Kisah Menembak Pacar dengan Semprotan Chapter 1

0
1577

Namaku Jimmy Lustego. Pekerjaanku sebagai manajer marketing. Disamping itu aku juga bandar narkoba. Di kantor ini aku mengumpulkan orang2 untuk melakukan dosa berjamaah. Beberapa kali aku mengajak anggotaku untuk pesta seks dan narkoba. Entah kenapa aku ditunjuk sebagai Ketua KAMBING, yang katanya merupakan singkatan dari Komunitas Anak Muda Birahi Tinggi. Anggotaku kini sudah berjumlah 6 orang.. Mereka semua memujaku :
Steven (Staff Marketing)
Ari (Staff Purchasing)
David (Manajer HRD)
Arman (Office Boy)
Jaenal (Supervisor Lapangan)
Ratna (Resepsionis)

Ya. Ada seorang cewe. Ratna bergabung karena alasan ekonomi. Berawal dari sering meminjam uang dengan berbagai alasan. Sebagai gantinya kami sering memakai dia bergantian.

Kisah Fitri…

Sore hari sekitar jam 4, di kantor sedang sibuk. Fitri bagian finance sedang mengurusi para tukang yang mengajukan reimbursement.

Banyak tukang yang menggoda Fitri dengan genit. Terutama Warsono, dia bahkan berani mencolek pinggang Fitri yang berhijab. Namun Fitri sangat ramah, tidak pernah marah atau tersinggung. Banyak yang menasihati Fitri supaya tidak meladeni para tukang yang genit.

Tapi Fitri selalu menepis anggapan negatif teman kantor, ia selalu dengan ramah meladeni candaan para tukang.

Hanya orang2 kantor di level eksekutif yang masih tau sopan santun, tidak menyentuh Fitri walau seakrab apapun.

Wajah Fitri benar2 mirip dengan artis sinetron, Asmirandah. Hanya ukuran payudaranya lebih besar menonjol indah, membuat pria2 berotak mesum penasaran.

Usianya masih 25 tahun. Dan single.

Suatu ketika, Fitri harus lembur untuk mengurus laporan keuangan. Camelia, atasannya sedang cuti menikah. Sehingga ia cukup keteteran menggantikan tugasnya.

Aku yang dari dulu naksir berat dengan Fitri menyusun rencana sore itu. Dengan alasan lembur juga. Padahal tidak ada yang kukerjakan, semua sudah beres. Fitri sedang di mesin fotocopy, sedang menyalin dokumen. Aku pura2 lewat…

“pak Jimmy.. Belum pulang?” tanya Fitri

“oh… Belum nih..” jawabku sok cool sambil berlalu…

Aku berjalan ke mejanya yang terletak di ujung koridor.

Sesampainya di meja Fitri, aku melihat sekitar, memastikan tidak ada orang melihat. Lalu kutaruh bubuk obat ke dalam gelas minuman Fitri, lalu kuaduk pake jari. Setelah itu aku pergi dari situ pura2 ke meja Leny, bagian Estimator.

Tidak lama kemudian ada langkah mendekat… Fitri berjalan ke arah mejanya.

Ia menatapku tersenyum sambil berjalan melewati.

“aduuhhh… Manis banget, pengen kusetubuhi rasanya” batinku.

Sesaat dia memalingkan wajahnya dariku, aku mencuri pandang melihat payudaranya yang besar, bergoyang naik turun saat berjalan.

Fitri mengenakan kemeja biru lengan panjang tanpa kancing, tapi resleting dibelakang punggung, panjangnya sepaha atas. Bagian bawahnya mengenakan celana bahan berwarna hitam. Hijabnya berwarna krem bermotif bunga.

“ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Leny.

“oh engga.. Anu.. Mau nanya proyek Ancol” jawabku sekenanya. Untuk menutupi salah tingkah, aku basa basi menanyakan proyek tersebut.

Aku pernah mendengar gosip dari beberapa orang bahwa Fitri naksir denganku tapi dia pemalu. Dia sering menanyakan sesuatu tentangku..
Walaupun banyak tuduhan miring kepadaku, tapi Fitri terlihat tidak menjauh denganku.

Sekitar jam 6 sore. Kantor sudah mulai sepi. Banyak yang sudah pulang dari kantor.

Seperti biasa.. Aku berkoordinasi dengan Arman untuk melihat situasi kantor. Memastikan tidak ada orang lain. Tapi kali ini Arman cukup terkejut karena target operasiku kali ini adalah Fitri, wanita yang terkenal religius.

