Antar Mama ke Dokter Part 4

0
6399

Aku males naik jadi kuambil tisu, kubasahi dan kubersihkan diriku di dapur. Setelah bersih, kupakai kembali boxer dan sporthemku. Aku kembali duduk menunggu mama. Apakah yang akan mama pakai. Aku masih terbuai dengan rencana mama memberi rangsangan nonstop selama akhir pekan ini. Ditambah memakai pakaian merangsang. Aku bahkan belum pernah melihat mama memakai pakaian lain selain pakaian biasa. Tapi tentu aku takkan protes. Benar – benar impian yang jadi kenyataan. Aku jadi penasaran dengan tubuhku, hari ini aku sudah empat kali keluar. Mungkin mama benar, aku mesti mencoba terus hingga tahu batasku. Tentu saja untuk diteliti oleh dokter Tari. Aku juga penasaran sejauh mama langkah mama membiarkanku menyentuhnya. Namun sebelum berpikir lebih jauh, aku dengar mama menuruni tangga. Dari tempatku duduk di dapur, aku tak bisa melihat langsung ke tangga, jadi aku baru bisa melihat mama saat memasuki dapur. Mulutku mengangan. Tanpa melihatku, mama berjalan santai ke dapur. Menuju aku. Kukedipkan mataku, takjub. Mesti kuingatkan, sebelum ini mama selalu berpakaian wajar, bahkan terbilang kuno. Meski tak bisa menutupi susunya yang besar. Karena tubuhnya yang gendut, mama juga selalu berusaha memakai pakaian yang takkan membuatnya terlihat gendut. Kini mama memakai legging, yang dipotong hingga sebatas dengan selangkangan, jadi mirip hotpants.

“Mama tau kamu suka liatin pantat mama nak,” kata mama tegas. “Jadi biar mama puaskan matamu itu.”Aku menelan ludah.”Ini … eh … benar-benar … eh … mama sangat seksi,” kataku, ragu-ragu, tak yakin dengan apa yang kukata.

Atasnya mama memakai tanktop. Belahan lehernya seperti digunting oleh mama hingga lebih rendah lagi membuat susu bagian atasnya terlihat olehku. Pentilnya terlihat mencetak. Berarti mama tak memakai bh.

Mama lalu menatapku, “mama gak bake bh atau cd lho. Mama mau masak dulu buat malem. Duduk saja. Tapi kalau kamu terangsang terus udah mau keluar, tinggal bilang saja ke mama biar kita ambil sampel lagi.””Eh, .. ok ma,” kataku.

Mama membuka kulkas lantas menunduk untuk mengambil sesuatu. Pantatnya mencuat ke arahku. “Sambil mama masak,” mama berdiri lagi lalu menuju meja. “Mama ingin tau hal – hal yang bisa merangsangmu. Kali aja bisa sekalian merangsangmu dengan membicarakannya.

Aku menelan ludah lagi. Mama mulai memotong sesuatu dengan pisau. “Mama tahu kamu suka liat pantat mama. Tapi selain itu, kamu suka apa lagi?”

“Eh…”

“Katakanlah… katakan sejujurnya!”

“Pantat mama besar banget. Yusup suka.”“Terus?”“Apalagi pantat mama menggelantung gitu.”

“Mama kira lelaki sukanya yang singset, kencang gak menggelantung.”Aku merasa agak percaya diri, “yah, mungkin ada yang suka seperti itu. Tapi Yusup suka apa yang mama punya.”

Mama tertawa, “mama rasa mama udah tua, gendut lagi. Mana ada yang suka.”

Aku mulai santai mendengar tawa mama. “Gak juga mah, menurut yusup sih besarnya pas. Apalagi kalau mama jalan, yusup suka liat pantat mama goyang.“Giliran soal pantat mama, banyak bener bahan yang bisa kamu omongin.”

“Memang mama gendut, tapi seksi. Makanya yusup selalu penasaran kenapa mama gak cari pasangan lagi. Siapa tahu banyak pria seumuran mama yang tertarik sama mama.”Mama menjadi diam. Setelah itu berbalik dan membawa masakan ke meja. Saat berjalan, susu mama bergerak bebas dalam tanktopnya. “Makasih nak,” kata mama sambil tersenyum. “Mama senang kamu bilang gitu. Tapi kini kita mesti memikirkan hal lain dulu. Yaitu kesehatanmu.” Mama melihat selangkanganku sejenak, “kamu suka gerakan susu mama di tanktop gak?”Aku menelan ludah lagi. Memang kulihat susu mama tergantung di tanktop karena tanpa bh. “Iya mah, suka.”“Seksi gak?”

Aku ingin meraih dan meremasnya, “seksi banget mah.”

Mama kembali ke kompor, “jadi kamu juga suka susu ya.”“Tentu saja.”

“Tapi gak sesuka pantat kan?”

“Yusup suka dua – duanya mah. Apalagi yang besar, kayak susu mama.”“Jadi itu sebabnya kamu selalu bergairah kalau liat tubuh mama?” kata mama sambil membelakangiku. “Yah, yusup suka wanita montok mah.”Lalu sekarang gilirang keheningan yang muncul. Selama satu atau dua menit.

“Kamu udah terangsang belum?” kata mama akhirnya.

“Iya mah.”

“Terus kenapa kamu gak bilang?” mama berbalik lalu menatapku. “Yusup kira belum cukup mah.”“Tunggu bentar lagi. Sambil nunggu ini matang, kita bisa ada sesi selama setengah jam sebelum makan.” Mama kembali masak beberapa saat. “Nah, ikuti mama.” Mama lantas mengambil gelas dan keluar dari dapur. Aku mengikuti mama. Mataku mengikuti pantat mama. Rupanya mama naik tangga. Setiap kali naik, pantat mama sejajar dengan mataku. Hingga sampailah kami di kamarku.

“Mama rasa kita mesti melakukan dengan cara yang beda,” kini mama berdiri di sisi ranjangku. “Kita bisa tambahkan variasi.”

“Boleh mah.”Mama duduk di kasur, “kalau gitu lepas pakaianmu.”

Aku melepas pakaian sementara mama menonton. Aku kini telanjang berdiri di hadapan mama. “Mungkin kita mesti awali dengan rangsangan susu,” kata mama sambil melepas tanktopnya.

