Mamaku Ratuku Part 3

0
6151

Sementara itu di suatu tempat…

Sambil berbisik dengan pelan, pemuda itu bilang “Ahhh… sshhh… pokoknya jangan bilang sama mamah yah bunda? Ssshhh… owhhh”.

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

Wanita itu pun kemudian memutar kepalanya yang bersanggul kecil itu menghadap wajah pemuda itu. Lalu menatap mata pemuda itu dalam-dalam. Kemudian dengan raut wajah yang terlihat mengiba, wanita itu pun menarik nafas sebentar sambil menempelkan bibir berwarna ungu tua itu ke telinga pemuda tersebut. Lalu dengan suara pelan penuh rasa keibuan, wanita itu pun membisikkan “sshhh… iyah sayanghh. Bunda ngerti nak”. Kemudian sambil memejamkan matanya yang berhiaskan maskara lentik itu, wanita itu pun lanjut membisikkan pemuda itu dengan pelan dan penuh rasa kasih sayang “tapi kamuh jangan kenceng-kenceng entotin bunda yah nak? Shhh… nanti kedengeran loh sayang… shhh… ya sayang?”.

Pemuda itu pun lantas mengangguk sambil mendengus pelan dan tertahan. Kemudian pemuda itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya, mengarahkan mulutnya untuk menjilati anting wanita itu sebentar. Wanita itu pun terkaget dan langsung terpejam, lalu mengkerutkan dahinya sambil menggigit bagian bawah bibirnya yang berwarna ungu tua itu. Pemuda yang berada di belakang wanita itu pun perlahan mengendurkan kedua cengkraman tangannya pada lekukan rok span satin hitam yang melingkari pinggul indah wanita anggun itu. Pemuda itu pun secara perlahan mulai menurunkan sedikit tempo genjotannya pada pantat sekal wanita anggun itu. Kemudian pemuda itu berbisik “mau segini aja bunda?”. Wanita itu pun langsung mengangguk pelan sambil berbisik “iyah, shhh… segini aja sayang. Mmhh… shhh… pinter anak bunda… shhh”.

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

Wanita itu pun kembali menoleh ke arah cermin besar yang terpajang tepat di hadapan mereka. Lalu sambil melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, wanita itu pun menaikkan suaranya. “Iyah haloh? Kenapa tadi sayang?”. Lalu sambil tersenyum nakal melihat pantulan wajah pemuda yang berada di belakangnya, wanita itu pun melanjutkan “owh enggak, itu… mmhhh… tadi ada temen bunda yang lewat. Kenapa sayang?”. Wanita yang sambil menerima telepon itu pun, kembali tersenyum melihat cermin sambil perlahan menaikkan sebelah tangannya, lalu mengelus-elus pipi pemuda itu.

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

“Iyah, ini bunda masih di Rumah Sakit kok sayang. Kamu emang masih di situh sayangh?”

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

Pemuda yang sedang mengentoti wanita itu pun, perlahan mengangkat sebelah kaki wanita tersebut. Wanita yang masih menempelkan telepon genggamnya ke telinganya itu pun, terlihat menoleh dengan senyum yang menganga. Sambil tetap menggenjot wanita itu, terlihat sepatu ‘Stiletto’ ungu mengkilap yang menghiasi kaki mulus wanita itu turut berayun-ayun seirama entotan lembut yang diterimanya dari pemuda itu. Lalu pemuda itu mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, sambil berbisik pelan “bunda, ssshhh… bunda kok iseng banget sihhh? Jam segini kok ssshhh… kok malah minta buat dientotin gini sihhh? Malah tempatnya di sini lagi… bukannya ini masih jam prakt… hmmpppff”.

Belum selesai pemuda itu berbisik nakal di telinga wanita tersebut, telapak lentik wanita itu menutup mulut pemuda tersebut. Lalu sambil menatap pemuda itu dari cermin, wanita itu memasang muka cemberut sambil memonyongkan bibir seksinya yang mengkilap. Seakan-akan bibirnya itu adalah isyarat untuk menyuruh pemuda itu diam dulu.

