Mamaku Ratuku Part 2

0
13022

Siang itu aku rebahan di kasur sambil cek Akun Sosmedku. Sambil melihat foto-foto di akun IG mamaku, pikiranku menjadi terawang-awang akan Arisan yang akan digelar di rumah Leon sahabatku itu. Ini memang bukan acara Arisan Cabul pertama kali bagi kami, tapi siapa yang rela coba kalau punya mama yang cantik, anggun, bisa dengan sebegitu bebasnya dipejuin sama temen sendiri? Uh, gak relaaa… tapi membayangkan itu saja kadang malah bisa membuatku geregetan sendiri. Membayangkan di saat wajah mamaku yang ayu itu berlumuran peju sambil tersenyum menatap temanku itu membuat pelerku menjadi gatal sendiri! Aduh bro, nyokap gue tuh… masa muka nyokap gue yang keibuan itu tega lu pejuin juga sih men? Ahhh…

Semakin aku melihat foto-foto mamaku di Akun Sosmednya, semakin aku larut dalam khayalanku. Aku semakin rindu untuk selalu dekat dengan mamaku yang cantik itu. Mamaku yang selain cantik, lemah lembut, walau kadang agak manja, emang paling ngangenin! Sudah tubuhnya seksi, wajah dewasa dengan aura keibuan, elegan, tapi kebinalannya bisa melebihi seorang perek! Sempat terbesit ideku untuk menyusul mama diam-diam ke Arisan itu. Tapi setelah aku pikirkan secara matang-matang kembali, segera aku urungkan niatku karena aku sudah berjanji untuk tidak mengecewakan mamaku yang tersayang itu. Ah, biarlah si Leon brengsek itu menang banyak kali ini. Toh, aku pun juga bisa mejuin mamanya yang bohay itu. Hihihi.

Yah begitulah, hubunganku dengan mamaku ini mungkin bukan seperti hubungan normal anak dan ibu pada umumnya. Bagaimana tidak? Keluarga mana sih coba yang bisa dengan sebegitu bebasnya melakukan aktivitas cabul dengan anggota keluarganya sendiri? Bisa berbuat mesum di setiap saat, di mana saja, dan kapan saja tanpa ada satu pun yang melarang? Wow, surga dunia sekali! Memangnya kita sedang hidup di alam bokep? Industri bokep aja ada kontraknya kali! Heheheh..

Mama yang memang berasal dari lulusan luar negeri, memang sudah terbiasa dengan budaya keterbukaan, dan pemikiran yang mungkin “terlampau modern” untuk saat ini. Terbukti, sejak mama pertama kali menangkap basah diriku yang sedang bermasturbasi di kamarku, mama bukannya marah tapi malah menertawai dan mendukungku. Edan! Bahkan gilanya, mama mengizinkanku jika aku seandainya coli sambil membayangkan beliau! OMFG seriusan mah?!

Aku masih ingat dengan kata-kata bijak beliau sewaktu percakapan kami waktu itu. Mama dengan gaya ala-ala sosialita mamah mudanya berkata, “ya ampun deh, parenting zaman now tuh ye masak anak cuma mau Coli aja dilarang-larang dan dibikin ribet sih? Ngewe sembarangan kali tuh yang harusnya dilarang! Kalau laper, ya kan makan. Kalau haus, ya minum. Kalau kebelet pipis, ya kencing. Kalau anak lagi sange? Yaaa kaleee harus nyewa gedung dan nyebar undangan dulu baru biss crot? Ya mana sempat, keburu telat, ya udah sih, kocokin aja!”. Ahhh mamah, mana tahaaan!

Sejak kejadian waktu itu lah aku akhirnya bebas mengocok-ngocok pelerku di mana pun yang aku mau. Aku memang hobi sekali coli, bahkan saking asyiknya coli, kadang aku sampai lupa cari pacar sendiri! Kadang aku suka coli sambil nonton TV bareng mamah. Mama yang duduk di sampingku paling hanya senyum-senyum saja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku. Sering juga ketika mama sedang beraktivitas di rumah, seperti menyapu, mencuci, memasak, aku bisa coli sambil memperhatikan beliau bekerja. Mama pun hanya cekikikan sambil meneruskan pekerjaannya. Namun salah satu favoritku adalah ketika mama lagi sibuk dandan di depan meja rias kamarnya, uhhh, aku bisa coli berlama-lama menghayati tingkahnya dari pantulan kaca. Tidak jarang pula saking tidak kuatnya pejuku sering tercecer dan kena mama. Entah itu di kaki beliau, tangannya, pantatnya, bahkan kalau lagi beruntung bisa nyembur sampai iket rambut mama. Mama sih biasanya cuek aja, palingan mama hanya senyum sambil geleng-geleng saja melihatku sambil beliau kembali melanjutkan kegiatan make up-nya. Mama pun akhirnya semakin sering aku pejuin, dan mama pun tidak pernah menolaknya! Karena dia bilang itu tandanya wanita itu masih cantik dan menarik jika sampai ada anak muda yang rela meluangkan waktunya hanya untuk mengocok-ngocok tititnya di depan wanita tersebut. Ahhh mamahku emang gemesin banget!

Walaupun mama terbilang seorang Janda kaya, namun anehnya mama tidak ada niat sekalipun untuk menikah lagi. Bukan berarti tidak ada lelaki yang mencoba mendekati mamaku, tapi Mama sendiri yang bilang dia hanya ingin fokus dengan karirnya sambil mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya padaku. Mama sendiri pernah bilang dia sudah cukup puas dengan memiliki “pemuja” sendiri di rumah. Hanya dengan membuat kontolku memberi hormat padanya, mamaku sudah langsung merasa cantik, awet muda, dan bahagia.

Tidak jarang juga mama sering memintaku untuk mejuin beliau kalau mama lagi ngerasa bete. Pernah tuh sewaktu mama punya masalah dengan nasabahnya di kantor, mama meneleponku sekitar jam makan siang dan menyuruhku untuk berkunjung ke kantornya. Aku pun bolos dari kelasku dengan alasan kalau mamaku sedang tidak enak badan. Sewaktu sampai di kantor mama, aku diajak mama ke sebuah ruangan yang cukup sepi. Lalu di situ mama mulai curhat masalah pekerjaan mama sambil ngocokin pelerku. Seakan-akan pelerku ini adalah pendengar terbaik untuk menampung segala keluh kesah wanita. Anehnya, suara curhatan mama yang seperti suara orang yang sedang mengiba belas kasihan itu, sukses juga membuat pelerku merasa empati bahkan sampai terharu dan menangis. Entah kenapa setelah aku mejuin mama yang lagi curhat, mood mama bisa langsung berubah dengan drastis! Beliau biasanya akan mengatakan kalimat-kalimat seperti “aduuuhhh… makasih ya sayang udah mejuin mama, mama seneng banget dan langsung ngerasa cantik lagi.”, atau “ahhh lagi bete gini aja ternyata masih bisa nafsuin, duuhhh orang cantik emang gak boleh sedih ya sayang”.

