Keluarga Birahi Listy Part 7

0
4990

“Sayang… Lihat kunci mobil Mama nggak….?” Tanya Listy dengan wajah kebingungan. Sibuk, membuka tutup pintu lemari buffet di ruang keluarga.

“Nnnnggg… Enggak Ma….” Jawab Ciello singkat, mengabaikan ibunya dan terus sibuk memainkan video gamenya terbaru yang baru saja ia miliki.

“Masa sih….? Kemaren Mama taruh di deket rak tivi Sayang…”

“Iya Maaa.. Nggak ngelihat…” Ucap Ciello dengan raut wajah serius. Sama sekali tidak melihat ke arah Listy yang mondar-mandir di sekitaran ruang keluarga.

“Beneran kamu nggak melihat…?” Tanya Listy yang tiba-tiba membungkukkan tubuhnya di depan rak tivi, tepat diantara Ciello duduk. Posisi Listy seketika menghalangi pandangan putra kandungnya itu dari video gamenya. “Bantuin Mama nyari dong Sayang…” Pinta Listy lagi.

Melihat goyangan pantat Listy di depan mata, seketika, darah birahi Ciello berdesir. Ditambah dengan tampilan Listy siang itu yang mengenakan rok super pendek, membuat paha belakang Listy yang putih mulus langsung terpampang begitu jelas “Suuuit… Suiiitt… Wooow Maamaaaaaa… ” Sahut Ciello bersiul sambil menggelengkan kepalanya, “Seeekssssi bener Ma…? Mama mau kemana…?”

“Mama mau kebandara Sayang… Ngejemput Papa….” Jawab Listy tanpa melihat kearah Ciello, ia masih sibuk mencari-cari kunci mobilnya dilaci rak tivi didepan Ciello.

“Emang Papa pulang sekarang Ma…? Bukannya minggu depan….?”

“Papa pulang hari ini kok…. Ini pesawatnya baru boarding…. ” Jelas Listy, “Aduuuhhh… Dimana sih itu kunci…. Susah bener ketemunya kalo lagi dicari….”

“Hmmm…. Tapi…. Masa ngejemput Papa ke Bandara aja pake pakaian seksi gitu Ma…?”

“Sssssstttt….. Mama mau kasih kejutan ke Papa kamu… ” Jelas Listy, ” Gimana…. Mama udah keliatan cantik nggak…?” Tanya Listy yang buru-buru berdiri tegak dan melenggak lenggokkan tubuh sintalnya didepan Ciello.

GLUP. Melihat penampilan ibu kandungnya, mendadak membuat tenggorokan Ciello tercekat. Membuat putra kandung Listy itu kesulitan menelan liur.

Bagaimana tidak, siang itu Listy mengenakan pakaian bak koboi wanita. Kemeja ketat berwarna putih polos yang agak transparan, rok merah super pendek, dengan sepatu boots tinggi berwarna putih. Dan yang paling membuatnya tercekat adalah, beha Listy yang juga berwarna merah menyala, terlihat begitu kontras menerawang dibalik kemeja tipis itu.

“Hhhheeeeiiiii… Sayang….” Panggil Listy sambil melambaikan tangannya didepan wajah putranya, ” Kok kamu malah ngelamun gitu sih….?”

“Eee… Eeehhh…. Ya Maaah…?”

“Gimana….? Mama udah keliatan cantik belum….? Udah seksi belum….?”

“Hmmm…. Dimata Ciello… Mama selalu terlihat cantik kok Maa…” Celetuk putra kandung Listy itu sambil terus menatap liukan tubuh Listy, “Mama selalu terlihat seksi… ” Tambahnya lagi sambil tersenyum, “Benar-benar hot Mama… ”

“Hihihi… Makasih Sayang…. ” Balas Listy sambil tersenyum, “Aduuuhh… kunci Mama kemana sih ya…? masa dari tadi nggak ketemu….” Keluh Listy yang kembali bingung mencari kunci mobilnya. Celingak celinguk memeriksa ke segala sudut ruang keluarga, sampai-sampai ia berjinjit-jinjit mengintip ke sela-sela setiap perabotan yang ada diruang keluarganya itu.

“Sayang… kamu tahu nggak…? Kunci Mama…?”

Tak ada jawaban dari Ciello.

“Kuncinya kemaren mama taruh disekitaran sini…. Dimana yaa..?” tanya Listy lagi sembari mengintip ke belakang rak tivi,

Hening. Tak ada respon apapun dari Ciello.

“Naah… Ituuu diiiaaaaaa….” Seru Listy girang sesaat setelah ia melongokkan tubuhnya keatas rak tivi. “Sayang… Kunci Mama ada dibelakang rak tivi Sayang…. Sini dong Nak…. Bantu Mama ngambil itu kunci….”

Tetap hening. Sama sekali tak ada balasan dari Ciello.

“Eeeeh… Sayang….” Panggil Listy sambil menengokkan kepalanya kebelakang. Kearah Ciello duduk. .

“Nnnng… Eh iya Maa…?”

“Kamu ngeliatin apaan sih…?” Tanya Listy dengan posisi masih menungging didepan rak tivi, “Muka Mama disebelah sini Sayang… Bukan dipantat… ” Jawab Listy dengan wajah kesal.

“Eeeh… I… Iya Maaa….”

“Kamu serius amat ngelihat pantat Mama Sayang…? Kenapa….? Ada yang salah ama pantat Mama…?”

“Eh Enggak kok Maa…?”

“Trus….? Kenapa kamu daritadi ngeliatin pantat Mama mulu….?” Tanya Listy penuh curiga, “Hmmmm…. Kamu mau ngintipin celana dalam Mama yaaa….?”

“Ehh… Enggak kok… Enggak…” Jawab Ciello panik.

“Hihihi… Ngintip juga nggak kenapa-napa kok Sayang… Toh kamu juga sering ngintipin Mama kalo sedang mandi…. Ya khan….? Hihihi….” Goda Listy.

“Ehh… Enggak Maa….Kapaaan….? Nggak pernah kok….” Sergah Ciello.

“Masa siiihh…? Beneran kamu nggak pernah ngintipin Mama mandi…?”

“Idih… Ngapain amat….?”

“Hihihi… Iya deeeh…. Kamu nggak pernah ngintip… Tapi kamu sering ngaceng khan ngebayangin Mama?”

“Iiiiihhhsss…. Enggak Maaa….”

“Malahan kemaren kamu seru banget onaninya…. Sampai nyebut-nyebut nama Mama…Hihihi…. ”

“Ngaceng apaan? Nggak lah…?” Jawab Ciello dengan muka yang memerah, “Udah ah… Minggir dulu dong Maa… Ciello sedang maen game nih….”

“Hihihi…. Kalo bilangnya nggak ngaceng… Kenapa kok selangkangan kamu ngejendol gitu Sayang…?” Tunjuk Listy kearah selangkangan putranya.

“Astaga… Itu kontol….” Batin Listy kaget sembari terus melirik kearah tonjolan yang menggelembung dibalik celana kolor Ciello.

“Ehh….Anu Maa…I… Ini… Ini mah gara-gara….”

“Hihihihi…. Udah Sayang… Ngaku ajah…. Nggak apa-apa kok…Bilang aja kalo kamu suka sange gara-gara ngeliatin dan ngebayangin tubuh Mama ini…. Hihihi… ” Goda Listy lagi sambil kembali menjinjitkan kakinya dan melongok ke arah kunci mobilnya yang terjatuh dibelakang rak tivi.

“Uuuhhh…. Susah banget sih ngambilnya…. ” Ucap Listy mencoba menjulurkan tangannya kebalik rak tivi.

Karena kunci itu teronggok jauh dibelakang rak, otomatis Listy harus membungkukkan tubuhnya guna menjangkau kunci mobilnya. Dan karena tangannya menjulur jauh kebelakang rak, bulatan pantat dan paha mulus Listy lagi-lagi terpampang didepan kedua mata Ciello.

