Mama Yang Terbaik Part 5

0
4938

Hari demi hari terus berlalu, tak terasa sudah satu minggu aku terus ‘mengulur’ bulek Tuti yang tetap ingin menjalin ‘hubungan gelap’ denganku. Cerita masa lalu yang sangat sulit untuk diulang kembali, terlalu banyak rintangan dan mama menjadi rintangan terbesar dalam ‘hubungan gelap’ ini. Sifat arogan dan semua sifat buruk yang dimiliki bulek Tuti membuat mama sangat membencinya. Mama sangat tidak suka akan sikap bulek Tuti yang sombong dan selalu membangga-banggakan hartanya. Masalahnya aku harus menjaga perasaan mama, oleh karena itulah aku memilih untuk selalu menjaga jarak dengan bulek Tuti.

Terlebih lagi sudah beberapa hari ini mama terlihat murung. Mama yang biasanya ceria dan sering bercanda tiba-tiba jadi pendiam. Bukan hanya itu, sepertinya mama juga kehilangan selera makan. Mama hanya makan sedikit sekali. Aku jadi tidak tega melihatnya. Sebenarnya aku tahu penyebab mama menjadi begitu. Mama gagal mendekati Pak Husni karena pria itu sudah ‘tidak berselera’ lagi kepada mama. Otomatis keinginanya untuk mempunyai usaha sendiri harus ia lupakan.

Siang ini, kantin kampus tidak terlalu ramai. Mungkin karena hari ini adalah hari kejepit nasional karena kemarin dan besok adalah tanggal merah, jadi beberapa mahasiswa memutuskan tidak masuk bareng-bareng. Aku tersenyum kepada penjaga kasir sambil membayar roti dan jus jeruk yang aku pesan, lalu pergi. Aku mencari-cari bangku yang kosong tetapi aku mendapatnya lebih ke arah jalan. Aku memakan roti lapis kejuku sambil menikmati suasana kota yang ribut. Dan pada gigitan ketiga, tiba-tiba seorang pria berpenampilan necis dan bersahaja sudah berada di dekatku. Mata kami saling beradu. Beberapa detik kemudian pria itu langsung bersuara.

“Maaf … Apakah saya sedang berhadapan dengan Mas Bima?” Tanya pria itu padaku. Ucapannya begitu sopan dan dijaga dengan baik.

“Be-benar … Maaf, bapak siapa ya?” Aku balik bertanya dan sengaja menyebutnya bapak karena kulihat pria ini memang pantas disebut demikian. Tanpa mendapat izin dariku, pria ini langsung duduk di kursi depanku.

“Nama saya Anwar … Saya teman dekat ibumu, tapi dulu sekali … Tolong berikan ini pada ibumu …” Kata pria perlente itu sambil menyodorkan amplop surat kepadaku.

Aku ambil amplop surat dari tangannya seraya memandang curiga. Pria itu membalas tatapanku dengan pandangan teduh dan senyuman bersahabat. Dan tiba-tiba ia berdiri dan berlalu dari hadapanku. Aku pun melongo melihatnya yang terkesan sangat misterius itu. Mataku baru mengalihkan pandangan setelah ia tidak terlihat lagi. Perlahan amplop surat itu aku masukkan ke dalam tas. Terlintas di otakku kalau pria itu adalah mantan pacar mama. Tapi, aku masih mengira-ngira antara yakin atau tidak.

Setelah aku habiskan makanan dan minuman, segera aku langkahkan kaki ke parkiran kampus. Sesampainya di parkiran, kunyalakan mesin mobil dan kulajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah. Pikiranku masih tertuju pada orang tadi dan aku kini mempunyai keyakinan kalau ia adalah mantan pacar mama. Entah mengapa timbul perasaan cemburu dalam diriku. Sepertinya aku tidak rela kalau mama disentuh orang lain.

Setelah tigapuluh menitan di jalanan, akhirnya aku sampai juga di rumah. Aku masuk ke dalam rumah lewat pintu samping garasi. Kudapati mama di ruang tengah yang sedang asik menonton drama korea kesukaannya. Mama melirik sekilas padaku dan kembali fokus dengan drama koreanya. Aku duduk di sebelah mama dan mama langsung merangkulku.

“Kalau mau makan … Beli aja ya …” Kata mama.

“Aku sudah makan … Ma … Ini ada yang ngasih surat buat mama …” Ucapku sambil memberikan amplop surat padanya.

