Antar Mama ke Dokter Part 3

0
5746

Dua hari berikutnya, Kamis dan Jumat, berlalu seperti hari pertama. Ada sesi pagi hari. Sesi di kamar mandi setelah aku pulang. Sesi malam dan sesi sebelum tidur.

Mama melepas bh saat sesi kamar mandi. Bahkan saat aku berbaring di ranjang, mama akan melepas bh dan menunjukan susunya. Aku meminta hal ini saat sedang sesi ranjang, meski tidak dimulai saat hari aku meminta. Mama terlihat senang terhadap tambahan rangsangan ini. Nikmat rasanya melihat susu mama bergerak – gerak saat mama mengocok kontolku. Mama membiarkan aku menyentuh susunya, namun hanya sebentar hingga kontolku mengeras siap keluar.

Tak terasa sudah seminggu. Hanya beberapa hal yang terjadi selama sesi ini.

Pertama saat sesi kamar mandi, mama selalu menyuruhku agar membersihkan diri dulu. Setelah itu baru kupanggil mama. Saat mama membasuh pantatku, mama selalu menggosok pantatku naik turun. Kurasa mama sengaja, seperti mendapat kesenangan tertentu.

Kedua, sepertinya mama kini lebih santai. Berbeda saat awal disuruh oleh dokter, terlihat gelisah dan tak nyaman. Juga bukan saat sesi berlangsung. Saat bercakap – cakap di rumah pun mama lebih santai dan prilakunya jadi tidak segarang dahulu. Mama jadi sedikit memakai make-up. Rambutnya juga agak terurus.

Mama jadi berubah. Mungkin ini hanya kebetulan, tiada hubungan dengan insiden testisku. Atau bisa jadi berhubungan. Peningkatan suasana hati mama membuatku memikirkan cara agar bisa melangkah semakin pasti untuk sesi – sesi berikut.

Aku sudah ingin mencium dan menghisap susu mama. Juga pantatnya. Tapi aku tak mau melangkah terlalu dini. Firasatku mengatakan mama menikmati kepuasan tertentu dari sesi kami, tapi tak ada buktinya. Aku tak bisa memastikan juga tak mau membuat mama marah yang bisa berujung pada penghentian sesi ini.

Aku masih penasaran kenapa testisku sakit, dan kembali normal setelah beberapa kali keluar. Semoga dokter Tari memberi tahu setelah hasil pengujian ada. Formulir catatan telah di isi mama tanpa ada yang terlewat. Seingatku, dokter Tari bilang hasilnya akan keluar seminggu lagi.

Pada sesi malam sabtu, setelah aku keluar, mama berkata, “kita punya banyak waktu di akhir pekan,” lantas mencium pipiku dan pergi keluar. Setelah mama tiada, aku memikirkan kata – kata mama.

***

Aku bangun dan lihat jam, rupanya jam delapan. Kontolku agak tegang. Mama belum muncul, tidak seperti hari sebelumnya. Lalu aku ingat ini sabtu. Mama biasanya santai di rumah. Aku lalu tidur lagi, berbaring.

“Yusup, bangun nak.”

Aku berbalik dan membuka mata. Mama sedang berdiri sambil memegang gelas.

“Pagi nak,” kata mama sambil senyum.

“Pagi juga mah.”

“Mama rasa sesi pertama bisa dilakukan di kamar mandi.” Mama memberi gelas padaku, “nih minum teh dulu.”

Aku duduk lantas meraih gelas dan minum. Sudah lama mama tak melakukan ini, memberi minum saat membangunkanku. Mungkin ini awal yang baik. Mama ikut duduk di sebelahku.

“Mama mau belanja, mungkin hingga sore. Kamu mau ngapain?”

Aku gak punya rencana, “gak tau. Main mungkin. Kenapa emang?”

“Mama cuma ingin rencanain sesi untuk hari ini,” katanya sambil menatap mataku. “Waktu kita hari ini banyak. Jadi mending manfaatin sebaik mungkin.”