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

Lalu sambil membungkam mulut pemuda itu, wanita itu menempelkan pipi mulusnya ke pipi pemuda itu sambil berkata “Hah? Iyah kenapa sayang? Owh kamu di situh? Ya udah, nanti kalau bunda udah selesai sama pasiennya bunda, nanti bundah langsung hmmm pulanghh…”. Selama mengatakan itu, wanita tersebut tidak berhenti mengelus-elus wajah pemuda itu dengan pipinya yang lembut itu.

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

Karena merasa gemas dengan tingkah wanita itu, perlahan tangan pemuda itu pun menurunkan sebelah kaki mulus yang tadi diangkatnya itu. Lalu tangan pemuda itu pun perlahan naik lalu meremas busungan dada wanita itu dari jas dokter putihnya yang masih melekat itu. Dokter cantik itu pun lalu mengernyitkan dahinya melihat tingkah pemuda itu dari cermin. Lalu sambil menjauhkan telepon genggamnya sejauh mungkin, dokter cantik itu pun menoleh lalu berbisik ke pemuda itu. “Shhh… ya ampun sayang, uuuhhh… sabar dulu dong sayang! Mmhhh… bunda masih nelfon loh ini sayang… sabar dulu ya nak? Yah? Tungguin bunda dulu yah… kamu masih sayangnya bunda kan nak? Shhh…”. Selama mengatakan itu, dokter cantik itu pun tidak henti-hentinya membelai-belai lembut pipi pemuda itu dengan telapak lentiknya.

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

Melihat pemuda itu mulai menurunkan tangannya, wanita itu pun tersenyum penuh keibuan, lalu membelai kepalanya. Kemudian sambil melihat ke cermin kembali dokter cantik itu mendekatkan kembali telepon genggamnya. “Iya Haloh? Iyah kenapah? Hah? Ohh enggakh, ini bundah lagi sambil periksah pasien bunda soalnyah… iyah… kenapah? Mmmhhh gituh…”. Dokter cantik itu pun kembali melanjutkan percakapannya sambil tetap dientoti dari belakang.

Cplok… cplok… cplok… cplok… cplok…

Pemuda yang masih sibuk mengentoti Ibu Dokter itu pun perlahan mulai menjilati anting berlian dan bergerak menyedot lembut leher dokter cantik itu. Sementara dokter cantik itu pun masih tetap sibuk berbicara sambil melihat aktivitas mereka di depan cermin Ruang Praktek itu. “Owh gituh? Hmm terus gimana? Ohhh ya udah, kamu masih sama Nisa kan?”.

Plokplokplok… Plokplokplok… Plokplokplok…

Pemuda itu pun lanjut menggenjot dengan tempo yang semakin cepat. Sementara tangannya kembali diarahkan ke jas dokternya. Dokter itu pun lalu melotot melihat pemuda itu dari cermin. Tapi pemuda itu malah semakin bernafsu dan meremas kencang busungan dadanya yang kenyal itu. Dokter cantik itu pun lalu menoleh dan menjauhkan kembali teleponnya.

“iiihhh kamuhhh… sshhh… bunda bilangin juga jangan sambil digrepehin iiihhh, sshhh… nanti baju kerja bunda kan lecek sayang! Lagian nanti Laras curiga!… Shhh… kamu mau mejuin bunda tapi pakai baju lecek gini?”

Pemuda itu pun menggelengkan kepalanya.

“Makanya, sabar yah sayang ya? Bentar lagi kok ini nak. Ya sayang yah? Shhh… kamu anak bunda yang mau tetep lihat bunda tampil cantik buat dipejuin sama kamu kan sayang?”

Pemuda itu pun menganggukkan kepalanya.

Dokter cantik itu pun lalu tersenyum penuh keibuan sambil membelai pipi pemuda itu. Kemudian dengan mendekatkan teleponnya kembali, dokter cantik itu pun menoleh ke cermin sambil tersenyum. Lalu dengan raut wajah sedikit binal, dokter cantik itu pun melirik nakal ke wajah pemuda itu melalui cermin sambil berucap tanpa suara “entotin lagi”. Pemuda yang gemas dengan ulah Ibu Dokter itu pun langsung mencengkram pantatnya, dan mulai mengentoti lagi. “Iya haloh?… sorry itu tadi ada pasien bundahh”.

Plok… plok… plok… plok… plok…

“Hmmm… ya pokoknyah kalian jangan sampai kemalemanh aja yah sayanghh?”

