Mama Yang Terbaik Part 8 End

0
3721

Kupandangi bayangan diriku di depan cermin besar di ruangan kerjaku. Aiihh…! Betapa cantiknya aku. Mataku indah, bibirku seksi, hidungku menawan, dan pipiku sangat mulus. Kulitku pun putih bersih seperti salju. Ahaaa…! Lihat juga gaunku, sangat indah bukan? Warnanya sangat serasi dengan kulitku, sangat pantas di tubuhku. Aku pun tersenyum, bangga. Kupandangi lagi bayanganku di cermin, lama tapi tak pernah bosan. Di usiaku yang hampir mencapai 40 tahun ini, aku masih terlihat cantik. Dilihat dari sudut manapun aku tetap cantik. Dan, senyumku pun merekah kembali. Seingatku, aku belum pernah tersenyum semanis ini. Hatiku berbunga-bunga. Aku merasa, akulah wanita tercantik sedunia.

Bagaimana tidak aku merasa cantik, nyatanya ada seorang pemuda tampan lagi kaya sedang mengejarku. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka, tidak ada secuil pun menduga hal ini akan terjadi. Seolah apa yang terjadi dalam hidupku ini bagai keajaiban dunia yang membahagiakan, membuatku sadar, bagimanapun aku masih menarik untuk setiap lelaki. Benar aku merasakan betapa mata pemuda tampan itu seakan menghujam dalam hati dan relung kalbuku ini, mencari dan menelusuri lekuk tubuhku, karena aku dianggap sesuatu yang menarik untuknya.

Lamat-lamat kudengar suara langkah kaki dari luar, semakin lama semakin jelas, semakin dekat menuju ruanganku. Dan tak lama berselang, pintu pun terbuka. Rupanya anak buahku yang bernama Tary. Aku tersenyum menyambut kehadirannya. Tapi Tary tidak membalas, melainkan hanya bengong menatapku, tanpa berkedip, seolah tak percaya kalau yang ada di hadapannya adalah aku. Untuk beberapa saat, Tary hanya diam, tidak berkata apa-apa, ia hanya memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki, dengan bibir yang masih terbuka.

“Hei …! Kamu baik-baik saja, kan?” Tanyaku sambil melambai-lambaikan tangan di depan matanya. Tary pun tersadar.

“Astaga! saya sangat terkesima nyonya … Saya hampir tidak bisa mengenali nyonya … Nyonya kelihatan cantik banget …” Puji Tary begitu kesadarannya kembali. Tary terlihat terkesima. Matanya membulat tak percaya.

“Ah, kamu bisa saja …” Kataku tersipu. Tapi sungguh, aku seneng sekali mendengar pujian dari Tary. Aku pun tersenyum, bahagia.

“Beneran nyonya …! Nyonya cantik banget …!” Puji Tary lagi, seolah meyakinkanku, membuat hidungku kembung, dan mataku berbinar. Lagi-lagi aku tersenyum.

“Kayaknya nyonya sudah siap …” Ucap Tary lembut, “Ada seseorang sedang menunggu nyonya di bawah.” Lanjutnya dengan mesam-mesem penuh arti.

“Siapa?” Tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Hi hi hi … Laki-laki yang kemarin nyonya … Temannya Bima …” Ungkap Tary lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri di depan cermin. Aku mengangguk dan tersenyum pada bayanganku sendiri.

Dengan berbalut antusias, aku berjalan menuju lantai satu salon, untuk menemui seseorang yang katanya tengah menungguku. Ternyata benar, kulihat ada seorang pria tengah menikmati lukisan di dinding. Perawakannya lumayan tinggi, beratnya ideal, rambutnya rapi, dan dilihat dari baju yang dikenakan, terlihat sekali seperti seorang pangeran dari sebuah kerajaan. Hatiku sedikit berdebar tak karuan, karena selama ini, belum pernah ada seorang pangeran yang nyasar ke tempatku. Tapi rupanya dia terlalu asyik menikmati lukisan itu, sehingga tidak menyadari kehadiranku.

