Berbakti Pada Ayahku Part 3 END

0
3675

Nah sesampainya di kamarku, papa lalu menghampiriku, dan duduk di pinggir ranjang lantas papaku mencelupkan sedikit ujung kain lap yang dibawanya ke dalam gayung yang berisi air itu dan membasahinya, kemudian papa lalu meletakkan ujung kain lap yang basah itu tepat di atas belahan liang vaginaku yang masih merekah juga basah ini.

Papa lalu menyeka dan mengusapkan ujung kain lap yang basah itu ke sepanjang daging labia minora vaginaku yang berwarna merah jambu sambil tangan papa agak sedikit diputar saat tangan papa tepat menyentuh lubang pipisku ini, dan papaku lantas berkata kepadaku; “hmm…anak papa yang cantik ini agak kurang ajar iya…masa’ papanya sendiri dipipisin lho?”… Kalau begitu mama harus papa hukum sepanjang hari ini, demikian papa melanjutkan perkataannya.

Akupun lantas menjawab; “ma’afin ratna pa…ratna tadi benar-benar nggak tahan pa…sebab papa siech, buat ratna keenakan pa…, sampai ratna pipis pa…karena saking nikmatnya permainan lidah papa di vagina ratna ini pa…” Ratna bersedia papa hukum pa sepanjang hari ini, asalkan tolong hukuman buat mama ini jangan berat-berat iya pa, masa’ papa tega lho menghukum mama yang berat-berat pa, ujarku tegas namun sambil agak merajuk pada papa.

Papa lalu menjawab;”baiklah papa akan hukum kamu yang tidak terlalu berat nduk, putriku…” Memangnya papa akan menghukukumku apa lho pa, ujarku menyela perkataan papaku. Papa lalu melanjutkan perkataannya; “Nduk, sebagai hukuman karena kamu tadi sudah kencing di wajah papa ini, walaupun papa tahu kamu tidak sengaja terkencing di wajah papa, sebab kamu tak dapat menahan rangsangan yang papa berikan tadi,sebagai akibat dari lidah papa yang menjilati klitoris, dan dinding labia minoramu itu terus-menerus, nah seharian ini kamu tidak boleh memakai sehelai pakaianpun sayang, atau dengan kata lain kamu harus telanjang bugil seharian ini putriku sayang!” Bagaimana kamu bersediakah sayang? Akupun lantas menjawab; “Okay dech pa, ratna nggak keberatan koq pa, ratna dengan senang hati akan telanjang bugil seharian ini papaku sayang, papa meminta syarat apalagi lho pa dariku, putrimu yang paling cantik ini suamiku?” tanyaku pada papaku. Papa lantas menjawab; “Papa akan mengentotimu seharian ini Nduk, dan kita akan mandi bareng sayang, serta kamu harus memberikan servis yang paling hebat sayang, saat kita ngentot nanti ma!”

Apakah kamu sanggup sayangku? tanya papa kepadaku. “Iya pa, aku sanggup sayangku, papaku, suamiku, seharian ini aku akan memenuhi kebutuhan biologis papa sayang, pa entoti aku di setiap sudut rumah kita iya pa, agar aku lekas hamil anak kita sayang” ujarku mantap serta penuh pengharapan, sebab dirikupun kini telah dikuasai sepenuhnya oleh dewi cinta birahi, dan aku berharap dapat hamil, dan melahirkan anakku buah cintaku dengan papaku, yang mana itu juga adalah adikku ini.

Sesudah mendengar perkataanku ini papa lalu menggendong, dan membopong tubuhku ini ke kamar mandi, kemudian sesampainya di kamar mandi papa lalu mengambil sabun, dan memintaku untuk menungging sambil berpegangan pada bagian tepi bak mandi, lantas papa menyelipkan tangannya di antara kedua belah pahaku ini, lalu papa mulai menyabuni belahan vaginaku yang sudah merekah dan agak berlendir ini sambil jari tangan papaku sibuk mengobel-kobel dinding vaginaku yang telah basah juga lembab lagi becek ini sehingga membuatku mengerang serta merintih merasakan dinding vaginaku yang mencengkeram jari-jemari tangan papaku, dan akupun mulai meracau; “… uuuhh…eemmhh…ooowwhh…ssshh…pa…eenaakk pa, teruss pa tusukin yang dalam jari papa sambil kocok yang kencang pa dinding memekku ini pa, setelah itu papa entoti tempikku yang sudah gatal ini pa, minta disodok kontol papa sayang”.