Mama memegang susunya dan mengarahkan padaku. Baru kali ini mama melakukannya. “Ayo mainkan nak.”Aku tak percaya perubahan pada diri mama sekarang.Aku berlutut di hadapan mama. Kumainkan susu mama dengan tangan dan mulutku. Bergantian ku hisap sementara yang lainnya kuelus dan kuremas. Tak lupa kupilin juga pentilnya. Kali ini mama membiarkanku agak lama. Kurasa mama akan membiarkanku menyodok susunya lagi. Mantap.

“Karena tadi kamu bilang demen banget sama pantat mama, sekarang kamu boleh sentuh dan cium pantat mama lewat legging.”

Duar, andai ada petir menyambar di sebelahku, aku takkan seterkejut ini. Mama berdiri lalu berbalik. Membungkuk hingga tubuhnya bertumpu pada kasur. Otomatis pantatnya searahku. Posisi mama sungguh menggairahkan. Langsung kucium dan kujilati bawahan pantat mama yang tak tertutupi legging.

“Santai nak, malam masih panjang. Lagian esok juga kamu bisa lakuin lagi.”

Aku jadi agak santai setelah mengolah kata – kata mama. Setelah puas, kunaikan ciumanku setetes demi setetes. Dari belahan pantat, dapat kulihat memeknya mencetak. Kulebarkan pantat mama agar memeknya lebih kulihat lagi. Aku mulai menciumi belahan pantat mama. Mulai dari yang terluar hingga masuk ke dalam. Kujulurkan lidah untuk mencapai anus mama. Kudiamkan lidah menunggu mama berkata. Namun mama malah diam. Kesempatan, pikirku. Kutusuk lebih dalam lagi lidahku hingga hampir mendekati memek mama. Kulakukan beberapa saat.

Kontolku sudah tegang, namun kali ini kurasa seperti belum mau keluar. Aneh. Sepertinya mama menyadari ini. “Gimana, udah mau keluar nak?”

“Belum mah.”“Kok? Wah, menarik nih,” kata mama sambil tetap tak bergerak. “Gimana kalau tambahkan rangsangan lagi. Coba kamu kenakan kontolmu ke pantat mama lagi.”Tanpa dikomando lagi aku langsung berdiri dan memengang kontol dengan tangan kananku. Kugerakan kontol hingga seperti menampar pantat mama. Tentu tak sekeras tamparan sendal jepit pada pipi oleh guru olahraga. Namun cukup untuk memberikan sensasi nikmat. Mama mulai menggerakan pantatnya. Meski pelan namun membuat pantat mama bergoyang ke kanan kiri. Lalu kulihat belahan pantat mama lagi. Kucoba menyelipkan kontol ke belahan pantat mama. Kudorong hingga agak jauh.

Mama tersentak sebentar, namun tak berkata apa – apa.Kuteruskan sodokanku di celah pantat mama. Saat mentok, kudiamkan sebentar merasakan lembutnya daging memek mama yang berbalut legging. Kutarik lalu kutekan lagi. Mama kembali tersentak. Akhirnya aku merasa sudah waktunya, “rasanya Yusup mau keluar mah.”

Mama meraih gelas, berbalik dan duduk di kasur. Tangan mama lantas meraih kontolku dan mengocoknya. “Uhh … Uhhh … Uhhhhhhhhhhh ….,” aku mendengus sambil keluar.

“Bagus nak… terus,” kata mama bersemangat.

Aku terus keluar hingga tak ada tetes yang tersisa. Mama membersihkan tetes akhir dengan tangannya. Mama mengamati gelas. “Kayaknya mulai agak berkurang dibanding sebelumnya. Kayaknya tinggal sedikit lagi nih.”Aku duduk di kasur lalu memandang gelas di tangan mama. Benar, lebih kurang kali ini. “Bisa jadi mah. Abisya itu yang keempat sih. Mungkin nanti mama perlu memberi rangsangan berlebih agar kita tahu apa sperma Yusup benar habis.”“Ya, gak masalah,” jawab mama sambil menatapku, tersenyum. “Ntar abis makan mama coba pake yang lain. Kamu takkan kecewa deh.”Aku tersenyum. “Makasih mah,” syukurku. “Yusup jadi gak sabar nih.”

Mama menampar pipiku, tentu saja pelan. Lalu mengelusnya. “Udah bersihin dulu sana. Mama mau nyatet dulu nih. Kalau udah siap kita makan dulu.” Mama lalu bangkit, tangan kanan memegang gelas sementara tangan kirinya mengambil tanktop.

Saat mama melangkah keluar, kulihat lagi pantatnya yang bergoyang menantang. Aku senang, bukan karena apa yang mama janjikan. Tapi karena telah menyentuh memek mama, meski mama masih berlegging.

Kubersihkan diriku, pake boxer dan sporthem lalu turun. Mama di dapur, masih memakai pakaian yang barusan. Makanan sudah di meja. Namun ada yang aneh. Ada botol yang, kadang ku minum bersama teman – teman.

“Intisari?” tanyaku setelah duduk.“Iya, biar kamu santai,” jawab mama tanpa menatapku. “Anggap aja obat biar membantu kamu keluar,” mama menambahkan. “Juga biar mama bisa santai. Ingat, kegiatan kita kan perlu dua orang.”Aku terdiam sejenak. Lalu memikirkan kata – kata mama sambil makan. Kutuangkan pada gelas dan kuminum. Lumayan membuatku santai. Mataku menikmati belahan dada mama. Rasanya aku harus mengatakan sesuatu. Sesuatu, yang ada di hati. Sesuatu, yang ada di hati.“Yusup bener – bener bersyukur mama mau membantu yusup mah.”

“Iya sayang. Tapi mama rasa semua ibu juga pasti mau membantu anaknya, semampunya.”

“Iya mah. Tapi apa yang mama lakukan, benar – benar luar biasa. Apalagi yang, mama tahu kan, ngerangsang Yusup.”

“Apa yang terjadi terjadilah, tapi ingat nak, saat kamu eluskan kontol ke memek mama, mama memang gak ngomong. Tapi jangan pernah kamu masukkan kontolmu ke memek mama.”

