Kisah Pamanku Tega Memperkosaku Chapter 1

0
1866

Tentunya aku tidak pernah cerita mengenai pemerkosaan itu. Sebelumnya aku selalu cek kehamilan diam2. Dan hasilnya positif hingga akhirnya aku terpaksa menggugurkan sebelum perutku makin membesar.

Sebut saja namaku Imelda. Ini peristiwa yang tak terlupakan, sehingga aku jadi ketagihan seks. Aku ceritakan kisah ini untuk menuangkan libido ku yang tak terbendung. Jujur saja aku sedang horny apalagi pas ketemu forum ini, jadi kupikir ingin ku bagi ke agan semua yang mesum. Silahkan nikmati.

Umurku 27 tahun, badanku lumayan bongsor untuk cewe se usiaku. Tinggiku 168 cm, berat 61 kg. Lingkar bra 36 dengan cup D. Pantatku lumayan besar. Banyak yang bilang pinggangku kecil seperti body gitar. Oh ya, kulitku putih. Chinese menado. Rambutku hitam panjang hampir sampai pinggang. Wajahku biasa saja. Banyak banget teman yang bilang mirip Vicky Li.

Oke.. Kita mulai

Aku tidak pernah menolak bila mas Febrian meminta berhubungan badan denganku. Tapi masalahnya aku yang cenderung lebih sering kepengen, kebalikannya malah mas Febrian yang jarang minta, selalu sibuk dengan bisnis nya. Meskipun begitu aku selalu dimanjakannya. Mobil pribadi, ponsel, tas, sepatu semuanya tidak pernah kekurangan. Bahkan sampai aku bosan shopping. Merk branded telah banyak menjadi koleksi di lemari ku.

Pagi itu aku baru bangun tidur, duduk di atas sofa, kedua kaki kunaikkan menekuk didepan dadaku sambil bermain ponsel melihat Group chat. Sesekali aku melihat tv berita pagi mengenai kondisi Jakarta pagi ini di depan istana kepresidenan yang ramai dengan orang2. Lalu aku beranjak dari sofa berjalan menuju kulkas yang berada disamping pintu apartemen unitku.

Pagi itu sudah jam 8 lewat sepuluh menit. Seperti biasa, mas Febrian sudah berangkat kerja. Tapi pagi ini ada kertas di tempel di depan pintu dengan pesan pendek..

‘sayang.. Nanti ada demo.. Ingat jangan pergi keluar apartment dulu ya.. I love u’

Aku membaca tulisan itu sambil mengambil susu kotak dalam kulkas yang berada di samping pintu itu..

Lalu aku iseng membalas tulisan mas Febrian dengan emoticon seperti smile and kiss.. Sesaat kemudian kusadari jendela apartemenku yang tiap pagi selalu terbuka gorden nya ternyata ada petugas pembersih kaca dengan gondolanya. Mereka berjumlah 2 orang. Menatapku tanpa berkedip..

Hari itu aku mengenakan kaos putih tipis lengan pendek namun panjang kaos menutup sampai pantatku, batas atas pahaku.

Aku tidak menggunakan bra. Karena memang kalau tidur aku lebih nyaman melepas bra.

Aku baru sadar kaosku ini cukup menerawang memperlihatkan puting payudaraku dan juga celana dalamku yang berwarna hitam.

Tapi aku tetap cuek.. Duduk kembali diatas sofa dengan sengaja kedua kaki kunaikkan keatas sehingga kaos tersingkap memperlihatkan pantat dan pahaku yang montok ini.

Sambil minum susu kotak aku membaca chat di WA sambil sesekali melirik ke mereka para pekerja yang masih membersihkan kaca dengan tatapan liar melihat mungkin pantatku? Pahaku?…

Mereka seperti berbisik sambil tersenyum satu sama lainnya. Mungkin membuat gosip tentang diriku.

Aku pura2 tidak melihat mereka. Tetap membaca Group chat. Sambil menghabiskan susu kotak ku.

Tiba-tiba aku terbangun sudah jam 9:30. Ternyata tadi aku ketiduran di sofa. Dan kulihat jendela sudah silau karena matahari. Pekerja yang membersihkan kaca itu sudah tidak ada. Namun aku kaget menyadari posisiku.. Bajuku tersingkap sampai keatas perut memperlihatkan bagian bawahku yang masih mengenakan celana dalam. Bagian payudaraku masih tertutup kaos. Mungkin aku tidak menyadari saat tertidur tadi.

Tiba-tiba saja kepikiran.. Apakah tadi pekerja itu melihat.

