Akibat Vacuum Cleaner Part 4 End

0
2997

Paginya, aku bangun lalu mandi. Kupakai baju kerjaku, memasang nama di dadaku. Kumasuki kamar anakku. Kubangunkan dia. Marah.

“Bangun!”

“Huh? Oh, mah.”

“Ayo mandi, lalu sarapan. Mama mesti ngomong sama kamu.”

“Uh-oh.”

Aku keluar dan ke dapur. Membuat sarapan. Bima datang. Rambutnya basah, tubuhnya berkilau, hanya memakai handuk.

“Duduk.”

“Jadi, mama marah ?”

“Mama tak hanya marah.”

Ia makan sarapannya. Aku tetap berdiri. Kusilangkan tanganku di dada. Kutatap dia.

“Semalam kau keterlaluan.”

“Mama menyukainya.”

“Diam! Dengarkan mama!”

“Tiga bulan lagi kamu ebtanas. Jadi, setelah kau lulus, mama mau kau pergi dari rumah ini. Kamu mengerti?”

“Mama serius?”

“Mama tidak bercanda.”

“Tapi bima anakmu mah.”

“Kamu bukan lagi anakku sejak meniduriku.”

“Apa artinya ini?”

Ia berdiri. Aku mundur selangkah.

“Jangan macam – macam. Jangan kira aku takkan lapor polisi.”

“Mah, mama menginginkannya. Dengar, bima ngerti mama marah. Tapi mama tetap mama bima, dan mima masih mencinati mama. Jika mama menyukainya dan bima juga menyukainya, kenapa kita tak boleh ewean?”

“Karena itu salah, bima!”

Ia maju selangkah tapi langsung kuambil pisau mentega dan memegangnya.

“Oh tuhan. Mah.”

“Jangan melangkah.”

“Tenang mah. Takkan ada yang tahu. Hubungan kita tetap tak berubah. Dengar…”

Ia mundur selangkah.

“Bima tahu bima jarang nurut. Jarang beres kamar, jarang buang sampah. Tapi bima janji, bima akan berubah jadi lebih baik. Hanya saja, mama tahu, kadang kita ewean.”

Kutaruh pisau.

“Bima. Mama tak menginginkannya. Mama serius, 3 bulan lagi. Dan mungkin setelah kamu keluar, jika kamu berkelakuan baik, mungkin mama akui bima lagi. Tapi mama tak bisa memaafkan apa yang telah terjadi. Sekarang, mama kerja dulu.”

Aku melangkah melewatinya, tapi ia memegang pinggangku.

“Tunggu.”

“Lepaskan bima.”

“Bima mau bicara. 3 bulan? Baiklah, mama benar. Mama seharusnya mengusir bima.

Kucoba singkirkan tangannya, tapi ia tetap memegangnya. Ia kembali menyeringai.

“Jadi, kurasa hanya tinggal 3 bulan bima bisa nikmati memek mama.”

“Tidak, bima.”

“Yah, sebab kupikir mama juga menginginkannya seperti bima, hanya saja mama tak mau mengakuinya.”

Ia menarikku lebih dekat. Aku mulai berontak.

“Hentikan bima. Atau mama lapor polisi.”

Dia tertawa. Membalikan tubuhku lalu mendorongku ke meja hingga wajahku berhadapan dengan piringnya, menarik tanganku kebelakang dan memegangnya.

“Oh tuhan. Tidak, jangan lagi.”

Aku menangis.

“Mama mohon. Jangan. Mama akan laporkan ke polisi!”

“Benarkah?”

Tangannya mengelus pantatku. Kupalingkan wajahku menatapnya. Ia membuka handuknya hingga kontolnya bebas. Kontolnya telah mengeras dan didekatkannya ke pantatku.

“Bima pikir mama akan melapor.”

“Ya.”

“Mereka akan menangkap bima atas perkosaan. Bima akan dipenjara. Bima takkan dapat kerja. Hidup bima bakal hancur. Ya, bima kira mama akan melapor sekarang juga.”

Kututup mataku saat ia mulai meraba cdku.

“Bima, mama mohon. Aku mamamu. Kamu tak bisa ngentot seenaknya.”

“Itulah yang bima lakukan. Kan bima jadikan mama pelacur bima. Akan bima entot mama sesukanya.”

Elusannya beranjak ke memekku. Jarinya ditekankan membuatku melenguh.

“Jangan nak, memek mama sakit. Saat mama bangun, memek mama memerah. Tolonglah nak, jika kamu mencintai mama, jangan seperti ini.”

Ia pelorotkan cdku hingga ke lutut. Lalu ia lebarkan kakiku dengan kakinya hingga memekku terbuka.

“Memek mama memang merah.”

Jarinya meremas memekku.

“Jangan nak. Mama sepong saja kontolmu. Mama takkan gigit. Tolong jangan ewe mama lagi.”

“Yah.”

Ia menyeringai. Kontolnya digesekan ke klitorisku.

“Apakah sekarang bagimu mama hanyalah untuk kau ewe?”

“Ya, untuk 3 bulan ke depan.”

