolah-olah lupa akan statusnya sebagai seorang istri dan ibu dari tiga orang anak. Dan Davi juga melupakan wanita yang kini berada di pelukannya istri dari sodara sepupunya.

Ironis memang mereka berdua melanggar norma yang ada dan mengumbar hawa nafsu demi kenikmatan sesaat dengan atas nama cinta. Cinta yang merupakan sebuah ungkapan murni dari relung hati yang paling dalam untuk seseorang, kini mereka nodai dengan desahan. Mereka menghianati sebuah ikatan suci sebuah pernikahan.

Laksana seorang musyafir yang tersesat dan kehausan, apa yang mereka lakukan bagaikan candu. Yang semakin sering dilakukan semakin tipis tingkat kesadaran dan nalar. Akal sehat sudah tidak berlaku kembali dalam hubungan tabu mereka. Yang ada dalam pikiran mereka hanya saling memuaskan satu sama lain, dan tiada puasnya.

Kembali ke hari sabtu itu, selepas Davi mengungkapkan isi hatinya kepada Nina, orang yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri, mereka terlibat dalam pergumulan badan yang panas. Berawal dari sekedar ciuman yang menjadi awal pelepasan rasa, kemudian lumatan pada bibir menular ke remasan pada sepasang buah dada si wanita.

“Aaahhhhh…terrr..uusss…” lengkuhan Nina saat Davi meremas lembut payudaranya.

“Aaahh…aahhhh…aahhh….” desah Nina menggema.Tidak hanya meremas sepasang payudara itu, lidah Davi juga menejelajah di sekitar leher. Terkadang juga mengecup dan meninggalkan sebuah tanda merah di leher Nina. Sedangkan Nina hanya bisa pasrah menikmati semua perbuatan Davi pada tubuhnya. Dia hanya mampu memejamkan mata sambil meremas dan terkadang menjambak rambut Davi. Meskipun masih terhalang pakaian yang dipakai, namun remasang Davi pada payudaranya terasa jauh lebih nikmat jika dibanding dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.

“Oouuhh…Daaavvv…aauhhhh….”

“Emmmpp…”

Kini mereka berciuman kembali.

“Ssrruullppp…ssrruullppp…ssrruulllppp…”

“Ssrruulllppp…ssrrulllppp…”

“AAAAAHHHHHH…..DAV…KELUAAAARRRR….” walau hanya dengan ciuman dan remasan pada payudaranya, Nina mampu mencapai puncak orgasme. Hal ini mungkin karena sensasi yang timbul dari perbuatan terlarang ini, semua karena Davi yang mampu menyalakan api dan membakar seluruh jiwanya.

Pov Nina

Sudah seminggu sejak Davi menyetubuhiku. Hingga kini efeknya masih terasa, diriku jadi gampang “basah”. Bahkan memeku masih kerasa ada yang ‘ngeganjel’ , meskipun sudah dipake keluar tiga kepala bayi rasa “itu” masih belum hilang. Membayangkan bagaimana batang hitam yang berukuran jumbo itu membuat birahiku naik. Kalo sudah begini masturbasi jadi jalan terbaik yang aku punya saat ini.

Aku suka sekali bagaimana dia memperlakukanku saat bercinta, aku dianggapnya seperti putri raja. Semua yang dilakukannya sangat lembut, tidak kasar seperti yang dilakukan oleh suamiku mas Yudi. Kalo mas Yudi dia selalu memikirkan dirinya sendiri, dan juga selalu tergesa-gesa menjurus kasar. Aku sama sekali tidak bisa benar-benar menikmati jika bercinta dengannya. Meskpun begitu aku tetap mencintainya karena dialah bapak dari ketiga buah hati kami.

Pagi itu ketika kami selesai sarapan, aku berkata sama mas Yudi,” mas, aku dapat tawaran kerja”.

“Dari mana mah, terus kerjaan seperti apa ?” Tanya mas Yudi.

Sejenak aku ragu untuk mengatakannya,” jadi gini mas, ada kenalan Davi yang mempunyai sebuah apartmen disini, dia mencari seseorang yang bisa membersihkannya setidaknya seminggu dua sampai tiga kali.”

Sengaja aku memberi jeda, untuk melihat bagaimana reaksi mas Yudi. Hatiku sedikit lega karena reaksi suamiku itu biasa saja, bukan cuek namun untuk menjadi pendengar terbaik. Sifat ini yang aku sukai dari mas Yudi.

Mas yudi masih menungguku untuk menyelesaikan perkataanku tadi, ” dan untuk gajinya sendiri sih lumayan mas, meski tidak sesuai UMR namun bisa lah untuk membantu keuangan kita saat ini,” lanjutku.

“Jujur ya mah, aku kurang setuju. Aku tak ingin wanita yang aku sayangi jadi seorang pembantu. Namun aku juga tidak mau egois, karena memang kondisi yang sulit seperti ini, bolehlah mama ambil kerjaan itu,” ucap Ma Yudi terkesan berat.

Aku sekarang paham bagimana besarnya cinta mas Yudi kepadaku dan keluarga ini. Dia tidak akan rela keluarganya di pandang sebelah mata bahkan rendah. Namun saat ini dia rela menekan penuh keegoisannya demi aku dan anak-anak.

