Mama Yang Terbaik Part 4

0
4894

Pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam tubuhku. Olahraga adalah hal yang selalu kulakukan setiap pagi. Dengan berolahraga secara teratur selama 30 menit, tubuhku terasa lebih segar dan tidak mudah lelah dalam melaksanakan segala aktivitas. Badanku lumayan berkeringat setelah jogging mengelilingi kompleks perumahan. Sebelum benar-benar berhenti, aku pun melakukan pelemasan tubuh dengan melakukan latihan pernafasan di halaman rumah. Baru saja selesai pelemasan, smartphone-ku berdering. Aku ambil smartphone dari saku celana training, sejenak aku lihat identitas si penelepon lalu aku sambungkan hubungan teleponnya.

“Hallo … Gimana? Berhasil?” Sapaku sambil bertanya pada Iwan sang penelepon.

“Suram, Bim …” Suara Iwan terdengar lesu.

“Kok bisa suram sih? Kan tinggal ekse aja? Kemarin si bibi Lilis udah mau, kan?” Aku terheran dengan ketidakberhasilan sepupuku itu.

“Ya sejak itu, bunda seperti menghindar-hindar terus … Seperti yang marah …” Jawab Iwan semakin terdengar lesu.

“Coba lagi, Wan … Pelan-pelan …” Saranku.

“Ah, aku keder, Bim … Ah, suram deh … Kalau kamu gimana?” Tanya Iwan.

“He he he … Aku mah lagi bulan madu, Wan …” Candaku.

“Ah, sial … Bantu dong, Bim!” Kata Iwan merajuk.

“Bantu apaan?” Tanyaku sambil ingin tertawa.

“Ya bantu aku buat bisa dapetin si bunda …” Katanya memelas.

“Hhhmm … Ya deh … Ntar aku bantu, tapi jangan sekarang … Bulan depan deh aku ke tempat kamu … Sekarang kamu tenangin diri dulu …” Kataku lagi.

“Ok, siap … Ditunggu loh, Bim ..” Ucap Iwan.

“Okay …” Jawabku sambil memutuskan hubungan telepon.

Aku masuk ke rumah dan menyimpan smartphone di bufet kayu di ruang tengah. Langsung saja aku ke kamar mandi karena ingin buang air sekalian mandi. Beberapa menit berselang, aku melangkah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aku hanya mengenakan celana kolor. Badanku segar setelah mandi, walau hanya sebentar. Kulihat jam dinding, sekarang sudah pukul delapan pagi. Tapi ibu belum juga bangun.

Aku melangkah ke kamar ibu. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Ibu masih tertidur dengan nyenyaknya dan tubuh ibu terbungkus selimut tebal. Terbayang pergumulanku dengan ibu semalam. Ibu benar-benar menjadi wanita jalang. Sebenarnya aku belum sepenuhnya percaya, ibu yang cantik dan anggun itu berubah menjadi wanita jalang seperti semalam. Ya, aku merasakan sesuatu yang aneh tapi sangat menggairahkan.

Melihat wajah cantik ibu, tiba-tiba gairah birahiku mulai bangkit dan aku merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut. Aku tutup pintu kamar, perlahan-lahan mendekati ibu yang sedang tidur. Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi ibu yang tubuhnya ditutupi selimut. Aku tarik selimutnya secara pelan-pelan hingga menjauh dari tubuhnya. Tubuh sekal nan montok, daging segar nan hidup, seonggok tubuh yang membuat lelaki siapa pun pasti akan suka menikmati kemolekannya.

Tiba-tiba ibu bergerak, kini tubuhnya terlentang pasrah dengan mata masih tertutup rapat. Aku naik ke atas ranjang setelah melorotkan kolorku. Rasanya kejantananku sudah benar-benar butuh dimanja. Aku elus-elus buah dada dan selangkangan ibu secara bersamaan. Perlahan ibu menggeliat dan mendesis. Mata ibu membuka sedikit ingin melihat siapa yang merangsangnya. Setelah tahu, ibu kemudian memejamkan mata lagi, senyumnya tersungging nakal.

