Antar Mama ke Dokter Part 6

0
5316

Kulihat arloji, sudah jam setengah empat. Aku masih di kampus. Selesai kuliah aku mesti ke klinik dokter tari. Aku lantas naik angkot.

Pagi tadi sebelum kerja mama bilang mau pulang lebih awal. Mama lantas menyuruhu ketemuan sama mama di klinik. Tentu saja setelah mama mendapatkan sampel dari sesi pagiku. Ternyata mama benar – benar memakai gelas ukur lagi. Kecewa hatiku.

Di angkot, aku penasaran akan apa yang akan diucapkan dokter. Meski sedikit, namun rasa sakit ini masih ada. Meski akan hilang setelah keluar beberapa kali, tetap saja aku khawatir.

Kuingat kunjungan pertama, cara dokter melihat kontolku lantas menjilat bibirnya. Aku juga ingat mama melakukan hal yang sama, beberapa kali sebelum mama mulai ngocok kontolku. Aku jadi mengkhayalkan kontolku di mulut dokter Tari. Segera kusingkirkan khayalan bodohku ini. Tentu dokter takkan melakukan itu, apalagi ada mama.

Setelah sampai aku turun. Aku masuk lantas mendekati meja resepsionis. Di meja ada suster kira – kira berumur tiga puluhan. Wajahnya menarik, pikirku.

“Selamat sore, saya yusup. Ada janji temu sama dokter Tari.”

Suster tersebut lantas melihat buku. Aku bermaksud melihat buku juga, namun kulihat belahan dadanya dari celah leher pakaiannya, karena aku berdiri dan suster itu duduk.

“Oh, silakan duduk menunggu. Ibu Anda juga sudah menunggu.”

Aku berjalan ke ruang tunggu. Di sana sudah terdapat mama sedang duduk membaca majalah. Di meja memang banyak terdapat majalah. Namun anehnya, setelah kuperhatikan ternyata tidak ada satupun stensilan di sana. Mungkin merasa ada orang datang, mama menoleh. Mama tersenyum saat melihatku datang. Kebetulan klinik sepi. Aku duduk di samping mama. Mama mencium pipiku.

Dari tempat kami duduk, kulihat meja resepsionis. Suster tadi tersenyum padaku. Aku tak ingat melihat dia di kunjungan perdanaku.

Mama lantas bicara dengan nada rendah, “ingat, jangan bilang apa pun yang bisa mencelakakan kita. Biar mama aja yang ngomong.”

“Iya mah, iya.”

Beberapa saat kemudian telepon di meja resepsionis berbunyi. Suster mengangkatnya. Setelah itu suster menyilakan kami masuk. Aku dan mama bangkit lantas masuk ke ruang dokter.

“Ah, selamat datang kembali,” kata dokter lantas tersenyum. Dokter berdiri dari belakang mejanya lalu menyalami kami. Setelah itu dokter menyilakan kami duduk. Aku dan mama pun duduk.

Dokter Tari mungkin lima puluhan usianya. Tubuhnya pendek gendut. Rambutnya sudah mulai beruban. Berkata maca. Kuperhatikan wajahnya masih terlihat menarik.

Setelah kami duduk, dokter menatap mama, lalu menatapku. Masih sambil tersenyum, “bagaimana kabarnya?”

“Baik – baik saja dok,” jawab mama. “Saya telah eh bantu anak saya untuk mengukur sampel seperti yang dokter anjurkan.” Mama lantas mengeluarkan catatan dari tasnya. Catatan tersebut mama serahkan ke dokter.

“Bagus,” kata dokter. Dokter lantas mengambil kertas dan meletakan di meja tanpa melihatnya. “Saya senang anda membantu anak anda. Meski mungkin agak kesulitan juga.”

Dokter lalu menatapku, “gimana sekarang nak, apa masih sakit?”