Hmm… Ya sudahlah. Toh sudah kejadian. Kalaupun melihat yang penting mereka diluar gedung dan aku di dalam. Kemudian aku menguap sambil menggeliat, berdiri berjalan ke kamar mandi.

Aku membuka kaos sambil berjalan, kulempar kaos ke sofa tadi, payudaraku lumayan berat menggantung bebas terasa bergoyang kekanan kiri. Sampai di depan pintu kamar mandi aku memelorotkan celana dalamku sampai membungkuk.

Aku merasa pahaku berlemak.. Sambil berdiri di depan cermin besar di depan kamar mandi aku membalik badan, melihat pantatku yang besar, lalu menghadap depan lagi, terus mengamati perubahan badanku.. Payudaraku tidak kendor tapi juga tidak kencang. Aku merasa lebih gemuk dari sebelumnya. Aku mencubit lemak di perutku dan pahaku.

“mungkin aku harus mulai nge’gym lagi” batinku.

Lalu aku masuk kamar mandi menyalakan shower…

Aku mulai mengambil sabun dan menggosok lengan ku, telapak tangan, dan siku tangan. Lalu bagian payudara, aku menyabun dengan lembut seperti memegang mangkok, aku mengusap sambil memilin puting payudaraku.

Air shower membasahi tubuhku terus mengalir sampai ke bibir vaginaku. Aku masih sabunan, mengusap payudara kanan dan kiri bergantian. Lalu giliran perutku..

Saat aku mandi, tiba-tiba aku mendengar suara.. Seperti suara bel pintu. Aku diam sejenak mematikan shower sebentar untuk mendengar suara itu.

Suara hening hanya tetesan air dari shower dan suara tv

Aku berpikir apa mungkin ada orang di depan pintu?

Tidak lama kemudian aku mendengar suara ponsel ku dari kamar. Akhirnya aku mengambil handuk biru muda di belakang pintu kamar mandi melilitkan di badanku.

‘sial.. Handuk kecil pula’ dalam hatiku.

Sambil berjalan keluar kamar mandi, handukku hanya menutup persis diatas puting payudaraku sehingga bongkahan payudara bagian atas menyembul.. Dan bagian bawahnya hanya menutupi sampai bagian atas pahaku. Seperti rok mini.

Masih ada sisa-sisa sabun dibadanku bahkan aku merasakan sisa sabun yang bercampur air di bulu kemaluan vaginaku mengalir turun ke pahaku sampai menetes ke lantai. Aku berlari kecil menuju kamar mencari ponsel ku..

Tiba-tiba pintu unit ada suara ketukan.

Tok.. Tok…!
“Mel…! ” suara pria yang sepertinya kukenal.

Ya. Seperti suara om Yongki, paman dari ibuku. Seketika ponsel kutemukan dan ada panggilan tak terjawab dari om Yongki.

Bener deh itu om Yongki. Sambil memegang ponsel aku bergegas kedepan membuka pintu unit.

Seketika.. Pintu kubuka, om Yongki tepat didepanku. Dia tampak memegang shopping bag di kedua tangannya.

“halo om… Sori tadi lagi mandi” aku tersenyum..

Om Yongki terdiam dan tertegun melihatku.

Sial.. Aku lupa kondisiku sedang memakai handuk ini.. Badanku masih basah dan ada buih sabun.

Hanya bisa menunduk malu tanganku memegang kuat handuk ini, takut terlepas. Wajahku terasa panas.. Rasanya malu sekali.

Setelah om Yongki masuk, aku menutup pintu itu langsung berjalan ke kamar… Sekali lagi aku menoleh ke arah om Yongki.

“maaf.. Tunggu sebentar ya om.. Silahkan duduk aja dulu” pintaku, tangan kananku memberi arah ke sofa sedangkan tangan kiriku memegang handuk bagian atas dekat dadaku.

Om Yongki melambaikan tangan dan tersenyum kecil

“ya. . Oke oke” jawabnya.

Akhirnya setelah berpakaian dan bercermin memastikan penampilanku tidak ada yang salah, aku keluar kamar menyambut pamanku.

“hai Om.. Sudah makan belum” tanyaku sambil mengikat rambut keatas dengan kedua tanganku, sambil berjalan ke arah pantry.

“ohh sudah.. Ga usah repot-repot Mel” jawabnya, sambil membaca majalah yang dia ambil dari atas meja itu.

“ngopi aja? Mau?” tanyaku sambil membuka lemari mencari sendok kecil.

“boleh.. Hitam ya, gak usah pake gula” jawabnya.

Om Yongki cukup sering main ke apartemenku. Apalagi sejak dia cerai dengan istrinya setahun yang lalu.. Eh bukan. Kalau gak salah baru 10 bulan. Beliau adalah adik kandung dari ibuku. Om Yongki merupakan anak lelaki ke 5 dan paling bungsu, sedangkan ibuku anak ke 3.