Aktivitas cabul seperti ini terkadang sudah seperti ritual pelepasan bagi kami. Sering juga jika aku sudah pulang ke rumah dan sedang bad mood akibat punya masalah di sekolah, aku suka menghampiri mama dan langsung menggesek-gesekkan penisku di pantatnya seakan-akan aku sedang menyetubuhinya. Mamaku yang penuh dengan sifat keibuan itu biasanya sangat pengertian kalau sudah melihatku bermuka kayak orang yang lagi ngambek gitu sampai-sampai langsung main tubruk pantatnya. Beliau yang melihatku sedang galau itu biasanya mama akan langsung menaikkan roknya, menggeser kancutnya ke samping, menatapku dengan penuh iba sambil membelai-belai pipiku dan menenangkan emosiku. Beliau biasanya akan mencoba menyemangatiku seperti “cup, cup, cup… kenapa sih nak? Ada masalah yah sayang? Sabar yah sayangnya mama… jangan cemberut gitu ya nak, sini sini gesek-gesekin aja masalah kamu itu ke memek mama sayang… iyah, jangan cemberut lagi yah jagoannya mamah…”.

Mama memang memiliki sifat keibuan sekaligus bisa binal secara bersamaan. Hal itu juga lah yang membuatku sering khilaf dan sampai suatu hari akhirnya secara tidak sengaja malah kelepasan ngentotin mama. Mamaku yang sudah terlanjur aku entoti pun akhirnya hanya bisa pasrah dan malah menikmati kecelakaan yang binal ini. Untungnya sih mamaku masih KB, sehingga aku tidak perlu khawatir jika keasyikan genjotin mama. Semenjak saat itu aku pun semakin bebas untuk menyetubuhi mamaku kapan pun aku suka. Mama sih berpesan, pokoknya rahasia ini jangan sampai terbongkar cukup hanya kami saja yang tahu. Ahhh senangnya punya mama cantik yang bisa dicabuli setiap hari.

Akibat peningkatan kebebasan ini, pernah suatu ketika di hari libur, kerjaku hanya mengentoti mama saja seharian penuh. Mama yang sedang asyik bermalasan-malasan di depan TV, biasanya hanya rebahan cantik saja, makan pop corn sambil mengangkangkan satu kakinya. Sementara aku yang dibelakang mama hanya menancapkan pelerku di memeknya sambil kami berdua bersenda gurau mengomentari acara di TV. Mulai dari siaran berita, infotaimen, bahkan sampai iklan pun kami bicarakan sambil kontolku menggesek-gesek lembut kehangatan memek mama dari belakang. Uhhh romantis sekali bukan? Keromantisan yang cabul ini lah yang nantinya membuat mamaku semakin ketagihan, semakin binal dan akhirnya mencoba petualangan yang semakin seru.

Mama memang tergolong wanita karir sukses sehingga memiliki teman-teman dekat yang cukup berkelas. Mulai dari Dokter, PNS, Pramugari, Presenter, bahkan sampai Ustadzah. Mereka semua kebetulan dipertemukan dan dipersatukan karena memiliki nasib yang sama, yaitu sama-sama Janda beranak satu. Mungkin karena kesamaan nasib ini lah yang membuat mereka akhirnya membuat semacam perkumpulan Arisan tante-tante eksklusif untuk menguatkan ikatan batin persahabatan sesama Janda di antara mereka. Seiring berjalannya waktu, perkumpulan arisan para wanita-wanita janda ini sudah seperti keluarga kedua bagi mereka. Aku sendiri pun sudah dianggap seperti anak sendiri oleh tante-tante tersebut. Namun di antara geng mama, hanya Tante Lucy yang punya anak laki-laki yang kebetulan umurnya sebaya denganku. Ya, namanya adalah Leon. Sejak saat itu lah aku jadi punya teman bermain dan sahabat baru di luar teman-teman dari sekolahku. Tidak jarang aku dan Leon sering bermain dan menginap di rumah masing-masing. Mulai dari bermain game online, bahkan sampai berbagi film bokep. Keakraban kami berdua, kadang sudah seperti biji peler yang sulit dipisahkan! Kalau anak-anak dari geng mama yang lainnya sih anak perempuan semua. Ada yang masih sebaya denganku, tapi ada juga yang sudah kuliah. Aku dan Leon hanya sekali-sekali saja bertemu dengan mereka. Mereka adalah Dewi, Rosa, Kak Laras, dan Kak Nisa.

Rasa kekeluargaan di antara geng mama itu memang sangat kental sekali. Bahkan tante-tanteku yang kece-kece itu sering menggoda aku dan Leon untuk dijodoh-jodohkan dengan putri-putri mereka. Aku dan Leon hanya cengengesan saja ditawari seperti itu. Bagaimana tidak? Mama-mama mereka saja sudah cantik-cantik dan bohay-bohay, apalagi anak-anaknya! Ah kita mah mana nolak sih tante, orang mama-mamanya aja udah ngegemesin! Uuhhh, kadang aku tuh suka coli juga sambil mikirin tante-tanteku yang semok itu. Mamaku tentu saja tau dengan kelakuanku ini. Karena tidak jarang ketika aku lagi mesum-mesum asyik sama mama, aku suka membicarakan temen-temen mama itu. Mamaku sih hanya tertawa gemas saja kalau aku cerita tentang khayalanku sama mama. Aku sering mengatakan seperti “Mah, enak kali yah kalau gesek-gesekin kontolku di muka Tante Nita kalau tante Nita lagi bawain acara berita di TV gitu?” atau seperti “Aduh mah, gimana rasanya yah ngedoggy Ummi Ijah sambil si ummi masih pakai gamis gitu yah? Ah, pasti rasanya serasa di ambang pintu surga kali yah mah?”. Mama yang mendengarkan celoteh ngawurku itu biasanya hanya tertawa geli saja sambil menjawil hidungku.