Aku tak paham apa yang dimaksud oleh mama.

“Mama ingin tahu gimana perasaan kamu sekarang, apa membaik? Jujur aja sama mama.”

“Yah…” aku ragu – ragu. “Testis yusup masih sakit.”

“Agak baikan setelah keluar beberapa kali?”

“Iya mah.”

“Kita tunggu saja hasil dari dokter Tari. Hasilnya kalau gak salah keluar senin atau selasa.”

“Iya mah.”

“Baiklah. Kita lihat apa kita bisa dapat sampel lebih di akhir pekan. Agar kamu agak baikan. Maafin mama kemarin gak percaya sama kamu nak.”

“Gak apa – apa mah.” Aku terkejut oleh permintaan maaf mama yang tiba – tiba.

“Panggil mama kalau kamu udah di kamar mandi. Mama beresin dulu di bawah.”

“Iya mah, makasih.”

Mama bangkit berdiri lalu melangkah keluar. Meski memakai daster, pantat mama masih terlihat seksi. Aku minum dan memikirkan apa yang dikatakan mama. Mama rupanya prihatin dan ingin membantuku. Lumayanlah daripada mama sebelumnya, pemarah, pemurung dan jelas tak ramah. Sekarang mama agak mendingan. Suasana hatinya pasti membaik seminggu ini.

Andai aku memiliki penyakit, kuharap dokter bakal memberitahu dan mengobatinya. Tapi tetap, aku berharap ini hanyalah salah satu fase dalam hidupku. Meski testisku sakit, aku menikmati cara pengeluaran peju untuk mengurangi rasa sakitnya.

Aku jadi penasarn tentang lebih banyak waktu yang mama katakan. Sekarang sudah jam setengah sepuluh. Kuputuskan untuk mandi. Aku ingin liat tubuh mama lagi. Aku ke kamar mandi, membersihkan tubuh lantas memanggil mama.

Aku berdiri menunggu mama sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Tubuhku tak perlu dikeringkan dulu, karena mama selalu membasuh kontol dan pantatku.

Aku mendengar langkah mama menaiki tangga dan mendekati kamar mandi. Mama mengetuk pintu seperti biasa. “Siap sayang?”

“Iya mah.”

Mama masuk masih memakai daster. Tangannya memegang gelas. Mama menatapku kemudian menatap kontolku. Mama menjilati bibirnya lagi. Kuperhatikan beberapa kali sudah mama melakukan itu, menjilati bibir jika sedang bersamaku.

“Seperti tadi kata mama,” mama menatapku, “kita punya banyak waktu. Karena mama juga belum mandi, biar kita sekali mendayung agar dua tiga pulau terlewati.”

Aku menatap mama mencoba memahami kata – katanya.

Kemudian mama mulai melepas dasternya. Mama benar – benar telanjang. Kulihat selangkangan mama dan kulihat jembutnya. Aku tersipu dibuatnya. Selama melepas daster, mama tak melihatku.

“Kamu udah liat mama setengah telanjang selama beberapa hari ini. Jadi kenapa gak telanjang aja sekalian.”

Mama berdiri di depanku. Aku menatap susunya, kemudian memeknya.

Mama melihat kontolku, “setidaknya kamu udah siap untuk sesi ini.”

Aku menelan ludah. Aku mencoba mengontrol diriku, “iya mah. Yusup siap.”

Mama mulai membasuh kontol dan testisku. “Muter,” lantas aku berputar. Kini mama membasuh punggung dan pantatku. “Siniin sabunnya,” kata mama. Baru kali ini kudengar mama menyuruhku mengambil sabun. Kuraih sabun dan kuberikan pada mama. “Mama bersihin lagi kamu. Coba agak nungging.”

Aku tak percaya pada pendengaranku. Namun begitu aku tetap agak nungging. Mama menyabuni pantatku, menggerakan jari di belahan pantatku. Kemudian menyabuni testisku. Tangan mama kembali menyabuni pantatku. Setelah itu mama kembali membasuh pantatku dan membilasnya hingga bersih.