Aku berdehem sebentar, “iya bu. Tapi agak berkurang kalau eh anu masturbasi. Eh maksud saya kalau eh keluar.”

“Baiklah,” dokter masih tersenyum padaku. “Ibu senang kamu memperoleh bantuan.” Dokter meraih sesuatu dari laci meja, “ini saya sudah dapat hasil tes darahnya.” Dokter menyimpan catatan dari laci di meja. Lantas mengambil catatan dari mama, “sekarang saya analisa dulu hasil tesnya.” Dokter lantas mencermati hasil catatan mama.

“Bisa ibu lihat kamu memproduksi cukup banyak seperma. Namun jumlah rata – rata per harinya beda – beda tipis.” Dokter berhenti bicara. “Catatannya menunjukan kewajaran.” Kini dokter menatap mama. “Terimakasih sudah melakukan pengukuran. Semoga tak terlalu sulit melakukannya.”

Aku seperti mendengar nada malu di suara mama, “eh, tidak dok. Lagian seorang ibu kan udah pengalaman kalau membantu anaknya. Dokter pasti paham.”

“Iya bu. Anak anda beruntung memiliki ibu seperti anda.”

Mama terlihat seperti gelisah, namun tetap tersenyum.

Kini dokter menatapku. “Kamu mesti bersyukur memiliki mama yang baik.”

“Iya bu.”

“Jadi kenapa dengan anak saya dok?” mama menyela.

“Hasil tes darahnya tidak mengecewakan. Namun saya sarankan untuk,” dokter berhenti sesaat. “melakukan terapi yang mungkin sedikit tidak biasa.”

Aku menatap mama yang sedang terlihat khawatir. Rupanya dokter pun menyadarinya.

“Maaf, saya tak bermaksud membuat ibu khawatir. Biar saya selesaika bicara dulu.”

“Jadi kenapa dengan anak saya dokter?”

Dokter berdiri dari kursinya, seolah ingin terlihat lebih serius. “Berdasar hasil pengujian darah, anak anda memiliki kelainan yang langka. Nama medisnya, ah biar saya katakan dengan bahasa awam. Untuk meyakinkan, saya kirim hasil tes darah ke Jakarta. Ternyata sesuai dengan hasil awal.

Kini dokter menatapku. “Setiap orang, baik wanita maupun pria, memiliki bakteri di sekitar kemaluannya. Bakteri ini, merupakan termasuk sistem imun, atau merupakan pelindung tubuh. Ketidakseimbangan jumlah bakteri ini, pada pria, bakal menyebabkan rasa sakit yang cukup mengganggu. Inilah yang terjadi pada Yusup, bakteri berlebih.

“Kabar baiknya, rasa sakit ini bisa dihilangkan. Biasanya setiap remaja akan sembuh setelah orgasme. Namun khusus untuk Yusup…”

“Kalau saya mampu, saya anjurkan anak saya terapi dok, asal sembuh,” kata mama kembali menyela.

Dokter berhenti sejenak. Lantas menatap mama.

“Apa tidak sebaiknya kita bicarakan ini berdua dahulu?”

“Tidak apa – apa dok. Biar anak saya mendengar langsung. Lagian dia juga sudah dewasa.”

Entah kenapa aku senang mendengar jawaban mama.

“Baiklah,” dokter mulai lagi. “Biasanya kejadian seperti ini terjadi kepada pria usia lima atau enam puluhan. Karena sudah bau tanah, kami selalu menganjurkan mengkonsumi pil. Seminggu sekali sampai game over. Namun, karena sekarang menimpa remaja, ada cara alami untuk menstabilkan bakterinya. Caranya ialah melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Karena bakteri di vagina membantu menyeimbangkan bakteri di penis.”

Mama dan aku mendengarkan dalam diam. Kata – kata terakhir dokter membuat kontolku bergerak, sebentar.