“Iiihhh… kamu tuh yah, udah ada mamah juga buat dinakalin sama kamu, ehhh kamu malah masih kepengen make temen-temen mamah! Kontolnya kamu nakal banget siiih sayang? Uuuhhh mama cubit nih… Hihihihi…”. Aku biasanya hanya bisa cengengesan saja sambil lanjut entotin mamaku dengan gemas. Namun dasarnya Ibu-Ibu, mulutnya emang kadang suka ember! Sampai akhirnya aku tahu kalau mama ternyata suka cerita-cerita khayalanku sama mereka. Seperti waktu itu, ketika Tante Nita sama Tante Lucy bertamu untuk ngerumpi di rumahku, aku cukup terganggu dengan suara ketawa-ketawi mereka di lantai bawah. Sewaktu aku mencoba menguping apa yang mereka bicarakan, aku dengar mama bilang kayak gini “Iyah! Beneran! Tauk nggak sih Jeung, anakku tuh udah terobsesi banget loh sama kamu! Hihihi… apalagi kayak waktu itu, eh, eh, eh, tau gak? Masak dia katanya waktu itu pengen banget psssttt… psssttt… pssttt… pas kamu lagi bawain berita gitu say? Hihihihi”.

Tapi anehnya respon Tante Nita membuatku cukup kaget “Yah ampuuunnn jeung Winda… masak sih say? Duuuhhh senengnya udah bisa bikin horny brondong! Berarti aku masih cantik dong yah?! Ahahahahah… terus terus terus dia habis itu ngapain lagi jeung?” Lalu tiba-tiba suasana menjadi hening. Nampaknya mama bisik-bisik sama mereka. Setelah itu terdengar suara tertawa yang cukup keras dari mereka bertiga. “Ahahahahahah…. seriusan jeung? Ya ampunnn dia sampai segitunya say? Ya ampun… masak sih? Ahahahah”. Aku mengenali suara itu! Ya itu suara Tante Lucy yang berbicara. Lalu setelah itu suasana kembali hening, dan terdengar lagi suara seperti orang yang bisik-bisik.

“Ahahahahahahah… Seriusan say??? Ya ampun? Seriusan dia sampai kayak gitu jeung?? Ke TV??? Terus… Iyah?… Masak sih? Haaahhh??? Itunya beneran pas diarahin ke muka aku??? Aaahhhh… Beneran??? Ahahahahah… iiihhh… jeung Windaaa… maaauuuu!!! Kok gak bilang-bilang sih dari dulu jeung?! Ahhh jeung Winda jahaattt”. Sial! Aku yakin Mama pasti cerita waktu aku coli lalu mejuin muka Tante Nita di TV! Ahhh mamah mah! Kan aku jadi malu mah! Namun di hari itu juga mama memanggilku dari dari lantai bawah. “Sayang, sini bentar deh… ada yang mau mama bilangin ke kamu”. Waduh, mama pasti mau bikin aku tambah malu nih pikirku. Tapi karena aku sudah merasa kepalang tanggung, akhirnya aku putuskan turun ke bawah dan bergabung bersama mereka. Terlihat ketiga wanita yang anggun itu duduk berjejer di sofa panjang dan penampilan mereka bak tante-tante sosialita kelas atas.

“I… iyah, ke, ke… kenapa mah?”

“Naaah, nih dia nih jeung yang katanya ngebet banget pengen mejuin muka kamu say. Hihihihi…”. Aku yang kaget mendengar mama langsung berkata seperti itu ke tante Nita, lalu tertunduk malu di hadapan mereka semua. Tante Nita pun menatap dan menyahutiku “Kamu seriusan Dave kamu sange ngelihatin tante siaran sampai rela mejuin TV gitu? Ya ampun sayang… Hihihihih”. Aku yang ditembak dengan pertanyaan seperti itu hanya bisa cengengesan sambil garuk-garuk kepala dan goyang-goyangkan badan tapi tidak berani melihat mereka.

“Yah ampun jeung Winda, aku kirain tuh cuma si Leon aja loh yang suka nakal-nakalan kayak gini. Ternyata si Dave juga diem-diem suka nakalin mamanya sendiri juga yah? Hihihihih” Mendengar Tante Lucy berkata seperti itu, sontak aku seperti tersambar geledek dan langsung menatap beliau dengan terheran-heran. “Hah? Se, se, seriusan tant? Ja, ja, jadi Le, Leon juga suka kayak gitu sama Tante?” Kataku terbata-bata.

Lalu Tante Lucy malah bilang gini ke mama “Win, ya udah sih kasih tau aja sih win… gak usah ditutup-tutupin lagi… kasian atuh si Dave… malah gak kebagian… hahahah”. Mama pun tertawa-tawa geli sambil menutup mulutnya dengan cara yang anggun sambil tangannya yang sstunya menyodorkan HP-nya kepadaku. “Hihihih… nih coba deh kamu lihat sendiri kelakuan temenmu itu… hihihih”. Aku yang masih terheran itu lalu menerima HP mama untuk melihat apa isinya. Dan ternyata,… astagaaa!!! Aku melihat foto wajah mama yang sedang tersenyum manis berlumuran peju di atas layar HP seseorang! Setelah aku perhatikan, ya ampun ini kan HP-nya si Leon! Terus pose foto mama yang lagi dipejuin ini kan dari story IG-nya si mama?! Leon sampai rela ngepejuin foto mamaku terus gambar hasil ngepejuinya dikirimin ke HP mama? Arrrggghhh… kok mama gak pernah ceritain ini ke aku?

Mulutku hanya bisa menganga sambil melihat gambar wajah mama yang blepotan peju di layar HP itu. Wajahku terlihat tidak terima melihat mamaku diginiin. Parahnya lagi, mama merahasiakan ini dariku! Uhhh aku cemburu, kesel, tapi… tiba-tiba Tante Lucy bilang “iiihhh jeung Winda tega ih, kasian tau si Dave lihat foto mamanya dipejuin temennya… hihihih”. Sialan, aku yang mendengar Tante Lucy berkata seperti itu jadi membuatku gelisah sendiri. Tak terasa, kontolku pun mulai demo! Ahhh Leon… bangsat!

“Eh, eh, eh, kayaknya ada yang gelisah tuh jeung lihat foto IG mamanya dipejuin sama anak temennya sendiri! Hahahahah…” Tante Nita kini malah ikutan meledekku. Aaahhh sialan! Aku semakin salah tingkah dibuatnya. Mereka bertiga yang ada di hadapanku kini malah kompak menertawakanku. Aku yang sedang dilanda cemburu, sange tapi ngambek itu pun akhirnya menatap tajam ke arah mereka. Nafasku memburu, tanganku gemetar, lalu dengan pikiran nekat dan di luar dugaan mereka, Aku turunkan dengan paksa celana pendekku! Melihat itu, mereka bertiga sontak memasang wajah kaget sampai-sampai mulut mereka bertiga menganga menatap ke arah kontolku.