“Udah. Muter lagi.”

Aku kembali berputar menghadap mama. Mama melihat kontolku yang sudah tak tahan.

“Agar mudah ambil sampel, sebaiknya mama berlutut di depan kamu.”

Mama lantas berlutut, wajahnya sejajar dengan kontolku. Mama mulai membelai kontolku. Aku hampir bisa merasakan dengusan nafas mama di kontolku. Tangan kanan mama ngocok kontolku. Kulihat ke bawah, susu mama bergerak naik turun seirama gerakan tangannya. Sungguh pemandangan yang indah.

“Yusup mau keluar mah,” aku tak tahan. Lagian, siapa bisa tahan dalam keadaan begini?

Mama meraih gelas dengan tangan kiri dan memposisikannya. Tangan kanannya tetap ngocok.

“Uh..Uh … Ohhhhhhhhhh,” kataku saat keluar. Kurasakan pejuku menyemprot ke dalam gelas.

Seperti biasa, mama memastikan agar tiada sperma yang tersisa. Aku lantas duduk di tepi bak mandi untuk menenangkan diri.

“Gimana, agak mendingan?” tanya mama sambil memegang gelas. “Nih liat.”

Aku membungkuk untuk meligat gelas yang hampir terisi tiga per empatnya.

“Iya mah, agak mendingan sekarang.”

“Bagus,” mama lantas menyimpan gelas tersebut di pinggir bak. “Sekarang waktunya mama mandi. Kamu mau bantu mama nak?”

Aku ragu – ragu, “iya mah.”

“Sabunin punggung mama yah, abis itu kamu boleh pergi.”

“Siap mah,” kataku senang. Aku kembali berdiri.

Kamar mandiku cukup sempit. Mama berdiri berhadapan denganku. Susu mama mengenai dadaku, aku diam namun mama tak mempermasalahkannya. Mama mengguyur tubuhnya. Kontolku masih lemas namun sedang berhadapan dengan memek mama.

Kuamati tubuh telanjang mama. Saat mama berbalik, sedetik kontolku mengenai memeknya. Sungguh nikmat walau secuil. Kini mama membelakangiku. Kulihat pantat putihnya seperti menantang.

Aku mengambil sabun dan mulai menyabuni punggung mama. Mulai dari bahu, punggung lalu turun ke pantat. Saat aku menyentuh pantatnya, mama diam saja pertanda tak keberatan. Kusabuni bahu mama lagi, lalu aku sedikit memijitnya.

“Bagus nak,” kata mama. Aku merasa mama rileks.

Merasa ada kesempatan, pijatanku turung ke punggungnya. Satu tangan kuluncurkan ke pantat mama dan mengelusnya. Lalu kedua tanganku meremas pantat mama. Satu tangan merogoh belahan pantat mama dan jemariku berusaha mengelus bagian dalamnya.

Mama tetap tak bicara hingga aku biarkan aksiku. Namun aku tak mau lama – lama di situ. Kontolku kembali bangun. Aku berusaha memundurkan pinggul agar kontolku tak menyentuh pantat mama.

Tak terduga, sabun yang dipegang mama jatuh. Mama lantas membungkuk untuk mengambil sabunnya. Saat mama membungkuk, belahan pantat mama mengenai kontolku. Otomatis kontolku menerobos masuk agak dalam.

“Aw, itu tanganmu nak?” tanya mama sambil langsung berdiri.

“Eh.. bukan … mah…” kataku ragu. “Maafin Yusup mah, nyabunin mamah malah bikin kontol Yusup tegang lagi.” Kuputuskan untuk tak menyembunyikannya.

Mama berbalik lantas melihat kontolku.

“Kok bisa, kan baru aja keluar?”

“E… mungkin karena melihat pantat mama,” jawabku jujur. Tak ada gunanya bohong sekarang.

