Keluarga Birahi Listy Part 16

0
3790

17 “Saayaaang…. Ayo buruan ah mandinya… Makanan sudah siap loohh…. ” Panggil Listy mengetuk pintu kamar mandi lalu kembali kedapur sambil menyiapkan makan malam di meja makan. “Jangan lama-lama mandinya… Nanti masuk angin…” Tambahnya lagi.

“Iya Maaa… Ini sebentar lagi juga kelar….” Balas Clara yang terdengar begitu sibuk di kamar mandi.

“Aduuhh anak Mama nih kalo mandi mbok ya ditutup pintunyaaa…. Ntar ada yang lihat looh…” Tegur Listy yang sepertinya tak bosan-bosan mengingatkan kebiasaan Clara yang susah sekali hilang.

“Ah nanggung Maaa…. Toh dirumah ini sudah biasa ngelihat Clara mandi…..”

“Hhhhh… Dasar anak jaman sekarang…. Susah banget kalo dibilangin….” Ucap Listy sambil melemparkan handuk mandi Clara kearahnya, “Ya sudah… Habis ini kamu pake baju… ”

“Siap Booosss….” Ucap Clara singkat sambil mengeringkan tubuhnya, lalu setelah itu ia berlari keatas menuju kamar tidurnya.

“Sekalian bangunin kakakmu yaa Sayaaang…..”

“Iya Maaaa….” Sahut Clara dari kejauhan, yang disusul dengan gedoran keras di pintu kamar Ciello.

DUK DUK DUK

“Kaaakaaakkkk…. Bangun Kaaakk… Waktunya maaakaaannn….” Teriak Clara lantang sambil terus menggedor pintu kamarnya.

“Beerrriiiissssssiiiiikkkkk…..” Erang Ciello tak kalah lantangnya. Disusul dengan suara berdebam nyaring, “Aduuhh… Kampreeett…..”

Dengan langkah gontai, terlihat Ciello menuruni anak tangga. Satu demi satu hingga akhirnya ia duduk di anak tangga paling bawah. Matanya terlihat masih merah dan rambutnya acak-acakan. Sepertinya putra Listy begitu lelah dengan aktifitasnya pagi tadi.

“Ayo sini Sayang… Makan dulu….” Panggil Listy melambaikan tangannya.

“Kampret tuh si Toket…. Ngebanguninnya ngagetin banget….” Gerutu Ciello yang tak menghiraukan panggilan Listy. Masih terduduk di anak tangga sambil menyandarkan kepalanya di railing.

“Loh… Papa mana Maa…? Belum turun juga…?” Tanya Clara yang tak lama kemudian terlihat menuruni tangga. Dengan hanya mengenakan kaos bergambar mini mouse kebesaran yang dijadikan sebagai daster dan handuk melingkar di rambutnya, ia terlihat begitu segar.

Sreet… PLAAAKKKK…

Tepuk Ciello keras-keras kearah pantat adiknya setelah sebelumnya ia menaikkan bawahan tshirt kebesaran Clara.

“AAAAWWWW…” Rintih Clara

“Kalo mbangunin orang… Jangan ngagetin….” Omel Ciello ketika Clara lewat disampingnya.

“Aduuuhh….. Sakit Kaaakkk…” Rengek Clara sambil buru-buru berlari menjauh, “Mamaaa… Kak Ciello tuuuhhh…. Aduuuh… Saaaakiiiiitttt….” Tambah Clara sambil mengusap-usap pantat putihnya.

“Hhhhhh… Ciello… Jangan begitu aaahhh ama adiknya….” Sela Listy.

“Weeeee…. Mampuuusss….” Ejek Clara.

“Kamu juga Clara… Jangan suka ngisengin Kak Ciello…”

“Hahahaha… Rasain….” Balas Ciello.

“Udah-udah… Sekarang ayo kita makan….”

Ciello beranjak dari duduknya, melangkah kedapur dan membongkar-bongkar isi kulkas. Mencari cemilan yang bisa segera dimakan saat itu juga. “Makanya… Jadi cewek tuh yang anggun…. ” Ucap Ciello mencoba memberikan nasehat, “Masa jadi cewek urakan seperti cowok….

“Yeeeee……. Bodo…. Biarin amat…. Weeeek……” Bela Clara sambil melempar handuk basahnya kewajah Ciello, “Suka-suka Adek lah Kaak……”

“Huuuhhh…. Dasar…. Siluman Ular bertoket melon……” Sahut Ciello membalas melempar handuk Clara ke arahnya lagi.

“Heeeehh…… Udah Udah Udah….” Sela Listy lagi,” Kalian tuh ya…. Kerjaannya beranteeeemm mulu….”

“Ini bukan berantem Maaa….” Ucap Ciello sambil berjalan kearah Clara dan mengacak-acak rambutnya. Membuat rambut basah Clara makin berantakan. “Ini tuh rasa keakraban…. Ya nggak Dek……?” Tambahnya lagi dengan posisi memeluk adik tercintanya.