Melihat pemuda itu menganga, dokter cantik itu pun lalu memasukkan jarinya yang lentik itu ke mulut pemuda tersebut.

“Iyahh… bunda takut nanti si Ummi khawatir.”

Dokter itu pun melirik pemuda itu dari pantulan cermin dengan senyuman nakal.

“Okeh, iyah, gitu aja? Iyah sayangh. Hati-hati yah nak… Iyah, byeee… mhhhh”

Tut… tut… tut… tut… tut… tut…

Pemuda yang mendengar nada sambungan telepon yang sudah terputus itu pun sontak membabi buta menggenjot Ibu Dokter cantik itu dengan gemas.

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…
Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“Sssshhh… uuuhhh bundah… bunda nakal… ssshhh… owh, owh, owh, shhh…”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…
Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

Sambil menatap cermin dengan senyum menganga, Dokter Seksi itu pun menaikkan kedua lengannya sambil meremas rambut pemuda itu

“Hihihihih… owh, sshh, owh, sshhh, owh, iiihhh langsung semangathhh anak bunda… hah, hah, owh, sshh… gimanah? sshhh… enakh gak sayanghh?”

Pemuda itu hanya bisa menganga, sambil tetap menggenjot dengan lebih cepat.

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…
Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…
Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

Sambil bercermin dengan memasang wajah binal, Ibu Dokter yang seksi itu pun berkata “Bunda seksi gak kalau dientotin kayak gini sayang?”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“Owwhhh… shhh… bunda gak cuma seksihhh, tapi bunda kayak lonte! Ohhh…”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“iiihhh mulutnya… kalau lagi ngentotin bundanya harus sopan dong sayanghhh…”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“Oohhh fff… Bunda Silvihhh… anjjj… oohhh”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“Hihihihhh… owwhhh… sshhh… gimanah sayanghhh? Kado buat bunda udah mau dikeluarin? Hihihihh… shhh…”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…
Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…
Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“Arrgghh… shhh… bunda, shhh… dah mau sshh… dah mau kkk… ssshhh… di muka bunda yah bundhhh?! please ya bunda? yahh?… shhh…”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…
Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“Shhh… jangan sekarang ya nakhh, nanti makeup bunda semunya lunturhhh… bunda telen aja yah sayanghhh?…”

Plokplokplok… plokplokplok… plokplokplok…

“Owhhh… nih bunda, nih bunda, cepetthhh…”

Pemuda itu pun menarik kontolnya dari jepitan memek keibuan itu. Lalu bergerak mundur dan menyenderkan pantatnya di meja ruang praktek Tante Silvi itu. Lalu Tante Silvi membalik badannya. Sambil perlahan menurunkan kembali rok span satin hitamnya yang sedikit ketat itu, Tante Silvi membenahi sedikit lecekan roknya. Lalu dengan langkah gemulai, berjalan perlahan menghampiri pemuda itu.

Cklak… cklak… cklak… cklak… cklak…

Suara sepatu Stiletto ungu yang mengkilap itu pun lalu terdengar di ruang prakrek itu. Sambil tersenyum menganga, Tante Silvi kemudian memegangi rok spannya sebentar, menurunkan badannya, dan berlutut begitu anggun tepat di depan kontol pemuda itu. Lalu dengan melirik ke wajah pemuda itu, Tante Silvi pun tersenyum nakal sambil menjulurkan sedikit lidahnya dari bibir berkilau itu.

“Mana kadonya anak bunda? Aaaakkkk…?”

Pemuda itu pun langsung mengarahkan kontolnya ke dalam kehangatan dan kelembutan mulut Tante Silvi yang keibuan itu. Bibir ungu berkilau Tante Silvi pun menyelimuti batang kontol yang mulai berkedut itu. Lalu sambil tersenyum, Tante Silvi pun memandangi wajah pemuda itu dengan tatapan syahdu.

Glgk… glkg… glkg… glkg… glkg… glkg…

Pemuda itu pun menumpahkan semua pejunya di dalam mulut Tante Silvi. Tante Silvi yang menerima peju pemuda itu pun memejamkan matanya yang dihiasi oleh maskara lentik itu. Wajah Tante Silvi pun terlihat sangat menghayati proses itu. Pipi Tante Silvi pun terlihat mengempis, berusaha menyedot sisa-sisa percikan peju di dalam mulutnya itu. Setelah semua peju pemuda itu habis ditelan, Tante Silvi pun perlahan membuka matanya dan menatap wajah pemuda itu dengan tatapan penuh syahdu.