Aku masih mengingat dengan jelas kejadian sewaktu bersama Mama, Tante Nita dan Tante Lucy yang sedang asyik ngerumpi di ruang keluarga kami waktu itu. Di saat aku akhirnya menemukan fakta bahwa ada “sesuatu” yang mereka sembunyikan secara diam-diam selama ini dariku. Termasuk ulah si Leon yang sudah dengan begitu lancangnya mengirimkan mamaku foto IG mama yang bergelimangan peju di layar HP-nya si Leon brengsek itu.

Kejadian waktu itu cukup berkesan bagiku, sehingga aku kadang masih sulit untuk melupakannya.

“Tuh kaaan, elo sih Win, dia jadi ngambek kan tuh sama kita-kita”. Tante Nita pun dengan memasang muka seperti wajah yang bersalah ke mamaku, tapi tatapan matanya malah sambil melirik ke arahku. Sepintas aku lihat wajah tante Nita yang agak cemberut mingkem itu, terlihat seperti orang yang sedang menahan tawa padaku.

“Iiihh, apa sih Nit, kan kalian juga tadi yang mancing-mancing atuh jeung. Rasain tuh anak gue jadi ngambek kan! Pokoknya aku gak mau tanggung jawab loh kalau anakku sampai ngambek gitu gara-gara kerjaan kalian. Uhhh… maafin kita-kita ya sayang?”. Mama pun terlihat seolah-olah membelaku. Lalu menatapku dengan tatapan penuh iba sambil memanyunkan bibirnya.

Aku yang kini sudah mengacungkan kontol tegakku ke arah mereka cuma membalas dengan memasang muka yang sedikit jutek. Walaupun aku menyikapi mereka dengan wajah ngambek, namun Kontolku anehnya malah manggut-manggut menjawab pertanyaan mereka.

“Ya udah sih jeung, tinggal minta maaf ini. Masak sih gara-gara si Leon cuma ketahuan mejuin foto kamu doang, terus si Dave gak dikasih apa-apa sih sama kita-kita. Gimana sih jeung, kan kita katanya udah “Bestie”, malahan udah kayak keluarga sendiri. Ya elah buka-bukaan aja sih jeung. Biarin aja sih si Dave tahu apa yang udah kita lakuin selama ini. Slurrrppp…”. Tante Lucy yang mencoba bernegosiasi dengan mama dan aku itu, terlihat mulai menenggak Tehnya yang sedari tadi dipegang oleh jari lentik beliau sewaktu beliau ikutan bergosip ria membicarakan ulah nakalku.

“Ih, lagian sih jeung Winda juga gak bilang-bilang sih ke aku kalau si Dave tuh suka ngaceng nontonin aku kalau lagi siaran gitu. Aku kan juga butuh evaluasi sama penampilan aku say! Lagian wanita normal mana sih yang gak bangga kalau penampilannya ternyata bisa bikin cowok ngaceng? Pffftttt…”. Asap rokok yang mengepul dari bibir seksi milik tante Nita itu seakan mewakili gairahku yang ikut melayang-layang melihat paras kecantikan dan keanggunan dari presenter TV swasta itu. Tante Nita yang sedang duduk menyilangkan kaki sambil memegang rokok di jari lantiknya itu pun cukup sukses membuat kontolku mengangguk kagum dengan opininya.

“Ya udah, terus maunya gimana nih say? Mau ngelakuin itu sekarang? Tapi aku gak ikutan yah? Gak mungkin kan kalau aku ikutan sekarang. Dandanan aku aja masih kayak gini. Malu ah, pakai lipstik aja belum!”. Mama pun mengatakan itu sambil mengeluh manja ke tante Nita. Namun aku cukup bingung dengan bahasa isyarat mereka. ‘Melakukan itu sekarang?’, ‘Pakai lipstik dulu?’, waduh, maksudnya apa nih? Apakah… jangan-jangan…

Belum selesai aku menganalisa pembicaraan mereka, terlihat Tante Lucy yang masih memegang cangkir tehnya sedikit tertawa menatapku yang sedang terbengong-bengong mendengar percakapan mereka. Beliau pun lalu menahan suara tawa mulutnya dengan punggung tangannya yang mulus itu. Sehingga suara gemerincing gelang emasnya tante Lucy itu sempat terdengar olehku. Setelah beliau melepaskan tangannya dari mulutnya, beliau pun melirik-lirik ke arah tante Nita, sambil bersuara “psssttt… psssttt”.

Tante Nita pun menoleh karena mendengarkan bisikin tante Lucy. Tante Lucy pun menoleh sebentar padaku sambil tersenyum simpul. Senyuman bibir tante Lucy yang berwarna agak coklat glossy itu pun lalu dimonyong-monyongkan ke arahku, tepat ke arah posisiku yang sedang berdiri sambil ngaceng memandangi mereka dari seberang meja.

Tante Nita yang melihat dan mengikuti arah kemonyongan bibir tante Lucy itu pun langsung membuatnya kaget dan tertawa. “Ahahahahahah… ya ampuuun jeung Lucy! Iiihhh… beneran ngiler loh! Terus gimana dong nih? Mau suit sekarang aja? Hihihihi…”. Aku cukup kaget mendengar tawa mendadak dari tante Nita itu. Ngiler? Apanya yang ngiler? Setelah aku perhatikan kedua tatapan mereka, astaga!!! Ternyata mereka melihat lelehan lendir pelumas dari kontolku yang sudah sampai menetes-netes ke arah lantai!

“Iiihhh… udah sih ah, jangan digodain terus anakku! Udah tau dia itu lagi ngambek sama kita sampai itunya ikut-ikutan nangis gitu tuh! Ya ampun deh ihhh…”. Mama yang merasa iba melihat aku yang lagi dalam kondisi ngambek tapi malah digodain sama temen-temennya mamah, membuat mama pun langsung bergegas berdiri dari sofa dan berjalan ke arah seberang meja untuk menghampiriku. Setelah melihatku dengan tatapan iba penuh perhatian dan kasih sayang, mama lalu mengelus-ngelus pipiku.