Aku kecewa mendengarnya. “Tapi,” lanjut mama. “Kita bisa melakukan yang lain.”“Maksud mama?” aku penasaran.“Seperti kata mama. Mama akan bilang kalau mama setuju. Tapi kita makan dulu dan ngomongin yang lain.”Kami makan sambil bicara hal lain. Sesekali aku minum. Mama juga. Membuat kami lebih santai. Selesai makan, tak terasa sudah habis sebotol. Hanya tinggal yang ada di gelasku dan gelas mama.

“Kalau kamu masih mau, masih ada kok. Sengaja mama beli. Mama mau santai dulu di kamar. Ntar mama panggil kamu. O, ya. Kamu suka cd warna apa?”

Aku tersipu malu.“Ya… mama gak pernah nanya gitu sebelumnya, tapi, mungkin hitam mah. Warna lain juga boleh.”“Mama senang kamu jawab hitam. Kamu beresin dapur ya.”

Mama lantas bangkit dan melangkah ke kamarnya. Aku duduk sejenak menenangkan pikiranku. Setelah membereskan dapur, aku duduk santai di depan tv sambil mendengar musik dari tape. Kudengarkan Sinatra sambil menutup mata. ***

Mama memanggilku. Aku mematikan tape. “Ambil sebotol dan dua gelas ke ruang tv nak.” aku melakukan apa yang mama suruh. Kutaruh botol dan gelas di meja di depan sofa.

Meski disebut ruang tv, namun semenjak mama cerai tak ada lagi tv. Hanya ada tv di kamarku dan kamar mama. Ada satu meja, satu sofa panjang di sebrang meja dan sofa pendek di sisi kanan kiri meja. Kutuangkan anggur ke gelas mama dan gelasku. Lantas aku duduk di sofa pendek yang menhadap tangga. Agar bisa kulihat kedatangan mama.

Beberapa saat kemudian kudengar suara mama melangkah. Jantungku berdetak lebih kencang, seperti genderang mau perang. Akhirnya mama datang sambil membawa gelas ukuran. Lalu berdiri diam.

Luar biasa apa yang mama pakai. Aku hanya pernah melihat wanita memakai pakaian seprti itu di film porno. Mama memakai bh dan thong berwarna hitam. Aku tahu namanya thong karena pernah kucari tahu di net. Perut mama berlipat akibat kegemukannya. Melihatku yang hanya bisa melongo, mama lantas memutar tubuhnya. Thong itu masuk ke belahan pantat mama sehingga pantat mama dapat kulihat seutuhnya. “Mama benar – benar seksi.”Mama kembali berputar hingga menghadap padaku. “Gimana sekarang kontolmu?”Aku menelan ludah. Mama mengambil gelas lalu minum.

“Keras mah. Tapi Yusup gak keberatan melihat mama agak lama lagi.”

“Ya sudah, biar mama gini dulu. Kamu liat mama jalan, biar puas.”

Mama lantas berputar dan melangkah menjauh. Pantat mama sungguh seksi. Mama melangkah hingga teras yang menuju taman. Sampai di pintu teras, mama berbalik dan berjalan ke arahku. Kini kulihat susu dan perut mama bergoyang seiring langkahnya. Setelah di depanku, mama tersenyum lalu berbalik lagi. Mama berbungkuk menunjukan pantatnya padaku. Aku jadi tak sabar. Sebelum mama beraksi lagi, aku langsung bicara, “Yusup udah siap mah.” Sku berdiri dan melepas pakaianku.

Mama berdiri, berbalik dan melihatku telanjang. Kontolku sudah tegang. “Bener nih udah siap?”“Iya mah. Tapi sebelum keluar, mungkin boleh nambah rangsangan lagi. Boleh pegang pantat mama, lagi?”“Boleh, biar mama nyaman dulu.”

Mama mendekati sofa pendek dan menyandarkan tangan ke sofa hingga mama membungkukkan pantatnya. “Sekarang mama udah nyaman. Ayo mulai.”

Aku langsung berlutut di belakang mama. Kucium pantat mama. Harum baunya. Kuremas dan kujilati. Lalu kujulurkan lidah agak ke dalam, ke celah pantatnya. Dapat kujilat anus dan memek mama karena mama memakai thong.

“Boleh pake kontol lagi gak mah?”

“Iya, tapi jangan masukan ke belahan pantat mama.”Mama menggoyangkan pantatnya. Ingin kutarik thong ke pinggir dan menusukan kontol ke memek mama. Tapi aku masih bisa menahan. Kuraih kontol dengan tangan kanan. Kutamparkan ke pantat mama beberapa kali hingga pelumasku keluar. Kutekan – tekan ke pantatnya. Nikmat. “Udah tegang mah, tapi rasanya belum mau keluar. Gimana nih mah?”

Mama berbalik ke arahku dan membelai kontolku. “Biar mama lepas bh mama,” kata mama sambil melepas bhnya. Susu mama terpampang di depanku. Mama lantas berlutut di hadapanku. Punggungnya bersender ke sofa. “Entot susu mama, siapa tahu bisa.”Edan, mendengar kata – kata mama membuatku makin semangat. Mama memegang susu sementara kutusukan kontol diantara sela susunya. Kulihat pentil mama seperti mengeras. Kuusapkan lubang kontol pada pentil mama, kanan dan kiri. Lalu aku kembali ke sela susu mama lagi.“Bagus, entot terus susu mama sayang.”Kuentot terus hingga kontolku hampir mengenai dagunya. Namun belum kurasa akan keluar. Hingga beberapa saat berlalu. “Masih belum mau keluar mah.”

“Udah, berhenti dulu. Kita coba cara lain.”

Kuhentikan aksiku. Mama berdiri dan mengambil gelas ukuran dari meja, lalu duduk. Aku mengikuti namun tetap berdiri di depan mama hingga kontolku sejajar dengan wajahnya. “Makin hari makin lama kamu keluarnya ya. Biar mama coba yang baru. Ingat, semua ini mama lakukan demi membantu kamu keluar.”

“Iya mah,” meski aku tak tahu maksudnya. “Mama mesti merangsang kontolmu dengan mulut mama. Tapi mama ingatkan, lelaki yang baru pertama kali dioral pasti langsung keluar. Kamu baru pertama kan, tapi mengingat makin hari kamu makin susah keluar, mungkin gak terlalu cepat.”Aku tersipu malu. “Eh, iya mah, makasih.”

Tangan mama masih memegang gelas ukur, “coba kamu maju agak dekat.”