“Surat??? Dari siapa???” Mama cukup terkejut, ia menengok ke aras surat yang aku sodorkan.

“Tadi di kampus ada orang yang mendatangiku …. Ngakunya sih Anwar … Dia …” Ucapanku belumlah tuntas keburu mama memikik keras.

“Anwar!!!!” Pekik mama sambil menyambar surat yang ada di tanganku kasar.

Aku melihat mimik mama berubah, ada ketegangan yang tersirat di manik matanya. Mama membuka amplop itu dengan tergesa-gesa, mengeluarkan isinya, lalu membacanya. Jari jemarinya bergetar, wajahnya mulai berkeringat yang bercampur dengan air mata, namun dari bibirnya muncul sebuah senyuman. Semua itu tidak bisa aku terjemahkan, sebenarnya ada apa dengan mama sekarang ini.

“Ma … Siapa dia?” Tanyaku setelah mama selesai membaca surat. Mama menatapku dalam lalu memelukku sangat erat.

“Dia kekasih mama, sayang …” Bisiknya di telingaku.

“Terus … Gimana?” Tanyaku khawatir.

“Sudahlah! Jangan dipikirkan lagi … Orang itu sudah pergi, entah kemana … Sekarang mama harus pergi … Ada yang harus mama urus …” Mama mengurai pelukannya lalu beranjak ke kamarnya.

Sungguh sesuatu yang sangat membingungkan. Tiba-tiba saja mama terlihat sangat bersemangat, enerjik dan bergerak cepat. Tak seberapa lama, mama sudah pergi meninggalkan rumah dengan mobilnya. Aku hanya bisa diam dan tak berani bertanya apa-apa pada mama. Ah sudahlah, yang penting mama bahagia dan melihat ekspresi bahagianya itu sudah membuatku senang. Kebahagiaan mama adalah yang utama saat ini.

Aku masuk ke dalam kamar, sambil rebahan berusaha untuk tidur. Namun otakku tidak bisa diajak untuk beristirahat sejenak. Dia memaksaku untuk terus menerus berfikir. Aku terus memikirkan mama, tepatnya mantan pacar mama. Entahlah, orang itu bisa merubah mama dengan cepat. Di satu sisi aku cukup senang karena mama menjadi ceria kembali, di sisi lain aku takut kehilangan mama. Kegelisahan mulai merayapi seluruh sendi-sendiku lalu merayapi tiap hela napas, hinggap di kepala. Kegelisahan itu kini bergumul dalam logika, merambat ke sanubari, hingga jatuh ke jurang ilusi.

“Ah … Sial …!” Makiku sambil bangkit dari tidur.

Aku duduk di tepi ranjang sebelum akhirnya berjalan ke kamar mandi. Aku pun mandi untuk menyegarkan diri dan menghilangkan rasa suntuk. Setelah selesai mandi, aku langsung merapihkan pakaian dan berdandan di depan cermin. Aku memutuskan untuk memandikan mobilku di tempat pencucian mobil. Aku berjalan cepat keluar kamar, mengambil kunci mobil dan segera ke garasi, lalu mengendarai mobil keluar dari rumah.

Tak lama aku sudah sampai di tempat pencucian mobil langgananku. Aku keluar dari mobil dan seorang pegawai membawa mobilku ke posisi siap dicuci. Aku duduk di ruang tunggu sambil menikmati kopi gratis yang disediakan pengelola. Saat aku menyesap sedikit kopi yang masih panas, aku melihat seorang wanita cantik menghampiri mejaku dan tersenyum kepadaku. Aku tidak menyangka akan bertemu dia lagi.

“Siang … Dokter …” Sapa wanita cantik itu padaku.

“Oh … Mbak Ira, kan?” Tanyaku sekedar basa-basi. Padahal aku masih sangat ingat dengan wanita yang menyapaku ini.

“Benar, dok … Nyuci mobil juga?” Tanyanya sembari duduk di kursi sebelahku.

“Iya … Mbak … Jangan panggil dokter ya … Namaku Bima …” Kataku agak berbisik.

“Oh iya … Bima …” Jawabnya sedikit bercanda sambil tersenyum manis.

“Mobil mbak yang mana?” Tanyaku.

“Itu … baru masuk … pas di belakang kamu …” Sahutnya sambil menunjuk mobil mewahnya.

“Ngopi?” Tawarku.

“Oh, nggak … Terima kasih …” Jawabnya.