Ploppp…

“duuhhh makasih yah sayang udah mau mejuin bunda. Bunda jadi terharu dikasih vitamin awet muda gini. Hihihihi… maafin bunda juga yah udah nelen jatah mamah kamu hari ini… Hihihihih.”

Tante Silvi pun dengan secara perlahan bangkit berdiri dan mulai merapikan rok span hitamnya yang berbahan satin itu. Lalu Tante Silvi pun perlahan beranjak ke arah cermin.

Cklak… cklak… cklak… cklak… cklak…

“Sayang, ambilin lipstik bunda di laci meja dong nak. Bunda mau ngerapihin bibir bunda nak.”

Sembari pemuda itu mencari lipstik Tante Silvi, pemuda itu pun bertanya “Oh iya bunda, mamah sama tante Nita ada acara apaan yah hari ini ke rumah si Dave? Si Dave mau diajakin jadi bahan Arisan juga bun?”

Lalu Tante Silvi yang mendengarkan pertanyaan Leon itu pun, mendadak tersenyum mingkem sambil meliriknya dari pantulan cermin.

“Hihihih… hmmm… kasih tau gak yah?”

“Ehhh… tunggu dulu!”

Terdengar suara mama tiba-tiba memanggil dari belakangku. Aku lihat mama berjalan terburu-buru menghampiri kami yang berada pas di tengah-tengah ruang tamu. Lalu mama yang kini sudah berdiri tepat di belakangku, tiba-tiba langsung menggenggam kontolku.

“Nit, apa gak mendingan kamu merem aja? Kayaknya ini bakalan hujan gede loh say. Anakku kan baru pertama diginiin”. Kata Mama dari belakangku yang perlahan mulai mengocokkan kontolku dengan lembut ke arah wajah tante Nita yang sedang berlutut dan tersenyum di depan kami.

Setelah tante Nita memejamkan matanya yang berhiaskan maskara lentik itu, dengan sambil tersenyum beliau pun bilang “sshh… ya udah jeung, ayo Dave sayang, tunjukin seberapa cantiknya tante buat kamu sayang… aaakkk…”

Lalu terdengar mama berbisik ke telingaku “sshh… ayo sayang, traktirin peju kamu buat temen-temen mama ini nak, shhh buat mereka merasa cantik sayang… ayo jagoannya mama, buat mama bangga sayanghh…”

Aku yang mendengarkan bisikan mama, dibuat semakin belingsatan karena merasa makin sudah diujung. Perlahan terasa siksaan ‘gatal nikmat’ menjalar di sekujur kontolku. Karena saking nikmatnya ‘sensasi surga’ ini, aku pun lantas menggerakkan kedua tanganku ke belakang, mencengkram paha rok panjang mama sambil berdesah “Ohhh… sshhh… mamah…”.

Crottt…

Lalu terlihatlah percikan kental melintas ke arah wajah seksi tante Nita yang sedang terpejam itu. Tante Nita yang mulai merasakan ada semburan yang mengenai riasan wajahnya, dengan mata yang masih terpejam lalu tante Nita pun mulai tertawa cekikikan.

“Ahihihihih…”

Crottt…

“Awh… ahihihihhh”

Crottt…

“aduhhh… ya ampunhh…”

Crottt…

“Kyahhh… ahihihih… sshh… makasih sayang, uuuhh makasihhh…”

Crottt…

“Owhh… shh… makasih sayanghh…”

Criiittt…

Seiring berjalannya prosesi itu, mama selalu membelai kepalaku sambil berbisik lembut di telingaku. “sshh… iya sayang, keluarin semuanya sayang, nahhh… gitu sayang… arahin ke sini nak… nah, hihihih… ke sini dikit sayang… nah… kasih dikit buat antingnya sayang… nah… hihihihih… uuhhh pinternya anak mamah… mmuachhh”

Semburanku kali ini memang terasa lebih banyak dan sedikit lebih lama dari biasanya. Aku pun sangat menikmati sekali sensasi ‘melukis’ kecantikan wajah tante Nita yang sedang berlutut dengan anggun di depanku itu. Memandangi beliau yang sedang terpejam, dengan raut wajah penuh bahagia menerima semburan demi semburan yang turut menemani tawanya yang sangat menggemaskan itu.