Selagi mamanya tak melihat, buru-buru Ciello segera memasukkan tangannya kedalam kolor guna meluruskan posisi batang penisnya tak tadi tertekuk.

Namun, belum juga Ciello berhasil meraih batang penisnya, tiba-tiba Listy menengokkan kepalanya kebelakang kearah putranya duduk.

“Sayang… Sini dong… Bantuin Mama bentaraa…” Kaget Listy melihat tangan putra kandungnya bergerak-gerak didalam celana kolornya. “Astaga Sayaaang….?”

“Eehh…” Jawab Ciello gagap sambil buru-buru menarik tangannya dari dalam kolor.

“Kamu mau ngapain Sayang…? Kamu mau onani ya…?” Tuduh Listy,

“Nggg… Anu….. Enggak kok Maa… Tadi…”

“Kalo mau onani… Jangan disini ah Sayang…. Kekamar mandi aja sana…” Potong Listy lagi “Atau kalau nggak…. Kamu nunggu rumah sepi dulu…. Baru deh kamu bisa puas-puasin onaninya….”

“Ehh… Bukan Maa… Ciello bu.. Bukan mau onani… Bukan gitu maksudnya…. ” Ucap Ciello berusaha membela diri.

“Lalu….? Tangan kamu ngapain itu tadi sampai masuk kedalam kolor kalau bukan mau onani….? Mana sambil digoyang-goyang…”

“Nggg…. Anu Ma…. ”

“Kenapa….?”

“Nggg…. Tadi….Titit Ciello… Ngggg…. Nekuk….” Jawab Ciello malu-malu.

“Ooowwwalaaahhh…. Titit kamu ketekuuukk….?” Tanya Listy sambil menatap tajam kearah tonjolan yang ada diselangkangan puitranya

“I… Iya….” Jawab Ciello menganggukkan kepalanya pelan.

“Hmmm…. Yaudah deh benerin dulu gih… Nanti kalo nggak cepet-cepet dibenerin… Malah jadi patah… Hihihi…..” Tawa Listy lirih, “Tapi jangan onani disini loh ya… Hihihi….”

“Iiihhss… Mama nih daritadi kok ngomonginnya onani mulu… ” Ucap putra Listy yang pada akhirnya memasukkan tangannya kedalam kolor guna membetulkan posisi batang penisnya secara terang-terangan di depan mata Listy, “Ciello tadi bukannya mau onani tapi…”

“Mau ngocok ya….? Hihihihi….” Goda Listy lagi.

“Hhhh…… Auk ah…. Capek ngobrol ama Mama ” Ciello menghela nafas sebel. “…. Udah-udah… geseran dikit dong pantatnya Maaa… Ciello mau maen game lagi niiihhh…” ucap Ciello sewot

“Hihihi…. Dasar anak mesum…. ”

“Biarin….”

“Sayang… Tolong bantuin Mama buat ngambilin kunci mobil Mama doooong ” Pinta Listy sambil memonyongkan mulutnya, “Biar Mama cepet ngejemput Papamu….”

“Hhhhhhh….. Iye iye…. ”

Dengan malas-malasan, Ciello pun akhirnya menuruti permintaan Listy. Beranjak dari kursi malasnya dan berjongkok di depan rak tivi. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya tepat dibawah Listy berdiri.

“Loh… Looh…? Kamu mau ngapain Sayang…?” Tanya Listy sambil mencoba menutup bawahan rok mininya. “Astagaaa…. Kamu masih mau ngintipin celana dalam Mama…?”

“Yeee… Ge-Er….. Tadi katanya Mama mau minta bantuin buat ngambil kunci mobil….” Ucap Ciello sambil menatap tubuh ibunya dari bawah. Karena Ciello tiduran dilantai, ia dapat dengan mudah melihat kemulusan betis dan paha ibunya yang mengkilap mulus. Bahkan, sekilas Ciello sempat mengintip warna celana dalam Mamanya yang berwarna putih cerah.

” Masih mau diambilin nggak kunci mobilnya…?”

“Astaga… Mama nggak kepikiran untuk mengambil kunci mobil Mama lewat kolong rak….” Ucap Listy menepok jidatnya, “Kirain kamu mau ngintip celana dalam Mama…. Hihihi….” Tambah Listy sambil berjongkok di samping tubuh putra kandungnya.

“Nggak pake ngintip juga Ciello nebak Mama pake celana dalam yang mana….”

“Serius….?” Tanya Listy, “Mama kasih 50 ribu deh kalo kamu bisa bener nebaknya….” Tambahnya lagi sembari sedikit memberi tantangan kepada Ciello.

“GLUP…. Astaga… Celana dalam Mama didepan mata….” Batin Ciello sambil melirik kearah putihnya selangkangan ibunya yang terlihat begitu menantang. Kulitnya mulus tanpa luka dengan guratan urat berwarna merah muda yang terlihat samar.

“Pasti kulit memek Mama tak berjembut sama sekali tuh…. Bersih cuiy… Sampe keliatan mengkilap dan licin…” Puji Ciello sambil berusaha menelan ludah ketika menatap kebalik rok Ibunya. Vaginanya yang tercetak jelas, membelah lipatan kain celana dalamnya. Menggelembung penuh, mengisi setiap sela kain penutup liang kewanitaannya. Sungguh sebuah pemandangan yang menggiurkan. Pemandangan yang susah untuk dilewatkan oleh semua lelaki jika sedang melihat keindahan selangkangan ibu Ciello .

“Mama hari ini pake…. Celana dalam warna putih dengan bahan satin….”

“Wuidiiiihh…. Kok kamu bisa tahu sih….?”

“Gimana Ciello nggak tahu…. Wong rok mama pendek banget…. ”

“Kependekan ya Sayang….?” Tanya Listy basa-basi.

“Hmmm…. Nggak juga sih…. Cuman kayaknya terlalu seksi Maa…. Selangkangan Mama aja bisa keliatan jelas dari sini….”

“Ah masa sih Sayang…? Keliatan jelas banget ya…?” Tanya Listy yang walaupun percuma, ia berusaha menurunkan bawahan rok mininya.

“Dikit sih Maa…”

Hmmmm…. Kalo dikit sih kayak nggak apa-apa deh…. Biar Papamu seneng…. Hihihihi….” Tawa Listy malu-malu, “Kirain keliatan banyak…. Khan Mama malu Sayang kalo selangkangan Mama gampang diliat orang lain…Hihihi…”

“Ngapaib malu Maa…? Khan kemaren Ciello udah liat Mama telanjang… Masa sekarang masih malu sih kalo celana dalam Mama Ciello intip…?”

“Ya kalo kemaren khan Mama sedang mandi Sayang…. ”

“Emang rasanya beda ya Ma….? Dilihat anak pas bugil ketika mandi…? Sama diintip anak pas sedang pake baju seksi….?”

“Auk deehhh… Kamu tuh ya… Jago banget muter-muterin kalimat….” Jawab Listy singkat karena tak mampu menjawab perdebatan dengan putra kandungnya, “Udah-udah…. Jadi…? Kamu bisa nggak ngambilin kunci mobil Mama…?”

“Iya… Bentar… Ini juga lagi Ciello usahain Maa….” Kata Ciello yang kembali merogoh-rogoh kebawah kolong rak tivi.

“Keambil nggak kunci Mama Sayang…?” Tanya Listy masih dalam posisi jongkok.

“Bentar ya Maa.. Agak susah ini ngambilnya…..” Alasan Ciello sengaja memperlama merogoh kedalam kolong rak tivi, padahal ia ingin melihat pemandangan selangkangan Listy lebih lama lagi.