“Ehm!” Aku beranikan diri untuk mendehem. Seketika dia menoleh ke arahku.

“Eh … Tan…tee…” Ucapnya melambat seperti slow-motion ketika menatapku, tanpa mengedipkan matanya seolah terpana dengan wanita didepannya. Aku pun tersenyum manis kepadanya berusaha memberikan aura sensual agar pria itu semakin terpesona.

“Sudah melototinnya?” Kataku dengan nada menggoda.

“Eh … I-iya … Maaf tante … Ini mata …” Pria itu pun tersadar walau kata-katanya terbata-bata. Namun tetap saja sorot matanya seperti menjadi lebih tajam dan terlihat sekali ada kekaguman di dalamnya. Aku balas tatapannya dengan senyuman menggoda.

“Ada apa dengan matamu? Hi … hi … hi …” Tanyaku dengan suara sensual dan aku terkekeh manja. Tampak sekali olehku kalau pria itu tengah menahan perasaan campur aduk di dadanya.

“A-anu, tante … Mataku melihat bidadari …” Ucapnya lirih dan bergetar.

“Aih … Kamu itu …” Kataku sambil menoel hidungnya yang bangir. Aku pun sedikit terpengaruh ucapannya, sudah sangat lama aku tidak pernah mendengar pujian seperti itu dari seorang laki-laki.

“Sungguh tante … Tante seperti bidadari …” Lirinya lagi.

“Ah, sudahlah … Sekarang kamu mau apa? Dipotong rambut atau …” Ucapanku tidak selesai keburu dipotongnya.

“Aku tidak ingin nyalon … Aku ke sini memang ingin ketemu tante …” Katanya yang sudah kuduga sebelumnya.

“Oh … Begitu … Kalau gitu kita ngobrol di atas aja …” Kataku dan dengan lembut aku pegang tangannya lalu aku ajak pria ini ke ruanganku di lantai dua.

Ricky memang laki-laki yang sangat tampan, menurutku. Dan aku harus mengakui kalau ketampanannya membuatku merasa sedikit diintimidasi. Tetapi aku harus tetap menjaga image di depannya, aku harus menekan sekuat mungkin rasa sukaku. Aku tidak boleh kalah oleh diriku, aku tidak boleh terlihat lemah.

Sesampainya di ruanganku, kami pun duduk di sofa panjang bersebelahan. Aku ajak ngobrol Ricky. Bermula dari obrolan standar, dari topik yang sepele sampai yang berbobot. Sedikit demi sedikit Ricky mulai berani memegang tanganku dan mengelus-elusnya. Terasa juga kata-katanya sudah mengandung rayuan yang sangat ‘manis’ terdengar. Kata-katanya sangat halus, menenangkan semua orang yang mendengarnya. Memang tidak salah kalau dia memiliki predikat sebagai playboy.

“Tante … Aku benar-benar terpesona dengan kecantikan tante … Bolehkah aku menyayangi dan mencintai tante …” Ucap Ricky lalu mencium buku tanganku. Aku pun tersenyum mendengar kata-kata itu.

“Hi hi hi … Terima kasih, kamu mau menyayangi dan mencintai tante … Sebenarnya aku tersanjung dan senang mendengarnya … Tapi aku rasa omongan itu sudah banyak sekali keluar dari mulut kamu untuk cewek-cewek lain …” Kataku mulai mengintimidasinya.

“Ti-tidak tante … Su-sungguh … Aku hanya pada tante …” Ucapnya gagap dan terlihat sekali kalau dia sedang berbohong.

“Hi hi hi … Kamu keliatan sekali kalau sedang berbohong …” Aku terkekeh kecil.

“Tidak tante … Su-sungguh … A-aku serius …!” Ucapnya lagi sembari menciumi tanganku berulang kali.

Aku tarik tanganku yang digenggam pemuda itu secara perlahan sambil menggelengkan kepala dan tersenyum semanis mungkin. Aku berdiri dan berjalan ke arah kulkas kecil yang berada di dekat meja kerjaku. Aku ambil sebotol minuman mineral dari dalam kulkas kemudian meneguknya perlahan. Setelah itu, aku duduk di meja kerja dengan rok yang aku pakai agak diangkat serta posisi paha agak terbuka sehingga pasti onggokan daging di pangkal pahaku yang terbalut celana dalam berwarna putih akan terlihat olehnya.