Ia mulai menekan kontolnya ke memekku yang kering. Sakit rasanya. Aku tak siap diewe pagi ini.

“Ow, ow, ow! Tunggu, nak. Mama tak siap. Memek mama sakit.”

Ia tarik kembali kontolnya. Kuhirup nafas.

“Sial.”

“Biarkan mama bangun nak. Mama ingin sepong kontolmu. Mama takkan melawan. Tolong jangan memek mama. Rasanya sakit.”

Ia angkat tangannya mencolek dan mengambil mentega. Aku berbisik.

“Oh tuhan.”

Tangannya mengoleskan mentega ke memekku. Kututup mataku. Kontolnya menekan klitorisku lalu menusuk memeku dengan lumasan mentega. Aku mengerang. Dia melepas tanganku lalu memegang pantatku. Tetap menekanku agar tak bangkit. Ia tahu aku takkan beranjak.

“Enakkan? Ayo mah bilang. Bima tahu mama menyukainya.”

“Ya.”

AKu menghela pelan, dan aku menyukainya. Memeku terasa panas dimasuki kontolnya, tapi tuhan, tetap saja aku menyukainya. Ia mulai dengan pelan hingga memekmu beradaptasi lagi.

“Oh.”

“Benarkan. Bima juga bisa lembut.”

“Ini salah.”

“Kenapa?”

“Karena. Karena…”

“Benar.”

“Tuhan. Aku benci ini karena nikmat. Dasar anak nakal membuat mama melakukan ini.”

“Membuat mama menyukainya?”

“Ya. Ewe saja mama lalu tinggalkan mama sendiri.”

Kulebarkan kakiku. Sementara lututku terkunci cdku. Aku menelan ludah.

“Mama ingin diewe bima?”

“Tidak, tapi jika bima ngewe mama, lebih keras lagi.”

“Mama ingin diewe lebih keras lagi?”

Ia sengaja memelankan tusukannya. Aku ingin diewe lebih keras, meski memekku sakit. Aku ingin diewe lebih keras dan dalam.

“Tidak.”

Aku bohong.

“Mama hanya ingin ini cepat berlalu.”

“Cepat berlalu? Bima baru saja mulai. Saat mama pulang kerja. Akan bima ewe lagi. Lalu mama masak. Setelah makan, bima ewe lagi. Dan setelah mama di ranjang, bima ewe lagi. Bima mungkin tidur di ranjang mama.”

“Tuhan…”

“Dan besok pagi…”

Ia tekan kontolnya lebih keras hingga mentok. Tanganku menabrak gelas. Aku tak peduli. Aku hanya ingin dia melakukan itu lagi.

“… besok, kurasa bima akan bangun lebih pagi, mandi dengan mama agar kontol bima dibersihkan mama sebelum ngewe lagi.”

Ia percepat ritme tusukan kontolnya pada memekku yang makin basah hingga membuat mejanya bergetar. Aku mengigau nikmat. Bahkan tak lagi kurasakan sakit pada memekku. Aku hanya ingin dia terus mengentotku dan aku senang dia perlakukan aku seperti ini. Aku berbisik.

“Oh… mama hampir keluar.”

“Bima tahu. Mama terus bilang gak menginginkannya dan terus keluar. Oh. Mama tak tahu apa yang mama inginkan yah?”

Kugigit bibirku, lalu menjerit saat orgasme melanda. Kakiku terangkat dari lantai. Cd ku robek saat kucoba melebarkan kakiku agar kontolnya menusuk makin dalam. Kenikmatan yang sangat membuatku menjerit dan menangis agar dia berhenti.

“Berhenti dulu nah. Oh, nikmat… tolong nak.”

Ia pelankan ritmenya. Aku terengah – engah di meja, rasanya memekku makin sensitive. Ia mulai lagi tusukannya. Aku tahu ia akan segera memuncratkan sperma lagi. Tuhan, gimana jika aku hamil?

“Oh. Bima gak tahan mah……”

Ia muncratkan spermanya memenuhi memekku, seperti tadi malam, dan aku tak bisa berbuat apa – apa. Spermanya bercucuran dari memekku. Kenapa rasanya nikmat? Aku berbaring di meja saat ia cabut kontolnya. Kurasa aku tak sanggup berdiri. Aku tak berdaya.

“Oh, sial. Bima telat sekolah.”

Kudengar ia berlari. Lalu muncul lagi, memakai pakaian. Lalu pergi.

“Selamat tinggal mah.”

Setelah pintu menutup kembali, kucoba bangun. Kulihat diriku, spermanya ada di mana – mana. Di memekku, di pantatku, di rokku. Aku mundur, goyah. Kupakai cdku. Kubenarkan rokku, tapi apalah artinya?

Aku berangkat kerja. Perasaanku tak menentu. Aku tak bisa menghitung berapakali aku akan ewean mulai sekarang hingga 3 bulan kedepan. Jika saja aku berani mengusir anakku. Memekku sakit lagi.

“Telat lagi.”

Bosku menyindir. Aku bahkan membiarkannya. Aku hanya kerja, mengganguk saat adikku bertanya apakah aku baik – baik saja. Aku tak ingin dia tahu yang terjadi, bahwa sekarang aku adalah mainan seks anakku, bahwa anakku ngentotku penuh hasrat, bahwa memeku dipakainya.