“Kamu kan hanya nyabunin mama,” kata mama agak terkejut.

“Iya mah, cuman, tubuh mama sangat merangsang. Apalagi pantat mama.”

“Iyalah,” suara mama seperti lagi bicara sama anak kecil, seolah aku ini masih kecil dan tak tahu apa – apa.

“Kita mesti hilangkan sikap kekanak – kanakan, gairah remaja ini agar kita bisa kumpulkan sampel secara lebih dewasa,” lanjut mama dengan tegas.

Aku menatapnya, bingung, gak tahu apa maksudnya, namun kontolku masih menunjuk mama.

“Mama tahu mama mesti ngerangsang kamu agar dapet sampel, tapi gak kayak gini!” tatapan mata mama menembus jiwaku. “Apa kamu mesti keluar lagi?”

“Sepertinya iya mah,” kataku. “Namun meski kontol Yusup udah keras, sepertinya butuh rangsangan tambahan biar cepet keluar.”

“Kalau mama pikir, kamu gak butuh rangsangan lagi. Sepertinya kamu lebih butuh seks. Apa yang mesti kita lakukan untukmu?” suara mama mulai terdengar jengkel, seperti sedang bicara sama anak nakal.

“Err ….,” aku bingung mendengar ucapan mama.

“Sudahlah,” kata mama setelah melihatku kebingungan. “Ambilin mama gelas lagi.”

Aku berbalik lantas mengambil gelas dan menyerahkan ke mama. Di gelas masih terdapat spermaku. Kontolku kembali lemas mendengar ceramah mama. Mama memperhatikannya.

“Udah lemes lagi tuh, yakin mau keluar lagi?”

“Iya mah.”

Mama mendesah, “ya sudah. Sekalian aja pegang pantat mama. Kamu suka kan? Bilang aja kalau udah mau keluar, biar kita cepet selesai.”

“Saya,” kataku, merasa sakit sedikit.

Mama mulai membungkuk, aku memegang pantatnya. Kurasakan keinginan memasukan kontol ke pantat mama, namun kutahan keinginanku itu. Kemudian aku punya ide.

“Mah, boleh gak kalau kontol Yusup ditempelin ke pantat mama? Biar cepet keluar.”

“Oh, boleh, asal jangan masuk ke dalamnya.”

Suara mama bagaikan musik yang membius. Kupegang kontol dengan tangan kanan dan kutampar – tamparkan ke pantat mama. Kueluskan ujung kontol hingga pelumasku mengenai pantat mama.

“Oh, enak mah,” kataku menikmati sensasi ini dan goyangan pantat mama. Kurasakan seperti akan keluar. “Oh… bentar lagi keluar mah.”

Mama langsung bangkit, mengambil gelas dan berlutut di hadapanku. Melihat tanganku mengocok kontol, mama membiarkannya. Namun tak lama mama langsung memposisikan gelas ke kontolku. Akhirnya kocokanku membuat kontol menyemburkan kembali peju memenuhi gelas.

“Uooooohhh ……,” mendengusku lebih keras dari sebelumnya. Mama tetap memegang gelas hingga gelombang pejuku berhenti. Mama lantas berdiri setelah aku selesai.

“Luar dari pada biasa,” kata mama sambil melihat gelas. “Sudah lebih dari setengahnya ini. Hampir penuh.”

Aku kembali bersandar ke bak. Begitu cepat testisku terisi peju. Kini testisku tak lagi sesakit sebelumnya.

“Udah puas sekarang nak?” kata mama sambil menatapku, nadanya seolah sedang bicara sama anak – anak.

“Eh … iya mah, makasih,” suaraku seperti suara anak yang ingin bermain dengan mainannya.

“Bilas badanmu terus pake baju. Biar mama selesaikan mandi.”

Kubilas selangkanganku lantas memakai handuk.

