Keluarga Birahi Part 1

0
8021

“Waduh… Sudah jam 6….” Pekik Listy Agustina, ketika terbangun dari tudir paginya. “Bangun Mas… Nanti terlambat…” Tambah wanita cantik itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.

“Hhooooaaaahhhmmm…. ” Hanya itu jawaban Mike Suhendar. Suami Listy sambil mengucek-ucek matanya, “Gara-gara kamu Dek… Kita jadi bangun telat gini…”Tambah Mike.

“Enak ajah… Ya gara-gara tititmu itu… Semalam kita jadi nggak bisa tidur nyenyak… Hihihi… ” Jawab Listy sambil membungkus tubuh telanjangnya dengan jubah tidur berukuran mini. “Udah sana mandi… Aku mau siapin sarapan dulu…”

Dengan terburu-buru Listy segera bergegas keluar kamar dan menuju ke dapur. Jemari lincahnya segera mempersiapkan sarapan pagi.

SREEENG… CES TENG TENG CES SREEEENGGG

Tak lama kemudian, menu nasi goreng dan telur matasapi sudah tersaji di atas meja makan. Bersamaan dengan itu Mike muncul dari arah kamar tidur dan duduk di samping meja makan

“Makasih ya Dek… CUP…” Jawab Mike sambil memberikan kecupan penutup pada bibir istrinya.

“Sarapan yang banyak Mas…Aku mau bangunin anak anak” Ucap Listy sambil mengusap rambut suaminya.

“Pastinya….” Jawab Mike sambil meremas pantat bulat istrinya

“Iiihh.. Mas…. Masih kurang ya…?” Jawab Listy

“Nggak bakal pernah puas Dek…” Balas Mike lagi yang tiba-tiba menurunkan kepalanya kearah payudara Listy. Dan tanpa persetujuan istrinya, ia segera membuka tali jubah tidur Listy dan mulai menghisapi puting payudara Listy. “Cup Cup…. Sluurrpp…”

“Ssshh… Udah-udah… Stop Mas… Stop… Hihihi….” Geli Listy sembari memegangi jubah tidurnya supaya tak terlepas dari tubuhnya. “Stop Mas.. Stooopp… Nanti anak-anak lihat loh…. Hihihi…. ”

“Hehehe… Biarin aja… toh sudah pada besar-besar…” Goda Mike sambil menjamah vagina Listy.

“Iiihhhsss…. Ntar kalo mereka kepingin gimana…?”

“Hmmmmm….. Gimana yaaa…?” Mike menghentikan kenyotan mulutnya sejenak sambil memperlihatkan wajah berpikir, “Yaudah….Diajak aja sekalian…. Hehehehe…”

NGUUUUUUUUUUUU…..

Suara panci air panas tiba-tiba berteriak lantang, mengagetkan mereka berdua.

“Udah… Udah dulu Mas… Adek mau bangunin anak-anak….” Potong Listy sambil menjauhkan wajah Mike dari payudaranya. “Dasar Papa cabull…. Hihihi….”

Dengan masih mengenakan jubah mandi tanpa pakaian dalam apapun, Listy segera beranjak ke kamar kedua anaknya dilantai atas.

“TOK TOK TOK… ” Ketuk Listy pada pintu kamar tidur anaknya, “Clara… Ayo bangun nak…” Panggil Listy lagi dari luar kamar tidur putri kandungnya. “TOK TOK TOK…”

“CKLEK…..” Suara pintu kamar dibuka dari dalam.

“Ya Maa…?” Jawab seorang gadis belia sambil membuka pintu kamarnya. Dengan hanya mengenakan pakaian alakadar keseharian berupa bra dan celana dalam, Clara terlihat begitu matang dan dewasa. Terlebih dengan ukuran payudaranya yang cukup besar, membuat putri kandungnya itu nampak begitu mirip dirinya ketika muda. “Udah pagi ya…?” Tanyanya lagi sambil mengucek-ucek matanya yang bulat besar

“Hiya Nak… Ayo buruan mandi sayang… Udah siang….CUP… ” Ujar Listy sambil mengecup kening putri kesayangannya.

“Hhooooaaahhhmmm…. Iya Maa… Ini juga mau mandi… Bentar yaaaa…. ” Ucap Clara singkat sambil masuk lagi kedalam kamar dan mengambil handuknya. Dengan malas, Clara berjalan mirip zombie, terhuyung-huyung berjalan sambil menyeret kaki jenjangnya ke kamar mandi lantai disudut rumah sambil terus terusan menguap.