Aku hamu hingga kontolku hampir mengenai mulut mama. Mama membuka mulut dan memasukan kontol ke mulutnya. Perlahan mama mulai mengeluarkan suara seperti sedang menyeruput. Mama mulai memaju mundurkan kepalanya. Aku memegang rambut mama dengan tanganku. Mama menghentikan gerakan kepalanya. Kini mama memainkan lidah saat kontolku masih di dalam mulutnya. Mama mengeluarkan kontol dan kembali menjilatinya. Lubang kontolku pun dijilati mama.Nikmat.

Setelah beberapa saat, mama menghentikan jilatannya dan kembali menghisap kontolku. Hisapan dan jilatan lidah mama membuatku tak tahan. “Yusup mau keluar mah.”Mama menghentikan aksinya, menyiapkan gelas pada kontol lalu mulali mengocok kontolku. “Ahhhhh ……. Uhhhhhhh …. Ohhhhhhhhhhhhh.” aku menyemburkan peju ke dalam gelas hingga selesai. Setelah itu, aku duduk di sofa panjang. “Gak begitu banyak sekarang ya,” kata mama. “Mungkin bentar lagi kita tahu batasmu perhari.”

Aku memandang gelas ukur dan ternyata spermaku hanya setengahnya. Namun aku lega masih bisa memproduksi sebanyak itu. “Barusan nikmat sekali mah. Mulut mama benar – benar tau cara merangsang.”

“Tiap lelaki pasti suka. Mama gak pernah lakuin lagi sejak cerai. Papamu juga suka sama kayak kamu.”Tetap, aku jadi malu mendengarnya. Rupanya mama menyadari kalau aku malu.

“Kamu kok kayak masih malu kalau kita bicarain soal rangsangan. Gak perlu lah. Lagian kan yang kita lakukan ini demi kesehatan. Agar kita bisa kasih tahu dokter berapa banyak sperma yang bisa kamu produksi dalam sehari.”“Eh, iya mah. Hanya saja, bicara dan berlaku gini sama mama tentu bikin malu awalnya. Apalagi Yusup tak tahu apa mama suka atau tidak.”“Ya, mungkin kita pikirkan lagi itu nanti. Mungkin saatnya kamu bicara lebih terbuka lagi sama mama. Kamu harus coba dan coba?”

“Maksud mama?”“Kamu boleh ngomong kasar sama mama biar gak terasa kaku. Kalau udah gak kaku, mama yakin bakal membuatmu makin lancar keluarnya. Contohnya, coba kamu bilang kalau kamu ingin ngentot susu mama.”

Aku tersipu mendengarnya, “kamu gitu lagi deh,” kata mama.“Maaf mah,” jawabku. “Yusup ingin ngentot susu mama.”“Bagus. Sekarang coba bilang kamu suka pantat mama, agak kasar ya.”

Aku berpikir sejenak, lalu mulai merasa percaya diri. “Pantat mama seksi, Yusup suka. Apalagi kalau ditampar sama kontol yusup.”“Lumayan,” kata mama. “Coba lagi dengan susu mama.”

“Tuh susu diisep aja udah nikmat. Apalagi dientotin.”“Mulai ada kemajuan. Sekarang mama mau dengar kamu bilang mau liat memek mama.”

Oh, mama tak pernah menyinggung hal itu sebelumnya.

“Eh …,” Aku ragu-ragu.

“Mama gak bilang entot memek mama. Tapi kamu boleh lihat jika memang membantumu keluar.”

Aku menarik nafas dalam – dalam. Setelah itu mulai bicara, “yusup ingin liat memek mama.” Kini aku merasa lebih berani, “coba Yusup periksa memek mama.”“Pinter,” mama terlihat senang.

Aku lantas berinisiatif, “coba liat anus mama, biar yusup jilatin.”“Bagus,” kata mama.

Aku terkejut mama tak keberatan. Kontolku lantas bergerak – gerak.

“Mama lihat percakapan kita berefek padamu. Tapi biar kita istirahat dulu. Minum lagi yuk. Ntar tinggal bilang aja kalau kamu udah siap lagi.”Aku hanya bisa menelan ludah. Kulihat mata mama, ada sesuatu yang sudah lama tak kulihat.

“Udah bersihin dulu tubuhmu. Terus abis itu telanjang aja.”

Aku berdiri dan melangkah ke kamarku. Setelah membersihkan diri aku kembali lagi turun. Mama sedang duduk sambil memegang gelas. Hanya berbalut thong kuperhatikan.

“Mama udah catet prosesmu saat kamu di atas.” Di meja kulihat gelas ukur sudah bersih dan kosong. “Itungannya mulai menurun. Bagus.” Aku duduk di sofa panjang, mengambil gelas dan minum. Kupandang mama, mama balas menatapku. “Apa?” kataku.“Mama lagi mikir cara ngerangsang kamu. Mungkin kita mesti coba hal – hal baru. Kayak yang barusan kamu bilang.”Mungkin maksud mama apa yang barusan aku katakan sebelum naik. Apalgi mama bilang boleh melihat memeknya. Mama juga gak keberatan saat aku bilang ingin jilat anusnya. “Mungkin kita bisa coba permainan.”

“Permainan?” bingung, bingung kumemikirnya.

“Iya permainan. Dulu papamu suka ngajak mama main. Saat awal pernikahan.”Aku tersipu.

“Hentikan. Udah mama bilang agar kamu lebih santai lagi.”

“Eh iya mah maaf. Yusup masih mencoba membiasakan diri.”“Kita mulai aja.”Mama berdiri dan meletakan gelasnya di meja.

“Kamu tau spank gak?”

“Apaan tuh mah?”
“Istilah untuk menampar pantat.”
“Oh, iya mah. Paham Yusup.”

“Sekarang mama nungging terus kamu coba spank mama. Alias tampar pantat mama.” Mama lantas nungging dengan tangannya bersandar ke sofa. Aku berdiri di sebelah mama, melangkah mundur satu langkah. Kuangkat tangan kananku lalu kutampar pantat kiri mama. Pantat mama bergelombang menerima tamparanku. “Lebih kuat lagi nak. Jangan lembek.”“Tapi nanti mama sakit.”“Spank aja lebih keras. Ntar mama hentikan kalau mama gak suka.”Kutampar lagi pantat mama dengan lebih keras. Rasanya nikmat, baru kali ini aku rasakan kenikmatan lain. “Bagus nak. Lebih keras juga boleh kalau kamu suka.”