Akupun berkata-kata vulgar disela-sela kunikmati kobelan jemari tangan papaku pada vaginaku yang liangnya sudah menganga lebar pertanda sudah siap dipenetrasi, juga dimasuki oleh penis papaku yang besar itu, sambil kupejamkan mataku ini. Papa lantas semakin mempercepat mengobel-kobel vaginaku ini sesaat setelah papa mendengar rintihanku tadi, dan akupun merasakan sudah hampir mencapai orgasme, sebab vaginaku ini semakin becek serta basah dengan cairan kewanitaanku yang semakin banyak kukeluarkan, dan semenit kemudian akhirnya akupun benar-benar mengalami orgasme…surrrr…surrrr..surr…surrr…surrr…saat jemari tangan papa menyentuh bulatan bola kecil di depan dinding vaginaku yang mengarah ke arah urethra(saluran kencingku) ini, yang mana daerah itu adalah daerah titik G-spot vaginaku ini.

Akupun lalu berteriak sekencang-kencangnya; “ooowwhhh pa…eemmmhhh pa…sshh…aaauuucchh…ooowwwhh…pa…enaakk pa…” saat jari telunjuk papaku disentuhkan pada bulatan bola kecil yang terletak di depan dinding vaginaku ini yang merupakan titik G-spot vaginaku sambil jari telunjuk papa terus mengocok, dan mengobel dinding vaginaku, sehingga membuatku makin merasakan keenakan.

Papa semakin cepat mengobel-kobel dinding vaginaku pada daerah titik G-spotku ini selama hampir 5 menit yang menyebabkan aku semakin kelojotan, dan merintih serta mengerang keenakkan; “…ooowwhh….eemmmh…aaauuucchh pa, Nana sudah nggak tahan pa, tempikku sudah lapar pa minta disodok kontol papa, ayo donk pa segera entoti memekku ini pakai kontol papa yang besar, tegang, dan keras itu pa”. Papa lalu menyela perkataanku itu; “iya Nduk, sebentar iya sayang, papa juga sudah ingin kontol papa ini menikmati jepitan dinding vaginamu sayang, kontol papa sudah ereksi dan berontak minta dimasukkan ke sarangnya sayang”. kata papaku sambil papa masih sibuk mengobel-kobel liang vaginaku dengan jari telunjuk tangan kanannya.

Setelah papa merasa puas mengobel-kobel vaginaku dengan jari-jemari tangannya, papa lalu memajukan pantatnya, dan menyelipkan kontolnya di belahan vaginaku ini sambil digesek-gesekkannya kontolnya di sepanjang liang vaginaku yang sudah merekah, serta menganga lebar sehingga akupun mendesah semakin kencang sambil kupejamkan mataku ini sembari kunikmati pergesekan antara kedua kelamin kami berdua, yang menyebabkan vaginaku semakin basah dan banjir dengan lendir cairan kewanitaanku serta menjadi amat sangat licin sehingga menyebabkan kontol papakupun terkadang kepala penisnya menerobos ke dalam lubang pembukaan vaginaku yang berbentuk setengah lingkaran seperti cincin.