“Jelasnya,” dokter melanjutkan. “Hubungan seksual yang terjadi harus tanpa kondom. Karena jika memakain kondom akan menghalangi bercampurnya bakteri.” Dokter kembali berhenti bicara, lantas menatapku. “Apa kamu sudah punya pacar?”

“Eh, tidak. Belum dok.”

“Hm… tidak terduga. Inilah yang bakal menyebankan terapi menjadi tidak biasa.” Dokter kembali berhenti bicara. “Untuk kasus Yusup, sebaiknya melakukan hubungan seksual setiap hari selama dua atau tiga bulan agar sembuh. Tapi karena belum mempunyai pacar, bisa jadi merupakan masalah baru.”

Aku menatap mama. Jelas mama takkan mengatakan bahwa aku dan mama telah ngentot.

Dokter memandang mama, “seperti yang ibu ketahui, saya adalah spesialis kulit dan kelamin. Selain itu, juga membuka terapi seksual. Biasanya saya mengobati orang yang kecanduan. Misalnya kecanduan konten – konten pornografi.”

“Saya mengerti,” kata mama, namun jelas mama terdengar bingung.

“Maksud saya adalah, karena yusup belum memiliki pasangan,” dokter berhenti sesaat. “Mendaftar terapi di sini merupakan salah satu solusi, semoga ibu paham.”

Kulihat mama seperti memerah wajahnya, keringatnya bercucuran begitu menyadari kata – kata sakti dokter Tari. Kurasa aku juga agak malu mendengarnya. Mama diam. Hanya kontolku yang bergerak.

Dokter kembali bicara, “di sini kami memegang teguh kerahasiaan pasien yang terapi. Apabila ibu keberatan, atau Yusup telah mendapat pasangant, silakan untuk menghentikat terapi Yusup. Namun apabila Ibu kebingungan, silakan mendaftarkan terapi untuk Yusup,” dokter tersenyum mengakhiri kata – katanya

Mama kembali bicara, “eh, saya paham maksud dokter. Tapi harus saya pikirkan dahulu.” Jelas mama tak bisa ngomong kalau aku tinggal ngentot mama.

“Apabila ragu, ada alternatif lain,” dokter kembali bicara. “Kami juga menerima pasien wanita yang memiliki masalah tertentu, misalnya karena suaminya tidak bisa lagi berhubungan seksual. Terapi kami salahsatunya memberikan terapi seksual satu atau dua minggu untuk mengatasi kebutuhannya.” Yang kudengar kini bukan lagi kata – kata dokter, melainkan kata – kata sales yang sedang mempengaruhi mama.

“Kami juga memiliki pasien remaja, agak tua sedikit dibanding Yusup, yang memiliki masalah seperti, minder terhadap wanita, atau kurang dalam pengetahuan seksual. Dengan izin yang saya miliki, juga dengan izin pasien yang bersangkutan, saya selalu menghubungkan wanita yang sudah saya jelaskan dengan remaja pria yang juga sudah saya jelaskan.”

Dokter berhenti sejenak, menjilati bibirnya, lalu bicara lagi. “Di awal terapi, kami tes agar tak ada yang memiliki penyakit menular seksual. Jadi diantara pasien yang terapi, terdapat hubungan saling menguntungkan.”

Kini dokter menatap mama. “Andai ibu kesulitan mencari pasangan untuk Yusup, klinik kami siap membantu dengan memasangkan dengan pasien wanita.”

Aku tak percaya dokter menyarankanku ngentot dengan wanita setengah baya. Rasanya mama bakalan marah, minimal malu. Kulihat mama, aneh, mama terlihat tenang.

“Saya paham bu,” kata mama. “Saya menghargai keterus terangan anda tentang proses terapi yang mesti dilakukan anak saya. Untuk solusi alternatifnya, saya harus pikirkan dulu. Setidaknya saya kini tahu apa yang terjadi dengan anak saya,” mama berhenti lantas menatapku. “Dan kita mungkin bisa membantunya.” Mama terdengar tenang. Tidak seperti sebelumnya.