Setiap datang ke apartemenku, om Yongki selalu membawa sesuatu untukku. Kadang itu kaos, kadang makanan atau snack, sebagai oleh-oleh ketika dia pulang dari luar kota. Om Yongki sering dinas ke luar kota karena pekerjaannya sebagai surveyors lapangan.

Perawakan om Yongki tinggi agak bungkuk seperti postur aktor Hollywood, Nicholas Cage. Tangannya terlihat kelar dengan uratnya yang menonjol, banyak bulu di lengannya.
Wajahnya mirip aktor Hongkong, Anthony Wong.

“bagaimana kabarmu Mel?” tanya pamanku

“yah baik. Gini-gini aja Om” aku melempar senyum sambil membuatkan kopinya.

Tidak lama kemudian aku mengantar kopi Om Yongki dengan nampan kecil..

“hmmm… Wangi ya” kata Om Yongki.

“iya nih kopi Lampung” jawabku membungkuk sambil meletakkan kopi di meja.

“bukan… Maksudku kamu wangi..” katanya.

Aku terkejut malu mendengarnya dan saat aku melihatnya, beliau sedang memandangi belahan dadaku.

Spontan aku kaget dan risih langsung menutup dadaku dengan tangan.

Aku mengenakan sweater hitam lengan panjang dengan bagian leher yang longgar. Sehingga tidak sadar saat aku membungkuk tadi memperlihatkan payudaraku yang terbungkus bra warna hijau tua. Sweaterku cukup longgar dan panjang menutupi separuh pahaku. Sehingga seperti terlihat tidak menggunakan celana. Tapi aku mengenakan celana pendek ketat warna putih.

“kamu tattoo an sekarang? ” tanya om Yongki dengan senyum nakalnya.

“sialan.. Pasti dia tadi melihat tattoo di bagian atas payudaraku” batinku.

Aku hanya tersenyum kecil sambil duduk di sofa yang berseberangan dengannya. Kedua kaki kuangkat menutupi dadaku.

“gambar naga atau ular tuh tadi?” tanyanya.

“hahaha… Om bawa oleh-oleh apa kali ini” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

Tapi matanya sekarang menatap pahaku yang putih montok ini. Dia nampak menelan ludah terlihat dari gerakan jakunnya.

“warna hijau nih yee..” katanya menggodaku.

Seketika langsung kuturunkan kedua kakiku dari sofa.

“brengsek.. Dia melihat celana dalamku” aku mengumpat dalam hati.

Pasti saat kedua kaki kunaikkan ke sofa, celana dalamku yang senada dengan warna bra ku ini terlihat sedikit dibalik celana pendek ketat ini. Aku merasa dongkol dan malu.

“ahh.. Om rese nih” kataku dengan tertawa kecil.. Berusaha mencairkan suasana. Padahal dalam hatiku merasa sebal.

Om Yongki berdiri mendekat, membuatku kaget dan grogi. Lalu dia duduk tepat disampingku. Jantungku berdetak keras.. Aku mulai agak risih dan takut.

“Mel.. Kamu udah makan belum?” tanyanya setengah berbisik didekat kupingku sambil dia membelai rambutku.

Spontan saja kepalaku agak menghindar. Lalu tersenyum kecut…

“om lagi kenapa sih..” tanyaku dengan agak ketus. Aku sedikit mendorong badan Om Yongki dengan sikut.

Tangan om Yongki yang kekar itu langsung membuka resleting celananya dan langsung saja penisnya menyembul keluar. Astaga! Dia tidak memakai celana dalam.

Tentu saja aku sangat shock melihatnya.

Aku langsung bangkit berdiri menjauh dari dia.. Tapi dengan cepat tangannya menangkap tanganku.

“om.. Please jangan aneh-aneh deh!” aku sedikit membentak dengan perasaan panik sambil menarik tanganku, walaupun berhasil tapi cengkraman dia yang kuat mengenggam lengan sweaterku, sehingga arah pergerakan badanku berlawanan dengan tarikan sweaterku sampai pundakku terpampang jelas memperlihatkan tali Bra ku yang berwarna hijau tua itu.

“ih, om.. Kenapa sih…! ” bentakku.

Dia menatap bahuku seperti mau menelanku. Penisnya panjang makin membesar.

“please om.. Lepasin. Lagi kenapa sih om?” aku mulai ketakutan dan memelas. Aku tidak tau mau minta tolong kepada siapa.. Di apartemen ini hanya aku dan pamanku.

Aku mengancam akan berteriak.. Tapi Om Yongki terlihat tenang dan senyumnya makin lebar..