“Aku perlu bukti …!” Kataku sambil memperhatikan ekspresi wajah Ricky yang sangat kentara sedang menahan gairahnya.

“Bukti? Bukti apa?” Tanya Ricky yang matanya terus mencuri pandang ke arah pahaku.

“Buktikan kalau kamu menyayangi dan mencintai aku …” Kataku dengan membuka sedikit pahaku lagi. Aku tersenyum dalam hati tatkala melihat mata Ricky semakin melebar terarah ke pangkal pahaku.

“Oke tante … Apa yang tante mau akan aku kabulkan …” Ucap laki-laki tampan itu. Ricky berdiri dari duduknya lalu mendekatiku. Tak lama ia telah berdiri persis di depanku di antara kedua pahaku dengan kedua tangannya memegangi pinggulku sehingga aku bisa merasakan kejantananya yang sudah tegang itu menyentuh pangkal pahaku.

“Kamu tidak akan pernah sanggup, sayang …” Suaraku dibuat semanja mungkin. Aku belai mukanya, belaian lembut sehingga ia terdengar mengerang tertahan.

“Katakan!” Desisnya menahan hasrat dan tangannya meremas lembut pinggulku.

“Kau tak akan sanggup!” Kataku sambil mendorong tubuh Ricky agak kuat sehingga ia mundur selangkah. Aku pun segera turun dari meja kerjaku.

“Tante …!” Desahnya terkejut.

“Aku bukan wanita seperti yang kau pikirkan … Wanita yang bisa kau ajak seenaknya … Sekarang pulanglah! Aku harus kerja …!” Kataku penuh penekanan.

“Tapi tante …” Ucapan Ricky langsung aku potong.

“Pulanglah …!” Sekarang aku berkata lirih sambil berlalu dari hadapannya.

Aku pun menuruni anak tangga menuju lantai satu. Tak kusangka salonku cukup ramai oleh beberapa pengunjung. Para pegawaiku pun sangat sibuk melayani mereka. Tak lama aku lihat Ricky turun dari lantai dua. Dia sepertinya ragu mendekatiku karena aku sedang berbincang-bincang dengan salah satu pengunjung salon. Ricky akhirnya duduk di sofa, tak ayal para pengunjung salon pun melirik-liriknya. Setelah beberapa menit berselang, aku mendekati laki-laki tampan itu dan duduk di sebelahnya.

“Kamu pulang dulu … Kalau mau menggodaku lagi, nanti malam aku tunggu di rumah … Sekarang aku sibuk …” Bisikku sambil meletakkan tanganku di pahanya.

“Oh … Baiklah … Nanti malam aku datang ke rumah …” Tiba-tiba wajahnya yang mendung kembali cerah. Aku mengangguk kecil sambil tersenyum.

Ricky pun keluar salon yang aku antar dengan tatapan dari tempatku berdiri. Setelah itu, aku kembali melayani para pelanggan. Aku sangat senang karena di hari pertama salonku ini sudah banyak orang yang datang. Suatu awal yang baik dalam memulai usaha yang aku idam-idamkan ini sejak lama. Aku sangat berharap usahaku akan terus berkembang dan ini akan membuka banyak peluang di masa depan.

###

Bima Pov

Di siang hari bolong matahari sudah lewat di atas, aku parkir mobilku di depan sebuah rumah besar bergaya tradisional Jepang. Setelah turun dari mobil, aku membuka pagar kayu yang tinggi, berjalan masuk ke dalam dan berdiri di depan pintu. Aku tekan tombol bel pintu namun setelah satu menit lebih tak ada respon dari dalam, dan sekali lagi aku tekan untuk yang kedua kalinya, secara perlahan pintu besar itu terbuka. Seorang pembantu rumah tangga adalah orang yang membukakan pintu.

