Mama Yang Terbaik Part 1

0
7988

Aku begitu bersemangat sekali sore ini untuk berangkat ke tempat pamanku di luar kota. Sebuah tempat yang sejuk dengan banyak cerita sejarah keluarga di belakangnya. Aku sudah memanaskan mobil untuk menikmati indahnya Kota Lembang yang jaraknya sekitar 160 kilometer dengan jarak tempuh berkendaraan sekitar tiga jam, itu pun kalau tidak terkena kemacetan. Aku bersiul sambil membersihkan kaca mobil. Tak lama, ibuku datang dengan membawa sebuah koper besar. Segera saja aku ambil kopernya kemudian dimasukkan dalam bagasi belakang.

“Salam buat Rahmat sekeluarga … Bilangin, kalau papa gak bisa ikut karena ada urusan kantor mendadak …” Kata ayahku pada ibu.

“Iya pa … Mama berangkat dulu ya pa …” Kata ibu sambil masuk ke dalam mobil.

“Bima … Jaga mamamu … Jangan ngebut-ngebut di jalan …” Papa bicara cukup keras padaku.

“Siap, pa …” Sahutku sambil memasuki mobil dan duduk di belakang setir.

Mobil pun keluar garasi, lalu mobilku melaju meninggalkan rumah menuju jalan bebas hambatan yang tak terlalu jauh dari kompleks perumahanku. Aku melaju di jalan tol dengan kecepatan tinggi. Sementara kusaksikan senja dengan matahari yang akan tenggelam di ujung jalan tol di balik pegunungan yang menyemburatkan cahaya keemasan ke seantero langit bumi, memantik keharuan yang menenggelamkan perasaan.

“Kamu dengan Iwan kalau gak salah seumur ya?” Tiba-tiba ibuku yang bernama Wati memecahkan keheningan.

“Iya, ma … Aku lahir bulan April … Iwan bulan Mei …” Jawabku.

“Si Iwan udah mau kelar kuliahnya … Kamu kapan?” Tanya ibu agak terdengar kesal.

“Ya elah … Mama ini gimana sih … Pantes aja si Iwan mau lulus, lah kuliahnya aja di Fakultas Sasta … Sementara aku di kedokteran … Lain lah Ma …” Kilahku yang juga agak kurang senang.

“Oh … Iya juga … Hi hi hi …” Ibu tertawa sambil mencubit tanganku.

Aku tersenyum melihat ibu yang sadar kalau kuliahku masih memerlukan waktu yang panjang. Sepanjang perjalanan kami ngobrol berbagai hal, termasuk perihal ‘kejombloanku’. Aku hanya bisa menjelaskan pada ibu kalau aku sadar betul bahwa kriteria yang aku tetapkan agak sulit. Namun aku tidak akan menurunkan standar yang aku punya hanya demi mendapatkan pasangan dengan cepat. Aku berhak dan layak untuk mendapatkan yang terbaik.

“Mama sih pengen … Kalau kamu punya pacar … Mama takut kamu keasikan ngejomblo … Mama takut kamu telat menikah …” Ungkap ibu.

Aku pun tak ingin melanjutkan obrolan itu. Aku tetap fokus pada mobilku yang jangan sampai menabrak mobil di depanku atau melindas kucing sementara ibu masih terus ‘ceramah’. Aku dalam hati kesal mendengar ‘ceramah’ ibuku tersebut, namun dengan maksud menghormati aku pura-pura mendengarkannya. Aku mengangguk-anggukan kepala, pura-pura paham. Namun rupanya ibu tahu kalau aku sedang pura-pura, felling-nya sangat kuat. Aku menjerit karena pinggangku dicubitnya dan aku pun tertawa lirih melihat tingkah ibuku itu. Namun yang jelas, kedekatanku dengan ibu memang tak terbantahkan sehingga aku akan mencari wanita yang mirip dengan ibuku.

Tak terasa perjalanan kami pun berakhir. Aku masukan mobil ke halaman rumah pamanku. Di teras rumah telah berdiri bibiku yang bernama Lilis dengan sepupuku, Iwan. Wajah-wajah mereka begitu bahagia menyambut aku dan ibuku. Langsung saja aku memburu keduanya setelah mengeluarkan koper dari dalam mobil.