“memangnya om gak tau apa kalau penghuni dilantai 12 ini hanya kamu saja.” katanya.

“ada bu Yuni, ada pak Anwar, pak Dedy..” aku menyebut semua nama penghuni yang kukenal di apartemen ini.

“omong kosong!” bentak dia.

Dia bangkit berdiri dari sofa dengan tangannya yang tetap mencengkeram lengan sweaterku.

“memangnya om gak tau kalau kalian sering main di koridor, lalu di depan pintu janitor, lalu di depan pintu lift, lalu di tangga darurat… ” dia menyebut semua tempat dimana aku dan mas Febrian melakukan seks.

Aku terkejut bukan main. Bagaimana dia tahu semua itu?

Ternyata om Yongki pernah beberapa kali datang ke apartemenku saat aku dan mas Febrian tidak di tempat. Waktu itu ketika dia mau pulang dia mendengar suaraku dengan mas Febrian dibeberapa tempat yang dia sebutkan tadi. Dan dia mengintip diam-diam. Oh tidak..

Aku menjadi kalut. Perasaanku campur aduk..

Lalu tiba-tiba om Yongki memperlihatkan ponselnya kepadaku dengan tangan satunya.

Aku tidak mengerti.. Foto apa yang mau dia tunjukkan..

Tunggu.. Itu bukan foto.. Itu video porno? Astaga

Aku kembali meronta supaya dia melepaskan sweaterku. Cengkraman om Yongki sangat kuat. Dia tidak bergeming sedikitpun.

“diam!” bentaknya. Seketika aku terdiam ketakutan.

“coba lihat lagi yang jelas” katanya sambil terus menyodorkan video itu..

Pas kulihat lagi dengan seksama.. Jantungku rasanya mau copot..

Itu adalah videoku saat diperkosa oleh Jeksen dan kawan-kawan. Aku tidak tahu kalau ternyata adegan itu direkam. Hatiku pilu… Aku tidak menyangka bakal terungkit lagi aib itu. Kini bahkan pamanku mengetahuinya.

“mau saya laporkan ke Febrian? Kamu suka pesta seks” kata Om Yongki memarahiku.

“jangan om.. Please..” jawabku memelas.

Lalu dengan tenaganya yang kuat dia menarik lengan sweaterku sampai tersobek sampai aku terseret hampir jatuh, seketika itu aku menjerit.

“itu aku diperkosa om… Sumpah” aku berusaha menjelaskan.

Hatiku sangat kacau.. Perasaan takut yang aku alami waktu dulu diperkosa oleh sahabatku kini muncul lagi.

“ahh.. Bohong! Kamu keliatan menikmati gitu kok” katanya dengan nada mengejek.

Lalu dengan kasar pamanku merobek sweaterku dengan kedua tangannya sampai membelah dua. Aku menjerit kaget langsung menutupi payudaraku dengan kedua tangan menyilang di dadaku.
Nafasnya mulai terdengar seperti orang kerasukan.

“om sudah lama banget pengen nyicipin kamu, tau!?” teriaknya dengan mata melotot.

Aku mulai menangis.

“Ya Tuhan, kenapa aku harus mengalami ini lagi” jeritku dalam hati.

Aku mulai berlutut seperti menyembah Om Yongki. Memohon supaya tidak melakukan hal buruk terhadapku.

Tapi om Yongki sudah seperti kehilangan kesadaran. Seorang paman yang harusnya mengayomi keponakannya kini tidak berlaku lagi. Dia menamparku sampai aku menjerit kesakitan. Panas dan sakit rasanya pipiku.

Wajahku tepat di depan penisnya yang sudah keras. Dia menurunkan celana jeansnya yang agak bau itu. Kulihat pahanya besar berbulu lebat.

“om.. Please… Hiks..hiks..” aku merengek ketakutan.

Dari posisi dia berdiri didepanku. Aku menunduk menyembah kakinya meminta belas kasihan. Tapi dia langsung membungkuk meraih punggungku, dia membuka kait bra dengan kasar sampai terlepas. Aku menjerit dan menangis sejadinya..

Tanganku mengempit dada menahan bra yang sudah terlepas. Berusaha menutupi payudaraku. Air mataku berlinang di pipi…

Aku melihat ponselnya dilempar ke atas dudukan sofa disampingku. Kemudian telapak tangannya yang besar memegang daguku memaksa kepalaku mendongak ke atas. Wajahku persis dibawah buah zakarnya yang ditumbuhi bulu lebat. Dari bawah penisnya yang berwarna kehitaman dengan bintik-bintik tampak menyeramkan dengan urat yang banyak.

