Akibat Vacuum Cleaner Part 2

0
2964

Paginya aku merasa malu, bukan saja karena apa yang telah kulakukan, tapi juga karena telah menyentuh anakku sedemikian rupa, dan yang terburuk, sangat menyukainya. Seharusnya kubawa bima ke rs. Sekarang aku bahkan malu menatapnya. Aku bereaksi seolah kejadian semalam tak pernah terjadi. Kuketuk kamar anakku.

“Bima. Kau sudah bangun nak?”

“Iya ma. Bima sudah bangun.”

“Baiklah, mama telat nih. Kamu mandi ya, mama buat sarapan dulu.”

Aku hanya menggoreng telur dan menyiapkan nasi untuk sarapan. Aku ingin cepat pergi agar tak perlu melihat anakku. Saat aku berbalik, bima telah ada di dapur. Aku terkejut.

“Oh, bima, mengejutkan mama saja. Mana pakaianmu?”

Bima hanya memakai handuk. Jelas tercetak di selangkangan kontol indahnya yang telah agak mengeras. Kucoba mengalihkan pandangan sebelum anakku menyadari apa yang kutatap.

“Mah, bima pingin bicara sebentar.”

Ia ingin bicara? Apakah ia ingin bilang betapa malu dan jijiknya dia padaku hingga akhirnya ingin pindah. Oh, apa yang telah kulakukan? Aku ingin lari, dan aku akan lari. Tapi ada lemari di kiriku dan ada meja makan di kananku.

“Mama udah terlambat nih.”

“Ini hanya, pas tadi bima bangun, bima masturbasi, tapi tak bisa keluar.”

“Um…oh.”

“Bima pikir, apa mama bisa membantu bima lagi.”

Aku menelan ludah. Bukan ini yang kuharapkan. Tentu saja aku tak bisa membantunya. Yang kulakukan semalam saja sudah salah. Tak mau aku mengulanginya. Harus kuhentikan sejak awal.

“Sayang, yang mama lakukan semalam adalah satu hal. Mama tak bisa mengulanginya lagi.”

“Tapi rasanya enak dan —“

“Dengar sayang, jika memang sakit, mama bawa ke rs, tapi yang semalam takkan terjadi lagi.”

“Tapi kan mama tak punya uang.

“Mama tahu, tapi kalau kau terus sakit, apa boleh buat. Hanya saja, yang mama lakukan tidaklah pantas. Ngerti kan?”

“Ya, tapi kan telah terjadi ma. Jika mama tak mau, semalam tentu takkan terjadi. Kenapa kita tak bisa mengulanginya?”

Anakku mulai merengek seperti saat dia masih kecil.

“Maafkan mama sayang, mama tak nyaman melakukannya. Sekarang, mama kerja dulu.”

Ia mundur, kukira akan pergi. Ternyata mengambil kursi dari meja dan mendudukannya.

“Duduk dulu sebentar ma.”

“Bima, mama telat nih.”

“Sebentar saja ma.”

Aku mengeluh tapi duduk juga. Aku tak ingin ngobrol lagi dengan anakku. Tapi lalu kusadari bukan ngobrol yang anakku inginkan. Dia buka handuknya dan kontolnya yang panjang memenuhi mataku.

“Bima, ngapain kamu?”

Aku melotot, menatap matanya tapi memekku mulai berdenyut.

“Tolong bima mah, bima tak bisa fokus di sekolah jika belum keluar. Coma mama pikir nilai raport bima.”

“Bima, mama memang baik. Tapi jangan pikir sekarang mama mau membantumu lagi.”

“Lima menit sajalah mah.”

Sambil berkata, bima mengambil tanganku dan meletakannya di kontolnya. Ujung jariku menyentuh kontol indahnya sesaat sebelum kutarik tanganku.

“Tidak bima. Mama udah bilang. Sekali hanya semalam saja. Mama tak punya waktu.”