“Wan … Lagi maen game apa sekarang?” Tanyaku setelah berada di dalam rumah.

“Lagi fakum, Bim … Udah lama gak maen game …” Sahutnya sambil membawakan koperku ke kamarnya.

“Sama dong … He he he …” Sambungku.

Iwan adalah sepupuku yang paling mengerti diriku, begitu pula sebaliknya. Aku sangat hafal bagaimana karakternya dan riwayat kehidupannya karena kami sudah dekat sejak kecil hingga saat ini. Segala aspek hidupnya lempeng-lempeng saja. Dia dibesarkan pada keluarga mampu yang bahagia, terkecuali pada riwayat percintaannya. Aku menjadi saksi bagaimana dia selalu gagal mendapatkan gebetan ataupun pacar. Dan soal percintaan, aku dan Iwan sebelas dua belas. Biar kami jomblo tetapi kami jomblo terhormat.

Karena sudah cukup lama tidak bertemu, kami terlibat dalam percakapan dan kadang kami tertawa-tawa dengan sangat bebasnya. Obrolan kami mengalir saja sampai tak terasa waktu sudah menjelang tengah malam. Mata kami masih terbuka lebar. Tak sedikit pun rasa kantuk yang menyerang kami berdua. Bahkan obrolan kami pun semakin seru dan menarik.

“Bim … Sebenernya aku lagi suka sama cewek …” Suara Iwan terdengar mulai serius dan agak berat menandakan ada sesuatu yang ditahannya dalam hati.

“Bagus lah! Langsung deketin aja jangan ragu … Toh, kamu kan udah biasa ditolak … Ha ha ha …” Aku malah mencandainya.

“Ini serius, Bim …!” Iwan benar-benar mengajak bicara serius padaku.

“Emangnya gimana ceweknya?” Aku menggeser tubuh untuk menghadapnya, menatap wajah sesepupuku yang nampak bingung.

“Cuma kamu yang aku percaya.” Iwan mendesah lirih dan dia tertunduk, “Tolong, jangan sampai orang lain tau rahasia ini …” Suaranya semakin memelas dan aku menjadi heran dengan perubahan Iwan yang mendadak seperti itu.

“Kamu kenapa sih, Wan … Kok, aku jadi khawatir begini …!” Kataku bingung.

“Kamu pasti akan menganggap aku gila kalau aku kasih tau perasaanku saat ini.” Situasinya menjadi semakin membingungkan untukku.

“Udah … Jangan bertele-tele … Langsung aja … Jangan buat aku bingung!” Kataku sambil meninju pundaknya pelan.

“Tapi janji … Jangan ketawain aku …!” Pintanya.

“Ya aku janji …!” Jawabku.

“Bim … Aku … Suka … Sama …” Ucapannya terpatah-patah, seolah Iwan berbicara di tengah angin kencang. Aku tetap menunggu kelanjutannya dengan tatapan tajam. “Bim, aku suka sama ibuku.” Iwan melanjutkan kata-katanya dan kini suaranya sangat lemah dan parau. Namun itu sudah cukup membuatku terhenyak, terdiam dan berpikir. Suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara televisi dengan volume kecil. “Aku memang gila.” Iwan membantingkan tubuhnya di atas kasur.

“Kita sama gilanya, Wan …” Kataku sambil berbaring terlentang di samping sepupuku.

“Maksud kamu?” Suara Iwan meninggi, menandakan keterkejutan. Sepupuku bangkit dari terlentangnya lalu menatapku. “Hei … Yang jelas kalau bicara …!” Lanjutnya dengan raut mukanya terlihat bahagia.

“Sial … Ternyata kita sama … Suka sama ibu sendiri … He he he …” Aku terkekeh karena ada juga orang gila selain aku.

Kami pun tertawa bersama-sama, memang kami sangat kompak dalam hal-hal kegilaan. Akhirnya kami bercerita tentang alasan kami menyukai ibu masing-masing. Aku dan Iwan tidak ada beda. Kami menyukai ibu masing-masing karena alasan nafsu alamiah belaka. Kecantikan, kemolekan dan ukuran-ukuran proporsional tubuh perempuan kentara menjadi ukuran utama kami. Akhirnya kami mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi yaitu kami sebenarnya tidak benar-benar menyukai dan mencintainya tetapi kami hanya mengincar sex semata.