“Keakraban gundulmu……” Seru Clara membiarkan tubuh mungilnya terangkul sepenuhnya didalam dekapan tangan Ciello.

“Laah… Ini bener loh Maa… Ini tuh keakraban yang menyenangkan……” Celetuk Ciello yang tiba-tiba meremas payudara Clara gemas.

“Gemes ndasmuu….” Elak Clara yang sepertinya sudah tahu rencana Ciello, sudah buru-buru mencubit selangkangan kakaknya dahulu sebelum ia berhasil meremas payudaranya.

“Awww Awww……Awww……”

“Dasar Monyet buntung Mesum…. ” Ucap Clara dengan wajah menantang. Membuat Ciello seketika mengurungkan niatannya, “Apaaa….? Apaaannn……? Mau aku patahin tuh titit……?”

“Heeeehhh…. Clara……. Kok ngomongnya seperti itu sih……?” Tegur Listy.

“Habisan Kak Ciello sih Maaa…. Mulai iseng lagi……”

“Ciellooooo…. Udah deeeeh…….”

“Hehehehe…. Habisan gemes Maaa……” Ucap Ciello yang kemudian duduk diseberang kursi Clara, tepat disamping ibunya.

“Udah udah…. Ini makanannya buruan dimakan…… Ntar kalo udah makin dingin jadi nggak enak……”

“Papa Mana Maa….? Kok nggak kliatan…….?” Tanya Ciello.

“Papa lagi dikamar Sayang…… Lagi mandi……”

“Mandi….? Tumben amat Papa mandi sore…… ” Celetuk Clara singkat, “Jangan-jangan…. Kalian tadi habis…… Hihihi….

“Habis apaan…….?” Tanya Mike yang tak beberapa lama kemudian muncul dari arah tangga.

“Nggg…. Nggak habis apa-apa kok Pa…. Hihihi……” Jawab Clara sambil meringis.

“Ayo-ayo… Buruan dimakan makanannya…… Jangan malah diem aja…. Ayooo… Nungguin apaan sih……?” Tanya Mike lagi sambil berjalan mendekat kearah Listy, “Hai Saayang…. ” Sapanya pelan sembari memajukan bibirnya. berusaha memberikan salam kecup dipipi istrinya. Namun, sebelum bibir Mike berhasil menyentuh pipi istrinya, Listy buru-buru menghindar, memutar duduknya hingga menghadap kearah Ciello.

“Ciello Clara…Kesiniin piringnya… Biar Mama ambilin nasinya… ” Ucap Listy ketus tanpa melirik sama sekali kearah suaminya. dengan cekatan, ia menyajikan nasi dan beberapa lauk ke piring putra putrinya.

Merasa dicuekin oleh istrinya, Mike hanya tersenyum dan segera mengambil duduk didepan Listy.

“Makanan Papa nggak sekalian diambilin Sayang….?” Tanya Mike berusaha kembali menyapa istrinya.

“Ambil aja sendiri….” Jawab Listy ketus.

Melihat ketegangan diwajah Mama Papanya, Clara buru-buru memandang Ciello. Mencari tahu apa gerangan yang terjadi pada kedua orang tuanya. Namun sia-sia, karena kakak kandung Clara juga tak mengetahui penyebab perlakuan dingin kedua orang tuanya itu dengan gerakan mengangkat bahu.

***

Karena ketegangan yang terjadi antara Listy dan Mike, makan malam liburan itu terasa sunyi. Hanya terdengar suara dentingan piring yang beradu dengan sendok. Satu-satunya suara dari makhluk hidup adalah derikan sayap jangkrik yang keras terdengar dari luar villa.

“Haduuuhh…. Perut Clara kenyang banget nih……” Celetuk Clara berusaha memecahkan keheningan.

“Hiya nih…. Hari ini…. Makananannya terasa benar-benar enak…. Perut Papa juga kekenyangan…. ” Sahut Mike ” Ya nggak Ciello….?”

“Iya Paa…. Jawab Ciello sambil mengusap-usap perutnya.

“Istri cantikku…. Kamu berasa kekenyang juga nggak….?” Tanya Mike sambil melemparkan senyuman manis kepada istrinya.

Cuek. Listy tetap saja berdiam diri. Tak membalas perkataan suaminya sedikitpun.

“Hoooaaahhhmmm…… Ngantuk banget nih abis makan…… ” Celetuk Clara ,”Sepertinya Clara mau tidur duluan aja aaahhh….”

“Haaa….? Ngantuk……? Kamu pasti tadi kecapekan banget ya Sayang….? Masa baru aja bangun udah mau tidur lagi……?” Tanya Mike

“Hihihi… Iya Paa…. Mumpung liburan…… Dipuas-puasin aja deh tidurnya……”

“Dasar kebo kebluk…. ” Celetuk Ciello sambil melempar potongan tulang ayam kearah Clara.

“Huuuu…. Ngapaa……? Iri….?”

