Keluarga Birahi Listy Part14

0
4331

“Aku harus pindah… !” Seru Clara sambil menyisir ke seluruh kursi bus. Namun sayangnya, semua kursi didepannya masih penuh. “Satu-satunya kursi yang kosong hanya ada kursi panjang dibelakang

bus…. Tapi kalau aku kembali ke belakang… Aku nggak yakin bakal bisa terbebas dari perbuatan cabul Bapak setan ini…..” Bingung Clara.

“Ooohhh… Sempit sekali memekmu Neng… Kontol bapak pasti berasa enak banget ini kalo dimasukin ke sini….” Bisik Pak Kori sambil mengusapi vagina Clara yang sudah tak bercelana itu.

“Sssshhhh…Paaak…. Jangan Pak… ” Erang Clara berusaha melepaskan tangan bapak tua itu dari selangkangannya.

Namun usaha Clara sia-sia, tangan bapak itu jauh lebih kuat. Sehingga, ia tak mampu menarik lepas tangan itu dari vaginanya.

“Sini mundur Neng… Jangan bersandar kekursi depan… Kamu nggak ingin khan…? Ketahuan penumpang lain karena udah ngegodain kontol bapak-bapak tua…? Malu ah Neng….Hehehehe….” Ancam Pak Kori sambil terus mengelusi celah vagina Clara dengan tangan kanannya.

“Aaaahhhh… Sialan… ” Batin Clara yang tak mampu melakukan hal apapun. Ia hanya bisa diam sambil memegang batangan besi yang ada di jendela bis dengan satu tangan. Kakinya berusaha menahan berat tubuhnya dengan kuat karena usapan jemari tangan Pak Kori membuat tubuhnya perlahan-lahan mulai menggelijang kegelian.

“Tetekmu besar juga ya Neng… ? Pasti enak tuh kalo bapak isep-isep… Hehehehe… ” Ucap Pak Kori yang tiba-tiba sudah menyelipkan lengannya dibawah ketiak kiri Clara dan menyentuh payudara besar itu perlahan.

“Astaga… Aahhh… Paak…. Jaangan…..” Lenguh Clara semakin panik. Clara tak menyangka jika perbuatan bapak mesum itu semakin berani. Kilikan pada vagina yang membuat Clara kegelian ditambah remasan pada payudaranya, mau tak mau membuat nafsu birahi Clara meninggi. Nafasnya mulai memberat, dan pipinya memerah.

“Hehehe….Jangan apa Neng…?” Goda Pak Kori yang iseng meremas payudara Clara kuat-kuat.

“Jangan Paak… Aahhhsss… Ampuuunn… Mmmhhhhh….”

“Hehehehe…. Kok jangan sih Neng…? Kalo jangan… Kok ini memek Neng ini makin basah kuyup ya….? Neng suka ya memeknya bapak kobel-kobel…?”

“Aaahhssss… Jangan Paak…. Uuuhhdaaah aaahh…..”

Ditengah kejadian mesum Clara dan Pak Kori, tiba-tiba penumpang yang duduk dikursi depan Clara berteriak kencang. “Paaak… Kiri Paak… !” Teriak ibu-ibu itu sambil menengok kebelakang. Kearah Pak Kori yang buru-buru melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Clara. “Ayo Dek… Kita turun disini….” Ajak ibu-ibu itu, seolah berusaha menyelamatkan Clara dari perlakuan mesum Pak Kori.

“Eehhh…..? Ngggg….” Bingung Clara.

“Adek mau turun disini khan….?” Tanya ibu itu lagi sambil menatap sinis kearah Pak Kori.

Namun, sebelum sempet Clara menjawab. Sebuah benda tajam tiba-tiba menempel kearah tubuh Clara yang tak terlihat oleh siapapun. Benda tajam yang menekan pinggan Clara itu terasa begitu dingin dan penuh ancaman.

“Si Neng nggak mau turun ama kamu Bu…” Celetuk Pak Kori dengan nada yang berat, “Dia mau pulang bareng saya…. Ya khan Nengku Sayang…?” Tambah Pak Kori sambil membisikkan kata ‘Sayang’ tepat di dekat telinga Clara.