“Sarapan udah siap di meja makan ya…”

“Iya Maaa.. Hoooaaaaammmm….”

“Anak yang rajin…. ” Senyum Listy dalam hati sambil berjalan ke seberang ruangan, menuju kamar putra pertamanya, Ciello.

“TOK TOK TOK… ” Ketuk Listy di pintu kamar putranya, “Ciello… Naaak… Ayo bangun….”

Tak ada jawaban.

“TOK TOK TOK… ” Ketuk Listy lagi ,”Cielolooooo…..?”

Tetap tak ada jawaban.

Perlahan, Listy membuka pintu kamar anaknya, lalu ia pun mengintip kedalam. Ciello masih terlelap. Tidur dengan dengkuran lirih dan selimut yang tak menutup tubuh telanjangnya.

Memang, dalam kesehariannya, Listy maupun Mike, seringkali tidur tanpa mengenakan pakaian apapun. Sehingga tak heran jika kedua anaknya, Ciello dan Clara juga sering mengikuti kebiasaan tidur kedua orangtuanya yang tanpa busana.

Dengan langkah senyap, Listy masuk kedalam kamar Ciello. Lalu ia duduk di tepi tempat tidur, menatap putra kesayangannya yang masih tertidur lelap dalam posisi telentang. Sejenak, Listy menatap kagum kearah tubuh putranya yang mulai tumbuh dewasa. Lengannya yang kekar, dadanya yang bidang, perutnya yang mengotak,dan menatap kearah penis besar Ciello yang masih menjuntai lemas kearah samping.

“Tak berasa…. Kamu udah besar ya Nak… Dan kontolmu…. Udah makin besar aja….” Kata Listy dalam hati sambil menelan ludah, ” Kontolmu benar-benar mirip punya kakekmu Nak….”.

“Sayang…. Ayo bangun….” Gugah Listy. Sengaja menggoyang-goyangkan paha Ciello untuk menggoda penis putranya yang masih lemas itu, “Naaak… Ayo bangun….”

Masih saja terlelap. Ciello sama sekali tak menggubris goyangan tangan ibunya pada pahanya.

Melihat penis Ciello yang ikut bergoyang seiring goyangan tangannya ke paha putranya, entah kenapa Listy tiba-tiba ingin menyentuh batang penis yang masih menjuntai lemas itu. Walau ia sudah biasa melihat ketelanjangan putranya, namun baru kali ini Listy merasa begitu penasaran, “Seperti apa ya kontol Ciello kalo sedang ereksi keras…?” Tanyanya dalam hati.

“Cielloo…..” Bisik Listy sambil mendekatkan wajahnya ke arah penis putranya itu. Dengan perlahan, ia menjulurkan tangannya dan meraih penis putranya, “Hmmm… Hangat….” Kata Listy sambil membolak balik penis lemas itu.

Perlahan tapi pasti, penis itu tiba-tiba mulai menampakkan kehidupannya. Semakin besar dan panjang.

“Wow…. Kontolnya bangung….” Girang Listy ketika melihat penis putranya yang mulai menegang.

“Eeeeehhhhmmmmm…. Hoooooaaaaahhhmmmm…” Lenguh Ciello sambil menggeliat. Dan tak lama kemudian ia pun terbangun. Sambil mengucek mata, ia menatap tubuh ibunya dalam balutan jubah mandi mininya.

Buru-buru, Listy segera melepas genggaman tangannya pada penis Ciello dan kembali duduk ditepi tempat tidur.

“Eeehh… Mama…. Pagi ma….” kata Ciello sambil meregangkan badan.

“Pa… Pagi sayang… Bangun yuk.. Mama udah siapin sarapanmu….” Kata Listy sambil sesekali menatap penis Ciello yang tak henti-hentinya menegang.

Ciello sama sekali tak sadar jika selimut yang ia kenaakan sudah tersibak dan memamerkan batang penisnya yang perlahan mengeras. Namun, jikapun ia sadar, ia merasa jika ketelanjangan bukanlah sebuah hal yang cukup penting untuk dipermasalahkan.

“Iya Maa.. Bentaran yaaa….”