“Gimana maag-nya? Udah mendingan?” Tanyaku lagi.

“Udah sembuh … Udah gak sakit lagi … Ternyata benar, maag aku ini karena aku terlalu stress … Setelah stress-nya pergi, maag-nya juga pergi …” Jelas wanita cantik itu masih dengan senyumannya yang manis.

“Hhhhmm … memang sih, ada hal unik yang terjadi pada diri seseorang saat merasakan kalut akibat masalah yang dihadapi. Tapi pada dasarnya perasaan stress harus dilawan. Stres yang berkepanjangan akan menyebabkan masalah kesehatan.” Kataku.

“Benar sekali … Oh ya, kenapa kamu gak kerja?” Ira menatapku heran.

“He he he … Aku ini masih mahasiswa, mbak … Aku kemaren kuliah praktek …” Akhirnya aku mengaku identitasku yang sesungguhnya.

“Walaahhh … Kok aku ketipu ya?” Ucap Ira dengan nada bercanda.

“Ketipu gimana?” Tanyaku.

“Gaya kamu itu loh … Seperti sudah menjadi dokter …” Ungkapnya.

Aku pun tertawa kecil sambil menyeruput kopi panasku. Akhirnya kami ngobrol dan berusaha untuk saling kenal. Ternyata Ira orangnya enak diajak bicara. Sebagaimana dengan kategori sifatnya yang terbuka, maka wanita ini mudah akrab dan banyak bicara. Tak lama kami pun sudah saling akrab dan saling memberi informasi tentang diri kami masing-masing. Aku sangat menyukai gayanya, sudut pandangnya, dan cara bicaranya. Ternyata kami mempunyai banyak kesamaan, sehingga aku semakin tertarik dengannya. Ini bukan hanya reaksi sesaat saja, buktinya jelas, dia pun menyukaiku.

Obrolan pun harus kami sudahi karena mobil kami sudah selesai dicuci dan kami pun harus berpisah. Namun ada satu hal yang kutemukan, kami memiliki chemistry yang fantastis, kami menginginkan bertemu dan ngobrol-ngobrol lagi tapi tidak sekarang karena Ira mempunyai keperluan yang tidak bisa ia tinggalkan. Ira melambaikan tangan dan berlalu dengan mobilnya. Aku balas melambaikan tangan, lalu bergerak masuk ke mobilku.

Aku pun meninggalkan tempat pencucian mobil kembali ke rumah. Perjalanan pulang tidak terlalu lama karena selain jarak tempuh yang dekat juga jalanan sangat lengang. Aku masukan mobil ke dalam garasi lalu masuk ke dalam rumah. Aku nyalakan televisi biar ada suara. Horor juga sendirian di rumah. Aku menyibukkan diri dengan membaca buku kuliah di ruang tengah sambil menunggu mama pulang.

Suasana rumah yang sunyi tidak langsung membantuku menghapal apa yang aku baca sejak tadi. Mataku mulai berat. Entah kali keberapa aku menguap. Aku merebahkan badanku di atas sofa dan mulai memejamkan mata. Tidak memakan waktu lama aku pun tertidur pulas. Entah sudah berapa lama aku tertidur, kesadaranku kembali saat sayup-sayup kudengar mama berbicara, namun bukan denganku. Suaranya terdengar begitu lembut, membuatku iri karena mama tidak pernah berbicara selembut itu denganku.

Kubuka sedikit mataku dan hal pertama yang kulihat adalah mama yang duduk di sofa tengah berbicara di telepon entah dengan siapa. Tebakanku pasti pria, karena suaranya begitu lembut. Mama begitu fokus dengan pembicaraannya, begitu menikmati hingga dia menutup mata. Tidak berapa lama, mama membuka matanya lalu mata kami bertatapan. Kedua matanya menatapku dalam. Dan seketika itu, mama memutuskan sambungan teleponnya, terlihat sekali kalau mama sangat tergesa-gesa menyelesaikan pembicaraannya.

“Siapa ma?” Tanyaku sambil bangkit dari posisi terlentangku.

“Teman …” Jawabnya singkat.

“Orang yang ngasih surat?” Tanyaku mengintimidasi.

“Bukan … Ini teman lama …” Jawab mama sambil tersenyum dan ia pun bergerak mendekatiku dan duduk di sampingku lalu memelukku.

“Mama minum ya?” Aku bertanya lagi sambil menatapnya. Aku mencium aroma alkohol dari tubuh mama.