Kini aku bergerak ke arah selangkangan ibu. Kuposisikan tubuhku di antara kedua pahanya yang sudah kubuka lebar-lebar. Terlihat gundukan daging yang terbelah di mana ujung atasnya menyembul keluar secuil daging yang tampak mengkilap dan dilengkapi dengan bulu-bulu hitam yang lebat. Perlahan-lahan aku buka vaginanya dengan kedua jari, merah mengkilap isinya, lobang vaginanya begitu indah. Kugerakkan jari-jariku naik-turun menyusuri lembah nikmat itu dan kutemukan tonjolan kecil di bagian atas. Aku lakukan berulang-ulang dengan sangat lembut dan pelan. Setiap kali itu pula kutekan-tekan tonjolan di bagian atas vagina ibu.

“Uuumm … Aaaahhh …” Ibu mendesah dengan mata tertutup tapi pinggulnya ikut bergerak-gerak seirama dengan gerakan tanganku.

Entah berapa lama aku mempermainkan organ intim ibu, kini jariku mulai basah oleh lendir vagina yang terangsang. Terus kuusap-usap bibir kemaluannya dengan jari-jariku. Lalu kugunakan jari tengah dan jari manis untuk merangsang pinggiran bibir vaginanya dengan mengusap-usapnya ke atas ke bawah, sesekali membuat gerakan memutar dan merenggangkan bibir vaginanya melebar ke kanan dan ke kiri. Sementara itu, jari tengahku sibuk menjelajahi bagian atas vaginanya dan mempermainkan klitorisnya yang perlahan menyembul keluar dari persembunyiannya. Terasa betul semakin derasnya cairan hangat dan lengket yang mengaliri dan membasahi selangkangan ibu menjelaskan betapa tubuhnya menikmati gerakan jari-jariku.

Aku rasa sudah cukup memberikan rangsangan pada ibu. Akhirnya aku bergerak ke atas tubuhnya untuk menindih dan memeluk dirinya. Ibu tersenyum dengan mata yang masih tertutup dan melingkarkan kedua lengannya ke leherku, membawa tubuhku semakin dekat merangkul dirinya. Nafas kami bertemu dan menyatu dalam satu irama. Kemudian bibir kami saling mengulum menyiratkan api nafsu dan hasrat dalam hati kami.

“Mama … Bidadariku …” Aku bergumam sebelum memberinya sebuah ciuman yang dalam.

Ibu yang menerima ciumanku merapatkan lengannya dan memelukku semakin erat, membawa diri kami berdua semakin terlena dalam lembah kenikmatan. Setelah bibir kami berpisah namun tetap terhubung dengan benang perak di ujung lidah kami, ibu menciumiku lagi dan menghisap semuanya sebelum melepaskan ciumannya. Ibu menatap diriku lalu berkata …

“Kamu masih menyebutku mama …” Desah ibu.

Aku hanya tersenyum sambil mencari lubang vagina ibu oleh ujung kejantananku. Kucium bibirnya kembali sambil perlahan kumasukkan kejantananku memasuki lubang kewanitaannya. Ibu yang sudah menunggu saat-saat ini mencengkram penisku dengan otot-otot dinding vaginanya dengan sangat kuat, membimbing penisku semakin masuk ke dalam seolah telah begitu lapar menginginkan sesuatu untuk mengisi setiap tempat yang tersisa di sepanjang liang kenikmatannya. Begitu kencang, ketat, hangat dan basah, itulah sensasi yang kurasakan ketika penisku yang telah mengeras dan membesar ke ukuran maksimal melesak masuk ke dalam vaginanya. Kontraksi dan tekanan dinding-dinding vagina ibu memijat-mijat penisku seolah berusaha keras ingin memerah susu putih kental yang baru saja semalam mengisi rahimnya.

“Aaaaaahhhhh ….” Ibu merintih begitu bernafsu.

Aku mulai menggerakkan pinggul perlahan-lahan sehingga penis panjangku keluar masuk vagina yang berkedut-kedut dindingnya dengan berirama. Ibu kemudian memeluk pinggangku, dan bibirnya yang tidak henti-hentinya merintih melekat di telingaku dengan meracau nikmat. Kunaikan intensitas seranganku. Penisku dengan gagah mengacak-acak liang vagina ibu yang semakin banjir oleh cairan kewanitaannya. Liang kewanitaan ibu seperti sebuah mulut kecil yang kelaparan, yang menelan kejantananku, yang mengirimkan berjuta-juta kenikmatan ke seluruh tubuhku.

“Clok … Clok … Clok … Clok …!” Bunyi gesekan suara penis dan vagina yang beradu menggema di seluruh ruangan.