Melihat putranya masih bermalas-malasan, Listy lalu membungkukkan tubuhnya kedepan dan mendekat kearah wajah Ciello. Dengan perlahan, ia lalu mengecup kening Ciello, sekaligus memberi pemandangan pagi buat putranya. Pemandangan belahan payudara ekstra besarnya yang menggantung manja yang dapat terlihat dari belahan jubah mandi mininya.

Untuk wanita yang berusia 36 tahun, Listy masih memiliki aset tubuh yang dapat memabukkan pria mana saja yang melihatnya. Tubuhnya ramping dengan kulit kuning langsat. Pinggulnya kecil dengan payudara besar. Kaki putihnya panjang, mulus tanpa bulu sedikitpun.

“Ayo bangun nak…. CUP….” Kata Listy lagi, kembali mengecup kening Ciello.

“Iya Maa… Bentaran aahhhh… Aku masih nganttuuukkk….”

“Hhmmm….. Gitu ya….?” Kata Listy tiba-tiba naik ke atas tempat tidur putranya dan berdiri tepat diatas selangkangan Ciello. Dengan posisi kaki terbentang, Listy ia menempatkan kakinya di samping kiri dan kanan paha Ciello. Lalu, dengan tiba-tiba Listy menurunkan tubuhnya dan bertumpu pada lututnya. Sambil berjongkok, ia lalu memajukan tubuhnya kedepan, dan mencengkeram erat kedua pergelangan tangan putranya.

“Iiihhh… Mamaaaa… Mulai deeeh… Aku masih ngantuk Maaa….” Jawab Ciello malas sambil membiarkan mamanya melakukan kebiasannya setiap pagi ketika membangunkan dirinya. Ia membiarkan Listy menyandera tubuhnya, termasuk menduduki batang penisnya yang sudah mengeras.

“Biarin aja… Kalo kamu nggak mau bangun… Muka kamu bakal Mama ilerin ….” Kata Listy yang kemudian mendekatkan kepalanya supaya sejajar dengan kepala Ciello dan kemudian ia membuka mulutnya.

“Aaaaaaaaaaa…. Hayo bangun nggaaak….? Aaaaaaaaa….” Kata Listy sambil terus membuka mulutnya, membiarkan air liurnya berkumpul di dalam bibir tipisnya.

“Iiihhh. Mamaaa.. Joroook aaaaahhh…” Ronta Ciello sambil menggerak-gerakkan pinggulnya. Berusaha melepaskan diri dari cepitan paha ibunya.

“Hihihi… Biarin…. Kalo anak Mama ini nggak buruan bangun, iler mama bakalan segera menetes ke muka kamu… Aaaaaaaaa….” Jawab Listy sambil semakin memperlebar bukaan mulutnya.

“Maamaaaa….. Iiiiihhhhh….” Ronta Ciello berpura-pura takut sambil terus menggoyang-goyangkan pinggul dan pergelangan tangannya. Sengaja membuat tubuh ibunya terlonjak-lonjak.

Sebenarnya, dengan ukuran tubuh yang hampir sama dengan tubuh Listy, Ciello dapat dengan mudah membalik tubuh ibunya dari atas selangkangannya. Namun, seperti remaja seusianya, Ia ingin melihat goyangan payudara besar milik ibunya lebih lama lagi.

TES…. TES…. TES…..

Liur Listy menetes tepat di wajah Ciello.

“Iiiihh… Mamaaaa… Jorooookkkk iiihhhhh……” Erang Ciello sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hihihi… Rasaaainn…. Ayo bangun nggak….”

“Iya iyaaa….” Kata Ciello sambil melirik belahan payudara ibunya yang semakin terlihat jelas dari belahan jubah tidurnya. “Iya… Tapi sebentar lagi ya Maaa… Sumpah aku ngantuk banget…..”

“Ngantuk kenapa….? Emang kamu semalam habis ngapain….?” Pancing Listy sengaja mengorek informasi dari putranya.

“Ya ngantuk aja Maa….Capek…..” Kata Ciello.

“Capek…? Emang semalam kamu habis olahraga…? Sampai-sampai jam segini kamu masih ngantuk….?” Tanya Listy lagi

“Nggg…. ”

“Atau jangan-jangan… Kamu tadi malam habis ngelakuin oonaaa………” Putus Listy sengaja tak meneruskan kalimatnya dan membuat malu Ciello, “Udah ahh…. Ayo bangun Nak…. Jangan dikamar mulu ah…. Cari kegiatan diluar sana… Biar badanmu nggak lemes gini setiap hari….” Saran Listy sambil mengusap rambut putranya. “Yuk bangun Nak….”