“Eh … Mas Bima … Silahkan mas …” Ujar pembatu rumah tangga yang bernama Nunik agak sedikit terkejut.

“Bulekku ada?” Tanyaku.

“Ada mas … Beliau lagi sedang tidak enak badan … Mungkin sedang tidur di kamarnya.” Jawab Nunik.

“Amankan?” Bisikku pada Nunik dan tentu ia tahu maksudku.

“Aman, mas … Tuan sedang pergi ke luar negeri …” Balas bisiknya.

“Ok … Makasih …” Kataku.

Aku pun masuk ke dalam rumah dan kutemui Bulek Tuti sedang tidur di dalam kamarnya, karena memang ia sedang tidak enak badan. Aku menghampiri wanita yang sedang tidur itu dan berdiri di pinggir tempat tidur. Bulek Tuti tertidur sangat pulas dengan deru nafas yang teratur dan badannya tertutup selimut tebal. Kupandangi wajahnya yang masih tertidur damai. Bulek Tuti memang cantik, tidak ada yang meragukan hal itu. Perlahan aku duduk di pinggir ranjang yang menimbulkan gelombang sehingga tubuhnya sedikit terguncang dan mata itu terbuka.

“Eh … Oh … Kamu …!” Bulek Tuti awalnya terkejut namun tak lama. Ia langsung bangkit dari tidurnya lalu memelukku. “Sudah lama?” Tanyanya dengan suara pelan.

“Baru saja …” Jawabku sambil membalas pelukannya. “Apakah bulek sakit?” Tanyaku.

“Cuma agak gak enak badan …” Sahutnya sembari mengurai pelukannya.

“Hhhhmm … Coba bulek berbaring …!” Pintaku.

“Oh … Iya … Aku sampai lupa kalau kamu seorang dokter …” Ujarnya setengah bercanda dan kubalas dengan senyuman.

Pemeriksaan kesehatan standar pun dilakukan pada tubuh bulek Tuti. Pemeriksaan mata, mulut, detak nadi, dan perut. Memang bulek Tuti sedang terkena demam ringan karena menurunnya sistem kekebalan tubuh. Aku pun tersenyum sambil memandangi wajah cantiknya itu.

“Kok malah senyum?” Tanya bulek Tuti sembari menatapku heran.

“Bulek sudah minum obat demam?” Aku malah balik bertanya.

“Oh … Aku demam toh …? Belum …” Katanya sambil menggelengkan kepala.

“Kalau begitu … Aku akan kasih obat paling mujarab …” Kataku lagi dan tanganku yang berada di perutnya kini bergerak ke atas, menuju gundukan dua gunung kembarnya.

“Ih … Kok … Dasar dokter mesum …” Ucap bulek Tuti yang terdengar protes namun tidak menolak saat payudaranya aku remas-remas lembut. Terasa sekali di tanganku kalau bulekku yang montok ini tidak memakai bra.

“Bulek harus berkeringat supaya demamnya hilang.” Kataku sambil meremas payudaranya yang terasa masih kencang, mungkin karena rajin merawatnya.

Bulek Tuti terdiam, menatapku seperti tak percaya, tetapi semenit kemudian tangannya meraba selangkanganku begitu pelan. Dengan dua tangan aku pun terus meremas dua gunung kembar itu di balik piyamanya. Permainan awal ini cukup membuat adrenalinku bergolak, gairahku bangkit. Hal ini ditunjukkan dengan bangkitnya penisku secara perlahan-lahan dari ketertidurannya. Terlebih kini usapan tangan bulek Tuti berubah menjadi remasan.

Dengan tergesa-gesa aku membuka piyama bulek Tuti dan menarik ke bawah celananya. Ternyata bulek Tuti tidak memakai celana dalam, kini tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Aku menemukan janji kenikmatan di pangkal pahanya dan aku langsung mencumbu janji itu. Menggerakan lidahku di sepanjang daging nikmatnya dan menggoda klitorisnya, menghantarkan gelombang demi gelombang yang menyerbu pusat syarafnya. Tepat sekali, bulek Tuti mulai mengerang-erang ketika lidahku menyerbu dengan gerakan yang semakin berani.