“AASTAAAGAAA ITUU MEEEMEEEEKKKK….. MUUULUSSS BENNEEERRR…..” batin Ciello yang terus-terusan mencuri pandang kearah selangkangan Listy yang gemuk, putih dan menggembung. “Selangkangan kok bisa sebening gitu ya….? Kampret deh Papa… Bisa ngerasain memek Mama yang secantik itu…. Pasti memek Mama rasanya nikmat banget dah…..” Batin Ciello iri, “Pantesan Papa selalu minta jatah nidurin Mama tiap malam…. Kammpreeettt… Jadi ngaceng mulu dah…..”

“Ciello…? Cielloooo….?” Panggil Listy sambil lagi-lagi melambaikan tangannya ke wajah Ciello yang sedari tadi tertegun kearah celana dalamnya. “Aampun deh Sayaaang…. Sempet-sempetnya ya mata kamu ngeliatin celana dalam Mama mulu…?” Celetuk Listy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Mana pake tonjolan celana kamu makin besar aja…. Kamu ngaceng ya Sayang…?”

“Hehehe… Iya Maa….” Jawab Ciello cengengesan.

“Sumpah deh…. Kamu tuh bener-bener mesum ya Sayang…. Mama sendiri diintipin….”

“Hhhhhh…. Mama-Mama… Capek dechh…. ” Jawab Ciello ketus, “Gimana Ciello nggak ngintip celana dalam Mama…? Kalo cara jongkok Mama juga serampangan kayak gitu….? Mana rok Mama pendek banget… Otomatis lah Ciello bisa ngeliat jelas…”

“Iiiihhh…. Anak Mama ini ya… Jago banget ngelesnya…. ” Seru Listy sambil tiba-tiba menyentil tonjolan daging dibalik kolor Ciello.

TUK. Sentil jemari lentik Listy pada tonjolan celana kolor Ciello.

“Auuuww…. Mamaa…. Apa-apaan sih….?” Kaget Ciello merasakan keisengan mamanya.

“Habisan kamu sihhh…. Iseng ngintipin celana dalam Mama…”

“Yeee…. Ciello nggak ngintip Maa… Emang Mama aja yang sepertinya mau pamerin celana dalemnya…”

TUK. Sentil jemari Listy lagi.

“Iidddiiihh…. Ngapain amat Mama mamerin celana dalam ke kamu…? Kamunya aja Sayang… Yang mesumnya kebangetan…. Hihihi….” Ucap Listy pura-pura sewot sambil terus menyentili tonjolan celana kolor Ciello.

TUK. TUK. Sentil Listy berkali-kali.

“Aduuuhh…. Sakit Ma….” Erang Ciello yang terus membiarkan ibunya menyentil-nyentil tonjolan batang penisnya. “Ya kalo mama pengen ngebales…. Intip aja titit Ciello, jangan disentilin begitu….?” Tantang Ciello.

“Huuu…. Mauuunya….. Dasar mesuumm…” Ucap Listy yang lagi-lagi berlagak sewot dengan tantangan Ciello. “Bilang aja kamu pengen mamerin titit jelekmu…. Iya khaaannn….?” Sentil Listy terus sembari sedikit meremas penis Ciello dari luar celana kolornya.

TUK TUK TUK. NGEEEKK. Remas jemari Listy pada batang penis putranya.

“AUUUWWW…. Mamaa… Sakiiiittt…..” Teriak Ciello yang spontan membalas siksaan nikmat ibunya. Dengan sekali sergap, Ciello menangkap pergelangan kaki Listy dan menggelitik telapak kaki ibunya.

“Awww… Awww… Geli Sayang…. Awww…. Hihihihiihiihihi… Lepasin kaki Mama Sayang… Geli…. Geli… ” Jerit Listy sembari tertawa kegelian. Tubuhnya menggelepar-gelepar dilantai saking gelinya. Sesaat, karena kegelian, Listy melepas remasan tangannya pada penis Ciello dan mencoba membebaskan pergelangan kakinya dari cengkraman tangan putranya.

“Nggak…. Nggak bakal Ciello lepasin… Biar Mamaa ngerasain pembalasan Ciello….”

“Awww… Hihihihi…. Geli Sayang…. Geli …. Awww…. Hihihihiihiihihi…” Jerit Listy sembari terus berusaha membebaskan kakinya dari kelitikan putranya. Ia bahkan sama sekali tak mempedulikan roknya yang tersingkap dan memamerkan celana dalam mininya yang seksi pada Ciello.

“WOOOOWWW… MEMEEEEKK MAMAAAA KELIATAN MAKIN JELASSSS…. ” Girang Ciello ketika melihat tubuh ibu kandungnya menggelepar-gelepar menahan geli. Buru-buru, putra kandung Listy itu melepas pergelangan kaki Listy dan menangkap kedua paha ibunya. Lalu dengan berpura-pura memberi pembalasan pada Listy, Ciello membenamkan wajahnya kearah kedua paha mulus ibunya.

“Hmmmmm…. Ooohhhh…. Sumpah… paha Mama mulus banget… ” Hirup Ciello dalam-dalam ketika wajahnya kulit paha Listy. Walau Listy masih bergerak-gerak hebat, Ciello tetap saja memeluk paha ibunya kuat. Mengusap-usap sepasang paha putih tanpa bulu itu sepuas-puasnya.

“Hihihihi…. Sudah sayang… Lepasin paha Mama…. Sudah… Awww… Hihihihi…. Geli Sayang…. Geli….” Tawa Listy tak terkendali sembari terus menggerakkan tubuhnya kekiri dan kekanan. Berusaha melepaskan diri dari dekapan mesum putra kandungnya.

Tiba-tiba, sebuah pemikiran iseng muncul di benak Ciello. Entah pemikiran dari mana, putra kandung Listy itu tiba-tiba mendusel dan membenamkan wajahnya dalam-dalam kearah celana dalam yang membungkus gundukan indah vagina Listy. Sambil menggeleng-gelengkan wajahnya, Ciello berusaha menggelitik vagina ibunya.

“HUOOOHHHH…. MEMEK MAMA WANGI BANGEEET….. ” Girang Ciello setelah berhasil menghirup aroma celah selangkangan ibunya. Walau Listy masih mengenakan celana dalam, aroma kewanitaannya dapat tercium jelas oleh hidung putranya. “Pasti memek ini terasa begitu legit… Pasti terasa begitu menggigit….” Tambah Ciello yang terus membenamkan wajahnya dalam-dalam kearah selangkangan Listy.

“Wahahaha…. Cielloooo….. Jangan kelitikin memek Mama Sayaaang… Awwww …. Memek Mama Geli Sayaaang…. Geelliiii…. Wahahaha….” Tawa Listy yang tiba-tiba meledak dan mendorong kuat-kuat kepala Ciello supaya menjauhi area selangkangannya.

“Nggak ah…. Ciello belum puas….” Erang Ciello yang masih terus membenamkan wajahnya kegundukan vagina Cita.

Perlahan tapi pasti, gelitikan dan desakan wajah Ciello pada vaginanya mampu membuat darah birahi Listy semakin berdesir. Dan tak lama kemudian, vagina Listypun mulai membanjir. Membasah dan tercetak jelas di celana dalam tipisnya.

“Wah… CELANA DALAM MAMA BASAH…. ” Girang Ciello seolah tak percaya, jika vagina ibu kandungnya saat ini mulai terangsang karena kelitikan mesumnya. “Dan aroma memeknya…. Hmmmm… Busyeeet…. Makin nikmat menyengat…”

Melihat pemandangan celana dalam Listy yang semakin membasah, membuat Ciello tertegun. Diam melamun dengan pikiran yang penuh dengan segala kemesumannya. Hingga akhirnya, Listy bisa membalikkan posisi dan berhasil melepaskan diri dari dekapan mesum Ciello.

“Berani kamu ya ngebales Mama…” ucap Listy singkat sambil meremas kuat-kuat batang penis Ciello. Plus, kedua buah zakarnya.