“Sedikit … Mama tadi kumpul-kumpul dengan teman-taman lama … Ya, biasalah kalau udah ngumpul …” Jawabnya santai seperti tanpa beban. Sementara aku sangat terkejut karena aku sungguh baru tahu kalau mama seperti ini.

“Ya sudahlah … Lebih baik mama istirahat …” Kataku.

Mama tersenyum lalu beranjak ke kamarnya. Aku pun masuk ke dalam kamar dan ingin melanjutkan tidur kembali. Sudah kuposisikan tubuhku di atas kasur yang menjadi tempat favoritku, namun sepertinya kali ini mataku tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Entah kenapa aku tidak merasa ngantuk. Sekarang aku hanya bisa bergulingan di tempat tidur tanpa bisa menutup mataku sedikit pun.

“Sayang …” Tiba-tiba suara mama terdengar dari arah pintu kamar. Aku pun menoleh ke arahnya. Sontak aku terduduk di tepi ranjang dengan mata membeliak. “Mama ingin tidur di sini.” Ucap mama lagi sangat menggoda dengan tampilan gaun tidur yang amat tipis sehingga sebagian tubuh indahnya itu terlihat.

“Oh ya … Sini ma …” Jawabku sambil terus memandangi tubuh sexy-nya.

Desir-desir gairah tak pelak perlahan bangkit ketika kaki jenjangnya itu melangkah ke arahku, sorot mata mama terlihat lain, mata coklat indah yang biasanya memancarkan kesan polos pemiliknya kini hilang tanpa bekas.

“Mama lagi penegn … aahh …” Ucap mama lirih di telingaku setelah duduk di sampingku. Seketika tubuhku menegang begitu merasakan desir nafas mama menyapa daun telingaku.

Melihat mama yang begitu manja membuat hatiku luluh bagai es krim yang mencair. Apalagi setelah bibirnya mulai menyentuh bibirku, benar-benar aku tak bisa lagi menolak keinginannya. Bibir kami pun saling melumat dengan nafsu yang menyala-nyala. Tak lama, mama menghentikan ciuman lalu ia bergerak ke bawah dan berjongkok di depanku dengan menumpukan kedua lututnya di lantai. Tangannya membelai batang penisku yang masih terlapisi celana panjang. Ada rasa lega dan menggelora saat mama mulai membuka resleting celanaku, dan saat ia memerosotkannya ke bawah, penisku langsung mengeras, penisku ingin dimanjakannya.

Di bawah sana mama telah berhasil melucuti celana dalamku, hingga batang penisku yang berukuran lumayan besar dan panjang itu terlihat jelas menantang. Mama menggenggam batangku dengan tangan kirinya, sementara kepala penisku diusap-usap dengan jemari tangan kanannya yang lembut sambil sesekali dijilati. Mataku terpejam-pejam ketika lidah mama melumat kepala penisku dengan lembut. Penisku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibayangkan betapa nikmatnya diriku. Bibir mama terasa menarik-narik batang penisku.

Kulihat bibir mama yang tipis itu sampai membentuk huruf O karena penisku yang berdiameter 4,5 cm itu hampir seluruhnya memadati bibir mungilnya. Mama sepertinya sengaja memamerkan kehebatan kulumannya, karena sambil mengulum penisku ia berkali kali melirik ke arahku. Aku hanya dapat menyeringai keenakan dengan servis mama ini. Kemudian mama lebih merentangkan kedua kakiku dan mulai lagi menjilati bagian peka di sekeliling penisku, mulai dari pelirku, terus naik ke atas sampai ke liang kencingku semuanya dijilatinya, yang membuat aku benar-benar blingsatan.

“Aaaaahhhhhhhhh … Ohhhhhhhh …” Desahanku terdengar agak tertahan karena tak ingin membuat gaduh.

Mama melahap semua batang penisku ke dalam rongga mulutnya yang terasa hangat namun basah, setelah mencoba memasukkan pangkal penisku sampai mentok ke dalam tenggorokannya. Kemudian, mama pun memaju mundurkan kepalanya pada pangkal penisku sambil beberapa kali melirik genit ke arah mataku. Kepalaku hanya bisa mendongak ke atas sambil mengelus rambutnya dan merasakan servis blowjob-nya yang nikmat.