Aku agak kaget dengan reaksi mama. Kontolku mendadak bangkit. Kutaruh tangan diselangkangan untuk menutupinya.

“Baiklah,” dokter tersenyum. “Saya senang kita saling memahami.” Kini dokter menatapku, “Ibu harap kamu merasa nyaman dengan terapi ini. Dan gak perlu malu,” sekilas kulihat kilatan aneh di matanya, yang membuat lidahku gugup tak bergerak.

Sebaiknya aku pasrah saja. “Eh, iya dok. Saya sih siap asal sembuh.” Mendadak ingin kutambahkan sedikit bumbu pada percakapan kali ini. “Sangat senang saat mama membantu. Apalagi kalau ada wanita lain yang mau ikut membantu.”

“Bagus,” kini dokter menatap mama. “Jadi semuanya tinggal ibu yang memutuskan.”

“Iya dok, makasih atas penjelasannya.”

“Terakhir, kita perlu sampel sperma yang masih segar dari Yusup untuk diperiksa. Begitu terapi dimulai, saya perlu sampel segar dua kali seminggu. Kini sudah tak perlu lagi mengukur sampel tiap hari. Siap?”

Aku lega tak lagi perlu memakai gelas ukur. Namun aku masih bingung akan kata – kata dokter, “maksud dokter, dokter harus ambil sampel sperma segar sekarang?” tanyaku.

“Tentu. Dokter harap kamu tak keberatan dokter ambil sampelnya. Bagaimana?”

“Eh, ya… Iya.” Kebetulan testisku kembali sakit, meski pagi tadi sudah satu sesi.

“Baik, mohon tunggu sebentar.”

Dokter meraih telepon, memijit tombol dan berkata. “Tia, pasien hari ini sudah cukup. Klinik tutup saja. Kamu boleh pulang sekarang.”

Ternyata suster jaga tadi namanya Tia. Dokter lantas menutup telepon. Dokter berdiri lalu menatapku, “mari ikuti ibu.”

Kuikuti langkah dokter ke agak dalam ruangannya. Ternyata terdapat pintu yang agak tersembunyi. Kami masuk lantat pintu dikunci oleh dokter. “Inilah tempat terapi seksual klinik kami. Sengaja dikunci untuk menjaga privasi.”

Kuperhatikan ruangannya terasa nyaman. Jauh dari kesan kamar sebuah klinik. Ada sofa kulit, satu panjang satu pendek. Di sudut terdapat meja. Di tengah ruangan ada kasur periksa. Juga ada pintu lain selain pintu tempat kami masuk.

Dokter menatap mama, “Sengaja saya bawa ibu ke sini karena mungkin ibu dibutuhkan untuk membantu mendapat sampel dari Yusup, seperti yang telah dilakukan di rumah. Apabila anda keberatan dengan cara pengambilan, silakan katakan agar tidak ada salah paham. Apa anda berdua setuju?”

“Saya rasa iya,” kata mama. Namun kurasa mama sedikit malu. Sedang aku hanya menangguk.

Dokter menunjuk pintu lain, “itu kamar mandinya. Silakan Yusup lepas pakaian di sana dan bersihkan badan. Silakan gunakan handuk yang ada di sana.”

Aku mengangguk lagi dan berjalan ke pintu kamar mandi.

Dokter menawari mama duduk dan minuman. “Yusup mau minum dulu?”

“Boleh.”

Aku ke kamar mandi dan menutup pintu. Aku tak percaya apa yang akan terjadi terjadilah. Di kamar mandi ini terdapat shower dan bathtub. Lumayan juga. Ada juga handuk dengan beberapa varian warna. Kulepas celanaku dan kucuci kontol hingga bersih. Kukeringkan lalu kupakai handuk. Aku kembali ke ruang terapi dimana mama dan dokter telah menunggu.