“Iyah sayang… maafin temen-temen mamah yah sayang? Mereka sama sekali gak bermaksud untuk buat kamu marah kok sayang. Maafin mama juga yah sayang, udah bikin kamu malah jadi ngambek gini gara-gara mama ngasih tau foto kiriman Leon tadi. Kamu nggak usah khawatir gitu dong sayang, nanti mama akan ceritain semuanya ke kamu kok, nyeritain kenapa Leon sampai ngirim-ngirimin fotonya mama yang digituin sama si Leon temen kamu. Kamu jangan marah sama mamah yah sayang, Cintanya mama kan cuma buat kamu sayang. Kamu masih jagoannya mamah kan? Duuuhhh… jangan sedih dan tegang gitu lagi yah sayang?” Mama pun mengatakan itu sambil tersenyum penuh keibuan dan mengelus-elus pipiku dengan lembut.

Aku yang menatap mama dengan emosi yang mulai mereda itu pun, mencoba berusaha untuk tidak tersenyum. Aku mau sok-sok jual mahal. Mama yang melihat gelagat emosiku yang sudah mulai agak menurun itu pun, membuat mama semakin tersenyum lega sambil menatap bola mataku.

Lalu mama dengan sedikit membenahi dan menepuk-nepuk rok daster panjangnya di bagian lutut, mama lalu secara perlahan-lahan berlutut di depanku. Sambil mulai berlutut, mama menatapku dan tersenyum penuh kasih sayang. Setelah pipi mama digesek-gesek dan dielus-eluskan di samping kontolku, mama pun lalu mulai menggulung dan mengikat rambutnya di sana.

Selama mama menggulung dan mengikat rambutnya tepat di depan kontolku yang masih ngiler, mama pun tersenyum mingkem memandangiku. Lalu setelah itu mama memanyunkan bibirnya di depan kontolku dan dengan ucapan penuh nada kasih sayang, mama bilang “mama kalau ngeliatin kamu dari sini, keliatan makin cantik gak sayang?”. Aaahhh, kontolku pun langsung mengangguk-angguk dan sedikit ngiler menjawab pertanyaan mamaku yang anggun itu. Melihat malah kontolku yang mengangguk menjawab beliau, mama pun langsung tersenyum menahan tawa sambil memandangku. Lalu mama perlahan memalingkan bola matanya ke arah samping, tersenyum nakal, sambil sedikit menggigit bibir bawahnya. Lalu dengan nada yang sedikit manja, beliau berkata “Iiihhh makasih loh sayang atas kejujuran kamu sama mamah. Hihihih… mama seneng deh kalau lagi ditanya cantik apa nggak, eh dijawabnya langsung nganggukin kontol gitu! Hihihih… mama kayak lagi ngerasa digombalin ah. Hihihihi”.

“Ciiieee… ada yang lagi pengen cantik sendirian nih! Hihihihi…”. Tiba-tiba tante Nita menyahut karena melihat mama yang lagi happy ditodongin kontol ngangguk-ngangguk pas di depan wajahnya.

Mama yang mendengar sindiran tante Nita pun cuma tersenyum sambil bilang “Iiihhh… apaan sih jeung, bukannya ikutan bantuin, malah nyindir lagi! iiihhh… sirik aja deh liatin mama orang lagi digombalin sama kontol! hihihihi”. Mama yang membalas ucapan tante Nita itu pun kembali tersenyum manis menatapku.

Tapi tante Lucy yang mendengar ucapan mama, malah tersenyum menganga memandangi raut wajahku. Setelah tante Lucy melihat lendir pelumasku yang menetes-netes ke lantai, beliau malah bilang gini sama mama “Iiihhh… itunya bawain ke sini aja napa sih jeung, mubazir tauk sampai ngeces gitu ke lantai. Hihihihi… Lagian, teh buatan kamu ini kok kayaknya kurang berasa gitu yah? Kayaknya perlu,… kayaknya perlu dikasih semacam krim penyedap rasa gitu deh say! hihihihi…”.

Aaahhh aku pun malah semakin merinding setelah mendengar ucapan tante Lucy itu. Apa lendir kontolku itu maksudnya mau dijadiin semacam penyedap rasa buat tehnya gitu? Waduh mamen, membayangkannya saja sukses membuat kontolku mengangguk-angguk lagi di depan wajah mama yang sedang berlutut itu. Mama pun hanya senyum-senyum saja memandangi wajahku dari bawah sana.

Lalu mama dengan tersenyum keibuan, perlahan memegang kedua pahaku dan mulai mengelus-elus kedua pahaku itu. Lalu secara lembut dan lemah gemulai, mama menyentuhkan kuku-kuku panjangnya yang berwarna merah maroon berkilau itu. Mama yang sedang asyik berlutut sambil menggaruk pelan kedua pahaku itu pun, mulai tersenyum manja sambil menggesek-geseki pipi beliau di sepanjang batang kontolku. Aaahhh… mama belajar dari mana sih kayak gini?!

Belum selesai aku berbicara dalam hatiku, mama malah bilang “Sayang, kamu mau gak traktir teh spesial buat mamanya Leon sayang? hihihihi… kamu mau gak sayang? Mau yah?”. Ahhh… kontolku pun lagi-lagi langsung mengangguk setuju dengan cepat tepat langsung di muka mamaku!

Mama yang merasakan denyutan kontolku di pipinya yang mulus lembut itu, kemudian tersenyum padaku dan perlahan bangkit dari posisi berlututnya. Setelah mama berdiri tepat di hadapanku, mama memandangi wajahku sebentar dengan senyum penuh keteduhan sambil beliau perlahan membenahi dan merapikan kembali roknya yang panjang itu.

Setelah mama merasa cukup rapi, mama kemudian menggenggam kontolku dengan pelan dan menariknya secara perlahan sambil membawaku berjalan ke arah tante Lucy yang memandangku dengan senyuman nakal sambil sesekali menyeruput tehnya dari cangkir itu.

“Iiihhh… aku gak ditraktir nih jeung?” Tante Nita malah melirik nakal padaku sambil bilang “Aku padahal udah dandan kayak mau lagi siaran di TV loh ini. Hihihi…”. Aku pun melihat tante Nita perlahan-lahan merapatkan duduknya ke samping tante Lucy. Tante Nita pun lalu menghisap rokoknya dengan cara yang begitu anggun namun terkesan sedikit angkuh. Tante Nita yang memangdangiku pun perlahan menghembuskan asapnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aiiihhh tantehhh.