“isep..” ujarnya singkat dengan setengah berbisik.

Aku terisak sambil menggelengkan kepala..

Hatinya seperti es.. Dia seakan lupa bahwa aku ini keponakannya. Dia menjambak rambutku dengan kasar.

“isep.. Ayo cepeet.. ” nadanya datar dengan penuh tekanan.

Tanpa pikir panjang aku mulai membuka mulutku dengan gemetar.. Aku berpikir sebaiknya segera layani nafsu buasnya supaya semua kegilaan ini cepat berakhir.

Aku ragu dengan perasaan canggung dan takut perlahan mulai membuka mulut merasakan benda itu masuk ke dalam barisan gigiku. Tapi kemudian aku menutup mulutku karena ketakutan. Aku tidak yakin bisa melakukan.. Air mataku terus mengalir.

“ampun om.. Hiks.. Hiks.. Please hiks…” aku menangis penuh ketakutan. Aku kembali menunduk seperti orang bersujud..

Aku membayangkan almarhum ibuku yang sudah meninggal 10 tahun lalu, aku membayangkan mas Febrian yang sedang bekerja, aku membayangkan Jeksen yang memperkosaku, semua terlintas begitu cepat. Aku meratapi nasibku.

Akhirnya om Yongki pergi berjalan membuka bingkisan oleh-oleh yang akan diberikan padaku. Aku hanya mendengar suara plastik, suara benda di atas meja..
Lalu aku mendengar suara langkahnya membuka pintu kamar, lalu pintu kamar mandi. Aku masih membungkuk bersujud menyembunyikan wajahku dan terus menangis di lantai itu.

Sekitar 5 menit kemudian aku merasakan posisinya duduk di sofa yang ada disampingku persis..

Tangisanku sudah berhenti.. Tapi aku masih terisak.. Wajahku terasa panas dan basah dengan air mata.

Om Yongki memegang lenganku pelan.. Aku terkejut spontan menarik lenganku menutup dadaku.

“sudah… Jangan nangis.. Minum” dia menyodorkan gelas padaku.

Aku meraih dengan gemetar.. Sambil mengusap pipiku.

Ketika kuminum, ternyata seperti wine. Aku minum sedikit.. ‘Jangan-jangan dia mau membuatku mabuk?’ batinku bertanya.

“abisin..” pintanya dengan tegas.

Wine itu hanya sepertiga gelas.. Aku menurut saja, kuhabiskan. Lalu om Yongki menyodorkan gelas kedua..

Aku menatapnya.. Dalam hati bertanya-tanya.. Apalagi.

Ternyata setelah kuminum hanya air putih. Kemudian Om Yongki meraih kaos putih yang tadi pagi kupakai. Dia menyuruhku menyeka air mata yang membasahi wajahku.

Setelah itu beberapa menit kemudian kami saling terdiam.. Posisiku masih berlutut di lantai dan menyenderkan tubuhku kesamping dudukan sofa. Aku masih menunduk dengan suasana canggung ini. Aku tidak berani melihat om Yongki yang duduk depanku.

Om Yongki berdiri berjalan ke arah pantry.. Aku masih membisu.. Langsung saja bra yang kukempit ini kupakai lagi dan kaos putih yang tadi juga langsung kupakai. Aku berdiri dan jongkok di sofa dengan posisi meringkuk tertunduk sambil memeluk kedua kakiku. Tanpa berani melihat dia.

Harusnya aku lega.. Tapi kenapa perasaanku tidak enak.

“udah.. Kejadian tadi jangan bilang siapa-siapa ya” katanya.. Langsung kujawab dengan anggukkan.

Kudengar dia mencari sesuatu di kulkas. Lalu berjalan kemari duduk di sofa seberangku.. Suara berikutnya dia meminum kopi dari cangkir yang tadi kusajikan padanya.

“bisa ceritakan gimana kejadian yang ada di video itu?” tanya om Yongki berusaha mengajakku bicara.

Aku masih menunduk tidak berani menatapnya. Hanya menggelengkan kepala..

Kudengar suara tv berganti channel. Lalu suara dia meminum kopi lagi… Dan aku masih mematung.

Benar saja dugaanku..

Entah kenapa tiba-tiba jantungku makin cepat dan mulai terasa horny..

Aku ketakutan sampai gemetar.. Aku merasa pengen banget melakukan seks.. Astaga…

“udah enakan..?” tiba-tiba om Yongki bertanya.

Tentu saja aku kaget. Ternyata dia merencanakan sesuatu..

Aku bangkit berdiri dan berjalan buru-buru ke kamarku.

“sorry.. Om..” pamitku meninggalkan ruang tamu. Sekilas kulihat dia tidak menoleh, hanya melirikku sebentar lalu arah matanya kembali menonton tv.