“Aaaahhh … Aaaahhh … Eeennaaakkk … Saayyaannggghh …” Bulek Tuti tidak bisa menahan erangan nikmatnya. Wanita cantik itu terengah-engah ketika lidahku memasukinya, bergerak semakin keras, kekuatan isapan dan jilatan-jilatanku semakin cepat, semuanya mengirimkan sentakan ke seluruh tubunya.

“Sekaaarrraaangg … Saayyaaanngg … Akkhuu merindukannya …!” Erangnya lagi dengan memohon sangat.

Rupanya bulek Tuti menginginkan permainan yang sesungguhnya. Aku pun mengikuti permintaannya. Aku menanggalkan pakaianku sendiri, hingga tidak ada sehelai kain pun yang menutup auratku. Kuposisikan kedua lututku di bawah kedua pahanya yang terangkat. Kepala penisku terarah tepat di mulut liang vaginanya dan kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatannya. Pantat bulek Tuti bergoyang dan menggeliat seolah sudah tidak sabar lagi penisku untuk segera memasukinya. Namun aku terus mempermainkan penisku seperti itu. Bulek Tuti semakin menggelinjang, dan rupanya nafsunya sudah tak tertahankan, sehingga dengan merengek dia berkata sambil terengah-engah …

“Ayo … Saayyaanngghh … masukin … masukin … ouh … masukin …!” Pintanya dengan desahan yang meninggi.

Aku melenguh nikmat saat ujung kejantananku mengecup daging kenyal milik bulek Tuti dan menggesek-gesekannya dengan lembut. Begitu pun bulek Tuti yang terus tanpa henti mendesah saat merasakan sensasi gesekan tersebut. Lalu aku mendorong sehingga kepala penisku masuk terjepit dalam liang kewanitaan bulek Tuti, sedangkan tangan kiriku memeluk pinggul bulek Tuti dan menariknya merapat pada badanku, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penisku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya.

“Emmmph … Aaaahh …” Desah bulek Tuti begitu penisku tertanam seluruhnya di lubang vaginanya. Aku pun mendesis pelan karena terasa diremasnya.

Sebelum aku melakukan pendakian ke puncak kenikmatan, aku merubah posisi dengan kedua tanganku bersangga pada siku-siku tangan. Sambil aku merapatkan tubuhku di atas tubuh bulek Tuti, bibir kami mulai saling mengecup. Awalnya hanya pelan, tapi kemudian semakin liar. Tangan bulek Tuti memelukku erat dengan kedua kaki yang kini menjepit pinggangku untuk memudahkan kami melakukan very deep penetration.

Perlahan aku mulai mengayun batang kejantananku keluar masuk ke vagina bulek Tuti. Entah bagaimana bulek Tuti melakukannya, lubang vaginanya agak keset dan nikmat sekali rasanya. Sementara aku menikmati celah kewanitaan itu, bulek Tuti pun semakin mengeluarkan cairan cinta yang melumasi jalan penisku yang kini sedang menyusuri lorong di dalamnya. Dinding dalam kewanitaan bulek Tuti sudah begitu licin, sehingga agak memudahkan kejantananku untuk melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya.

Batang kejantananku terasa seperti diremas-remas. Masih ditambah lagi dengan jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot kejantananku. Kepalaku mendongak ke atas dengan tetap naik turun, kurasakan jepitan vaginanya sangat ketat, meremas hebat penisku. Aku maju mundurkan penisku, dengan ritme lima kocokan ringan dan sekali deep penetrated.

“Aaahh … Aaahh … Ooohh …” Erangan dan desahan keluar dari mulutnya.

Kurasakan bulek Tuti semakin mengetatkan jepitan vaginanya yang menambah kenikmatan birahi yang tengah menggelora. Peluh pun mengucur deras, membasahi tubuh kami berdua. Aku melumat bibirnya. Suara desahan kami sedikit teredam. Kini hanya bunyi derit ranjang dan suara becek alat kelamin kami yang terdengar. Aku terbuai, semua kenikmatan ini membuatku luap segalanya.