Kulanjutkan aksiku. Kini kutampar pantat kanan mama. Tak pernah kubayangkan sebelumnya, bahwa aku sangat menikmatinya. Melihat pantat mama bergelombang sungguh nikmat. Lalu kusadari pantat mama mulai memerah akibat tamparanku.

“Oh…” gumam mama.

Mama terlihat sangat menikmatinya. Baru kali ini kusadari mama menikmati sesi kami. Kuputuskan untuk mengikuti arus dan mencoba menyemangati mama.Plak… “mama suka ini hah?”

“Iya nak, suka banget. Dulu juga papamu suka nampar pantat mama, bahkan sambil ngomong kasar. Kamu mau coba? Siapa tahu bisa bikin cepet keluar.”Kata – kata mama memberi rangsangan tersendiri. Sebelum ini, aku selalu mengira mama wanita yang normal, bahkan cara berpakaiannya pun termasuk kuna. Tak pernah kulihat mama bersikap nakal, apalagi genit. “Siap mah,” aku percaya diri. Aku pindah ke sisi kanan mama. Kutampar lagi pantat mama memakai tangan kiriku. “Montok sekali pantat mama,” kataku menambahkan.“Oh… Bagus nak. Bilang mama kalau kamu suka. Kamu mau mama ngapain biar kamu keluar?”Aku lantas berlutut di belakang pantat mama dan menciumi pantatnya. Tanganku mengelus paha mama.

“Terus nak.”

Aku lantas berdiri. Mama berbalik hingga menghadapku. Kulihat susunya menggelantung. Wajah mama seperti memerah, namun aku pilih untuk tak berkata.“Bagus nak. Minum dulu yuk.”Kami minum lagi.

“Sekarang giliran mama,” kata mama. Aku terperanjat. Bingung apa yang harus aku lakukan alias tak paham.Aku semacam tampak terperanjat, tidak tahu apa yang dia maksudkan dengan itu.”Eh ….,” kataku.

“Maksud mama giliran mama tampar pantat kamu. Coba dulu, kalau gak suka tinggal bilang mama. Ayo siap kayak mama, nungging!”

Aku ragu bakal suka dispank. Lagipula, bukankah ini semua tentang membantuku keluar. Lalu aku ingat mama sangat suka memainkan pantatku dengan tangannya, dulu. Mungkin mama menikmati hal seperti ini. Kuputuskan untuk mencoba, karena jika mama bisa sampai lepas kendali, siapa tahu apa yang terjadi di akhir.Kuposisikan diri seperti mama, nungging sambil menyandarkan tangan dan dada ke sofa. Pantatku terangkat menantang. Mama mulai menampar pantatku. Ringan pada awalnya. Aku tak merasa apa – apa. Namun setelah satu menit atau dua, aku mulai merasakan sesuatu. Seperti geli – geli.

“Gimana nak?”

“Terus aja mah.”

“Baik, kali ini akan sedikit keras. Siap nak?”

“Siap mah.”

Mama tetap menghisap tanpa menatapku. Sepertinya mama menikmatinya. Beberapa saat kemudian mama menghentikan aksinya. “Boleh, tapi biar mama minum dulu.”Aku tak tahu kenapa mama ingin minum lagi. Entah karena agar lebih berani atau apalah – apalah. Masih berlutut, mama meraih botol dan menuangkan ke gelas. Mama ambil gelas lantas minum.

“Nikmat nak. Gini aja. Biar mama celupin kontol kamu ke anggur, terus mama isep. Gak keberatan kan?”Apa aku keberatan? Tentu saja tidak. Apa mama mengatakan hal seperti itu? Tentu aku tak peduli. Lantas aku hanya mengangguk tanpa bicara. “Mama mendekatkan gelas lantas mencelupkan kontolku ke dalamnya. Begitu kontol diangkat langsung dimasukan ke mulut mama. Nikmat rasanya. Mama melepas kontol, minum dari gelas, lalu mengulangi mencelupkan kontol ke gelas, menghisapnya lagi. Setelah itu, minum lagi dari gelas.

“Mama bener – bener haus ya,” kataku akhirnya. “Iya. Mama bener – bener menikmatinya. Mungkin udah saatnya kamu liat memek mama. Siapa tahu bisa buat kamu keluar.”

Mama meletakan gelas. Sementara kutuangkan segelas untukku dan minum. Mama berdiri dan melepas thong. Kulihat jembut mama agak rapi. Memeknya tak begitu jelas karena paha mama menyatu dan daging di atasnya seperti turun menutupi memek. Mama lantas menunjuk sofa panjang. “Duduk di sana,” aku langsung duduk. Sementara mama duduk di sofa pendek. Kini mama tak hanya duduk, namun mengangkat lutut dan menyandarkan ke lengan kursi hingga terbuka. Memek mama seperti ada di dalam, tertutupi oleh daging tebal yang menjadikan memek mama kurang terlihat. Lalu dengan jemarinya mama melebarkan daging yang menutupi memek hingga terlihatlah memek mama. Mama mengangkat jemari dan membasahinya dengan mulut, lalu kembali menaruh jemari di memeknya.

“Wow, mama bener – bener seksi.”“Bagus kalau kamu suka,” kata mama sambil melihat kontolku yang tegang.

Mama lantas memainkan jemari di memeknya, kadang dimasukan jemari itu ke memeknya. Kadang dibuka lebar memek mama hingga bisa kulihat. Aku ingin mendekati dan menciuminya, namun aku ragu. Aku tahu mama takkan mengizinkanku ngentot memeknya.

