Jilbab Binal Part 2

0
23980

Jilbab Binal Part 2

Aku Dijadikan Budak Seks Sekaligus Pelacur Berjilbab

“Mmmmmmh” gumamku sambil perlahan membukaa mataku yang disilaukan oleh cahaya matahari. Tak terasa hari sudah pagi. Dalam kondisi masih tanpa busana, aku yang kini berada di rumah pak Surya melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Dengan sisa tenagaku yang masih ada, akupun mulai beranjak bangun, mengambil semua pakaianku, kemeja, rok dan high heelsku agar bisa secepatnya pergi dari rumah pimpinanku yang cabul tersebut. Meski aku juga bingung disaat aku bangun aku tak melihat pak Surya, tapi aku tak terlalu memikirkannya. Melihat hari yang sudah semakin terang, aku baru tersadar ternyata aku pingsan berjam-jam setelah diperkosa oleh pak Surya, Sabtu malam kemarin. Sambil melangkahkan kaki mencari kamar mandi, tanpa kusadari air mataku kembali menetes mengingat malam biadab saat keperawananku direnggut paksa oleh pak Surya. Disela tangisku, tiba-tiba aku sedikit dikagetkan dengan suara dan getaran dari handphoneku.
“Jangan-jangan kakak” batinku memprediksi kakak sepupuku menelpon karena semalaman aku tak pulang.
Dengan cepat kuraih handphoneku yang terselip di saku rokku untuk melihatnya. Namun apa yang kuprediksikan ternyata salah, di layar handphoneku yang kulihat justru sebuah pesan masuk dan begitu kubuka pengirimnya adalah pak Surya.
“Gimana tidurnya manis, nyenyak kan? Oia, kalau kamu sudah bangun, kamu langsung ke kantor. Pakai saja salah satu motor dan helm yang ada digarasi rumah saya. Kuncinya ada di atas televisi ruang tengah. Satu lagi, semua pakaian untuk kamu hari ini sudah saya persiapkan di atas tempat tidur kamar saya. Pakaianmu yang lama buang saja, sudah kotor dan kusut. Inget, walaupun ini hari Minggu, tapi jam 8 pagi ini kamu harus sudah sampai di kantor, karena saya perlu pendamping untuk bertemu mitra kerja. Hari ini istri saya juga akan segera pulang” begitu isi sms panjang yang ditujukannya padaku.

Perasaan tak enak pun langsung kurasakan begitu membaca isi pesan singkat itu, membuatku bertanya-tanya mengapa di hari libur, pak Surya ingin sekali agar aku tetap datang ke kantor. Kupercepat langkahku ke kamar mandi untuk membersihkan diriku, terutama membersihkan vaginaku dari sisa-sisa sperma pak Surya. Selesai mandi, aku kemudian menuju tempat tidur kamar pak Surya untuk memakai pakaian yang sudah dipersiapkannya, apalagi aku memang tak mungkin memakai jilbab, baju gamis dan rokku yang sudah kusut dan kotor akibat pemerkosaan yang kualami kemarin. Kutatapi tubuh telanjangku melalui cermin yang ada di kamar pak Surya, kulihat kedua payudaraku yang ranum, meski tidak terlalu besar. Sedikit kuraba juga bongkahan pantatku yang bulat, termasuk paha dan betisku yang jenjang. “Pantas pak Surya bernafsu sekali denganku” kataku sambil mengingat kembali kenangan saat tubuh atasanku itu menindih tubuh mungilku. Walau nasi sudah menjadi bubur, tpi aku tak mau larut dalam kesedihan. Segera kuraih pakaian yang sudah terletak di atas kasur kamar tidur pak Surya, kukenakan satu persatu. Pagi ini pak Surya memberikan jilbab biru sewarna dengan kemeja lengan panjang untukku. Lengkap beserta bh, celana dalam, rok panjang hitam dan dua heels yang juga berwarna hitam. Meski aku tak tahu darimana pakaian ini didapatkan oleh atasanku yang cabul itu, tapi aku sedikit lega. Setidaknya ada pakaian layak pengganti pakaianku yang bisa kugunakan hari ini. Tak lupa kuoleskan pula sedikit lipstik di bibir tipisku sebelum pergi meninggalkan rumah pak Surya.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.40 WIB, selesai berdandan dan berpakaian, aku pun langsung keluar kamar dan mengambil kunci motor matic di atas televisi. “Sebentar lagi istri pak Surya pulang, aku harus cepat pergi dari rumah ini” gumamku. Kupercepat langkahku menuju garasi sambil menghidupkan motor lalu melaju meninggalkan rumah tersebut. Selama diperjalanan, aku masih bertanya-tanya apa yang akan dilakukan pak Surya nanti. Walaupun aku juga belum tahu jawabannya, namun hati kecilku berkata kalau pak Surya berencana mengerjaiku lagi.