“Aahh … Aahh … Eennaakk saayy … Leebiihh … Kerraaasss …!” Pinta ibu sambil mendesah nikmat.

Aku pun segera melakukan tugasku dengan baik, menarik dan mendorong kejantananku dengan cepat, membongkar-bongkar cengkraman licin yang panas dan berdenyut. Gerakanku begitu ganas dan liar seperti hendak meluluh-lantahkan tubuh sexy ibu yang sedang menggeliat-liat kegelian di bawahku. Tak kenal ampun, batang penisku menerjang-nerjang, menerobos sangat dalam, sehingga ibu merintih-rintih dan mengerang penuh kenikmatan. Aku mengerahkan seluruh tenaga menyetubuhi ibu. Otot-otot bahu dan lenganku terasa menegang dan terlihat berkilat-kilat karena keringat. Pinggangku bergerak cepat dan kuat bagai piston formula one. Suara berkecipak terdengar setiap kali selangkanganku membentur selangkangan ibu, di sela-sela derit ranjang yang bergoyang sangat keras.

Selama hampir tiga puluh menit ibu merintih dan mengerang begitu jalang merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan. Dengan mata terus terpejam, ibu mengerang dan merintih penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi.

“Aaaaaccchhhh … Keellluuuaaarrr …!” Ibu mengerang panjang sambil tubuhnya meliuk-liuk menandakan dia orgasme. Tubuh ibu mengejang dan otot-otot vaginanya berkontraksi. Vagina ibu menghisap penisku dengan sangat kuat. Dan penisku terasa disembur cairan hangat yang keluar dari dalam vaginanya.

Saat aku hendak menghentikan aksiku, ibu menyuruhku untuk terus menggenjotnya. Kusodokkan penisku kembali ke dalam bagian tubuhnya. Penisku timbul tenggelam dibekap lubang vaginanya yang hangat. Rintihan tak pernah berhenti keluar dari mulutnya. Setelah sekian lama dengan posisi itu, ibu mulai bangkit lagi libidonya, dengan tenaga sisa dia mulai membantuku dengan menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi. Kedua tangannya kini merangkul kepalaku dan membenamkannya ke kedua gunung kembarnya yang besar dan halus. Aku tahu dia akan mengalami klimaksnya yang kedua. Aku kulum dan lumat payudaranya, kepala ibu menengadah merasakan nikmat yang tiada tara atas rangsangan pada dua titik tersensitifnya.

“Aaahh … Aaahh … Aaahh … Aaahh … Aaahh …!” Desahan ibu cukup keras.

Tak lama, ujung penisku menghantam bibir rahimnya, bersamaan dengan ciuman kami yang sudah berada di ujung nafas. Ibu kembali mengalami kontraksi hebat dan tubuhnya menggelinjang keras dalam pelukanku. Vagina ibu yang telah menjadi begitu sensitif akibat persetubuhan yang kami lakukan tak kuasa menahan kenikmatan yang diberikan oleh penisku sepanjang di jalur perjalanannya. Aku juga sudah tak sanggup lagi menahan klimaks yang ingin keluar sedari tadi ketika ibu mengalami orgasme pertamanya.

“Aaaaaccchhhh …. Keellluuuaaarrr …!” Erang ibu dengan mulut menganga dan mata terbeliak-liak.

“Aaaaaakkkkhhhhh …!!!” Pekikku agak ditahan menikmati klimaksku yang dahsyat.

Pelukan kami menjadi semakin erat dan ciuman kami yang terputus membebaskan mulut kami yang mengeluarkan raungan penuh nikmat akan kenikmatan puncak yang kami berdua alami secara bersamaan. Ombak demi ombak kenikmatan tidak berhenti menggempur tubuh dan jiwa kami yang telah basah diguyur keringat. Penisku yang tertanam dalam di vagina ibu langsung menembakkan sperma yang muncrat menembus langsung ke dalam rahimnya. Sementara otot-otot vagina ibu terus berkontraksi ingin memeras setiap tetes susu kental untuk mengisi rahimnya yang haus akan madu putihku. Cairan cinta ibu tak henti-hentinya muncrat dan mengalir keluar dari vaginanya, membasahi paha dan selangkangan kami, serta kasur yang kami tiduri.

