Mamaku Ratuku Part 5 END

0
4132

Saat kepalaku sedang berada di dalam rok panjang tante Lucy, aku dengar mama dan teman-temannya sudah mulai gambreng untuk menentukan siapa yang akan dinobatkan jadi ‘Ratu’ pada Arisan kali ini.

“Yaahh… kok aku duluan sih yang keluar. Iiihhh bete deh. Huuu…”. Dari dalam rok panjang tante Lucy, aku dengar suara tante Nita mengeluh karena dia nampaknya tereliminasi lebih awal. “Hahaha… sabar ya jeung Nita, semoga beruntung di Arisan bulan depan! Hihihih”. Aku dengar Ummi Ijah berusaha untuk menenangkan kekecewaan tante Nita.

“Ahhh… jeung Lucy, pinjem Dave sebentar dong say, aku lagi pengen ‘ngerokok’ deh, bete nih!”. Aku dengar tante Nita meminta tante Lucy untuk ‘meminjam’ aku yang sedang asyik ‘jilmek’ di dalam rok panjang tante Lucy. “Huhuhu… iya say. Sebentar yah? Dave, udahan dulu yah sayang, sana kamu layanin tante Nita sebentar dulu yah sayang”. Aku dengar tante Lucy memintaku untuk segera menyudahi jilatanku pada memeknya. Kemudian aku pun mengeluarkan kepalaku dari dalam rok panjang tante Lucy.

Setelah itu aku bangkit dan beranjak ke arah tante Nita. Kemudian tante Nita berkata “Kita di sebelah sofa mama kamu aja yuk sayang, tante mau ‘ngerokok’ di sana aja. Jeung Winda, jeung Silvi, tukeran tempat duduk dulu yah say, aku lagi bete nih! Lagi pengen ‘ngerokok’ dulu. Hihihih…”. Tante Nita pun mengajak mama dan tante Silvi yang sedang duduk berdua di sofa sebelah kiri untuk bertukar tempat dengannya. Mama dan tante Silvi pun hanya tertawa. Lalu sambil bersiap untuk pindah tempat duduk, mama pun berkata “Hihihih… awas jangan sampai dibikin keluar loh say! Inget loh, utamain jatah Ratu dulu! Hihihih”.

Lalu mama dan tante Silvi pun beranjak dan tukar tempat dengan tante Nita yang duduk di sofa tengah yang panjang itu. Jadi di sofa tengah yang panjang itu sekarang ditempati oleh mama, tante Silvi, tante Gina dan tante Lucy. Sementara di sofa paling kanan hanya ada Ummi Ijah. Setelah pindah tempat, tante Nita pun duduk di sofa sebelah kiri itu, sofa yang tadinya diduduki oleh pantat bahenol mama dan tante Silvi. Kemudian tante Nita pun sambil duduk mulai menghisapi aku yang sedang dalam posisi berdiri. Aku yang ‘dirokok’ oleh beliau pun hanya bisa pasrah menikmati sepongan beliau sambil memandangi mama dan teman-temannya yang cekikikan melihat kami. Ah, sungguh nikmatnya sensasi ini!

Kemudian mama mengajak teman-temannya untuk mulai gambreng lagi “Yuk jeung, kita gambreng lagi. Hihihih”. Mereka pun lalu dengan serempak mengatakan “Hompimpa Alaium Gambreng!”. Ternyata kali ini yang tereliminasi adalah dua orang sekaligus! Mereka adalah tante Lucy dan Mamaku! “Yaaahhh… jeung Winda, kita gagal lagi nih! Huuu…”. Tante Lucy pun mengeluh manja ke mama karena mereka ikut tereliminasi. Mama pun hanya tersenyum, lalu mengehela nafasnya sambil mengangkat bahunya “Yah, sabar aja say, semoga aja Arisan bulan depan si Leon bisa bawa keberuntungan say. Hihihih”. Ahhh, mendengar mulut mamaku tiba-tiba membicarakan temanku untuk menikmati giliran jatah Arisan bulan depan, sontak membuat kontolku merasa cemburu dan makin tegang!

