Mama Yang Terbaik Part 7

0
4987

Di dalam kepenatan tubuh, aku mandi dan akhirnya membaringkan tubuh di atas kasur yang nyaman. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah memejamkan mata. Tidur siang sebentar adalah salah satu solusi agar otak tidak kecapaian, agar otak dapat istirahat sebentar dari aktivitasnya. Belum juga aku terlelap, tiba-tiba smartphone-ku berdering, tanda ada pesan yang masuk. Aku raih smartphone yang aku letakkan di kasur sembarang tadi sebelum mandi. Mataku terbuka dan melihat identitas si pengirim pesan di layar smartphone. Aku pun tersenyum saat melihat nama si pengirim pesan.

Namanya Lidia. Dia mantan pacarku waktu SMA. Saat itu aku kelas 12 sedangkan dia kelas 10. Aku jadi ingat, aku dan Lidia sudah tidak bertemu kurang lebih 3 tahun. Dan selama itu pula kami tidak pernah berkomunikasi meski sebatas chatting di sosial media. Jujur saja, aku merindukannya. Bahkan pernah beberapa kali aku memimpikan dia dalam tidurku. Tiba-tiba ia mengirimkan foto dirinya. Ya, Tuhan! Melihat fotonya saat ini seperti membuat sel-sel rindu dalam tubuhku aktif kembali. Dan seolah ada bisikan ghoib yang mengatakan, “Ini kesempatan emas 24 karat, kamu harus mengajaknya bertemu sebelum dia kembali hilang ditelan waktu.”

Seketika itu juga, aku rapikan diri dan penampilanku agar tampak keren. Aku menambahkan sedikit parfum ke sebagian tubuh, lalu bergegas menemui mama yang sedang asik nonton drama Korea kesukaannya. Setelah berpamitan pada mama, aku pun secepatnya menuju garasi dan menghidupkan mesin mobil. Beberapa detik berselang, mobil sudah keluar garasi yang selanjutnya kulajukan menuju Cafe Lotin tempat di mana aku menyatakan cinta padanya saat kami masih duduk di bangku SMA. Jarak cafe tidaklah terlalu jauh dari rumah, sehingga hanya kurang dari sepuluh menit aku sudah sampai di tempat tujuan.

Aku masuk ke dalam cafe. Langsung tercium aroma kopi saat aku memasuki cafe ini. Cafe nampak sepi seperti biasa, kali ini tak banyak orang yang berkunjung, hanya ada sepasang muda mudi sedang menikmati makanan mereka. Aku langsung ke kasir memesan makanan dan minuman, setelah itu aku memilih tempat duduk agak di pojokan. Sambil menunggu, aku main game online agar tidak merasa bosan menunggunya karena aku tahu kalau dia akan sangat terlambat datang. Ya, memang dia datang terlambat hingga kopi pesananku pun menjadi hangat.

“Hai! Maaf ya telat, di jalan macet banget!” Tiba-tiba Lidia menyapa aku yang lagi fokus main game di smartphone karena bosan menunggu. Aku kaget. Smartphone-ku hampir terlempar ke lantai.

“Kebiasaan,” kataku. “Macet kenapa emangnya?”

“Biasa, deh, mobil sama motor pada lewat bumi!” Jawabnya.

Aku ketawa. Lidia juga. Dan sungguh, Lidia terlihat cantik sekali atau sebenarnya sama saja seperti terakhir kali aku melihatnya, tetapi rasa rindukulah yang menggandakan kecantikan Lidia jadi berkali-kali. Dia duduk di depanku dengan jarak yang cukup dekat. Kaki kami bahkan bersentuhan. Aku menemukan senyuman yang kukenal darinya.

“Kamu gak berubah … Masih seperti dulu …” Ucap Lidia sambil tersenyum.

“Sama … Kamu juga … Cantiknya gak berubah …” Godaku yang membuat Lidia tersipu malu.

“Hi hi hi … Makasih …” Sahutnya sambil mengambil gelas di depannya. Gelas berisi kopi yang sudah hangat itu ia angkat lalu ditempelkan di bibirnya.

“You’re welcome …” Kataku.

“Jadi, hal penting apa yang mau kamu sampein?” Lidia bertanya begitu karena waktu di chat aku bilang mau nyampaikan hal penting.