NGGGGEEEEEKKKK. KREEZZZZ

” AUUUWWW…. Aduuuuuhhhh….. Sakit Maaaa…..” Jerit Cisllo kesakitan.

“Biarin aja…. Rasain…. ” Seru Listy yang makin memperkuat remasan tangannya.

“Aduh Maaaa… SAKIIITTTY….. Bisa ancur ini telor Ciello Maaaa….Sakiitt… ”

“Biarin…. Biarin aja.. Malah… Kalo bisa mama bakal remes ini telormu sampe pecah….”

“Aaaaahhhhh… Jangan Maaaaa…. Aaaaaawww….”

“Ampun nggak…? Ayo… Ampun nggak…?” Ancam Listy.

“Iya Ma iya… Ampun… Ampuuuuunnnn……” Jerit Ciello kesakitan.

“Yaudah… buruan ambil dompet kunci Mama…” pinta Listy tanpa melepas tangannya pada penis Ciello.

“IYA MAAA….Uuuuuuhhhhh….” Lenguh Ciello sambil buru-buru mengeluarkan dompet kunci mobil mamanya dari bawah kolong rak tivi, “Ini Maa….”

“Naaah… Gitu donk….” girang Listy langsung menyambar dompet kunci itu dari genggaman tangan putranya.

“Aduuuhh…. Mama tega deeehh… Nggak liat-liat ya ngeremes tititnya…. Ngilu Maaa….” Protes Ciello sambil mengusapi tonjolan di selangkangannya.

“Makanya… Jadi orang jangan suka mesum….” Celetuk Listy, “Ama ajarin tuh titit kamu… Biar nggak gampang ngacengan…”

“Hehehe… Abisan… Salah siapa Ciello punya ibu secantik Mama…. Jadi yah…. Harap maklum Maa… Kalo Ciello jadi suka mesum pas sedang ngeliatin Mama… Hehehe….” Tambahnya lagi dengan tangan yang terus-terusan meremasi bantang penisnya yang semakin membesar.

“Iiiiiiihhh…. Emang kamu tuh ya…. Dasar otak mesum…. Hihihihi… ” celetuk Listy sembari melirik aktifitas tangan Ciello.

“Huuuuuu….. Mama mah nggak tahu terima kasih…. Udah aku bantuin malah dibilang mesum….?”

“Hihihihi… Biarin aja…. Sekalian ngasih kamu pelajaran biar nggak berbuat macem-macem lagi ama Mama… ” Ucap Listy ketus.

“Ciello khan nggak macem-macem Maaa…. Cuman nggelitikin aja kok…”

“Iya… Nggelitikin sambil cari kesempatan….Mana ada anak yang ngegelitikin sambil ndusel-nduselin muka ke memek ibunya…?”

“Hehehe… Khan Ciello pengen tahu reaksi Mama… “Jawab Ciello sambil terus mengusapi batang pebisnya yang semakin tercetak dari luar celana kolornya, “Abis… Mama cantik sih… Jadi bikin Ciello makin gemes aja… ”

“Dasar anak mesum…. Masih sempet-sempetnya ngambil kesempatan dari badan Mama…. Hihihi…” Celetuk Listy sembari menyentil penis Ciello lagi.

“Aaawww…. Mamaaa…. Udah aaah. Saakiiitttt…..” Teriak Ciello spontan…..”

“Ehhh… Sakit ya…? Perasaan tadi Mama ngeremesnya pelan kok…”

“Huuuuu… Pelan dari Hongkong…? Sakit banget tau Maa… Berasa beneran mau pecah…”

“Yaaah… Maaf maaf Sayang…. Mama nggak tau kalo tadi remesan Mama sekenceng itu…. ”

“Ssshhh…. Aduuuhhh…. Mama tega iiihhh….” Rengek Ciello dengan wajah sedih sambil terus mengusapi batang penisnya dari luar kolor.

“Yaudah sini…. Mama bantu urutin titit kamu deeh…. Biar nggak sakit lagi….” Ucap Listy yang tanpa malu, mengambil alih tangan Ciello dan mulai mengusap penis Ciello dari luar kolor.

“Ehh… Maaa….? Ehhhmmmm….. Hhhhhhssss…. Maaa… Ampun Maa… Jangan diremas lagi ya…”

“Hihihi… Iya iya… Mama nggak ngeremes titit kamu lagi…. ”

“Eeehhhmmmmhhhh…. Maaaa…. Pelan-pelan Maaaa…. Masih ngilu…”Desah Ciello, ” Ehhhmmm…. Pelan maaahh….”

“Kenapa Sayang…? Enak…?” Goda Listy sambil terus mengusapi batang penis Ciello yang tercetak di celana kolornya. “Pasti sakit banget ya Sayang….? Sampe jadi keras begini….? Maafin Mama yaaa…”

“Enghhhmm Ooohh… I… Iya Ma… Oooohh….”

Melihat cetakan batang penis berukuran besar pada celana kolor Ciello, nafsu birahi Listy tiba-tiba meninggi. Dan seketika itu pula, Listy mendapatkan sebuah ide mesum untuk bisa melihat penis putranya lebih jauh lagi. Perlahan, jemari lentik Listy mulai mengurut-urut penis putranya itu dari luar celana.

“Ooohh… Maaaa….. Sssshhh….. Oooohhh…..” Lenguh Ciello keenakan.

“Kenapa Sayang….?” Tanya Listy

“Urutan tangan Mama… Jadi buat Ciello….Hmm….. Pengen….”

“Onani….?” Potong Listy

“Nggg….. I… Iya Ma….”

“Beneran kamu pengen onani….?”

“Nnnggg…. Kalo boleh sih…..”

“Disini….? Didepan Mama….?”

“I… Iya…”

“Nggg…. Yaudah…. Sok aja kalo kamu pengen onani….”

“Serius Ma…?” Girang Ciello.

“Hmmm…. Iya…. ” Jawab Listy sambil tersenyum, “Mau sekalian Mama bantuin…?”

“Beneran Mama mau….? Wah boleh Maa…. ” Girang Ciello, “Sekarang… Bantuin Ciello buat nurunin kolor dong Ma….”

“Huuuu…. Dasar anak manjaa…. Hihihihi…” Ucap Listy yang kemudian memajukan tubuhnya kearah lutut Ciello. Dan dengan satu sentakan kuat, ia menarik turun celana kolor putra kandungnya itu.

TUUUUIIIIINNNNGGGG…

Seketika penis besar Ciello melenting keatas, terbebas dari kungkungan celana kolornya. Besar, gagah, dan penuh dengan guratan urat disekujur batangnya.

“Astaga… Kontol Ciello…. Udah keluar precumnya aja….” Desah Listy lirih ketika melihat penis putranya yang sudah terlihat jelas, tak terhalang oleh benda apapun. “Gagah sekali kontolmu Nak…. Uratnya tebal, kepalanya besar, kantong zakarnya menggelantung indah…. Dan jembutnya…. Busyeeet… Lebat amaat….. Pasti asem banget tuh baunya….”

“Kenapa Maa..?”

“Nggak kenapa-napa Sayang… Mama cuman heran… Kok tititmu udah ngiler aja ya Sayang…?”

“Hehehehe… Iya Maaa…. Itu juga gara-gara Mama….”

“Pasti kontol Ciello terasa keras tuh….” Gumam Listy lagi sambil memeriksa dengan seksama, tonjolan daging kebanggaan putranya itu.

“Hhhhmmm…. Boleh Mama… Hmmmm…. Pegang tititmu nggak Sayang…?”

“Wah… Boleh banget Maa….” Ucap Ciello sambil buru-buru menurunkan seluruh celana kolornya hingga terlepas dari kakinya.

“Hihihihi…. Inisiatifmu kalo tentang hal-hal mesum… Memang benar-benar patut diacungin jempol loh Sayang…”

“Hehehehe…. Iyalah…. Harus itu Maa….”

Segera saja, Listy menggenggam batang penis putranya itu.