“Iya Maaaa….”

Melihat putranya sudah bangun, Listy pun melepaskan cengkeraman jemari tangannya dari kedua pergelangan tangan Ciello. Lalu iapun meletakkan pantatnya diatas selangkangan putranya.

BLUGH

“Ooohhh…. ASTAGA…. Aku lupa pakai celana dalam….” Batin Listy yang sama sekali tak menyangka jika dibawah vagina gundulnya terdapat sebatang penis tegang milik anak lelakinya. Bahkan lebih parahnya, ia duduk tepat tepat diatas batang penis putranya, sehingga secara tak sengaja batang penis Ciello tepat terselip diantara kedua bibir vagina ibunya.

Begitupun dengan Ciello, ia benar-benar terkejut dan sama sekali tak mengira jika ibunya bakal menduduki batang penisnya yang sudah sangat tegang itu. Dan parahnya, Ciello merasa jika batang penisnya tepat terjepit diantara belahan bibir vagina ibunya.

Sambil melirik, Ciello berusaha melihat apa yang terjadi di bawah sana. Namun sia-sia, pemandangan penisnya yang terjepit vagina ibunya sama sekali tak terlihat dengan jelas. Hanya terlihat kepala penisnya saja yang menjulang keluar dari pangkal selangkangan ibu kandungnya.

“Kampreeet…. Nggak keliatan….Jubah mandi Mama ngehalang-halangi aja….” Gerutu Ciello penasaran.

“Hmmmm… Gimana ujiannya nak….? Kapan pengumunannya….?” Tanya Listy buru-buru mengalihkan pembicaraannya. Mencoba supaya Ciello tak menyadari tentang jepitan vagina Listy pada penisnya yang semakin membesar keras.

“Nggg… Nggak tau Ma…. Bulan depan kali…” Jawab Ciello dengan nada berat.

“Hhh…. Yaudah… Kamu nggak usah khawatir Nak… Mama tahu.. Pilihan kuliahmu itu berat… Tapi khan kita nggak tahu apa yang bakalan terjadi besok… ” Jelas Listy , “Toh… Siapa tahu… Besok ternyata kamu bisa masuk ke universitas yang kamu pengenin..

“Nnggg… Iya Maaa….” Jawab Ciello sambil menggerakkan pinggangnya pelan, berusaha menempatkan batang penisnya untuk bisa lebih nyaman lagi diantara jepitan vagina ibunya.

“Eehhmmm…” Desah Listy, “… Yah… Kalaupun enggak keterima… Kamu khan bisa ngambil kampus di deket rumah Nak….” Balas Listy meladeni goyangan pinggang Ciello.

“Aahhh Mamaaa…. “Desah Ciello, “Aku maunya tuh di sana….” Erang Ciello sambil melirik kearah vagina Listy. “Itu universitas favorit Ma…” Tambahnya lagi sambil meregangkan tubuhnya. Membuat batang penisnya semakin menggesek bibir vagina ibunya yang terasa semakin lembab.

“Ehhmmmhhh….” Lenguh Listy lirih, “Eehmm…. Tapi janji ya nak…. Kamu bakal tetep kuliah..” Saran Listy sambil merasakan denyut penis putranya makin kencang terasa dibawah sana. Terlebih, akibat regangan-regangan tubuh Ciello, membuat batang penisnya makin terjepit erat di belahan bibir vagina Listy dan menggelitik klitorisnya. Walhasil, batang penis itu sukses membuat lendir kewanitaan Listy semakin banyak merembes keluar dari liang vaginanya dan melumuri batang penis putranya. “Jangan mudah menyer….Aaaaahh…. Ya Naaak…”

“Sssh… I…Iya ma… Aku janji….” Jawab Ciello dengan nada yang jauh lebih berat.

“Naaahhh… Gitu dong sayang…. CUP….” Ucap Listy yang tiba-tiba memajukan tubuhnya kedepan dan kembali mengecupi Ciello tanpa mengangkat pinggul dari selangkangan putranya. hanya saja, kali ini bukan kening Ciello yang dikecupinya, melainkan kedua pipinya.