Akhirnya setelah puncak kenikmatan panjang yang cukup lama, tubuh kami berdua berguling ke samping dengan tetap saling memeluk satu sama lain. Ibu di kiri dan aku di kanan. Wajah kami yang begitu dekat menyatukan nafas kami yang saling memburu menerpa wajah di hadapannya. Dan penisku yang masih besar dan keras tetap menancap dengan mantapnya di dalam vagina ibu yang bergetar dan berkedut-kedut seirama dengan gemetar tubuhnya.

Kubelai rambutnya perlahan dan kuciumi bibir, pipi dan keningnya sambil tersenyum. Ibu yang matanya tak berhenti menatap mataku membalas dengan sebuah ciuman yang dalam sambil perlahan menutup matanya dan merangkul leher dan punggungku dengan lengannya. Kubalas dengan membelai rambutnya dengan tangan kananku sementara tangan kiriku membelai kontur tubuhnya dari sepanjang pipi turun mengikuti garis horizon sepanjang leher, bahu, lengan lalu masuk ke dalam menyusuri bagian samping dadanya lalu turun menuju pinggul, pinggang dan pahanya, kemudian memutar ke belakang dan berakhir dengan mencengkram pantatnya. Kuremas-remas lembut pantatnya sambil melanjutkan ciumanku hingga tubuh kami berdua tenang kembali. Setelah tubuh kami kembali tenang dan turun dari puncak kenikmatan yang baru kami rasakan, tangan kami tak berhenti saling membelai satu sama lain. Kulepaskan ciumanku dan kulemparkan sebuah senyuman kepada ibu.

“Tak kusangka … Kamu perkasa sekali …” Ucap ibu yang nafasnya belum sepenuhnya teratur.

“Terima kasih, ma …” Kataku.

“Kamu kok masih menyebutku, mama?” Tanya ibu dengan mengernyitkan dahinya.

“Aku akan memanggil mama supaya tetap hot …” Aku tersenyum.

“Hhhhmm … Dasar …! Sukanya sama ema-ema …” Ibu mencubit hidungku.

Kami pun tertawa lirih yang dilanjutkan dengan obrolan ringan. Kami berbincang ke sana ke mari tanpa arah dan tujuan yang jelas dan tanpa berjumpa dengan titik temu, namun semuanya terasa sangat romantis. Sesekali kami berciuman singkat, kami tertawa dan bercanda bila membicarakan yang lucu atau sesuatu yang unik.

“Sayang … Dulu mama punya cita-cita ingin membangun usaha … Ya, tujuannya supaya keluarga kita mempunyai penghasilan tambahan … Mengandalkan gaji papamu untuk sekarang ini rasanya sangat pas-pasan … Kita tidak punya biaya untuk senang-senang atau rekreasi ke luar negeri … Intinya mama ingin punya uang yang banyak …” Tiba-tiba suara ibu menjadi sangat serius.

“Usaha apa ma?” Tanyaku.

“Salon kecantikan … Dulu, sudah ada yang mau modalin mama … Tapi gagal … Tepatnya mama menarik diri … Mama menolaknya …” Ungkap ibu dengan wajah sendu.

“Loh, kenapa?” Tanyaku lagi.

“Ceritanya begini … Sekitar dua tahun yang lalu, mama berkenalan dengan seorang pengusaha ekspor impor … Em, namanya Husni … Jujur, mama memang sengaja mendekati orang itu untuk morotin uangnya … Selama dua tahun berhubungan sama dia, orang itu banyak sekali ngasih mama uang dan benda-benda berharga, sayangnya mama lupa daratan, mama terlalu senang berfoya-foya … Tak ada yang bersisa … Coba kalau saat itu mama simpan uang pemberiannya, pasti mama sudah punya salon …” Cerita ibu agak panjang. Sorot matanya seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Terus, dia mau modalin mama?” Tanyaku lagi karena merasa ibu belum selesai ceritanya.

“Nah … Di masa-masa terakhir hubungan kami … Mama mengutarakan niat untuk membuka salon … Mama minta modal sama orang itu … Tapi, gak lama … Hubungan kami diketahui istrinya … Bahkan mama dilaporkan ke polisi …” Ibu menjeda lagi ceritanya.

“Dilaporkan ke polisi?” Aku heran karena aku baru tahu kisah ini.