Kucoba berdiri tapi bima menekan bahuku. Kontolnya tepat didepan wajahku, hanya dua sentimeter dari bibirku. Kutatap wajahnya sambil menunjukan kemarahan.

“Bima, lepaskan tanganmu.”

“Lima menit saja mah. Bima janji.”

“Mama sudah telat.”

“Cuma lima menit mah. Tolonglah bima.”

Ia ambil lagi tanganku, mendaratkannnya di kontolnya dan dicengkram tanganku. Bima mengocok tangan kami. Kuambil nafas dalam – dalam dan kusingkirkan tangannya. Kupaskan peganganku pada batang itu sebisanya. Sungguh tebal.

“Baiklah, ini yang terakhir.”

“Oke.”

Bima menunduk menatapku dan tersenyum. Kupelototi dia agar tahu bahwa aku marah. Tapi tuhan, betapa aku menyukai memegang kontolnya yang semakin mengeras. Lalu kontolnya tepat mengarah ke bibirku. Kumundurkan kepalaku agar tak terlalu dekat. Air liurku rasanya mengalir. Kuharap ada lotion agar tak tergoda.

“Mau memakai lotion?”

“Gak perlu mah. Gini juga enak kok.”

“Oke. Tapi jangan keluar ke wajah mama.”

Sekarang kontolnya benar – benar keras dan tanganku rasanya penuh saat kukocok batang itu. Tanganku yang lain memainkan bolanya karena semalam bolanya luput dari tanganku. Bolanya memenuhi tanganku, kulitnya yang kendor kuraba dan kuremas hingga bima mengerang. Lalu tangannya meraba rambutku, membelai pipiku. Terasa lebih lembut dibanding sebelumnya. Bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali diciumnya.

“Mama sangat seksi.”

“Permisi.”

Kuangkat wajahku dan kutatap anakku, sedang tanganku tetap bekerja.

“Seksi? Seperti, cantik?”

“Ya. Ingat gak saat bima kecil bima ingin mama jadi pacar bima?”

Nafas anakku makin berat. Aku tersenyum.

“Ya. Bahkan kamu beri mama kartu ucapan cinta.”

“Aku menyukai mama.”

“Bima, dulu kamu masih kecil. Semua anak kecil menyukai mamanya.”

“Apakah mereka juga mencuri dan masturbasi memakai cd mamanya?”

Kuhentikan kocokanku.

“Kau melakukan itu?”

“Jangan berhenti.”

Pegal. Kuganti tanganku.

“Kamu tak boleh begitu nak.”

“Aku suka baunya.”

“Yah, setidaknya sekarang kau tak mengambilnya lagi.”

Tapi lalu kulirik anakku. Cd ku selalu hilang saat dicuci. Beberapa hari kemudian ada lagi. Aku tak pernah tahu mengapa.

“Kau sudah tak melakukan itu, iya kan?”

Anakku hanya menyeringai dan membelai pipiku dengan jempolnya. Memikirkan betapa dia mencuri cd ku dan memakainya untuk masturbasi berarti dia tertarik padaku secara seksua dan mungkin sekarang aku sedang melakukan apa yang sering anakku khayalkan. Tentu saja aku tahu cerita Oedipus complex, tapi tak pernah kukira anakku akan tertarik padaku dan aku sedikit marah dibuatnya. Ini tak normal. Kupikir aku harus memarahinya atau apalah. Tetapi, aku malah terus mengocok kontolnya sambil mendengar erangannya.

“Gimana rasanya?”

“Enak mah.”

Tangannya turun dari pipiku. Dia bahkan tanpa ragu memasukan tangannya ke dalam blusku.

“Tunggu sebentar nak.”

Aku menggeliat tapi lalu kurasakan jarinya di pentilku, seperti semalam, tangannya memegang susuku.

“Biarkan bima memainkannya mah, biar membantu.”

Kuambil nafas saat anakku memainkan pentil dan susuku. Aku ingin disentuh layaknya wanita. Rasanya sudah sangat lama. Aku tak ingin yang lain kecuali membuka pakaianku dan membiarkan anakku menikmatinya, tapi aku bersumpah pada diriku sendiri aku takkan membiakan itu terjadi. Aku hanya bisa mengkhayalknannya.