Tante Nita yang merasakan adanya ‘tegangan kecemburuan’ pada kontolku yang sedang dihisapnya, membuat beliau kemudian melepaskan kontolku, lalu tersenyum nakal melirikku. “Ihhh… Jeung Winda, kayaknya ada yang gelisah deh pas kamu nyebutin nama temen anak kamu ini. Hihihih…”. Tapi aku lihat respon mama hanya tersenyum nakal saja melirikku. Ahhh mama bikin gemes!!!

“Hompimpa Alaium Gambreng!”. Aku dengar pengundiannya kembali dilanjutkan. Kemudian hasil kali ini ternyata tuan rumah yang tereliminasi! “Yah, kalah lagi deh. Padahal aku lagi pengen nyicipin ‘vitamin awet muda rasa anaknya temen’ loh jeung. Huuu”. Serempak mama, tante Lucy, tante Gina dan Ummi Ijah pun tertawa melihat keinginan tante Silvi itu. Sementara suara tawa tante Nita hanya terdengar pelan, karena beliau tertawa sambil sepongin kontolku.

Jadi ‘final’ kali ini adalah antara tante Gina dan Ummi Ijah. Seperti biasa, pemenang ditentukan melakukan adu suit. Namun sebelum suit mereka dimulai, tiba-tiba tante Nita melepaskan kontolku dari mulutnya. Kemudian tante Nita mengambil pemantik lalu berkata padaku “Makasih ya sayang udah minjemin kontolnya. Tante udah gak bete lagi. Sekarang tante mau ngerokok beneran dulu yah sayang? Kalau kamu masih mau diemutin, sana minta sama mama kamu dulu atau sama siapa kek di situ! Hihihihi…”. Kemudian aku pun beranjak ke tempat mama dan menodongkan kontolku ke mukanya.

Setelah kontolku tepat di depan wajah mama, lalu aku panggil beliau “Mah?”. Mama yang sedang duduk di samping teman-temannya pun menatapku sambil berkata “Iya nak, kenapa sayang?”. Sambil menggoyang-goyangkan kontolku di depan wajah mama, aku pun berkata sambil sedikit merengek “Mah, isepin…”. Teman-teman mama pun langsung cekikikan karena melihat ulahku. Mama pun dengan senyum keibuan kemudian memejamkan matanya sambil membuka sedikit mulutnya. Tiba-tiba tante Lucy nyeletuk “Duuuhhh anak mamah yah, manjanya sama mamanya. Tante jadi inget sama temen kamu yang lagi di rumah! Hihihih”. Mama yang mendegar celetukan tante Lucy pun hanya tersenyum sambil menghisapi kontolku dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Lagi asyik-asyiknya disepongin oleh bibir mama yang keibuan itu, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara di sampingku. “Yesss… Aku Menang! Aku Menang! Aku Menang!!! Asyiiikkk aku yang jadi Ratunya! Hahahah”. Ternyata, pemenang Arisan kali ini adalah tante Gina! Ummi Ijah pun hanya tersenyum melihatnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian Ummi Ijah bilang ke tante Gina “Jeung Gina mau pakai baju itu aja say?”. Lalu tante Gina dengan muka heran menjawab “Loh, emangnya kenapa? Ummi emangnya jadi bawa kostumnya dari butik?”. Kemudian Ummi Ijah pun menatapku yang sedang asyik disepongin oleh mama. Lalu sambil tersenyum beliau bilang “Nak Dave, ikut Ummi sebentar yuk nak, bantuin Ummi bawain baju dari mobil Ummi dulu yuk sayang?”.

Lalu aku pun melepaskan kontolku dari sepongan keibuan mamaku. Kemudian aku pun mengikuti Ummi yang sudah beranjak dari tempat duduknya dan mengajakku menuju ke mobilnya.