Sengaja, Listy merebahkan tubuhnya diatas tubuh Ciello, dan membuat kedua payudara besarnya yang super kenyal itu menempel di dada telanjang putranya.

“Eeeh…Mmama mau ngapainnn…?” Tanya Ciello kebingungan karena melihat wajah ibunya mendekat kewajahnya.

“Mau ngasih sayang ke anak mama… CUP….” Jawab Listy singkat sambil kembali mengecup pipi dan….

Bibirnya.

“Iiihh… Maaa…. Aku bukan anak kecil lagiiii….” Jawab Ciello sambil melirik payudara ibunya yang gepeng terhimpit oleh tubuh rampingnya.

Diatas dada telanjangnya, Ciello dapat merasakan gesekan puting ibunya yang berulang kali bergoyang seiring kecupan pada bibirnya.

“Ohhh….. Emmpuk sekali tetekmu Maaa…. ” Batin Ciello yang berulang kali melirik kearah payudara Listy.

“Emang kenapa kalo bukan anak kecil lagi….? CUP….” Tanya Listy membuyarkan lamunan jorok anaknya, “Emang kalo udah gedhe…. Mama ga boleh kasih sayang Mama ke anak Mama lagi…? CUP….”

Setiap kecupan bibir Listy pada bibir putranya, selalu diiringi gerakan pinggul dan vaginanya. Akibatnya, perlahan tapi pasti vagina basah Listy menggeseki penis besar Ciello, maju mundur maju mundur. Mirip gerakan senggama.

“Uuhh… Maaa….” Lenguh Ciello ketika lagi-lagi menerima kecupan bibir lembut Listy di bibirnya.

“Bikin Mama bangga ya Nak…. CUP….” Saran Listy lagi sambil terus mengecup mulut putranya.

“Iiihh.. I….I… Yah Maa..”

“Jangan gampang menyerah…. CUP….”

Walau batang penis Ciello tak masuk kedalam vaginanya, namun tetap saja, tekanan berat badan, gesekan, dan jepitan vagina Listy pada penis putranya, membuat remaja belasan tahun itu merasakan kenikmatan yang amat sangat. Kenikmatan yang jauh lebih terasa daripada sekedar beronani dengan sabun dan tangan.

Sehingga, tak lama kemudian.

CRET CRET CRECEEET CRET CRECEEET

Batang penis Ciello yang terhimpit oleh nikmatnya jepitan vagina Listy itu memuntahkan seluruh lahar panasnya dengan keras. Menyemprot keluar berjuta-juta benih subur dari mulut penisnya. Membasahi vagina dan paha ibunya yang masih menghimpit dirinya.

“Oooohh… Maaaaa….. ” Lenguh Ciello

“Nggg… Ya sayang…. ?” Tanya Listy ketika menyadari jika penis putranya baru saja memuntahkan lahar kenikmatannya, “Ohhh… Kamu udah kelu……” Sengaja Listy lagi-lagi tak meneruskan kalimatnya, ia tak ingin membuat Ciello semakin malu dengan bertanya lebih lanjut.

“Yaudah… Kamu buruan mandi ya Nak…. Mama tunggu dibawah…” Ucap Listy yang buru-buru bangun dari selangkangan Cielo lalu berdiri tanpa membersihkan sperma putranya yang masih menempel di vaginanya.

“Sarapan juga udah siap loh sayang…” Senyum Listy sambil melirik penis Ciello yang masih berdenyut-denyut, yang masih memuntahkan sisa-sisa spermanya keatas perut putranya, “Jangan sampai kehabisan…. Hihihi…” Tambahnya lagi sambil berjalan menjauh, meninggalkan Ciello dibelakang sana.

“Iya Ma….” Jawab Ciello sambil menatap pantat bulat ibunya yang bergoyang seiring langkahnya pergi.

Entah kenapa, Ciello merasa jika pagi itu ibunya benar-benar terlihat begitu menggairahkan. Dimata Ciello, Listy mendadak terlihat begitu seksi, terlebih dengan bekas muncratan spermanya yang masih menetes kelantai dari balik jubah tidurnya dan mengalir turun ke paha mulus ibunya.

“Sumpah….Kamu seksi sekali Maaa…” Batin Ciello sambil mengocok penisnya yang mulai menegang kembali.

BERSAMBUNG