Karena mendapat tekanan dari benda tajam dipinggangnya, dan mendengar intonasi bicara Pak Kori yang menakutkan, Clara tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan dengan pasrah. Gadis manis itu benar-benar takut mendapatkan perlakuan menyeramkan dari Pak Kori

“Uda-udah… Buruan aja sana… Ibu turun sendiri….” Hardik Pak Kori, “Calon istriku ini nggak mau turun disini….”

“Ohh.. Ini calon istri….” Ucap Ibu itu pelan.

Merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi, si Ibu itu akhirnya membangunkan putranya yang masih tertidur nyenak, “Jon…..Ayo jon… Kita turun disini aja….” Celetuk ibu itu sambil melirik tajam kearah Pak Kori, namun menatap kasihan pada Clara.

“Kiri-kiri Paak…” Ucap si Ibu itu lagi sambil buru-buru beranjak dari kursinya dan mendekat kearah pintu belakang bus.

“Huuuhh… Ngeganggu orang seneng-seneng aja….” Celetuk Pak Kori sambil kembali mendekatkan tubuh rentanya kedepan. Menempel kearah tubuh mungil Clara.

Melihat kepergian ibu itu, hati Clara makin tak karuan. Hilang sudah kesempatan dirinya supaya bisa terbebas dari kemesuman Pak Kori.

Melihat kursi didepannya kosong, Clara ingin segera duduk. Namun, Pak Kori buru-buru mendekap tubuh Clara. Menahan tubuh imutnya supaya tak berpindah dari pelukannya.

“Disini aja Neng… Jangan kemana-mana….” Pinta Pak Kori sambil kembali menggesek-gesekkan penisnya yang sudah menegang keras ke sela pantat Clara.

“Pak.. Saya capek berdiri… Saya boleh duduk…?” Ucap Clara yang buru-buru menggeser posisi berdirinya kesamping, berharap bisa terbebas dari perbuatan mesum Pak Kori.

“Owww.. Capek…. Hehehe… Silakan aja Neng Clara cantikku…” Ucap pria bejat itu sambil memegang pergelangan tangan kanan Clara.

Berulang kali, telinga Clara merasa begitu geli ketika mendengar lelaki tua itu menyebut kata-kata rayuan pada Clara. “Sayangku’, ‘Calon istriku’, atau ‘Neng cantikku’. Rasanya, Clara ingin berteriak dan memberitahukan jika didalam bus itu terdapat penumpang mesum yang sedang melakukan pencabulan terhadap dirinya. Namun, Clara bukanlah Karnia yang kuat dan berani menghadapi godaan para lelaki jahat. Clara hanyalah cewe biasa yang penakut yang tak tahu berbuat apa-apa.

Setelah duduk di kursi didepannya, Clara berharap dapat terbebas dari kelakuan cabul Pak Kori. Terlebih diseberang kiri bangku yang Clara duduki, terdapat dua penumpang pria yang mungkin saja bisa menolongnya dari perlakuan tak senonoh Pak Kori.

Namun, ketika melihat secara jelas penampakan kedua pria yang duduk disampingnya, Clara merasa pesimis dengan nyali keduanya. “Ah Sial… Mereka berdua ternyata cowok cantik…. Walau mereka melihat… Mereka nggak bakal berani menolong…” Gerutu Clara.

Tiba-tiba, Clara merasakan rambut belakangnya dibelai-belai. Bahkan, Clara merasakan jika kepalanya mulai dielus-elus.

“Kampret ini Bapak… Tangannya iseng amat sih…?” Gerutu Clara lagi dalam hati sambil menengok kearah Pak Kori yang masih berdiri di belakangnya.

Betapa terkejutnya Clara ketika ia melihat benda yang menyentuh rambutnya bukanlah tangan bapak tua itu, melainkan, penis besar Pak Kori.

“ASTAGA…. TITIT BANGKE ITU LAGI….” Pekik Clara dalam hati begitu mendapati jika penis besar lelaki tua itu menjulur jauh keluar dari resleting celananya.

Pak Kori terlihat sedang membelit-belitkan rambut panjang Clara ke sekujur batang penisnya dan tak lama kemudian, ia berusaha mengocok penis dengan menggunakan rambut panjang Clara.

” KAMPRET…. KAMPRET…. KAAAMPPREEETTT…. ” Emosi Clara meluap, “Bukannya berhenti… Ini Bapak tua malah makin berani…”

Tak kehabisan akal, Clara segera mengambil rambutnya yang panjang tergerai, ia lalu menggulung dan melatakkannya ke samping, melewati pundak dan payudaranya.