Setengah jam di perjalanan, tanpa terasa aku pun akhirnya sampai di kantor. Kulihat di parkiran ada mobil pak Surya. Tapi mobil itu tak terparkir sendiri, ada dua unit mobil lagi yang terparkir berdampingan dengan mobilnya. “Pak Surya lagi sama siapa ya di kantor. Kok ada mobil lain. Padahal inikan hari Minggu, pegawai pada libur. Apa mungkin itu mitra bisnis yang dibilang pak Surya di SMS tadi” sejumlah pertanyaan kembali muncul di benakku. Selesai memarkirkan motor yang dipinjamkan pak Surya, aku lantas bergegas jalan menuju ruangan humas. Tok..tok..tok..kuketuk pintu. “Ya masuk” jawabnya.

Surya : “Dephut.. akhirnya kamu datang juga. Ayo duduk dulu. Gimana suka gak dengan pakaian yang kamu pakai sekarang. Cantik kan, serasi buat kamu” katanya sambil bertanya.

Aku : “iiiiyaa tterima kasihh pak. Baju sama roknya bagus. Dephut ssuka” jawabku terbata-bata.

Surya : “bagus kalau kamu suka. Oiya, hari ini saya kedatangan 4 tamu penting pegawai pemkot dari luar kota. Kamu mesti temani saya untuk menjamu mereka, kamu nggak keberatan kan Phut.” ujarnya sambil duduk mendekatiku.

Aku : “ttidak pak. Apa yang harus Dephut kerjakan pak” tanyaku.

Surya : “nanti saja kalau mereka sudah datang. Tadi mereka keluar sebentar dan akan balik lagi ke sini” sebutnya.

Surya : “kamu benar-benar cantik Phut. Sekarang saya mau kamu membuka ini” sambungnya sambil memegang tanganku dan memberikan sebuah bingkisan padaku.

Aku : “iniii apa pak” tanyaku lagi dengan penasaran.
Surya : “kamu buka aja dulu, ntar kamu juga tahu isinya” himbaunya.

Dengan sejuta rasa penasaran, akupun tanpa ragu mulai membuka bingkisan yang diberikan oleh pak Surya. Mendadak badanku terasa mati lemas begitu melihat isi bungkusan tersebut. Bagaimana tidak, bingkisan berbentuk kotak kubus itu ternyata berisi foto-foto telanjangku saat digagahi pak Surya di rumahnya kemarin. Tak hanya foto, aku juga menemukan sekeping DVD player di dalamnya.

Aku : “pakk..ini maksudnya apa. Kenapaa foto telanjang Dephut ada sama bapakk…, kenapa pak..! Apa bapak belum puass memperkosa Dephut semalam” bentakku diiringi tangis yang tak bisa kubendung lagi.

Surya : “sudahlah Phut. Kamu jangan nangis lagi, kamu sebenarnya juga menikmatinya kan. Menikmati gesekan kontolku di dalam memekmu. Hahaha…” ejeknya padaku.
Surya : “saya sengaja menyimpan foto dan rekaman dirimu telanjang semalam. Saya juga sudah mempersiapkan semuanya, memasang kamera perekam sebelum mencicipi tubuh seksimu manis. Mulai hari ini dan seterusnya, saya ingin kamu jadi budakku, jadi piaraanku” tegasnya.

Aku : “nggak, Dephut gak mau pak. Dephut bukan cewek gampangan. Bapak cari saja perempuan lain” ucapku tak mau kalah.