“Nanti dulu, buru-buru banget, sih …” Kataku sambil mengangkat gelas minuman yang kupesan untuk segera kutransfer ke dalam perutku.

“Kamu mau menikah?” Tanyanya. Aku terkejut. Aku membendung minuman yang hampir mengalir ke tenggorokan. Aku tidak mengerti kenapa Lidia kepikiran ke situ. Kalaupun iya, aku gak bakal minta izin dia juga, sih. Aku tahu, pasti dia asal nebak. Kalau begitu aku juga asal jawab.

“Aku, sih, terserah kamu aja siapnya kapan …” Ucapku ngasal.

“Ya, siapin aja dulu!” Sahut Lidia. HEH? Ini orang seneng banget bikin aku canggung.

Kami pun terlibat obrolan yang cukup panjang, menceritakan tentang kehidupan masing-masing, dua orang yang lama tidak berjumpa, melepas rasa rindu akan seorang yang pernah menjalin cinta. Banyak yang kami obrolkan di siang menjelang sore ini. Bahkan Lidia juga sempat cerita bahwa ibunya telah meninggal dunia. Ibunya terkena penyakit komplikasi yang membuatnya meninggal di rumah sakit. Aku jadi sedih mendengarnya. Lidia juga, kelihatan dari wajahnya. Namun, Lidia tidak konsisten dengan ekspresi sedihnya. Setelah bicara soal keluarga, dia langsung mengalihkan topik obrolan ke kesibukan. Dia kelihatan ceria lagi sekarang.

“Kamu lagi sibuk apa?” Tanyanya.

“Masih kayak kemarin, kangen kamu,” aku jawabnya malu-malu. Lidia tidak merespon. Soalnya dia tidak dengar, soalnya aku bicara dalam hati.

“Hei! Dengar gak, sih, ditanya?” Tanya Lidia agak sewot melihatku melamun walau sejenak.

“Oh, iya, iya, dengar … Aku masih sibuk nuntasin kuliah …” Jawabku disambung dengan bertanya balik.

“Hi hi hi … Cape deh kuliah … Tugas gak kelar-kelar.” Kata Lidia lagi sembari tersenyum.

“Kalau mau kelar mah gampang …” Kataku dengan ekspresi sotoy.

“Gimana?”

“Kerjain …”

“BODO AMAT!” Lidia menimpukku pakai sobekan tisu.

Karena terlalu asyik ngobrolin hal lain, sepertinya Lidia lupa sama hal penting yang aku janjiin di pesan whatsapp. Lagi pula, hal penting itu tidak ada. Itu cuma alasan biar Lidia mau diajak ketemu. Sejatinya, pertemuan inilah yang penting. Setidaknya, untukku. Baru aku kira dia lupa, eh, dia langsung nanya lagi …

“Mana hal pentingnya? Aku nunggu, loh, dari tadi …” Ucapnya yang membuatku melongo lagi namun segera saja aku jawab pertanyaannya.

“Menurut kamu, ketemu sama orang yang kita rindu itu penting gak?” aku bertanya.
Lidia tidak langsung menjawab. Dia seperti memikirkan sesuatu. Dan dia makin manis di saat-saat seperti itu.

“Penting …” Jawabnya pelan setelah beberapa saat terdiam.

“Nah, menurutku juga begitu … Makanya kita di sini …” Kataku. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Kamu pasti bohong …”

“Kenapa harus bohong?”

“Kenapa harus aku?”

“Emangnya kenapa kalau kamu?”

“Mantan kamu kan banyak …”

“Tapi rindunya sama kamu …”

“Ih!”

Aku tersenyum melihat ekspresi jengkelnya. Tidak seharusnya dia jengkel. Itu hanya membuatnya makin manis. Aku makin betah lama-lama di dekatnya. Tawa renyah dan hal lainnya miliknya itu terputar lagi di otakku. Ini benar-benar di luar kuasaku. Apakah aku jatuh cinta lagi dengannya? Entahlah. Dan yang jelas aku sangat menikmati momen-momen ini, aku tau Lidia pun begitu. Semakin menarik kami berbincang. Seakan ingin sekali rasanya waktu berjalan lebih pelan, agar kami bisa bercerita banyak tentang berbagai hal. Pukul 16.10 sore kami memutuskan untuk pulang. Sudah dua jam kami di sini. Bahan obrolan kami sudah habis. Begitu juga dengan rinduku, telah lunas ditebus.