“Makasih mas,” ucapku sambil berkaca-kaca melihat kesedihan yang tampak dari raut wajah suamiku itu.

“Namun aku punya syarat mah, setelah semua ini kembali seperti dulu, aku mohon mama melepas pekerjaan itu. Dan aku mau ngomong dulu sama Davi,” lanjut mas Yudi kemudian.

Setelah berkata itu, mas Yudi bersiap-siap berangkat ke kantor.

“Aku berangkat dulu ya sayang,”

“Ya mas, hati-hati,” balasku sambil mencium tangan suamiku dan mas Yudi pun membalas dengan mencium keningku.

Nah disini aku merasa dilema, akankah aku menyanggupi permintaan Davi saat itu. Karena jika itu terjadi aku tak ubahnya seperti pelacur yang mencari uang dengan tubuhnya. Akankah aku sanggup menghadapi suami dan anak-anakku kelak.

“Haruskah aku takluk dengan nafsuku,” batinku.

Sulit sekali aku mengambil keputusan, keduanya sangat berarti bagi kehidupanku secara pribadi. Keluargaku menjadi hal yg sangat penting, karena mereka adalah sandaran hidupku, sedangkan Davi aku tidak bisa memungkiri dialah seseorang yang amat berkesan di masa laluku. Aku tertegun atas ungkapan cintanya kemaren, jujur saja dahulu pun aku pernah merasakan hal yang sama. Namun perasaan itu aku kubur dalam-dalam.

Akan tetapi kata-kata terakhir Davi saat akan berpisah membekas di dalam hati dan pikiranku.

“Mbak ketahuilah jika aku sangat mencintaimu, dan ini sebuah perasaan yang nyata. Dahulu aku pernah menyesal melepaskan dirimu saat menikah dengan mas Yudi. Dan semua itu karena ketidakmampuanku menjamin hidupmu. Namun kini keadaannya berbeda, saat ini aku juga ingin memilikimu, meski itu hanya separuh dari dirimu. Aku tidak akan merebutmu dari dekapan mas Yudi, tapi aku juga ingin sekali membahagiakanmu, ” Begitu kata-katanya.

Davi juga berjanji akan memberikan nafkah yang sama dengan yang diberikan mas Yudi. Nafkah lahir dan batin, itu artinya aku juga harus membagi tubuhku untuk dinikmatinya juga. Dasar lelaki semua sama saja, yang ada di otaknya tidak jauh dari selangkangan. Ingin aku maki Davi saat mengatakan itu, namun urung aku lakukan mengingat dia telah memberikan kenikmatan duniawi yang belum pernah aku alami selama hidup dengan mas Yudi.

“Aku juga pengen dilayanimu diranjang mbak, seperti kau melayani mas Yudi,” pada saat Davi mengatakan hal itu, sebagian kecil hatiku ingin memaki, menampar mulutnya yang sudah kelewatan itu. Namun disisi hatiku yang lain malah berkata sebaliknya, seiring dengan vaginaku berkedut, ingin rasanya aku merengkuh orgasme demi orgasme bersamanya.

Hampir sejam aku termenung di meja makan selepas suamiku, mas Yudi berangkat bekerja. Pikiranku kalut dengan semua ini, sesuatu yang sulit untuk dipilih. Untung bagiku, Salwa anakku yang paling kecil masih belum bangun, kalau tidak aku tidak mampu mengambil sikap. Tidak butuh waktu yang lama, setelah memantabkan hati, kemudian aku mengambil smartphone ku memulai panggilan.

“Ttuuutt…ttuuutt…ttuuuttt….”

Setelah panggilan ketiga barulah Davi menerima panggilanku.

“Assalamualaikum Dav,”

“….”

“Alhamdulillah Dav,”

“……”

Aku tahu dia hanya basa-basi menanyakan kabar keluargaku, mas Yudi dan anak-anak terutama Salwa yang memang paling dekat dengannya. Dia sama sekali tidak menyinggung tujuanku menelpon dia. Apakah dia lupa dengan tenggat waktu yang diberikannya untuk aku berfikir dan memberikan jawaban atas permintaannya.

Aku sudah mantab memilih jalan ini, meski masih ada ketakutan akan akibat dimasa depan namun pada akhirnya aku pun mengatakan,” halo Dav, aku sudah memikirkan akan hal kemaren itu atas tawaranmu. Aku juga sudah memberi tahu mas Yudi juga dan dia menyerahkan semua keputusan pada diriku ini.”

“….”

Davi makin tidak sabar dengan omonganku yang terkesan muter-muter, dia pengen segera tahu jawabannya ‘ya atau tidak’. Dia terus mengulang-ulang pertanyaan yang sama, dan aku hanya tersenyum geli mendengarnya. Jadi makin gemes dengan ini anak, gemes ama batang kemaluannya yang gede dan besar itu. Malah sange.

“Dav, DIEM…MBAK MAU NGOMONG DULU…DENGERIN BAIK-BAIK,” setelah aku bentak seperti itu barulah Davi diem merengek kayak anak kecil.

“Hhhuuuffftt…”

“Dav, mbak mau tawaran darimu,” mendengar hal itu, Davi di sebrang sana berteriak histeris penuh kebahagiaan.

Aku sadar yang aku lakukan ini tidak mungkin berubah kembali, sekali aku melangkah tiada jalan lagi untuk kembali.