Saat siang, kutempelkan es ke memekku agar tak sakit. Aku tak ingin makan. Otot – ototku lelah. Yuni menghampiriku.

“Hey.”

“Hey. Apa kau baik – baik saja?”

“Ya.”

“Tentu saja. Ayolah, beritahu aku apa yang terjadi. Aku tahu ada sesuatu. Bima lagi kan?”

“Aku tak ingin membicarakannya. Tak ada masalah lagi”

“Ia ngewe kamu kan?”

“Huh. Tuhan, tidak. Tentu tidak. Dia anakku.”

“Rahma, kau taruh es di memekmu.”

“Tidak.”

“terlihat bekas sperma di cd mu dan kau berbau seks. Bahkan rambutmu yang tak rapi menunjukannya.”

Aku menunduk. Tanganku menutup wajahku.

“Aku diewe tiga kali.”

“Tiga? Baru saja kemarin kita bicara.”

Kutatap dia.

“Yuni. Ini serius. Ia hanya, menarikku tadi malam, dua kali. Lalu tadi sebelum kerja. Ia menarikku ke meja dan ngewe.”

“Wow. Aku cemburu.”

“Yuni. Dia anakku. Aku tak ingin dia melakukannya. Dia memperkosaku.”

“Apa kau menyukainya?”

“Tentu aku suka. Tapi aku tak menginginkannya.”

“Jika kau menyukainya, bukan perkosaan.”

“Bukan begitu hukumnya. Dan bahkan ini lebih buruk. Ia bilang akan mulai ngentot kapanpun dia mau, tiga atau empat kali sehari.”

“Wow, aku ingin diewe tiga kali sehari.”

“Yuni, tolonglah.”

“Oke, maaf, tapi ini kan yang selalu kau katakan. Kau butuh pria. Kau mendaptakannya.”

“Anakku bukanlah pria yang kuinginkan. Ini menjijikan.”

“Aku tak punya anak pria, jadi aku tak tahu. Tapi kurasa ini abnormal. Baiknya kau jangan bilang siapa – siapa.”

“Aku tahu. Tapi apa kau tak merasa jijik?”

“Aku? Aku sudah jilat memekmu dan aku adikmu.”

“Itu tak sama. Kita tumbuh bareng. Kita hanya main – main. Tapi yang dia lakukan sangat serius, permanen. Dia muntahkan di memekku. Aku mungkin hamil.”

“Oh.”

“Ya.”

“Nih, ambil.”

Ia memberiku pil anti hamil dari tasnya.

“Aku selalu siap.”

“Aku tak ingin ini. Aku ingin bantuan. Aku harus menghentikannya. Lihatlah.”

Kubuka pahaku, kuangkat rokku dan kupelorotkan cdku. Memekku terlihat sangat merah, bahkan masih ada sisa mentega dan sperma.

“Sial. Dia benar – benar ngentot kamu. Itu hanya dari tiga kali?”

“Ya. Sudah kubilang, kontolnya gede.”

“Biar kusentuh.”

Ia menyentuh memeku, lalu memasukanjarinya.

“Yuni…”

Ia tarik kembali jarinya, memasukan ke mulutnya, lalu menghisapnya.

“Mmm, ini mentega?”

“Itu sperma anakku!… dengan mentega, ya. Tadi pagi memekku kering.”

Yuni tertawa.

“Aku tak pernah mencoba mentega.”

Kupakai lagi cdku.

“Aku mesti gimana? Aku tak bisa terus dengannya. Aku butuh bantuan. Kita tak boleh ngewe anak sendiri.”

“Oke, gini aja. Jika dia memaksamu, aku tidur di rumahmu. Melindungimu dari kontolnya yang besar dan nakal.”

“Benarkah?”

“Ya. Pasti menyenangkan.”

“Tapi hati – hati sama bima. Ia mungkin ngentot kamu.”

“Oh, aku bisa menanganinya.”

Aku agak gugup saat aku pulang. Yuni ikut denganku. Aku ingin kasih tahu bima bibinya tidur di rumah. Aku ingin yuni terus di sini sampai seminggu lebih. Ku ketuk pintu kamarnya. Kubuka lalu aku masuk.

“Hey mah. Bima nunggu mama.”

Ia bangkit dan mendekatiku. Seringainya menunjukan ia siap ngentot kapan saja.

“Diam. Yuni di sini.”

“Bibi yuni?”

“Ya. Ia nginap di kamar mama.”

“Jadi, begitu ya.”

“Jangan lakukan apapun. Dia tak tau apa – apa. Dan mama tak ingin dia tau.”

“Oke mah, tapi saat bibi pulang, aku entot mama.”

Aku melotot.

“Bima, mama bukan budak seks. Jangan perlakukan mama seperti itu.”

Kusuruh bima keluar menyambut bibinya. Kami pun keluar.

“Hai bima.”

“Halo bi.”

“Apakabar?”

“Baik bi.”

“Gimana sekolahnya?”

“Lancar.”