Malam ini kami merencanakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dilakukan. Kami pun sangat bersemangat membicarakan rencana ini. Sudah waktunya menunjukkan keinginan kami kepada wanita-wanita hebat itu. Tentunya kami harus berhati-hati dan tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun. Keinginan kami terhadap mereka semakin menajam. Sudah tak tertahankan lagi bahwa kami harus bisa melakukan apa pun untuk mendapatkannya. Walaupun misi ini sedikit mustahil namun kami berusaha untuk membulatkan tekad agar harapan kami bisa terwujud.

—– o0o —–​

Di hari Sabtu pagi yang tidak terlalu cerah, Aku, Iwan, ibuku dan bibi Lilis sudah berada di kawasan wisata pemandian air panas Ciater. Berwisata ke pemandian air panas Ciater memang sangat menyenangkan. Air yang mengalir menuju lokasi ini sebagian ditampung dalam sebuah kolam dan kamar rendam eksklusif yang di design menarik. Terdapat banyak keistimewaan yang disuguhkan oleh pemandian air panas ini. Di tempat ini aku dapat menikmati pemandangan alam yang asri dan eksotis. Tak hanya pemandangan tetapi aku juga bisa menikmati segarnya udara khas pegunungan yang sejuk.

Sesampainya di pemandian air panas ini, kami berempat sarapan dulu di sebuah kedai yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Aku duduk di sebelah ibuku sementara Iwan di sebelah ibunya. Tubuhku agak menempel di tubuh ibuku. Pelan-pelan aku bersikap manja kepada ibu, menyuap makanan ke mulutnya sambil melingkarkan tangan kiriku di pinggangnya. Begitu pula dengan Iwan yang bersikap manja kepada ibunya.

Setelah selesai makan, kami pun jalan-jalan menikmati pemandangan alam di sekitar lokasi wisata. Kami bermain di sebuah sungai kecil yang airnya sangat jernih. Suasana sangat sepi di sungai ini. Ibu berjalan di belakangku, memegang erat-erat lenganku, takut terpeleset katanya. Akhirnya aku dan ibu tiba di sebuah batu besar dan agak datar, ibu duduk dengan merendamkan kakinya di air sementara aku duduk di belakang ibu dengan kedua kaki terbuka mengapit tubuhnya. Tanganku melingkar di pinggangnya. Memeluknya dari belakang seperti ini, membuatku merasa hangat.

“Mama kok heran … Mama ngerasa kamu begitu mesra sama mama …” Kata ibu sambil memeluk lenganku yang ada di perutnya.

“Emangnya gak boleh?” Tanyaku balik.

“Oh, boleh … Mama cuma heran saja …” Katanya sambil menyandarkan punggungnya di dadaku.

“Nggak tau ma … Aku juga ngerasa ingin memeluk mama terus seperti ini … Aku ingin mama bahagia …” Usai mengucapkan itu, aku cium pipi kanan mama cukup lama. Kulihat matanya terpejam seolah sedang berkonsentrasi dan menghayati ciuman di pipinya. “Aku sayang mama …” Lanjutku dan sebuah senyum mengembang di wajahnya.

“Sayang … Liat! Itu bibimu dan Iwan …” Tiba-tiba ibu berkata sambil memberikan isyarat kepala menunjuk pada sepupuku dengan ibunya. Kulihat Iwan sedang memangku ibunya di atas sebuah batu besar dan mereka tertawa riang.

“Sama seperti kita …” Bisikku.

“Sebaiknya kita berendam di air panas sekarang …” Kata ibu.

“Yuk!” Aku pun beranjak lalu memegang lengan ibu, menariknya perlahan untuk bangkit.

Aku pun memanggil Iwan agar segera bergerak. Sepupuku dan ibunya pun segera mengikuti langkah aku dan ibu keluar dari sungai. Kemudian kami berempat memasuki sebuah area kolam renang air panas, namun kolam sudah sangat ramai oleh pengunjung. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa kamar berendam air panas VIP. Aku menyewa dua kamar berendam kepada pengelola lalu segera kami berjalan ke sana.