Mungkin mama bisa membaca pikiranku yang tak dapat dimengerti, kaki di kepala kepala di kaki. “Kini, saat lihat memek mama, kamu ingin ngapain?”Keraguanku langsung sirna. Sirna itu sempurna. Dengan percaya diri aku berkata, “ingin Yusup jilat memek mama.”“Pinter,” senyum mama. “Kamu kini lebih percaya diri. Berarti bisa lebih cepet keluar. Sekarang kamu boleh jilati, lebih dari pada itu tidak. Tapi, biar mama isep kontol kamu dulu.”Aku bangun dan mendekati mama. Mama langsung duduk dengan wajar. Tangannya meraih kontolku dan menghisapnya. Mama jilati juga lubang kencingku. Kulihat mama benar – benar menikmati aksinya. Entah karena anggur atau karena mama biarkan dirinya lepas, lepas dari menahan diri untuk tidak menunjukan kalau mama juga menikmati sesi kami. “Nikmat mah… Isep terus.. Pake lidahnya,” aku menyemangati mama. Mama melakukan apa yang kukata. “Yusup pingin liat memek mama.” Mama menghentikan aksinya dan menatapku. Kulihat mata mama sedikit berair mata, aku jadi khawatir. “Udah lama mama gak isep kontol nak. Mungkin kamu udah ngerangsang mama. Mama harap kamu ngerti. Mama malu sama diri mama sendiri, kok bisa – bisanya mama terangsang oleh kamu. Kamu mau maafin mama nak?”Kulihat mama seperti kesal. Mungkin karena terangsang oleh apa yang dilakukannya, jadi kesal pada diri sendiri. Aku tak tahu apa karena minuman atau bukan, namun yang pasti kini mama sedang berjuang melawan perasaannya. “Tidak perlu mama merasa malu. Janganlah terlalu keras pada diri mama sendiri. Lakukan saja apa yang mama suka. Yusup tidak keberatan mah. Terlebih alasan dibalik semua ini adalah bantuan mama untuk membantu Yusup keluar. Wajar jika berefek pada terangsangnya mama.”Mama tersenyum lantas berdiri. “Mama masih ingin isep kontol kamu hingga keluar. Kita bisa saling jilat. Mau coba enam sembilan?”

Aku mengangguk. “Kamu berbaring nak di lantai.” Aku menuruti kata – kata mama. Setelah berbaring, mama mengambil gelas ukur lantas mengangkangi kepalaku, berlutut diatasnya. Kini terlihat jelas bagian dalam memek mama.

“Gimana nak?”

“Memek mama seksi bener. Turunkan mah.”

Mama menggeliat menurunkan pinggul hingga dirasa pas. Langsung kujilati memek mama sementara tanganku melingkari paha mama meremas pantatnya. Perutku terasa sedang digesek susu mama. Rupanya mama telah siap. Kubiasakan aroma dan rasa memek mama. Awalnya terasa aneh memang. Mama mulai menjilati kontolku. Puas menjilati memek, kulebarkan pantat dan menjilati anus mama. Mama menggerakan pantatnya, namun tetap kujilati. Kini kucoba menusukan lidah ke anus mama. Lidahku serasa diremas dalam anus mama.

Kembali kujilati memek mama hingga liurku bercampur dengan cairan mama. Kuhisap juga bibir tebal daging luar memek mama.

Mama memainkan kontolku dengan mulutnya. Kurasakan sebentar lagi akan keluar. “Bentar lagi keluar mah,” kuperingati mama.

Mama makin liar memainkan mulut di kontolku. “Keluarkan sekarang nak.”

Meski tak bisa kulihat, kudengar mama sedang memposisikan gelas. Tangan mama mengocok kontolku. Lidahku menjilat dan menerobos memek mama. “Ahhh … Ahhh ….. Ahhhhhhhhhhhhhh.” akhirnya aku keluar. Kulepas mulut dari memek mama. Nikmat sekali. Mama masih mengocok kontolku agar tiada yang sia – sia. Setelah orgasmeku reda, mataku kembali fokus. Kulihat memek mama yang ada di depan mataku. Aku lantas ingat ucapan mama tentang mama yang telah terangsang. Aku merasa ingin memberi mama kepuasan juga. Siapa tahu mama membolehanku ngentot memeknya.

“Pantat mama bikin gemes,” kataku sambil meremas dan melebarkan pantat mama.

“Makasih sayang,” mama lantas menurunkan pantatnya dan menggesekkan hingga memeknya menggesek mulut dan hidungku. Setelah itu diangkat lagi.

“Mama bener pinter ngegoda nih.”“Setidaknya mama tahu kamu suka kan.”Akhirnya mama berdiri bangkit lalu duduk di sebelahku sambil menatapku. Susu mama tampak seksi. Mama mengangkat gelas ukur dan memperhatikannya. Hasil sesi ini hanya sedikit. Setengah gelas pun tidak. “Kayaknya udah mencapai batas ya, mama juga udah lelah. Mama tidur dulu.”

Aku mengangguk setuju.

“Ingat nak, senin kita ada janji sama dokter Tari. Istirahat yang cukup buat sesi esok.”

Mama mencium pipiku lalu berdiri dan melangkah. Aku pun bangkit ke kamarku lalu tidur.

***

Goyangan di lengan membuatku membuka mata, meski masih ngantuk. Rupanya mama telah duduk disampingku. Mama tersenyum melihatku.

“Bangun nak. Udah pagi nih.”

“Iya mah.”Aku merasakan sesatu menyentuh perutku. Mama telah menyingkap selimut dan kini mengelus perutku turun hingga masuk ke dalam celanaku.

“Ayo kita mulai sesi pagi, mama udah bawa gelas ukurnya.”

Aku tak yakin mama ingin aku keluar sepagi ini, tapi kantukku langsung hilang. Mama menarik celanaku hingga kontolku muncul. Lalu celana itu dilempar mama. Tanpa bicara, mama membungkuk dan mulai menghisap kontolku. Mama terlihat seperti ingin ngentot, pagi ini. Hangatnya mulut mama, lembutnya jilatan mama membuat kontolku jadi keras. “Terus mah,” aku hanya bisa meracau.

Mungkin melihat kontolku yang udah tegang, mama berdiri lantas melepas dasternya hingga telanjang.

“Karena kontolmu udah tegang, mama kasih sesuatu agar lama tegangnya,” goda mama. “kontol kamu enak pagi ini. Mama ingin nikmati lebih lama lagi.”

Mama turun dari ranjang lantas berdiri dan berputar menunjukan pantatnya. Lalu mama menggoyangkan pantatnya. “Gimana pantat mama nak?”

“Kayaknya pingin dijilati Yusup tuh pantat.”“Ya boleh asal kamu bolehin mama isep kontol kamu lagi. Ingat, sekarang mama juga suka ikut terangsang tiap kita melakukan sesi ini.”Baru kali ini kudengar pengakuan mama. Aku mengangguk tanpa bicara. Aku ikut turun dari kasur dan berdiri. Mama langsung berlutut dan menghisap kontolku. Tangannya memainkan testisku.