Yuni dan aku lantas masak untuk malam sementara bima ngobrol dengan kami. Untuk sesaat, aku bahkan lupa kejadian tadi pagi. Mungkin aku bisa minta yuni pindah ke sini. Kami makan malam. Lalu nonton tv. Aku ke kamar mandi. Di dalam kudengar obrolan mereka, aku tak senang mendengar percakapan mereka.

“Bima tak percaya mama kasih tahu soal vacuum.”

“Ibumu ceritakan semua.”

“Apa mama cerita yang lain lagi?”

“Ada yang lain? Kau masukan kontolmu ke mana lagi?”

Bima tertawa.

“Mama tak bilang apa – apa lagi?”

“Dia bilang kontolmu gede.”

“Benarkah?”

“Tapi mungkin dia hanya melebih – lebihkan. Ibumu selalu takut akan seks. Semua kontol diaanggapnya gede.”

“Bibi mau melihatnya?”

“Oh, tidak.”

“Apa bibi juga takut seks?”

“Aku? Tidak. Aku hanya khawatir kau perkosa seperti ibumu.”

“Ha! Aku sudah mengira mama ceritakan semuanya.”

“Anak aneh mana yang ngentot ibunya sendiri? Kau seharusnya malu.”

“Jangan percaya kata – kata mama. Mama malah menyukainya.”

“Ya. Makanya dia minta bibi tidur di sini agar melindunginya darimu.”

“Dan siapa yang akan melindungi bima dari bibi?”

“Oh, anak kecil, kau takkan tahu mesti ngapain sama bibi.”

“Bibi tak tahu mesti gimana gimana saat ada kontol di memek bibi. Aku tahu bibi telah jilat memek mama bertahun – tahun.”

“Kok tahu?”

“Aku pernah melihat kalian waktu kecil. Sungguh trauma. Bibi sama jahatnya dengan bima. Mencoba mengambil keuntungan dari mama.”

“Dasar kau bajingan, lebih baik jangan kau sentuh dia lagi.”

“Bibi ingin bima berhenti?”

“Tentu.”

“Gampang bi, tinggal bilang saja.”

“Apa maksudmu?”

“Bilang saja. Setelah mama tidur.”

Aku tahu maksudnya. Kubuka dan kututup pintu keras agar mereka tahu aku akan datang. Mereka bertingkah seolah tak bercakap – cakap. Aku kembali nonton tv. Kami terdiam. Sekarang aku menghawatirkan yuni. Bima mungkin akan mencoba ngewe yuni. Dan kemungkinan yuni akan membiarkannya. Mungkin yuni kira itu akan melindungiku, tapi aku tak mau yuni melindungiku dengan cara itu.

Lebih – lebih, aku cemburu. Aku tak ingin yuni ngewe bima. Bima anakku! Jika ada yang ngewe bima, orang itu harus aku. Mungkin aku tak menginginkannya, tapi aku tak ingin yuni menginginkannya juga. Aku tak tahu mesti ngapain. Haruskah kubilang sesuatu? Haruskah kusuruh yuni agar tak bicara pada bima? Apakah yuni sadar bima adalah ponakannya? Apakah bima sadar yuni adalah bibinya? Sepertinya dunia mulai gila.

Tak lama, aku dan yuni masuk kamar. Bima terlihat senang saat bilang selamat tidur. Dia tahu akan dapat apa, memek bibinya. Tapi aku tak bisa melindungi yuni meski yuni ingin dilindungi. Bima hanya tinggal ngewe memekku, dan memekku makin sakit. Aku takut kontolnya. Seperti ia punya senjata yang tak bisa dikalahkan. Aku menyalahkan diriku telah merubah bima menjadi monster.

Aku dan yuni ganti baju. Sekarang hanya memakai cd dan tshirt, tanpa bh. Seranjang.

“Selamat tidur.”

“Ya.”

“Kau baik – baik saja?”

“Ya, tentu.”

“Mau kujilati memekmu?”

“Tidak, rasanya masih sakit.”

“Oh, oke.”

Ia menguap. Kucoba bilang sesuatu. Tapi apa?

“Terimakasih mau datang. Bima jadi normal lagi.”

“Mmm, ya. Tidurlah.”

“Apa kau akan nginap lagi?”

“Ya, jika kau mau”

“Besok malam?”

“Ya. Tidurlah. Besok kita mesti kerja.”

Aku tak bisa tidur. Aku tahu dia akan ke kamar bima dan diewe. Tapi aku takut tak hanya berakhir di situ. Yuni akan menyukainya. Mungkin bima takkan ngewe aku lagi, takkan butuh aku lagi. Dia punya bibinya, yang lebih cantik. Susu dan pantatnya lebih besar. Mungkit dia tahu yang akan terjadi. Tetap saja, aku jadi marah, sepertinya ia merebut anakku dariku.

Yuni bahkan tak mau menunggu lama. Ia berbisik.

“Rahma, tidur belum?”

Aku tak menjawab. Aku rasa dia sudah tak sabar. Ia bangkit pelan – pelan, menuju pintu, lalu menghilang. Kubuntuti dia, kuintip dari pintu. Yuni mengetuk pintu kamar anakku, pintunya terbuka dan yuni masuk. Kuikuti, kudorong pintu sedikit hanya agar aku bisa mengintip.