Cklak… ceklak… ceklak… ceklak… ceklak…

Uhhh, dari belakangnya aku lihat sendal Heels warna putih mengintip-intip dari ujung gamis satinnya yang berayun-ayun seiring langkahnya itu. Melihat penampilan beliau yang paling unik di Arisan ini, cukup membuatku gemas pada beliau ini. Sambil berjalan di belakang Ummi Ijah, aku pun sekali-sekali mengocok pelan kontolku.

Akhirnya kami pun sampai di garasi samping Villa itu. Garasinya cukup besar, sehingga cukup menampung mobil teman-teman mama terpajang dengan begitu ‘sombongnya’ di sana. Bagaimana tidak sombong? Mobil mereka saja buatan Eropa dan Amerika semua! Suasana di samping garasi terbuka ini pun cukup asri dan sejuk. Sehingga angin sepoi-sepoi bisa terlihat begitu genit menggoyang-goyangkan gamis satin hitam Ummi Ijah yang longgar namun tetap terkesan ‘seksi’ dan elegan itu.

Melihat penampilan beliau yang terkesan ‘agamis’ tapi malah ikutan acara Arisan binal seperti ini, cukup membuatku jadi sange sendiri! Setelah Ummi Ijah membuka bagasi belakang mobilnya, beliau pun sedikit menungging sambil mulai sibuk mengambil barang dari bagasinya. Aku yang berada di belakang beliau pun hanya bisa coli santai sambil menunggunya. Tapi ulah cabulku sepertinya diketahui olehnya. Sambil tetap dalam posisi menungging, Ummi Ijah pun tiba-tiba menolehku, tersenyum, dan menggelengkan kepalanya yang berbalut hijab satin hitam itu. Kemudian beliau berkata “Ya Ampun, kenapa sih kamu nak? Kok ngelihatin Ummi gitu banget sih sayang? Sampai ngocok-ngocok segala gitu. Ya Ampun… awas nanti keluar di sini loh dek! Hihihih”. Ah, jadi makin sange digituin! Tapi aku harus tahan!

Kemudian Ummi Ijah pun kembali menoleh ke bagasinya, lalu sambil tetap menungging menurunkan beberapa ‘goodie bag’ yang ada logo butiknya itu. Aku yang cukup penasaran dengan beliau pun kemudian bertanya “Ummi, kok mau sih ikutan acara kayak gini?”. Kemudian beliau pun menolehku, sambil tersenyum beliau mengatakan “Mau tau aja, atau mau tau banget? Hihihih”. Uuuhhh, aku yang dibegitukan malah mendekatkan kontolku ke pantatnya yang menungging! Namun sebelum kontolku mengenai gamis satinnya, tiba-tiba beliau malah menjulurkan telunjuknya yang lentik itu ke arahku dan menggoyang-goyangkannya. “Eiiittt, anak yang baik harus sopan sama orangtua yah nak? Masak anak yang baik bisa ngacengan sih liat Umminya dek? Kan Ummi pakaiannya udah tertutup kayak gini. Hihihihi”. Arrgghhh aku yang dibegitukan malah semakin gemas.

Ummi Ijah pun tertawa mingkem melihat mukaku yang gregetan. Lalu kemudian beliau menoleh ke arah bagasi kembali. Dengan posisi yang masih menungging, Ummi Ijah tiba-tiba menaikkan bawahan gamis satin hitamnya sampai sepinggang! Tapi belum sampai tiga detik aku melihat memeknya, beliau tiba-tiba langsung menurunkan gamisnya kembali seperti semula. Arrgghhh bangsat! Godaan model macam apalagi ini?! Sementara Ummi Ijah hanya terdengar cekikikan sambil tetap membelakangiku.

Aku yang gemas dengan ulah beliau pun sambil sedikit memelas mengatakan “Ahhh Ummi, jangan godain aku kayak gitu dong”. Lalu Ummi Ijah pun menolehku sambil memasang wajah heran dan berkata “Loh? Emang Ummi godain kamu kenapa sih nak?”. Setelah mengatakan itu, tiba-tiba raut wajah heran beliau kemudian berubah seperti menahan tawa. Ya Ampun!