“Aduh… Kaki Bapak pegel juga nih….” Seru Pak Kori yang kemudian bergerak ke samping Clara dan duduk di kursi kosong disebelahnya tanpa memasukkan batang penisnya.

Melihat Pak Kori duduk disamping Clara, kedua pria cantik yang duduk di bangku seberang sedikit terkejut. Clara berharap banyak jika kedua pria itu berani menegur perbuatan Pak Kori. Atau setidaknya, dengan adanya kedua pria diseberangnya itu, Pak Kori tak jadi melakukan perbuatan mesum pada Clara lagi.

Namun sekali lagi, ternyata Clara salah.

Pak Kori sama sekali tak memepedulikan keberadaan kedua lelaki yang ada disampingnya. Lelaki tua itu hanya meletakkan tas kain dipangkuannya guna menutupi tingkah mesumnya lebih lanjut.

“Siniin tanganmu Neng… ” Ucap Pak Kori yang kemudian meraih tangan kiri Clara dengan tangan kanannya, “Tolong kocokin kontol bapak lagi ya Neng… ” Kecup Pak Kori pada tangan Clara sebelum akhirnya meletakkan di tonjolan selangkangannya lagi.

“Astaga.. Pak….” Kaget Clara begitu jemari lentiknya menyentuh batang penis Pak Kori yang berurat.

“Hehehe… Kenapa Neng…. ?” Goda Pak Kori, “Belum pernah ngelihat kontol ya..? Neng kaget ya ngeliat kontol bapak…?”

“Mati aku… ” Ucap Clara yang tak mampu berbuat apa apa lagi. Ia dengan pasrah hanya bisa menuruti permintaan mesum bapak tua itu. Menyentuh penis besarnya yang terlihat begitu tak terawat. Walau sebenarnya Clara pernah melihat penis pria dewasa, tetap saja itu penis pertama yang tangannya sentuh secara langsung.

Kepala penisnya mirip kulit kering. Bersisik dengan warnanya kepala penisnya merah kehitaman. Batang penisnya berwarna hitam keunguan dengan urat-urat penis yang bertonjolan memenuhi sekujur batangnya. Rambut kemaluannya keriting, panjang, berwarna kecoklatan. Sama sekali tak tercukur rapi. Dan yang paling parah, aroma penis Pak Kori, benar-benar pesing dan membuat mual. Kondisi penis Pak Kori, benar-benar menjijikkan.

“Titit Bapak bangke ini benar-benar menjijikkan…. Sangat jauh berbeda dengan penis Kak Ciello yang bersih, terawat dan cantik….. Benar-benar berbeda….” Ucap Clara dalam hati. Membandingkan penis lelaki tua yang ada disebelahnya dengan penis kakak kandungnya, “Oohh.. Kak Ciello…. Tolong Adek….” Tambah Clara yang entah kenapa, tiba-tiba Clara menyebut nama kakak kandungnya.

“Ayo Neng… Cepet kocokin kontol bapak… ” Ucap Pak Kori singkat, “Buuruuuann…. Neeeng….Gerakin tanganmu… Kocok kontol bapak…. ”

Setitik air mata, tiba-tiba menetes dari ujung mata bulat Clara.

Gadis cantik itu menangis, karena tak sanggup melakukan perlawanan yang berarti.

Melihat kesedihan muncul pada diri korban disampingnya, Pak Kori langsung mengusap air mata Clara, “Udah-udah… Jangan nangis ya Sayang… Entar… Bapak kasih enak deh… Hehehehe….” Ucap pria tua itu sambil merentangkan tangan kanannya melewati punggung Clara dan meremas payudara kanannya pelan, “Busyeet daaahh…. Ini toket… Gedhe juga ya Neng…. Gedhe banget malah…. Hehehe…”

“Aahh… Jangan Paaakkk…” Elak Clara sambil berusaha mengenyahkan tangan jahil Pak Kori yang semakin gencar meremasi payudaranya.

“Jangan apa…? Ayo kocok yang kenceng Neng… Bapak Mau buka kancing bajumu… Uuuhhh… Kocok yang enak yaa Neeeng… Hehehehe….Ssshhh….”

TEK TEK TEK….