“Kukira bibi takkan datang.”

Bima berdiri, kontolnya menyembul dari boxernya. Yuni berdiri di depan bima, bajunya menutupi cdnya, tapi susunya yang besar jelas terlihat putingnya yang keras.

“Aku di sini demi ibumu. Yang kau lakukan membuatnya membenci diri sendiri. Kau mesti hentikan.”

“Sudah kubilang mama menyukainya.”

“Mungkin, tapi ia tak ingin menyukainya.”

“Minta saja dengan baik.”

“Apa maksudnya? Bibi takkan main seks denganmu, jadi jangan pernah memintanya.”

Aku terkejut. Adikku tak mau ngewe anaku. Ia benar – benar ada untukku. Betapa baiknya. Tapi sekarang dia dipandangi bima.

“Kita bertaruh saja bi.”

“Bibi tak taruhan sama anak kecil.”

“Bibi yakin? Bima jamin taruhan ini akan membuat bima berhenti ngewe memek mama lagi, baik menang ataupun kalah.”

“Taruhan apa?”

“Akan bima biarkan mama, jika…”

Yuni menunggu.

“Jika bibi bisa nyepong kontol bima seluruhnya. Mama tak pernah bisa. Setengahnya pun tidak. Tapi jika bibi bisa sampai bibir bibi menyentuh testis bima, bima akan minta maaf sama mama dan takkan menyentuh mama lagi.”

Yuni terlihat gugup. Matanya membesar mungkin mengira – ngira seberapa besar kontol anakku. Aku ingin masuk. Jangan bertaruh!

“Dan jika bibi tak bisa?”

“Lalu aku akan berhenti ngewe mama dan mulai ngewe bibi.”

“Permisi?”

“Bima kasih waktu tiga menit. Jika bibi bisa, bibi menang. Jika tak bisa, bima ewe memek bibi sekarang juga dan kapanpun bima mau. Mama akan mengusir bima jadi bima akan tinggal sama bibi dan bibi bisa jadi teman ngewe bima.”

Oh tuhan, aku tak mau membuat yuni melakukan itu. Aku tahu yuni akan kalah. Ini salahku. Seharusnya tak kutaruh masalahku pada pundak yuni. Aku kakaknya. Tapi aku takut membuka pintu dan menghentikannya.

“Bima tahu? Bibi jago nyepong.”

“Buktikan. Bibir sampai testis. Tak begitu susah kan?”

“Dasar bajingan, biar bibi lihat dulu kontolmu.”

“Tidak. Sekali kukeluarkan, taruhan langsung mulai.”

Yuni melihat selangkangan bima sekitar satu menit.

“Baiklah.”

“Ha, bibi pasti muntah.”

Lalu bima melorotkan boxernya. Nampaklah kontolnya yang panjang besar. Bahkan belum keras. Yuni terbelalak dibuatnya. Sekarang yuni tahu. Bima menyeringai. Ia pegang kontolnya dan dikocok beberapa kali hingga membesar dihadapan mata yuni.

“Sial. Mamamu tak bohong.”

“Ayo, berlutut.”

“Sabar, bibi tak tahu ini.”

“Bibi sudah janji. Berlutut.”

Yuni melangkah mundur, tapi bima memegangnya bahunya dan menekannya agar berlutut. Yuni menghela nafas menatap kontolnya.

“Ayo.”

Bima masih mengocok batangnya. Sekarang makin keras. Melihat yuni berlutut makin membuatnya terangsang. Tuhan, yang kulakukan telah membangunkan iblis seks.

“Buka mulut. Waktu bibi tinggal dua setengah menit lagi.”

Yuni menjilat bibir dan tangannya yang gemetaran memegang kontolnya. Sepertiku, kontolnya terlalu besar bagi tangannya. Yuni terlihat tak semangat saat mulai mengocok. Yuni bahkan tak tahu mesti mulai dari mana, ia menelan ludah lalu mulai membuka rahangnya.

Ia masukan helm kontol hingga memenuhinya. Bibir dan giginya terus membuka. Aku tahu kontol itu telah mentok di tenggorokan yuni, karena ia mencabut kontolnya lalu tersentak dan batuk. Bima tertawa.

“Bibi terlalu lama jilat memek. Sial, mama ternyata lebih baik.”

“Anjing kau.”

Aku tahu yuni sadar apa yang akan terjadi kalau ia gagal. Tapi ia coba lagi. Rahangya membuka dan ia masukan lagi kontol itu. Lehernya menegang dan saat mulutnya menutup, ia terusa masukan kontolnya agar amblas semua. Airmatanya jatuh. Ia batuk tapi tak mencabut kontolnya. Tangan bima mulai meremas rambut yuni.

“Oh. Tubuh bibi bagus.”