“Iiihhh… kalian berdua tuh yah, emang paling gak bisa deh kalau liat kontol brondong ngaceng dikit! Pasti bawaannya pengen kecentilan minta digombalin! Hihihi… udah ah sini buruan rapetin muka kalian berdua ke sini, mubazir tauk nih jagoan kita udah ngiler terus liat kalian dari tadi. Hihihi…”. Mama pun berkata begitu sambil mengarahkan kontolku ke wajah tante Lucy. Setelah itu, mama mengoleskan lendir kontolku ke permukaan cangkir teh tante Lucy. Tante Lucy pun hanya tersenyum menatapku sambil menggigit bibir bawahnya.

Mama pun secara lemah lembut dengan aura keibuan, perlahan sedikit memeras lelehan lendir kontolku dan menetes-neteskan iler kontolku ke dalam cangkir teh tante Lucy. Tante Lucy yang melihat adegan nakal itu pun menatapku dengan senyum manyun sambil tangannya yang bergelang emas itu diangkat dan diarahkan membelai-belai lembut pipiku.

Mama yang sidikit tertawa melihat aksi tante Lucy itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil lanjut mengolesi sisa-sisa iler kontolku ke dalam cangkir teh tante Lucy. Tidak sampai situ, Mama pun dengan isengnya, mengarahkan palkonku tepat di jejak bibir tante Lucy yang membekas di cangkir tehnya itu. Aiiihhh mamah, belajar dari mana sih godain kayak gini? Oh, ini kah rasanya kenikmatan tea party mamah?… Kontolku pun dibuat giting sendiri melihat ulah mamaku ini.

“Ya ampun, artistik banget sih kalian ini… iiihhh mauuu… jadi pengen dilukis sama itu…” Tante Nita yang lagi manja itu pun perlahan merapatkan wajahnya ke pipi tante Lucy. Lalu sambil memasang muka manyun, menatapku penuh harap dari posisi duduknya. Tidak sampai di situ, lidahnya pun lalu dikeluarkan dan menari-nari di pinggiran sudut bibir tante Lucy yang berkilau itu. Sementara tante Lucy yang menadahi cangkir tehnya itu tersenyum gemas memandangku.

Mama yang melihat jilatan tante Nita di samping bibir tante Lucy itu pun, langsung tertawa sambil sedikit meremas kontolku “Hahahahah… iiihhh… sabar atuh jeung, jangan digas. Awas nanti kamu kecipratan loh, emangnya kamu mau harus benerin maskara lagi? Hihihi… inget, hasil Salon loh itu! Hihihihi…”. Mereka bertiga pun tiba-tiba tertawa secara bersamaan.

Tante Nita pun lalu menyahut “Hahahah… iiihhh kapan lagi atuh jeung digombalin sama kontol kayak gini? Hihihih… ini dia kan jagoannya mamah Winda, jagoan yang udah rela dan baik hati sampai mau mejuin aku lagi siaran di TV. Hihihih… Ih, ih, ih, ih, tuh liat deh, langsung ngangguk-nganguk gitu!!! Iiihhh jagoannya lucu banget gak sih?! Uhhh gemesin tauk… jadi pengen nyicipin!”.

Setelah tante Nita berkata seperti itu mereka bertiga pun kembali tertawa sambil sesekali melirik-lirik ke mukaku yang udah mupeng berat. Tante Lucy pun tiba-tiba mengeluh sambil mengelus-elus pelan pipiku “Ahhh… tauk gak sih Win, jeung Nita, tau gini tadi mending aku mampir ke butik Ummi Ijah dulu aja tadi. Huuu… aku kan lagi kepengen banget tauk nyobain gamis hitam import yang lagi dijual di butiknya yang dipajang di IG-nya itu. Penasaran deh, apa iyah aku masih bisa bikin konak ABG kalau ngeliat aku make gamis kayak si Ummi Ijah itu? Hihihihih…”.

Tante Nita pun menyahut “Hihihihih… iiihhh dasar mamah-mamah ganjen deh! Itu kan modelnya agak-agak ketat gitu say, ya pasti tetep ngonakin atuh jeung! Hihihih… eh, eh, eh, tauk gak? Tuh gamis barunya si Ijah yah, kalau jeung Lucy paduin sama Heels-nya si Gina yang dipakai waktu landing di Paris itu, iiihhh gilakkk itu kan tumitnya tinggi banget loh say! Cocok banget tauk buat nunggingin pantat kita! Apalagi jeung Lucy kan sukanya pake rok-rok panjang ketat yang modelnya kayak yang lagi dipakai jeung Lucy ini! Duuuhhh itu Heels-nya yah, pasti ngebantu banget buat ‘nonggengin’ kita say! Hahahah…”.

Wah sialan, sempat-sempatnya mereka malah ngerumpi dan tertawa-tawa di depan kontol yang lagi ngaceng gini. Seakan-akan wajah cantik mereka ini sudah biasa ditodongin kontol! Uuuhhh, menggemaskan! Bikin makin ngiler kontolku aja!

Lalu mama pun ikutan menimpali obrolan mereka “Iiihhh jeung Nita mah, Heels-nya si Gina yang itu sih cocoknya sama model rok span pendek gitu deh kayaknya. Makanya si Gina tuh kelihatan cocok banget makenya. Kan seragam Pramugarinya aja kan model-model yang make rok span pendek gitu say!” Mama yang mulai ikut menimpali rumpian mereka pun perlahan melepaskan genggamannya pada kontolku. Beliau pun menatapku sambil bilang “Iya kan sayang? Kamu suka kan kalau lihat rok span kayak yang biasa mama pake ke kantor?”. Kontolku pun dengan lugunya langsung mengangguk-angguk menjawab pertanyaan mama.

Sontak mereka yang melihat anggukan kejujuran atas jawaban kontolku, sukses membuat mereka tertawa dengan gemas! “Hahahahah… iya juga yah jeung, kontol berjiwa muda tuh emang paling jujur dan idealis! Gak selalu harus disogokin memek dulu baru mau membela kebenaran! Hahahah…”. Tante Lucy yang mendengar ucapan tante Nita itu pun tertawa mingkem sambil mengarahkan tangannya yang bergelang emas itu perlahan-lahan ke bawah dan mengelus-elus biji pelerku.

Sementara tangan tante Nita yang nganggur, tiba-tiba memegang pergelangan tangan mama, dan menarik beliau mendekatkan telinga mama ke bibirnya. Tante Nita pun mulai membisik-bisikkan sesuatu pada mamaku.

Mama pun jadi terlihat menungging, akibat berdiri sambil mendengarkan bisikan dari tante Nita. Pantat nonggeng mama di balik daster rumahan yang panjang roknya sampai semata kaki itu pun, terlihat semakin menggoda mataku. Pemandangan ini pun membuatku sekilas berpikiran untuk menaikkan rok panjang mama sampai pinggangnya, lalu mengentoti mama secara doggy tepat di depan teman-temannya.