“Sssssttt…. Heeeehhh…… Udah udah…. Kalo kalian udah ngantuk…. Tidur duluan juga nggak apa-apa kok…. Daripada berantem mulu… ” Ucap Listy yang kemudian beranjak dari kursi makannya dan melangkah kedapur.

“Aseeeekk…… Clara mau tidur panjang malam ini……”

“Heeeehh…. Enak aja langsung tidur…… Bantuin Mama beres-beres dulu gih…… Anak cewek kok malesnya amit-amit……” Ejek Ciello lagi.

“Aaaduuuhh…. Clara udah ngantuk banget niiihhh…. Maaf ya Maaa…. Besok aja deh Clara ngebantuinnya… Malam ini Clara absen dulu….” Jelas Clara mencoba memberikan alasan, “Tapi tenang aja Maa…. Mama bakal dibantuin Kak Ciello kok….”

“Yeeee……. Dasar toket mabok….”

Sambil menjulurkan lidah, Clara langsung berlari menuju kamar tidurnya. Meninggalkan Mama Papa dan kakak kandungnya diruang makan.

“Mama mau Papa bantuin atau gimana…?” Tanya Mike berusaha mencairkan suasanya lagi.

“Gausah… Kamu tidur aja sekalian….” Jawab Listy dengan wajah cemberut.

“Yaudah kalo nggak mau dibantuin….” Balas Mike, “Ciello… Papa bobo duluan yaa… Kamu aja yang ngebantuin Mamamu…”

“Iya Paa… Siaaappp….” jawab Ciello sambil tersenyum lebar.

Melihat Mamanya sedang ada masalah dengan Papanya, entah kenapa hati Ciello merasa begitu senang. Ia merasa itu adalah kesempatan baginya untuk dapat masuk memperdalam ikatan batinnya. Masuk kedalam hati ibunya. dan ujung-ujungnya, masuk kedalam tubuh ibu kandungnya.

Membayangkan tentang rencana busuknya, Ciello hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Otaknya mulai mesum dan batang penisnya mulai mengeras. Terlebih ketika melihat busana Listy ia pakai saat itu. Daster tipis rumahan berwarna hijau tosca yang sangat pendek, payudara tanpa bra yang menonjol dari balik dan bentukan pinggangnya yang meliuk kecil, membuat gejolak birahinya langsung meluap-luap.

“Ciello bawain piring dan gelas kotornya ya Maa….” Ucap Ciello sigap. Membawakan peralatan makan bekas pakainya kedapur.

“Taruh aja disitu Sayang…. ” Jawab Listy singkat sambil membuka keran, mengisi bak wastafel tempat mencuci piring.

Dalam diam, Ciello melihat kecantikan Listy yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Aura kekesalan nan rupawan, terpancar dari wajah putih ibu kandungnya. Cuek. Ketus. Dingin.

Namun, walaupun demikian, Listy masih terlihat begitu cantik, seksi dan mengairahkan

“Mama pasti capek banget ya Ma….?” Ucap Ciello sambil memegang pundak Listy.

“Hhhhhhhhh… Iya sayang… Capek banget…” Jawab Listy sambil menghela nafas panjang

“Aku pijitin aja ya Maa…?”

“Ehhmmhhh.. ” Desah Listy menganggukkan kepala.

“Mmmm… Pundak Mama keras banget Maa…” Ucap Ciello lagi basa-basi, “Pasti… Mama sedang banyak pikiran ya…?”

“Lehernya Sayang… Pijitin sekalian…” Pinta Listy tanpa menjawab pertanyaan putranya.

“Angkat rambutnya Maa…”

Dengan kedua tangannya, Listy segera menggelung rambut hitamnya keatas dan memperlihatkan tengkuk putihnya yang ditumbuhi rambut-rambut tipis.

Melihat belakang leher jenjang ibunya, jantung Ciello tiba-tiba derdetak semakin kencang. Dan entah mendapat ide darimana, Ciello tiba-tiba mencium belakang leher ibunya.

“Badan Mama kok wangi banget Maa…? CUP….” Ucap Ciello lirih sembari mengendusi pelan. Menghirup aroma tubuh ibu kandungnya dalam-dalam.

“Makasih Sayang… ”

“Mama pasti sedang banyak pikiran ya Maa… ? Urat-urat leher Mama juga tegang…” Kata Ciello memberikan penjelasan sambil memijit pundak ibunya lagi.

“Ah kamu sok tahu….”

“Tahulah Maa…”

“Darimana tahunya…?”

“Dari kecantikan Mama yang sore ini berkurang…..”

“Begitu ya Sayang…?”

“Iya Maa….” Jawab Ciello singkat, “Maafin Ciello ya Maa kalo sering buat Mama repot… ” Kata Ciello pelan, sambil mulai mengurut tengkuk Listy, “Maafin juga ya… Kalo Ciello sering buat Mama stress…”

“Ehhmmm… Iya…. Sssshhhh…. Enak banget Sayang pijitanmu… ” Desah Listy dengan nada berat.