Akupun semakin mendesah juga melenguh merasakan kenikmatan yang tiada taranya saat kepala penis papaku terjerumus semakin dalam ke dalam liang vaginaku ini, dan dapat kurasakan dinding vaginaku ini berdenyut-denyut mengatup membuka dan menutup menjepit serta meremas-remas kepala penis papaku itu. Papa tiba-tiba lalu kembali mengeluarkan penisnya yang tadi telah terjerumus, dan tercebur ke dalam liang vaginaku , kemudian papa menggesekkan kepala penisnya di daging labia minora(bibir dalam) vaginaku yang basah dengan lendir cairan kewanitaan, sambil sesekali disentuhkannya kepala penis papaku pada klitoris atau itil vaginaku yang telah menegang yang membuatku sedikit merasakan geli akibat dari pergesekan yang terjadi antara kepala penis papaku dengan seluruh bagian klitorisku ini(yang terdiri dari batang tubuh, dan kepala klitoris, telah diterangkan pada paragraf sebelumnya, redaksi)

Aku yang semakin tersiksa dengan perlakuan papaku itu, lalu dengan tangan kiriku, aku menggenggam batang penis papaku, dan kuletakkan tepat di celah lubang pembukaan vaginaku yang berbentuk setengah lingkaran yang telah basah, dan becek dengan lendir cairan kewanitaanku ini, kemudian setelah itu kudorongkan pantatku yang semok ini ke belakang, dan terdengar bunyi bless…bless…slebb.., sehingga penis papaku dalam sekejap telah memasuki vaginaku, dan berada di dalam diriku ini. Aku merasakan penis papa semakin membesar di dalam vaginaku ini, dengan posisiku yang sedang menungging, aku dapat merasakan otot-otot dinding vaginaku makin kencang nan kuat mencengkeram penis papaku, serta menjepit, dan memijat-mijat saraf-saraf di sepanjang penis papaku mulai dari kepala penis papa sampai dengan batang penisnya, lalu perlahan-lahan kugoyangkan pantatku ini agar otot-otot dinding vaginaku makin sering membuka, dan menutup serta merapat meremas-remas penis papaku ini.

Papa mencoba mengimbangi gerakan pantatku dengan memaju mundurkan pantatnya, dan mendorong ke depan juga ke belakang penisnya yang semakin membesar di dalam vaginaku serta menggesek, dan menyodok tiap jengkal demi jengkal rongga vaginaku yang semakin basah serta licin dengan lendir cairan kewanitaan, disertai dengan otot-otot dinding vaginaku yang terus-menerus menjepit, dan meremas-remas penis papaku ini.

Aku merasakan dengan posisi menungging ini atau dinamakan, dan diistilahkan “doggy style” semakin lebih dapat kurasakan setiap sodokan penis papa, dan dapat kuimbangi gerakan papa dengan kugoyang-goyakan pantatku yang membuat otot dinding vaginaku makin rapat mencengkeram penis papa yang tanpa ampun papa terus menyodokkan penisnya semakin dalam membelah, dan menusuk-nusuk di dalam rongga vaginaku ini juga menujah sangat dalam hingga mentok, dan membentur dinding rahimku ini.

Papa masih asyik terus memaju mundurkan pantatnya, dan mendorong ke depan serta ke belakang penisnya menggeseki, dan menusuk-nusuk otot-otot dinding vaginaku ini, sambil kedua tangan papa meremas-remas buah dadaku yang bergoyang-goyang seirama dengan setiap sodokan, dan tumbukan yang terjadi antara kedua kelamin kami sehingga menimbulkan bunyi brrtt,.brrtt…brrtt saat tumbukan yang terjadi antara kedua selangkangan kami semakin sering serta bertambah cepat juga kencang, disamping itu juga menimbulkan bunyi gemericik air di dalam vaginaku seiring dengan tusukan demi tusukan juga genjotan demi genjotan penis papa pada vaginaku yang membuatku semakin merasakan kenikmatan yang tiada taranya, sehingga kucoba untuk mengencangkan jepitan otot dinding vaginaku dengan agak kurapatkan kedua kakiku serta kugoyang-goyangkan pinggulku ini dengan sedikit cepat yang membuat penis papa masuk semakin dalam, dan kini telah menerobos mulut rahimku ini.