“Bagus,” kata dokter saat melihatku datang. Aku minum air yang dokter beri. “Silakan berbaring di sofa.”

Aku menurut. Kontolku kini lemas tak berdaya. Aku berbaring di sofa dengan hanya memakai kaos dan handuk. Lantas mama dan dokter datang. Dokter datang memegang gelas ukur.

“Coba santai ya, anggap aja di rumah. Dokter sudah minta bantuan ibu agar mengambil sampel seperi biasa di rumah.” Kini dokter menatap mama, “silakan bu. Sepertinya tinggal bantu masturbasi dan keluarkan ke gelas.”

“Eh, iya benar,” kata mama.

Mama berdiri di sebelahku, dokter juga berdiri di sebelah yang lain. Mama menarik handuk hingga aku telanjang dari perut ke bawah. Kusadari dokter memperhatikan kontolku dengan seksama. Mama mulai mengocok kontolku. Namun kontolku tetap lemas.

Aku lantas berkata, “mungkin karena suasananya baru jadi susah bangun.”

“Maaf bu, apa anda memberi rangsangan padanya? Contohnya membiarkannya menyentuh anda?”

Mama ragu – ragu. Aku bisa merasakan mama ragu untuk memberi tahu dokter seberapa jauh langkah yang telah mama ambil.

“Iya, kadang – kadang saya lakukan. Saya biarkan anak saya menyentuh pantat saya. Kadang juga payudara saya. Agar bisa cepat keluar.”

“Kalau begitu silakan lakukan apa yang biasa anda lakukan,” dokter terdengar bersemangat.

Mama mendekatkan pantat ke tanganku. Tanganku mulai membelai pantat yang masih terbungkus rok. Namun kontolku tetap belum bangun.

“Sepertinya memang butuh rangsangan lagi,” kata dokter setelah melihat beberapa menit. “Apa ibu biarkan yusup melihat sebagian tubuh ibu tanpa pakaian?”

Aku tahu mama berusaha untuk menutupi kenyataan sekuatnya, “ya, karena dokter telah begitu terbuka dan jujur pada kami. Saya bisa katakan iya. Kadang, saya biarkan Yusup melihat payudara dan pantat saya. Namun saya tetap memakai celana dalam untuk menutupi selangkangan saya,” tambah mama, bohong. Jelas mama terdengar tak nyaman.

“Kalau begitu saya sarankan agar ibu melepas baju dan rok ibu agar Yusup cepat keluar,” suara dokter terdengar bersimpati.

Mama menghentikan kocokannya lalu mulai melepas kancing blusnya. Setelah itu mama melepas sleting dan membiarkan roknya jatuh. Mama memakai cd putih biasa yang menutupi sebagian besar pantatnya. Mama lantas mengambil rok dan meletakan di sofa dengan bajunya.

Kini mama hanya memakai bh hitam dan cd putih. Mama langsung menatapku, tak menatap dokter. Mungkin tak mau. Mama lantas menyatukan bahan belakang cd dan menyelipkannya ke belahan pantat hingga membuat sebagian besar pantat mama terlihat. Mama kembali membelai kontolku.

“Semoga kali ini rangsangannya cukup,” kata dokter.

“Ya, yusup bilang katanya suka pantat saya,” aku terkejut mama memberitahu kesukaanku.

“Wajar,” dokter tersenyum padaku.

Aku mulai membelai pantat mama, namun dokter masih melihat kontolku belum juga bangun. Kurasa dokter mulai menyadari ketidaknyamananku.

“Sepertinya kita perlu sesuatu agar Yusup bisa keluar. Kamu boleh menyentuh pantat ibu selama terapi ini,” lantas dokter menatap mama, “tentu kalau ibumu setuju.”

“Eh … iya boleh,” jawab mama.