“Dav…”

“Davi….”

“DAVIII…” barulah dia berhenti berteriak bahagia.

Aku maklum akan semua ini, paham bagaimana kebahagiaan dia saat ini karena apa yang selama ini cuma jadi khayalan dia akan terwujud sebentar lagi.

“Tapi Dav, mas mu pengen ketemu ama kamu akhir minggu ini. Dia pengen tahu secara detail tentang pekerjaan itu. Aku bilang sama mas Yudi aku cuma jadi asisten Rumah tangga di apartemen kenalanmu. Jadi aku harap kau bisa mengkondisikan hal tersebut sama mas Yudi,” kataku menjelaskan semua kepada Davi.

****​

Pov Davi

“Yeesssss….” teriakku dalam hati.

Aku tidak menyangka jika mbak Nina menyetujui permintaanku. Tidak lama lagi dia akan menjadi budak nafsuku. Setelah mengakhiri pembicaraanku di saluran telepon dengan mbak Nina, betapa bahagianya hatiku bisa memuaskan hasrat yang selama ini aku pendam terhadapnya. Terlebih lagi seminggu berlalu aku telah merasakan bagaimana jepitan otot vaginanya ditambah luapan ombak birahinya yang membuatku takjub. Dia bagai seekor macan yang baru saja lepas dari kandang. MENAKJUBKAN.

“Aku harus mempersiapkan segala sesuatunya,” gumamku.

Aku sudah membayangkan bagaimana nanti mbak Nina berubah menjadi boneka seks pribadiku. Aku bertekat akan mengubahnya menjadi seperti apa yang aku inginkan. Tak sabar aku menantikan saat-saat itu, dimana mbak Nina tunduk bahkan takluk di bawah kendaliku. Hal yang sangat aku impikan sejak dulu bahkan dari aku tumbuh dan baru mengenal apa itu seks.

Aku ingat dulu, dimana aku sangat terobsesi dengan tubuh wanita dewasa, dan mbak Nina lah yang menjadi targetku. Kalo sudah begini aku jadi mengenang masa-masa dahulu. Saat dimana aku rutin mengintipnya mandi. Saat-saat dimana aku sering mencuri pakaian dalamnya. Sampai dulu dia pernah kehabisan stok pakaian dalam.

Aku jadi tertawa sendiri mengingat hal tersebut, pernah suatu malam aku memakai semua pakaian dalamnya sambil mengintip dia mandi. Aahhh, masa lalu yang amat membekas di alam pikiranku, dan meracuni setiap sel-sel didalamnya.

“Sial malah sange,” kataku lirih.

“Tak sabar aku menunggu lagi, ohh mbak Nin,” desahku saat aku mengurut lembuh batang kejantanan yang sedang tegak berdri.

“Sial jadi pengen coli,”

“HAHAHAHA…..” aku pun tertawa keras.

Pesona mbak Nina memang sudah menjadi imajinasi tertinggi buat diriku ini. Dan itu semakin menjadi candu setelah aku merasakan bagaimana rasa madu dari dalam tubuhnya.

“Oohhh…mbak Nina…”

Baru saja memjamkan mata menikmati indahnya lekuk tubuh mbak Nin, aku di kagetkan dengan kehadiran Linda.

“Ngapain senyum-senyum gitu Lin,” tanyaku padanya.

“Gimana kagak senyum atuh bos, liat bos senyum sendiri. Mana jorok lagi senyumnya,” ucap Linda manja.

“Lagi sange nih,” kataku berterus terang.

Asal diketahui aku dan Linda adalah partner. Partner dalam hal kemesuman.

“Ngobrol atuh bos,” ucap Linda sambil menghampiri lalu berlutut dihadapanku.

Aku paham apa yang dimaksud Linda, dengan melonggarkan ikat pinggang, kemudian secara perlahan Linda menurunkannya.

“Udah keras booss…” dengan memandang genit kepadaku dia berucap.

“Cupppp…” dikecup ujung kepala penisku itu.

“Gimana penisku Lin,”

“Iiihh…bos ini mah bukan penis tapi kontol..”

“Penis mah segini,” ucapnya lagi sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

Aku pun hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang panjang terurai. Ku sibakkan kesamping agar tidak menganggunya.

“Ssrruulllppp…ssrruulllppp….ssrrrllluuuupppp…”

“Ini baru namanya kontol, penuh banget dimulutku ” ucapnya menyambung hal yang tadi.

“Ssrruulllppp…Ssrruulllppp…Ssrruulllppp…”

“Ssrruulllppp…Ssrruulllppp….”

“Ssrruulllppp…….aaaahhhhhhh….”

Aku hanya bisa tersenyum sambil menikmati kuluman Linda pada kontolku itu.

“Ooohhhh…Liinnn…aaahhhhh…” sumpah demi apapun kuluman Linda yang paling juara.

Dia kelihatannya sangat menikmati batang kontol yang menurutnya gede dan panjang itu, padahal menurut aku sih biasa saja. Kemaren mbak Nin pun mengatakan hal yang sama, katanya sih penuh banget di dalam mekinya.

“Bos, kenapa ini jadi lebih enak ya,” kata Linda seraya mengurut batang kemaluanku dengan lidahnya.

“Bilang aja kamu kangen ama dia,” godaku.