Kemudian karena aku merasa tidak tahan, aku pun mengatakan “Ahhh Ummi mah, buruan balik lagi yuk? Nanti kalau aku gak tahan dan kebablasan terus muncrat di sini gimana dong Ummi?”. Tapi beliau malah cekikikan sambil menutup tawanya dengan kain hijab satinnya.

Setelah tawa beliau sedikit mereda, beliau pun bilang “Ya Ampun, itunya kamu dari tadi emangnya belum dikeluarin juga ya nak? Duuuhhh kacian ya anak Ummii dari tadi menahan yang enak-enak. Hihihih”. Kontolku pun malah mengangguk sambil ngiler mendengarnya. Lalu Ummi bilang “Ya Ampun, itu punya kamu malah ngiler loh dek! Sini ilernya Ummi bersihin dulu sayang!”. Setelah mengatakan itu, Ummi Ijah menarik tanganku untuk mendekatkan kontolku ke arahnya. Setelah kontolku menghadap wajah Ummi Ijah, kemudian beliau membalutkan palkonku menggunakan kain hijab hitamnya yang berbahan satin itu. Sambil menggenggam dan mengelus kontolku dengan hati-hati dan penuh rasa kasih sayang, Ummi Ijah pun tersenyum keibuan memandangku. Ohh fff… tahan, tahan, tahan, Ya Ampun, tahan!

Setelah iler kontolku dibersihkan dengan lembut menggunakan hijab satinnya, kemudian beliau melepaskan genggaman hijabnya dari kontolku. Kemudian Ummi Ijah berkata pada kontolku “Dedek udah belcih ya cayang? Dedek jangan nakal dan ngilel lagi ya liat Ummi! Nanti kalau dedek nakal, Ummi macukin dedek ke dalam loknya Ummi loh! Emangnya dedek mau dimacukin ke dalam lok gamisna Ummi? Mau ya dek? Hihihihi”. Kontolku pun hanya mengangguk pasrah saja diajak bicara seperti itu. Melihat kontolku yang mengangguk-angguk, lalu dengan gemasnya beliau berkata lagi “Ohhh dedek telnyata mau yah?! Dedek mau ya dimacukin ke dalam loknya Ummi yah? Dedek mau banget ya cayang yah? Ya Ampun, dedek nakal yah cama Umminya?! Awas yah kalau dedek udah di dalem lokna Ummi, nanti ci dedek Ummi cubitin di citu! Hihihihi”. Ah bangsat, Ummi ternyata nakal sekali!

Kemudian setelah Ummi selesai ‘membersihkan’ kontolku, beliau pun lalu lanjut menyelesaikan mengeluarkan semua barang keperluannya dari bagasi mobilnya. Setelah semuanya beres, Ummi Ijah pun menutup bagasinya dan menyuruhku untuk mengangkat beberapa ‘goodie bag’ butiknya itu. Lalu kami pun bersiap untuk kembali lagi ke dalam.

Aku yang sedang menenteng banyaknya ‘goodie bag’ milik Ummi Ijah, terlihat seperti orang yang habis menemani wanita belanja di Mall. Bedanya aku telanjang bulat, sementara Ummi Ijah berpakaian lengkap! Ini bener-bener ‘Gokil’ bray! Mesumnya gak ada obat!