Dokter melepas jas putihnya. Kini nampak dokter memakai blus warna krem dan rok gelap selutut. Dokter lantas mendekati sisi kananku. Aku mengelus pantat dokter, lebih bulat dibanding pantat mama.

“Tidak perlu malu, silakan remas saja sementara biar ibumu lakukan tugasnya,” kata dokter.

Aku tak percaya ini terjadi. Tangan kiriku meremas pantat mama. Tangan kananku meremas pantat dokter. Kontolku mulai bergerak – gerak. Dokter mulai meletakan gelas ukur di sofa, agar mudah diraih mama.

“Kalau boleh, saya mau lepas bh, agar yusup bisa melihatnya. Biasanya sih berhasil kalau di rumah,” kata – kata mama mengejutkanku, lagi.

“Saya senang anda bisa rileks, silakan saja,” memang dokter terlihat senang.

Mama melepas bh dan meletakan di sofa. Susunya yang besar menggoda mulutku.

“Payudara ibu masih bagus,” kata dokter.

“Terimakasih.”

Secara tidak sadar mama mendekatkan dada ke wajahku membuat susunya mengenai wajahku dan langsung kuhisap pentilnya. Kurasa mama tak merencanakannya, sudah terbiasa mungkin. Namun aku dan dokter melihat dan menyadarinya, “saya lihat anda membiarkan yusup menghisapnya juga. Bagus juga rangsangannya, coba lihat.”

Dokter menunjuk kontolku yang mulai keras, sementara mulutku menikmati kenyalnya susu mama. “Penis yusup ereksi dengan wajar. Sebaiknya kita gunakan kata – kata yang umum agar dapat merangsangnya, agar kontolnya cepat keluar.”

Dokter menatapku sambil menjilat bibirnya. Sepertinya dokter ingin menyentuhku, “boleh saya sarankan sesuatu?”

“Silakan,” jawab mama.

“Sebaiknya ibu berdiri dan biarkan yusup menyusu. Dan untuk pengambilan sampel biar saya yang lakukan,” kata dokter.

“Setuju. Gimana nak, kamu setuju?”

Aku mengangguk. Kini aku merasa lebih santai, meski tidak sedang di pantai. Dokter kini ke kiriku, sementara mama ke kananku. Aku kembali nyusu sambil meremas susu dan pantat mama.

Dokter mulai mengocok kontolku. Cara dokter ngocok jelas lebih nikmat dibanding cara mama. Kontolku sudah tegang, namun anehnya aku belum merasa mau keluar.

“Boleh saya sentuh pantat dokter lagi?” kataku mencoba peruntungan.

Tanpa berkata – kata, dokter memindahkan pantat ke dekat dadaku dan langsung kuraba dan kuremas.

“Silakan nikmati agar cepat keluar,” kata dokter sambil terus ngocok.

Ingin kontolku diisep namun aku belum berani bicara. Mamalah yang akhirnya bicara, mengejutkanku, “coba saya pakai payudara saya dulu. Seperti yang pernah kami coba.”

Mama mulai berada di selangkanganku. Dokter melepas kontolku dari genggamannya. Mama memegang susu dan mulai mengocok kontol dengan susunya.

Kulihat dokter sangat menikmati, “saya senang ibu begitu bebas membantu anak ibu,” kata dokter.

Melihat mama yang berani di hadapa orang lain membuatku terangsang. “Sepertinya bakal keluar kalau terus diginiin,” kataku mencoba berani.

Mendengarnya malah membuat mama lebih bersemangat. Sesaat kemudian mama berhenti dan membiarkan dokter mengambil alih. Tangan dokter meraih gelas dan tangan lainnya ngocok kontolku. Dalam waktu singkat aku pun keluar.

“Ahhhhh..AHH … OOOOOHHH,” aku berteriak saat aku keluar, pinggulku menyentak ke atas beberapa kali.