Aku mengantar Lidia ke tempat parkiran. Mataku membulat sempurna ketika sebuah mobil mewah menjemputnya, sebuah mobil bermerek Mercedez Benz keluaran terbaru dan hanya segelintir orang yang mampu membeli kendaraan itu. Lidia masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang sebelah kiri. Saat itu juga, kaca pintu belakang sebelah kanan terbuka. DEUGH!!! Jantungku seakan mau meledak tatkala melihat seraut wajah yang sedang tersenyum padaku. Hari ini wanita itu terlihat lebih cantik dari biasanya, wajah cantiknya memancarkan kebahagiaan yang tersirat jelas di wajahnya. Dia adalah Ira Prameswari.

“Mbak …” Pekikku agak ditahan.

“Kami pulang ya, Pak Dokter …” Ucapnya lembut.

“Oh … I-iya …” Jawabku tergagap.

Dengan hati yang masih diliputi ketidak-tenangan, aku terpaku di tempat sambil melihat mobil mewah itu berlalu. Pertanyaan pun langsung memenuhi ruang otakku, “Apakah dia ibunda Lidia?” Aku masih menatap kepergian mereka dengan perasaan bingung. Hingga akhirnya mobil mereka tidak terlihat lagi, setelah itu aku berjalan menghampiri mobilku. Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum kemudian menaiki kendaraanku dan meninggalkan cafe yang penuh dengan kenangan tersebut.

Kendaraanku melaju dengan kecepatan lambat. Saat ini jalanan padat dan kendaraan merayap karena semua orang pulang kerja dengan masing-masing kendaraannya. Kendaraan harus diam di satu titik selama beberapa menit sudah menjadi pemandangan yang biasa. Perjalanan yang biasa aku tempuh hanya dengan sepuluh menit harus aku lalui setengah jam lebih untuk sampai di rumah. Setibanya di rumah aku parkirkan mobilku di garasi, aku kunci mobilku dan pergi menuju ke dalam rumah. Terlihat mama sedang duduk di sofa ruang tengah asyik menonton drama korea kesukaannya. Dan aku pun duduk di sebelahnya.

“Dari mana, sayang?” Tanya mama sambil merebahkan badannya kepadaku.

“Ketemuan dengan mantan …” Jawabku santai.

“Oh ya …? Kenapa tidak ajak dia ke sini?” Tanya mama sambil melingkarkan tangannya ke tubuhku, kepala mama bersandar di bahuku.

“Baru aja ketemu lagi, ma … Liat perkembangan dulu … Kalau dia mau lagi jadi pacarku, baru aku akan ajak dia ke rumah …” Kataku dengan melingkarkan tangan kiriku ke bagian pinggul mama.

“Sayang … Tadi Ricky nelepon mama … Dia ngajak mama nge-date …” Ucap mama pelan tapi aku sungguh terperanjat mendengarnya. “Boleh atau nggak?” Tanya mama. Lidahku seakan kaku hanya untuk menjawab ya atau tidak.

“Kapan?” Akhirnya aku bersuara setelah beberapa detik terdiam.

“Mama belum menyetujuinya …” Sahut mama.

“Mama lebih baik menahan diri dulu … Aku akan bicara sama di Ricky …” Kataku.

“Loh … Mau bicara apa?” Mama bertanya sambil bergerak melepaskan pelukannya, mama menatapku tajam.

“Hhhhmm … Kalau dia mau mengencani mama … Harus ada bayaran yang setimpal …” Ucapku tanpa ragu mengingat Ricky adalah orang tajir yang tidak ketulungan.

“Hi hi hi … Kamu mau jual mama ya?” Mama terkekeh mendengar usulanku.

“Bukan begitu ma … Sejujurnya aku gak suka kalau mama berkencan dengan si Ricky. Lagian, dia harus berkorban untuk mendapatkan mama … Adil kan?” Jelasku.

“Hi hi hi … Kamu bisa saja … Mama ikut kata kamu aja deh …” Ucap mama sembari menyubit hidungku.

“Ya … Pokoknya mama tahan diri dulu … Aku mau tau, dia berani bayar berapa untuk mengencani mama … Aku gak akan ngasih ijin kalau gak sesuai harapan …” Tegasku.