“Mama rasa sebaiknya kita keluarkan sperma dari kontolmu sebanyak mungkin nak,” kata mama tegas sambil berdiri menatapku. “Agar dokter tari tahu seberapa banyak kamu mampu memproduksinya dalam sehari. Kita mesti atur ulang jadwal sesi per hari. Biar nanti mama pikirkan hal itu.” Mama menghentikan bicara sebentar, “sekarang gimana hasratmu terhadap tubuh mama?”

Namun, sebelum aku menjawab, mama sudah mengguyur tubuhnya sendiri. Kuputuskan kembali ke kamar dan berbaring di ranjang. Kututup mata, lelah.

***

Aku merasa pantatku ditampar beberapa kali. Seperti oleh tangan. Aku bangun, rupanya aku tertidur sehabis keluar dari kamar mandi. Sekarang kulihat mama berdiri di sebelah ranjang. Handuk melilit tubuhnya dan tangan mama menampar pantatku untuk membangunkanku.

“Bangun nak,” katanya tegas. “Udah jam setengah sebelas ini. Kenapa gak pake baju?”

Saat aku tidur pasti mama melihat pantatku lantas menamparnya. Aku berbalik, kulihat kontolku masih lemas. Mama kembali menjilati bibir, seperti sebelumnya. Aku yakin mama tak menyadari saat melakukan hal itu.

“Maaf mah, Yusup ketiduran. Yusup ngantuk sih abis keluar duakali tadi.”

“Oh,” suara mama kini lebih tenang. “Kamu gak lupa apa yang mama katakan kan? Mama akan pikirkan lebih saat diluar. Pake baju dulu terus sarapan. Mama juga mau dibaju terus pergi.”

Mendengar kata – kata mama soal pake baju membuat muncul sebuah ide.

“Kayaknya Yusup gak pergi deh hari ini mah. Lagi pingin di rumah. Oh ya, karena mama bilang ada tambahan sesi, Yusup mesti pake baju terus lepas baju terus pake baju lagi, gimana kalau Yusup pake boxer aja mah. Gimana kalau di rumah Yusup pake boxer aja. Lagian mama kan gak aneh liat Yusup telanjang.”

Mama menatapku dalam diam, seperti sedang mempertimbangkan kata – kataku. “Ya mama kira itu bakal bikin hemat waktu. Kalau gak ada tamu boleh aja kamu mau pake itu. Tapi hanya saat kita menjalankan sesi saja. Setelah semuanya usai, kembali ke normal,” suara mama tegas. “Juga biar hemat cucian,” kini suara mama lebih santai.

Mama lalu keluar dari kamarku masih dengan handuk melilit.

Aku berbaring di kasur sejenak. Bangkit lantas memakai boxer. Untuk atasannya, aku memakai sporthem [kemeja lengan pendek] yang longgar, kukancingkan hanya satu kancing. Aku turun menuju dapur.

Di dapur ada mama yang berpakaian lengkap. Juga memakai make up. Mama memakai gaun dengan rok selutut. Juga memakai kalung. Kusadari mama hanya memakai kalung saat bepergian. Kini kuakui mama terlihat gemuk namun menarik meski tidak cantik.

“Mama belanja dulu, makanan udah ada. Nih uang kalau mau jajan. Mumpung kamu di rumah, beresin rumah, jangan malas.” Setelah berkata mama lantas pergi.

Kudengar mama menyalakan mobil. Aku duduk di dapur dan memikirkan kata – kata mama di kamar mandi. Mama telanjang dan membiarkan kontolku bermain di pantatnya meski hanya beberapa saat. Mama juga tahu ketertarikanku pada tubuhnya. Aku merasa mama tau aku berpikir sesuatu yang tidak seharusnya kupikirkan. Mau gimana lagi, aku normal dan masih muda. Melihat wanita telanjang, apalagi mamaku, membuatku makin terangsang.

Aku penasaran apa yang akan mama lakukan selanjutnya. Daripada pusing, lebih baik kupikirkan nanti saja. Sakit di testisku mereda setelah aku keluar dua kali. Tapi aku tahu sebentar lagi pasti kembali terasa sakit.