“Yaaahhh.. Kalo seumpama Mama punya masalah… Atau unek-unek… Atau apapun… Kasih tau Ciello aja Maa… Kali aja Ciello bisa ngebantu…”

“Masalah…?”

“Iya Maa…. ”

“Walau mungkin susah….. Tapi Ciello janji bakal selalu ngebantu masalah Mama… Apapun itu… ” Ucap Ciello lagi yang kemudian diiringi dengan kecupan pelan ditengkuk ibunya, “CUUP… CUUUPPP….”

“Ooohh…. Sayang… Makasih ya… ” Ucap Listy pelan sambil menyentuh kedua tangan putranya yang berada dipundak. Setelah itu, ia menggiringnya menuju ke pinggang.

“Mama cuman pengen… Kamu peluk Mama aja Sayang… ” Ucap Listy sambil meminta kedua tangan Ciello memeluknya erat.

“Ooohh….. Kalo cuman minta meluk mah…. Nggak usah sungkan buat minta ke Ciello Maaahhh… ”

“Hiya Sayang….Uuuuhhh… Hangat banget pelukanmu Sayang…”

“Hehehe… Buat Mama Cielo yang paling cantik… Permintaan apapun… Bakal Ciello lakuin Maaa…”

“Makasih Sayang… ” Ucap Listy yang semakin mempererat pelukan Ciello.

“Ciello sayang Mama… CUP…” Kecup Ciello lagi-lagi pada tengkuk ibunya.

“Ssshh… Iya Sayang…. Mama juga sayang kamu…”

“CUUPPP…. Badan Mama wangi…” Ucap Ciello sembari lagi-lagi mengendusi leher dan pundak Listy.

“Ihhss.. Mama khan belum mandi sore Sayang…”

“Cewe.. Kalo cantik….. Nggak mandipun… Aromanya masih wangi Maaa… ” Ucap Ciello yang terus mengendusi Listy. “Cantik… Ya kaya Mama… Cantik…”

“Jadi kalo Mama seminggu nggak mandi… Tetep aja wangi ya…?”

“Hmmm… Sepertinya sih wangi Maa…. Mama khan cantik… Hehehe…”

“Hihihi… Dasar penggoda mesum…”

“Kok mesum Maa…?”

“Ya kalo nggak mesum… Kenapa dipantat Mama sepertinya ada barang yang keras-keras ya…?” Bisik Listy risih ketika merasakan jika penis putranya mulai menggeliat dibawah sana

“Owwwhh.. Itu…. Hehehe… Itu reflek Maa…”

“Iiiihhss.. Dasar anak mesum…. Udah ahh…. Mama mau cuci piring dulu… Kalo kamu peluk gini mulu… Mama nggak bisa gerak nih…” Ucap Listy ketus dan mendorong tubuh Ciello supaya mundur..

“Nggak mau… Kalo Mama cemberut seperti itu mulu… Ciello nggak mau ngelepasin Mama…” Ancam Ciello yang semakin mempererat pelukan tangannya.

“Ciellooo… Lepasin aahh… Sayang….”

“Enggak… Ciello nggak suka Mama cemberut seperti itu…. Senyum dulu doongg…”

“Hhhhhh… Ada-ada aja sih kamu Sayang…?” Listy menarik nafas panjang, kemudian menuruti permintaan putra kandungnya itu. Ia lalu menarik ujung bibirnya kesamping. Membuat senyuman lebar nan cantik diwajahnya.

“Naaahhh… Kalo gitu khan cantik Maa…” Puji Ciello yang alih-alih melepaskan pelukan tangannya, malah semakin memeluk ibunya kuat-kuat. “Ngelihat kecantikan Mama balik lagi….Ciello jadi makin sayang deh ama Mama…” Seru putra kandung Listy itu sembari memajukan tubuhnya, menempel erat pada punggung Listy.

“Iiiiihhhsss… Sayang… Udah aaahh… Mama mau kerja dulu nih…”

“Kerja aja Maaa… Ciello nggak bakal ngeganggu kok… ” Jawab Ciello singkat sambil makin memajukan tubuhnya. Membuat Listy makin merasakan tonjOlan keras milik putranya di sela-sela pantatnya.

“Tapi Mama nggak bisa bebas bergerak Sayang…”

“Hehehe… Nggak apa-apa Maa… Ciello bakal ikut bergerak kemanapun mama inginkan…” Jawab Ciello yang terus menempel erat dibelakang tubuh Listy. Mengikuti gerakan tubuh seksi ibunya setiap kali ia berpindah tempat.

“Mama cantik banget… ” Ucap Ciello yang tak henti-hentinya memeluk tubuh ibu kandungnya. Ia juga mengendus serta menghirup aroma tubuh Listy dan terus menempelkan selangkangannya di belakang tubuh ibunya. Bahkan, tak disitu saja, melihat kepasrahan ibunya ketika menerima sodokan-sodokan isengnya, Ciello mengira jika Listy mengijinkan dirinya untuk berbuat lebih cabul lagi.