Cklak… ceklak… cklak… ceklak… cklak…

Ummi Ijah pun melangkahkan sendal Heels putihnya yang sering mengintip dari ujung gamis hitam satinnya itu. Sementara aku di belakangnya hanya bisa konak sambil menenteng barang bawaannya. Setelah sampai di ruang tengah, aku lihat mama dan teman-temannya lagi asyik ngerumpi dan tertawa. Melihat aku yang menenteng barang Ummi Ijah yang begitu banyak, tante Lucy pun menyahut “Ya Ampun, banyak amat jeung bawaannya. Habis belanja ya? Hihihih”. Lalu sambil Ummi Ijah beranjak untuk duduk di sofanya tadi, menjawab beliau “Ah jeung Lucy bisa aja, itu aku cuma bawa beberapa sepatu, peralatan kosmetik, beberapa model baju kondangan, sama aksesoris aja kok”.

Setelah aku meletakkan ‘goodie bag’ Ummi Ijah di dekat meja mereka, aku lihat tante Gina tiba-tiba beranjak dari duduknya dan berjalan ke seberang meja. Kemudian beliau membungkuk dan mengecek isi dalam ‘goodie bag’ itu. Aku yang berdiri di dekat tante Gina pun hanya bisa mupeng memandangi bongkahan pantat seksi beliau dari balik rok span pendeknya itu. Kemudian tante Gina berkata “Ya Ampun si Ummi gaunnya beneran dibawa ya? Aku kirain cuma bawa Tiaranya aja loh say. Duuuhhh senengnya bisa nyobain! Hihihih”. Kemudian aku dengar Ummi Ijah menjawab tante Gina “Iya jeung, sekalian aku mau promosiin usaha sampingannya si Nisa, anakku itu. Denger-denger dia katanya sama si Laras anaknya jeung Silvi, mau buat usaha penyewaan kostum, rias pengantin, dan semacam Wedding Organizer gitu say”.

Mendengar nama Laras disebut oleh Ummi Ijah, kemudian aku lihat tante Silvi beranjak dari duduknya dan menghampiriku. Kemudian beliau tiba-tiba berlutut di sampingku, lalu mendekatkan wajahnya ke kontolku sambil bilang “Oh, mereka jadi ya jeung mau buat usaha sampingan mereka itu?”. Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja tante Silvi menjilati batang kontolku. Ah bangsat!

Lalu Ummi Ijah mengambil gelas jusnya dari meja sambil menjawabnya “Iya jeung Silvi, katanya mereka mau rintis usaha gitu sambil kuliah. Aku jadi bangga loh say sama mereka. Sllrrrppp”. Ummi Ijah pun mulai menyeruput jusnya.

Kemudian tante Gina mengambil sebuah gaun berwarna ungu dari ‘goodie bag’ itu lalu mengangkatnya dengan kedua tangannya sambil berkata “Ya Ampun, kostum Ratunya ini jeung? Gila, udah berasa kayak Marie Antoinette aja kalau pake ginian! Hahahah”. Kemudian mamaku tiba-tiba nyeletuk “Iiihhh beda lah jeung, kalau Marie Antoinette kan arisannya bisa sambil ‘Orgie’ say. Kalau di sini kan kontolnya cuma satu! Hihihih”. Mereka semua pun serempak tertawa.

Melihat aku yang mulai terlihat meringis menahan kenikmatan oleh jilatan tante Silvi, Ummi Ijah pun berkata “Eh, eh, eh, Ibu Dokter, pelan-pelan loh jeung njilatinnya! Itu tadi dia di garasi udah hampir mau keluar loh say! Hihihih”. Mendengar itu tante Gina tiba-tiba membalikkan badannya, menatapku, lalu bilang “Eh, awas ya Dave kalau sampai dikeluarin! Itu peju kamu nanti mau tante minum sambil make gaun ini!”. Astaga! Aku pun berusaha sekuat tenaga menahan siksaan kenikmatan ini.

Kemudian aku lihat mama tiba-tiba menuju ke arahku sambil membawa sehelai tissu. Lalu mama dari sampingku mulai menyeka keringat di dahiku sambil berkata “Duuuhhh anak mamah… capek ya nak nahan yang enak-enak terus? Yang sabar ya jagoannya mamah? Mama ada di sini kok sayang buat kamu. Tungguin tante Gina ganti bajunya dulu ya nak? Cup, cup, cup, cup, tahan yang kuat ya sayang yah?”