Yuni tak merespon. Ia mencoba memasukan kontolnya mili demi mili, tapi kulihat ia menggetar hingga akhirnya ia cabut kontolnya, terbatuk dan muntah. Aku merasa bertanggung jawab. Adikku melakukannya untukku tapi aku tak punya keberanian untuk masuk dan menghentikannya, menyuruh yuni pulang, dan membiarkan anakku mengentotku. Aku hanya melihat yuni kembali mencoba.

“Bima tak sabar ngewe bibi. Memek mama bagus, tapi pantat bibi seksi. Kurasa bima akan ngentot anus bibi dulu.”

Mendegar ucapan bima membuat yuni mencoba lebih keras lagi. Ia masukkan kontolnya lebih dalam lagi. Tak mungkin masuk semua tanpa latihan. Aku ngeri menyadari akan melihat adiku diewe anusnya oleh anakku. Setidaknya aku tak pernah dibegitukan.

“Ayo, bibi pasti bisa.”

Bima menyeringai. Tenggorokannya bergerak dan ia tarik kontolnya, muntah, batuk. Lalu ia bersihkan mulutnya dengan tangannya.

“Tuhan.”

“Hampir saja.”

“Bibi bisa… masih…”

“Maaf bi, waktunya habis.”

Bima angkat yuni seperti boneka. Yuni melawan saat didorong ke ranjang.

“Tunggu, biar bibi coba sekali lagi. Bibi hampir bisa!”

“Bibi punya banyak kesempatan, tapi malam ini, anus bibi milik bima.”

“Tidak. Tunggu bima, itu tak adil.”

Ia dorong tubuh yuni. Yuni mencoba bangun tapi bima dibelakangnya, menekan kepalanya hingga menyentuh kasur. Tangannya yang lain menyingkirkan baju hingga cd nya terlihat.

“Tunggu!”

Yuni menangis.

“Bima, aku bibimu! Kau tak boleh begini!”

“Bibi seperti mama saja. Bima akan pelan – pelan kok.”

“Tidak, jangan ewe anus bibi. Bibi sepong saja kontolmu.”

“Pasti bi.”

“Oh tuhan.”

Yuni meringis saat cdnya dipelorotkan.

“Bibi mohon jangan di anus.”

“Bibi ingin memek bibi diewe?”

“Ya. Tolong, memek bibi saja. Jangan anus.”

“Anus bibi pernah dipakai sebelumnya?”

“Ya, sekali. Rasanya seperti neraka. Padahal hanya separuh kontolmu.”

“Bibi ingin di sini?”

Bima menekan kontolnya ke memek yuni. Yuni mengela napas. Lalu kontolnya melesak di memek yuni.

“Yess…”

“Sial, memek bibi basah. Bima tahu bibi menginginkannya. Bibi lebih jalang dibanding mama.”

“Bibi izinkan bima ngentot memek bibi semau bima, hanya saja jangan anus bibi.”

“Sial. Bibi tak sesempit mama.”

“Oh… pelan – pelan!”

Bima memegang pantat yuni dan menusukannya lebih dalam. Yuni berteriak tapi bima menutup mulut yuni dengan tangannya.

“Diam. Ntar mama bangun.”

“Sial, kontolmu besar. Tuhan, ya.”

“Suka?”

“Ya. Oh… ewe bibi. Oh…”

“Aku tahu bibi suka.”

“Oh… keras lagi…”

Aku bahkan lebih cemburu. Seperti yang kutakutkan, yuni menyukainya dan sekarang anakku bakal tinggal dengan yuni dan mulai ngentot yuni. Aku merasa ditinggalkan, aneh, karena aku benci yang telah dilakukan anakku padaku. Tapi sekarang, saat kulihat ia melakukannya dengan orang lain, aku berharap itu aku. aku tak peduli jika memekku sakit lagi. Aku hanya ingin anakku terus ngentot aku. Aku ingin seks, dan sekarang aku kehilangannya. Aku menyesala… sampai bima katakan sesuatu.

“Anusnya sudah siap bi?”

Yuni melihat ke belakang menatap anakku.

“Tuhan, tidak. Terus ewe memek bibi saja. Sungguh nikmat. Kau boleh ngentot memek bibi, jangan anus bibi.”

“Ambil lotion itu lalu oleskan ke anus bibi.”

“Tidak.”

“Apa bibi mau bima masukan tanpa lotion? Terserah bibi.”

“Oh tuhan.”

Yuni menjulurkan tangannya mengambil lotion, menumpahkan pada tangannya. Lalu mengoleskan pada anusnya. Ia masukan jarinya ke anusnya agar berpelumas. Bima hanya melihatnya, menyeringai saat terus memompa memek yuni pelan. Kulihat memek yuni masih basah, membasahi batang kontolnya. Aku tak pernah diewe di anus, sungguh menakutkan. Bima menarik kontol dari memeknya.

“Cukup bi.”

“Bibi mohon, bibi belum siap.”

“Bibi sudah siap kok. Ini pertama kali bima main anus, jadi buka lebar lebar bi.”

Bima tekan kontolnya ke anus yuni.

“Pertama kali? Tunggu! Kau tak bisa hanya menusukkannya saja. Bibi bisa terluka.”

“Bima lihat di internet sepertinya gampang kok. Jangan banyak gerak bi.”