“Mama kok bisa secantik ini sih Maa…?” Puji Ciello yang mulai iseng merabai perut dan pinggang Listy. “Udah cantik… Seksi pula… Badan Mama ini…. Bikin Ciello sering pusing Maa… CUP…”

“Pusing apa nafsu…?”

“Hehehe….. Dua-duanya Maa… Pusing sekaligus nafsu…. ” Ucap Ciello semakin berani menggoda ibunya lebih jauh lagi. Memajukan selangkangannya, menohok sela pantat ibunya secara terang-terangan

“Ohhh… Cielloo…” Bisik Listy lirih, “Udah aaahh… Jangan berbuat yang aneh-aneh aaahh…” Tolak Listy pelan sembari berusaha menjauhkan tubuh putra kanduingnya dari belakang tubuhnya.

“Ooohh.. Mamaaaa….. Ciello nggak aneh aneh kok.. Cuman pengen meluk Mama cantikku ajaa…”

“Yaa kalo mau peluk… Nggak usah ngusel-nguselin kontolmu dong sayang…”

“Hehehe.. Itu tandanya Ciello sayang banget ama Mama…” Jawab Ciello yang sama sekali tak menghiraukan keberatan Listy. Malahan, ia semakin mempererat pelukan tangannya sambil terus menggesekkan tubuhnya naik turun. Menyelipkan batang penisnya yang sudah menegang keras kearah sela pantat ibunya.

“Uuhhh.. Cielloooo…. Mama nggak bisa nafas niihh…. Jangan kenceng-kenceng meluknya…”

“Hehehe… Maaf Maa…. Habisan Mama wangi sih… Seksi … Aku jadi gemes deh ama Mama…” Ucap Ciello berkali-kali.

“Mama juga sayang kamu Sayang… Cuman… Udah dulu ya Sayang… Udah… Jangan peluk Mama seperti ini dulu… ” Desah Listy yang tahu jika birahi putra kandungnya itu mulai tak terbendung lagi.

“Bentaran lagi ahh Maa….” Tolak Ciello.

“Bentaran apa lagi sih…? Kamu mau ngapain Sayang…? Jangan macem-macem yaa… Ntar Papa atau Clara bisa ngelihat kita loh… Meraka bisa saja datang kesini setiap saat….” Tolak Listy yang kali ini mencoba menjauhkan sodokan pinggang Ciello dari pantatnya.

“Ehhmmmhhh…. Bentaran lagi Maa… Ciello mau keluar….”

“Haah…? Kamu mau apa…? ” Panik Listy ketika mendengar kalimat putranya. Buru-buru ibu dua anak itu menjulurkan tangannya kebawah.

Dan betapa kagetnya ia ketika mendapati jika Ciello sudah menurunkan celana kolornya, mengeluarkan batang penis besarnya, dan menggeseki belahan pantatnya naik turun..

PRANG KLONTANG KLONTANG…

Sebuah panci terpeleset dan jatuh kelantai. Menimbulkan suara lantang yang terdengar ke seuruh penjuru villa.

“ASSTAAGGAAA… CIEELLOOOO….!” Kaget Listy, “Ciello… Kamu jangan kurang ajar ya… Aku itu Mamamu….” Seru Listy begitu menyadari jika putranya sudah melakukan perbuatan cabul secara terang-terangan kepadanya.

“E…Ehhh… Ma’aaf Maa…. ” Ucap Ciello yang setelah melihat raut wajah ibunya, tiba-tiba merasa ketakutan, “Ciello pikir… Setelah apa yang sering kita lakukan belakangan ini… Kita bisa…”

“BISA APA…?” Bentak Listy dengan intonasi keras namun bernada pelan.

“Bisaa…. Nggg….Yaa… Ngelakuin hal lain…”

“Hal lain seperti apa…? Ngentotin Mamamu sendiri…? Iya….?” Potong Listy dengan nada tinggi.

“Nggg… Maaf Maa…”

“Udah-udah sana… Jauhkan kontol ngacengan kamu itu dari Mama dan buruan masuk kamar… Mama nggak mau kamu ada didekat Mama…. PERGI….!”

“Ma’af Maa…” Ucap Ciello lemas seperti orang yang baru saja kalah perang. Dengan berat hati, Ciello meninggalkan ibunya sendiran di dapur. Melangkah dengan lemas menuju kamarnya di lantai atas vilaa.

“Aaaarrrggghhh…. Bisa stresss aku kalo seperti ini….” Seru Listy yang kemudian mengambil panci yang tadi terjatuh kelantai dan menghempaskan panci itu ke bak cuci. Membuat panci itu terbanting keras dengan suara kelontangan lantang.

KLONTANG KLONTANG KLANG…

Ia lalu menghentikan kegiatan cuci piringnya sejenak sembari menatap kearah jendela dapur.

“Ada apa Sayang…?” Tanya Mike yang tak lama kemudian sudah berada di dapur.

Tak menjawab, Listy hanya duduk di kursi makan.

“Kamu baik-baik saja…?” Tanya Mike lagi sambil meraih tangan istrinya.