“Ini Wan kuncinya …!” Kataku sambil memberikan kunci kamar berendam pada Iwan.

“Loh kok … Kamar yang satu buat mama sama bibi Lilis, kan?” Ibuku terheran-heran.

“He he he … Mama sekamar denganku dan Iwan dengan ibunya …” Kataku sedikit deg-degan, takut rencana yang telah disusun semalam gagal total.

“Oh, jadi begitu ya? Gimana Lis? Ini anak-anak macem-macem aja?” Tanya ibuku pada bibi Lilis.

“Ya … Kita ikutin saja acara mereka …” Ucap bibi Lilis pasrah.

Hatiku berteriak senang dan pasti Iwan pun demikian. Aku begitu antusias memasuki kamar berendam bersama ibuku. Di otakku langsung terlintas pikiran kotor dimana aku akan melihat kemolekan tubuh ibuku dari dekat. Kejantananku pun mulai bangun dan mulai mengeras berontak di dalam celanaku. Sesampainya di kamar berendam aku menutup dan mengunci pintu. Aku melihat ibu berdiri mematung seperti yang bingung.

“Ayo, ma …! Kok malah bengong?” Kataku sambil melucuti pakaianku sendiri dan hanya menyisakan boxer-ku saja. Aku bisa melihat mata ibuku menyipit ketika dia menatapku. Tapi aku tidak menghiraukannya, dan langsung berendam di bathtub berisikan air panas. “Ma …!” Kataku lagi karena ibu masih diam mematung.

“Ah … Kalau tau mau begini acaranya … Tadi mama harusnya bawa baju ganti …” Ucap ibuku sedikit mengeluh.

“Ya … Masa berendam pake pakaian lengkap?” Candaku yang sangat berharap ibu membuka pakaiannya.

“Apa boleh buat deh …” Gumam ibu.

Ibu tersenyum sangat manis kemudian dia mulai membuka pakaiannya yang berkancing di hadapanku. Ibu melepaskan baju bagian atasnya dan aku harus menelan saliva saat payudara ibu yang terbalut bra berwarna krem berguncang sedikit. Kemudian ibu membuka celana panjang katunnya. Dan kini aku bisa melihat dengan jelas, gundukan di selangkangannya yang terbalut oleh celana dalam berwarna krem membuatku harus menelan ludah lagi, pahanya yang putih mulus dan ramping membuat semuanya serasa dalam mimpi.

“Jaga matamu …!” Kata ibu sambil memasuki bathtub dan berendam di ujung sebelah sana.

“Mataku tidak bisa diajak kompromi, ma …” Kilahku sambil mataku terpaku pada payudara ibu yang begitu indah.

“Hissstt …!” Ibu menyipratkan air ke mukaku.

“Mama sexy banget …” Kataku lagi sambil tersenyum.

“Ih … Pamali …” Bibirnya mengerucut cemberut.

“Serius ma … Mama sexy banget … Aku juga sampe …” Kataku sengaja tak diteruskan.

“Sampe apa?” Ibu melotot tapi bibir ibu justru terangkat ke atas, seperti sedang menahan senyum.

“Sampe … Tegang …” Jawabku lagi sambil mengusap-usap ‘juniorku’ yang memang sudah tegang.

“Ih … Jorok …!” Lagi ibu menyipratkan air ke mukaku. Aku pun tertawa kecil sambil terus menggoda. Pada akhirnya ibu juga tertawa bahkan wajahnya yang sangat lucu saat tertawa mulai muncul membuatku semakin bersemangat.

“Mama semakin cantik dan sexy aja … Ih kok, muka mama memerah kayak kepiting rebus … Berarti apa ya …?” Godaku terus berlanjut. Ibuku segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Mama sudah tua, kulit wajah mama mulai kendor. Pasti sebentar lagi keriput-keriput mulai muncul di wajah mama …” Ucap ibu sambil menurunkan tangan dari mukanya.

“Siapa yang bilang? Mama masih kenceng dan menggiurkan … Mama benar-benar cantik …” Godaku lagi.