“Ooohh … Aaahh … Lebiihh..ceepaatt.. Saayyaanngghh …!” Pinta bulek Tuti dan aku dapat merasakan kalau dirinya akan segera mencapai puncak.

Tempo hujamanku semakin kuat, semakin liar dan cepat. Aku bahkan tak mampu mengontrol milikku yang menghujam kewanitaan bulek Tuti dengan begitu keras. Lenguhan demi lenguhan terus keluar dari bulek Tuti sampai akhirnya kurasakan tubuhnya mengejang dan bergetar, pelukannya semakin erat di tubuhku.

“Aaaahhh … Aaaaaccchhh …!!!” Erangnya melepas nikmat sembari tangannya meremas kasar rambut kepalaku. Kedua kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak tak terkendali. Begitu hebat puncak birahi melanda bulek Tuti, sampai hampir satu menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda sakit ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya terengah-engah dan terkulai lemas. Melihatnya seperti itu, aku semakin bersemangat menghujamkan senjataku pada dirinya walau kini gerakanku perlahan.

“Sayang … Aku lemesss… Tapi enak … Kamu memang pinter luar bisaaa …” Bulek Tuti bergumam pelan setelah nafasnya kembali normal. Dan akhirnya aku hentikan gerakanku.

“Punya bulek juga enak sekali … Jepitannya kuat …” Pujiku lalu mencium bibirnya sekilas.

“Sudah lama gak dimasukin …” Bisiknya di telingaku.

“Oh … Kalau begitu … Mulai sekarang punya bulek jadi sarang burungku lagi …” Aku membalas bisikannya.

“Sayang … Sayangku … Oh …!” Ucap bulek Tuti sambil terseyum manis. Aku pun membalas senyumannya sembari mata kami beradu pandang kembali, tajam sekali, seolah berusaha untuk saling menangkap rasa birahi yang makin menggejolak di antara kami.

Tiba-tiba bulek Tuti mendorong tubuhku hingga penisku keluar dari vaginanya dan aku terlentang. Kini bulek Tuti berjongkok di atas selangkanganku. Ia genggam ‘junior’ milikku yang sudah berdiri tegap meregang siap perang, dengan otot-otot yang memenuhi sekujur batang tubuhnya, lalu diletakkan di antara jepitan dua bibir kewanitaannya. Kemudian bulek Tuti bergerak ke bawah, dan liang kewanitaannya seperti sebuah mulut kecil yang kelaparan hendak menelan kejantananku yang kenyal, besar, panjang dan hangat itu. Tetapi, walaupun bulek Tuti sudah mengangkang selebar-lebarnya, tetap saja diperlukan upaya ekstra untuk memasukkan seluruh kejantananku. Dan bulek Tuti pun merasakan nikmat luar biasa ketika dinding-dinding kewanitaannya perlahan-lahan menguak dan menerima daging kenyal yang padat dan hangat itu, menggosok keras dan mantap, mengirimkan berjuta-juta kenikmatan ke seluruh tubuhnya.

Rasa geli nikmat kurasakan saat pinggulnya yang ramping tak henti bergoyang di atas tubuhku. Tanganku pun meraih pinggulnya yang lembut, meraba pantatnya yang halus, dan membatunya bergerak di atas tubuhku. Kian lama gerakannya kian berpacu saat wajahnya kulihat memerah terbuai nikmat. Licin, hangat dan menjepit terasa kian nikmat saat otot vaginanya mengedut-kedut menggigit penisku. Namun baru saja sekitar sepuluh menitan, aku merasakan orgasme bulek Tuti sudah datang lagi menyerbu. Ia terduduk dengan seluruh kejantananku berada di dalam dirinya, begitu besar dan panjang sehingga seakan-akan ujungnya sampai ke leher bulek Tuti.