“Sssrruuuupppppp…..ppuuuaaaaahhhhhh” kemudian ujung kepala kontolku disedot dengan keras. Sedangkan aku hanya mampu mendesah keras,”aaahhhhhhh…”

Kemudian aku bergeser bersimpuh didepan Linda tepat di depan mulut vaginanya. Linda pun melebarkan kedua kakinya untuk mempermudah aksiku. Dengan masih dibalut oleh celana dalam berwarna merah terang, vaginanya sudah becek. Aku mulai menggesekkan batang hidungku naik dan turun tepat di pangkal pahanya. Ku hirup kuat-kuat aroma yang ditimbulkan oleh vagina yang tengah terangsang tersebut. Sebuah aroma yang membangkitkan gairah.“Sekarang giliranku ya beb,” ucapku.

“Nakal ya sekarang,” kataku sambil tersenyum setelah melihat kenyataan bahwa di dalam vaginanya sudah tertanam sebuah vibrator kecil.

Dilihat dari bentuknya, aku yakin itu sebuah vibrator dengan pengendali jarak jauh. Aku tak menyangka jika Linda sekarang sebinal ini, aksinya memakai vibrator di kantor sangat beresiko. Aku baru menyadari sekarang, beberapa hari ini ada yang berbeda dengannya ketika berjalan. Mungkinkah ini yang menjadi penyebabnya.

“Sejak kapan…?” tanyaku singkat.

Bukannya menjawab, Linda malah tersenyum manja sambil menyerahkan sebuah benda kecil kepadaku dan aku tahu jika itu adalah sebuah remot.

“Aaauuuhhhh….aaaaaahhhhhh….”teriaknya ketika aku memencet tombol pada remot tersebut.

Pantatnya bergoyang seiring dengan getaran vibrator tersebut. Badannya melenting keatas, efek dari getaran vibrator itu yang aku tekan di level maksimal. Ketika tubuhnya masih kelonjotan menerima siksaan nikmat tersebut, aku rengkuh tubuhnya dalam pelukanku. Ku paksa dia berdiri meskipun itu sulit, kemudian aku lumat bibirnya yang merekah itu. Linda pun menyambut ciumanku dan kedua tangannya pun dia kalungkan di leherku ini.

Ciuman kami begitu dahsyat setelah aku turunkan level getaran vibrator itu ke paling rendah, jadi aku bisa menikmati momen ini. Desahan-desahan kecil keluar dari mulut Linda di sela ciumanku. Badannya masih bergoyang ke kiri dan ke kanan efek dari rangsangan alat kecil di dalam vaginanya itu.

“Bagaimana bos, sesuai dengan keinginan gak,” tanya Linda.

“Hmmm…”

“Kok cuma hmm sih bos,” Linda pun merajuk.

Aku pun tersenyum, ” kau lah yang terbaik, dan yang paling mengerti aku sayang.”

Mendengar hal itu, Linda jadi terharu bahagia. Dia pun memandangku dengan lekat, senyumnya terkembang penuh kemudian menciumku mesra.

“Ada satu lagi,” ucap Linda dan meraih tanganku kemudian mengarahkan untuk memegang payudaranya.

Meskipun masih tertutup oleh baju yang dikenakannya, tapi aku merasakan tidak ada penghalang lagi di balik baju dan itu artinya Linda tidak memakai beha. Aku makin dibuat gemes oleh aksinya tersebut, sesuai apa yang pernah aku sampaikan dahulu.

“Aaaahhhh….” desah Linda ketika batang kontolku perlahan memasuki mekinya melalui celah celana dalamnya.

Rasanya sedikit aneh ketika batang kemaluanku bergesekan dengan vibrator yang masih tertancap. Ujung kepala kontolku pun ikut berkedut merasakan getaran lembut vibrator tersebut. Dengan posisi berdiri dan bersandar di meja, dengan kaki sebelah diangkat aku terus menghajar lubang mekinya dari arah depan.

“Ahhh…aaahhh…terusss…”

“Aaahhh….lebih kenceng lagiii….” ucap Linda.

Meskipun sudah sering aku bercinta dengan dirinya, namun jepitan otot mekinya masih begitu terasa tidak jauh beda pada awal aku pake untuk pertama kalinya. Kata orang-orang sih masih ngegrip, masih kerasa cengkramannya. Dengan adanya vibrator yang masih ada di dalam liang mekinya dan masih bergetar pelan, membuat Linda tak kuasa lagi menahan luapan ombak birahinya, dia akhirnya tumbah pada orgasme yang begitu hebatnya.

“AAAAAHHHHHHHHHH……KKELUUAAARRRRR……”

Dan aku pun menyusul tak lama setelah dia mencapai puncak orgasme yang ketiga kalinya.

****​

“Jadi begitu mas, mbak Nin cuma kerja seminggu dua kali. Soal waktunya mbak Nin yang menentukan terserah dia pokoknya. Kenalan aku pun menyerahkan sepenuhnya pada mbak Nina. Yang penting tau bersih aja, soalnya kenalanku itu orangnya perfeksionis dan super bersih tetapi juga tidak punya waktu,” aku pun menjelaskan segala sesuatunya pada mas Yudi.

