Mama Yang Terbaik Part 6

0
3965

Suara keras deru jam weker membangunkanku, perlahan aku membuka kelopak mata. Aku menggeliat dan menguap lebar, perlahan mengumpulkan jiwaku yang masih terlelap hingga benar-benar terkumpul. Aku beranjak dari ranjang mengambil handuk yang tergantung di samping lemari pakaian, berjalan menuju kamar mandi. Selepas mandi aku langsung menuju ruang makan untuk sarapan. Di atas meja makan dengan taplak berwarna warni tertata rapi beberapa makanan yang sudah tersedia seperti telur dadar, capcay goreng, nasi putih yang masih panas, dan teko kaca yang berisi susu hangat. Tampak mama masih sibuk membereskan peralatan makan dan mengambil beberapa piring yang diletakkan di atas meja makan.

“Ma … Kenapa mama beberapa hari ini jarang ada di rumah dan sering pulang malam?” Aku bertanya langsung pada masalah yang selama ini mengganggu pikiranku.

“Hhhmm … Hari ini mama mau nunjukin sesuatu padamu … Sekarang sarapanlah dulu.” Jawab mama tidak langsung menjawab pertanyaanku.

“Nunjukin sesuatu?” Tanyaku heran.

“Iya … Sesuatu yang selama ini mama usahakan … Sarapannya cepet … Mama siap-siap dulu …” Lanjut mama sambil menoel hidungku lalu ia masuk ke dalam kamarnya.

Segera saja aku melahapnya makanan yang tersaji di meja. Aku melihat mama sudah seperti biasa lagi. Aku kira aku terlalu berprasangka, memperhatikan hidup mama terlalu didramatisasi, padahal biasa-biasa saja. Rasanya tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan karena mama bukan makhluk yang perlu dikhawatirkan.

Beberapa menit berlalu dan sarapanku sudah selesai, mama pun keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi. Mama terlihat begitu cantik dengan wajah yang masih muda dan kulit wajahnya putih bersih tak ada kerutan. Mama melingkarkan tangannya padaku, melengus-elus lengan kiriku. Kami pun berjalan ke garasi dan keluar rumah dengan menggunakan mobilku. Di mobil tidak banyak percakapan yang kami lakukan hanya bernyayi bersama mengikuti radio.

Hampir satu jam di jalanan, akhirnya mobilku memasuki sebuah kompleks ruko yang difungsikan sebagai pertokoan, kantor atau tempat usaha. Mama menyuruhku parkir di depan ruko yang terlihat sepi. Aku dan mama turun dari mobil, mama mendahuluiku bergerak ke pintu sebuah ruko lalu membuka pintu tersebut. Aku sedikit terkejut dengan yang mama perlihatkan padaku, tetapi aku lega begitu melihat mama tersenyum sambil mempersilahkan aku masuk ke dalam ruko tersebut. Tidak hanya itu, hal lain yang membuat rasa terkejutku semakin parah adalah di dalam ruko yang aku masuki telah berupa salon kecantikan lengkap dengan peralatannya. Ruang salon terlihat sangat bersih dan terawat.

“Ini lah yang mama usahakan beberapa hari ini … Salon ini sudah milik mama sekarang.” Ucapnya yang membuatku senang sekaligus heran.

“Mama punya uang dari mana bisa beli salon seluas ini?” Tanyaku sembari memperhatikan situasi ruangan salon yang cukup luas.

“Kamu gak perlu tau darimana uangnya … Salon ini mama beli dari temen mama …” Ucap mama sambil memeluk tubuhku dari belakang.

“Hhhhmm … Amazing …!” Aku bergumam senang sekaligus heran.

Aku dan mama melihat-lihat gedung ruko yang ternyata gedung ruko ini adalah dua ruko yang dijadikan satu oleh pemilik pertamanya. Kami pun naik ke atas lantai dua ruko, tampak jejeran kamar-kamar. Sekilas seakan berada di sebuah kos-kosan. Ada enam buah kamar di sana dan sebuah kantor dengan ruangan yang lebih besar. Ruangan kantor ini didesain sangat elegan, menjadikan ruangan terlihat mewah.

“Akhirnya mama punya juga salon …” Kataku sambil tersenyum lalu duduk di sofa besar yang letaknya di bagian tengah ruangan.