Setelah masuk kamar langsung aku kunci pintu. Lalu aku terduduk di lantai bersandar pada pintu kamar dan mau menangis lagi.. Tapi tidak ada air mata yang keluar. Beberapa saat kemudian aku bangun berjalan menuju kasur dan membaringkan diri sambil menarik selimut.

Rasa horny masih belum padam… Kenapa aku merasa kepengen banget. Pasti om Yongki menaruh sesuatu dalam minuman tadi. Tak sadar tanganku masuk menyelip dibalik celana ketatku mencolek vaginaku..

Rasanya kepengen banget memasukkan kesuatu kedalam.. Aku mulai mencolokkan jariku perlahan. Aku merasakan vaginaku mulai basah..

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara pintu kamar. Spontan aku menoleh ke arah pintu.. Tadi sudah ku kunci.. Batinku meyakinkan.

Kulihat handle pintu turun perlahan bersamaan dengan suara kunci… Dan akhirnya terbuka…

Aku kaget bukan kepalang. Langsung aku meringkuk mundur sampai menyender pada headboard ranjang dan menarik selimutku penuh sampai menutup tubuhku.

Bagaimana mungkin aku terheran dan panik.

Ternyata om Yongki tadi mengambil kunci master yang ada di atas kulkas. Dia mengetahui ada kunci disitu rupanya.. Ohh tidak… Aku mulai sedikit berkunang-kunang.

Om Yongki membuka pintu kamar lebar-lebar dan berjalan pelan ke arah ku..

Dia sudah telanjang bulat. Penisnya membesar menunjuk ke arahku.

Tanganku gemetaran memegang selimut.

Lalu dia menarik selimutku dengan kuat sampai peganganku terlepas. Aku ketakutan meringkuk dengan kedua tanganku kedepan memberi tanda menyetop..

“jangan om… Please..” aku merengek..

Dia semakin dekat naik ke atas kasur sambil melempar selimut ke ujung ruangan kamar. Aku merasakan kasur bergoyang saat dia naik keatasnya..

Tangannya yang kekar menarik kakiku dengan kuat sampai aku terseret merebah diatas kasur..

Dalam sekejap dia sudah diatasku. Lalu tangan kanannya meremas payudaraku yang masih terbungkus kaos. Aku menjerit sekaligus merasakan nikmat.

“om.. Jangan om.. Please” aku memohon..

Tangan kirinya memegang leherku seperti mencekik. Kedua tanganku memegang lengannya untuk menahan sakit dileherku. Tangan kanannya masih meremas payudaraku bergantian sebelah kanan dan kiri. Nafasnya makin kencang kudengar.

Dia menciumku dengan buas.. Aku tidak bisa menghindar karena leherku terkunci. Hanya memejamkan mata dan merapatkan bibirku. Kurasakan dia mencium pipiku, bibirku, hidungku, dan terakhir dia menjilat kupingku!

OH tidak..! Darahku seketika mengalir deras ke ubun-ubun.. Kurasakan diriku terangsang.

“wangimu enak banget Mel” bisiknya sambil menjilat lagi.

Ah.. Tidak.. Jeritku dalam hati.

Kedua tanganku terus memegang menahan lengannya yang kekar mencekik leherku.

Tanpa terasa tangan satunya sudah membuka resleting celana pendekku..

Sesaat dia melepaskan leherku, kedua tangannya dengan cepat menarik celana pendekku turun.. Tapi tidak mudah karena pantat dan pahaku yang montok menghambat..

Dia malah semakin bernafsu. Nafasnya makin keras kurasakan. Lalu kedua tanganku berusaha menarik celana pendekku yang sudah turun hampir separuh paha…

Tapi tangan kiri om Yongki langsung menyingkap kaosku naik sampai membuka sebelah payudaraku yang masih tertutup bra. Tangan kananku langsung menahan tangannya dan berusaha menurunkan kaosku lagi, tapi dengan begitu pertahanan bawahku melemah.. Tangan kanan om Yongki berhasil menarik celana pendekku sampai ke lutut.

Serba salah.. Aku tidak bisa mempertahankan dadaku dan bagian bawah perutku bersamaan.

Jari tangan om Yongki langsung menggesek vaginaku yang masih tertutup celana dalam. Terus terang aku terangsang. Tapi aku menolak perasaan itu.

Aku berusaha sekuat tenaga memegang tangannya supaya berhenti menggesek kemaluanku. Aku tidak banyak bicara, karena sebaiknya fokus pada tenagaku melakukan pertahanan.