Tak juga menjawab, Listy segera menghindar dari tangan Mike.

Diambilnya ceret air panas dan sebuah cangkir. Dengan lincah, Listy meracik secangkir teh kemudian melangkah kearah balkon dapur. Sembari menarik nafas panjang, ia duduk dikursi.

Sejenak, Listy menatap jauh ke arah danau yang sudah tak terlihat. Kearah bintang yang gemerlapan dilangit. Dan mendengarkan suara gemericik air sungai dan suara alam yang menenangkan.

“SLUURRPPP…”

Suara bibir Listy menyeruput teh hangatnya.

“Sayang… ” Susul Mike sambil duduk di kursi balkon, “Kamu nggak apa-apa….? Kamu terlihat begitu tegang Sayang… Kalo ada unek-unek… Ceritain ke aku dong…”

Tak menjawab, Listy malah meletakkan cangkir tehnya di meja balkon dan beranjak bangun dari kursi.

“Sayang…. Tunggu dulu….” Cegah Mike yang segera meraih tangan istrinya.

Lagi-lagi, Listy menepis tangan suaminya dan melangkah masuk kearah ruang keluarga. Listy lalu menghempaskan pantat bulatnya ke sofa dan meraih remote yang tergeletak di meja. Dengan kesal, Listy menekan-nekan tombol remote controlnya gemas, mencoba mencari channel TV favoritnya.

Tak mau dicuekin mulu, Mike segera menyusul Listy kedalam. Sambil membawakan cangkir teh istrinya, ia berjalan ke ruang keluarga.

“Sayang….?” Panggil Mike yang kemudian dudul di ujung sofa. Ia lalu meraih kaki Listy dan mengusap telapak kakinya pelan, “Aku pijitin ya….?”

Sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi Mike, untuk memijat kaki Listy ketika mereka sedang berselisih paham. Ia tahu benar jika itu adalah satu-satunya cara buat meredakam emosi istrinya ketika sedang tinggi. Dengan sengaja, Mike menekan ujung jari jempol Listy keras-keras.

“Uhhh… Pelan-pelan Mas…” Lenguh Listy pelan.

“Eh iya…” Jawab Mike.

Listy melirik wajah suaminya tajam dan menghela nafas panjang.

“Kamu nakal sekali Mas…… ” Ucap Listy membuka percakapan, “Masa anak sendiri kamu pejuhin…?”

“Nggg…. Iya…. Mas Minta maaf Dek….”

“Emang… Aku kurang memberimu kepuasan ya Mas….?” Tanya Listy lagi.

“Enggak Dek…. Kamu selalu memuaskan aku kok….”

“Lalu…? Kenapa kamu sampe tega melakukan hal itu Mas……? ” Tanya Listy dengan wajah serius, “Kamu mejuhin anak sendiri loh Mas…. ”

“Iya… …”

“Kamu sadar nggak sih Mas…? Kalo Clara itu putrimu… ? Dia Anak kandungmu sendiri loh….”

“Iya Mas tahu…. ”

“Kalo Mas tahu… Kenapa Mas masih ngelakuin hal itu….?”

“Mas nggak tahu Dek…. ”

“Kok nggak tahu….?”

“Iya… Mas nggak tahu…. ”

Sejenak, Mike juga mengambil nafas panjang.

“Mas juga ngerasa aneh Dek…. Akhir-akhir ini Mas ngerasa ada yang beda pada diriku… Karena setiap ngelihat Clara… Entah kenapa menjadi khilaf…. ”

“Khilaf….?” Kaget Listy, “Khilaf bagaimana Mas….?”

“Ya khilaf Dek…. Khilaf…. Mas selalu menganggap Clara itu dirimu… Mas seolah lupa kalo Clara itu putri kandung Mas….”

“HhhhhHhhh…. ” lagi-lagi Listy menghela nafas panjang, “Kamu kok gitu sih Mas….?” Ucap Listy yang sekarang sudah menatap suaminya,”Kamu memang penjahat kelamin Mas…… ”

“Maaf Dek….. Mas khilaf…. ” Ulang Mike lagi yang kemudian merebahkan tubuhnya tepat disamping Listy.

“Khilaf apa nafsu Mas……?”

“Nggak tahu Dek…… Mas nggak tahu…. ” Ucap Mike lirih, “Entah kenapa… Setiap kali Mas melihat kecantikan Clara…. Membuat Mas langsung kehilangan akal sehat Mas…..”

“Itu anak kandungmu sendiri loh Mas….Itu anak yang lahir dari benihmu….”

“Iya…. Mas tahu Dek….” Jawab Mike, “Maaf….”

“Hhhhhh… Mas mau minta maaf… Tapi kok yang dibawah situ nggak mau minta maaf…?” Bisik Listy lirih sembari mengusap selangkangan suaminya, “Minta maaf tapi kok kontolnya ngaceng…. ?”

“Hehehe…. Habisan kalo kamu elus-elus gini… Siapa yang nggak bakalan ngaceng Dek….?” Ucap Mike mencoba bercanda.