Fitri tidak bergerak dari mejanya. Aku penasaran sedang apa dia sekarang. Lalu aku berjalan ke arah mejanya.

Ternyata Fitri sedang duduk memegangi kepalanya.

“eh.. Fitri, belum pulang?” tanyaku basa basi.

“ya pak. Kepalaku pusing rasanya” jawab Fitri. Badannya lemas. Ia merebahkan badannya kedepan, kedua tangannya melipat di atas meja, kepalanya bersandar di atasnya.

“rasanya ngantuk sekali deh” katanya pelan..

Aku hanya tersenyum. Obat itu telah bekerja, batinku.

Lalu aku berdiri disampingnya, meraba punggungnya, merasakan tali BH nya di balik gaun itu. Fitri hanya diam.

Detak jantungku mulai menggebu-gebu. Aku meraba lengannya, mengusap bahunya, punggungnya..

Lama-lama tanganku meraba bagian atas punggungnya, diam2 kubuka resleting bajunya. Nafasku semakin memburu melihat punggungnya yang putih mulus. BH nya berwarna putih menghiasi punggung Fitri.

“pak.. Ngapain?” tanya Fitri dengan posisi kepala masih tiduran di atas lengannya. Matanya sayu…

Aku diam saja.

Lalu kait BH nya kulepas..

Fitri tercekat menyadari punggungnya terbuka. Kepalanya bangkit sedikit, karena terlalu lemas.

“bapak ngapain? Bajuku kebuka ya?” katanya lirih.

“cuma buka dikit kok..” kataku berbisik sambil mencium pipinya.

Fitri sangat terkejut, tapi badannya lemas tidak bisa berontak. Aku memeluknya dari belakang, tanganku menyelip dari belakang masuk ke bajunya, meraba payudaranya… Lembuuut banget. Ukurannya besar tapi sangat lembut… Asli.

“ah.. Jangan..” kata Fitri mendesah..

Lalu kugendong tubuh Fitri yang cukup mungil ke pangkuanku. Posisi penisku yang sudah mengeras tertimpa bokongnya.. Empuk banget.

Payudaranya terus kuremas dari belakang, pipinya kucium terus..

“astagfirullah…. Jangan pak..” Fitri berusaha menjerit.

Badannya bergoyang terus sehingga penisku malah semakin merasakan empuk pantatnya….

Lalu bajunya kubuka, kuturunkan kebawah sampai perutnya. Punggungnya mulus banget. Setelah itu BH nya kulepaskan dari lengannya, Fitri tidak bisa berontak karena lemas, tangannya menurut saat melepaskan tali BH dari pundaknya… Kemudian ia membungkuk ke arah meja. Kedua tangannya melipat di atas meja. Seolah ia pasrah. Karena menahan rasa pusing seperti nge fly katanya.

“pak.. Tolong jangan…” katanya lirih.

Aku masih memangku Fitri, menatap tubuhnya dari belakang, mulus banget tanpa cacat, hanya hijabnya yang masih membungkus kepalanya.

Penisku semakin keras menyundul pantatnya..

Nafsu birahiku semakin memuncak rasanya. Dengan tenaga penuh nafsu aku mengangkat tubuh Fitri, membalikkan tubuhnya sampai terlentang di atas meja.

Payudaranya luar biasa… Sempurna. Putih mulus terlihat sangat besar bila dilihat dari proporsi ukuran tubuhnya.

Putingnya cukup besar berwarna cokelat muda dengan aerola yang sedang.

Duh… Rasanya bukan kenyal lagi, tapi lembuuut banget. Bener2 masih perawan nih kayanya, dalam hatiku.

Kedua tangannya memegang kepalanya

“pak tolongin aku… Pusing..” lirihnya sambil memejam matanya.

“ssst… Tenang. Nanti pusingnya hilang kok” bisikku.

Aku membuka resleting celana Fitri, kemudian aku melepaskan semua pakaiannya..

Hanya tersisa hijab dan celana dalamnya yang masih menempel di tubuh sempurna itu.

Fitri terlentang lemas, ia menyadari bahwa dirinya akan disetubuhi, kedua tangan dan kakinya berusaha berontak tapi tidak ada tenaga, hanya bergerak pelan. Ia memalingkan kepalanya ke kanan dan kiri di atas meja itu.

“tolong….” suaranya hampir hilang..

Sementara itu aku melepaskan semua pakaianku dengan nafas penuh nafsu.

Kemudian aku mulai meraba tubuhnya, putingnya ku emut dan kujilati. Wahh… Putingnya juga lembut banget, kenyal2 dikit.

“uummhhh….” Fitri melenguh panjang, matanya memejam.