Surya : “baiklah kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Saya tidak memaksa kok. Tapi ya jangan salahkan saya, kalau pas kamu menginjakkan kaki ke luar dari ruangan ini, foto dan rekamanmu itu langsung tersebar ke semua pegawai dan honorer di sini. Saya akan pastikan video bugilmu dientot akan terkenal di dunia maya. Semuanya sih tergantung kamu” ancamnya tersenyum licik.

Tanpa merasa bersalah, setelah mengancamku secara halus, pak Surya kemudian beranjak dari tempat duduknya dan hendak meninggalkanku. Karena sudah merasa takut dengan ancaman pak Surya, aku pun tak mau diam saja. Cepat-cepat ku pegang tangannya lalu berdiri di depannya.

Aku : “pak, Dephut mohon jangan sebarin foto sama rekaman video itu. Dephut gak mau orang lain tahu, apalagi keluarga Dephut di rumah. Dephut mohon….” tangisku di depannya.

Surya : “kalau kamu tidak mau ada orang lain yang melihat ketelanjanganmu, kamu harus turuti perintah saya tadi. Kamu harus jadi budakku, budak seksku…paham” bentaknya.

Aku : “ttaapi pak apa ttidak adaa cara lain” pintaku mencoba meminta belas kasihannya.

Surya : “nggak ada tapi-tapian, nggak ada tawar menawar. Kalau kamu tidak mau kan saya tidak memaksa. Minggir, saya mau jalan” tegasnya untuk kedua kalinya.

Pak Surya tetap bersikeras agar aku mau menuruti permintaannya. Dilema pun langsung menghampiriku, disatu sisi aku tentu tidak mau dijadikan budak pelampiasan nafsu pak Surya, disisi lain aku juga tidak mau kalau semua foto dan rekaman telanjangku itu tersebar kemana-kemana. Tapi aku harus secepatnya mengambil keputusan.

Aku : “pak Surya tunggu. Baiklah kalau itu yang bapak mau. Dephut mau. Tapi Dephut mohon jangan sebarkan foto dan rekaman itu,” harapku

Surya : “Mau apa??..bilang yang jelas donk Dephut, saya kan belum paham maksud kamu” tanyanya menginginkan kepastianku.

Aku : “Dephut mmm, Dephut mau jadi budakmu ppak” jawabku pelan.

Surya : “hahaha…bagus..bagus..gitu donk manis. Kalau begitu, sekarang kamu tandatangani dulu surat pernyataan ini ” tawanya lalu memberikan selembar kertas padaku.

Panas dingin rasanya badanku melihat isi surat perjanjian itu. Tak hanya secara lisan, Surya Permana atau pak Surya atasanku ternyata juga ingin membuktikan kata-kataku secara tertulis. Dapat kubaca secara jelas di surat itu tertera namaku yang menginginkan untuk dijadikan seorang slave atau budak tanpa adanya rasa paksaan. Lengkap beserta matrai yang sudah dipersiapkan pak Surya. Beginilah isi surat itu :
Saya yang bertandatangan dibawah ini,
Nama : Defi Wahyuni
TTL : P********, 28 Desember 1990
Status : Belum Menikah
Pekerjaan : Honorer Pemkot B****

Dengan ini menyatakan ketersediaan saya menjadi seorang budak seks untuk majikan saya, Surya Permana. Segala perintahnya adalah mutlak bagi saya untuk mematuhinya. Tubuh ini miliknya sepenuhnya, jika saya melanggar saya siap menerima hukuman darinya. Semua pernyataan ini saya buat dengan sukarela dan tanpa paksaan orang lain.

Sambil sedikit gemetaran, usai membaca isi surat pernyataan tersebut, aku pun mau tak mau harus menandatanganinya. Dengan terpaksa akhirnya kutandatangani juga surat itu di hadapan pak Surya.

Surya : “good slave. Ini adalah bukti bagiku agar kamu selalu menuruti perintahku. Jangan pernah membantah keinginanku. Kamu paham Dephut. Ingat, semua foto, video termasuk surat ini sekarang ada ditanganku. Kalau kamu melawan, dengan sekejap saja semuanya langsung tersebar. Mengerti..!” pesannya mengingatkanku.