“Halah… Bohong… Pasti kamu ngaceng gini gara-gara kita ngomongin Clara ya…?” Tebak Listy.

“Nnggg……. Nggak juga sih….”

“Ngaku aja Mas…. Kontolmu ngaceng gini gara-gara kamu mikirin Clara khan….?”

“Nnggg…. Iya sih…. Sedikit……”

“Sepertinya… Kontolmu ini kayaknya nggak bakalan bisa puas dari hanya satu memek ya Mas….?”

“Nggg.. Maksudnya…?” Heran Mike.

“Kalo misal tadi Adek nggak masuk kekamar Clara… Kira-kira Mas bakal ngelakuin hal yang lebih jauh lagi ngga ya Mas….?

“Hal yang lebih jauh….? Hal apa Dek…?”

“Nggak tahu… Mungkin… Kamu bakal jilat tetek Clara kali…? Atau kobelin memek Clara kali…? Atau mungkin Mas mau minta entotin anak kita…?”

“Eehhhh…. ? Kok kamu nanyanya gitu Dek…?”

“Ya engak…. Adek cuman pengen tahu aja Mas….. Kira-kira kamu bakal ngelakuin semua hal itu apa nggak…?”

“Yaaa…. Enggak lah Dek…. Emang Mas udah gila apa…?”

“Ya khan Adek cuman pengen tau aja Mas…. Mas bakalan tega apa nggak….”

“Tega…? Tega apa…?”

“Iya…. Mas bakalan tega buat ngambil perawan Clara nggak….?”

Mike tak menjawab. ia hanya menatap wajah cantik istrinya dalam-dalam.

“Kalo misalnya…. Clara mau dientotin ama Mas… Kira-kira Mas bakal ngelakuinnya apa nggak…?”

“Ngelakuin apa…? Ngentotin Clara……?”

“Iya…. Mas mau apa nggak….?”

“Nggg….”

“Jawab Mas…. ” Tanya Listy tegas, “Adek pengen tahu…. Mau atau enggak…..?”

“Ngggg….”

“Gimana Mas…? Mas mau atau enggak….?”

“Gimana ya….?” Bingung Mike sambil berpikir keras.

“GILA kamu ya Mas…. Kamu gila….”

“Laahh…? Kok gila….?”

“Ya itu…. Kamu nggak bisa langsung ngejawab pertanyaan Adek….”

“Jadi kalo aku nggak bisa langsung jawab… Itu artinya aku gila….?”

“Bagi Adek… IYA….” Jawab Listy tegas, “Itu artinya… Kamu pasti ada kepengenan buat berbuat lebih jauh lagi dengan Clara…… Ya khan Mas….?”

“Ya enggak lah….”

“Ngaku aja Mas…. Kamu pasti pengen khan Mas… Buat merasakan kenikmatan tubuh Clara….?” Tanya Listy dengan nada menggoda, “Kamu pengen khan Mas… Bisa ngisepin tetek Clara yang besar itu…?”

“Emang kamu nggak pengen Mas… ? Bisa ngejilatin memek Clara yang mungil itu…? Ngobelin memek anak kandungmu sendiri sampe dia ngedesah-desah keenakan…? Kamu jilat memek Clara sampe dia kelojotan…?”Tanya Listy sambil mengusap-usap penis Mike yang sudah menegang keras.

“Nnggg…. Gimana ya…?”

“Emangnya… Kamu nggak pengen Mas…? Ngebelah memek perawan Clara pake kepala kontolmu ini Mas…? Kepala kontol yang juga dulu ngebelah memek perawan Adek ini Mas…”

“Kamu nggak pengen….? Nyodok-sodok liang rahim putri kecilmu yang semokmu itu pake kontol panjangmu ini…? Hingga ngebuat Clara menjerit-jerit keenakan dan lemas karena dia orgasme…?”

“Kamu nggak pengen…? Ngaduk-aduk isi memeknya…? Nusukin kontolmu sampe bener-bener habis kepangkal rahim Clara…? Sampe akhirnya… Kamu bisa mejuhin liang peranakan putrimu dengan jutaan benih pejuhmu yang subur…??”

“Emangnya… Kamu nggak pengen Mas…? Ngelakuin semua hal yang seksi seperti itu Mas…?”

“Ngggg…..Gimana ya…. ? ” Bingung Mike, “Sebenernya…. Mas pengen Dek…. Bisa ngentotin cewek secantik dan seseksi Clara… Siapa juga yang nggak pengen… Pengen banget malah…” Ucap Mike jujur tanpa bisa beralasan.

“Astaga Mas….” Kaget Listy sambil menutup mulutnya, “Adek nggak nyangka Mas…”

“Loohh… Ehhh….” Kaget Mike yang tiba-tiba tersadar dengan semua pertanyaan Listy barusan, “Maksud Mas…”

“Tega ya Kamu Mas….” Rutuk Listy, “Ternyata…. Adek menikahi seorang penjahat kelamin…. Parah banget kamu Mas…”

“Bukan…. Bukan gitu Dek….