“Iya sayang … Hi hi hi …” Mama kembali terkekeh senang.

Hanya itu yang menjadi solusi terbaik karena aku bisa melihat kalau mama pun tertarik dengan ajakan Ricky walau tidak dinyatakannya secara langsung. Aku harus merelakannya tetapi dengan syarat. Dan aku sangat tahu akan sifat Ricky yang selalu mengejar sampai dapat semua keinginannya dengan kekuatan tampang serta uangnya. Baginya, uang adalah alat bagi mencapai satu tujuan tertentu. Uang adalah di atas segala-galanya, dengan uang dapat membeli segalanya.

“Sayang … Tidur yuk!” Mama berdiri dan menarik tanganku.

“Masih sore gini?” Tanyaku tapi aku mengikuti tarikannya.

“Mama lagi pengen, sayang …” Ucapnya yang membuatku tersenyum. Sambil melangkah mengikuti tarikannya ke dalam kamar, aku heran juga dengan mama. Tumben-tumbennya ia yang ‘mau’ duluan, padahal selama ini akulah yang selalu pertama mengajaknya bercinta. Aku rasa libido mama sedang tinggi.

Kami masuk dalam kamar lalu kututp pintunya. Kulihat mama mulai menanggalkan seluruh pakaiannya hingga tak tersisa sehelai benang pun. Dengan gaya kemayu, mama naik ke atas tempat tidur dengan posisi menyamping ke arahku. Dengan menopangkan kepala di lengannya, mama menatapku dengan tatapan menggoda juga memangsa. Kemudian mama menjilat bibirnya sendiri disertai gerakan sensual. Semua seakan terasa begitu melambat, untukku.

Aku pun segera menanggalkan pakaianku tak bersisa. Batang kemaluanku sudah mengacung-acung galak siap memangsa daging nikmat milik mama. Aku pun menaiki tempat tidur yang disambut oleh pelukan hangatnya. Mata kami sama-sama terpejam ketika bibir kami bersatu merajut sebuah rasa yang entah dinamakan apa. Bukan lagi sebuah kecupan yang kami lakukan, namun bibir kami mulai saling bertautan, saling memberi dan menerima. Dan aku membeku sepersekian detik di saat kedua tangan mama meraih tengkukku, mengusap pelan belakang kepalaku, dan menciptakan suasana ciuman kami layaknya candu.

“Mmmmppptthhh ….” Mama melenguh di sela ciuman kami ketika tanganku meremas-remas payudaranya. Payudara mama terasa kenyal dan padat, sangat menyenangkan untuk diremas-remas. Beberapa detik aku mengolesi ujung penisku oleh cairan yang membasahi vagina mama. Kemudian mengarahkan dengan pasti ke mana kejantananku seharusnya berada.

“Bleeessss!”

“Aaaahhh…” Mama melenguh saat aku mengisinya, penisku masuk sebatas pangkalnya. Bisa aku rasakan remasan dinding kewanitaan mama yang membuatku gila. Mama pun mulai menggoyangkan pinggulnya secara perlahan.

Aku mulai melakukan gerakan naik turun sambil mendekap erat dan mencium bibir mama dengan penuh nafsu. Mama mengerang, merintih nikmat, merasakan otot perkasa yang panas membara merojok-rojok di dalam tubuhnya yang sedang bergeletar hebat. Dan aku meremas-remas bukit kembar indahnya yang sintal itu, yang telah pula mengeras bagai hendak meledak. Mama menjerit kecil, kedua tangannya terentang pasrah, jari-jarinya meremas-remas seprai yang memang sudah berantakan tak karuan. Nafasnya tersengal-sengal, matanya terpejam nikmat, mulutnya setengah terbuka.

“Oouuggghh … Sayaaanngghh …” Mama berteriak nikmat sambil berusaha menggigit bibir bawahnya. Lelehan air wangi kembali terasa membasahi kejantananku hingga menambah licin gesekan-gesekan nikmat dinding kewanitaannya. Aku pun mempercepat gerakan turun naik sambil tangan kananku terus meremas-remas payudaranya.

“Ouchhhh … Enak sayaangghh, enak sekaliii …!” Mama menjerit-jerit kecil sambil mencakar-cakar lembut punggungku.