Aku : “mengerti pak” singkatku yang langsung dibalas dengan ciuman pak Surya ke bibirku.

Dipegangnya daguku dan kembali dilumatnya bibir tipisku yang masih berbalut lipstik. Mmmmhh….mmmpth….desahku mulai menikmati ciuman pak Surya. Tanpa ragu akupun membalasnya, lidah kami saling menari-nari satu sama lain. Sambil menciumku, tangan pak Surya juga meremasi payudaraku.

Surya : “buka mulutmu Phut. Minum air ludahku, telan..Cuuuuih..Cuuiih” katanya yang disusul dengan meludah ke mulutku.

Aku : “aaaa’…iiyaa paak, Dephut haus…lagi ppaaak..ludahi mulutku” mohonku dengan wajah bersemu merah.

Dengan posisi tangan terus bergerilya merabai payudaraku, pak Surya kemudian mulai membuka kancing kemejaku. Perlahan tapi pasti, tanpa kusadari tiba-tiba saja kemejaku sudah terlepas semuanya. “Uuuuughh…sshhh..geli pak” kataku. “Tapi kamu suka kan binal. Dephut binal, ya kan” jawabnya.

Aku : “Ssukaa paak mmmpthhs” ucapku mengiyakannya. Tangan pak Surya pun semakin lincah melolosi bra yang kukenakan, terpampanglah sudah payudaraku saat bra ku ikut terlepas bersama kemeja yang kupakai. Tak menunggu lama, pak Surya lalu dengan cepat melahap kedua payudaraku secara bergantian. Diemut, dijilat dan digigitinya puting payudaraku pelan-pelan. “Ooughh…paak..gghhh..susu Dephut geli..ssshhh..” desahku merasakan nikmat di kedua payudaraku. Tak puas memainkan payudaraku, kini tangan pak Surya semakin nakal melepaskan resleting belakang rokku, lalu melucuti celana dalam yang menutupi vaginaku. Pasrah, ya hanya sikap itulah yang bisa kulakukan saat pak Surya mencabuliku sepenuhnya. Terbesit dibenakku keinginan pak Surya untuk menjadikanku budak seks piaraannya dan tampaknya aku juga telah menikmati serta menginginkan hal tersebut.

Dalam posisi duduk mengangkang di depannya, pak Surya selanjutnya mencicipi vaginaku. Dijilat, dikecup dan diemutnya vaginaku sambil memasukkan satu jarinya ke dalam lubang surgaku. Diusap-usapnya clitorisku sehingga membuatku semakin terangsang. “SsLLhh..SsLLhh Hhegmpth…Ssrppthh…SLuupth” suara lidah pak Surya ketika melumat habis vaginaku. Sambil menjilati vaginaku, tangannya juga tak berhenti mengocok lubang vaginaku. Melayang aku dibuatnya, kujambak rambut pak Surya dan kutekankan kepalanya ke arah vaginaku.

Aku : “tterrruus pak, jilatt memekk Dephut. Aaaaaaahh…sssshh jjaangan berhentti”

Surya : “teruslah mendesah. Keluarkan kata-kata kotormu pelacur berjilbab. Rasakan gatalnya memekmu. Cuiih, memekmu semakin banjiirr” hinanya mengataiku pelacur saat melihatku menikmati kelakuannya. Diludahinya vaginaku dan dipercepatnya kocokan tangannya di dalam vaginaku. Sleebbh…Ppoookh..pookh…cCcepth…suara jari lincahnya mengobok-obok lubang senggamaku.

Aku : “aaaaaakhh pak Surya, Dephut maaau kkeluaaar. Dephut mau nyampee ppakk” teriakku tak bisa menahan rasa ingin orgasme pada vaginaku. Tapi, di detik-detik ketika orgasmeku mau datang, pak Surya justru menghentikan kocokannya pada vaginaku.

Surya : “Kamu tidak akan orgasme semudah itu budakku. Hahaha, kalau kamu ingin merasakan orgasme, puaskan aku dulu” bisiknya ditelingaku.