“Aaaahhhh…… Semua pria emang sama…..” Ucap Listy sambil beranjak dari sofanya.

“Tunggu bentar Dek…. Bukan gitu maksud Mas…. Denger… Mas bisa jelasin semuanya…..”

“Udah ah…. Bodo…. Adek ngantuk…. Adek mau bobo.

“Adek…. Denger dulu….” Tahan Mike yang mencegah kepergian istrinya.

“APA……?” Tanya Listy ketus.

“Tunggu dulu dooong…. Mas mau ngomong….”

“Mau ngomong apa lagi…? Semua udah jelas Mas…”

“Hhhhhhh…. ” Sela Mike menghela nafas, “Untuk apa yang terjadi tadi sore antara Mas dengan Clara… Mas bener-bener minta maaf… ” Ucap Mike sembari mengecup jari tangan Listy. “Cuman… Mas akhir-akhir ini juga berpikir… Jika kamu juga sepertinya ada rasa dengan Ciello…”

“A.. Ada rasa dengan Ciello…?” Kaget Listy, “Ma.. Maksud Mas apa….?”

“Iya…. Mas pikir…. Kamu juga punya rahasia dengan Ciello…… Putra kita…… ” Jawab Mike pelan, “Apa kamu juga ada maen dengannya…? Sayang…?”

DEEG

Jantung Listy seolah berhenti berdetak. Otaknya segera berpikir keras mengenai segala kemungkinan yang bisa terjadi dari hubungannya dengan putranya.

“Apakah Mike tahu semua perlakuan mesumku dengan Ciello….?” Tanya Listy dalam hati, “Apakah Mike tahu langsung…? Atau dia tahu dari orang lain…?”

“Jawab Sayang…? Kok malah diem aja…?”

“Jangan nuduh yang macem-macem ya Mas… ” Sergah Listy membela diri, “Apa buktinya Adek ada maen dengan Ciello…?”

“Ya Mas nggak tau Dek… Mas belom punya bukti… ” Jelas Mike, “Cuman firasat Mas… Kamu juga ada maen dengan Ciello…”

“Huuuu…. Jangan karena kamu ketangkep basah udah mejuhin Clara… Kamu bisa bales menuduh Adek ngelakuin hal yang nggak-ngak dengan Ciello ya Mas… Adek nggak suka…”

“Mas nggak nuduh sayang… Mas cuman tanya… Mas berfirasat…”

“Firasatmu nggak beralasan Mas… Kamu terlalu mengada-ada….”

“Mas cuman merhatiin aja Dek…. Kamu punya hubungan special dengan putra kita…. Terlebih ketika Mas ngelihat ketika kamu sedang berduaan dengan Ciello… Raut wajahmu langsung berubah….”

“Berubah gimana….??”

“Kamu jadi lebih ceria aja… Lebihsegar…. Lebih berseri-seri…” Jelas Mike, “Kamu… Nggak sedang jatuh cinta dengan anak kita khan Dek…?”

“Adek…Jatuh cinta atau tidak… Itu bukan urusanmu Mas… Itu rahasia ibu dan anak….” Ucap Listy membela diri, “Lagian kalo Adek memang beneran cinta dengan Ciello…. Apa sih salahnya…? Toh dia anak Adek juga…”

“Ya kalo begitu kita sama dong Dek… Aku juga cinta ama Clara….” Ucap Mike mencoba membela diri.

“Beda Mas… ”

“Loohh…? Bedanya…?”

“Menikmati aurat tubuh wanita hingga ngocokin kontol… Lalu mejuhin dia… Itu namanya bukan cinta Mas…. Itu pencabulan… ”

Mike kembali terdiam, tak mampu memberikan pembelaan bagi dirinya sendiri.

Melihat suaminya tak mampu berkata apa-apa. Membuat Listy merasa menang.

“Itu jauh dari yang namanya cinta Mas…. Itu birahi… Itu nafsu…. ” Ucap Listy lirih, “Ngerti…?”

Seolah kehabisan kata, Mike sama sekali tak menjawab. Ia hanya terdiam dan menatap tivi yang masih menyala terang di ruang keluarga,

“Hhhhh…. Ada lagi yang mau dibicarakan Mas Mike…?” Tanya Listy sambil beranjak dari sofa ruang keluarga. “Kalo nggak ada… Adek mau bobo…”

“Tunggu bentar Dek… ” Sergah Mike sembari memegang pinggang istrinya.

“Apalagi sih Mas…? Adek udah ngantuk banget niiihhh…”

“Duduk sini bentaran dong Dek… ” Ucap Mike yang tanpa basa basi, langsung memelorot celana dalam istrinya lalu menarik tubuhnya mundur. Dan begitu pantat Listy turun mendekat ke selangkangan Mike nya, ia segera mengarahkan penisnya ke lubang vagina istrinya.

“Aaahhh… Maasss.. Kamu mau apa…?” Kaget Listy reflek.

BERSAMBUNG.