“Oh… Oh… pelan. Bibi mohon, pelan – pelan.”

Yuni mencengkram sprei, menutup matanya dan mengernyit. Bima menekan helm kontol ke anusnya. Lubang anusnya belum membesar, tapi lalu mulai terbuka dan helm kontolnya masuk. Yuni teriak dan kakinya menendang nendang.

“Shh! Ntar mama bangun.”

“Oh… oh…! Tolong cabutlah!”

“Oh… sempit bener.”

Bima mendesis, memegang pantat yuni dan mulai menusuk kontolnya. Yuni menangis tapi mencoba diam. Aku tak percaya melihat kontolnya ditelan anusnya. Dorongan bima membuat yuni menggeliat.

“Cukup sudah!”

Yuni menangis, mengeliat mencoba merangkak menjauh, tapi bima memengan pantanya, menusukan kontol lebih dalam lagi. permohonan yuni sia – sia. Bima tak peduli. Dan aku tahu, bima belum mau keluar. Aku tak tahu apakah yuni mampu bertahan lama, terlebih saat anusnya diewe.

“Oh tuhan, tolong hentikanlah.”

Aku harus menolongnya. Dia adikku, dan mesti kulindungi dari kontol anakku. Bima tanggungjawabku. Kubuka pintu dan melangkah. Mereka bahkan tak menyadarinya.

“Hentikan bima!”

“Huh?”

Bima memelankan kontolnya. Yuni memalingkan kepalany menatapku. Merintih. Terisak.

“Rahma?”

“Maaf yun.”

“Tak apa – apa”

Yuni berbisik. Kutatap bima.

“Bima. Hentikan. Cabut kontolmu!”

“Mah, kembalilah ke kamar. Bibi yuni bilang boleh kok. Bima gak perkosa bibi. Benarkan bi?”

Yuni mengangguk. Lelah. Aku tak yakin yuni menyadari pertanyaanku.

“Nah, benarkan. Bahkan bibi bilang bima boleh tinggal sama bibi. Bima bakal pergi. Bima takkan sentuh mama lagi. bibi yuni bakal menjaga bima.”

“Tidak. Kau takkan kemana – mana. Kau tetap di sini!”

“Apa?”

“Kau anak mama, tanggungjawab mama. Akan mama urus kamu dan kontolmu. Sekarang, cabut kontol dari anus bibimu.”

Kubuka bajuku hingga susuku terlihat. Lalu kubuka juga cdku hingga aku telanjang. Yuni mengangkat kepalanya, terlihat hampir marah, seperti merasa pengorbanannya percuma jika aku mengganggu.

“Makasihmah, tapi bima tahu mama tak menginginkannya. Bibilah yang menginginkannya.”

Kudekati bima. Kuelus rambutnya lalu kucium bima. Ini salah tapi aku menyukainya. Ia betot pinggangku dan menciumku sedangkan kontolnya masih di anus yuni.

“Cabut kontolmu dan masukan pada mama.”

Bima, untuk pertamakalinya hari ini menuruti kata – kata ibunuya. Ia cabut kontolnya. Yuni menghela saat anusnya terbebas, seolah ia telah menahan nafas sejak anusnya dibobol. Yuni berbalik terbaring lemah, pahanya terbuka, anusnya penuh lotion. Sementara memeknya terlihat merah oleh kontol bima.

Kutindih adikku hingga memek kami bersentuhan. Kucium bibirnya.

“Kau baik – baik saja manis?”

Ia mengangguk lemah.

“Ia ngentot anusku.”

“Aku tahu. Aku melihatnya. Maaf aku tak menghentikannya.”

Aku mendesis. Karena bima menekan kontolnya ke memeku. Kontolnya mudah masuk karena melihat adikku diewe membuatku basah.

“Oh…”

“Ya.”

“Enak?” tanya yuni.

“Ya. Bima memang nakal, tapi kontolnya hebat. Oh yes.”

Kontol bima mentok di memekku. Kuputar kepalaku menatapnya.

“Kau suka, sayang?”

“Ya. Bima suka memek mama.”

“Mama tahu.”

“Akhirnya mama mau?”

Aku mengangguk.

“Mama tak suka nonton kamu ngentot adik mama tanpa mama.”

Bima tertawa lalu mulai memompa memekku. Rasanya seperti tersengat karena memekku belum sembuh. Tapi kenikmatan mengalahkan rasa sakit.

“Tuhan. Mama menyukainya.”

“Mama cemburu kan?”

“Ya. Oh… sayang, ewe mama keras – keras.”

Bima menurut, memegang pantatku dan menhantam memekku. Adikku membelai rambutku dan kucium dia. Lidah kami tarung dan gigi kami saling menggigit bibir. Yuni mulai bertanya.

“Apa kau mau berbagi?”

Aku menyeringai.

“Bercanda yah? Kupikir kita berdua mesti menjaga agar kontolnya tetap senang. Baiknya kau pindah ke sini.”

“Bisakah aku dapat giliran? Anusku sakit, memekku butuh sesuatu untuk mengalihkan rasa sakitnya.”

“Sayang, ewe memek bibimu.”

“Oke mah.”