“Oh, sayaanngghh … Kamu luar biasaa … akuuuhh …!” Bulek Tuti mengerang tertahan dan merasakan orgasmenya menggemuruh di bawah sana. Ia lalu memutar-mutar pinggulnya, menambah intensitas kenikmatan, sehingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan jerit kecil keluar dari kerongkongannya. Kaki dan pahanya mengejang, menggelepar dan terkapar di atas tubuhku.

“Sekarang sakit bulek sudah sembuh …” Kataku sambil mengusap-usap punggungnya.

“Eh … Iya …” Bulek Tuti mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Bulek hanya perlu pelepasan saja … He he he …” Aku terkekeh.

“Ih … Kamu ya …!” Bulek Tuti mencubit hidungku. “Aku sakit karena memikirkan kamu terus …” Lanjutnya sambil mencibirkan bibirnya.

“Sekarang aku ada untuk bulek … Tapi …” Kataku tak dilanjutkan.

“Tapi apa?” Tanya bulek Tuti dengan jidatnya yang mengkerut.

“Kita perlu tempat, bulek … Untuk kita berdua … Kalau kita melakukannya di sini, jangan-jangan kita akan ketahuan lagi …” Kataku pelan.

“Benar sayang … Nanti kita lakukan di hotel saja …” Responnya.

“Bukan begitu maksudku bulek … Aku ingin rumah kosong yang bulek punya di jalan Ban***, dibersihkan untuk kita berdua … Kan rumah itu, pakle dan bulek Murni tidak tau … Kita bisa aman di sana …” Bujukku.

“Oh iya … Benar sekali sayang … Ya sudah, nanti bulek bersihin dan isi dengan perabotan …” Ujar bulek Tuti.

Aku tersenyum senang sambil membalikkan badannya hingga bulek Tuti berada di bawahku lagi. Kejantananku yang masih menyatu dengannya aku gerakkan kembali. Aku bergerak keluar-masuk, sehingga kejantananku kini membentur-bentur dinding depan dan belakang kewanitaanya. Aku merasakan kejantananku seperti sedang diurut-urut oleh segumpal daging kenyal yang lembut, basah dan hangat. Apalagi kemudian bulek Tuti memutar-mutar pinggulnya sambil terus menekan ke atas, membuat aku merasa sedang diperas-peras, dipilin-pilin. Sementara kedua tanganku kini kembali meremas-remas payudara bulek Tuti yang berguncang-guncang seirama gerakan tubuhku.

Gesekan-gesekan kenikmatan kami menjadi menggila. Nafas kami tersengal-sengal. Goyangan menjadi lebih liar, kadang maju mundur kadang memutar, sekehendak kami yang terus mencari kenikmatan bersenggama. Pada akhirnya, permainan cinta kami kini memasuki tahap final, ketika kami berdua mulai merasakan gemuruh birahi meminta jalan untuk menerobos keluar. Kami berdua berderap menuju puncak birahi, ditingkahi suara kecipak bertemunya kejantanan dengan kewanitaan di bawah sana. Ramai sekali, seru sekali, bergelora sekali.

“Aaaaccchhhhh ….!!!” Akhirnya bulek Tuti tiba di puncak birahi terlebih dahulu. Ia menjerit keras, mengerang panjang, dan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang basah oleh keringat. Gerakan tubuhya di bawahku telah berubah menjadi gerakan serampangan. Bulek Tuti tak lagi memiliki kendali atas tubuhnya yang sedang dilanda kenikmatan puncak.

“Aaaaaaakkkhhhh …!!!” Aku pun menyusul, ikut mengerang panjang ketika merasakan air bah dari dalam tubuhku menghambur ke luar, membuat kejantananku bagai membesar dua kali lipat, sebelum memancarkan cairan kental panas ke dalam tubuh bulek Tuti. Seluruh tubuhku berguncang-guncang, membuat bulek Tuti ikut terlonjak-lonjak, sementara kejantananku seperti mengamuk di bawah sana, seperti melompat-lompat menerjang dinding-dinding kewanitaan bulek yang sedang meregang.