Posisiku berdiri dihadapan Fitri yang terlentang pasrah, kuremas terus payudaranya bergantian sebelah kanan dan kiri.

Aku mencium payudaranya gemas, bawahnya, sampingnya, putingnya. Ciumanku terus bertubi-tubi sampai ke dadanya, lalu naik ke bibirnya… Ummhh…..

Wajah cantik Fitri sangat dekat sekali, bibirnya lembut, matanya melihatku sayu…

Penisku sudah sangat keras mengkilap, menyundul vaginanya yang masih terlindung celana dalam putih.

Mmhhh… Muach… Mmm..

Aku terus melumat bibirnya yang tipis dan lembut. Enak banget rasanya. Fitri secara tidak sadar menikmati ciumanku.. Vaginanya terasa basah…

Fitri sudah terangsang.

Kemudian aku berdiri tegap, menarik celana dalamnya sampai lepas.. Bulu kemaluannya sangat hitam dan lebat, bulu2nya halus sekali.

“pak.. Tolong jangan… Aku masih perawan…” katanya..

“kebetulan..” kataku.

Kepala penisku sudah kemerahan mengkilap, kuarahkan ke bibir vagina Fitri.

“aku belum pernah merasakan perawan” bisikku.

Dan masuklah kepala penisku ke dalam vaginanya…

Slebb… Masuk sedikit sekitar 5 cm…

“aahh… Sshh..” Fitri menahan sakit, ia menggigit tangannya yang mengepal, tangan satunya menggenggam pinggiran meja.

Aku mendorong penisku sangat perlahan, vaginanya sangat sempit sekali…

“aaaahhhh…..” Fitri mendesah panjang dengan nafas yang tidak beraturan merasakan penisku perlahan masuk semakin dalam.

Tanganku memuntir puting payudaranya supaya rasa sakitnya teralihkan.

“mmhh…” Fitri mendesah dengan tenaga, seperti wanita mau melahirkan.

Batang penisku terus menerobos… Masuk sudah 8cm menembus vagina wanita pujaanku.

Dan terus masuk sampai 12cm, dinding vaginanya menjepit kuat batang penisku. Liang vaginanya terasa hangat dan panas.

Nafasnya terengah-engah, mendesah berkali-kali menahan sakit. Ia meringis memejamkan terus matanya, tidak berani melihat.

Makin lama makin dalam…. Sampai penisku sudah masuk sepanjang 18 cm… Hampir mentok.

“saaakit… Aahh…” Fitri setengah menjerit.

Kemudian penisku terdiam.. Merasakan sensasi vagina Fitri yang perawan… Wuihh… Nikmat banget… Hangat sekali.

Penisku terasa digenggam kuat.

Aku merasakan vaginanya berkedut memijit batang penisku….. Yaa ampun…. Rasanya tidak ada duanya!

Penisku juga berdenyut melawan pijitan vagina Fitri. Kami berdua mematung beberapa menit. Saling menikmati rasanya bersenggama.

Lalu aku mulai menarik penisku dengan sangat perlahan…

“oooh….” mulut Fitri melenguh panjang.. Matanya melotot…

Batang penisku terlihat basah lendir dan darah perawan Fitri…

Sampai keluar sekitar 10cm an.. Lalu kudorong lagi dengan pelan… Slebb….

Penisku masuk lagi, rasanya seperti diurut… Hangat.

“heghh… Mmhhh..” Fitri mendesah nadanya tinggi. Tangannya mencengkram lenganku.

Kemudian aku menarik penisku lagi pelan2. Vaginanya terus memijit kuat tanpa henti…

“ahhh.. Hhhh.. Hhh” Fitri ngos2an..

Lalu kudorong lagi masuk penisku…

“hegghh.. Mmhh..” Fitri mendesah lagi dengan nada penuh tekanan.

Aku terus menarik dan mendorong penisku keluar masuk berulang-ulang dengan perlahan, sampai vaginanya menyesuaikan padatnya penisku.

Cukup lama… Sampai sekitar setengah jam lebih..

Terlihat butiran2 keringat mulai membasahi dadanya yang putih mulus itu. Aku meremas payudaranya terus menerus ketagihan. Belum pernah kurasakan payudara selembut ini.

Wangi badan Fitri juga enak banget…

Penisku menyodok terus dengan lembut. Aku menyetubuhi dengan nafsu dan cinta.

“aah.. Ahh…” Fitri mendesah, wajahnya cantik sekali dengan bibirnya yang merekah.