“Terima kasih ya sayang …” Tiba-tiba mama duduk di pangkuanku dengan posisi menyamping dan tangannya melingkar di leherku.

“Eh, kenapa mama harus berterima kasih padaku?” Aku bertanya heran sambil melingkarkan tanganku ke pinggangnya.

“Pokoknya terima kasih …” Ucap mama sembari tangannya terjulur mengambil daguku dan mendongakkannya ke atas. Kedua pasang mata kami saling bersua dalam tatapan yang hangat.

Mama mendekatkan wajahnya ke arahku, membuat jarak wajah kami sangat dekat. Mama melumat lembut bibirku dan bibir kami pun bergerak seirama. Ciuman yang membangkitkan nafsu alami. Gejolak birahi menggelora. Pelan-pelan tangan kananku merayap dari belakang, mengelus perutnya kemudian kedua payudaranya yang masih terbungkus pakaian lalu kuelus dan kuremas payudara mama dengan lembut. Ciuman dan remasanku ternyata membuat mama meledak gairahnya. Terbukti mama harus meremas-remas rambutku untuk menahan gelenyar nikmat yang disalurkan oleh ciuman dan remasan tanganku. Nafsuku pun semakin tidak tertahankan dan kejantananku mulai menegang tertindih oleh pantat mama yang bahenol. Sejurus kemudian, aku lepaskan ciumanku namun tanganku tak berhenti beraksi di dadanya.

“Ma … Aku udah pengen …” Kataku pelan.

“Ihk … Kok gak sabaran sih?” Ucap mama sembari menoel hidungku.

“Mama nafsuin banget …” Kataku lagi sambil tangan kiriku melepas kait rok dan menurunkan resleting rok mama.

“Hi hi hi … Dasar anak nakal …” Ucap mama dan kini tangannya berusaha menarik kaosku hingga terlepas melewati kepala.

Perasaan gairah yang menggelora seakan tidak tertahankan. Kami saling melucuti pakaian hingga tak ada yang tersisa di tubuh kami. Kini mama telah terlentang di atas sofa dengan kedua paha direntangkan sehingga menampakkan vaginanya yang sangat sexy. Di depanku terpampang vagina tembem yang dihiasi bulu-bulu lebat namun tertata rapi dengan labia mayora yang begitu indah. Aku mengarahkan mukaku ke arah vagina mama untuk menghisapnya yang begitu membuat aku bernafsu.

“Ooohhh …” Mama mendesah nikmat ketika bibirku sudah menempel di vaginanya. Segera kujilat vaginanya yang semakin basah dan merekah merah. Mama sambil mendesah-desah mengangkat pantatnya ketika lidahku menyusuri setiap inci bagian lubang vaginanya. Kujilat dengan lembut klitorisnya dan terkadang kusedot klitorisnya yang semakin membuat mama terengah-engah dan menggelinjang. Kurasakan klitorisnya semakin tegang, lidahku kugunakan untuk merangsang klitorisnya dalam mulutku.

“Ooooohhhh, sayang … Aaaakkkkhhhhh nikmatnya … Teruskannnn… yahhhh … ougghhhh …!!!” Rintih mama sambil meliuk-liukkan pinggulnya seperti penari Spanyol. Bibirku kini bukan hanya bermain di klitorisnya tapi juga mengisap kedua labianya secara bergantian. Akibatnya mama semakin horny dan kedua kakinya ditekukkannya sambil menaik-turunkan pinggulnya, sehingga vaginanya semakin merekah dengan rona merah dan cairan yang semakin banyak mengalir. Akhirnya tak kuasa lagi membendung gelora birahinya, kedua tangannya menekan belakang kepalaku kuat-kuat ke vaginanya, hingga mulutku menyatu dengan vaginanya, sedangkan cairan vaginanya menetes keluar dengan derasnya.

Lebih lima menit kuisap cairan yang keluar dari vaginanya, tiba-tiba kudengar bunyi, “Croott… Croott… Seeerrrr…!” Mama mengalami orgasme yang begitu hebat, hingga mengeluarkan cairan vaginanya. Semua cairan itu kuhirup dengan bibir dan mulutku meskipun ada juga yang muncrat mengenai wajahku. Bisa kurasakan aliran cairan hangat dari vaginanya yang terasa asin dan khas sekali.