Kami baru berhenti setelah sekitar kurang lebih dua menit menggelepar-gelepar seperti itu. Bulek Tuti terkulai letih memeluk tubuhku dengan nafas terengah-engah. Tubuh kami bermandikan keringat. Bulek Tuti menciumku, dan mengucapkan terimakasih berkali-kali padaku. Suara deru nafas yang saling bersahutan membuat kami tersenyum bahagia.

Hari ini kami pun mengulangi permainan cinta kami. Bercinta berkali-kali dalam beberapa jam membuat tubuhku lemas, tetapi bulek Tuti seakan tidak cukup. Beberapa saat setelah orgasme, dia kembali memain-mainkan penisku yang lemas dan basah, hingga bangkit lagi. Dengan penuh hasrat dia pun kembali menindihku dan mengulangi percintaan yang baru saja kami lakukan. Aku sangat sadar, kalau bulek Tuti yang terlihat lugu adalah seorang penggila seks yang tiada duanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menginap di rumahnya dan melayani hasrat bulekku yang kaya raya ini.

###

Wati Pov

Badanku terasa segar setelah terbasuh air dingin dan rasa lelah pun terasa sirna setelah seharian bekerja di salonku. Kini aku mematut di depan cermin sambil memandangi bayangan tubuhku yang telanjang. Sembari tersenyum, aku menatap cermin. Aku masih cantik, tubuhku masih menggairahkan. Buktinya, pemuda playboy itu tergila-gila padaku. Ya, aku akan menjeratnya. Aku akan menjerat dia seperti lalat di sarang laba-laba.

Aku pilih pakaian yang sexy, yang akan membuat dia terpesona melihatku. Aku memakai gaun terusan yang transparan di atas paha tanpa lengan. Sengaja aku tidak memakai bra sehingga payudaraku terlihat cukup jelas dengan putingku yang menantang. Berkali-kali aku berputar di depan cermin. Sempurna! Aku tak percaya dengan penampilanku saat ini dan merasa bangga sendiri.

Tiba-tiba suara bel rumah terdengar sampai kamarku diikuti samar-samar suara runtik hujan. Aku pun keluar kamar menuju pintu depan rumah yang masih terkunci. Aku kemudian memegang knop pintu lalu memutarnya agar pintu terbuka. Langsung saja aku melihat seorang pemuda tampan yang sedang terkejut dan aku meresponnya dengan senyuman yang sudah dipatenkan.

“Silahkan masuk!” Kataku sembari memberinya jalan.

“Oh … I-iya … Tante …” Suara gagapnya membuktikan kalau dia sedang terpesona padaku.

“Silahkan duduk … Aku mau buat minim dulu … Oh, ya … Mau minum apa?” Aku menahan langkah dan bertanya pada Ricky.

“Susu … tante …” Ucapnya dengan mata nakalnya yang sedang terarah pada payudaraku.

“Hi hi hi … Susuku hanya untuk orang yang istimewa … Tidak sembarangan orang yang bisa minum susuku …” Kataku menggoda sembari sedikit membusungkan dadaku agar pentilnya semakin jelas terlihat.

“Seperti apa orang istimewa itu, tante?” Tanya Ricky yang aku lihat dia sudah mulai gelisah.

“Em … Orangnya baik, royal dan mau berkorban untukku …” Jawabku.

“Itu aku …” Dengan percaya diri Ricky berkata demikian.

“Hi hi hi … Jangan terlalu yakin, sayang … Satu pun belum terlihat olehku …” Aku kemudian berlalu menuju dapur untuk membuatkan minuman istimewa untuk tamuku.

Sesampainya di dapur, aku ambil gelas tinggi lalu membuat jus orange. Aku tuang satu saset Nutris*ari kemudian diisi oleh air dingin. Sebelum aku aduk, sambil tersenyum, aku beri beberapa tetes zat kimia yang bisa membuat orang akan sangat bergairah dan menggebu-gebu hasratnya. Baru kemudian aku aduk dan siap untuk disajikan. Hatiku tersenyum dan membayangkan sesuatu yang akan terjadi nanti. Suatu cara yang sempurna untuk menjerat mangsa agar ia bertekuk lutut dan mengabulkan seluruh keinginanku.

T A M A T