Ahhh… tapi mataku pun menjadi bingung mau fokus ke mana dulu? Mau lihat pantat nonggeng mamaku yang bohay, atau melihat wajah tante Nita yang berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum menatapku? Ahhh atau lebih baik memandangi muka tante Lucy yang menatapku sambil mulai mencicipi teh rasa barunya itu? Ahhh mamah… pilihan ini terlalu sulit buatku mamah!

Di saat aku bimbang dengan siksaan pemandangan nikmat yang memanjakan kontolku ini, aku malah mendengar mama cekikikan sambil tetap membelakangiku.

“Hihihihih… seriusan lu Nit? Yakin?”

“Iyah, psssttt.. psssttt… psssttt… hihihihihi… ya kan? Hihihih… pssttt… psssttt… psssttt… iyah, kayak waktu pas kita… pssttt… psssttt… mau gak?… hihihihihih.. psssttt… psssttt…”

Aku tidak terlalu jelas mendengar obrolan mereka. Yang bisa aku lihat hanya tatapan tante Nita yang terus melirikku sambil terus membisiki mama dengan sesuatu. Ah sial, mama sama tante Nita lagi ngomongin apa sih? Kok main rahasia-rahasian segala gini sih?! Uuuhhh… mana kontolku udah tegang banget lagi!

“Pssstttt… psssttt… pssttt… hihihih…”

“Iiihhh… ogah ah! Lu aja Nit! Hihihihi…”

“Iiiihhh jeung Winda, tapi kan seru tauk! Inget gak waktu kita sama psssttt.. psssttt… psssttt…”

“Hah? iiihhh… yang waktu itu? gelo aaahhh… itu mah ribet tau bersihinnya… hihihihi…. oh ya?”

Aku yang penasaran dengan isi pembicaraan mereka hanya bisa konak dan menerka-nerka. Sementara tante Lucy terlihat hanya memandangiku dengan gemas sembari menjilat-jilat membersihkan lelehan teh di samping bibirnya. Aaahhh… mana tahan digodain kayak gini!

“Hihihih… psssttt.. psssttt… psssttt… mau gak?”

“Hahahah… Yakin? Aku gak mau nanggung loh yah! Tapi beresin sendiri yah? Hihihih…”

“Hihihihih… tapi kan kalau ditaro di grup terus… psssttt.. psssttt… psssttt… ya kan?”

“Hahahah… gelooo aaahhh… udah ah, emangnya mau gitu aja? Hihihihih…”

Aku yang sudah tidak sabaran pun akhirnya menepuk pelan pundak mama. Lalu dengan muka yang agak memelas bilang “Mah, lagi ngomongin apaan sih mah? Kok aku gak boleh denger sihhh?”

Mama yang masih menungging itu pun lalu menoleh padaku sambil bilang “Hihihihih… enggak kok sayang, ini nih, tante Nita katanya penasaran banget pengen ngeliatin kamu entotin mamah di depan mereka sayang. Hihihihih”

Jedaaarrr!!! Aku dan kontolku pun terkejut mendengar itu! Bahkan kontolku saking terkejutnya pun mengangguk-angguk terus sampai membuatnya terharu! Cekikikan suara tante Lucy pun samar-samar terdengar di sampingku seiring kontolku yang semakin terharu.

“Se, se, seriusan mah?”

“Yeee seriusan lah sayang. Emangnya Kontol kamu gak mau dimanjain sama memek mamah? Hihihi… Udah ah sini cepetan kamunya sayang, tinggal naikin aja rok mamah.”

Ahhh… mendengar perintah beliau yang begitu seksi dan nakal itu, tiba-tiba membuat kontolku merasa ingin berbakti! Hihihih

Lalu sambil melangkah menghampiri mamahku yang lagi nungging itu, kedua tanganku pun secara perlahan mulai menaikkan rok panjang mamah yang anggun itu sampai ke pinggangnya. Mama yang melihat wajahku dengan muka mupeng dan sange berat itu pun mencoba menahan tawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatapku.

Mama yang bersiap untuk kuentoti itu pun tersenyum mingkem menatapku. Tapi kemudian senyum mama itu perlahan ditutupi oleh punggung telapak tangannya! Aaahhh mamah, mamah mau dientotin aja kok sempet-sempetnya pose gitu sih?

Aku yang sudah dari tadi tidak tahan karena digodain terus mama dan temen-temennya, perlahan mencengkram kuat lekukan rok bagian belakang daster mama yang kini berada pinggang seksinya itu. Aku pun langsung mengarahkan palkonku menuju kelembutan kasih sayang memek mamaku yang keibuan itu. Ahhh…

Plok… plok… plok… plok… plok…

Melihat aku yang mulai menyetubuhi mamaku dengan sedikit gemas, nafas memburu, dan sedikit tergesa-gesa itu, ternyata malah membuat pecah gelak tawa teman-teman mama yang menonton adegan cabul kami itu. Mereka tertawa-tawa menonton kami sambil sesekali menunjuk-nunjuk padaku.

“Hahahah… tuh liat deh jeung Lucy, romantis banget yah kelihatannya anak sama mamanya lagi ‘quality time’ bersama. Dunia serasa milik berdua, yang laen mah ngekos! Hihihihihi… ssshhhppp… pffffttt… Ahahahahah…”.

Plok… plok… plok… plok… plok…

Mama pun sedikit menahan tawa mendengarkan ocehan mereka. Lalu beliau pun menoleh padaku. Sambil tersenyum menganga mama mulai meremasi rambutku dengan lembut, lalu membelai pipiku dengan penuh kasih sayang.

Plok… plok… plok… plok… plok…

Tante Lucy pun sambil memegang cangkir tehnya, menyahut candaan tante Nita sambil tertawa “Hahahaha… yaeyalah jeung, secara cinta kasih sayang seorang bunda kan gak ada duanya di dunia ini. Tuh semua mamah-mamah di dunia ini kan juga pernah dikontolin sama anaknya sewaktu di kandungan! Hihihihih”

Plok… plok… plok… plok… plok…

“Ahahahahah… gelooo deh lo jeung, udah ah mendingan kita selfie-selfie cantik aja yuk, mumpung lagi kece gini! Hihihihih…”. Tante Nita pun lalu mengambil HP-nya dari tas dompetnya, lalu menatap HPnya sambil menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan sambil sesekali membenahi gaya rambutnya itu.

plok… plok… plok… plok… plok…

Aku yang sedang khusyuk ngentotin mama itu pun perlahan memperhatikan tante Nita yang mulai memoles bibirnya dengan Lipstik. Menyadari aku yang sedang memperhatikannya, tante Nita pun melirikku sambil tersenyum namun tetap melanjutkan memoles bibirnya! Uuuhhh tanteee…

Plokplokplokplokplok… plokplokplokplokplok…
Genjotan pada mamaku pun semakin cepat!