“Apa sih? Gombal!” Balas ibu sambil sedikit menunduk.

“Nah … Apalagi kalau pura-pura tersipu malu seperti ini …” Tambahku sambil mengusap betisnya yang sudah berselonjor.

“Ih, mama gak pura-pura … Menyebalkan!” Tukas ibu.

Aku pun bergerak mendekat ke arah ibuku. Aku ambil tangannya lalu menariknya. Dalam bathtub yang berisi air hangat, aku dudukkan ibu di atas pahaku saling berhadapan. Aku sudah tidak tahan. Aku sudah tidak peduli ‘batas’ lagi. Aku sudah tidak peduli dosa. Sebuah nafsu besar menyerangku. Desiran darahku perlahan-lahan berusaha naik, menguasai saraf-saraf birahiku. Antara birahi dan sayang bedanya sangat tipis. Jujur, sekujur tubuhku telah dirasuki saraf-saraf nakal birahiku. Aku pegang wajahnya, dia menatapku dan aku mencium bibirnya pelan.

“Apa yang kamu lakukan, Bima?” Tanya ibuku yang terlihat risih atas tatapanku yang berbau negatif itu.

“Aku tidak bisa menahannya lagi, ma … Aku sangat menyayangimu, benar-benar menginginkanmu …” Kataku pelan sambil terus menatapnya.

“Apa yang kamu katakan! Kita ini ibu dan anak sesuatu seperti itu …” Ucapan itu terputus ketika tanganku meremas payudaranya lembut.

“Hentikan Bima!” Ucap ibu tanpa melakukan apa-apa.

“Aku tidak bisa …” Bisikku sambil melumat bibirnya.

Saat itu juga, ibu malah memelukku lebih erat. Kami berdua bercumbu mesra tanpa memikirkan situasi sekarang. Dengan gesit aku memainkan lidah ibuku, dan ibuku juga tak mau kalah, lidah kami menari-nari dalam kenafsuan dunia. Air ludah bercampur menjadi satu, kenikmatan yang tiada tara. Cukup lama juga kami berpagutan, dan jelas ‘juniorku’ sudah berontak hendak keluar dari sarangnya. Saat kami berciuman, ibu membisikkan bahwa dia sayang padaku.

Sambil lidahku menuruni lehernya yang jenjang dan wangi, tanganku terus meremas-remas dadanya yang kenyal. Dengan ukuran 36B, buah dada itu nampak hendak mau tumpah dari cungkup branya. Segera saja kubenamkan wajahku ke dadanya. Ibu makin mendesah dan tangannya meremas-remas rambutku. Kujilati dadanya dan dengan lembut aku menyusuri gunung kembarnya. Dengan mulutku, kubuka cup branya dan tangan kiriku membuka kait bra di punggungnya. Rupanya, kelembutanku sangat menyenangkan dia. Ibu tertawa kecil sambil mengelus rambutku.

Terlihatlah buah dada ibu yang menantang dengan puting berwarna coklat pekat. Putingnya lumayan besar dengan lingkaran putingnya benar-benar membuatku bernafsu. Lebar dan benar-benar bulat sempurna. Segera kukulum putingnya dan sesekali menggigitnya dengan mesra. Ibu mulai mendesah-desah keenakan. Dengan kedua tanganku, kutangkupkan kedua bukit indah itu dan lidahku menjilatinya bergantian. Kombinasi permainan lidah dan remasan tanganku rupanya membuatnya makin bergairah.

Tangan ibu lalu menyusuri perutku dan jarinya masuk ke dalam celana dalamku. Kemaluanku pun dipijat-pijatnya. Walaupun aku sudah tegang, tapi penisku belum sepenuhnya ereksi. Aku memang tergolong lambat panas. Aku segera melorotkan celana dalamku dengan bantuan ibu sehingga tangan ibu bisa leluasa mengocok penisku. Rasanya selangit, antara geli dan enak. Walaupun tidak tergolong besar (panjang 16 cm, diamater 4,5 cm), tetapi stamina penisku sangat prima.