Lama-lama Fitri mulai menikmati genjotanku. Wajahnya memerah.. Seperti mabuk. Rasanya kaya melayang, katanya polos.

Sungguh beruntung, akulah orang pertama yang menyetubuhi Fitri. Perawannya jatuh di penisku.

Tanganku terus memainkan payudaranya.. Nikmat banget.

“aah… Ahh… Ahh..” Fitri merintih setiap penisku menyodok masuk.

Vaginanya semakin lama semakin licin, namun tetap memijit penisku dengan kuat. Hangat sekali. Duh.. Rasanya bener-bener enak mampus.

Kedua tanganku mengangkat kedua pahanya supaya kakinya semakin mengangkang lebar. Pinggulku maju mundur dengan mantep, kali ini penisku bisa masuk maksimal sampai mentok dinding rahimnya.

“aahh… !!” Fitri meringis menahan sakit.

Aku tidak berani mengenjot dengan kuat seperti waktu menggenjot Amanda. Dengan sangat lembut kusodok vaginanya… Dengan penuh kasih sayang.

“aah.. Aah.. Ahhh… Ahhh… Aahh.” Fitri mendesah pelan setiap merasakan penisku masuk mentok.

Hampir sejam aku menggenjot tanpa lelah. Begitupula dengan Fitri yang terbaring lemas mulai menikmati penisku.

Lalu aku memeluk Fitri dengan penis masih menancap di kemaluannya. Menggendong badannya naik dari meja, aku duduk di lemari pendek samping situ. Aku menahan badannya seperti memangku berhadapan. Kedua kakinya mengangkang ada disamping kanan kiri pinggangku. Tanganku memeluk tubuh Fitri, menahan punggungnya supaya dia tidak jatuh kebelakang.

Dengan memanfaatkan berat tubuhnya Fitri, vaginanya menelan penisku makin dalam sampai dia meringis lagi..

“eeww… Shh…” lirihnya.

Kedua tangannya menekuk didadanya berpegangan dadaku. Aku melihat payudaranya yang besar itu terlihat kenyal kepencet, sungguh menggemaskan.

Aku mencium bibirnya lagi..

Fitri sangat pasif.. Bibirnya tidak banyak bergerak menerima ciumanku. Atau mungkin dia belum pernah ciuman?

Dengan posisi ini, aku hanya bisa menggoyangkan pinggulku, karena tidak mungkin bagi Fitri yang lugu menggenjotku. Terlebih karena tenaga dia yang lemas karena pengaruh obat.

Penisku seperti mengaduk liang vaginanya… Perlahan.

“pelan pelan ya pak..” katanya berbisik.. Wajahnya malu disembunyikan di samping leherku.

Duuh… So sweet banget sih ni cewek….

Penisku semakin keras seiring gairahku yang membara.

“iya sayang…” jawabku berbisik.

Penisku terus mengaduk sampai terasa basah sekali..

Sekitar 15 menitan..

“aduh… Aduh….” kata Fitri setengah teriak…

Aku sempat terheran.. Lalu pahaku terasa basah dan panas… Cairan kencing keluar sampai membasahi lemari dan menetes di lantai.

Rupanya Fitri orgasme.

Wajahnya semakin merapat ke leherku. Dia malu.

Kedua tangannya naik merangkul leherku. Dia memelukku erat-erat.. Payudaranya ampuunn… Lembut banget kejepit di dadaku.

“enak Fit…?” tanyaku berbisik..

Fitri hanya menunduk. Masih menyembunyikan wajahnya.

Kemudian aku merasakan pinggulnya mulai bergoyang… Seakan ia minta lagi…

Langsung saja kugenjot mulai agak cepat kali ini.

“eeghh… Egghh… Eegghh… Egghh” Fitri menahan desahan yang keluar dari mulutnya dengan tangan.

Wangi tubuhnya bener-bener membakar libidoku.

Setelah beberapa menit…

Fitri mencium pipiku tiba-tiba. Aku sampai terkejut.

Ia memelukku kuat…

“mau dibikin pipis lagi..” bisiknya malu2.

Rasanya berbunga-bunga hati ini. Dengan penuh cinta kugenjot lagi… Pantatnya kuangkat lalu kuturunkan supaya penisku bisa keluar masuk..

“aahh.. Shh….” Fitri mendesah cukup keras.

Sambil kuremas pantatnya, kuayun terus naik turun… Penisku menyodok mantap sampai berbunyi tepukan.

Plok…

Plokk..

Plok….

Plokk….

“aahh… Sshh..” desahnya.

Fitri mulai terlihat berbeda. Dengan nafsu birahi yang merongrong jiwanya sekarang ia menjadi binal. Tenaganya mulai pulih… Atau mungkin karena nafsunya?