Teman-teman mama yang lainnya pun hanya cekikikan melihatku meringis keenakan. Mereka bukannya membantuku mengurangi tegangan, malah menikmati melihat aku yang ‘tersiksa’ dengan kegenitan godaan mereka. Aku lihat tante Nita yang duduk di sofa sebelah kiri sudah menyingkap dress coklatnya, sehingga aku bisa melihat jari tengah beliau yang sedang asyik bermain-main dengan memeknya sambil menggigit bibir bawahnya menatapku. Tante Lucy pun dari sofa tengah hanya tersenyum nakal ke arahku sambil mulai meraba-raba toketnya dari tanktopnya yang dilapisi oleh cardigan itu. Sementara Tante Silvi masih berlutut di dekatku, menjilati batang kontolku dengan lembut sambil tersenyum menatapku. Mama yang berdiri di sampingku pun masih menyeka keringatku sambil sesekali membelai pipiku dengan lembut. Sementara tante Gina aku lihat perlahan-lahan sudah mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Sepertinya tante Gina berniat ingin memakai gaunnya di sini juga, tepat di hadapanku! Ummi Ijah yang melihat aksi kami pun hanya duduk tersenyum menatapku sambil memegang gelas jusnya dan menggoyang-goyangkan kakinya yang disilangkan itu. Ah bangsat! Kontolku pun mulai gelisah!

Aku yang sedang berusaha menahan siksaan kenikmatan ini pun semakin diuji dengan penampilan tante Gina yang kini sudah berdiri telanjang di depanku. Bentuk badan ideal khas Pramugari elit itu pun terlihat seperti tanpa dosa di hadapanku. Wangi parfum mahalnya pun sukses membuat kontolku berdenyut. Kemudian dengan secara perlahan beliau pun mulai memakai ‘Victorian Gown’ itu di depanku. Badannya yang tadinya telanjang, kini terlihat sangat anggun dengan busana khas era ‘Renaissance’ itu. Kemudian tante Gina mengangkat sedikit gaun besarnya sampai semata kaki, lalu dengan perlahan menurunkan badannya dan berlutut di situ juga. Kemudian beliau berkata “Ummi, kayaknya rambutku perlu disanggul gak sih?”.

Kemudian Ummi Ijah menaruh gelasnya di meja dan beranjak dari duduknya. Lalu Ummi Ijah mengambil sesuatu dari ‘goodie bag’ itu sambil berkata “Kayaknya rambut kamu perlu dicatok dan disanggul kecil deh say”. Aku yang sambil telanjang dan ‘dijilati’ tante Silvi pun hanya mendesah nikmat melihat Ummi Ijah mulai mencatok dan menyanggul rambut tante Gina yang posisi mereka tidak jauh dari hadapan kontolku. Kemudian setelah rambutnya disanggul kecil, Ummi Ijah pun mengambil peralatan kosmetik lalu berlutut sambil merias wajah tante Gina. Beliau mulai membenahi dari maskaranya, bahkan sampai lipstiknya. Aku yang terpana dengan kegiatan feminim itu pun lalu dengan reflek meremas pantat mamaku yang dibalut oleh ‘Summer Dress’ pinknya yang sepanjangnya selutut itu.

Mama yang melihat kegelisahanku lalu berkata pada mereka yang ada di depan kami “Jeung, bisa dicepetin gak say? Kayaknya anakku udah mulai gak kuat deh ini ngelihat kalian, apalagi sambil dijilatin gini sama jeung Silvi”. Ummi Ijah dan tante Gina pun kemudian secara bersamaan menoleh ke arahku lalu tersenyum nakal. Lalu mama berbisik di telingaku “Sabar ya sayang yah? Nanti habis kamu ‘kasih minum’ untuk Ratu kita, kamu boleh kok nanti kalau mau ngentotin mama di kamar sebelah”. Ahhh kontolku malah ngiler!

