Keluarga Birahi Listy Part 11

0
3577

Sekedar nostalgia.

Tanpa ada hubungan apapun dengan Cerita Keluarga Listy.

Cerita Mama Ciello jadi ngingetin ane pada jaman SD dulu, dimana ane sering maen kerumah teman ane yang punya mama cantik nan bohay. Tante Ning, begitu ane sering manggil beliau. Seorang ibu rumah tangga dua anak yang kerjaannya (kalo gw maen) sering ngerawat tanaman. Setiap hari, Tante Ning itu selalu mengenakan pakaian longgar. Antara daster atau kaos suaminya yang terbilang tambun, tanpa mengenakan pakaian dalam atau bawahan apa-apa lagi.

Perawakan Tante Ning, waktu itu masih terbilang cukup langsing, dengn kedua payudara yang juga berukuran sedang. Rambutnya panjang sepunggung yang selalu ia sanggul keatas. Memamerkan leher jenjang dan bulu-bulu tipis ditengkuknya. Satu hal yang selalu membuat ane adem panas ketika menatap ke sosok ibu temen ane ini. Yaitu karena kulit sawo matangnya, yang terlihat begitu tipis dengan urat yang terlihat samar di pipi, payudara dan pahanya.

Mungkin, karena ane masih cukup kecil, Tante Ning sama sekali tak menaruh rasa malu ataupun curiga setiap kali ane maen kerumahnya. Ia terlihat begitu cuek dalam berpakaian. Kalo ane maen pagi sebelum berangkat sekolah, ane sering ngelihat gundukan kedua payudaranya, tonjolan putting kecilnya, ketika beliau sedang menyiapkan sarapan buat kedua anak dan suaminya.

Kalau ane maen sepulah sekolah, ane juga sering disuguhi kulit paha mulus beserta celana dalamnya ketika Tante Ning sedang membaca majalah di teras depan. Bahkan ketika Tante Ning sedang malas duduk di teras depan, ia sering membaca majalah di bale-bale disamping rumah. Tentunya dengan posisi tubuh rebahan yang begitu cuek, tak menghiraukan bawahan daster atau tshirt gombrongnya tersingkap hingga memamerkan pantat bulatnya.

Ia sama sekali terlihat biasa saja. Sama sekali tak memperlihatkan kesengajaan ketika memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Cuman terkadang, temen ane sendiri yang terlihat sedikit jengah melihat kecuekan ibunya.

Hingga suatu saat, ketika ane maen dan nginep dirumah Tante Ning. Itu pertama kalinya ane bisa melihat bagaimana cantiknya bentuk tubuh seorang wanita dewasa secara langsung.

Waktu itu, pagi, setelah subuh, kontol ane punya kebiasaan selalu ngaceng gara-gara kantong kemih ane penuh. Itu artinya ane harus buang air. Karena masih pagi, ane sungkan untuk membangunkan temen ane yang masih nyenyak tidurnya dan berusaha menahan rasa ingin kencing itu sekuat tenaga. Namun, karena hembusan udara AC yang sangat dingin, membuat ane pada akhirnya menyerah dan memutuskan untuk segera kecing.

Dengan tanpa meminta ijin ke teman ane, ane sengaja keluar sendiri dari kamar tidurnya lalu menuju ke kamar mandi.

Dan, ketika ane membuka pintu, ternyata didalam kamar mandi, ada Tante Ning yang sedang bersiap untuk mengguyur tubuh moleknya.

“WOOOW… TUBUH TELANJANG TANTE NING….” Batinku Girang.

Dengan tanpa mengenakan sehelai benang pun untuk menutup tubuh sintalnya, sejenak Tante Ning mengurungkan niatnya unuk mandi.

Awalnya, Tante Ning kaget dan bertanya mau apa ane masuk kekamar mandi pagi-pagi buta seperti ini. Namun setelah ane berusaha menjelaskan situasinya (sambil mulai loncat-loncat karena tak mampu lagi menahan rasa ingin kencing), Tante Ning pun mempersilahkan ane untuk buang air.

Nah ini yang bikin ane heran sampe sekarang. Tante Ning, bukannya menutup tubuh telanjangnya secepat mungkin, ia malah membantu ane kencing dengan kondisi yang masih bertelanjang bulat.

YUP. BUGIL

Dengan tanpa rasa malu sedikitpun.

Bahkan ketika kontol ane tak dapat mengeluarkan air seni karena masih terlalu keras ngaceng, Tante Ning dengan telaten membantu mengguyur batang kontol ane sambil sedikit mengurut perlahan. Sampe akhirnya kontol ane bisa bener-bener lemes dan bisa menguras air kencing ane sampe habis.

Tante Ning, adalah wanita ketiga yang telah menyentuh kontolku selain ibu dan suster khitanku. Dan dia adalah wanita pertama yang membuat kontolku semakin ngaceng karena urutan lembut jemarinya.

Rasa sentuhan tangannya, kulit mulusnya, lirikan matanya, dan senyum tenangnya. Benar-benar membuat ane selalu terbayang-bayang dengan kecantikan Tante Ning. Namun tololnya, karena ane masih SD, ane sama sekali tak punya niatan lebih selain sekedar mengagumi sosok ibu temen ane itu.

Meen… Itu adalah salah satu situasi paling beruntung ane yang sampai sekarang, masih ane ingat setiap kali ane maen kerumah temen ane itu.

Terlebih, setelah ane tahu ternyata, dikeluarga temen ane, mandi bareng sesama anggota keluarga itu adalah hal yang sangat biasa. Sumpah. Iri rasanya ane ama keluarga temen ane itu.

Dan, ketika ane menulis tentang temen cerita temen ciello, ane bisa tahu, gimana rasa iri itu hinggap di dada ane hingga saat ini.

Bersambung.