Aku pun sudah tak kuasa menahan nafsu birahiku yang sudah sanggat tinggi ini. Dengan cepat kuraih lengan mama untuk membantunya berdiri dan langsung kuarahkan badannya terlentang di atas kasur. Kulucuti celana dalam merah mudanya yang tipis sehingga vaginanya terekspos dengan jelas dalam pandanganku. Terlihat belahan merah merona di tengah vaginanya sangat membangkitkan gairah. Lalu kurangsang dia dengan jilatanku di sekitar permukaan vaginanya hingga ujung lidahku masuk ke dalamnya, mama mengerang lumayan keras ketika merasakan kenikmatan yang sedang aku berikan.

“Oohhhhhh … saayyaanggg … nikmat banget …” Erangnya. Terkadang kusedot bagian dalam vaginanya dengan mulutku, tentu saja, semakin kurangsang akan membuat lubang vaginanya menjadi basah sehingga mempermudah penisku untuk masuk saat melakukan penetrasi nanti.

Setelah puas menjilati vaginanya, kuarahkan penisku yang sudah keras mengacung dengan maksimal ke arah lubang vagina mama untuk melakukan penetrasi. Perlahan, penisku mulai menerobos masuk ke dalam vaginanya yang hangat. Penisku menyeruak masuk tanpa penghalang. Cairan pelumas yang sudah membasahi rongga kemaluan mama membantu penetrasiku, hingga akhirnya seluruh penisku tertanam, mentok di vagina mama. Aku diamkan sesaat sebelum kugoyangkan. Aku ingin menikmati bibir tipis mama, yang saat ini sedang terpejam meresapi pertemuan kedua alat kelamin kami, merasakan setiap gesekan-gesekan kecil yang terjadi. Aku juga bisa merasakan denyutan vaginanya yang seakan memijit pangkal penisku dengan nikmatnya, kubiarkan penisku menancap terlebih dahulu sambil menikmati sensasi hangat dan pijitan otot di dalam vaginanya.

“Memek mama enak sekali …” Bisikku menggoda mama.

“Hmmpp … Kaammuuhh suukhaaa aaahh?” Tanya mama sambil mendesah nikmat.

“Sukaaah bangeth … oouuggghh …” Jawabku.

Tiba-tiba kurasakan ada gerakan meremas dari dalam liang kemaluan mama. Dia sedang berusaha memberikan remasan yang sangat nikmat pada penisku. Ooh, ini rasanya luar biasa, membuatku semakin tak tahan, hingga aku memulai sodokanku dengan gerakan yang langsung cepat. Digoyang seperti ini membuat desahan mama semakin kencang. Dia pun ikut menggoyangkan pantatnya menyambut setiap sodokanku. Pinggulku seakan tak mau berhenti bergerak, mengayun menghujam vagina mama kuat-kuat.

Penisku bergerak cepat menggosok vagina mama. Kurasakan otot-otot vaginanya kembang kempis merasakan hangat benda besar milikku. Lubang nikmatnya semakin longgar dan semakin basah dengan lelehan bening yang terus mengalir sehingga penisku semakin lancar bergerak di dalamnya. Mama mendesah-desah semakin tidak terkendali saat gerakan di dalam tubuhnya semakin cepat dan bertenaga. Tangan mama terus memegang erat bahuku bahkan rambutku terus dia jambak. Aku semakin buas dan ganas saat itu. Keringatku jatuh mengalir turun, wajahku memerah menegang. Aku percepat gerakkanku, aku dorong penisku dengan keras dan kuat.

Gerakan memompaku semakin cepat. Kadang diselingi dengan gerakan memutar, sehingga kejantananku masuk tidak lurus tetapi lebih menekan dinding samping kiri dan kanan kewanitaannya. Beberapa menit kemudian mama meregang, “Ooocch … mmm … saayyaangg …!” Dan mama mencapai orgasmenya. Aku menarik tubuhnya hingga duduk di atas pangkuanku. Aku memeluk sambil tangan kananku mengusap-usap lembut kedua bukit payudaranya untuk memperlama masa orgasme yang dialaminya. Kurasakan beberapa detik tubuh mama mengejang-ngejang dengan mata terbeliak-beliak. Mama kelojotan mengalami orgasmenya, begitu panjang dan sangat nikmat sekali kelihatannya.