Lalu setelah riasan pada tante Gina selesai, aku lihat Ummi kemudian berdiri lalu terlihat seperti memegang sesuatu yang berkilau. Kemudian tante Gina memanggilku dengan jari telunjuk lentiknya untuk menyuruhku mendekat. Setelah aku mendekat di hadapan tante Gina yang berlutut itu, aku lihat teman-teman mama yang lainnya juga berdiri lalu mendekati kami. Kemudian, Ummi Ijah mengangkat Tiara itu lalu berkata “Dengan mahkota ini kami nobatkan Yang Mulia Regina Sondang binti Daud Pohan menjadi Ratu dalam Arisan kita kali ini!”. Lalu beliau pun menaruh mahkota itu di kepala tante Gina. Lalu setelah ritual ‘penobatan’ yang nyeleneh itu selesai, semuanya pun langsung bertepuk tangan.

Kemudian tante Gina yang sudah memakai mahkota itu pun menatapku dengan tatapan sayu sambil membuka bibirnya yang berlipstik merah tua berkilau itu. Lalu mama dari sampingku berkata “Kamu bersedia kan nak, mempersembahkan peju kamu untuk Ratu kita kali ini kan sayang?” Ah, kontolku pun langsung mengangguk sekaligus memberi salam hormat pada sang Ratu yang sedang bersimpuh dengan anggun di depan kontolku! Kemudian tangan mama menggenggam pangkal batang kontolku dan mengarahkan palkonku menuju bibir ‘Sang Ratu’ sambil bilang “Ayo nak, kasih Ratu kita minum dulu yuk sayang?”.

Tante Gina pun memejamkan matanya yang bermaskara lentik itu sambil membuka mulutnya dengan pelan untuk bersiap mempersilahkan palkonku memasuki ‘tahta’ kehangatan mulutnya. Kemudian Ummi Ijah pun ikut berlutut di sampingnya sambil memoles ‘blush on’ ke pipi ‘sang Ratu’ yang sedang menerima ‘suapan penghormatan’ itu. Sementara di sebelahnya lagi, terlihat tante Nita juga sudah ikut berlutut sambil mengipas-ngipas ‘sang Ratu’ yang sedang dalam suasana syahdu menikmati dan menghayati ‘persembahan’ yang diterimanya itu. Sementara di sebelah kiriku kurasakan tante Silvi mulai menciumi leherku sambil meraba-raba dadaku. Lalu mama yang di sebelah kananku mulai menciumi pipiku dengan lembut. Sementara tante Lucy aku lihat hanya berjalan-jalan sambil memegang HP-nya. Sepertinya beliau sedang memfoto atau merekam ‘ritual’ kami ini.

Aku yang sedang merasakan kontolku dibalut oleh kelembutan dan kehangatan bibir seorang Pramugari yang sudah beranak satu, yang kini sedang dinobatkan menjadi seorang Ratu, merasakan ‘kedutan nikmat’ yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Melihat ‘Victorian Gown’-nya yang anggun dan elegan, mahkota Tiara di rambutnya yang di sanggul kecil, para ‘pelayan dan perias’ di sebelahnya, kontolku yang sedang dalam proses untuk memberikan ‘persembahan’ khusus baginya, seakan-akan semua ini menegaskan bahwa kekuasaan ‘sang Ratu’ saat ini begitu nyata dalam acara ‘penobatan’ ini. Bahkan di saat ‘sang Ratu’ perlahan membuka kelopak matanya dan menatapku dengan tatapan syahdu sambil tetap menghisapi kontolku dengan bibirnya yang berkilau itu, di situ lah aku pun akhirnya keluar!

Oh Yang Mulia… terima lah peju hamba!

Crottt… glkg… Crottt… glkg…
Crottt… glkg… Crottt… glkg…
Crottt… glkg… Crottt… glkg…

Lalu aku dengar teman-teman mama berkata “duhhh… cantiknya!”

T A M A T