Setelah makan, aku membereskan dapur dan ruang tv agar suasana hati mama membaik saat pulang. Selesai beres – beres, aku menonton tv sambil berkomunikasi dengan teman – temanku. Tentu saja aku tak memberi tahu apa yang terjadi antara aku dan mama.

Sekitar jam tiga kudengar suara mobil mama. Kubuka pintu dan menunggu mama. Saat mama sampai di pintu, kuangkat belanjaan ke dapur. Mama masuk lalu menutup pintu. Mama terlihat serius, namun saat melihat dapur dan ruang tv, mama terlihat senang.

“Kamu udah beres – beres ya,” katanya sambil menatapku, dari atas hingga ke bawah.

“Iya mah. Abisnya mama juga udah bantu Yusup untuk … … mama tahulah.”

Mama lantas menyortir belanjaannya. “Mama mau masak, kamu mau makan apa nak?”

“Apa aja mah.”

“Ya udah, ntar mama panggil kalau udah beres.”

“Iya mah.”

Aku lantas ke kamarku. Kuputuskan membaca untuk mengalihkan perhatianku. Sekitar satu jam kemudian mama memanggilku. Aku turun ke dapur.

“Duduk nak.”

Aku lantas duduk. Mataku menatap dada mama sebentar. Kurasa mama menyadarinya.

“Mama telah pikirkan, meski mama bantu kamu dengan rangsangan agar kamu keluar, namun melihat tubuh mama sepertinya malah membuat kamu nafsu.”

Mama berhenti sejenak.

“Setelah dipikir, mama rasa wajar bagi anak lelaki terangsang saat pertama kali melihat tubuh wanita telanjang, meski tubuh mamanya sendiri. Andai dokter tari tak menyuruh kita melakukan kegiatan ini, mama yakin kamu takkan memiliki dorongan seksual pada mamamu ini.”

Aku mengangguk setuju. Tentu tak perlu kukatakan telah beberapa tahun aku sangat ingin melihat dan menyentuh tubuh mama. Itu sama saja bunuh diri.

“Jadi mama putuskan untuk terus memberi rangsangan untuk keperluanmu.”

“Makasih mah,” kataku sambil senyum, sedikit lega.

“Namun, dari hasil sesi kita pagi ini, sepertinya kamu butuh melakukan sesuatu terhadap nafsumu. Dan sebaiknya kita menambahkan sesuatu pada sesi kita agar kamu cepet keluar.”

Mama berhenti bicara namun aku tak paham maksud dari kata – katanya.

“Mama pikir agar kita bisa memberikan bahan sebanyak mungkin untuk dokter tari, kita mesti membuatmu keluar sesering mungkin agar kita tahu batasmu. Sejauh ini, kita selalu berhenti setelah kamu merasa nyaman, bukannya setelah beberapa kali keluar. Kemarin – kemarin juga agak canggung karena mama mesti kerja dan kamu mesti kuliah.”

Aku menatap mama dengan ekspresi bingung. “Jadi maksud mama apa?” kataku ragu.

“Maksud mama, agar kamu bisa keluar sesering mungkin, selama sisa hari tes ini mama akan memberikan rangsangan terus – menerus.”

Aku menelan ludah.

“Eh …. ok,” kataku, meski tak yakin apa maksud mama.

“Makanya mama perlu pakaian untuk itu. Mama pergi ke toko baju tadi dan beli beberapa pakaian untuk membantu sesi kita.”

Wow, aku tak percaya dengan apa yang kudengar. Aku kembali menelan ludah. “Oh,” hanya itulah yang keluar dari mulutku.

“Mungkin mama takkan memakai lingerie seharian, tapi mama punya pakaian lain untuk merangsang kamu.”

Kontolku bergerak – gerak. Namun karena aku sedang duduk, mama takkan menyadarinya.

“Juga untuk membuatmu keluar, sekalian menyalurkan nafsumu terhadap tubuh mama.”