Suara kulit leher penis Pak Kori mulai tertarik dan terenggang keras seiring gerakan tangan Clara.

“Uuhh… Sumpaaahh…. Tanganmu lembut sekali Neng… “Lenguh Pak Kori keenakan, “Ayo terus Neng…Kencengin lagi kocokan tanganmu….”

TEK TEK TEK….

“Dasar anak jaman sekarang…. Mirip LONTE semua ya Neng…?”

“Eehh… Maksud Bapak…?”

“Iya… Kecil-kecil udah jago ngocokin kontol… ”

“Ehh….? Jago…?

“Belajar dimana sih Neng…? Pasti diajarin Mamanya Neng ya…?”

“Mama Clara nggak pernah ngajarin beginian Pak…” Sewot Clara.

“Hehehe… Masa sih…? Kalo kocokan anaknya aja enak begini… Pasti kocokan Mamanya bakal lebih enak lagi ya Neng…? Uuuhhh.. Enaknyaaa…. Terus Neng… Teruss… ” Lenguh Pak Kori sambil merem melek.

TEK TEK TEK….

“Pak… Tangan saya pegel…” Keluh Clara tiba-tiba. Ia tak mengira jika stamina lelaki tua itu benar-benar kuat. Karena sudah lebih 5 menit Clara mengocok, orgasme Pak Kori tak kunjung datang.

“Yaudah… Ganti tangan satunya aja kalo Capek…” Jawab Pak Kori singkat.

“Gila… Ini Bapak benar-benar gila…. ” Batin Clara, “Kalo begini terus…. Aku nggak bakalan bisa lepas nih dari ancaman pria tua bangsat ini… ” Ucap Clara sambil celingukan kesemua penjuru bis. Berharap ada yang bisa membantu dirinya menghadapi kemesuman bapak tua ini.

Namun, sepertinya sia-sia. Hampir semua penumpang bus itu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Termasuk kedua pria cantik yang ada diseberangnya. Mereka hanya melihat handphone atau melihat guyuran hujan yang mengguyur kaca jendela bus.

“Pak… Kiri Paakk…. ” Teriak penumpang yang duduk di bangku depan Clara, disusul oleh sebelahnya.

Tak lama berselang, kedua pria cantik diseberang Clara juga turun.

Satu persatu, penumpang bus turun. Dan setiap kali penumpang bus itu turun, Clara hanya bisa berharap, ada satu orang yang melihat kemesuman yang sedang menimpa dirinya. Lalu orang itu bisa menolong Clara dan membebaskan dirinya dari tindakan pencabulan yang dilakukan Pak Kori.

Namun, sepertinya Clara tak bisa berharap banyak. Karena hingga penumpang terakhir turun, tak satu orangpun yang melihat kearahnya.

Hanya ada satu orang pria didalam bus itu yang sepertinya melihat kecemasan diwajah Clara sedari tadi. Yaitu kenek bus yang jutek tadi.

“Aaah… Mungkin kalo minta tolong sama abang kenek bus itu juga gak apa-apa kali ya…” Batin Clara berusaha memancarkan aura minta tolong kepada kenek bus, “Bang…. Sini Bang… Bantuin Clarraaa… ” Batin Clara sambil terus berharap supaya kenek bus itu dapat melihat wajah melas Clara, walau sekilas.

Dan ternyata, usaha Clara berhasil. Ketika kenek bus itu melihat kondisi tempat duduk bus yang kosong, Matanya sekilas menatap ke arah Clara.

“Baang… Tolongin Clara Baaangg…” Melas Clara kearah abang kenek bus.

Tanpa disangka-sangka, kenek bus itu akhirnya berdiri dari duduknya lalu melangkah ke belakang. Ke arah Clara dan Pak Kori berada.

“Ngapain kamu liat-liat kenek bus itu heh…?” Hardik Pak Kori kaget karena melihat kenek bus itu berjalan mendekat kearahnya.

“Claa… Clara nggak ngeliat dia pak…” Jawab Clara gugup.

“Ah.. Kampret… Dia jadi kesini deh…. ” Ucap Pak Kori panik dan buru-buru menarik tangannya dari belakang punggung Clara.

“Yeeessss…. Rasain lo BANGKE….” Umpat Clara dalam hati.