Selama proses itu, kadang semburanku terasa sedikit lebih mengencang jika aku menoleh ke Tante Lucy yang juga sedang berlutut dengan anggun di samping tante Nita yang sedang asyik kupejui itu. Tante Lucy pun hanya tersenyum menganga menatapku yang sedang khusyuk mejuin wajah temannya yang sedang asyik menikmati ‘siraman rohani’ itu. Sambil memandangi Tante Lucy yang masih memegangi cangkir ‘teh binal’ yang bercampur lelehan iler kontolku tadi, kedutan di kontolku pun terasa makin mengencang. Apalagi saat aku melihat beliau berusaha menutupi senyuman bibirnya yang berkilau itu dengan kelentikan punggung telapak tangannya yang bergelang emas itu.

Saat aku terlena dan masih merasakan sensasi menggemaskan itu, aku pun jadi ingin memejui keanggunan wajahnya yang masih dibalut hijab pashmina hitam itu. Saat aku berusaha mencoba mengarahkan kontolku untuk menghadiahi wajah mama temanku dengan sisa-sisa semburan pejuku itu, mendadak mama malah menggenggam dan membelokkan arah semburan sisa-sisa dari kontolku sambil mengatakan “eehh… gak boleh sayang, ini kan lagi jatahnya sang ratu nak. Hihihih… habisin dulu nih peju kamu buat tante Nita. Iyah… nah… gitu. Jangan disisain, itu gak sopan loh sayang! Hihihihih” Mereka berdua yang mendengar ucapan mamaku pun lalu mendadak tertawa secara bersamaan.

Tapi aku malah merengek “aaahhh mamah, aku pengen mejuin muka Tante Lucy… aku pengen mejuin mamanya Leon mah!”. Tante Lucy yang mendengarkan rengekanku itu pun menoleh dan sambil senyum menganga. Lalu beliau pun tiba-tiba mengarahkan tangannya yang bergelang emas itu untuk membelai-belai kontolku yang sudah layu itu. Lalu sambil menatapku dengan penuh rasa iba, beliau pun berkata “seriusan kamu pengen mejuin muka mama temenmu ini sayang? Ya ampun… tante jadi tersanjung loh sayang… iiihhh padahal kan di sini masih ada ratu tante Nita sama mamah kamu loh dek. Hihihihih… duuhhh kaciaan… segitunya ya kamu pengen mejuin mama temenmu ini? Mau hari ini juga ya sayang?”

Aku pun menganggukkan kepalaku dengan cepat. Lalu tante Lucy pun perlahan menarik elusan tangannya dari kontolku. Kemudian jari tengah lentiknya yang berkutex mengkilap itu diarahkan ke wajah tante Nita yang sudah belepotan peju itu sambil berkata ke padanya “aku ambil sisa jatahku dulu yah say?”. Tante Nita yang masih terpejam dan tersenyum sambil mengyahati lelehan pejuku di mukanya itu pun hanya mengangguk-angguk. Tante Lucy pun lalu mencolek pejuku dari wajah tante Nita sambil menatapku. Beliau perlahan mendekatkan jari lentiknya yang berlumur pejuku itu ke bibir berkilaunya. Lalu sambil membuka mulutnya, beliau pun perlahan memejamkan matanya yang berhiaskan maskara lentik itu. Lalu dengan secara perlahan mulai memasukkan ujung jari tengahnya ke dalam mulutnya. “slllrrppp… mmmhhh… slrrrppp… ohhh… ya ampun… jeung Winda tiap hari nyicipin ‘rasa’ ginian? Ya ampun… iiihhh… mmhhh… slllrrrppp”.