Aku belum merasa mau keluar. Bagus. Namun melihat susu mama bergoyang bikin tak tahan juga. Setelah puas, mama akhirnya melepas kontolku. “Sekarang waktunya menu khusus. Mama mau nyender ke kasur dan nungging. Kamu boleh ngapain aja sama pantat mama, asal jangan masukin kontol kamu.”Mama berdidi menghadap ranjang dan menjatuhkan diri ke ranjang. Sementara kakinya tetap berdiri membuat pantat mama menantang karena nungging. Sebulan lalu aku tak berani mama yang selalu sopan dan pemarah akan melakukan ini. Inilah mimpi yang jadi kenyataan. Aku segera berlutut di belakang mama. Kujilati pantat mama sambil meremasnya. Kujilati anus mama sambil maju berusaha menjilati memek mama. Aku terus memainkan lidah di memek mama hingga kurasa memek mama agak basah. Dengan tangan kubuka bibir memeknya dan kujilati dalamnya.

“Oh…” baru kali ini kudengar mama mengerang kenikmatan. “Terus, jilat terus di situ nak.”Kuturuti permintaan mama. Kutepuk paha mama kanan dan kiri. Mama langsung melebarkan kaki hingga akses lidah ke memek mama makin mudah. Kulihat anus mama mengerut dan membuka. Kujilati saja anus mama dan kutusukan lidahku. Mama lantas mengerang kenikmatan. Mama juga menekan pantat ke wajahku seolah ingin agar lidahku lebih dalam lagi.

“Oh… Oh… teus.. teruss… nikmat…”Memang, aku terus melakukannya sambil melebarkan pantat mama dengan tanganku.

“Ahhhh,” mama mengerang lagi. Kini aku kembali menjilati memek mama. Kujilati memeknya. Aku sangat ingin ngentot mama, tapi mama pasti nolak. Tapi aku juga tau mama udah terangsang. Akhirnya aku hanya bisa bilang, “boleh tampar pantat mama pake kontol gak? Yusup janji takkan yusup masukin.”

“Iya,” jawab mama mengejutkanku. Aku langsung menamparkan kontol ke pantat mama. Kuelus juga hingga pelumasku membasahi pantat mama. Melihat belahan pantat yang sangat menggoda, kugesekan helm kontol ke belahannya. Rasanya aku mau keluar, tapi aku coba mengontrol diri. Mama tak protes tindakanku, jadi aku semakin berani. Kugerakan tangan hingga mengelus memek mama. Kumainkan itil mama sementara kontolku hanya berjarak beberapa milimeter dari memeknya. Rasanya ingin langsung kudorong.

Mama kembali menampar pantatku dengan sedikit keras. Kontolku gerak merespon, aku tak tau mengapa. Diantara tamparan, mama menyapu belahan pantatku dengan jarinya. Aku kegelian. Lantas mama mengelus pantatku. Nyaman rasanya. “Biar mama ikuti yang kamu lakukan ke mama.”Mama langsung menciumi pantatku, lembut. “Muter, biar mama isep kontolmu biar keras.”

Aku tak percaya mama bilang gitu. Namun, aku tetap berbalik. Mama tetap berlutut hingga wajahnya sejajar dengan kontolku.

Sebelum melangkah lebih jauh, mama menatapku. “Karena kamu keluarnya lama, sepertinya ini cara satu – satunya.”Lalu tanpa basa – basi, mama mulai menjilati kontolku. Terus menghisapnya. Kontolku terasa hangat di mulut mama. Mama menghisap selama satu atau dua menit. Namun tetap belum kurasa akan keluar. Aku lantas punya ide.

“Nikmat mah. Tapi agar tambah rangsangannya, gimana kalau, seperti yang mama bilang, liat memek mama.”

Kemudian kata – kata mama membuatku terkejut, “udah nak, mama gak tahan. Masukin, tapi jangan keluar di dalem. Kita perlu catatannya.”

Aku tak percaya. Aku benar – benar tak percaya. Namun, tanpa ragu lansung kutusukan kontolku hingga masuk ke memeknya. “Ahhhhhhhhh …,” teriakku saat aku berusaha menyodok mama. Kutarik dan kusodok lagi. “Ohhh … “

Mama juga mengerang nikmat sepertiku. Kupompa memek mama dengan kontolku. Kupegang pantat mama. Nikmat sekali. Aku jadi lupa segalanya. Kupercepat sodokanku hingga kurasakan akan segera keluar.“Ohhhhh….” erang mama.Akhirnya kusemprotkan peju di memek mama. “Ahhhhh …” kataku seiring keluarnya peju.

Mama juga mengerang keras saat memeknya kusemprot. Akhirnya setelah beberapa semprotan, kontolku lemas dan aku rebahkan diri di kasur sambil menutup mata.Akhirnya kuentot mama dan kusemprot memeknya.

Rasanya keheningan antara aku dan mama berlangsung berabad – abad. Mama memutuskan bicara dengan tenang tanpa melihatku, “apa yang telah kita lakukan?”Aku memilih diam untuk beberapa saat. Namun tetap kujawab juga, “Yusup gak bisa menahan diri, sama kayak mama.”

Suasana hening lagi.

“Kamu benar,” kata mama setelah beberapa menit. “Hadapi saja. Apa yang terjadi terjadilah. Lagian lama – lama juga pasti terjadi. Hanya saja kita gak bisa ngitung sampelnya.” Mama berhenti bicara seolah berpikir. “Mungkin kita bisa ngitung rata – rata sesi sebelumnya. Tapi kamu harus janji, jangan pernah kasih tahu siapa pun tentang barusan. Paham?”

“Iya mah, Yusup paham.”

“Bagus nak. Mama jadi tenang mendengarnya.” Mama berhenti lagi sebentar. “Mungkin kita juga bisa lakuin lagi untuk membantumu keluar. Lagian semua udah terjadi,” katanya tambah mengejutkanku. Luar biasa.

“Tapi nanti mesti kamu keluarin di luar, biar kita dapat sampel.”“Iya mah akan Yusup coba. Tapi, mungkin sulit. Yusup kan baru pertama ngerasain.”