Saat aku masih merasakan penis papaku yang terasa memenuhi seluruh ruang, dan rongga di dalam vaginaku ini, tiba-tiba aku dikagetkan dengan timbulnya suara preett…prett…, seperti kentut dari vaginaku sebagai akibat dari gesekan demi gesekan penis papaku pada vaginaku yang semakin licin, nan becek dengan lendir kewanitaanku yang diproduksi oleh kelenjar sabacea di bagian dalam labia mayora(bibir luar atau bibir besar) vaginaku, maupun oleh kelenjar bartholin pada vulvaku, dan kelenjar skene’s yang terletak di dekat saluran kencingku, yang mana produksi lendir kewanitaanku semakin banyak, semakin lama aku berhubungan seksual dengan papaku, sebab hal ini berbanding lurus, semakin lama hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita dengan seorang laki-laki, maka produksi lendir kewanitaan semakin banyak, yang mana lendir ini berfungsi untuk melumasi vagina ketika berhubungan seksual agar tidak terasa sakit, dan mempermudah keluar masuknya penis pada vagina.

Aku terus menikmati sodokan demi sodokan batang penis papaku pada vaginaku, kurasakan otot-otot dinding vaginaku semakin erat mencengkeram penis papaku, yang semakin menimbulkan bunyi prett…prett…seiring dengan tumbukan demi tumbukan, juga benturan demi benturan antara selangkangan papa dengan pantatku ini. Papa terus menggenjot penisnya, dan memaju mundurkan sodokan penisnya pada vaginaku, sehingga vaginaku mengeluarkan bunyi crrk…crkk…crkk…seperti suara kecipak air, seiring dengan semakin meningkatnya produksi lendir kewanitaanku ini, yang menyebabkan vaginaku benar-benar banjir dengan cairan kewanitaanku yang telah merembes, dan menetes hingga bagian dalam pahaku.

Papaku tak hanya menggenjot, dan menyodokkan penisnya pada vaginaku ini dengan tempo sedang, bahkan kadang disertai juga dengan jari-jemari papa yang memilin-milin klitorisku yang telah menegang yang sebesar biji ini, yang membuatku semakin merasakan kenikmatan yang tiada tara, dan kurasakan hangat yang luar biasa seperti dialiri oleh listrik ribuan volt, sambil kupejamkan mataku menikmati perlakuan papa pada vaginaku ini, lalu kukatakan; “oowwhh…eemmhh…sshh…hhaaahh…uuucchh…pa…eenaakk pa…teruss pa…aauucchh…nikmat banget pa…ooowwhh…pilin-pilin terus itil memek ku ini pa…eemmhh pa…geli rasanya, tapi enakk banget pa…”.

Dapat kurasakan otot-otot dinding vaginaku semakin berkontraksi membuka, dan menutup mencengkeram serta meremas penis papaku semakin kuat, dan tangan papapun tak tinggal diam begitu saja, sembari kontol papa terus keluar-masuk menusuk-nusuk, dan mengocok serta mengaduk-aduk otot-otot dinding bagian dalam memek ku, tangan papa juga terus memilin-milin klitorisku ini, yang menyebabkan aku semakin terbuai, dan terbang ke awang-awang merasakan kenikmatan yang tiada taranya ini.

Aku tak mau kalah dengan apa yang dilakukan oleh papaku ini, aku terus menggoyangkan pantatku dengan tempo yang tidak terlalu cepat, namun juga tidak terlalu pelan, sehingga aku dapat menikmati setiap tusukan demi tusukan penis papaku yang terus-menerus menusuk, juga menujah setiap jengkal otot-otot dinding vaginaku ini, dan kurasakan pula kontol papaku semakin lama semakin membesar di dalam rongga kewanitaanku ini, yang membuat aku semakin kelojotan, sebab papaku jadi semakin leluasa dalam mengeksplorasi titik G-spot ku di dalam vaginaku, dan semakin lama pergesekan antara otot-otot dinding dalam vaginaku dengan penis papaku itu semakin sering yang sesekalipun papa sengaja menyentuhkan kepala penisnya dengan klitorisku ini.