Sambil terus ‘menyusu’ di buah dada ibu, perlahan-lahan kugerakan tangan kananku ke bagian perut dan terus meluncur ke bawah masuk ke celana dalamnya. Pertama yang kurasa adalah jembut ibu yang lebat dan agak kasar. Aku merasakan bulu-bulu jembutnya lalu jari-jariku menembus belukar itu melanjutkan perjalananku lebih rendah menelusuri lembah surgawi. Aku merasakan sensasi dorongan adrenalin terbesarku saat mencapai gundukan lembut belahan vagina ibu. Dengan hanya menggunakan dua jari, dengan lembut aku menelusuri satu di setiap sisi belahan bibir vaginanya. Jari tengahku menyusup menyelinap di sela belahan bibir vagina ibu. Aku mengusap-usap dan merasakannya makin merekah, lembab dan lebih licin.

“Kamu nakal … Aaaahh …” Desah ibu gelisah terutama saat jariku menyolek-nyolek klitoris mungilnya. Aku pun berhenti ‘menyusu’ lalu kami berciuman.

Sambil berciuman, jari tengahku mencari, menemukan dan mulai menggali masuk ke dalam liangnya. Perlahan, berputar-putar mengorek sedikit demi sedikit dan makin menusuk lebih dalam. Jari tengah tangan kananku menekanku lebih kencang, dan aku menusuk-nusuk lebih dalam dan makin agresif. Ibu semakin gelisah, sesak dan seperti terengah-angeh menghembuskan dan menghirup nafas dengan keras. Aku terus menusuk dan mengorek liang sempit vagina dengan jari tengahku sambil ibu jariku mengusap-usap klitorisnya. Tangan kiriku terus meremasi sepasang payudara dan memainkan puting susunya.

Tak lama berselang, tubuh ibu mengejat-ngejat beberapa kali seperti tersengat arus listrik dan dari mulutnya keluar lenguhan agak panjang. Aku bisa merasakan vaginanya meremas keras jariku. Walau tak yakin, aku menduga ibu sudah orgasme karena terasa liang vaginanya semakin hangat, makin licin dan makin basah. Dan sejurus kemudiaan, geliat gelisah ibu melemah dan berhenti. Dengan lembut ibu menarik keluar rogohan tanganku dari dalam celana dalamnya. Aku terdiam menunggu, tetapi tak ada kata-kata maupun reaksi dari ibu. Selama beberapa menit berikutnya kami berada dalam keheningan.

“Kamu sudah berani menggoda ibumu sendiri … Dasar anak nakal!” Kata ibu pelan sambil mencubit hidungku gemas dan tersenyum.

“Maafin aku, ma … Aku memang menginginkan mama … Mama adalah wanita yang paling sempurna untukku … Entahlah, aku sangat bergairah sama mama …” Ungkapku sejujur-jujurnya.

“Tapi … Kamu tau kalau ini salah …?” Tanya ibu dengan suara lembutnya. Tangan ibu mengusap-usap wajahku sangat mesra.

“Aku gak peduli … Aku ingin bahagia sama mama … Aku ingin mama …” Jawabku.

“Hhhhmm …” Ibu hanya bergumam lalu bangkit dari pangkuanku.

“Ma …!” Aku terkejut karena ibu keluar dari bathtub.

“Kita pulang sekarang!” Ucap ibu sambil mengeringkan tubuhnya.

Dengan perasaan kecewa tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, aku mengikuti ibu mengeringkan tubuh dan memakai pakaianku kembali. Kami berdua keluar kamar berendam. Saat di luar, ibu menelepon bibi Lilis dan memintanya untuk menyudahi acara berendam mereka. Saat ini perasaanku tak karuan, cemas dan takut. Apakah perbuatanku tadi menyinggung perasaan ibuku. Aku terdiam. Sejuta rasa bersalah telah menghantuiku.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar berendam Iwan dan ibunya terbuka. Wajah mereka pun terlihat lebih suram dari biasanya. Kali ini suasana kami tidak seperti waktu berangkat yang penuh keceriaan, kini keadaannya terbalik. Kami berempat lebih banyak berdiam diri. Kami pulang menuju rumah bibi Lilis dengan ketegangan dan kecanggungan.

Bersambung.