“Eh.. Edi sud rahma, maksud mama?”

“Ya kamu katakan kamu mau apa saat sesi kita dan mama akan jawab kalau mama pikir boleh.”

“Maksud mama soal menyentuh mama?”

“Tentu saja. Dan juga soal hal lain andai kamu merasa ingin melakukannya.”

Aku menelan ludah. Mulutku tiba – tiba kering.

“Tapi,” lanjut mama, “ingat satu hal. Kamu gak boleh menusuk mama. Sangat – sangat tidak boleh. Paham?”

Aku tersipu mendengar kata – katanya. Apa mama tahu aku justru ingin melakukan itu? “Iya mah.” Namun suaraku terdengar seperti kecewa.

“Dan satu lagi dari mayor, eh dari mama. Mama akan melakukan atau menyarankan hal – hal yang biasa dilakukan wanita untuk membantu kamu keluar.”

“Seperti apa mah?” aku penasaran.

“Kita lihat saja nanti,” mama mencoba berteka – teki. “Kenapa gak tunggu sesi kita selanjutnya aja.”

Pikiranku mulai dibanjiri hal – hal dari dunia perpornoan. Mulai dari film hingga cerita. Kontolku sudah tegang.

“Apa kamu sudah ingin keluar lagi nak?” mama akhirnya melihat selangkanganku.

“Eh… iya mah, kebetulan. Denger kata – kata mama jadi gak tahan.”

“Ya udah, gak perlu disembunyikan.”

Mama menggeser kursi hingga kursinya bersebelahan dengan kursiku. Lalu melihat selangkanganku.

“Mulai sekarang kamu mesti beri tahu mama saat kamu terangsang oleh tubuh mama. Biar mama bisa tahu pakaia seperti apa yang bisa merangsangmu. Juga biar kita bisa langsung mendapat sampel buat dokter Tari. Jelas nak?”

“Iya mah.”

“Sekarang lepas sporthemmu.”

Aku berdiri. Mama segera melihat gundukan di boxerku. Kulepas kancing bajuku hingga terbuka. Melihat gundukan di boxerku mama lantas membelainya, “udah siap nih kayaknya,” kata mama sambil tersenyum.

Kulepas bajuku dan menyimpannya di kursi. Aku berdiri telanjang dada.

“Karena mama akan memberi rangsangan nonstop maka kita bisa mengambil sampel di mana saja. Biar mama bawa gelas dulu.”

Mama ke jendela mengambil gelas yang ditaruh di sana. Setelah meraih gelas mama kembali lagi duduk di kursi di depanku.

“Lepaskan celanamu.”

Kuturunkan celana dan kutendang. Kontolku sudah tegang. Padahal mama masih memakai pakaian.

“Mama gak mau kamu keluar terus mengotori baju dan bh mama. Jadi biar mama lepas dulu.”

Mama berdiri lalu meletakan gelas di meja lalu mulai melepas bajunya. Terlihat mama memakai bh hitam. Bh itu juga dilepasnya hingga menggantunglah susu mama. Kalung mama masih menggantung, menambah seksi, pikirku.

Mama kembali duduk membuat kontolku hampir sejajar dengan wajahnya. Mama mulai membelai kontolku. Aku menunduk melihat susu mama. Aku ingin menghisapnya namun masih ragu.

“Mulai kini kamu bilang aja apa yang kamu mau,” kata mama menatap mataku.

Aku tersipu ditatap mama, “Yusup ingin, kalau boleh, ingin nyusu mah.”

“Terdengar wajar dan alami. Boleh aja asal kamu gak menggigitnya. Jangan kasar.”

Aku berlutut hingga mataku sejajar dengan susu mama. Kutangkupkan tangan pada susu mama mencoba mengukur besarnya dengan telapak tanganku. Lalu kuelus – elus dan kuremas pelan. Kini kujilati areola susu kiri mama lalu kuhisap pentilnya. Sedang susu kanan mama kuremas.