Namun tangan om Yongki cepat menarik cup bra ku yang terbuka sampai payudaraku menyembul… Seketika dia langsung menghisap putingku..

“ahh…” aku tidak sengaja mendesah.

Nafsu om Yongki semakin brutal.

Kedua tanganku memegang kepalanya kujambak mundur rambutnya supaya melepas mulutnya dari payudaraku.

Nafasnya menggebu-gebu. Kedua tangannya memegang pinggulku.. Dan mencengkeram celana dalamku. Aku melotot panik. Benar saja…

Seketika celana dalamku ditarik kuat kebawah arah lututku sampai ada bunyi sobekan.

“aah..! Jangaaan om” jeritku..

Dia melotot ke arah vaginaku yang ditumbuhi bulu halus.. Seperti kesetanan..

Dia langsung membungkuk wajahnya mendekat ke vaginaku. Dia menjilat dengan lidahnya yang kuat..

“ya ampun… Enak” batinku.

Aku seperti hilang ingatan… Ini tidak boleh terjadi.

“om.. Sudah om.. Please om” aku memelas.

Jilatannya kuat seperti menyapu.. Dari bawah ke atas, dari bawah keatas… Terus berulang di bibir vaginaku. Sampai sesekali menembus klitorisku.

Aduhh.. Rasanya enak, nafsuku mengkhianati diriku.

Mataku terpejam sambil tetap mencengkram rambut om Yongki, namun cengkramanku makin melemah karena merasakan rangsangan ini.

Om Yongki mundur berdiri tegap dipinggir ranjang, dia menarik pinggangku kearahnya sampai kurasakan pantatku sudah dipinggir kasur.

“om.. Jangan om.. Jangan.. ” aku menatapnya memelas sambil menggelengkan kepala.

“SSH… Diam” katanya singkat.

Lalu dia melepaskan celana pendekku yang ketat, kemudian celana dalamku.. Setelah itu kedua tangannya mengangkat kedua kakiku sampai mengangkang..

“om.. Aku keponakanmu loh om” aku berusaha menyadarkan dia. Tapi dia sudah tidak perduli..

Kulihat penisnya sudah makin keras mengacung ke atas dengan bentuk yang kasar banyak urat..

“please om.. Jangan..” aku berusaha bangkit tapi susah dengan posisi mengangkang ini.

Aku merasakan kepala penisnya menyentuh bibir vaginaku.. Ohh tidak.. Sepertinya akan menyakitkan pikirku.

Kondisiku yang terangsang ini susah sekali menolak.. Aku pasrah.. Bahkan menanti benda itu masuk ke vaginaku.

Kepala penis mulai menerobos.. Perlahan.. Aku terdiam konsentrasi merasakan.

Makin lama makin dalam.. Mulut vaginaku merasakan penis om Yongki makin masuk kedalam semakin besar.. Rasanya keras seperti kayu.. Hangat. Ohh.. Rasanya membuatku seperti melayang.

Benda itu masuk makin dalam tidak berhenti.. Ya ampun sepanjang apa sih pikirku..

Lama-lama aku menggelinjang merasakan sedikit sakit bersamaan dengan nikmat yang luar biasa. Kepalaku kesamping kutekan pipiku dikasur, tanganku masing-masing disamping badanku mencengkeram sprei kasur.

Aku merasakan penisnya ditarik keluar perlahan.. Tidak sampai kepala penis kemudian masuk lagi dengan agak cepat..

Pokk..!

“ouhh…” desahku.. Sialan enak banget.

Lalu terasa lagi penis itu ditarik perlahan keluar setengah kemudian masuk lagi dengan cepat.

“ahh.. Ssh” aku mendesah tiap benda itu masuk dengan cepat. Payudaraku terasa berguncang

Semakin lama sodokan itu semakin cepat sampai kurasakan basah sekali vaginaku..

Ternyata rasanya tidak sesakit yang kubayangkan. Nikmat sekali penis om Yongki.

Semakin cepat sodokan om Yongki sampai badanku teguncang.. Suara tepukan selangkangan kami terdengar keras..

‘pok..! pok! .. pok! .. pokk…! ‘

Rasanya seperti mau pipis..

“enak gak Mel..?” tanya om Yongki sambil menggenjotku.

Aku hanya diam…

Aku sampai tidak sadar kaosku sudah disingkap keatas sampai dadaku, payudaraku terpampang jelas sedang diremas om Yongki..

“buka.. buka..” perintahnya..

Entah kenapa aku menurut saja. Dengan posisi tiduran ini aku membuka kaos dan melempar asal ke pinggir kasur. Lalu om Yongki menarik bra ku dengan maksud menyuruhku melepasnya..