“Astaga… Besar sekali Sayang….” Kagum Listy sambil membolak-balik penis putranya yang sudah berkedut hebat saking bernafsunya. “Tangan Mama sampe nggak muat ini ngegenggemnya…. Kaya megang botol air minum…. Besar sekali….”

“Ahh Mama bisa aja… Besar mana titit Ciello ama titit Papa Maa….?”

“Nggg…. Kayaknya sih sama Sayang…. Tapi kalo besok kamu udah seusia Papamu…. Mama yakin ini titit bakal jauh lebih besar dari punya Papa….”

“Hehehe…. Masa sih Maa….?” Kekeh Ciello, ” Kalo gitu…. Bisa dong…. titit aku sewaktu-waktu ngegantiin tugas titit Papa….? Hehehehe….” Celetuk Ciello.

“Ngegantiin titit Papa buat nyodok-nyodok memek Mama gitu…?”

“Hehehe… Ya pas Papa sedang nggak bisa nyodok memek Mama aja Maa… Hehehe…”

“Iiiihhsss…. Apaan sih…. Ngimpiii… Weeeeeee….” Jawab Listy sambil menjulurkan lidah.

“Tapi benar juga apa yang dikatakan Ciello…. Sewaktu-waktu…. Kontol ini bakal bisa aku gunain buat melampiaskan nafsu birahiku yang tertunda…” Batin Listy. Melihat kebesaran batang penis Ciello yang ada di tangannya, membuat pikiran mesum Listy melayang-layang. Membayangkan sesuatu niatan aneh yang sama sekali tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Pasti enak sekali tuh… Kalo memek aku disodok-sodok dengan kontol sebesar itu…” Kagum Listy sambil mengusap lelehan precum di mulut penis Ciello dengan jempol tangannya, “Pasti bakal menohok rahimku hingga mentok…”

“Maaa….?” Panggil Ciello lagi, “Kok diem lagi Ma…?”

“Ehh.. Enggak…. Ini… Kok sepertinya ada yang aneh ya…?” Tanya Listy

“Aneh…?”

“Iya Sayang… Aneh…. Sepertinya titit kamu ini lebih besar dari kemaren ya…?”

“Ah masa sih Ma…?”

“Iya…. Tititmu ini… Sepertinya lebih berotot, lebih kekar, dan lebih panjang…” Ucap Listy sembari mulai meremasi batang kebanggaan putranya. Kalo kaya gini mah namanya bukan titit lagi Sayang….”

“Lhaaa….? Trus kalo bukan titit…. Apa dong namanya….?”

“KONTOL….” Jawab Listy singkat. “Ini Mama sebut…. KONTOL….”

“Wwooowww… Mama…. Vulgar banget nyebut kata kontolnya…. Hehehe….”

“Hihihi…. Kamu suka nggak panggilan baru buat tititmu…?”

“Oowwwhhmm… Suka Maaa…. Suka banget….” Lenguh Ciello keenakan, “Ooohhh…. Maaa…. Lembut banget kulit tanganmu Maa… Enak banget Ma….”

“Hihihihihi… Baru juga dipegang-pegang Sayang… Kamu udah ngerasa keenakan…. Apalagi kalo kontol kamu Mama kocokin…?” Kata Listy yang kemudian mempercepat gerakan tangannya, mengocok batang penis putranya naik turun.

“Huuuooohh… Maaaaaa…. Enak banget….” Lenguh Ciello sambil meliuk-liukkan tubuhnya. “Terus Maaa… Teeeruuuusss….. Enak banget kocokan tangan Mama…..”

“Hihihi…. Nikmatin aja Sayang…. Dan eh iya… Berhubung kamu tadi habis ngebantuin Mama… Mama mau kasih kamu hadiah….”

“Hadiah apa Ma…?”

“JUUUHHH….”

Tiba-tiba, Listy meludahi kepala penis Ciello dan membalurkan seluruh air liurnya kesekujur batang penisnya.

“JUUUHH…. ”

“Mama mau buat kamu enak Sayang…. Mama pengen bikin kontolmu ngecrotin pejuh Sayang.. Hihihi….”

“Oooohhh… Mamaaa…. Enak banget kocokan tanganmu Maaa….” lenguh Ciello keenakan.

“Hihihihi… Kamu suka Sayang…?”

“Banget banget banget…. Oooohhh… Mamaaa…..” Ucap Ciello kelojotan karena merasakan kenikmatan akibat kocokan pelan jemari lentik Listy pada kepala penisnya.

“JUUUH…. JUUUH….. ” Ludah Listy lagi pada kepala penis Ciello sembari terus menggurut-urut kepala penis putranya itu dengan remasan yang makin kuat.

“Uuuwwwooooo… Maaa… Geeeeliiii….” Lenguh Ciello sambil buru-buru bangun dari tiduran telentangnya dan menatap tajam kearah wajah cantik Listy yang terpaut hanya beberapa centimeter dari wajahnya.

“Hihihi…. Kenapa Sayang…? Kok muka kamu tegang gitu…? Kocokan Mama nggak enak ya…?”

“Uuuuhh…. Uhh…. Bukan Ma… Mama hari ini keliatan Cantik banget…. Bikin Ciello makin cinta ama Mama…. ” Gombal Ciello

“Aaah…. Bisa deh ngerayunya….”

Beneran Maa…. Sumpah…. Mama cantik banget….” Puji Ciello, “Eh iya Ma…. ”

“Yaaa…?

“Ngggg…. Boleh nggak Ciello…. Ngggg…. Ngesun Mama….?”

“Ooowww.. Kamu mau ngesun Mama…? Yaudah sini… Sok aja sun Mama….” Jawab Listy sembari menyodorkan pipi mukusnya kehadapan Ciello.

“Bukan sun pipi Maa… Tapi…

“Tapi apa…?”

“Tapi….Ciello pengen… Nggg…. Sun… Di bibir….”

“Idddiiiihh…. Ini bibir khan punya Papamu aja Sayang….”

“Dikiiit aja Maa…. Ciello pengen tahu rasanya….”

“Huuuu…. Dasar mesum…. Hihihi….” Jawab Listy yang kemudian secepat kilat mengecup bibir tebal Ciello.

CUP.

“Udah…?” Tanya Listy.

“Sekali lagi Ma…” Jawab Ciello.

CUUUPP

Lagi-lagi, Listy mengecup bibir putranya sembari sedikit memberi ludah basah dari lidahnya.

“Udah…?”

“Lagi Ma….”

MMHHH…. CUUUPPPP

Kali ini Listy sengaja mengecup bibir Ciello cukup lama. Ia juga sengaja membuka mulutnya, mencari tahu sejauh apa keberanian putranya ketika mengecup bibir ibu kandungnya.

MMHHH…. CUUUPPPP…. CUUUPPPP.

Ternyata Ciello cukup berani. Bahkan terlalu berani. Ia tak segan-segan untuk memasukkan lidah kasarnya kedalam mulut ibunya. Membuat mereka berdua sejenak untuk bergulat lidah. Namun, ketika sedang asyik-asyiknya Ciello menggumuli lidah ibunya, tiba-tiba Listy melepas pagutannya.

“Yaahh… Kok bentaran Ma…?”

“Hihiihi… Bentaran aja yaa… Ntar kamu ketagihan….”

“Yah Mama… Khan cuman kecup bibir aja….”

“Iya… Tapi bibir ini khan punya papamu aja Sayang…” Jelas Listy lagi, “Lagian kamu khan juga udah dapat tangan Mama….” Tambah Listy sembari kembali mengocok penis putranya.

“Kalo tangan aja sih kemaren khan Mama juga udah ngasih Maa….” Gerutu Ciello, “Masa ga boleh minta lebih dikit lagi sih Ma…?

“Huuuu… Ngareeep lebih nih yeeeee….?”