Sekarang sudah lima menit, tapi kuakui aku tak ingin berhenti. Cd ku sudah basah tapi takkan ada waktu memainkan klitorisku nanti. Yang bisa kulakukan hanya menunggu malam tiba sambil bekerja. Sialan, aku butuh seks. Dan sekarang, anakku di sini bilang betapa seksinya aku, apakah ia tertarik padaku? Dan aku, kunikmati sensasi mengocok kontolnya. Aku harus berhenti tapi tak bisa. Aku ingin melihatnya keluar lagi. Ingin merasakannya, dan lebih dari itu, aku ingin membuatnya bahaia, membuatnya mencintaiku. Semua ibu pasti begitu. Tentu kebanyakan ibu takkan berbagi cinta dengan cara begini. Tidak. Aku harus jadi ibu yang bertanggungjawab dan tak berhubungan seksual dengan anakku. Aku benar – benar harus pergi. Kuhentikan kocokan dan kulepas tanganku.

“Oke sayang, bisa lanjutkan sendirian kan?”

Anakku menatapku.

“Kenapa? Mama berhenti?”

“Mama mesti kerja.”

“Ayolah mah, beberapa menit lagi. Bima mohon.”

Ia keluarkan tangannya dari bajuku dan sekali lagi memegang tanganku tapi kusingkirkan.

“Sayang, mama tak bisa. Mama mesti kerja.”

Tapi aku ingin tinggal dan mengocok batangnya.

“Tapi bima ingin keluar.”

Anakku membelai rambutku. Jarinya mengelus belakang kepalaku.

“Mama tak bisa menunggu. “

Kutatap wajahnya, mencoba tak melihat kontol di depan wajahku.

“Tapi bima hampir sampe mah. Bima bisa langsung keluar jika mama menghisapnya..”

Mataku melotot. Ya, aku pernah menghayal menghisapnya sejak pertama kulihat, tapi saat anakku mulai ingin berpartisipasi dalam khalayan terlarangku, sudah terlalu jauh. Aku marah padanya. Anak macam apa yang mamanya begitu?

“Bima, aku mamau!”

“Bima tahu, tapi bima sangat terangsang. Kontol bima sangat keras.”

“Jangan gunakan kata itu. Ngocok ini saja sudah terlalu jauh. Mama tak bisa menghisap kontolmu juga. Itu salah.”

“Ayolah mah, semenit saja.”

Lalu dengan tangannya dibelakang kepalaku, ia rekatkan jari – jarinya, menahan kepalaku saat kontolnya makin mendekat. Aku terkesiap saat ujung kontolnya menyentuh bbibirku.

“Bima! Hentikan!”

Aku berkata sambil memundurkan kepalaku. Ia dorong lagi kepalaku hingga aku terkejap. Tangannya yang lain memegang kontolnya dan mengarahkannya ke mulutku.

“Buka mulut mama. Ayolah, hisap ma.”

Anakku menampar wajahku dengan kontolnya, tapi kugerakkan kepalaku mencoba menjauh, saat kucoba mendorong tubuhnya dengan tanganku, tenagaku kalah besar. Kontolnya menekan bibirku hingga membukanya tapi gigiku tetap menyatu.

“Hentikan!” aku berkata lewat gigiku, menatap marah padanya. “Pergi!”

“Hisap semenit saja.” Kontolnya ditekan ke pipi dan hidungku. “Lalu aku pergi.”

“Tidak!”

Aku marah, tapi setiap bernafas selalu tercium wangi kontolnya, wangi seorang pria, oh tuhan, aku tergoda membuka mulutku dan membiarkannya masuk. Jika saja ia bukan anakku, aku takkan melawan.

“Hentikan!”

“Buka mulut mama!”

Kontolnya ditekan – tekan ke seluruh wajahku. Bibirku ditampar – tampar kontolnya.