“Ya … Walau mama terbebas tetapi mama dan pengusaha itu harus berpisah … Saat itu Husni masih mau melanjutkan hubungan kami tapi mama tolak karena takut dilaporkan lagi ke polisi oleh istrinya …” Punkas ibu. Dan aku bisa mencium arah pembicaraan ibu selanjutnya.

“Sekarang … Bagaimana rencana mama?” Tanyaku berlanjut tapi sekarang menyelidik.

“Mama … Em …” Ibu terlihat sangat ragu.

“Mama mau mendekatinya lagi, kan … Dan mau minta modal sama dia …” Aku langsung menebak isi hati dan kepala ibu.

“Kalau itu iya … Bagaimana pendapatmu?” Giliran ibu yang bertanya sambil menatapku dalam-dalam.

“Aku serahkan sama mama … Aku akan menghormati keputusan mama …” Jawabku lapang dada. Keinginan ibu untuk menjadi ‘orang kaya’ memang sangat mulia, siapa sih yang tidak ingin hidup kaya. Namun mungkin caranya yang sedikit menyimpang dan dalam hal ini aku sama sekali tidak berhak melarang keinginan ibu itu.

“Mama ingin jawaban pasti darimu, sayang … Tidak menggantung seperti itu … Mama akan mengikuti kata-katamu … Boleh atau tidak?” Ucap ibu sembari menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya. Aku menatap mata ibu, ada kesungguhan yang mengiringi suatu keinginan. Dan jika aku pikir-pikir, kalau ibu banyak uang pasti aku akan mendapat imbasnya.

“Boleh …!” Jawabku tegas.

“Ah, terima kasih sayang …” Ibu memelukku erat. “Tapi ….!” Lanjut ibu.

“Tapi apa?” Tanyaku heran.

“Bantu mama …” Kata ibu sambil mengurai pelukannya dan menatapku lagi.

“Bantu bagaimana?” Tanyaku tak mengerti.

“Begini … Mama mendapat info dari temen kalau sekarang ini Husni selalu dipantau dan dijaga sama istrinya. Istrinya itu bernama Ira, cantik loh orangnya …” Kata-kata ibu terhenti dan mencubit hidungku lagi. “Kamu pasti suka …” Lanjut ibu.

“Ah, jangan terlalu yakin … Kalau cantiknya melebihi mama … Mungkin juga … Baru mungkin lo, ma …” Kataku.

“Hi hi hi … Nanti aja liat orangnya … Oh ya, si Ira ini posesif sekali sama suaminya … Bahkan setiap hari datang ke kantor suaminya hanya untuk menjaga supaya suaminya gak main perempuan … Pokoknya, siang malam si Ira itu ada di samping suaminya … Bener-bener Husni mati kutu …” Jelas ibu.

“Hhhhmm … Sebentar … Maksud mama …” Ucapanku langsung dipotong ibu.

“Kamu dekati si Ira … Sibukkan dia supaya jauh dari suaminya … Barulah ibu masuk mendekati Husni …” Kata ibu mengutarakan rencananya.

“Apa akan berhasil? Keliatannya Ira ini sangat menyayangi suaminya …” Aku beri gambaran yang logis.

“Kalau gak dicoba, mana tau apa akan berhasil atau tidak …” Ucap ibu.

“Hhhhmm … Baiklah! Akan aku coba …” Akhirnya aku menyetujui rencana ibu.

Aku pun melirik jam dinding yang telah menunjukkan jam sepuluh kurang. Hari ini aku ada kuliah praktek di rumah sakit. Aku turun dari tempat tidur dan memakai kolorku. Langsung mandi lagi di kamar mandiku sendiri. Setelah berdandan rapi, aku pamitan pada ibu kemudian berangkat ke rumah sakit pemerintah tempat aku kuliah praktek. Hanya satu jam perjalanan aku sudah sampai di rumah sakit. Aku ditempatkan di suatu ruangan dan bersiap-siap menerima pasien-pasien yang sudah banyak menunggu di ruang tunggu.

Satu per satu pasien masuk dan keluar dari ruang periksaku. Sebagai calon dokter, aku harus profesional dan bisa menjaga kondisi pasien agar tetap tenang dan tidak panik dengan kondisi kesehatan mereka. Walau aku baru calon dokter, tetapi aku sudah punya pasien yang cukup banyak. Entah pasien yang ke berapa, tiba-tiba mataku melihat seorang wanita yang menurutku sangat cantik memasuki ruanganku. Seorang wanita yang kecantikannya luar biasa. Aku belum pernah melihat wanita secantik ini. Bahkan bila aku bandingkan, kecantikan ibuku jauh tertinggal olehnya.