Tidak lama setelah orgasme mama lewat, aku memintanya menungging. Mama pun menuruti permintaanku, pantat mama kini menghadap ke arahku dan aku masukkan lagi kejantananku ke dalam lubang kewanitaannya dari arah belakang. Kami melakukan gaya doggy style. Karena irama kecepatan gerakanku pelan, tetapi sangat keras ketika menancapkan kejantananku, maka begitu keras bunyi pahaku ketika beradu dengan pantatnya. Mama mulai tampak tersengal-sengal dan akhirnya kepalanya jatuh ke atas bantal. Aku tetap menggoyang-goyangkan buah pantatnya, lalu tiba-tiba aku melepas kejantananku perlahan.

Wajah mama tampak bertanya-tanya, gaya apa lagi yang akan aku lakukan. Aku duduk di atas kasur, dan kini tubuh mama yang duduk tegak, naik turun di atas tubuhku. Tangan kami saling berpegangan untuk memberi ekstra support bagi tubuh mama yang naik turun cukup tinggi. Kejantananku sering hampir terlepas setiap kali ia menaikkan tubuhnya. Kedua mataku tak henti-hentinya memandangi payudaranya yang terayun-ayun indah di balik gaun tipisnya yang tidak sempat aku buka.

Menjelang datangnya puncak kami berdua, kami pun merubah posisi lagi. Kini mama yang berbaring terlentang. Aku mengangkat kedua kakinya ke atas bahuku, dan aku bergerak maju mundur. Kadang aku satukan kedua kakinya sambil tetap memompa. Kadang kedua kaki itu aku miringkan 45 derajat sambil terus maju mundur berirama, yang semakin lama semakin cepat dan semakin cepat lagi.

Orgasme mama yang telah tertunda kini mulai mendekati puncaknya. Aku merebahkan kedua lututnya ke depan, sehingga aku setengah berdiri sambil terus memompanya, dengan irama kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. Rasanya puncak nikmatku pun mulai akan segera datang, dan aku tidak akan mampu menahannya lebih lama lagi.

“Lebih cepattt Saayyy … lebih kerasss …!!” Jerit mama. Irama yang makin cepat dan tekanan yang makin kuat membuat seluruh batang kejantananku benar-benar merasakan remasan kuat dinding-dinding kewanitaan mama yang sangat basah.

“Aaahh … aaahhh …!” Aku membalas jeritannya.

“Aaaaaccchhh … Keelluuuaaarrr … Saayyaannggg …!” Jerit mama yang langsung aku ikuti, “Aaaaacchhh … Aaaaaacchhh…!” Dan lava kentalku yang telah cukup lama mendesak-desak di dalam kejantananku, tiba-tiba meledak muncrat dengan kuatnya di dalam kewanitaan mama.

Peluh kami bercucuran. Aku ambruk di atas tubuh molek mama dengan bertopang pada kedua siku tanganku. Mama mengunci erat pinggangku dengan kedua kakinya, sambil tangannya memeluk erat leherku. Aku mencium keningnya lembut, di tengah nafas kami berdua yang masih tersengal-sengal. Aku memandang ekspresi nikmat wajah cantiknya. Sesaat setelah nikmat orgasme kami berlalu, aku melihat mama tersenyum puas. Lalu ia mencium bibirku, dibelainya lembut kepalaku.

“Aku mencintaimu, ma …” Kataku pelan sambil menatap matanya.

“Mama juga, sayang … Tapi mama mau … Sejak saat ini juga, jangan ada hati di antara kita … Anggap saja kita saling membutuhkan, tidak lebih … Mama ingin bebas dan tidak mau terikat apapun denganmu … Dan kamu pun harus berpikiran sama dengan mama … Puas-puasin masa mudamu dengan siapapun …” Ungkap mama dan aku mencerna dengan baik apa yang diucapannya tadi.

Seketika itu pula aku terpaku dan sadar diri. Seakan-akan itu adalah sinyal yang kurang baik untukku. Kurang lebih seperti itulah pikiran burukku bahwa mama tidak ingin terikat dan tidak ingin lebih dekat lagi denganku. Baiklah, mau tidak mau, aku harus menerima dengan lapang dada. Aku juga tidak akan mengklarifikasi lebih lanjut apa maksudnya dan mengapa alasannya. Meskipun demikian, itu tidak akan mengurangi kebaikan yang aku berikan kepada mama. Aku akan tetap berusaha membuat mama terseyum.

BERSAMBUNG – Mama Yang Terbaik Part 05 | Mama Yang Terbaik Part 05 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 04 ) | ( Part 06 ) Selanjutnya