Obatku bener-bener kualitas wahid.

Fitri memeluk leherku, lalu membenamkan wajahku ketengah payudaranya.. Ufff…mantep…

Ia mulai berani menggenjot, pinggulnya bergerak mengayun terus…

Vaginanya melahap penisku dengan ganas…

Kenikmatan kali ini bener-bener luar biasa!

Pengalamanku dengan Camelia, Amanda, Ratna dan lainnya putussss.

Penisku terasa dijepit rapat dengan pijitan tanpa henti, ditambah lagi dengan kehangatan liang vaginanya.

“ouhh… Sshh…. Ohh… Shh…. Ohhh… Ohh….” desahan Fitri semakin liar.

Plokk…

Plokk…

Plokk…

Plokk..

“pak.. Aduhh… Pak… Shhhh” Fitri setengah berteriak menahan sesuatu… Pelukannya semakin erat. Genjotannya semakin cepat..

Plokk… Plokk…

Plokk…

Tidak lama kemudian…

Air keluar lagi membasahi pahaku, seperti kencing..

Sesaat genjotan Fitri melambat.. Nafasnya ngos2an… Lalu ia tanpa malu lagi mencium bibirku.. Lidahnya keluar menjilat gigiku, lidahku… Ciumannya ganas.

Aku sampai tidak bisa berkata-kata…

Biasanya cewe sering melayang dengan genjotanku.. Tapi kali ini justru aku yang melayang….

Aku merasakan kenikmatan parah dari seorang gadis lugu perawan, Fitri.

Perlahan pinggulnya sudah bergoyang cepat lagi…

Ia ketagihan merasakan nikmat orgasme.

Plok.. Plok…

Plok…

Plok…

Plokk..

Pelukannya kuat.. Sesekali ia membenamkan wajahku lagi di belahan payudaranya.

“aahh… Shhhh…. Aah.. Ah… Ah… Ah…” desahan Fitri sangat liar.

Wajahnya basah dengan peluh keringat, seksi banget. Matanya menatapku sambil menggenjot. Lalu ia menyosor bibirku lagi sambil terus menggenjot.

“hm… Hhmm…..” Fitri menggumam kencang, nadanya tinggi. Diiringi cairan air membasahi pahaku lagi. Tapi ia terus menggenjot.

Saling nikmatnya genjotan Fitri aku sudah tidak sanggup menahan gejolak orgasme…

Dan…..

Air mani ku menyemprot deras di dalam vaginanya…

Fitri masih terus menggenjot cepat…

Sesaat aku menahan, memegang pinggangnya…

“stop Fit.. Stop” bisikku.

Sesaat Fitri berhenti menggenjot. Ia merasakan cairan panas menyemprot – nyemprot di dalam vaginanya.

Wajahnya heran menatapku yang sedang melenguh merasakan orgasme..

“pipis juga ya?” tanya Fitri lugu.

Aku hanya diam… Takluk kepadanya.. Sungguh..

Nikmat orgasmeku sampai terasa di ubun2.

Fitri seolah ingin menggenjot lagi.. Tangannya mulai memelukku lagi

“sudah Fitri… Aku sudah keluar..” kataku lemas.

“kenapa?” Fitri bingung

Lalu aku menjelaskan bahwa pria hanya bisa sekali orgasme pada suatu waktu. Berbeda dengan wanita, bisa Berkali2 orgasme.

Setelah menjelaskan, Fitri mengangguk.

Sebelum kami sudahan.. Ia memelukku lagi sambil berbisik..

“pak.. Nanti aku hamil ya..? ” tanya Fitri lugu.

Aku sangat terkejut mendengarnya. Wajahnya disamping leherku. Memeluk dengan erat.

“jangan tinggalin aku pak… ” katanya lirih..

“iya sayang… Pasti aku nikahin kamu” jawabku mantap…

Setelah kami beres2.. Aku mengantarnya pulang. Dia terus menatapku saat aku menyetir, sampai ia ketiduran.

Sejak kejadian itu aku resmi berpacaran dengan Fitri.

Pembaca setia BanyakCerita99, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)BTW yang mau Mensupport Admin BanyakCerita  dengan Menklik Gambar Diatas dan admin akan semakin semangat dapat mengupdate cerita full langsung sampai Tamat.
Terima Kasih 🙂

BERSAMBUNG – Menembak Pacar dengan Semprotan Part 01 | Menembak Pacar dengan Semprotan Part 01 – BERSAMBUNG

Selanjutnya (Part 02)