Dalam posisiku yang berada di atas tubuh mama, aku terus mengayun-menghujam dalam sentakan-sentakan cepat. Sepertinya mama merasa ditikam-tikam, tetapi tanpa sakit, melainkan penuh berisi kenikmatan. Pinggulnya bereaksi bagaikan seorang penari. Setiap hujaman dengan dorongan dan goyangan membuat kedua tubuh kami yang berpeluh bertumbukkan tepat di tengah-tengah. Setiap tumbukan mengirimkan getaran-getaran nikmat ke seluruh penjuru tubuh. Dan setelah lebih sepuluh menit berselang, mama mencengkeram erat lengan tanganku sambil berteriak …

“Oouuucchh … Saayyaaaannggh … Enakk … sekaliiii …!” Dan seluruh badan mama menegang seiring dengan tercapai orgasmenya. Mama mengerang lagi, merintih lagi, berteriak-teriak kecil lagi, ketika puncak birahinya tiba dalam gelombang-gelombang besar yang mengguncangkan tubuhnya. Setelah beberapa genjotan, akhirnya aku berhenti beraktivitas. Kami terdiam, membiarkan mama sejenak tenggelam dalam gelombang orgasmenya. Lalu, aku menarik kejantananku keluar vagina mama disertai protes lemahnya.

“Sayang … Jangan dikeluarkan … Please …!” Protes mama. Tetapi aku tidak bermaksud berhenti. Sebaliknya, aku ingin memberikan yang terbaik baginya di sore menjelang malam ini. Masih banyak waktu untuk sebuah percintaan-bergairah.

Dengan kedua tanganku yang kokoh, aku menggulirkan tubuhnya sehingga kini mama tertelungkup dengan nafas yang masih memburu dan dada yang turun-naik lumayan cepat. Mama diam saja, pasrah saja. Dan aku menggunakan kedua telapak tanganku untuk menyingkap kewanitaannya dari belakang. Lalu aku menghujamkan kejantananku dengan sekali masuk sampai ke pangkalnya, membuat mama tersentak. Mama membiarkan diriku berbuat sesuka hati, karena kewanitaannya kini sudah sangat sensitif. Diapakan saja, mama pasti segera mencapai orgasme. Dan betul saja. Tikaman-hujamanku belum lagi mencapai hitungan ke dua puluh, ketika orgasme keduanya datang lagi menggemuruh. Kali ini terasa lebih hebat, karena gosokan-gosokan kejantananku sangat keras terasa di dinding-dinding kewanitaannya, karena kedua kakinya kini menyatu, membuat aku terjepit erat. Kesat sekali. Nikmat sekali.

Orgasme kedua mama terasa lebih panjang dan lebih intens, karena aku tak menghentikan hujaman kejantananku. Aku tetap menyerbu dan menikam-nikam dengan nafas yang tak kalah menggemuruh. Mama mengerang-merintih-menjerit. Mama menggigit seprai yang telah pula basah oleh keringat. Kegelian yang tak tertahankan, bercampur kenikmatan yang meletup-letup, memenuhi seluruh tubuhnya yang terhimpit di antara kasur dan tubuhku. Mama tak tahan, tapi mama tak ingin aku berhenti pula. Mama membiarkan gelombang demi gelombang kenikmatan merajah tubuhnya.

Dan aku pun merasakan kenikmatan luar biasa ketika mama mencapai puncak birahi untuk kesekian kalinya ini. Aku merasakan betapa kejantananku bagai dilumat oleh lapisan sutra yang lembut dan hangat. Bagai diremas-remas sambil disedot-sedot, sehingga bagian ujung yang sangat sensitif itu terasa hendak segera meledak. Aku mengayun-ayunkan terus pinggangku, menghujam-hujamkan terus kejantananku, karena kini aku tak bisa lagi berhenti. Aku harus terus menghujam, harus terus menikam, harus terus menikmati sensasi-sensasi kenyal di sekeliling kejantananku.

Aku rasa mama merasakan nikmat luar biasa ketika kejantananku mencapai ketegangan maksimum. Di tengah gelombang orgasmenya yang menggelora, mama ternyata bisa merasakan juga kalau aku sedang menuju puncak. Dan ini memicu gairahnya semakin kuat. Mama menjepitkan kedua paha lebih erat lagi, sehingga kini vagina mama bagai memeras kejantananku, meremas-menyedot agar aku segera mencapai puncak birahi bersama-sama.