Dokter terus memompa kontol hingga tiada sperma yang tersisa. Aku memejamkan mata menikmati sisa orgasmeku. Tangan dokter masih di kontol. Saat kubuka mata, mama masih berdiri tanpa pakaian.

Nikmat sekali keluar di klinik.

“Sekarang sudah mendingan kan,” kata dokter. Kubuka mataku. “Dokter lihat kamu juga memproduksi cukup banyak.”

Kulihat gelas, lantas kulihat mama yang berdiri di samping dokter, masih memakai cd. Aku benar – benar tak percaya, tapi ini terjadi. Aku hanya mengangguk, tak mampu berkata – kata. Sepertinya mama tersadar masih telanjang. “Maaf, saya akan memakai baju lagi,” lantas mama kembali berpakaian.

Melihat mama makai baju sungguh sangat seksi. “Kamu juga pakai baju,” dokter menatapku. “Setelah siap silakan kembali ke depan.”

Aku bangun, membersihkan diri di kamar mandi lantas memakai pakaian. Keluar dari kamar mandi, ternyata sudah kosong. Sepertinya mama dan dokter telah kembali ke depan. Kubuka pintu dan menuju ke sana.

Dokter sedang duduk di belakang mejanya. Mama pun duduk. Dokter tersenyum padaku saat aku duduk di samping mama.

“Saya senang kita mendapat sampel hari ini. Saya juga senang anda berdua merasa nyaman saat pengambilan sampel.” Kini dokter menatap mama, “Saya senang dengan cara ibu membantu anak ibu.”

Mungkin maksud dokter soal mama lepas busana serta memainkan kontolku dengan susunya.

“Saya mengerti apa yang ibu lakukan, meski kebanyakan orang takkan memahaminya.”

Kulihat mama memerah seperti malu, namun langsung tenang kembali.

“Kini,” dokter melanjutkan, “saya sarankan agar kita masuk ke tahap lanjut terapi ini, meski saya akui cukup sulit. Saya akan beri tiga kontak yang bisa ibu hubungi untuk membantu terapi Yusup. Namun,” dokter menatap mama, “jika ibu ingin melakukan terapi sendiri untuk anak ibu, silakan beri tahu saya.”

Apa yang kudengar sungguh luar biasa, dokter benar – benar bermaksud membantu mama dan aku berhubungan seksual. Mama dan aku mendengarkan tanpa bicara, namun setelah dokter selesai bicara, mama angkat bicara.

“Biar saya pikirkan dahulu. Akan saya beri tahu keputusannya nanti. Karena bagaimana pun apa yang anda sarankan sangat tidak biasa. Terimakasih atas tawaran bantuannya.”

Dokter tersenyum lantas menulis sesuatu di kertas. Jangan – jangan menulis kontak para wanita yang bisa kuajak terapi seksual. Wow. Beberapa saat kemudian, dokter selesai menulis, melipatnya dan memasukan ke amplop yang diambil dari lacinya.

Sudah saya tulis kontak yang saya sebut tadi, beserta informasi tambahan agar jadi bahan pertimbangan. Bisa anda hubungi, namun sebaiknya atur janji temu dulu sebelum bertemu. Semuanya adalah pasien saya, sehingga saya bisa menjamin semua.”

Dokter berhenti sejenak, “namun mesti saya ingatkan, salahsatu kelemahan pasien saya yang ditulis ini adalah semuanya memiliki keinginan seks berlebih. Semoga ibu mengerti artinya.”

Aku hanya mengangguk.

“Silakan kembali lagi minggu depan. Namun jika ibu memerlukan saya untuk membantu terapi, silakan datang lebih awal. Kini tak perlu mengambil sampel lagi di rumah, cukup minggu depan di sini.”

Aku dan mama lantas berdiri dan menjabat tangan dokter. Kami pamit, mama diberi amplop oleh dokter.

Akhirnya selesai juga pengambilan sampel di rumah, seperti anjuran dokter.

BERSAMBUNG.