“Silahkan, bu …” Aku mempersilahkan pasien cantik itu duduk.

“Terima kasih, dok …” Dia tersenyum dengan lesung pipi dalam yang indah.

“Apa keluhannya?” Tanyaku sembari melihat catatan identitas di kartu periksa yang sedang aku pegang. Terbaca olehku nama pasien cantik ini Ira Prameswari dengan usia 39 tahun. “Kalau Ira yang dimaksud mama seperti ini mah … Aku mau banget …” Tiba-tiba hatiku ngelantur.

“Ini dok … Lambung saya terasa perih …” Keluhnya.

“Baik … Saya periksa dulu … Silahkan berbaring di sana …” Kataku sambil berjalan ke tempat tidur periksa.

Wanita cantik itu pun berbaring kemudian aku periksa kondisi tubuhnya. Stetoskop aku tempelkan ke bagian perutnya di beberapa titik dan bagian dada atasnya sebelah kiri. Selesai aku memeriksa wanita tersebut, aku pun membantunya untuk turun dari tempat tidur periksa yang cukup tinggi. Kemudian kami pun duduk di tempat masing-masing.

“Ibu maag … Kurangi makanan yang pedas, berminyak dan berlemak, serta minum minuman beralkohol, bersoda, dan kopi …” Kataku sambil menulis resep obat untuknya.

“Saya gak pernah makan dan minum seperti yang dokter bilang …” Sanggah pasienku.

“Oh ya … Maag itu bisa juga dipicu karena ibu selalu menahan lapar, atau makan terlalu cepat, stress juga bisa sebagai pemicu maag … Ibu harus menghindari itu semua …” Jelasku sambil memberikan resep obat padanya.

“Begitu ya dok … Mungkin saya telat makan dan stress …” Keluhnya lagi.

“Nah … Perbaiki itu semua … Makan tepat waktu dan hindari stress …” Kataku sambil tersenyum.

“Baik, dok … Terima kasih …” Kata wanita cantik itu sambil berdiri lalu meninggalkan ruanganku.

Aku banyak menemui wanita cantik, tetapi kali ini berbeda. Kecantikan pasienku barusan paripurna dengan tubuh bak gitar spanyol menggoda. Siapa pun tidak akan memalingkan mata jika melihat pesonanya. Tanpa sadar, aku melihat pinggulnya yang lebar sedang menggoyang saat ia keluar ruangan. Segera saja aku tepis pikiran kotor dari kepalaku karena aku harus masih terus memeriksa pasien yang ada.

Jatah praktekku hanya dua jam saja. Tak terasa aku sudah melampauinya. Dokter senior pemilik ruangan pun sudah menggantikan aku. Sudah tiba waktunya pulang dan ‘menggoda’ ibuku lagi. Aku berjalan cepat ke parkiran mobil. Belum juga sempat membuka pintu mobil, smartphone-ku berdering. Kulihat identitas si penelepon, baru kemudian aku sambungkan hubungan teleponnya.

“Ya … Bulek …” Sapaku pada bulek Tuti di sana. Bulek Tuti adalah adik ayah paling bungsu. Aku menyebutnya ‘bulek’ karena memang keluarga besar ayah berasal dari Jawa tengah tepatnya Kota Solo. Ya, ayahku tiga bersaudara. Ayah adalah anak pertama, bulek Murni sebagai anak kedua, dan bulek Tuti sebagai bungsunya.

“Kamu sibuk, gak?” Tanya bulek Tuti dengan suara yang sangat lembut.

“Tidak juga …” Jawabku.

“Kalau begitu, ke rumah ya …!” Pintanya.

“Emangnya ada apa?” Tanyaku sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

“Bulek lagi gak enak badan … Dan kangen aja sama kamu …” Jawabnya.

“He he he … Tunggu sebentar … Aku meluncur ke rumah bulek sekarang …” Kataku.

“Ya … Cepetan … Jangan pake lama …!” Ucap bulek Tuti dan terputus hubungan telepon.