Beberapa saat ia menggelinjang-gelinjang menahan nikmat, kemudian gerakannya perlahan-lahan melemah dan ia tergolek di sofa dengan mata terpejam penuh kepuasan. Aku pun bergerak ke atas menindih tubuh mama. Mama membuka mata saat wajahku tepat berada di atas wajahnya. Kutatap mata mama dan mama tersenyum membalas tatapan mataku. Tatapan dan senyuman yang mengekspresikan kepuasan dalam batinnya karena telah berhasil merengkuh kenikmatan orgasme denganku walau hanya menggunakan lidahku.

“Aku masuk ya ma …” Kataku meminta ijinnya sambil mengusap-usap belahan vagina dan klitortisnya dengan kepala kontolku yang sudah licin akibat air cintanya. Mama mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Akhirnya kuarahkan kepala penisku ke lobang vagina mama sambil kutekan secara perlahan-lahan. Mama menggigit bibirnya berusaha menahan kenikmatan yang akan menghampirinya. Perlahan penisku mulai masuk dan menyeruak ke dalam relung vaginanya yang sudah sangat basah. “Blessss…!” Penisku pun akhirnya terbenam seluruhnya di dalam vagina mama. Kudiamkan penisku sebentar, berusaha menikmati ketatnya lubang vagina mama dan kedutan-kedutan nikmat yang menjalar di seluruh batang penisku.

Setelah lorong vagina mama mulai memijit-mijit halus penisku, aku pun mulai menggerakan pantatku maju dan mundur. Kejantananku pun mulai keluar dan masuk secara perlahan di dalam lubang nikmatnya. Mama mendesah dan berusaha meresapi setiap gerakan keluar masuk penisku di dalam tubuhnya. Aku pun mempercepat gerakan maju dan mundur pantatku, sehingga suara kecipak berpadunya kelamin kami semakin riuh meramaikan suasana. Di tambah lagi, suara beradunya selangkanganku dengan selangkangan mama semakin menambah merdu dan bernafsunya acara persetubuhan kami. Semakin lama, gerakan kami pun semakin liar.

“Uugghh, sayang … Ganti posisi … Mama ingin di atas …” Pinta mama pelan dan mendesah.

Aku turuti kemauannya dengan mencabut penisku dari vagina mama lalu beranjak dari atas tubuhnya. Aku bantu mama untuk bangkit kemudian aku duduk di atas sofa.

Dorongan kecil membuat tubuhku tersandar di senderan sofa di belakangku. Mama melumat bibirku dengan nafsu. Tubuhnya menyusun posisi, dan tekanan telapak tangannya di dadaku seakan-akan melarangku bergerak. Perlahan dalam cumbuan mama, kurasakan satu liang lembab dan hangat kini perlahan menelan batang penisku, memulas dengan denyutnya, terus ke bawah hingga masuk seluruhnya. Aku menarik nafas sambil bersiap untuk menerima penetrasi. Dengan tatapan lembut dan menantang, mama pun mulai menari. Naik turun pinggulnya, benar-benar membuatku serasa menjadi raja. Tak segan tanganku meraih buah dadanya yang tersentak-sentak akibat gerakan tubuhnya. Sesekali mama terhenti dan menarik kepalaku ke dadanya sambil menekan penisku dalam-dalam ke vaginanya, saat itulah di dalam vaginanya, penisku seperti dilumuri lendir hangat. Beberapa saat mama seperti melayang dalam nikmatnya untuk kemudian mengayun lagi.

Kami pun bersetubuh lebih sepuluh menit dengan posisi tersebut. Melihat peluh mama yang menetes didorong juga oleh hasrat ingin membalas, kupeluk mama, kuatur kedua kakinya dan perlahan kuarahkan ia agar menungging. Kubalikkan badanya mama hingga badannya tengkurap di sofa dengan kaki menumpu di lantai, dan kunaikkan pantatnya sehingga lubang vaginanya ikut naik dan merekah. Kuposisikan kejantananku di depan vaginanya dari arah belakang dan penisku pun kembali menyeruak masuk ke dalam vagina mama. Aku pun menggerakan kembali pantatku maju dan mundur sehingga penisku kembali menyeruak masuk seperti piston yang sedang bekerja. Dengan irama yang teratur, diselingi sentakan dan tekanan pada vaginanya, kubuat mama semakin terlena. Dalam posisi doggy style ini, bisa kurasakan vaginanya sangat menjepit penisku sehingga membuat aku semakin bernafsu menyodoknya.