Semua sudah aku rancang terlebih dahulu, tidak lucu kan kalo harus berterus terang jika semua ini hanya untuk menikmati tubuh istrinya yang seksi itu. Sepasang suami istri itu kini tengah duduk dihadapanku, mbak Nin tampak bersahaja dengan balutan daster batik bermotif mencolok. Meskipun besar namun tidak mampu menutupi aura seksi dari mbak Nina. Bahkan terkesan menantangku untuk mencicipinya kembali.

“Awas kau mbak…” umpatku dalam hati setelah melihat mbak Nina merubah posisi duduknya sehingga memperlihatkan pahanya yg putih

“Kalo aku sih terserah mbak mu aja Dav, aku sekedar memberi ijin,” aku melihat ketidakrelaan dari wajah mas Yudi.

Seakan enggan mengijinkan mbak Nin mengambil pekerjaan itu, atau mungkin ada semacam feeling seorang suami. Aku tak terlalu memperhatikan lagi, yang ada di otakku kini hanya mencari cara untuk bisa menikmati mbak Nin di dekat suaminya. Memikirkan hal itu membuat batang kontolku berdiri tegak.

“Mas aku pun begitu, tidak mau memaksa mbak Nin untuk mengambil pekerjaan ini. Cuma ini yang aku bisa lakukan untuk membantu keluarga ini,” mendengar hal ini raut muka mas Yudi menjadi suram.

“Mas, aku gak masalah kok..” hibur mbak Nina pada suaminya itu.

“Tapi mah…”

“Hanya sementara kok mas, jika ada sesuatu yang mengharuskan mbak Nina untuk tidak bekerja lagi, dia bebas kok berhenti. Lagi pula tidak setiap minggu sang pemilik kesini, yang penting harus bersih ketika kemari. Itu pun dia akan menghubungi ketika mau kesini. Jadi mas Yudi tak perlu kuatir,” aku mencoba meyakinkan mas Yudi kembali.

“Bagaimana mas…” aku ingin memastikan lagi.

“Ya sudahlah, yang penting mama hati-hati,” senangnya hatiku akhirnya mas Yudi merestui istrinya jadi pemuas birahiku.

“HAHAHAHAAAA…” tawaku dalam hati.

“Oh ya mau minum apa Dav, sampai lupa belum dibuatin apa-apa. Tunggu sebentar ya…” ucap mbak Nin seraya meninggalkan kami.

Lalu aku dan mas Yudi terlibat obrolan yang lumayan seru. Apalagi kalo bukan seputar hobi kita yang sama di bidang otomotif. Perlu diketahui jika kami sama-sama tergabung dalam sebuah klub motor, dan merupakan member yang cukup aktif. Walaupun mas Yudi termasuk member senior namun karena masih saudara sepupu, tidak terlihat senioritas diantara kami.

“HAHAHAHAHAAAA….” kami pun tertawa terbahak-bahak.

“Ihh…seru banget kayaknya…” seru mbak Nina sambil membawa kopi dan cemilan.

Ya salaaam, aku sungguh terpana dibuatnya. Dengan masih memakai daster yang sama, namun ada yang berbeda. Astaga aku baru menyadari jika mbak Nina saat ini tidak memakai BH. Terbayang jelas bagaimana sepasang payudara itu bergoyang-goyang mengikuti gerakan mbak Nina. Rambutnya basah, terlihat jika dia habis mandi bulir-bulir air pun masih tampak menghiasi kulinya yang putih. Sungguh pemandangan yang memancing birahi.

“Ini kopinya Dav,” ucap mbak Nin sambil menyodorkan secangkir kopi yang terlihat masih panas didepanku.

“Ii-iya mbak,” jawabku gagap.

“Sial..mancing-mancing nih binor,” batinku.

“Tunggu dulu, apa ini…” cukup kaget bersamaan dengan meletakkan kopi tersebut, mbak Nina juga menaruh sebuah remot kecil.

Aku cukup terkejut melihat benda itu, nekat juga dia memakainya pada saat seperti ini. Sambil tersenyum penuh arti kepadaku, mbak Nina memberikan sebuah kode jika saat ini dia memakai vibrator yang aku kirim kepadanya beberapa hari yang lalu.

“Drrtttt…ddrrrttt…dddrrttt….”

“AaOOCCH…” pekik mbak Nina.

“Kenapa sayang ?” tanya mas Yudi yang keget dengan teriakan istrinya.

“Rasaain…” batinku.

Sengaja aku langsung mengatur getaran vibrator itu di level tertinggi.

“ADUUHH…gak kok mas cuma kaget aja kakiku kejedot kaki meja,” jawab mbak Nin dengan ekspresi yang aneh.

“Yakin mah, kelihatannya cukup sakit,” kata mas Yudi yang kuatir.

Aku hanya tersenyum melihatnya, aku puas dengan apa yang aku lihat sekarang. Bagaimana mbak Nina berusaha mati-matian menahan desahan dan menjaga suaranya tidak berubah saat berbicara dengan suaminya. Hal ini pula membuat batang kontolku tegang maksimal. Aku mainkan ritme getaran pada vibrator tersebut, kadang rendah terkadang juga tinggi. Mbak Nina sendiri terlihat blingsatan menahan rangsangan itu.

Hampir setengah jam berlalu,dia masih bisa menahannya. Kamudian,”aku kedalam dulu ya” pamitnya pada kami.