Lalu tante Lucy pun memberikan sesuatu pada tante Nita “Kamu cobain Lipgloss aku ini deh jeung, ini bisa bikin bibir kita mengkilap gitu loh… hihihih”.

plokplokplokplokplokplokplokplok…

Mama yang melihatku terlihat semakin bernafsu memandangi teman-temannya itu, mamaku pun dengan isengnya tiba-tiba memasukkan jari telunjuk beliau yang lentik itu ke dalam mulutku. Saat jarinya berada di dalam mulutku, aku pun langsung menjilati dan mengemut jari mamaku. Mama pun lalu menatapku dengan tatapan mengiba, sambil berkata “Iiihhh sayanghhh… ssshhh… liatin mamah… muka mamah ada di sinihhh sayanghhh… anak mamahh ngeliatiiinnn siapaaahhh sihhh? sshhh… temen-temennyah mamah yahhh?… sshhh ohhh…”

Plokplokplokplokplok… plokplokplokplokplok…

“Hihihihih… liat deh jeung, kayaknya ada yang udah gak tahan tuh… hihihih… eh jeung Lucy, sinian dong rapetan dikit, foto berdua yuk! Pake pose imut yah? Hihihihih…”.

*ckreeekkk… *ckreeekkk

plokplokplokplokplokplokplokplok…
plokplokplokplokplokplokplokplok…
plokplokplokplokplokplokplokplok…

Aku pun semakin tidak tahan melihat tingkah mereka. Gila,… sambil ngedoggy mama yang masih berpakaian lengkap gini, terus sambil ngeliatin temen-temen mamah yang malah cuek sambil selfie-selfie sendiri di dekat kami, uuuhhh membuatku makin gregetan! Dengan cengkramanku pada pantat mama yang semakin kuat, aku pun bertanya pada mamah.

“Mahhh… ssshhh…”

Plokplokplokplokplok… plokplokplokplokplok…

“Iyah sayanghhh??… Oohhh…”

Plokplokplokplokplok… plokplokplokplokplok…

“inihhh… ssshhh… dah mauh… ssshhh… udah mauh kkk… udah mau khelhuarhh mahhh… sshhh…”

plokplokplokplokplokplokplokplok!!!…

Mama yang menatapku dengan tatapan iba pun bilang “owh, owh owhhh… sshhh… terusss???… terusss kenapahhh nak? Sshhh…”.

Plokplokplokplokplok… plokplokplokplokplok…

“Mauh dikeluarinhhh… mauh dikheluharinh di manah maahhh??? owhhh… sshhh…”

Plokplokplokplokplok… plokplokplokplokplok…

“Owhhh… bentarhhh… ssshhh… tungguhhh… merekahhh selesaiii… tunggu mereka selesai suiiittt duluuu… aaahhh”

plok… plok… plok… plok… plok…

Aku yang terlalu asyik ngentotin mama sambil memandangi ekspresinya yang menjawabku berdesah terbata-bata, sampai tidak sadar kalau temen-temen mamaku lagi sibuk suit di sampingku.

Plokplokplokplokplok… plokplokplokplokplok…

“Yeeeyyyy!!! Asyiiikkk!!! Aku yang menang!!! Aku yang duluan!!! Hahahah… sorry yah jeung Lucy, hari ini yang jadi Ratunya aku dulu yah say?! Hihihihih…”. Tante Nita yang berteriak kegirangan itu pun mendadak berdiri dan langsung berjalan melangkah ke seberang meja, tepat di tengah-tengah ruang keluarga. Setelah sampai sana, beliau menunjuk ke arahku, lalu memanggilku dengan telunjuknya untuk mendekat ke sana.

Plok… plok… plok… Sllleeeppp…

Aku yang sudah melepaskan kontolku dari kehangatan memek mama yang keibuan itu pun, berjalan menghampiri tante Nita yang sudah berdiri menungguku di tengah ruangan. Setelah aku berhadapan dengan beliau dan melihat ada perubahan warna di bibirnya yang semakin berkilau itu, tiba-tiba aku mendengar…

Cklak… cklak… cklak… cklak… cklak…

Hah? Suara ini… suara ini kan…?! Jangan-jangan…

Di saat aku mengalihkan pandanganku mencari arah suara tersebut, aku langsung menganga melihat Tante Lucy yang berjalan begitu pelan, lembut, dan anggun. Sehingga suara tumit Stiletto hitam mengkilat yang mengintip dari bawah rok panjang ketat beliau itu pun sukses menghipnotis detak kontolku! Beliau yang melihatku hanya bisa terpana oleh keanggunan penampilannya, mensedekahiku dengan senyum genit sambil membawa cangkir tehnya itu. Setelah beliau sampai di samping tante Nita, mereka berdua pun mulai senyum-senyum melihatku.

“Mau di sini aja, Nit?”

“Iyah, di sini aja jeung. Hihihih”

“Huuu.. enak yah yang lagi jadi ratu”

“Biarin ih… sirik aja. Hihihi…”

Tante Nita pun perlahan berlutut di depanku.

“Pegangin tehnya bentar dong Nit”

Setelah tante Nita menerima cangkir teh tante Lucy, beliau pun tersenyum memandangku sambil mulai menyeruput tehnya.

Tante Lucy pun melirikku sambil mulai memegangi rok panjang ketatnya itu. Dengan perlahan dan hati-hati beliau mengambil posisi berjongkok, lalu berlutut dengan sejajar bersama tante Nita.

Tante Nita kemudian menyerahkan kembali cangkir tehnya kepada tante Lucy. Setelah menerimanya, tante Nita kemudian perlahan mengangkat kedua lengannya, lalu mulai menggulung rambutnya.

“Ihhh, mau pamerin anting baru ya?”

“Hihihi… tau ajah.”

“Tapi nanti jangan lupa yah?”

“Iyah, nanti aku bagi kok say. Pokoknya kan aku yang harus ngerasain yang pertama. Lagian jeung Lucy emangnya bawa Hijab cadangan? Hihihih… udah ah jeung, kasian tuh si Dave udah gak tahan. Hihihih… yuk sini sayang, manjain kita!

Bersambung.