“Buka!”

“Tidak. Akan mama gigit.!”

Kontolnya mulai ditekan ke gigiku. Mencoba masuk.

“Bagus. Buka dan gigit ini.”

“Kan mama gigit.”

“Gigit mah, buka dan gigitlah.”

Tuhan tolong aku, kupikir dia tahu betapa aku menginginkannya. Tapi aku takkan menyerah tanpa perlawanan! Kubuka mulutku dan kutekan helm kontolnya dengan gigikku. Dia tersentak lalu mencoba menekan kontolnya ke mulutku. Lalu kututup gigiku menjepit helmnya.

“Oh sial!”

Anakku mencabut kontolnya.

“Udah mama ingatkan. Akan mama hokum kamu!”

Bima terlihat marah. Ia jamak rambutku dan membetot kepalaku. Aku menyalak, mulutku membuka. Ia langsung masukkan kontolnya dan kututup mulutku hingga kontolnya tergigit. Tapi lidahku tak seperti gigiku. Kuyakinkan diri bahwa lidahku tak sengaja menyentuh lubang kontolnya hingga dapat kurasakan cairan pelumasnya. Bima tarik kembali kontolnya, helmnya tergores gigiku.

“Ow, mah. Sakit.”

“Lain kali kau coba masukan kontolmu ke mulut mama, kau akan kehilangannya.”

“Yeah?”

“Mmmhmmm, mama tak menggertak.”

“Buktikan mah, buka mulut mama.”

Aku tahu dia hanya ingin kontolnya kembali masuk mulutku, dan aku hanya ingin kontolnya kembali masuk. Rahangku membuka dan ia melangkah maju. Mulutku mesti kulebarkan sesuai ukurannya, tapi kututup gigiku saat kontolnya menyetuh tenggorokanku. Kutekan kontolnya agar ia tahu aku memilikinya.

“Oh tuhan… mama takan menggigitnya kan?”

“Jangan bersumpah”

Kuragukan ia mendengar ucapanku saat kontolnya di mulutku, tap dia mengerang karena gerakan lidahku di bawah batangnya. Kuberikan kontolnya beberapa jilatan karena mulutku penuh. Lalu kupegang batangnya dengan tanganku agar bisa kukontrol. Kubuka mulutku dan kukeluarkan kontolnya, kucium helmnya agar ia tahu aku tak marah.

“Dasar kamu anak nakal.”

“Bima putus asa mah, bima sangat pingin keluar.”

Kuangkat alisku, tapi haruskah kubiarkan anakku menderita?

“Enampuluh detik. Lebih dari itu kamu urus sendir. Dan hanya sekali ini saja. Mama takkan mengulanginya. Dan jangan pernah lagi mendorong kontolmu ke mulut mama. Setuju?”

“Setuju.”

Kubuka rahangku dan maju. Bibirku menyentuh helmnya dan terus hingga batangnya. Kurasakan rahangku mencoba beradaptasi. Sepertinya akan kunikmati ini sampai sore hari. Dan anaku ingin lebih, dia mulai menekannya hingga tenggorokanku.

Aku membungkuk ke depan dan meluruskan leherku. Lalu kubiarkan kontolnya melewati tenggorokanku. Anakku mengerang keras hingga kukira akan orgasme, tapi ternyata tidak. Ini lebih dari yang kubayangkan. Aku batuk dan kutarik kontolnya, tapi bima memasukannya lagi.

Kuraih batangnya, mencoba menekan kontolnya agar tak sampi tenggorokanku. Lalu kumulai menjilati batangnya. Bima sudah tak sabar. Dia pegang rambutku dan menekan kepalaku dalam – dalam hingga kontolnya menekan tenggorokanku lagu, membuatku muntah. Aku tak pernah sejauh ini sebelumnya. Kucabut kontolnya dan kembali muntah.

“Jangan menusukan dalam – dalam hingga tenggorokan mama. Kontolmu terlalu panjang. Tenggorokan mama bisa robek. Biarkan mama yang melakukan.”