Ia cabut kontolnya, mengarahkannya dan menusukkannnya pada memek adikku. Ia mengerang, matanya membesar.

“Oh. Nikmat.”

“Maaf kuewe keras – keras anus bibi.”

“Tak apa, selama memek bibi terus diginiin.”

Saat yuni dientot, kuambil botol lotion lalu kulumasi anusku.

“Ngapain mah?”

“Menyiapkan anus mama untukmu nak.”

Yuni menghentikan rintihannya lalu melihat ke bawah.

“Huh, rahma? Jangan, kontolnya bisa membunuhmu.”

“Kita harus membuat kontolnya tetap hepi.

Kutatap bima. Ia memelankan ritme kontolnya dan menatap anusku.

“Sayang, dengar nak. Kamu mesti lembut, dan saat mama bilang cabut, kamu mesti mencabutnya dan kembali ngentot memek bibimu. Oke?”

“Oke mah.”

“Dan mulai sekarang, saat kami bilang tidak, kamu mesti berhenti. Memek, anus dan mulut kami sakit. Kamu mesti ngerti nak. Kami juga butuh istirahat.”

“Oke. Bima akan lebih baik. Bima hanya tak mau mama bilang tak boleh lagi untuk selamanya.”

Kutatap yuni. Ia mencoab mencerna kata – kataku saat memeknya diewe, tapi ia juga mengangguk.

“Bagus. Sekarang masukan kontolmu ke anus mama.”

Bima cabut kontolnya, yuni mengerang kecewa. Ia sentuhkan helm kontolnya ke anusku. Kututup mataku. Yuni memegang rambutku dan mencium dahiku.

Saat helmnya menekan anusku, aku ingin menghindar, tapi yuni memegangku. Lalu kurasa helmnya masuk anusku. Aku menangis.

“Oh… tuhan!”

“Shhh, shhh, kau akan baik – baik saja.”

“Sungguh besar.”

“Bima tahu, bima akan pelan mah.”

“ow, ow!”

Aku menjerit saat bima makin menusukannya. Aku ingin bilang berhenti agar ia mencabut kontolnya dan melarangnya melakukan ini lagi. tapi adikku tadi tahan lebih lama, dan aku ingin menyamainya. Kucengkram bahu yuni saat bima mulai memaju mundurkan kontolnya. Untungnya ia pelan – pelan.

“Oh…”

“Oh anus mama sempit bener!”

“Oh… kurasa aku tak bisa melakuka ini… oh… ow!”

Aku menjerit lagi.

“Bima, biarkan mamamu rehat. Ewe dulu memek bibi.”

Aku mengela nafas lega saat kontolnya dicabut. Kurasakan tubuh yuni bergerak saat memeknya ditusuk kontol. Ia ngewe memeknya dengan cepat.

“Oh yes. Oh… aku jelas akan pindah ke sini.”

Aku tertawa pelan, tapi meski anusku terbakan, aku ingin anakku kembali padaku.

“Bima, masukan kontolmu ke anus mama.”

Bima menurut. Ia cabut kontol dari memek bibinya lalu ia tekankan pada anusku hingga anusku penuh. Ia tak lembut kali ini. Ia tusukkan sedalam mungkin hingga aku menjerit, kukuku mencakar punggung adikku. Aku menangis, yuni memegang pantatku dan melebarkannya membuat bima makin keras ngentot anusku. Aku menangis.

“Tuhan… oh… oke, stop, bagian yuni, bagian yuni!”

Ia cabut kontolnya dan mata yuni berputar lagi saat memeknya ditusik kontol. Yuni mengerang lagi saat aku ambruk di tubuhnya, rehat mencoba memulihkan tenagaku, membiarkan anakku menikmati bibinya. Mungkin esok giliranku. Aku yakin esok memekku tak sakit lagi.

“Lebih keras lagi bima. Oh ya, bibi mau keluar.”

“Oh yah. Bima juga mau keluar. Boleh keluarkan di dalam bi?”

“Ya tentu. Keluarkan saja di dalam.”

Kudengarkan erangan anakku dan jeritan adikku saat mereka keluar bersamaan. Aku lega karena anusku bebas…saat ini. Bima berbaring lemas di ranjang. Aku bangkit dari tubuh adikku dan melihat memeknya yang memerah. Sperma bercucuarn hingga ke anusnya. Kubuka mulutku, kujulurkan lidahku ke memeknya, menyedot sperma sebanyak mungkin, lalu mejilati memek dan anusnya agar tak ada sperma yang terlewati. Yuni mengerang dan meraba rambutku.

Lalu kupegang kontol anakku. Kumasukan ke mulutku, kuperas batangnya agar spermanya keluar. Saat aku bangkit, yuni dan bima melihatku, tersenyum lalu tertawa. Aku bangkit dan berbaring ke tubuh bima. Adiku dan aku berbaring di tubuh bima, kiri dan kanan.

“Kalian mama dan bibi terbaik.”

“Dan kau juga anak baik.”

“Mmm, mama kan sering bilang betapa bangganya mama sama kamu. Tapi kamu masih mama hukum karena merusak vacuum mama.”

Tamat.