Mama yang ditanyai tante Lucy seperti itu pun cuma cekikin di belakangku. Lalu sambil mama mulai memeluk lembut leherku dari arah belakang, mama pun mulai mengesek-gesekkan pipinya ke pipiku sambil berkata “iiihhh jeung Lucy lebay deh, kan kamu udah punya ‘mainan’ sendiri juga di rumah. Gimana sih? Hihihih… mmuuachh”

Aku yang kaget dengan penuturan mamaku itu pun langsung bertanya ke tante Lucy “Hah? Emang tante sering gituan sama Leon juga tante? Kok Leon gak pernah cerita ke aku sih?”. Tante Lucy yang mendengarkan pertanyaanku itu pun hanya menatapku dan tersenyum, sambil sedikit memeletkan ujung lidahnya ke padaku. Lalu sambil beliau melanjutkan mencoleki wajah tante Nita dengan jari lentiknya, beliau pun tersenyum sambil berkata “ehmmm… gimana yah sayang, panjang kalau tante ceritain. Lagian, memangnya ada gitu anak yang mau cerita-cerita ke temennya kalau dia bisa hampir tiap hari mejuin mamahnya? Hihihihih… kalau nanti anaknya cerita-cerita kayak gitu ke temennya,… mmmhhh… slllrrrppp… temen-temennya nanti jadi pada mau ikutan dong mejuin mamanya? Hihihihihi…” Ahhh… tante Lucy gemesin!

Mama dan tante Nita yang mendengarnya pun langsung tertawa bersamaan. Setelah itu tante Nita tiba-tiba nyeletuk dengan bibir yang sedikit manyun “Jeung Lucy, buruan ihhh ambilin pejunya buat tehnya, tapi jangan semuanya dihabisin, aku soalnya belum Selfie nih huuuu…”. Tante Lucy pun cekikikan sambil mingkem lalu mencoleki pejuku dari wajah tante Nita ke dalam cangkir tehnya. Lalu tiba-tiba mama mengendurkan pelukannya dari leherku sambil berkata “Ya udah, mau aku ambilin HP kamu ke sini aja say buat kalian Selfie di sini? Atau… mau ‘ngisi’ lagi? Ngeliatin kamu yang lagi cantik gini, aku juga jadi pengen dipejuin loh jeung! Hihihih”.

Tante Nita pun dengan perlahan membuka matanya, lalu menatapku dengan membalas “Udah, aku nungguin di sini aja jeung, aku lagi pengen Selfie di sini. Soalnya kan,… lebih deket ke TV. Hihihihih…”. Mama yang mendengar itu pun jadi tertawa cekikikan lalu melepaskan pelukannya dariku sambil berjalan ke arah sofa dan berkata “Huuu… dasar yah mamah-mamah ganjen! Serasa kayak lagi di Arisan aja deh. Padahal kan masih minggu depan! Hihihih”.

Arisan? Aku yang sedang terheran dengan ucapan mamaku, sambil tetap menatap maskara tante Nita yang kini terlihat lengket karena peju kentalku, memutuskan untuk memberanikan diri bertanya pada mereka “Arisan? Arisan apaan sih tante?”. Lalu kedua wanita yang masih berlutut dengan anggun di depan kontol layuku itu pun terlihat hanya tersenyum binal saja sambil saling melirik satu sama lain. Ah sialan! Ditanyain serius gini malah dikacangin sama mereka. Ah peler lah! Umpatku dalam hati.

Tante Lucy pun sambil menatapku, perlahan mulai mencicipi teh rasa barunya itu. “Slllrrrppp… mmmhhh… ya ampun… iiihhh… ssshh… aduh rasanya Nit, ya ampun say, kamu mesti cobain ini deh jeung… uhhh… shhh… rasanya tuh, rasanya tuh,… uuuhhh gilaaakkk gurih-gurih seksi gitu say! Shhh… ya ampun, shhh… langsung becek gini loh aku say.”. Tante Nita yang penasaran pun menyahut sambil menatapku, “Mana coba sini jeung, aku mau cicipin. Suapin aku dong say”. Tante Lucy pun dengan penuh rasa kelembutan, mulai menyuapkan teh itu ke bibir tante Nita. “Slllrrrpp… mmmhhh… oh my ggg… haaahhh… shhh… duuhhh jeung, aku kok malah ngerasa kayak jadi ratu beneran yah jeung? Shhh… uuuhhh… bener, jadi ikutan becyekh nih say…”. Lalu sambil menatapku dengan tatapan seperti orang yang sedang sakau, tante Nita pun lalu melanjutkan “duuuhhh… jadi berasa pengen punya pengawal yang mau jilatin ratunya sekarang deh. Tapi,…”.