“Maaf mah.”

Tapi ia meraih kembali kepalaku dan mendorongnya lagi hingga menyentuh tenggorokanku. Hanya setengah kontolnya yang masuk mulutku. Lidahku tetap menyapu batangnya sementara tanganku memompa batangnya yang tak masuk. Rahangku sakit. Sebelumnya tak pernah kudapati kontol sebesar ini dan tenggorokanku sakit sekali. Belum juga semenit tapi aku sudah butuh istirahat.

Butuh lebih dari semenit agar anakku orgasme, tapi sebagai ibu yang baik, aku tetap menghisap kontolnya meskipun rahangku sakit. Saat akhirnya anakku orgasme, aku tak bisa menahannya di tenggorokanku. Kutarik tapi kubiarkan kepala kontolnya tetap di mulutku. Tetap saja, aku tak bisa menelan lebih cepat. Saat kucabut kontolnya agar bisa bernafas, kusadari spermanya juga mendarat di wajahku.

“Oh.”

Lantas kembali kumasukan kepala kontolnya agar setiap tetesnya kunikmati. Kuteguk sebisanya. Erangan bima makin melemah seiring hisapanku pada kontolnya yang mulai mengempis. Akhirnya kutarik mulutku.

“Sudah lebih baik?”

“Ya, mama ibu terbaik sedunia.”

“oh tuhan. Lihat jam. Mama sangat telat. Oh tuhan, oh tuhan.”

Kuambil handuk dan kubersihkan wajah ku dari sperma anakku. Blusku basah terkena tetesannya, tapi tak ada waktu menggantinya. Kuharap cepat kering. Kulempar handuk ke tempat cucian dan berlari ke pintu depan. Bima masih berdiri di dapur, kontolnya bergelayut di antar pahanya.

“Bima! Sekolah!”

“Siap mah.”

Aku terlambat kerja. Atasanku tentu saja tak senang. Kupakai celemek, kubersihkan ruangan yang hampir kosong. Hingga akhirnya tak ada yang bisa kulakukan. Adiku sedang berdidi dekat meja.

“Maaf aku telat.”

“Tumben nih telat.”

“Iya nih yun.”

“Tadi bangun kesiangan.”

“Oh. Um…”

“Apa? Ada lipstik di gigi?”

“Oh tuhan”

“Huh?”

“Kau hisap kontol anakmu?”

“Apa? Tentu saja tidak!”

“Di rambutmu ada sperma.”

“Oh.”

“Toilet.”

Yuni mengikutiku ke toilet dan membuatku melihat kaca. Rasa malu membuat bahuku gontai. Ada banyak sperma di rambutku. Bahkan ada juga di bahuku. Yuni diam tak bicara. Ia hanya mengambil tisu dan membersihkanku. Aku sepertinya meangis.

“Aku mengacau. Kuhisap kontolnya. Sungguh memalukan.”

“Jangan sedih. Ini bukan pertama kali kau incest.”

“Kau tak termasuk hitungan. Lagian dia anakku.”

“Gimana caranya?”

“Dia memaksaku. Dia tekan kontolnya ke mulutku. Bahkan kugigit tapi dia terus menekan lebih dalam dan membuatku menghisapnya.”

“Benarkah? Kenapa tak gigit lebih keras?”

“Aku mencoba bertahan. Hanya saja sudah sangat lama dan aku juga terangsang.”

Yuni memijat bahuku.

“Jadi kau menyukainya?”

“Tubuhku menyukainya, tapi pikiranku tidak. Sekarang memekku basah, oh tuhan, aku hanya ingin seks. Aku sangat ingin orgasme.”

Yuni merangkulku. Kupeluk dia dan dia meremas rambutku. Lalu daguku diangkatnya dan aku diciumnya.

Aku tertawa. Sudah lama kami tak berciuman. Yuni selalu baik padaku, selalu ada saat aku ingin menangis. Kukira ia hanya menghiburku, tapi ternyata dia menciumku lagi, membuka mulutnya hingga lidahnya mencari lidahku. Aku mundur.