“Ehh iya…. Udahin dulu ngocoknya… Ini kontol Bapak jangan dipegangin mulu…. ” Bisik Pak Kori gelagapan sambil berusaha menarik tangan Clara menjauh dari penisnya. “Aaahhh… Sial…. ” Seru Pak Kori begitu mendapati ternyata abang kenek itu sudah semakin mendekat ketempat tempat duduknya

“Jangan gerakin tanganmu Neng…. Nggak keburu….” Bisik Pak Kori panik ketika Clara belum sempat melepaskan tangannya dari batang penisnya.

“Bapak kenapa…?” Tanya kenek bus itu sambil memperhatikan tingkah laku Pak Kori yang kebingungan, “Kok gelagapan gitu….?” Mata kenek bus itu melirik curiga kearah tangan Clara yang terjulur kebalik tas besar didepan pangkuan Pak Kori.

“Nggg… Nggak ada apa-apa Bang… ” Sahut Pak Kori ketus tanpa melihat melirikan tajam si kenek.

“Si Neng nggak kenapa-napa Neng…?” Tanya si kenek itu sambil menatap kearah kancing seragam Clara yang belum sempat ia tutup, sehingga menampilkan belahan payudara mulusnya. Wajahnya seperti menampakkan kecurigaan ke arah tangan kanan Pak Kori yang masih bertengger di pundak Clara.

“Nnngg….”

Tanpa menunggu jawaban Clara, kenek bus itu tiba-tiba meraih tas yang dipergunakan Pak Kori untuk menutup selangkangannya.

Melihat penutup penisnya diangkat, Pak Kori langsung panik dan berusaha menahan tasnya dari tarikan tangan abang kenek. Namun karena Pak Kori yang kurang sigap, ia tak mampu mempertahankan tas itu, hingga akhirnya,

“Kampreeett…. Kalian sedang ngelakuin apa Heeeh…?” Kaget si kenek bus.

Dengan mata melotot besar, kenek bus itu akhirnya bisa melihat apa yang sedang Clara lakukan bersama Pak Kori.

“Wah wah wah…. Ngentoottt… Tak disangka… Ternyata kalian sedang asyik-asyikan nih… ” Ucap si Kenek itu sambil mengusap selangkangannya, “Gw nggak nyangka… Ternyata si bangke ini sedang berbuat mesum di dalam bus gw….” Tuduh si Kenek bus itu kepada Pak Kori.

“Heehh cungkring… Jaga BACOT lo… Siapa yang berbuat mesum…? Hheeh…?” Gertak Pak Kori melawan, sambil merebut kembali tas kainnya. Lalu dengan berlagak jagoan, ia kembali menutupi tangan Clara yang masih menggenggam erat batang penisnya.

“Lha ini…?” Tanya si Kenek sambil melirik kearah kancing baju Clara yang terbuka, “Tangan si Neng ini sedang ngocokin kontol lo… Trus tadi tangan lo sedang ngeremesin tetek si Neng….”

“Hehehehe… Ini…?” Tanya Pak Kori sambil melirik kearah Clara, “Ini mau dia Bang…”

“Ehhh… Loohh…? Kok….?” Heran Clara.

“Eehh.. Enggak Bang… Saya…”

“Ssstttt… Jangan dengerin dia…. ” Potong Pak Kori sebelum Clara selesai menjelaskan duduk perkaranya, ” Dia ini cewe murahan Bang… Dia ini calon LONTE….”

“Haah…? apaan sih Pak…?” Bingung Clara kaget.

“Serius Neng…?” Tanya si kenek bus.

“Eeehh… Enak aja… Bukan Bang… Saya bukan….”

“Halaaaah… Nggak usah munafik deh Neng… ” Celetuk Pak Kori, “Kalo Neng bukan lonte… Mana mau Neng ngocokin kontol bapak… Ya Khan…?” Tambah Pak Kori memutar balikkan fakta.

“Waah wah waaah….Beneran itu Neng…?” Tanya kenek itu lagi.

“Ehhh… Enggak Bang…”

“Enggak gimana….? Kalo Neng bukan lonte… Pasti tangan Neng udah ngelepas bapak ini… ” Celetuk si kenek bus, “Tapi nyatanya… Itu tangan Neng… Masih aja ngurut kontol bapak ini….”

“AAAHH… SIALAAANNN….” Kaget Clara yang mendapati tangan kanannya entah kenapa masih mengurut batang penis Pak Kori.