Dengan sangat bersemangat aku terus mengayun pinggulku. Aku lesakkan terus menerus penisku ke vaginanya. Sampai pada satu titik, kurebahkan dadaku hingga menempel di punggung mama. Penisku tanpa lelah terus timbul tenggelam di balik lubang nikmatnya. Mama pun terus bergerak, sesekali memutar pinggulnya memberikan sensasi luar biasa pada penisku. Dengan gerakan yang seirama, kami berdua berjuang mencari satu titik yang sama. Titik yang menjadi final dari setiap percintaan.

“Aaahh … Maam..maaa … Udaahh maauuu … Keeeluuaaarr …!” Desah mama.

“Kita keluarin bareng maaa ….” Balasku.

Mama pun semakin mendesah dan menikmati pompaan penisku dalam vaginanya. Kuremas payudaranya yang menggantung dengan kedua tanganku sambil penisku terus memompa vaginanya dengan penuh nafsu sampai terkadang kepala penisku mentok dan menyundul rahimnya. Ketika penisku mentok dan menyundul rahimnya, mama semakin mendesah dan mengerang kenikmatan.

“Maaa..maaa … Keeluuuaarrrr … Aaaaccchhh …!!!” Erang mama yang tidak kuasa menahan gelombang orgasmenya. Dinding vaginanya meremas-remas penisku. Aku pun menegakkan tubuh dan melihat bagaimana penisku membelah bibir merah sumber kenikmatan. Lubang itu mengeluarkan cairan berbusa yang mengakibatkan kejantananku dipenuhi busa putih. Lendir kenikmatan. Dan tak lama berselang, kurasakan penisku berdenyut hebat akibat aliran spermaku yang mulai berbaris antri ingin segera keluar dari batang penisku.

“Aaaaakkkhhhh …..” Aku mengerang.

“Croott … Croott … Croott …” Spermaku berhamburan keluar dari tempatnya. Tubuhku bergetar liar karena lubang nikmat mama berhasil membawaku ke puncak kenikmatan.

Dan saat kami menemukan, kami berdua pun terbang bersama-sama, beberapa saat kami seperti lupa dan terus menikmati sampai akhirnya mereda. Kecupan kecil di tubuh mama sudah jadi kebiasaan yang kulakukan tiap selesai bercinta. Perlahan aku turun dari tubuh mama yang masih terkulai lelah. Aku tarik tubuhnya agar duduk di pangkuanku. Mama masih terlihat lemas, ia duduk di atasku sambil memeluk leherku dengan kepala bersandar di bahuku. Sementara tanganku melingkari pinggangnya sebagai penahan tubuh mama.

“Sayang …” Tiba-tiba mama membuka suara.

“Ya, ma …” Kataku sambil masih memeluknya.

“Kamu bantu mama ya … Tolong promosiin salon mama ke teman-temanmu …” Ucap mama sambil melepaskan pelukannya.

“Pasti aku bantu, ma … Tenang saja, nanti akan aku bawa teman-temanku ke sini …” Kataku sambil tersenyum.

“Mama berharap usaha mama berjalan lancar … Mama ingin sekali punya uang lebih …” Ucap mama lagi.

“Ya ma … Pasti aku bantu …” Tegasku.

Setelah tenaga kami cukup pulih, kami pun berpakaian kembali kemudian merapikan diri. Aku dan mama ngobrol di lantai satu sambil menunggu calon pegawai salon yang sudah mama hubungi. Tak lama, satu persatu pegawai salon berdatangan. Keseluruhan ada empat pegawai, kesemuanya wanita berusia 25 sampai 30 tahun yang bernampilan sexy. Dari keempat pegawai salon, aku sangat tertarik pada Tary. Wanita ini memang memiliki body dengan sex appeal paling menonjol. Tingginya tidak kurang dari 160 cm, bra 36C, bermata agak kebiruan, dan berbibir sedikit tebal. Hal tersebut yang menjadi daya tariknya, hingga muncul keinginanku untuk mengajaknya kenalan duluan daripada yang lain.