“Ngapain?”

“Kamu udah mengurus bima. Seseorang juga harus mengurusmu.”

Dia menciumku lagi. Tangannya memegang menuruni dadaku, menyusuri susuku yang kecil. Kunikmati elusannya, dia lebih lembut dibanding bima. Dia tau aku menyukainya. Lagian, kami sering memuaskan satu sama lain, tapi sudah lama sejak yang terakhir kali. Lalu kuhentikan aksinya.

“Tunggu, kita tak lagi remaja.”

“Tentu, bahkan kita sering ngentot kontol. Sini, duduk di sini. Biar kunikmati memekmu.”

“Kita mesti kerja.”

“Biar yang lain dulu. Gakkan lama kok.”

“Gimana kalau ada yang masuk?”

“Tenang saja, restoran masih sepi.”

Yuni memegang pahaku dan membantuku duduk. Aku agak enggan melakukan ini, apalagi di toilet. Tapi memekku sangat basah dan ingin. Aku duduk dan bersandar ke cermin. Yuni memasukan tangannya ke rok ku dan membuka cd ku.

“Oh. Kau sangat basah.”

Aku mengangguk. Kugerakan pantatku karena dinginnya meja. Yuni membuka pahaku lebar – lebar. Memekku makin basah, klitorisku makin besar dan bibirku mengering.

“Oh.”

“Kau baik baik saja?”

Yuni bertanya sambil memainkan klitorisku denangan ujung jarinya.

“Sangat terangsang.”

Yuni memasukan jari tengahnya ke memekku dan mataku mengedip. Aku sangat menginginkannya.

“Oh tuhan, makasih.”

“Apa gunanya sodari?”

“Bukan untuk ini. Biasanya untuk menemani belanja baju.”

“Not for this,” I mumbled. “We usually just shop for clothes.”

“Kau boleh mengobralku.”

Lalu dia berlutut, mendekatkan mulutnya ke memeku. Lidah hangatnya menyapu kulit luar memekku, membuat tubuhku mengejang. Kuremas rambutnya dan kuarahkan kepalanya mendekati klitorisku. Yuni memasukan lidahnya sementara jarinya memainkan klitorisku. Kunikmati surga dunia. Sesaat, kumengerti kenapa bima menekan kontolnya ke mulutku. Ia butuh pelampiasan, seperti aku.

“Nikmatnya. Kenapa kita jarang melakukan ini lagi?”

Yuni mencabut lidahnya dari mulutku.

“Kau yang bilang seorang ibu harus bertanggungjawab. Dan menjilat memek tidaklah benar, apalagi meme sodarimu.”

“Maaf, kadang aku bodoh.”

“Dan kukira kaulah yang pintar.”

Kutatap adiku dan kutekan kembali kepalanya ke memekku. Lidahnya memainkan klitorisku lalu dihisapnya. Kucoba agar tak mengerang, tapi oh sungguh nikmat. Kupegang erat kepalanya saat jarinya ikut keluar masuk di memekku. Tak butuh waktu lama bagitu agar keluar. Aku berteriak penuh kenikmatan bersamaan dengan dibukanya pintu toilet oleh wanita berumur yang juga ikut teriak. Yuni menyeka dagunya.

“Mungkin saatnya kembali kerja.”

“Sudahkah kuberitahu kau sodari terbaik sedunia?”

“Aku sudah tahu.”

Setelah memberitahu bosku apa yang terjadi di toilet—‘adikku membantuku melepaskan tampon’— aku bekerja dengan senang hati. Penampilanku berubah setelah dilanda orgasme. Ya, aku telah mengocok dan menghisap kontol anakku, tapi itu insiden. Tak ada alasan kenapa aku harus merasa aneh. Dan semuanya atas kehendak anakku. Aku tak salah. Aku hanya seorang ibu yang baik.

Bersambung :