Sehingga hal ini menyebabkan aku semakin melenguh, serta mendesah juga menceracau mengeluarkan kata-kata jorok nan vulgar untuk mengungkapkan apa yang tengah kurasakan saat itu: “oowwhh…pa, sshh…mmhh…pa, kontol papa semakin hari koq semakin bertambah besar lho pa, uucchh…sakit pa…eemmhh…pa, vaginaku penuh, dan sesak rasanya dengan kontol papa…hhhuuffhh…pa…

Tak terasa sudah hampir satu jam persetubuhanku dengan papaku, saat masih kunikmati sodokan demi sodokan kontol papaku di dalam vaginaku ini, aku menyempatkan untuk melirik jam dinding yang berada di seberang ranjang tempat persenggamaanku dengan papaku, dan jam dinding telah menunjukkan pukul 09.00
w.i.b, yang berarti sudah hampir 1 jam lewat 15 menit persenggamaan yang kami berdua lakukan.

Kurasakan sekujur tubuhku sudah mulai lelah, namun rasa nikmat yang menjalari rongga-rongga di bagian dalam vaginaku yang terus menjepit, dan meremas-remas penis papaku yang ukurannya terbilang lumayan besar sehingga rongga di dalam vaginaku ini terasa penuh terisi oleh kontolnya, serta menyebabkan setiap pergesekan yang terjadi di sepanjang batang penis papaku dengan dinding-dinding bagian dalam vaginaku kurasakan sangat nikmat yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata, apalagi saat papaku menyodokkan penisnya semakin dalam yang mampu menerobos masuk ke dalam rahimku ini, dan membuatku semakin kelojotan rasanya.

Aku memang merasakan sedikit rasa sakit di vaginaku ini akibat besarnya ukuran kontol papaku, akan tetapi di dalam hatiku berbisik, dan mengatakan bahwa kontol papaku memang tercipta untuk memek ku ini, sebab terasa pas, dan mengganjal seluruh rongga di dalam vaginaku ini.

Sehingga saat itu kuputuskan sejak hari ini, dan seterusnya aku dengan sukarela menggantikan tugas mamaku untuk memenuhi kebutuhan biologis papaku, manakala mamaku sedang berhalangan, ataupun saat mamaku tugas ke luar kota, walaupun terkadang kami tetap melakukan persetubuhan secara sembunyi-sembunyi manakala mamaku sedang mengajar di kampus.

Beberapa saat kemudian kurasakan bahwa aku sudah hampir mengalami klimaks, yang ditandai dengan berkedutnya otot-otot dinding vaginaku ini, namun ternyata tidak demikian dengan yang dirasakan oleh papaku. Kurasakan penis papaku masih sangat keras, dan tegang. Hal ini membuat aku merasakan sensasi yang teramat sangat nikmat, akibat dari tusukan penis papaku yang makin dalam hingga memasuki leher rahimku, dan tembus hingga ujung kepala penis papa benar-benar telah berada di dalam kandunganku ini
sehingga mau tidak mau, kembali kugoyangkan pinggulku ini agar papaku segera mencapai klimaksnya, sekalipun aku telah merasa lelah, namun tidak demikian dengan dinding rongga bagian dalam vaginaku yang masih terus meremas batang penis papa, yang tentu saja hal ini menimbulkan suatu kenikmatan tersendiri bagiku, dan bunyi plok…plok…plok…akibat tumbukan antara selangkangan kami berdua yang semakin sering terjadi, juga suara cpplakk…cpllakk…seperti suara gemericik air setiap kali penis papaku dimaju mundurkannya, ditarik sedikit kemudian dibenamakan kembali dengan lebih dalam, yang membuatku semakin kelojotan.

Tamat cuukkk.. Tamat..

Halaman Utama : Berbakti Pada Ayahku

END – Berbakti Pada Ayahku Part 03 | Berbakti Pada Ayahku Part 03 – END

Sebelumnya ( Part 2 ) | ( MainPage) Selanjutnya