“Hai …” Sapaku sambil duduk di sebelahnya.

“Hai …” Balas dia ramah. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk sebuah senyuman manis.

“Tinggal di mana?” Tanyaku.

“Deket sini kok mas … Di belakang kompleks ini …” Jawabnya.

“Single?” Lanjutku.

“Double … Eh, triple deng … Hi hi hi …” Tary mulai mencandaiku.

“Maksudnya triple karena ada anak …” Aku coba meluruskan.

“Hu uh …” Tary menjawab dan mengangguk.

“Mudah-mudahan mbak mau kerja di sini … Dan betah di sini …” Kataku.

“Saya yang berharap mas dan ibu menerima saya kerja di sini … Cari kerja susah, mas.” Katanya sedikit memelas.

“He he he … Ya udah, mbak langsung saya terima kerja …” Candaku.

Obrolan pun berlanjut. Kami berdua semakin seru berbincang-bincang banyak hal. Candaan dan gurauan serta gelak tawa mengiringi obrolan kami. Tak lama, pegawai salon yang lain pun ikut nimbrung hingga kami semua terlibat perbincangan seru. Mereka sungguh menggemaskan meskipun sampai-sampai sering membuatku horny sendiri karena kenakalan dan kegenitan mereka. Kejantananku menggeliat lagi tak nyaman di balik celana, padahal baru beberapa jam yang lalu mengeluarkan sperma.

Mama mulai memberikan instruksi kepada para pegawainya. Rupa-rupanya hari kerja pun sudah dimulai. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan mengitari kompleks ruko ini. Puluhan ruko-ruko di kompleks ini telah disulap menjadi tempat usaha yang terlihat elegan dan rapi. Saat berjalan kembali ke salon, tiba-tiba smartphone-ku berdering. Kulihat nama di layar, ternyata temanku yang bernama Ricky yang menelpon.

“Hallo, brother … Kemana aja?” Sapaku sumringah.

“Baru balik dari Amrik, bro … Lo di mana?” Ucapnya dengan gayanya yang jumawa. Memang temanku ini termasuk orang yang tajir melintir, uangnya tidak berseri.

“Gue ada di Jalan Kemuning, bro … Di kompleks ruko Sartika …” Kataku yang sebenarnya belum selesai, keburu disambarnya.

“Gue ke sana … Ntar, gue kontak lagi …!” Selesai dia bicara saat itu juga sambungan telpon terputus.

Aku tatap smartphone-ku dengan pandangan aneh. Temanku itu ‘ujug-ujug’ ingin menemuiku. Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada kombinasi antara angin dan hujan, tiba-tiba Ricky mau datang menemuiku. Ini sangat diluar kebiasaan, karena aku sebenarnya kurang akrab dengan temanku yang satu ini. Lagi pula, Ricky berkarakter ‘memilih-milih’ teman dekat, dan aku bukanlah salah satu teman dekatnya. Aku pun segera berjalan cepat kembali ke salon. Sesampainya di salon, aku berdiri di teras salon menunggu kedatangan Ricky.

Sekitar lima belas menit berselang, Ricky pun menghubungiku lagi. Dia sudah berada di kompleks ruko. Setelah aku beritahukan posisiku, tak lama terlihat mobil Forche warna kombinasi black and red merapat di depanku. Temanku itu keluar dari mobil mewahnya dengan wajah agak ditekuk. Aku bisa melihat kesal di dalam matanya. Senyumannya pun terlihat sangat dipaksakan.

“Bro … Kenapa tuh muka?” Sapaku sambil mencandainya. Ricky menjabat tanganku erat sambil geleng-geleng kepala.

“Gue butuh bantuan lo, Bim …” Suaranya terdengar berat karena menanggung perasaan yang dipendamnya.

“Bantuan? Emang ada apa?” Tanyaku heran.

“Kita cari tempat enak buat ngobrol …” Ucapnya tidak menjawab pertanyaanku.

“Di dalem aja …!” Ajakku sambil menarik tangannya.

“Heh … Ini salon … Kita bukan mau nyalon …!” Kata Ricky agak sewot.

“Salon nyokap … Kita ngobrol di atas …” Ajakku lagi dengan tarikan tangan yang semakin kencang.