“Tuuh.. bener khan Bang… nih cewek emang kegatelan…. Dasar lonte kecil…”

“Iya Bapak bener… ” Timpal kenek bus itu.

“Kalo Abang mau…? Sini gabung Bang… Mumpung lonte ini mau ngocokin kontol kita secara gratis…” Tawar Pak Kori sambil kembali meremasi payudara Clara.

“Bener Neng…? Waah… Kebetulan nih… Gw udah lama ga maen ama lonte… Hahaha….”

“Eeehh… Enggak Bang… Saya bukan lonte….” Elak Clara yang sepertinya percuma untuk menjelaskan lagi lebih lanjut mengenai dirinya.

“Hahahaha… Neeng… Mana ada lonte yang ngaku Neeng…”

Clara terpojok, ia benar-benar tak memiliki alasan untuk mengelak. Gadis cantik itu benar-benar tak menyangka jika Pak Kori yang sedang mencabuli dirinya itu begitu pintar dan licik. Dengan mudahnya, pria tua busuk itu dapat menggiring pikiran kenek bus itu untuk ikut berpikiran dan melakukan hal mesum bersamanya.

“Dan tahu nggak Bang…?” Tanya Pak Kori sambil menunjukkan wajah seriusnya, “Kalo Neng ini bukan lonte… Mana mungkin dia pulang sekolah dengan tanpa pake daleman…?”

DEG….

Jantung Clara seolah berhenti berdetak untuk kesekian kalinya.

“Serius Pak…?”

“Enggak Baang… Saya BUKAN LONTE….” Erang Clara yang mulai kembali menitikkan air mata, “Bukan Bang…. Saya… Bukan… Lonte…”

“Haaalaah… Masih nggak ngaku aja Neng…?” Ucap Pak Kori yang tanpa seijin Clara menaikkan bawahan rok Clara. Membuat paha mulus gadis SMA itu langsung terpampang jelas di hadapan kenek bus itu.

“Noh Bang… Lihat… ” Tunjuk Pak Kori kearah selangkangan Clara, “Mana ada gadis baik-baik yang sekolah nggak pake celana dalam…?” Ucap Pak Kori sambil melotot dan tersenyum licik. “Lihat khaan…? Neng Clara ini emang sukanya begitu Bang… ”

“Iya ya Pak…? Kalo bukan lonte…? Mana berani dia naik angkot nggak pake daleman gitu ya…?”

“Bener khan apa kata gw…? Neng ini lonte Bang…” “seru Pak Kori sambil menyusupkan tangan mesumnya kepaha mulus Clara. Mengusap batang kaki gadis SMA dari lutut, naik ke paha, dan terus keselangkangan.

“Ehh.. Jangan Paaak….” Elak Clara mencoba menghalau tangan Pak Kori supaya tak merayap kearah celah vaginanya.

“Ssssstttt…. Diem…..” Hardik Pak Kori yang langsung membuat Clara tak berkutik, “Ini juga…. Dia juga nggak nolak kok teteknya diremes-remes loh…”

“Paaakkk…. Jangan…..” Elak Clara lagi, berusaha dengan susah payah melindungi payudaranya dari remasan kasar Pak Kori.

“Heeeehhh…. Mau pulang selamat nggak….?” Ancam Pak Kori sembari kembali menyelipkan tangan rentanya keselangkangan Clara dalam-dalam dan mengusap bibir vagina gadis manis itu pelan, “Lihat nih Bang… Mana ada cewe baik-baik yang memeknya langsung becek ketika diusap oleh orang nggak dikenal….. ”

“Serius Pak….?”

“Nggak percaya…? Nih Lihat….” Dengan santai, Pak Kori meminta Clara untuk memutar posisi ia duduk kearahnya. Lalu pria tua itu meminta Clara untuk menaikkan kaki kiri ke pangkuannya dan menyibakkan rok Clara lebar-lebar. “Nih lihat… Lendirnya banyak banget khan Bang…? Ini tandanya… Nih LONTE suka banget kalo dijahilin seperti ini…. ” Seru Pak Kori ketika memamerkan vagina tak berbulu Clara ke kenek bus itu.