Aku : “Siaaaal uuuuuh padahal dikit lagi. Dasar bajingan” gerutu memaki pak Surya dalam hati karena merasa tanggung untuk meraih orgasmeku yang sudah terujung namun mendadak hilang gara-gara pak Surya menghentikan rangsangannya pada vaginaku.
Aku : “paaak, kenapa berhentii. Tadi Dephut mau keluaar. Mmmhhh” sebutku meminta pengertian darinya.

Surya : “nanti kamu pasti mendapatkan orgasmemu jalang. Sekarang berlutut dan tutup matamu. Jangan buka matamu sebelum saya perintahkan. Paham!” perintahnya.

Seperti terhipnotis, aku pun menuruti perintah pak Surya. Telanjang hanya dengan memakai jilbab serta high heels di kakiku, lalu berlutut memejamkan mata tepat sesuai keinginannya. Sambil menunggu apa yang akan terjadi, pak Surya selanjutnya menutup mataku dengan kain.
Surya : “inget Dephut, jangan buka matamu sebelum ada perintah dariku” tegasnya mengulangi.
Aku : “bbaaik ppak” ujarku.

Sayup-sayup kudengar pak Surya keluar dari ruangan dan memanggil seseorang. Meski suaranya tak terlalu jelas, tapi bisa kudengar juga kalau pak Surya menyebut pelan namaku dengan lawan bicaranya itu. Uugh rasanya semakin deg-degan aja memikirkan nasibku sekarang. Di tengah lamunanku, kudengar pula suara langkah kaki mendekati ruangan pak Surya.

Aku : “Pak Surya, apa itu anda” tanyaku penasaran.
Surya : “apa kamu sudah tak sabar menungguku manis. Aku punya oleh-oleh untukmu” tawarnya semakin membuatku penasaran. Oleh-oleh? “Apa kira-kira oleh-oleh yang dimaksud atasanku ini” batinku.

Belum lagi sempat aku menjawab tawarannya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh pipi dan bibirku. Sesuatu yang lunak namun sudah menjadi keras dan panjang. “Nggak salah lagi, ini penis. Apakah ini penis pak Surya, apakah ini oleh-oleh yang dimaksudnya” pikirku mencoba menebak.

Surya : “sekarang buka mulutmu Phut. Buka yang lebar” pintanya. Aku yang mengerti keinginannya kemudian membuka mulutku. Detik berikutnya, penis itupun langsung menyeruak masuk ke dalam mulut mungilku. Ditekannya kepalaku sampai penis itu benar-benar menyentuh kerongkonganku. Tanpa belas kasihan, pak Surya lalu mengentak-hentakkan penisnya yang besar ke rongga mulutku. Membuatku mual, ingin rasanya aku muntah, tapi aku takut membuatnya marah.

Surya : “telan kontolku jalang. Awas jangan sampai kena gigimu. Aaaah terus rasakan kontolku dimulutmu. Mulutmu memang enak Dephut. Mulut pelacur murahan, aahhhh..” racaunya dengan kasar dan terus memaju mundurkan penisnya dimulutku. Air liurku terus menetes seiring hentakan penis pak Surya. gglloggh…ggooghh…hHhegh…hanya itu suara yang ku keluarkan dari mulutku saat memberikan service oral seks untuk pak Surya. Dibukanya kain penutup mataku lalu digenggamnya rahangku, “kemarin sudah kuentot memekmu Phut, sekarang mulutmu juga harus merasakan kontolku. Apakah kamu bersedia pelacurku” ucapnya menanyaiku dengan kasar.

Aku : “Bbeeerseddiaa paak. Dephut bersedia”
Plaaaak…tamparan keras tiba-tiba mendarat di pipi kananku. Pak Surya tampak tidak puas dengan jawabanku.

Surya : “kamu bersedia ngapain, bersedia buat apa. Saya ingin jawaban pasti darimu Dephut. Katakan ke saya kamu itu siapa. Plaaaak” geramnya dan memberikan tamparan lagi di pipi kiriku.