Mendengarkan itu perlahan kontolku terasa seperti mau bangun lagi. “Tapi kenapa tante?”

“Tapi bo’ong!”

Kedua temen mamahku ini pun lalu tertawa terbahak-bahak secara bersamaan. Ah ngehek! Bangsat! Peler! Dikerjain lagi sama mereka! Uhhh bikin gemes aja! Ingin rasanya kuentoti mereka saat ini juga! Menunggingkan mereka berdua di lantai, menaikkan rok ketatnya, lalu aku doggy mereka secara berganti-gantian! Oh fff…

*ckreeekkk

“Ihhh… kalian nih kebiasan deh godain anakku. Nanti tititnya marah loh! Hihihih…. nih jeung, HP kamu say, tapi habis ini aku mau ke kamar dulu yah say, pengen dandan juga. Hihihih… Masih sempet kan say?”. Aku ternyata tidak memperhatikan jika mamaku dari tadi sudah ada di dekatku kembali.

“Tungguin ya jeung, aku mau selfie-selfie dulu”. Lalu tante Nita pun menerima HP-nya dari mamaku, lalu mengarahkan kamera depannya dari arah atas, sambil menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan untuk mulai selfie.

*ckreeekkk *ckreeekkk *ckreeekkk

“Jeung Lucy, sinian say. Kamu pakai posenya yang cantik yah, aku mau pakai yang pose imut. Okay? Hihihihi”. Tante Lucy pun melirikku sebentar sambil tersenyum. Lalu sambil membenahi hijab pashmina hitamnya dengan sebelah tangannya yang bergelang emas itu, beliau pun berkata “yang ini mau dikirimin di grup juga say?”. Tante Nita pun melirikku sebentar lalu sambil menutupi mulutnya, beliau mulai membisikkan sesuatu ke tante Lucy. “psssttt… psssttt… psssttt… kamu tau gak?… psssttt… pssttt… iyah!… makanya, ini kan buat psssttt… psssttt… soalnya kan minggu depan psssttt… psssttt… pssttt… pokoknya kalau dia pssttt… psssttt… aku japriin aja ya jeung? Hihihihih…”. Tante Lucy yang mendengarkannya pun hanya tersenyum nakal sambil menatapku. Lalu mereka pun lanjut selfie.

*ckreeekkk *ckreeekkk

“Sayang, mau temenin mama ke kamar bentar gak? Biarin aja dulu mereka di sini.” Aku yang mendengarkan pertanyaan mama pun lalu mengangguk, lalu mulai menaikkan celana boxerku. Saat mama melihatku, mama malah bilang “Iihhh udah celana kamu lepasin aja sih sayang, kan nanti tititnya mau dipake lagi sayang.”

Aku yang masih bingung dengan permintaan mamaku pun lalu melepaskan celana boxerku. “Kontolku mau dipake buat apaan lagi sih mah?”. Mama pun menggeleng-gelengkan kepalanya lalu dengan senyum sedikit nakal berkata “Kamu emangnya gak mau mejuin mama temenmu?”. Kontolku yang mendengar itu pun berdenyut dan mulai bangun dengan lembut. “Hihihihih… tuh lihat, punyamu aja udah penasaran! Hihihih… yuk sayang ikut mama ke kamar bentar.” Mama pun menarik tanganku dan membawaku ke kamarnya.

Sesampainya kami di kamar, mama pun membuka lemari pakaiannya lalu mulai sibuk memilih-milih pakaiannya yang banyak itu. Sambil memilih-milih pakaian, mama pun mulai bicara padaku “sayang, maafin mama yah selama ini mama gak ngasih tau kamu kalau mama sama temen-temen mama belum lama ini ngadain semacam ummm… shhh… gimana yah ngomongnya, shhh… semacam… semacam Arisan Brondong gitu nak! Kamu gak marah sama mama kan sayang kalau mama ikut gituan?”