“Wooowww… Mengkilap banget ya Neng….?” Girang si kenek bus itu yang kemudian menjulurkan tangannya kearah selangkanagn Clara dan ikut-ikutan mengusap bibir vagina Clara dengan jemarinya. “Gilaaaa….. Mulus bener ini memek Pak….?” Tambahnya lagi sembari mulai menggelitik biji klitoris Clara yang sudah semakin mengeras.

“Aaah… Jangan Baaanghhh… Eeehmmm…” Lenguh Clara kegelian ketika menerima udapan jemari kenek bus itu. Membuat bulu kiduknya seketika merinding.

“Yaaa Khaaannn….? Bener kata gw… Neng Clara ini memang beneran Lonte…. Buktinya… Ini memek… Dikobel dikit aja udah kegelian….Hahaha….” Tawa Pak Kori sembari mengamati lendir kemaluan Clara yang ada di jemarinya lekat-lekat.

Mendapat perlakuan tak senonoh seperti itu, membuat hati Clara terasa begitu sakit. Amat teramat sakit. Dengan sekuat tenaga, Clara berusaha menahan rasa geli yang makin kuat pada area selangkangannya.

“Enak nggak Neng…? Memeknya dikobel-kobel seperti ini…?” Tanya Pak Kori menggoda Clara.

“Ehhmmmhhh…. Jangan Baaang…” Lenguh Clara sambil memejamkan mata. Berusaha menyembunyikan rasa nikmat yang vaginanya terima. Harusnya ia marah. Harusnya ia memberontak. Namun, apadaya. Clara hanya bisa mengutuk dirinya yang sama sekali tak berdaya menghadapai perlakuan mesum kedua pria yang ada dihadapannya

Selain itu, Clara juga merasa jika tubuhnya tak sepenuhnya dapat ia kontrol lagi. Mendapat perlakuan mesum kedua pria bejat itu, tubuhnya berkhianat. Sama sekali tak mau diperintah oleh otak sehatnya.

“Jangaaan Baaang… Ampuuunnn…. Ooohhh….” Lenguh Clara setiap kali kenek bus itu menggelitik klitorisnya. “Gee….ooohh… Geliiii…..”

“Geli tapi enak khan Neeeeng…? Hahahaha….” Goda kenek bus itu sambil tertawa penuh kemenangan, “Busyeeet Paaaak…. Ini memek…. Banyak banget lendirnyaaaaa… Hahaha…. Si Neng ini suka pak… Dia keenakan…”

“Bener Neng…? ” Tanya Pak Kori yang tak henti-hentinya mempermainkan puting payudara Claa dari luar seragam sekolahnyra.

Tak sanggup menjawab, clara hanya bisa menggelengkan kepala sembari mendesah-desah keenakan.

Walau mulutnya tak berkata apa-apa, namun tubuhnya bersikap beda. Tubuh Clara benar-benar pasrah. Sekaligus penasaran. Penasaran tentang nikmat seperti apa yang bakal bisa ia dapatkan dari perlakuan mesum kedua pria bejat didepannya itu.

Saking penasarannya, lendir kemaluan Clara membanjir deras, seiring kobelan jemari kenek bus itu.

.

” Waaah Waaah Waaah… Sepertinya memek kamu bener-bener suka dikobelin ya Neng…” Tanya Pak Kori sambil tertawa ngejek.

“Bagus itu Pak… Kalo gitu… Mumpung ada Lonte gratisan… Boleh dong Neng… Kocokin kontol Abang sekalian… Hehehe….” Ucap kenek bus itu sembari melepas kobelannya dan menarik turun resleting celananya. Setelah itu ia mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras kehadapan Clara.

“Waaah… Iya bener…. Sini Neng… Kocokin sekalian kontol Abang ini yaa… Hehehehe…” Seru Pak Kori yang kemudian menarik tangan kanan Clara dan meletakkannya di penis si kenek bus.

Sekilas, Clara menatap kearah penis kenek bus yang ada dihadapannya. Lagi-lagi, Clara mendapati penis yang tak kalah menjijikkan dengan penis Pak Kori.

Batang penis kenek bus itu tak disunat. Berwarna hitam, dengan kepala penis berwarna merah terang. Rambut kemaluannya pendek, tak tercukur rapi. Dan yang paling parah, pada kulit penis kenek itu terdapat beberapa jerawat dengan bercak-bercak putih di sekitarnya.

BERSAMBUNG.