“Hiyalah…. Khan tadi Ciello udah ngebantuin Mama… Dengan segenap jiwa dan raga… Hehehe….”

“Jadi sekarang kamu main itung-itungan…?” Jawab Listy dengan nada datar, namun terdengar mengancam.

“Nggg…. Ya… Khan kalo Ciello dapet lebih… Ciello nggak nolak Ma… Hehehe….”

“Minta lebihnya seperti apa….?”

“Nggg….. Kalo Ciello minta Mama buat nyepongin kontol Ciello…. Mama mau nggak….?”

“Iiiihhhssss…. Daasar anak messsuuuummmm…..Hihihi…. ”

“Ayolah Maaa… Bentaran aja…”

“Hmmmm…. Jadi makin lama nih Mama mesum-mesuman ama kamunya…? Hihihi….”

“Hehehe…. Mau ya Maaaaa…. Pleeeesseeee…”

Sejenak, Listy melihat jam di pergelangan tangannya. “Hmmmm…. Okedeh…. Tapi….. Mama nggak bisa lama-lama ya Sayang… Mama sudah harus jalan ngejemput papamu…”

“Iya Ma… Apalagi kalo kontol Ciello kena bibir lembut Mama… Pasti Ciello bakal cepet Maa ngecrotnya…. Hehehe…”

“Yeeee…. Ngaaareeeeepppp…..”

Segera saja Listy kembali bersimpuh pada kedua lututnya, lalu mengocok Ciello. Karena tubuh Listy ketika mengocok penis Ciello dalam posisi merangkak dan bertumpu pada sikutnya, otomatis Ciello dapat melihat goyangan payudara Listy dengan jelas. Dan tanpa meminta ijin, Ciello memberanikan diri untuk menyentuh payudara besar Listy yang selalu hadir dalam mimpinya.

“Sayang…. ” lenguh Listy ketika tangan putra kandungnya menyentuh payudaranya, “Kamu ngapain…?”

“Eh… Enggak Ma… Ini baju mama kotor…”

“Ooowww…” Jawab Listy singkat tanpa menyingkirkan tangan Ciello dari payudaranya.

Melihat reaksi Listy yang biasa-biasa saja, keisengan Ciello muncul kembali. “Astaga Ma…. Tetek Mama empuk sekali …?” Bisik Ciello lirih, “Dan besar banget Maaa….”

Lagi-lagi, Listy tak mempedulikan tangan jahil Ciello. Ia seolah sengaja membiarkan tangan mesum putranya untuk menjelajahi gundukan kedua payudaranya yang bergantungan itu secara bergantian.

“Maa… ”

“Yaa…?”

“Biar Ciello cepet keluar…. Ciello boleh lihat tetek Mama nggak….?”

“Buat apa Sayang…?”

“Ciello pengen ngeremes-remes tetek Mama…?” Pinta Ciello melas.

“Hmmm….. Boleh….. ” Jawab Listy, “Sok aja Sayang….” Jawab Listy yang kemudian membiarkan tangan nakal meremas pelan payudara besarnya.

“Nggg…. Kalo Ciello lepas bajunya…? Boleh nggak Ma….?”

“Baju aja….?”

“Ngggg… Boleh ya Maaa…? Hehehehe….”

“Lepas aja sendiri deh…. Mama sibuk ngocokin kontolmu….”

Dengan bersemangat, Ciello buru-buru melepas semua kancing kemeja Listy, hingga menampakkan tubuh putih bersih dengna kulit yang halus mulus.

“Kulit Mama mulus bener Ma… ” Puji Ciello sembari mengusapi pundak dan payudara Listy.

Tak puas dengan mengusapi, Ciello pun berinisiatif untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Tanpa meminta ijin, Ciello meraih kaitan beha Listy dan melepasnya perlahan.

KLIK…

“Sayang….? Kamu mau ngapain….?”

“Ngggg…. Cielo pengen liat puting Mama… Boleh ya Ma…? Ciello penasaran…..”

Tanpa menjawab, Listy hanya mengangguk. Membiarkan beha merahnya terlolosi dari tubuh indahnya. Dan membuat payudara besarnya menggelantung bebas tanpa penahan dan penutup apapun.

“Wooowww… BESAR SEKALI TETEKMU MAAA…” Puji Ciellonyang langsung tak menyia-nyiakan gelantungan payudara bulat ibunya, ia segera meremasi payudara itu sambaru memilin puting payudaranya pelan.

“Ssshhhhh…..Pelan-pelan Sayang…..”

“Sumpah Maa…. Tetek Mama ternyata jauh lebih besar dari yang Ciello bayangkan….Empuk banget Maaa.. Mana putingnya…. Sumpah…. Bagus banget Maaa…”

“Aaah…. Bisa aja kamu…. Kaya nggak pernah liat tetek Mama aja…” Ucap Listy terus meladeni kenakalan putranya itu sambil mengocoki penis ditangannya kuat-kuat.

“Beneran Maaa…. Tetek Mama bagus…. Besar, mulus, empuk…. Ooohh…. Mama cantik banget Maaa…. Eehhmmm…. Ssshh…. ” Lenguh Ciello sembari terus meremasi kedua payudara besar Listy, “Ciello ngerasa bangga punya ibu secantik Mama…. Ssshh… Ciello bangga punya ibu seseksi Mama… Tubuh Mama… Ooohh… Tetek besar Mama… Pantat bulat Mama…. Kaki mulus Mama… Bener-bener selalu bikin Ciello horny Ma…”

Mendengar pujian dan rayuan Ciello, ditambah remasan dan cubitan nakal pada payudaranya, membuat desah kenikmatan Listy mau tak mau keluar juga.

“Eeemmmhhh….” Lenguh Listy lirih. “Pinter ya kamu ngegoda Mama…. Ooohhh…. ”

“Bener Maa… Ciello makin jatuh cinta ama Mama….” Ucap Ciello sembari terus meremasi kedua payudara ibunya dengan kedua tangannya.

“Ooohh… Saaayaanngg…. Tetek Mama Ngilu…Eehhmmm…. Shhhh…..” Erang Listy keenakan.

Mendapat rangsangan pada organ paling sensitifnya, membuat Listy menjadi hilang akal. Alih-alih menepis tangan jahil Ciello pada payudaranya, Listy malah semakin mempercepat kocokan batang penis besar itu dengan jemari lentiknya. Tak lupa, Listy juga terus-terusan meludahi Ciello dan memelintir batang penis itu. Berusaha membuat penis putranya itu segera mengeluarkan semburan benih kenikmatannya.

JUUUH JUUUHHH…. JUUUH JUUUHHH….

“Oooohhh… Maaaa…..Ampuun Maaaa….” Seru Ciello keenakan.

Kocokan demi kocokan jemari Listy, semakin lama semakin kuat. Membuat penis putra kandungnya itu makin terasa berkedut dengan kerasnya, hingga membuat tubuh putranya itu semakin kelojotan.

“Oooohh… Ampun Maaa…. Aampuunn…. enak banget Maaa… Ooohh… Ohh… Ohh…” Lenguh Ciello tak mampu menahan rasa ngilu, geli sekaligus nikmat pada penisnya. “Kalo gini terus… Ciello bisa ngecrot nih Maa… ooohh….”

TIIT TIIIT TIIITT TIIITT….

Tiba-tiba, dering handphone Listy berdering. Membuat layanan masturbasi Listy pada penis putranya terhenti sejenak.

“Astaga… Itu pasti Papamu sedang nelpon Sayang…….” Seru Listy menebak-tebak, tanpa melihat dari siapa telephon itu berasal.

“Biarin aja Maa… Mama ngocokin kontol Ciello aja dulu…. Ciello mau keluar nih….” Pinta Ciello sambil terus meremasi payudara besar ibunya.

TIIT TIIIT TIIITT TIIITT….

“Bentaran ya Sayang… Nanti deh kita lanjutin lagi….” Elak Listy sambil berusaha beranjak dari posisi merangkaknya.