Kupindah mulut ke susu kanan mama, sedang tanganku bermain di susu kirinya. Samar – samar aku mendengar erangan mama.

“Udah belasan tahun kamu gak nyusu lagi sama mama nak,” kata mama lembut.

Aku sibuk menghisap dan memainkan susu mama. “Sudah cukup nak. Biar mama elus kontol kamu lagi.”

Aku berdiri dan menyodorkan kontol ke mama. Mama kembali menjilati bibir. Aku ingin menyuruh mama menghisap kontolku namun belum berani. Mulut mama begitu dekat dengan kontolku, hembusan nafas mama ikut membelai kontolku. Sambil ngocok, mama sepertinya menatap lubang kontolku.

Muncul ide lain, “mah, boleh gosokin di susu mama gak?”

“Sepertinya gak apa – apa.”

Mama lantas duduk agak maju di kursinya lalu memegang kedua susunya. Aku meraih kontol dan mulai membelaikan ke belahan susu mama. Mama mendorong kedua susunya dengan hati – hati membuat efek seolah kontolku dijepit. Sambil menekan susu, mama menahan kontol dengan jemarinya agar tak lepas dari jepitan susunya.

Aku mulai menggyang pinggul maju mundur hingga kontolku seakan mengenai dagunya. Kulihat kontolku mulai mengeluarkan pelumas, bahkan mulai melengketi susu mama.

“Ayo nak, sodok susu mama hingga keluar,” suara mama tiba – tiba bersemangat.

Aku tak percaya apa yang kudengar. Baru kali ini kudengar mama berkata – kata seperti itu. Benar – benar menggairahkan.

Aku terus nyodok sementara mama memegang susunya.

“Sodok terus,” kata mama lagi bersemangat.

Tak perlu waktu lama hingga kurasa sudah saatnya.

“Yusup mau keluar mah… ah…”

Mama langsung melepas susu dan dengan tangan kiri meraih gelas. Tangan kanannya mulai ngocok kontol sementara gelas diposisikan.

Cukup beberapa kocokan membuatku memuntahkan peju ke gelas. “Ohhh….” kataku seiring pejuku membanjiri gelas. Mama terus ngocok hingga tetes terakhir. Setelah tiada lagi peju tersisa, mama melepas kontolku.

Aku kembali duduk di kursi. “Nikmat gila,” kataku sambil merem. Lalu aku sadar mama masih di sebelahku, aku membuka mata menatap mama, “eh, maaf mah.”

“Gak apa – apa sayang,” kata mama sambil melihat gelas. “Mama ngerti kamu puas. Mama gak keberatan asal jangan terlalu kasar. Mama juga sengaja ngomong kayak tadi, ngebantu biar kamu cepet keluar.”

Mendengar penjelasan mama membuatku agak santai, meski tidak sedang berada di pantai. Kulihat gelas, ternyata hampir penuh. Sudah tiga kali seperti ini. Padahal ini sesi ketiga.

“Mama gak percaya kalau gak melihat, kamu masih mampu produksi sebanyak ini,” katanya. “Tak percaya tapi ini terjadi. Seharusnya kamu produksi lebih sedikit setiap abis keluar. Saat mama kerja kemarin, kita punya empat sesi. Sepertinya mesti kita pikirkan kembali nih. Biar frekuensinya sama seperti akhir pekan. Bisa – bisa kamu kekeringan setelah sesi terakhir.”

Aku mendengar mama bicara sambil diam mencoba memulihkan diri.

“Mama mau ganti baju buat ngerangsang kamu saat di rumah,” katanya. “Bersihin dulu tubuhmu dan pake lagi boxernya.” Mama bangkit, masih telanjang dada. Susunya bergerak bebas, mengambil pakaian dan bh lalu melangkah ke kamarnya. “Mama gakkan lama.”

Melihat goyangan pantat mama membuatku menelan ludah lagi. Apakah yang akan mama pakai?

BERSAMBUNG.