“Aku juga numpang ke kamar mandi dong, kebelet nih,” kataku langsung kabur meninggalkan mas Yudi yang kini sibuk dengan telpon genggamnya.

Baru saja melewati pintu, aku sudah ditarik oleh mbak Nina dan di pojokkan dibalik tembok. Dengan ganas dia melumat bibirku ini.

“Sssllrrrruuupppp….AAAHHHHHHH….”

Orgasme yang ditahan dari tadi akhirnya lepas juga.

“Hah…hah..hah…akhirnya keluaarrr…” bisiknya ditelingaku.

Dengan tubuh yang masih bergetar efek dari orgasme itu, aku peluk dia agar tidak jatuh. Aku cium keningnya sebagai ungkapan terima kasih telah mewujudkan impianku itu. Kemudian kami berciuman membelitkan kedua lidah, sedangkan tanganku sudah sepenuhnya menjamah bokong yang semok itu. Aku remas pelan dan menyingkap kain yang menutupinya. Dengan masih di posisi yang sama yaitu berdiri dan bersandar pada tembok, kami terus berciuman seakan tidak takut pada keberadaan mas Yudi di balik tembok ini.

“Aauuhhh…Davv….aahh…” desah mbak Nin saat ciumanku mendarat pada lehernya yang mulus.

Mbak Nina pun semakin erat memelukku sambil bagian bawah tubuhnya di tempel dan digesekkan pada selangkanganku. Terasa sekali batang kontolku menggesek lembut bagian luar vaginanya yang masih terbungkus.

“Dav..pliisss..ja..ngan dicupang…oohh….”ucap mbak Nina tertahan.

Sensasi ini sungguh amat memabukkan, kami dikejar oleh waktu agar tidak ketahuan. Berusaha bagaimana bisa menahan desahan dan secepat mungkin mencapai orgasme.

“Aahh..aahh..aahh…ayo Dav…” pinta mbak Nina untuk segera melakukan penetrasi.

Namun aku tidak mengiyakan permintaan itu, aku pengen bermain-main dulu dengan birahinya. Misiku tetap satu, menjadikan mbak Nina alat pemuas nafsu untukku. Aku ingin dia memohon untuk di puasi, ingin aku dia menjadi sebuah objek atau boneka seksku. Haha, jahatnya aku.

“Tidak semudah itu, permainan belumlah usai,” ucapku didalam hati.

Bersimpuhlah dia, mencoba mengeluarkan senjata kebanggaanku. Mbak Nina ingin mengulumnya, namun aku tahan, aku menolaknya.

“Daavv…” ucapnya nanar.

Aku angkat dia berdiri kembali, dengan tersenyum aku pun berkata,” belum waktunya mbakku sayang….”

Pandangannya kian nanar dengan nafas yang semakin berat menahan gairah. Aku cium kembali bibirnya dan aku bisikkan,” aku ingin mbak merasakan sensasi puncak orgasme yang belum pernah mbak rasakan…”. Dan tak lupa aku selipkan sebuah vibrator ke dalam lubang vaginanya. Jadi total ada dua buah vibrator kini bersemayam di dalam tubuhnya.

“Aahhh…daavv…aaahhhh…” desah tertahan mbak Nina.

Untuk selanjutnya aku tinggalkan dirinya yang bersimpuh kembali. Dia tak menyangka aku melakukan hal ini, sekilas aku melihat air matanya turun membasahi pipi. Dan ketika aku kembali dari kamar mandi, mbak Nina sudah duduk lemas di sofa. Badannya tegang dan menggigil dan melirikku tajam. Dan aku hiraukan kebaradaannya, aku melenggang cuek menuju teras depan tempat mas Yudi berada.

****​

Pov Nina

“Ddrrtt…ddrrtt…ddrrttt….”

“Ah..ahh..aahhhhh…..”

“Sssshhhh….aaaaahhhhhhhh….”

Ingin rasanya aku memukul kepalaku pake sebuah batu atau besi yang besar, tak kuat rasanya aku menahan ini semua. Ini kali pertama aku berbuat gila, sebelumnya aku tidak pernah akan bermimpi seperti ini. Duduk bersimpuh dengan dua buah vibrator ada didalam tubuhmu, bergetar keras merangsang setiap sel birahi yang ada di dalam tubuh. Jujur aku sangat menyesal mau melakukan hal ini, menjatuhkan diri pada titik terendah dalam hidup. Kondisiku saat ini tak ubahnya seperti seorang pelacur rendahan yang mau melakukan apa saya demi sebuah kepuasan. Mungkin aku malah lebih hina dari seorang pelacur, karena motif utamaku bukan lagi karena uang. Ada semacam kerelaan diri tanpa paksaan.

“Aahh…aahhh…AAAHHHHHH….” sekuat tenaga aku menahan untuk tidak berteriak keras saat mencapai puncak orgasme ini.

Badanku sudah basah kuyup dibuatnya, bulir-bulir keringat menghiasi dahiku. Satu jam lebih aku tersiksa dengan keadaan ini, tubuhku menjadi ketagihan untuk terus merasakan orgasme. Tak cukup rasanya aku merasakan orgasme dari sebuah benda mati seperti ini, aku butuh batang kejantanan yang asli. Yang besar, panjang dan hitam seperti milik Davi.

“Aku butuh kontolmu Dav…aku butuh kontolmu…” jeritku dalam hati.