Ricky pun akhirnya mau diajak masuk ke dalam salon. Kami langsung disambut dengan tatapan para wanita saat sudah berada di dalam. Semua memberi anggukan dan pandangan takjub pada temanku ini. Aku bisa memakluminya, karena Ricky adalah pria yang sangat tampan. Tinggi, berkulit putih khas Asia dan tubuh yang sangat sexy juga gagah. Aku dan Ricky melintasi para wanita, termasuk mama, langsung menuju lantai dua dan ke kantor mamaku.

“Lo mau minum apa?” Tanyaku sesaat setelah Ricky duduk di sofa.

“Gak usah, bro … Eh, tadi cewek yang pake baju biru muda … Siapa bro?” Tiba-tiba Ricky bertanya tentang wanita yang dilihatnya di bawah tadi.

“Biru muda?” Tanyaku sambil mengkerutkan dahi.

“Iya … Cakep bener …” Ucapnya lagi sambil tersenyum.

“Sialan lo …! Itu nyokap gue …!” Jawabku sembari menggelengka kepala.

“Upss … Sorry … He he he …” Ricky menutup mulutnya terlihat malu.

“Dah … Lo mau minum apa?” Tanyaku lagi.

“Gak lah bro … Langsung aja ke inti persoalan … Anter gue nemuin dosen … Masa empat mata kuliah gue gak ada nilainya?” Ucap Ricky mengutarakan persoalannya.

“Ya … Iyalah … Pantes gak dikasih nilai … Karena Lo gak pernah masuk kuliah.” Ungkapku sambil tersenyum.

“Gue tau … Tapi bisa lah diusahakan supaya nilai gue keluar … Gue males kalau harus ngulang taun depan!” Kata Ricky sambil menatapku penuh harap.

“Kebiasaan banget sih lo … Jadi maksudnya, gue yang harus nemuin itu dosen?” Kataku agak malas.

“Berapa pun gue bayar …” Lirih Ricky sambil memegang tanganku.

“Ah, lo mah ada-ada aja! Niat kagak kuliah?” Kataku lagi meninggi.

“Please lah, bro … Cuma lo yang deket ama dosen-dosen di kampus …” Pinta Ricky semakin memelas.

“Gue dapet apa?” Aku mulai menawar.

“Lo tinggal sebut aja …” Tantang Ricky.

“Sepuluh juta … Langsung deal …!” Aku tentukan harga tinggi dengan harapan temanku ini mundur.

“Ha ha ha … Deal … Gue cash langsung …” Ucapnya sangat ringan.

“Sial … Kurang gede …!” Batinku kesal.

Ini kali ketiganya aku membantu Ricky melakukan ‘gratifikasi’ kepada dosen-dosen di fakultas. Temanku ini berani membayar berapa pun harganya demi nilai kuliah yang tidak pernah ia ikuti. Tampaknya hal ini sudah menjadi kebiasaan Ricky karena sudah kelebihan uang. Sepertinya raja-raja inggris, uangnya sudah tidak berseri lagi. Akhirnya, kami pun menyusun rencana untuk menemui dosen-dosen yang dimaksud. Saat itu juga, aku membuat janji bertemu dengan para dosen tersebut.

“Beres …! Mana duit gue!” Kataku sambil meletakkan smartphone di meja.

“He he he … Thanks, bro …” Ucap Ricky sambil tangannya masuk ke dalam jaket lalu segepok uang berwarna merah ia keluarkan dari dalam jaketnya. “Ini uang lo! Gue bayar tunai …” Ricky meletakkan uang itu di atas meja.

“Siapin aja duit untuk semua dosen … Besok gue mulai nemuin mereka …” Kataku sambil mengambil uang pemberian Ricky dari meja.

“Laksanakan komandan! Ha ha ha …” Tertawa Ricky begitu lepas.

Kami berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya kami turun ke lantai satu. Sungguh, aku harus mengakui ‘kepiawaian’ Ricky dengan masalah wanita. Tidak butuh waktu lama, temanku ini langsung bisa akrab dengan para wanita di salon, termasuk juga dengan mamaku. Dia benar-benar playboy kelas kakap. Eh tidak, mungkin kelas ikan paus, karena Ricky benar-benar memiliki segalanya untuk menjadi seorang playboy. Wajah tampan dan menawan ditunjang dengan harta yang melimpah ruah merupaka kombinasi yang mematikan untuk menaklukan hati para wanita.