“Yaaeelaaahh Mamaaa….. Dikit lagi Maa… Ya Maaa….” Paksa Ciello menahan tubuh Listy supaya tak beranjak dari sampingnya, “Bentar lagi Ciello keluar kooookkk…. Ayo terus kocok kontol Ciello Maa…”

TIIT TIIIT TIIITT….

Suara handphone Listy tak henti-hentinya berdering, hingga akhirnya….

TIIT TIIT TIIIT TIIT TIIT TIIIT TIIITT TIIITT………………………………..

Suasana kembali hening. Sunyi tanpa suara apapun selain suara becek tangan Listy yang sedang mengocoki batang penis putranya yang penuh dengan air liurnya.

“Naah… Berhenti khan….? Ayo Ma… lanjutin lagi….” Ajak Ciello lagi supaya Listy kembali menghadap kearah penisnya.

“Astaga Sayang… Mama udah telat banget nih… ” Kata Listy begitu melihat jam tangannya, “Kamu lanjutin sendiri aja yaa…”

“Yaah… Mamaaa…. Nanggung amat sih…? Dikit lagi deeeh…. Ciello bentar lagi keluar kok…”

TIIT TIIT TIIIT TIIT TIIT TIIIT

Lagi-lagi handphone Listy berdering.

“Tuhh… Papamu nelpon lagi Sayang… Udahan dulu ya… ” Ucap Listy yang kemudian buru-buru berdiri dan segera berjalan kearah meja pendek di ruang keluarga.

Sejenak, Listy mencari-cari handphone didalam tasnya. Karena tinggi meja ruang keluarga cukup pendek, Listy harus membungkuk guna menemukan handphone dalam tasnya. Sekali lagi, posisi tubuh Listy membuat belakang rok mininya kembali terangkat naik, memamerkan celana dalam mini kepada Ciello.

“Astaga… Pantat bulat Mama…. Celana dalam Mama…. Belahan memek Mama…..” Dengus Ciello sembari terus mengurut batang penisnya, “Coba aku bisa jadi Papa…. Bakal aku sodok-sodokin tuh memek pake kontol ini….” Batin Ciello sambil membayangkan bersetubuh dengan ibu kandungnya.

“Eh…. Mungkin kalo aku nyoba nyelipin batang kontolku ke sela-sela pantat Mama…. Mama bakal marah nggak ya…?”

TIIT TIIT TIIIT TIIT TIIT TIIIT

“Ya Halloooo….?” Jawab Listy sambil mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya.

“Iya Paa…. Mama ini sebentar lagi jalan….”

“Iya… Maaf agak telat…. Tadi Mama ada urusan bentar dengan Ciello….”

“Mumpung Mama sedang nelpon Papa…. Pasti Mama nggak bakalan marah kalo aku godain….” Batin Ciello yang tiba-tiba, beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Listy. Lalu tanpa basa-basi, ia menyodorkan batang penisnya yang masih menegang keras kearah ibunya yang masih menungging. Menyelipkan batang penisnya ke sela-sela belahan pantat ibunya.

“Maaa…. Ayo Maaa…. Lanjutin bentaran…” Lenguh Ciello sambil memeluk pinggang ramping Listy. Karena ukuran penis Ciello yang cukup panjang, kepala dan sebagian batang penisnya sampai keluar kedepan, melewati bawah selangkangan Listy.

“Ssssttt… Ciello… Apa-apaan kamu….?” Hardik Listy dengan nada pelan, “Mama sedang ngobrol dengan Papamu… Singkirin dulu dong kontolmu….” Tepis tangan Listy berusaha mengalihkan sodokan batang penis putranya yang menonjol keluar melewati selangkangannya.

“Ayolah Maa… Bentaran ajaaaa….” Bisik Ciello yang tak mengindahkan permintaan Listy. Bukannya pergi mencabut batang penisnya dari pantat Listy, ia malah mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur.

“Kenapa Mas….?”

“Enggak… Ini loh Ciello lagi manja…. Aduh… Lipstik aku dimana ya…?” Ucap Listy sembari mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya.

“Ciello…. Bentaran ah… Mama masih ngobrol bentar….” Bisik Listy pelan sambil berusaha menolak..

“Nggak mau ah…. Kalo Mama nggak mau ngelanjutin… Ciello nggak mau udahan…. Ayo Maaa… ” Ancam Ciello sambil mulai mempercepat goyangan pinggulnya. Menggeseki belahan bawah pantat Listy dengan kuat.

Lucu. Karena gerakan maju mundur Ciello, kepala penisnya terlihat ikut bergerak keluar masuk dari selangkangan Listy. Membuat ibu dua anak itu seolah memiliki penis yang dapat tumbuh dan tenggelam dari dalam vaginanya.

“Eeehhmmm… Ciellooo…..” Desah Listy pelan. Karena posisi Listy yang masih membungkuk, gerakan Ciello yang maju mundur di belahan pantatnya, mau tak mau ikut membuat vaginanya tergesek-gesek. Nikmat. Membuat Listy sejenak teringat dengan kejadian pagi hari, dikamar Ciello, beberapa saat lalu.

“Kenapa Mas….? Ehh… Enggak… Ehhmm…. Nggak kenapa-napa kok Mas… Biasa…. Ssshh…. Ciello cuman lagi ngajak Adek maenan…. ”

“Mama….Ayolah Maa…” Bisik Ciello pelan. Sambil terus merengek, ia terus menggoyangkan pingulnya. “Iya Sayang… Bentar ya….”

Merasa tak dihiraukan, Ciello seolah menjadi gelap mata.

“Ahh… Mama… Kalo Mama nggak mau…. Ciello bisa ngecrot sendiri kok…” Erang Ciello sembari mempercepat gerakan maju mundur pinggangnya kuat-kuat. Membuat penisnya semakin menggesek-gesek vagina Listy yang masih terbungkus celana dalam.

“Eh Sayang… Kamu mau apa….?” Kaget Listy ketika melihat putranya mulai ‘menyetubuhi’ dirinya dengan kasar.

PLAK PLAK PLAK

Suara hentakan pinggang Ciello terdengar nyaring ketika menabrak pantat putih ibunya.

PLAK PLAK PLAK

Buru-buru Listy mendekap microfon handphonenya, berusaha menyembunyikan suara tepukan pinggang dan pantatnya dari pendengaran suaminya.

“Eh Sayaang… Tunggu… Tunggu Sayang… Papamu sedang telpon ini….” Erang Listy panik.

“Hallooo….? Haalllooo….?” Suara panggilan Mike terdengar dari speaker phone, memanggil-manggil istrinya yang mendadak diam. “Sayang…? Hallooo….? Deeek…?”

“Biarin…. Biarin… Papa… Nunggu dulu… Ciello… Udah… Nanggung banget… Maa… Oooohh…” Erang Ciello dengan suara putus-putus karena saking bernafsunya.

“Oooohh…. Saayaaangg… Pelan-pelaaan…. Memek Mama sakit ini kegesek-gesek kontol ama kain celana dalam Mama….” Pekik Listy sembari berusaha melepaskan diri dari dekapan tangan Ciello.

“Yaudah… Kalo sakit… Celana dalamnya… Ciello turunin aja ya Maa…” Celetuk Ciello yang dengan gerakan super cepat menghentikan goyangan pinggulnya. Mencabut penisnya dan kemudian menarik turun celana dalam ibunya hingga sebatas lutut. Setelah itu, ia lalu kembali menyelipkan batang penisnya pada belahan pantat Listy dan kemudian menyodok-nyodoknya lagi.

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK

“Hallooo….? Haalllooo….? Sayaaang….?” Panggil Mike lagi “Hallooo….? Deeek…?Kamu sedang apa sih….? Halllooooo….?”