Sakit hatiku setelah dia menolak untuk memuaskanku dengan Kontolnya. Aku merasa terhina, padahal aku sudah rela merendahkan diriku sampai seperti ini hanya untuknya. Aku rela membuang posisi terhormatku sebagai seorang istri hanya demi dirinya.

“AKU BUTUH KONTOLMU…DAVIII…” teriakku didalam hati.

Meskipun nafsu sudah merasuki pikiranku dan meracuninya namun akal sehat masih tersisa disana. Aku tidak mau suamiku mas Yudi tahu jika aku sedang melacur, melayani nafsu saudara sepupunya itu.

“Sshh…ahh…aahh…aaahhhhhh…” entah sudah berapa kali aku mencapai orgasme seperti ini.

Aku harus mencari cara untuk bisa menikmati kontol Davi hari ini juga,aku harus bisa.

“AARRHHHGGGGG…” aku seperti orang gila saja, mengacak-acak rambut sampai terlihat kusut tak beraturan.

“Ssreekkk…” aku merobek daster yang aku pakai sehingga buah dadaku yang besar terlihat jelas menggantung. Aku patut bangga dengan anugerah mempunyai bentuk badan yang ideal seperti ini, buah dada yang besar dan masih terlihat kencang, kulit putih mulus tanpa cacat dan yang paling aku banggakan otot vaginaku masih mempunyai daya cengkram yang kuat.

Kemudian dengan gontai aku melangkah menuju kamar mandi yang terletak didalam kamar. Aku ingin berendam untuk sedikit mengurangi panas dan hasrat birahiku ini.

“Dasar bajingan kau Dav…” gerutuku ketika tubuh polosku memasuki bathub.

Masih kesal rasa di dada ini atas penolakannya tadi, meskipun dia sudah menyampaikan maksud dan tujuannya berbuat seperti itu. Berendam di air hangat ini lumayan bisa meredam nafsu yang menggebu tadi hingga akhirnya mataku pun terpejam. Entah berapa lama aku terpejam, saat aku terjaga Davi sudah ada dihadapanku telanjang bulat.

“Ehh…Dav…” aku kaget dibuatnya.

Sesaat aku takut kehadiran dirinya di hadapanku kini, aku takut ketahuan mas Yudi.

“Dav…mas Yudi…” tanyaku padanya.

“Ssstttt…jangan kuatir mbak, suamimu itu ada urusan kantor dadakan, dan dia menitipkan dirimu padaku,” kata Davi sambil tersenyum penuh arti.

“Benarkah,” dengan mata yang berbinar aku pun menyambut pelukannya.

“Oohhh…Daavv…” desahku saat jemari Davi menjamah bibir vaginaku dari sisi luar.

Sambil menjilat daun telingaku, Davi berbisik,” ini saatnya aku memuaskanmu mbak. Jadi aku mohon bebaskan belenggu yang ada dihatimu”.

Aku pun mengangguk pasti, air mukaku pun berbinar.

Davi pun mengulum bibirku, lidahnya menari didalam rongga mulut dan membelit lidahku ini. Kami saling menghisap dan bertukar air liur. Dengan penuh kelembutan dia mencoba membangkitkan gairahku. Remasan demi remasan tangannya memenuhi setiap kulit di bokongku. Remasannya begitu lembut, dan sesekali jemarinya menyentuh bibir pantatku. Kadang aku merasakan ujung jarinya sedikit memasuki lubang anus.

“Oohhhhh…”

“Aah…aahh…aaahhhhh….”

“Terus…Dav…terusss…aahhh…enaakkkk…”

“Dav…masukin sekarang Davvv….” aku pun memohon padanya.

“Aaahhhhhhh…..” jeritku saat kepala kontolnya mulai membelah liang vaginaku. Dengan perlahan dia mulai mendorong masuk memenuhi setiap rongga vaginaku. Rasa inilah yang aku harapkan sejak tadi, rasa nikmat ini sudah menjadi candu buatku.

“Nikmatilah mbak…” ucap Davi.

Davi mulai menggerakkan badannya dengan ritme sedang, meskipun dengan posisi berdiri tidak mengurangi kenikmatan yang ada.

“Plaakkk…plaaKkk…plaaakkk…”

“Oohhh…Dav…aahhh….eennaaaakkkk….”

“Aahhh…mbaaakkkk….”

Oh, Tuhan mengapa kau buai aku dengan kenikmatan yang memabukkan ini. Aku tak kuasa untuk terus menjerit dalam nikmat ketika dia dengan batang kemaluan yang cukup besar menggesek setiap ruang liang vaginaku ini.

Ku peluk erat dirinya, ku benamkan kepalaku dalam bahunya, aku menangis. Dalam tangisku aku menyesali atas ketidakmampuanku menolak permintaan Davi. Seandainya kemaren aku datang menemui dia di apartemen mungkin tidak akan seperti ini.

“Mmpppp…eemmmm….ssshhhhhh…” desahku tertahan.

Davi mungkin tidak menyadari jika aku sedang menangis, tak mungkin dia tahu.

“Aaauuhhh…Davvv….Daavviii…aku…keluaaarrrrr…Aaahhhhh…..” tubuhku menegang, pelukan semakin erat menahan dia untuk tidak bergerak sementara aku menikmati orgasme ini. Tubuhku bergetar pelan, sungguh nikmat sekali rasanya. Inilah kenikmatan yang aku cari selama ini, hingga aku rela menanggalkan kehormatanku sebagai seorang wanita.