Mama tak menjawab. Beberapa saat kemudian aku seperti ingin ke kamar mandi. Aku bangkit dan berkata, “Yusup kencing dulu mah.”Aku ke kamar mandi. Biasanya pintu kututup, tapi kali ini kubiarkan terbuka. Aku mulai kencing. Lalu aku merasa sedang ditatap. Aku menoleh ke pintu rupanya mama berdiri di sana. Aku merasa senang mama di sana.“Kamu gak keberatan kan mama liat,” tanya mama sambil menatapku.

“Enggak dong mah,” jawabku sedikit terkesima. “Bagus. Mandi bareng yuk, siapa tahu dapet sampel lagi.”

Aku senang bukan main mendengarnya. “Boleh mah.”“Ya udah, mama juga pingin kencing nih.”Mendadak aku ingin seperti mama, “Yusup liat ya?”

Mama menatapku sejenak, “kenapa tidak?”

Mama lantas duduk di toilet. Aku memperhatikan. Urin mama mulai keluar memperdengarkan suara khas saat urin itu mengenai toilet. Setelah melihat mama kencing, kontolku bergerak – gerak. Mama menyadarinya. “Kamu suka liatnya. Terangsang ya?”

“Iya mah. Yusup suka.”“Aneh kamu,” kata mama. Lalu mama bicara lagi, “sini, kita coba sesuatu sebelum mandi.”Aku berdiri di hadapan mama yang sedang duduk di toilet. Mama lalu mengisep kntolku.

“Nikmat mah.”Mama menghentikan isepan lalu menjilati testisku. Tangannya membelai kontolku. “Cukup. Mama cuma ingin tahu apa kontolmu cepet keras kalau sambil gini. Lain kali kalau mama ingin kencing, kamu ikut ke toilet. Mama isep kontolmu sambil mama kencing biar kontolmu cepet keras. Kayak sekarang.”Gila. Benar – benar gila ide mama. Namun aku suka.

“Tunggu di sini. Biar mama ambil gelas ukur dulu.”Menunggu mama mebuat kontolku kembali lemas. Akhirnya mama datang lagi memegang gelas ukur. Mama meletakannya di bak dan mulai membasahi tubuh kami. Setelah itu mama mulai menyabuniku. Saat membersihkan pantat, mama mengelusnya. “Mama elus pantatmu ya.”Mama lantas mengeluskan jari di belahan pantatku hingga mencapai testis. Rasanya sungguh geli. Apalagi mama memainkan jarinya saat di anusku. Setelah itu mama berhenti, “sekarang sabuni mama.”Aku berbalik lantas menyabuni mama. Saat menyabuni susu, kuremas – remas sebentar. Aku lantas berlutut menyabuni perutnya yang buncit dan terus ke bawah. Setelah bagian depan selesai, mama lantas berbalik. Aku mulai menyabuni pantat mama. Tangan menyelinap di belahan pantat mama menuju ke memeknya. Tiba – tiba mama berbalik, “mama punya ide.”

“Apa mah?”“Kita pelukan aja biar enak gosoknya. Sambil tangan juga gosokin.”Dasar petugas perpustakaan, ide mama banyak. Mama lantas memeluku. Tangannya menyentuh punggungku. Aku pun sama memeluk mama.

Gosokan susu mama menggosok dadaku. Perutku menggosok perut mama. Sedang tangan kami membersihkan punggung dan pantat pasangan.

Kontolku mulai bangun kembali. Mama pun menyadarinya. “Udah bangun lagi ya. Kalau kamu janji keluarin di luar, mama izinkan kamu lagi.”Aku langsung berjanji. “Kita basuh dulu.” mama lalu membasuh tubuh kami dengan air lalu membersihkan sabun yang menempel di tubuh.

Setelah bersih, kami saling berhadapan. Mama lantas berlutut dan mulai menghisap kontolku. Setelah puas, mama berdiri, berbalik dan tangannya memegang bak mandi, lalu nungging. “Sambil gini aja,” kata mama tegas. “Mama juga ingin kamu ngomong kasar. Ingat, jangan keluar di dalem. Ngomong kalau mau keluar.”

“Iya mah. Tapi biar Yusup jilat dulu.”

Aku berlutut di belakang mama. Kulebarkan pantat mama dan mulai menjilati memeknya dari belakang. Setelah itu kujilati juga anusnya sambil meremas pantat mama.Aku lantas berdiri, memegang pantat mama, melebarkannya dan menusukkan kontol ke memek mama, pelan – pelan saja. “Ahhhh,” mama tersentak, saat kontolku masuk seutuhnya. “Oh, ” aku berteriak.

Kutekan, kutarik sedikit dan kudorong lagi.

“Terus, ah…” kata mama mengejutkanku.“Enak yah dientot?”“Iya, terus…”Tanganku pindah dari pantat ke susu mama. Kuremas remas. Setelah itu kembali lagi ke pantat. Kutampar kini pantat mama. “Nakal ya, anak sendiri dientot juga.” Plak….

Sungguh liar, nakal, brutal membuat orang lain yang melihat bisa menjadi gila.Kenikmatan ini tak lagi dapat kutahan, kurasakan akan segera keluar. Untung aku masih ingat wejangan mama. “Mah, mau keluar nih.”

Mama tetap mengerang tak menghentikan aksinya. “Terus. Keluarin di dalem. Semprot mama ahh….”Persetan dengan semua ini. Langsung kugenjot memek mama hingga memuntahkan lahar panas. “Aahhhhhh…” tak terasa aku dan mama mengerang berbarengan. Sepertinya mama juga keluar. Kupegang pantat mama selama menyemprotkan peju di memek hingga tak bersisa.

Ya terang saja, mama tak mau kucabut kontol. Ya terang saja, mama ingin keluar juga. Karena ngentot, karena ngentot begitu nikmat. Beberapa saat kemudian kontolku lemas dan lepas dari cengkraman memek mama. Tanganku masih memegang pantat sementara mama masih menengadah di sofa.

“Nikmat nak. Rasanya mama gak peduli lagi tentang sesi kita. Tapi kita tetep perlu, demi kesehatanmu.”

“Hahahaha… mama bisa aja jawabnya.”

Mama bangkit, berputar lalu memelukku. Setelah itu kami mandi sama – sama.

BERSAMBUNG