“Ciello…. Lepasin Mama Sayang… Uhh… Uhh… Uhhh…. ” Erang Listy kebingungan. Karena satu tangan sibuk menahan tubuhnya supaya tak ambruk kedepan, dan tangan lainnya sibuk menutup microfon handphone, Listy tak mampu berbuat apa-apa. Antara menggunakan tangannya untuk melarang putra kandungnya ‘menyetubuhi’ dirinya, ataupun menggunakan tangannya untuk menutup panggilan telephon dari suaminya.

Listy benar-benar bingung namun juga penasaran. Ia ingin mengetahui akan sejauh apa perlakuan mesum putranya pada dirinya. Satu sisi, Listy merasa bersalah telah menggoda Ciello sehingga ia menjadi gelap mata seperti ini. Di sisi lain, Listy juga menikmati ‘persetubuhan’ palsu ini. Persetubuhan yang walau hanya menggesek-gesekkan penis pada bibir vaginanya, namun tetap saja memberikan efek nikmat yang teramat sangat.

“Ooohhh… Sayaaangg…. Sshhhh…..” Desah Listy sambil berusaha menjaga tubuhnya supaya tak jatuh kedepan.

Perlahan tapi pasti, vaginanya semakin membasah, dan membanjir hebat. Terlebih ketika batang besar putranya menggeseki biji kelentitnya dengan gerakan super cepat, membuat vaginanya semakin gatal. Gesekan batang berurat Ciello yang walau tak menusuk ke liang vaginanya ternyata tetap mampu membawa sensasi kenikmatan yang mampu membuat ibu dua anak itu merinding. Bukan karena takut jika batang penis itu tiba-tiba terselip masuk liang kewanitaannya, melainkan ia takut jika vaginanya akan ketagihan dengan persetubuhan terlarang ini.

Karena biarpun tubuhnya melakukan penolakan akan perbuatan tak senonoh Ciello, dari lubuk hatinya, Listy begitu menginginkan untuk dapat segera disetubuhi oleh putranya ini. Bahkan kalau mau, bisa saja Listy merendahkan tubuh depannya turun, dan membuat penis besar putranya itu melesak menembusi liang kewanitaannya.

“Ooohhh… Mamaaaaa…. Enak sekali belahan pantatmu Maaa….” Erang Ciello sembari terus menghantamkan pinggulnya kearah pantat bulat Listy. Tak lupa, Ciello juga terus meremasi payudara besar Listy yang bergoyang-goyang bebas. “Enak juga ngeremes-remes teteeekmu Maaaa…..”

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK….. PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK….

Suara tepukan tubuh ibu dan anak itu terdengar nyaring memenuhi ruang tivi.

“Sshhh…. Ooohh… Cieellooo…. Hentikan Nak… Hentikaaaan…. Ssshhh…. Nanti Papamu…. Bisa… Ooohhh… Dengeeer loooohh…. Eeeehhhmmmm….” Erang Listy lirih.

“Biarin Papa denger… Yang penting Ciello puaaasss….” Jerit Ciello sambil terus menariki payudara ibunya kuat-kuat. “Sumpaaah… Tetek Mama bener-bener menggairahkan…. Besar sekaaaliiii…..”

“Ooohh…. Sayaaang…. Pelan-pelaaan….Jangan keras-keras ngeremesnyaaa… Saaakiiitt…..” Erang Listy

PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK….. PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK….

“Ooohhh… Maaaaaa….. Cieellloooo nggak kuat lagi…. Ciellooo mau keluaaar Maaa….. Ciello… Keluaar…. Oohhh… Ohhhh.. Ooohh…”

CROT CRROOT CROOCOOT CROOOT CROT

Tujuh semburan hangat muncrat dari arah selangkangan Listy. Menyembur deras dari ujung kepala penis Ciello. Terbang begitu jauh hingga mengenai tas Listy yang ada di depannya.

“Oooohh… Ooohh… Oooohhh… Maaaa…. Cieeellloooo keeeluuuaaarrr Maaaa…..” Lenguh Ciello panjang sambil tiba-tiba ambruk menimpa tubuh Listy yang ada didepannya. Lemas tak berdaya. Hingga akhirnya ia merosot jatuh kelantai.

“Ooohh… Maaamaaa….. Enak banget Maaa… Sumpah enak baaanggeet….” Racau Ciello seperti orang yang sedang mabuk. “Belahan pantat Mama memang enaaak…. Belahannya aja enak… Apalagi lubang pantatnya….? Tetek Mama juga… Super besar…. Super empuuk… Super lembut… Ciello suka Maaa… ”

“Halloooo Deekk…? Hallooo….?” Suara Mike masih memanggil-manggil.

“Eh iya Mas….? Maaf tadi bu Rani main sebentar….” Jawab Listy sambil menjepit handphone dengan bahunya. “Iya… Tapi sekarang udah pulang kok…. Dia tadi cuman balikin piring…” Bohong Listy sembari mengenakan kembali celana dalamnya yang ikut-ikutan basah terkena cipratan sperma Ciello.

“Kenapa Mas….? Ciello….? Ada kok…”

“Iya Mas… Dia nakal banget…. Barusan juga Adek dinakalin ama tuh anak…”

“Tuh dia lagi tiduran dilantai….Kenapa Mas….?” Tanya Listy mondar mandir di ruang tengah. Ia terlihat sibuk mengenakan beha dan bajunya yang tadi terlepas guna membungkus tubuh indahnya lagi. Sesekali, Listy juga menyeka lelehan sperma Ciello yang masih mengalir di paha dalamnya dengan tissu.

“Kenapa Mas….? Mas mau ngomong serius ama Ciello….?”

Mendengar ibunya menyebut-nyebut dirinya, mendadak, wajah Ciello pucat pasi. Ia buru-buru bangun dan langsung mengenakan celana kolornya.

“Mati aku….” Panik Ciello, “Mama pasti bakal melaporkan perbuatan mesumku barusan ke Papa… Waduh… Gimana ini…..?”

“Ooohhh… Nanti aja ya Mas…? Jadi Adek njemput Mas dulu… Baru nanti sesampainya dirumah Mas mau ngomong ama Ciello…?”

“Hmmm…. Yaudah kalo gitu… Adek jalan dulu yaa Mass…”

“Muuuaaahhh….”

Hening. Yang ada hanya suara langkah Listy yang mondar-mandir di sekitaran ruang keluarga. Beha merahnya sudah terpasang rapi dan menerawan jelas pada kemeja sempitnya. Merapikan makeup dan rambutnya hingga kembali terlihat menawan seperti beberapa saat lalu.

Melihat raut wajah Listy yang cemberut, Ciello merasa benar-benar bersalah. Terlebih setelah ia melihat tas kesayangan ibunya, lepek karena semburan spermanya yang mengotori di hampir semua permukaan kulit tasnya. Sambil menundukkan wajah, Ciello mendekat kearah ibunya yang kebetulan sedang duduk disofa samping tempat Ciello duduk.

“Ma… Ciello minta maaf….”

Tak ada jawaban sama sekali dari Listy. Alih-alih mengucapkan sepatah kata, Ibu dua anak itu malah pergi meninggalkan Ciello. Listy masih terlihat ketus dan dingin. Sambil terus mondar-mandir, Listy tak henti-hentinya bermakeup dan bersiap diri. Hingga tiba-tiba ia berdiri tepat didepan Ciello sambil berkacak pinggang.

“Ciello…..” Panggil Listy dengan nada datar. Matanya menatap tajam kearah Ciello, membuat putra kandungnya hanya bisa tertunduk ketakutan.

“I…. Iya Ma….” Jawab Ciello gugup.

“Kamu jaga rumah sampai Mama dan Papa pulang… Jangan kemana-mana… Kita bakal bicara panjang setelah Mama jemput Papamu….” Ucap Listy dengan nada datar sembari berjalan menjauh dan menghilang ke pintu garasi rumah.

BERSAMBUNG.