“Uuuhhhh…manteb banget mbak jepitannya…”goda Davi padaku.

Aku pun tersenyum bangga, hatiku terbang berbunga-bunga menerima pujiannya. Layaknya abege yang baru merasakan cinta, aku juga tersipu malu.

“Gantian ah mbak…capek berdiri…hehe…” ujar Davi.

“Aahhh…” aku merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam tubuhku.

Kemudian Davi menempatkan dirinya duduk diatas kloset, aku sungguh terpana setelah melihat kontolnya. Seperti tugu yang tegak menantang langit, sungguh amat menggoda. Aku berjalan perlahan menggodanya, sambil memandanginya aku mengggit bibir bawahku.

“Dav…aku serahkan tubuhku ini padamu, puaskan dahagaku, puaskan birahiku ini,” kataku kepada dirinya, dan hanya dibalas dengan anggukan.

Ketika sudah berada didepannya, kuremas lembut kontolnya dan aku menciumnya. Payudara yang menggantung didepannya tak luput dari jamahannya.

“Sesuai janjiku tadi mbak, hari ini kamu akan merasakan bagaimana orgasme yang sesungguhnya. Aku, mulai saat ini hanya akan ada untuk memuaskanmu..” rayu Davi.

“Gombal…” gemas sekali aku padanya. Setiap katanya terkesan romantis di telingaku. Setiap ucapannya seakan menghipnotis pikiranku.

‘BBLLEESSSS….’

“OOHHHHH…..” aku hanya bisa memejamkan mata menikmati proses dimana batang kontol itu kembali memenuhi seluruh ruang di liang vaginaku.

Deru desahan kami selanjutnya saling bersahutan, seolah berlomba mencari kenikmatan sendiri. Dan aku sendiri sekarang lebih aktif, aku bergoyang naik dan turun dengan ritme teratur. Dengan posisi seperti ini, kepala kontolnya menyentuh mulut rahimku. Cukup menyakitkan pada awalnya namun seiring berjalannya waktu rasa sakit itu berubah jadi nikmat yang tak dapat aku tolak.

“Aah..aah..aaahhhh…Davi…ennaaakkk….”

“Oohhhh…Daavvv….aku mau keluaaarrrrrr…..” teriakku.

Namun tiba-tiba Davi menghentikanku meraih orgasme ini, dengan sigap dia membalikkanku dan memilih ganti gaya. Sekarang dia melakuan penetrasi dari belakang. Dengan gaya seperti ini dia lebih mudah untuk memacuku.

“Aaahh…kerasa banget…mentokk…”rintihku.

“Ah..aahh…aaahhhh…ssshhhh…aaaaahhhhhh….” desahku.

Dan Davi tidak mengendurkan gerakannya, memompaku dari belakang dengan kecepatan tinggi. Bulatan pantatku yang besar sebagai pegangannya, dan sesekali menampar buah pantat itu.

‘PLAAAKKK….’

Hmm, sungguh amat nikmat sekali, baru kali ini aku bercinta seliar ini. Aku berteriak, mendesah keras tanpa takut didengar oleh orang lain.

“Aaaahhh….Dav…lebih keras lagiihh….”

“AAAHHHHHH….”

“Davii…aku KELUAAAAARRRRR…”

‘Creet…creet..crreeettt…’

Aku pipis sambil orgasme, ini kali pertama aku merasakannya. Oh, sungguh nikmat sekali.

“Aku pipis..Dav…aku pipiss…oohhh…aaahhhhh….”

“Haahh…hhaaahhh…” deru nafas kami berdua.

“Itu bukan pipis mbak, itu yang dinamakan squirt…” ucapnya.

“Gimana enakkan mbakk…” lanjutnya lagi.

“Banget Dav….enak banget….oohh…” jawabku dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Mau lagi mbak…” dan aku hanya mengangguk mantab.

“Nikmati ini semua mbakkk….” ucap Davi lagi.

Setelah itu Davi tak mengendurkan pompaannya di vaginaku dan aku mengalami yang dinamakan multi orgasme. Dan Davi mengakhirinya dengan menumpahkan cairan sperma di dalam rahimku.

Bercinta di dalam kamar mandi hanya permulaan buat aku mengabdikan untuk menjadi pemuas nafsu Davi. Semakin hari semakin aku ketergantungan dengan kontolnya. Sedikit demi sedikit aku pun berubah sesuai dengan permintaan Davi, bahkan aku jarang memakai gamis dan kerudung ketika jalan dengan dirinya. Rok mini dan tanktop seolah menjadi pakaian resmiku kala bersama dirinya. Aku juga dilarang memakai pakaian dalam terutama BH. Dan vibrator dengan pengendali jarak jauh sudah menjadi bagian dari tubuhku, hampir setiap bersamanya aku wajib memakainya.

Hidup memang sebuah pilihan, dan ini sudah menjadi pilihanku menjadi seorang pelacur. Sisi gelap dalam diriku makin mendominasi kehidupanku sekarang, suami dan keluargaku bukan jadi yang utama sekarang. Davi dan kontolnya yang menjadi prioritasku.

Davi, is my black banana…