“Terus, sayaanngghh … terus… terus…!” Ucap mama merintih-rintih. Dan aku hanya menyahuti dengan erangan, karena aku kini sedang mengejang merasakan kenikmatan yang luar biasa menyergap tubuhku. Aku juga menikmati desahan nikmat nafasnya, dan aku masih bergerak turun naik, turun naik, menanti-nanti datangnya saat nikmatku sendiri. Sesaat kemudian …

“Oouucchhh … Maaaa … Aakkhhuuu … Maaauuuu …!!!” Aku menjerit sambil memeluk erat tubuhnya dari belakang. Dengan sebuah hujaman terakhir yang sangat dalam, aku berteriak, “Aaaaaaaakkkhhh …!!!” Erangku sambil mengeluarkan lava panas di dalam lubang kewanitaannya. Dinding kewanitaan mama terasa memijat-mijat seluruh kejantananku, lembut, lembut, lembut sekali. Dan mama menyambut dengan jeritan kecil, lalu mengerang panjang ketika merasakan semprotan-semprotan hangat memenuhi seluruh rongga kewanitaannya. Mama juga merasakan puncak birahinya bagai dipicu kembali oleh semprotan-semprotan spermaku itu.

Gelombang-gelombang kenikmatan masih menggetarkan tubuhku yang kini lunglai. Kepala mama menengadah, ia menciumi bibirku, penuh mesra, penuh rasa terimakasih. Cairan-cairan cinta kami berleleran memenuhi kedua pahanya, menempel pula di pahaku. Lava panas itu mengalir turun lagi dari dalam kewanitaannya sesaat waktu kami berpelukan erat. Aku menciumi keringat yang mengalir di sepanjang belakang lehernya dan mama pun terkulai lemas di bawah tubuhku.

Satu menit kemudian, aku turun dari atas tubuh mama, lalu merebah ke samping. Mama pun beringsut, mensejajarkan tubuhnya kepadaku. Kami berpelukan, perlahan-lahan mama mencium bibirku dengan lembut. Mata kami tertutup sementara bibir kami bergulat tak tentu arah. Tak lama, mama pun menyudahi ciuman kami.

“Dari semua laki-laki … Memang kamu lah yang terbaik …” Puji mama dengan senyumannya, tapi aku menanggapinya biasa saja.

“Dari semua wanita … Mama lah yang terbaik …” Balas pujiku.

“Eh … Ayo … Siapa wanita itu?” Tanya mama menggoda.

“He he he … Rahasia dong …” Jawabku sembari mempermainkan puting susu mama yang masih tegak dan keras.

“Jangan suka main rahasia sama mama … Ayo … Jawab …!” Walau terkesan memaksa tetapi mama sedang bercanda.

“Nggak ah ma … Nanti mama jadi marah …” Kataku tak sadar, benar-benar aku keceplosan.

“Hi hi hi … Sebenarnya mama tau kok, siapa wanita itu …” Ucap mama sambil menatapku dan aku pun terkesiap.

“Serius?” Tanyaku pelan dan ragu.

“Mama sudah tau lama, sayang … Cuma mama diam saja …” Kata mama lagi yang membuatku penasaran.

“Siapa?” Tanyaku lagi.

“Bulekmu … Si Tuti …” Ucap mama dengan senyum menggoda sambil menoel daguku.

“Eh … Kok …!” Aku benar-benar terkejut.

“Kalau kamu masih suka … Mama ijinin kok … Tapi, ada syaratnya …” Ucap mama penuh teka-teki. Aku menatap mama sambil mengingat kembali masa-masa bersama bulek Tuti. “Sayang …” Lanjut mama membuyarkan lamunanku.

“Oh i-iya … A-apa syaratnya?” Tanyaku terbata-bata.

“Bulekmu itu kan orang kaya … Em, pasti kamu tau maksud mama …” Kata mama dan tentu aku mengetahui apa yang berada di pikiran mama.

“Aku pikir-pikir dulu, ma … Karena masih takut … Aku takut ketahuan …” Ucapanku tidak tuntas keburu dipotong mama.

“Bermain cantik … Kamu pasti bisa …” Mama seolah sedang menyemangatiku.