Cetarrr!!! Pikiranku pun mendadak blank mendengar itu. Aku yang masih terkaget, shock, marah, benci, dilanda cemburu, sedikit nafsu, merasa sesak, sedih tapi penasaran, dengan muka cemberut dan memelas aku pun memegang pundak mama dan memberondong beliau dengan pertanyaan “Kenapa mama mau melakukan itu? Bukannya mama bilang mama sudah punya aku? Siapa teman mama yang mempengaruhi mama untuk ikut kegiatan seperti itu? Sudah berapa lama mama ikut? Kenapa mama merahasiakan ini dari aku mah? Kenapa mama tega melakukan ini sama aku mah? Kenapa mamah kok…” aku yang memberondong beliau dengan pertanyaan itu pun serasa ingin menangis.

Namun mama dengan wajah mengiba sedikit memelas kemudian memegang kedua pipiku lalu berkata “Maafin mama sayang, mama tidak bermaksud mengkhianati kamu sayang. Cinta mama tetap buat kamu kok sayang! Jadi gini loh sayang, mama memutuskan ikut Arisan itu sejak tante Lucy curhat sama mama kalau selama ini ternyata mereka juga punya hubungan yang mirip seperti kita nak. Terus karena mama merasa mama dan tante Lucy itu senasib, sudah mama anggap seperti keluarga mama sendiri, apalagi sahabat-sahabat mama yang sekarang ini pun semuanya sama-sama janda yang trauma dengan pernikahan, maka mama dan tante Lucy akhirnya berniat untuk sedikit ‘berbagi kebahagian’ sayang. Kan di antara geng mama cuma mama dan tante Lucy aja yang punya anak cowok.”

Belum selesai rasa terkejutku dari penuturan mama, beliau pun mengelus pipiku lalu melanjutkan penjelasannya. “Lagi pula Brondongnya pun bukan siapa-siapa kok nak, cuma si Leon aja kok sayang. Apalagi Leon kan juga temen baik kamu. Arisannya pun juga belum lama dan masih baru kok. Itu pun di Arisan itu gak sampai bersetubuh seperti yang biasa kita lakuin kok sayang. Arisan itu cuma buat sekedar hmmm… cuma buat ‘Have Fun’ kayak kita sama tante Nita dan tante Lucy tadi aja kok. Mama pun juga cuma ikut meramaikan aja. Kan niatnya juga sambil ‘traktir kasih sayang’ buat sahabat-sahabat mama yang lainnya. Kan mereka kasihan sayang tidak ‘seberuntung’ mama dan tante Lucy. Lagi pula kan mama juga udah biasa ‘digituin’ sama kamu. Makanya mama dan teman-teman mama sengaja merahasiakan ini dulu dari kamu sayang, supaya membuat kejutan sama kamu! Kamu bukannya pernah bilang sama mama, kalau kamu penasaran ingin mejuin mukanya temen-temen mama? Iya kan sayang?”

Aku yang mendengarkan penjelasan panjang lebar dari mama pun perlahan merasa sedikit malu dan menundukkan kepalaku. Aku merasa sedikit bersalah karena sudah berprasangka buruk dengan mamaku sendiri. Mama yang merasakan perubahan emosiku pun lalu mencium keningku lalu sambil perlahan menggerakkan tangannya ke bawah dan mengelus-elus kontolku sambil bilang “Gimana sayang? Kamu mau kan nak bantuin mama sama temen-temen mama? Kamu mau kan berbagi peju kamu sama mereka? Kamu emangnya gak kepengen apa mejuin mukanya tante Silvi? Kamu emangnya gak kepengen ngolesin kontol nakal kamu di pipinya mama temen-temen kamu? Kamu emangnya gak kepengen gesek-gesekin kontolmu di pantatnya Ummi? Atau,… Kamu emangnya gak kepengen apa ‘en, to, tin’ mama di depan mereka semua? Hihihihih…”

Mama yang menggodaku seperti itu pun sukses membangunkan kontolku. Lalu mama yang merasakan kontolku mulai menegang, perlahan melepaskan tangannya dari kontolku dan tertawa sambil menutup mulutnya “Hihihihih… dasar, semua lelaki emang sama aja yah?! Huuu… udah ah, sini bantuin mama dulu pilihin baju. Kamu masih pengen mejuin mamanya Leon kan? Hihihih”. Ditanya seperti itu, kini giliran kontolku yang mengangguk.

Bersambung.