Aku sedikit mengangkat punggungku untuk meraih kait bra dibelakang punggung. Sambil terus disodok aku mendesah.. Berusaha membuka kait bra yang tidak mau lepas ini..

‘pok… pok… pok…! ‘

Om Yongki terus menyodokkan dengan konstan.. Tenaganya tidak berkurang sedikitpun. Aku digenjot selama kurang lebih setengah jam.

Lalu om Yongki berhenti, mencabut penisnya.. Dia menarik tanganku supaya badanku bangun dan menyuruhku berbalik badan dengan posisi seperti merangkak di atas kasur.. Ya aku tahu dia mau melakukan doggy style.

Dari belakang aku merasakan pantatku di tampar berkali-kali sama om Yongki..

‘pakkk!’

“nakal” katanya

Aku merasakan pantatku bergoyang seperti puding..

‘pakkk!’

“anak nakal” katanya berulang kali mengejekku.

Penisnya yang keras itu digesekkan pada belahan pantatku yang besar ini. Vaginaku terasa basah banget..
Tidak lama kemudian penisnya mulai menempel tepat di bibir vaginaku…
Aku tidak sabar menunggu benda itu masuk kedalam..

Sesaat kemudian penis itu masuk dengan perlahan..

“oouh..” aku mendesah panjang seiring panjangnya batang penis itu masuk kedalam..

Rasanya bener-bener bikin aku melayang..

Penis itu terdiam di dalam.. Aku merasakan batang keras itu hangat berdenyut..

“ya ampun enak banget” batinku

Aku sudah dikuasai nafsu.. Sampai lupa bahwa ini tidak boleh terjadi. Birahiku sudah memuncak mengkhianati diriku.

Lalu aku merasakan pantatku diremas sama om Yongki.. Penisnya ditarik keluar sedikit lalu disodokkan lagi sambil meremas menarik pantatku.

‘pokk! ‘

“ahh…” aku mendesah..

Kemudian penisnya ditarik lagi sedikit… Dan disodokkan lagi dengan kencang..

‘pokk!’

“Aauhh.. Shh..! ” aku menahan sakit sekaligus nikmat.

Terus berulang seperti itu makin lama temponya semakin cepat…

Payudaraku bergoyang masih ditopang bra ku..

Sesekali aku merasakan tangan kirinya di punggungku mengenggam bra bagian pengaitnya, seolah menarik tali kekang kuda. menarik kuat saat menyodokkan penisnya.

‘pokk.. pokk.. pokk..! ‘ tepukan itu mengisi ruangan kamarku. Kamar dimana seharusnya hanya ada aku dan mas Febrian.

Om Yongki terus menggenjotku dengan sangat nafsu.

“memekmu ternyata enak banget ya Mel” kata om Yongki dengan nafas memburu.

Akhirnya aku tidak tahan lagi, pipisku keluar diiringi perasaan yang sangat nikmat sampai melayang rasanya.

Genjotan itu berlangsung hampir seperti setengah jam lamanya.. Sampai aku pipis 3 kali..

Aku merasakan sodokan om Yongki makin cepat makin cepat…

‘plak.. plak… plak.. plak..’

Tepukan antara pantatku dengan pangkal pahanya terdengar becek karena vaginaku sangat basah.

“mmhh..” om Yongki mendesah

“ahh..”

Tak sadar desahanku mengiringi tiap genjotan. Peluh keringat dibadanku sampai menetes di kasur.

Desahan kami saling bersahutan.

Semakin cepat om Yongki menggenjotku. Semakin kuat hentakkannya..

‘plak..! plak.. plak..!’

Sembari pinggangku digenggamnya dengan mantap.

‘plak..! plak..! plak..!’

Nafasnya semakin cepat…

Desahanku juga semakin cepat..

“hmm… Sshh.. Hmm sshh”

Dan akhirnya… Dia mencabut penisnya keluar…

“eerghhh ssshh..” om Yongki mendesah sangat keras.

Aku merasakan cairan panas menyemprot di atas punggungku.. Kadang ada yang menetes jatuh di atas pantatku.

Setelah beberapa detik aku terdiam menunggu semua semprotannya habis..

Lalu aku merebahkan badanku di kasur tengkurap.. Wajahku menghadap samping.. Mengatur nafas…

Om Yongki juga merebahkan badan disampingku sebagian badannya yang berat menimpaku…

Suara nafasnya mulai pelan masih terdengar jelas…

Tangannya meraba mengusap sebelah pantatku sesekali meremasnya..

BERSAMBUNG – Kisah Pamanku Tega Memperkosaku Part 01 | Kisah Pamanku Tega Memperkosaku Part 01 – BERSAMBUNG

Selanjutnya (Part 02)