Aku pun tersenyum lalu mencium bibir mama lagi. Entah kenapa, malam ini aku merasa sangat bersemangat, begitu pula dengan mama. Tetapi begitulah kejadian hari ini. Aku dan mama mengulangi persetubuhan sampai beberapa kali. Kami seolah-olah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, kami begitu saling menikmati, bertukar nafsu birahi dan saling memuaskan gairah senggama kami.

—– ooo —–​

Keesokan Harinya …

Kantin fakultas tidak terlalu ramai. Aku mengambil tempat duduk di ujung kantin yang dekat dengan jendela. Di depanku ada seorang pemuda tampan dengan senyumannya yang menyebalkan. Aku dan Ricky berhasil menyuap beberapa dosen yang tidak memberikan nilai pada Ricky. Akhirnya, nilai pun keluar walau dengan nilai yang pas-pasan. Tampaknya Ricky tidak terlalu memperdulikan nilai tersebut yang penting baginya adalah tidak mengulang kuliah tersebut tahun depan.

“Thanks my bro … Akhirnya keluar juga nilai gue …” Kata Ricky dengan nada senangnya. Laki-laki itu menyedot pipet soda susu yang tinggal setengah.

“Hah … Gue gak abis pikir … Duit sebanyak itu habis dibagi-bagiin begitu aja …” Keluhku sambil geleng-geleng kepala.

“Nyantai my bro … Itu mah belum seberapa …” Katanya sangat ringan menambah kuat gelengan kepalaku.

“Duit itu … Cukup untuk nuntasin kuliah di sini, bahkan lebih …” Kataku tak percaya.

“Ha ha ha … Makanya, jadi orang kaya seperti gue …” Katanya lagi menyombongkan diri. Ah, wajar dia sombong, emang tajirnya sudah kelewatan.

“Sekarang, apa rencana lo?” Tanyaku mulai menebar perangkap.

“Gue mau ke salon nyokap lo …” Ricky tersenyum sedikit ditahan. Dan memang itu yang aku harapkan.

“Lo boleh godain cewek-cewek di sana … Tapi awas! Jangan nyokap gue!” Aku pura-pura mengancam.

“He he he … Nyokap lo nantangin banget bro … Gue jujur aja … Gue suka sama nyokap lo …” Ucap Ricky tanpa malu dan terkesan angkuh.

“Lo gak bakalan bisa, Ky … Nyokap gue itu sangat sayang banget sama bokap … Kecuali …” Kataku dibuat tidak tuntas sebagai perangkap selanjutnya.

“Kecuali apa, bro?” Ricky agak menaikan nada suaranya sambil menggeser duduknya lebih merapatkan ke meja.

“Huffff …” Aku pura-pura menghembuskan nafas keras. “Lo harus bisa ngambil hatinya. Modal tampang aja gak bakalan cukup … Lo taukan maksud gue …” Lanjutku sambil memasang wajah sedih dan berharap Ricky mengetahui maksud ucapanku.

“Sialan lo! Masa, ama nyokap sendiri ngomong kayak gitu … Tenang, bro … Nyokap lo bakal bahagia ama gue …” Ungkap Ricky penuh percaya diri.

“Gue udah nasehati lo … Gue nggak mau disalahin kalo ada apa-apa …” Kataku agak ketus.

“Tenang … Gue gak akan melibatkan lo … Ini urusan gue … Ok, gue meluncur … Hunting dulu … Ha ha ha …” Ucap Ricky sembari meletakkan selembar uang merah di atas meja lalu berlalu dari hadapanku.

Aku lihat punggungnya yang menjauh dan setelah lenyap dari pandanganku, segera saja aku telepon mama memberitahukan kalau Ricky akan menemuinya. Aku ceritakan pembicaraanku dengan Ricky barusan dan mama hanya terkekeh saja. Mama bilang untuk selanjutnya biar dia yang ngurus si playboy itu. Entahlah, apa keputusanku ini benar atau salah. Aku hanya berpikir lebih baik semuanya terbuka daripada mereka jalan sembunyi-sembunyi. Kalau keadaannya seperti ini, aku pun bisa memantau sejauh mana hubungan mereka.

BERSAMBUNG – Mama Yang Terbaik Part 07 | Mama Yang Terbaik Part 07 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 06 ) | ( Part 08 ) Selanjutnya