Beberapa saat kemudian, aku lihat Ricky nampaknya mulai ‘mepet’ ke mamaku. Mama dan Ricky terlibat obrolan yang sangat akrab. Aku bisa tahu, sorot mata Ricky yang memang menyukai mama. Untungnya mama terlihat tenang dan melayani Ricky sewajarnya. Kini aku merasakan kalau Ricky mulai melancarkan jurus-jurusnya. Rayuan mautnya sangat halus dan layak mendapat predikat perayu maut. Aku perhatikan juga mama sedikit ‘salah tingkah’ dan ‘termakan’ oleh ucapan Ricky. Segera saja aku tarik temanku ini keluar salon dan mengantar ke mobilnya. Bisa runyam urusan kalau dia berlama-lama di sini.

“Salam buat nyokap lo … okay …!” Ucap Ricky setelah ia berada di belakang setir mobilnya.

“Pala lo peang!” Makiku kesal.

“He he he … Gue bakalan sering-sering ke sini, bro … Ha ha ha …” Ucapnya lagi ringan.

“Ah, udah! Buruan minggat!” kataku setengah mengusir.

“Ha ha ha … Besok gue ke sini lagi … Ngasih duit buat dosen …” Katanya sambil melajukan mobilnya perlahan.

Aku tatap mobilnya hingga tidak lagi terlihat oleh pandanganku. Setelah itu, aku masuk kembali ke dalam salon. Para wanita tersenyum padaku, seperti ada sesuatu yang membuatnya begitu terlihat senang. Pesona Ricky sungguh sangat memikat hati para wanita, buktinya obrolan kami kini seputar sosok pria tampan dan kaya itu. Aku diberondong pertanyaan tentang Ricky oleh para wanita ini. Aku pun menjawab pertanyaan mereka agak sewot dan ada rasa sedikit cemburu.

Waktu terus berlalu, detik menjadi menit, dan menit berganti jam. Hari sudah melewati pertengahan. Mama memutuskan untuk menutup salon dan kami semua kembali ke rumah masing-masing. Mama menutup siang-siang karena hari ini memang hanya pengenalan saja. Waktu kerja yang efektif akan dimulai besok.

Sepanjang perjalanan kami ngobrol berkisar rencana pengembangan bisnis salon mama. Banyak yang akan mama lakukan untuk menarik pelanggan. Aku hanya bisa mendengarkan penjelasan mama karena aku sangat buta dengan masalah marketing.

“Selain Ricky … Apa ada lagi kawanmu yang seperti dia?” Tiba-tiba mama menyinggung si playboy lagi.

“Hhhhmm … Ada … Tapi gak setajir dia …” Jawabku agak malas.

“Kamu undang ya, ke salon mama …” Ucap mama yang membuatku terkejut.

“Loh … Kenapa?” Tanyaku heran.

“Mereka itu aset, sayang … Pelanggan yang sangat potensial …” Jawab mama santai. Aku terdiam mencoba mencerna ucapan mama barusan. Dan perasaanku tiba-tiba menjadi kurang enak. “Sayang ….!” Lanjut mama yang membuat lamunanku buyar seketika.

“Eh … I-iya … Nanti aku coba bawa mereka ke salon …” Jawabku terbata-bata.

Mama terus bercerita tentang ‘pelanggan-pelanggan potensial’ sepanjang perjalanan pulang ini. Aku menangkap kesan yang kurang baik tentang penjelasan mama tentang itu. Tetapi aku tidak berani menyanggahnya sedikit pun. Akan aku lihat saja perkembangan usaha mama dengan rencana-rencana yang dibuatnya.

Tak terasa, kami sampai juga di rumah. Aku langsung masuk ke dalam kamarku. Di dalam kepenatan tubuh, aku mandi dan akhirnya membaringkan tubuh di atas kasur yang nyaman. Hanya dalam hitungan detik, aku sudah memejamkan mata. Tiba-tiba smartphone-ku berdering, tanda ada pesan yang masuk. Aku raih smartphone yang aku letakkan di kasur sembarang tadi sebelum mandi. Mataku terbuka dan melihat identitas si pengirim pesan di layar smartphone. Aku pun tersenyum saat melihat nama si pengirim pesan.

BERSAMBUNG.