Aku hanya tersenyum dengan sikap bulekku yang satu ini. Kami memang sangat dekat, bahkan kalau boleh dibilang terlalu dekat. Aku dan bulek Tuti memang sering berbagi cerita, berbagi perhatian dan kasih sayang. Kami pun sering saling curhat bahkan bercanda kasar menjurus kelamin dan tak jarang melampaui batas-batas yang seharusnya.

Mobilku keluar dari parkiran rumah sakit, kemudian melaju ke arah rumah bulek Tuti yang kebetulan tidak jauh dari posisiku sekarang. Hanya dua puluh menitan aku sudah sampai di rumahnya. Aku parkir mobilku di halaman rumah yang luasnya seperti lapangan bola kemudian masuk ke rumahnya yang megah semegah istana raja. Memang bulek Tuti memiliki nasib yang jauh lebih baik dari ayah. Suami bulek Tuti adalah pengusaha sukses di bidang garmen. Pabriknya pun ada beberapa yang tersebar di kota sekitar tempat tinggalnya.

“Hei …!” Sapa bulek Tuti saat kakiku baru selangkah melewati pintu rumah. Ternyata bulekku ini sudah menungguku di ruang depan.

“Loh … Katanya sakit?” Tanyaku heran sambil memperhatikan penampilan bulekku yang sangat rapi dan anggun.

“Tadinya bulek mau ke rumah sakit … Tapi males … Jadinya telepon kamu aja …!” Kata bulek Tuti sembari menggeser duduknya memberikan ruang untukku agar duduk di sebelahnya.

“Apa yang dirasa sih?” Tanyaku.

“Ini kok badan rasanya sakit-sakit semua …” Jawab bulek Tuti dan tiba-tiba kakinya berselonjor di atas pahaku.

“Habis ngapain sih sampe sakit badan begitu?” Tanyaku sambil memijit-mijit betis bulek Tuti.

“Kemaren bulek renang … Karena keasyikan, bulek renang dari siang sampe malem.” Jawabnya lagi.

“Em … pantesan …” Gumamku sambil terus memijiti betisnya.

“Bima … Bulek mau ngenalin cewek buat kamu …” Tiba-tiba bulek Tuti berucap seperti itu.

“Ah … Jangan sekarang deh …” Jawabku lesu.

“Kamu ini … Liat dulu orangnya!” Bulek Tuti agak sewot.

“Males ah, bulek … Aku lagi pengen serius kuliah … Aku sebentar lagi kena DO.” Kilahku.

“Ya … Payah … Mau sampe kapan ngejomblo?” Ucapnya agak mengeluh.

Aku sungguh tidak ingin meneruskan pembicaraan dengan tema seperti itu. Aku diam saja dan terus melanjutkan pijatanku. Kuremas pelan, kuusahakan agar pijatanku nyaman, dengan pijatanku yang turun hingga ke telapak kakinya.

“Tahan ya …” Kataku karena pijatan di telapak kaki akan terasa sakit. Tanpa menunggu jawabannya, aku pijat salah satu syaraf di kakinya sangat keras.

“Awww …!!! Sakit …!!!” Bulek Tuti menjerit keras merasakan telapak kakinya yang aku pijit.

Bersamaan dengan jeritannya, lutut kakinya yang aku pijat menekuk ke atas. Kedua lututnya merenggang sehingga rok yang ia kenakan agak tersingkap dan pangkal pahanya yang terbalut celana dalam berwarna putih yang tipis itu terlihat jelas oleh mataku. Serta merta aku palingkan wajahku untuk tidak melihat bagian itu.

“Kamu benar-benar berubah …” Suara sendu itu menggelitik gendang telingaku.

“Kita kan sudah berjanji … Kita tidak akan melakukannya lagi …” Kataku pelan.

“Aku sangat mencintaimu …” Bulek Tuti bergerak menurunkan kakinya lalu memelukku erat.

Di saat inilah aku merasa bingung. Jelas, aku tidak bisa menerima rasa dari bulekku ini. Dulu aku sangat menyukai bulek Tuti karena nafsu bukan karena rasa sayang sebab aku hanya ingin menikmati tubuhnya saja. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri affair ini karena diketahui bulek Murni. Aku sangat menginginkan affair-ku dengan bulek Tuti dilupakan saja. Tapi ternyata percikan yang terjadi kala itu malah membuat bulek Tuti tergila-gila padaku.

Bersambung.