Aku : “ampuun ppaak..ssaaakit..hiks..iya pak Dephut bersedia kalau mulut Dephut ini dientot sama kontolmu pak. Aku budak seksmu pak. Akuu mmmmh pelacur berjilbab piaraanmu. Aku Defi Wahyuni pelacur milikmu” jelasku padanya.
Senyum kepuasan langsung terpancar dari wajah mesum pak Surya ketika mendengar pengakuanku. Tak berapa lama, pak Surya kembali melanjutkan kekasarannya padaku, dijejalinya penis besarnya itu ke mulutku.
Surya : “enak kulumanmu Dephut. Sekarang kamu milikku, kamu pemuasku pelacuurrr..” tuturnya menjadi-jadi. Ggoookh..ggLLoogh…hhheghh…iringan suara mulutku mewarnai ketidakberdayaanku dalam oral seks yang kuberikan. Apalagi tanganku masih terikat ke belakang. Praktis hanya mulutku yang bisa bekerja menservice kontol pak Surya. Hentakan dan tekanan kontol pak Surya semakin cepat menghujami mulutku sampai membuatku sulit bernapas. Lantai ruangan pak Surya pun basah oleh air liurku. Ggllloookkh…gggooohkk…eeeeeeghh…Surya : “Eeeghhh Dephuutt, saya mauu keluaaar. Saya muncrat” gumamnya memberitahuku hendak orgasme.

Aku : “keluarin di mulutku pak. Kelurin semua spermamu itu di mulut pelacurmu ini pak” saranku menunggu ledakan orgasmenya.
Surya : “terima pejuku pelacuuur, terima spermaku..aaaaaaaaaaarghh…keluaaaaaaar, Ccrrooth..ccrrrrhh..Ccrrrotth” teriaknya sambil menekan dalam-dalam penisnya menyentuh kerongkonganku. Bisa kurasakan sperma pak Surya mengalir membasahi kerongkonganku. Sperma itu bahkan langsung kutelan agar aku tak tersedak.

Surya : “benar-benar luar biasa seponganmu Dephut. Kamu memang perek berjilbab yang membuatku puas” pujinya sekaligus merendahkanku.
Surya : “kamu tenang saja, setelah ini giliranmu yang akan terpuaskan. Saya punya kejutan lain buatmu. Tunggu di sini” sambungnya. Dengan keadaan ngos-ngosan karena baru saja mengoral penis pak Surya dengan perlakuan kasarnya, aku hanya diam saja sambil mengatur napas menyikapi perkataannya. Kulihat dia pun hanya sibuk mengutak-atik handphonenya. Tapi tak sampai lima menit lamanya, pintu ruangan pak Surya tiba-tiba diketuk oleh seseorang.

Surya : “Silahkan masuk bapak-bapak” ucapnya
Aku : “Astaga siapa mereka. Apa ini juga termasuk rencana pak Surya terhadapku” tanyaku dalam hati ketika kaget melihat 4 orang laki-laki berperawakan tinggi besar masuk ke ruangan pak Surya. Mereka menyaksikan ketelanjanganku seperti hendak menerkamku.

Surya : “inilah kejutan untukmu Dephut, perkenalkan mereka adalah teman saya dan juga mitra bisnis yang pernah saya ceritakan ke kamu. Pak Togar, Dargo, Haris dan Sunyoto. Mereka sengaja datang ke sini untuk membantuku melatihmu menjadi slave yang patuh dan profesional. Nah bapak-bapak, wanita ini adalah honorer di sini, namanya Defi Wahyuni dan biasa dipanggil Dephut. Mulai hari ini, kalian juga bisa mencicipinya. Baru saya saja yang sudah merasakan perawannya. Jadi dijamin masih sempit dan memuaskan. Hahahahaha…” tawanya menjelaskan. Penjelasan singkat itupun selanjutnya direspon oleh ke empat teman pak Surya. Mereka mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Telanjang dihadapanku dan berdiri melingkar mengelilingiku. Dapat kulihat jelas penis mereka yang sudah berdiri tegak dan membuat perasaanku merinding. Sementara itu pak Surya juga tak mau ketinggalan.

Aku : “oh tuhan…apalagi yang harus kuhadapi sekarang” tuturku bergidik ngeri membayangkan nasibku selanjutnya.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part